• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PROGRAM DESA PEREMPUAN INDONESIA MAJU MANDIRI (DESA PRIMA) TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENGARUH PROGRAM DESA PEREMPUAN INDONESIA MAJU MANDIRI (DESA PRIMA) TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI"

Copied!
128
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PROGRAM DESA PEREMPUAN INDONESIA MAJU MANDIRI (DESA PRIMA) TERHADAP

PENGEMBANGAN WILAYAH DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

TESIS

Oleh :

IRWANI JAMILAH 137003060/PWD

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

2016

(2)

PENGARUH PROGRAM DESA PEREMPUAN INDONESIA MAJU MANDIRI (DESA PRIMA) TERHADAP

PENGEMBANGAN WILAYAH DI KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan

pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh :

IRWANI JAMILAH 137003060/PWD

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

M E D A N

2 0 1 6

(3)

Judul : Pengaruh Program Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (Desa Prima) Terhadap Pengembangan Wilayah di Kabupaten Serdang Bedagai

Nama : Irwani Jamilah

NIM : 137003068

Program Studi : Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan (PWD)

Menyetujui, Komisi Pembimbing

Prof. Erlina, SE. M.Si, Ph.D.Ak,CA Dr. H. Rujiman, MA Ketua Anggota

Ketua Program Studi, Direktur,

Prof. Dr.lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE Prof. Dr. Erman Munir , M.Sc

\

Tanggal Lulus : 20 Januari 2016

(4)

Telah diuji pada

Tanggal 20 Januari 2016

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua : Prof. Erlina, SE. M.Si, Ph.D.Ak,CA Anggota : 1. Dr. H. Rujiman, MA.

2. Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE 3. Prof. Dr. H.B. Tarmizi, SU.

4. Ir. Supriadi, M S

(5)

PENGARUH PROGRAM DESA PEREMPUAN INDONESIA MAJU MANDIRI (DESA PRIMA) TERHADAP PENGEMBANGAN WILAYAH DI

KABUPATEN SERDANG BEDAGAI

ABSTRAK

Model “Desa Prima” (Perempuan Indonesia Maju Mandiri) adalah suatu model yang melibatkan seluruh masyarakat untuk ikut membangun desa sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan sekaligus menanggulangi kemiskinan desa melalui subsidi silang antar kelompok masyarakat yang berekonomi lebih baik kepada masyarakat yang kurang beruntung. Penelitian dilaksanakan di Kabupaten Serdang Bedagai tentang pengaruh Program Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (Desa Prima) terhadap Pengembangan Wilayah di Kabupaten Serdang Bedagai. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis regresi linier berganda dengan mengambil sampel responden sebanyak 120 orang yang masing-masing 20 orang dari 6 desa. Hasil penelitian diperoleh bahwa. Pelaksanaan Program Desa Prima yang meliputi dimensi penguatan kelembagaan, pemberdayaan sumberdaya perempuan dan pengembangan masyarakat berjalan sangat baik karena berada pada daerah sangat positif berdasarkan interprestasi skor. Dimensi penguatan kelembagaan yang meliputi pembimbingan lembaga masyarakat, pemberian dukungan/bantuan kepada lembaga masyarakat dan pengkoordinasian lembaga masyarakat dalam kemitraan memiliki nilai total rata- rata yaitu 4,51. Dimensi pemberdayaan sumberdaya perempuan yang meliputi pelatihan masyarakat dan pendampingan kepada masyarakat secara berkelanjutan memiliki nilai total rata-rata yaitu 4,38. Dimensi pengembangan masyarakat yang meliputi penyuluhan, fasilitasi dan pelayanan memiliki nilai total rata-rata yaitu 4,53.

Program Desa Prima dengan dimensi variabel penguatan kelembagaan (X1), pemberdayaan sumberdaya perempuan (X2), dan pengembangan masyarakat (X3) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan wilayah Kabupaten Serdang Bedagai

Kata kunci: Program Desa Prima, penguatan kelembagaan, pemberdayaan sumberdaya perempuan, pengembangan masyarakat dan pengembangan wilayah

(6)

EFFECT OF RURAL WOMEN PROGRAM INDONESIA FORWARD SELF (DESA PRIMA) DEVELOPMENT OF AREAS

IN SERDANG BEDAGAI ABSTRACT

Model "Village Prima" (Female Indonesia Maju Mandiri) is a model that involves the whole community to help build the village in an effort to improve the quality of life of women as well overcoming rural poverty through cross-subsidies between groups of society with better economically disadvantaged communities. The research was conducted in Serdang Bedagai about the influence of the Indonesian Women's Program Desa Maju Mandiri (Desa Prima) to the Regional Development in Serdang Bedagai. The analytical method used in this research is descriptive analysis and multiple linear regression analysis by taking a sample of respondents as many as 120 people each 20 people from six villages. The result showed that. Prima Village Programme Implementation which includes the dimensions of institutional strengthening, resource empowerment of women and community development went very well because it is in the region are very positive based on the interpretation of the score. Dimensions of institutional strengthening which includes coaching community agencies, providing support / assistance to community agencies and community organizations in partnership coordination has an average total value is 4.51. Dimensions resource empowerment of women which includes training and assistance to communities in a sustainable society has an average total value is 4.38.

Dimensions of community development which include counseling, facilitation and services have a total average value is 4.53. Prima Village program with variable dimensions of institutional strengthening (X1), resource empowerment of women (X2), and community development (X3) has a positive and significant impact on regional development Serdang Bedagai

Keywords: Prima Village Program, institutional strengthening, resource empowerment of women, community development and regional development

(7)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis dengan judul: “Pengaruh Program Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (Desa Prima) terhadap Pengembangan Wilayah di Kabupaten Serdang Bedagai”. Tesis ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.

Penyusunan tesis ini penulis banyak mendapat bantuan, masukan dan bimbingan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya, kepada yang terhormat Ibu Prof. Erlina, SE. M.Si. Ph.D., Ak.CA selaku Ketua Komisi Pembimbing dan Bapak Dr. Drs. H. Rujiman, MA, selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberi saran, dukungan, pengetahuan dan bimbingan kepada penulis hingga tesis ini selesai.

Penulis juga tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Erman Munir, M,Sc selaku Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara Medan.

2. Bapak Prof. Dr. lic.rer.reg. Sirojuzilam, SE selaku Ketua Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan (PWD) Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

(8)

3. Bapak dosen pembanding yang telah memberikan masukan-masukan demi kesempurnaan tesis ini

4. Seluruh Dosen Program Studi Perencanaan Pengembangan Wilayah dan Pedesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara atas segala keikhlasannya dalam memberikan ilmu pengetahuan dan pengalaman.

5. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada Ayahnda dan Ibunda yang telah membesarkan, mendidik dan membimbing penulis hingga dewasa.

6. Secara khusus penulis mengucapkan terima kasih kepada Suami tercinta Linggo, SE atas segala kesabaran dan ketabahannya selama ini dalam mendampingi dan mendukung penulis, sehingga tesis ini dapat diselesaikan.

Demikian pula kepada putra-putri penulis Anggie Derry Prabawa, S.Pdi., M.Si., Kurniawan Putra, SH dan Melza L. Bono yang memberi support dan dorongan untuk menyelesaikan tesis ini.

Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini masih jauh dari sempurna.

Penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan untuk penyempurnaan tesis ini.

Akhirnya atas segala kekurangan dalam penyusunan tesis, penulis menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya dan berharap semoga tesis ini dapat bermanfaat bagi berbagai pihak yang berkepentingan. Amiin.

Medan, Januari 2016 Penulis

Irwani Jamilah

(9)

RIWAYAT HIDUP

Irwani Jamilah lahir di Lubuk Pakam, 04 Maret 1963, anak kedua dari Sembilan bersaudara, putri dari Bapak Alm. M. Nurdin Rambia Tarigan dan Ibu Nurli. Penulis mempunyai suami bernama Linggo SE, dan memiliki tiga orang anak bernama Anggie Derry Prabawa, Nelza L Bono dan Boy Bajamaro serta dua orang cucu.

Jenjang pendidikan formal yang ditempuh penulis adalah pada tahun 1974 lulus SD Negeri III Lubuk Pakam, tahun 1977 lulus SMP Negeri I Lubuk Pakam , tahun 1981 lulus dari SMA Negeri I Lubuk Pakam, tahun 1989 lulus Perguruan Tinggi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.

Riwayat pekerjaan dan jabatan dimulai dari 01 Maret 1992 dinyatakan lulus penerimaan CPNS BKKBN dan ditempatkan di Kabupaten Deli Serdang, selanjutnya diangkat dalam jabatan fungsional sebagai Ajun Penyuluh KB Madya pada tanggal 01 Oktober 1993. Pada tanggal 01 Oktober 1998 diangkat sebagai Kasubsi Opersional Kependudukan di BKKBN Deli Serdang, sampai pada tanggal 20 Juli 2001 diangkat sebagai Kepala Seksi Pemberdayaan Ekonomi Keluarga BKKBN Deli Serdang. Sejak dimekarkannya Kabupaten Deli Serdang menjadi dua kabupaten yaitu Kabupaten Serdang Bedagai, terhitung 01 April 2004 penulis menjadi PNS dilingkungan Pemerintahan Kabupaten Serdang Bedagai. Pada Tanggal 07 Mei 2004 diangkat sebagai Kepala Bidang Pemberdayaan Keluarga dan Penyuluhan di Dinas Sosial dan Keluarga Berencana Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai. Pada tanggal 01 Oktober 2005 diangkat sebagai Kepala bidang Keluarga Sejahtera di Dinas Kependudukan, Catatan Sipil dan Keluarga Berencana Daerah. Pada tanggal 09 Oktober 2007 menduduki jabatan Kepala Bagian Pemberdayaan Perempuan pada Sekretariat Daerah Kabupaten Serdang Bedagai. Pada 05 Februari Tahun 2010 diangkat menjadi Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Serdang Bedagai sampai dengan sekarang.

(10)

Untuk pendidikan dan latihan penjejangan karir penulis telah mengikuti pelatihan prajabatan pada tanggal 08 November 1992 sampai dengan 21 November 1992. Pada jabatan fungsional, penulis mengikuti Latihan Dasar Umum I bagi Ajun PKB Madya selama 15 (lima belas) hari terhitung mulai tanggal 09 Juli 1922 sampai dengan 23 Juli 1992. Pada Juli 1993 selama satu bulan penulis mengikuti Latihan Dasar Umum II di Balai Diklat BKKBN Sumatera Utara.

Pada jabatan struktural penulis mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat IV mulai tanggal 02 Oktober sampai dengan 05 November 2002. Kemudian mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat III mulai tanggal 28 Desember 2005 sampai dengan 17 Februari 2006 yang dilaksanakan di Balai Diklat Provinsi Sumatera Utara di Medan. Pada tanggal 20 Agustus sampai dengan 25 Oktober 2013 penulis mengikuti Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan Tingkat II di Lembaga Administrasi Negara Jakarta.

Pada tahun 2013 penulis melanjutkan pendidikan S2 pada program studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Pedesaan (PWD) Universitas Sumatera Utara (USU) Medan.

(11)

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

RIWAYAT HIDUP ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GAMBAR ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 7

1.3. Tujuan Penelitian ... 7

1.4. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 9

2.1. Penelitian Terdahulu ... 9

2.2. Pengembangan Wilayah ... 14

2.3. Pengertian Kemiskinan dan Penyebab Kemiskinan .... 18

(12)

2.4. Program Desa ... 22

2.5. Penguatan Kelembagaan ... 27

2.6. Pemberdayaan Sumber Daya Perempuan ... 29

2.7. Pengembangan Masyarakat ... 31

2.8. Kerangka Pemikiran ... 32

2.9. Hipotesis ... 32

BAB III METODE PENELITIAN ... 33

3.1. Jenis Penelitian ... 33

3.2. Lokasi Penelitian ... 33

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian ... 33

3.3.1. Populasi ... 33

3.3.2. Sampel ... 34

3.4. Jenis dan Sumber Data ... 36

3.5. Metode Pengumpulan Data ... 36

3.5.1. Teknik Pengumpulan Data ... 36

3.5.2. Alat Pengumpulan Data ... 36

3.5.3. Skala ... 37

3.6. Instrumen Penelitian ... 38

3.6.1. Uji Validitas ... 38

3.6.2. Uji Realibilitas ... 39

(13)

3.7. Analisis Data ... 39

3.7.1. Uji Asumsi Klasik ... 40

3.7.1.1. Uji Normalitas Data ... 40

3.7.1.2. Uji Multikolinearitas ... 41

3.7.1.3. Uji Heteroskedastisitas ... 41

3.7.2. Pengujian Hipotesis ... 42

3.7.2.1. Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) ... 42

3.7.2.2. Uji Simultan (Uji F) ... 42

3.7.2.3. Uji Parsial (Uji t) ... 42

3.8. Definisi Operasional Variabel Penelitian ... 43

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 45

4.1. Hasil Penelitian ... 45

4.1.1. Gambaran Umum Wilayah Penelitian ... 45

4.1.1.1. Gambaran Umum Kecamatan Perbaungan 45 4.1.1.2. Gambaran Umum Kecamatan Dolok Masihul ... 46

4.1.1.3. Gambaran Umum Kecamatan Bandar Khalifah ... 47 4.1.1.4. Gambaran Umum Kecamatan Tanjung

(14)

Beringin ... 48

4.1.2. Karakteristik Responden ... 49

4.1.3. Pengujian Validitas dan Realibilitas ... 51

4.1.4. Pelaksanaan Program Desa Prima ... 53

4.1.4.1. Tujuan Program Desa Prima ... 53

4.1.4.2. Pelaksanaan Program Desa Prima di Kabupaten Serdang Bedagai ... 56

4.1.5. Pengaruh Program Desa Prima terhadap Pengembangan Wilayah ... 57

4.1.5.1. Pengujian Asumsi Klasik ... 57

4.1.5.2. Pengujian Hipotesis ... 62

4.2. Pembahasan ... 65

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 72

5.1. Kesimpulan ... 72

5.2. Saran ... 72

DAFTAR PUSTAKA ... 74

LAMPIRAN ... 77

(15)
(16)

DAFTAR TABEL

Tabel Judul Halaman

1.1 Perkembangan Partisipasi Masyarakat dalam Program Desa

Prima di Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2009-2015 …… 6

1.2. Perkembangan Penduduk Miskin Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2008-2013 ……….. 6

2.1. Review Penelitian Terdahulu ……… 13

3.1. Definisi Operasional Variabel Penelitian ………. 44

4.1. Distribusi Umur Responden ………. 49

4.2. Distribusi Tingkat Pendidikan Responden ………... 50

4.3. Distribusi Pendapatan Responden ……… 51

4.4. Hasil Validitas dan Realibilitas Variabel Program Desa Prima 52 4.5. Hasil Validitas dan Reliabitas Variabel Pengembangan Wilayah ………... 53

4.6. Rataan Tanggapan Responden atas Pelaksanaan Program Desa Prima ……… 56

4.7. Dasar Interprestasi Skor Item Kuisioner dalam Pelaksanaan Program Desa Prima ………. 56

4.8. Kolmogorov – Smirnov Test ……… 59

4.9. Hasil Uji Multikolinieritas ……… 60

4.10. Koefisien Determinasi ……….. 62

4.11. Hasil Uji Simultan ……… 63

4.12.. Uji Statistik-t ………. 64

(17)

DAFTAR GAMBAR

Gambar Judul Halaman

2.1. Kerangka Pemikiran Penelitian ……… 32

3.1. Peta Lokasi Penelitian ……….. 34

4.1. Peta Administrasi Kecamatan Perbaungan……… 45

4.2. Peta Administrasi Kecamatan Dolok Masihul………... 46

4.3. Peta Administrasi Kecamatan Bandar Khalifah….…………... 47

4.4. Peta Administrasi Kecamatan Tanjung Beringin ………. 48

4.5. Normal P-Plot of Regression Standardized Residual………… 58

4.6. Histogram Pengembangan Wilayah ………. 58

4.7. Grafik scatterplots Pengembangan Wilayah ……… 61

(18)

BAB I PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki jumlah penduduk yang besar dan memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Dengan posisi geografi Indonesia yang strategis menjadikan negara Indonesia memiliki peranan yang penting dalam perkembangan perekonomian global. Indonesia memiliki potensi sebagai negara yang maju namun masih belum bisa melepaskan diri dari permasalahan bangsa terutama permasalahan perekonomian dan pembangunan yang menyangkut kehidupan warga negaranya.

Pembangunan bertujuan untuk mencapai pertumbuhan pendapatan perkapita yang cepat, menyediakan dan memperluas kesempatan kerja, memeratakan pendapatan (Todaro, 2000). Sirojuzilam (2005) menyatakan pengembangan wilayah pada dasarnya mempunyai arti peningkatan nilai manfaat bagi masyarakat suatu wilayah tertentu mampu menampung lebih banyak penghuni, dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang rata-rata banyak sarana/prasarana. Selanjutnya Nachrowi dan Suhandojo (2001) menyatakan suatu wilayah yang mempunyai sumberdaya alam yang cukup kaya dan sumberdaya manusia yang mampu memanfaatkan dan mengembangkan teknologi akan cepat berkembang dibanding wilayah lain.

(19)

Dalam perspektif pembangunan yang berbasis pada kemampuan lokal, sebagaimana dikemukakan Caventa dan Valderama dalam Suhirman (2003) bahwa keberhasilan pembangunan diukur dari seberapa besar masyarakat mampu mendayagunakan sumber-sumber local yang mereka miliki yang secara kategoris terdiri dari :

1. Modal Manusia (human resources), yang meliputi jumlah penduduk, skala rumah tangga, kondisi pendidikan dan keahlian serta kondisi kesehatan warga.

2. Modal Alam (natural resources), meliputi sumber daya tanah, air, hutan, tambang, sumberaya hayati dan sumber lingkungan hidup.

3. Modal Finansial (financial resources), meliputi sumbers-umber keuangan yang ada seperti tabungan, pinjaman, subsidi, dan sebagainya.

4. Modal Fisik (phisichal resources), meliputi infrastruktur dasar yaitu transportasi, perumahan, air bersih, sumber energi, komunikasi, peralatan produksi maupun sarana yang membantu manusia untuk memperoleh mata pencaharian.

5. Modal Sosial (social captal resourches), yakni jaringan kekerabatan dan budaya, serta keanggotaan dalam kelompok, rasa saling percaya, lembaga kemasyarakatan, pranata sosial dan tradisi yang mendukung, serta akses kepada kelembagaan sosial yang sifatnya lebih luas.

Ada berbagai macam kendala yang selama ini dihadapi oleh masyarakat pedesaan dalam melaksanakan pembangunan antara lain :

(20)

1. Keterbatasan kemampuan untuk mengolah dan memanfaatkan potensi sumber daya alam yang tersedia.

2. Keterisolasian dan keterbatasan sarana dan prasarana fisik.

3. Lemahnya kemampuan kelembagaan terhadap peluang-peluang bisnis yang ada jasa dan perdagangan.

4. Terbatasnya akses masyarakat kepada sumber-sumber kemajuan ekonomi yang antara lain meliputi : akses permodalah, akses teknologi produksi, akses manajemen usaha, pengetahuan dan keterampilan SDM yang ada, akses informasi pasar dan keberlanjutan usaha-usaha produksi.

Permasalahan perekonomian yang selalu dihadapi bangsa Indonesia adalah tingginya tingkat kemiskinan dengan diikuti pembangunan yang belum merata. Hal ini berbanding terbalik dengan potensi negara Indonesia yang besar tetapi masyarakatnya lebih banyak yang hidup digaris kemiskinan dan pembangunan belum maksimal.

Permasalahan perempuan di bidang ekonomi tidak terlepas dari kemiskinan.

Perempuan dalam kegiatan usaha secara umum terbagi dalam empat kelompok, yaitu perempuan tidak mampu berusaha karena beban kemiskinan; perempuan yang belum/tidak berusaha,; perempuan pengusaha mikro; dan perempuan pengusaha kecil dan menengah.

Perempuan tidak mampu berusaha karena beban kemiskinan khususnya dalam pemenuhan pendidikan dan kesehatan, harus berusaha dengan segala cara dan

(21)

berorientasi pada kebutuhan saat ini. Perempuan dalam keluarga miskin ini sulit untuk berpikir jernih dan terbuka dalam menata kehidupan masa depan. Sedangkan untuk perempuan yang belum/tidak berusaha, dihadapkan kepada permasalahan sikap, budaya, pengetahuan dan penerapan. Perempuan tidak berusaha karena kurangnya motivasi walaupun sumberdaya yang dimilikinya sebenarnya cukup atau mampu. Di lain pihak, ada perempuan ingin maju tetapi tidak memiliki pengetahuan atau ketrampilan untuk usaha (Satker Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, 2006).

Permasalahan kemiskinan dan pembangunan yang cukup kompleks ini membutuhkan intervensi semua pihak secara bersama dan terkoordinasi. Pada tahun 2002, Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah menetapkan Peningkatan Produktivitas Ekonomi Perempuan (PPEP) sebagai prioritas untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan, disamping kebijakan untuk meningkatkan kualitas kesehatan, pendidikan serta perlindungan perempuan dan anak. Salah satu model Peningkatan Produktivitas Ekonomi Perempuan (PPEP) adalah Model “Desa Prima”

(Perempuan Indonesia Maju Mandiri).

Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan No. 1 tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan, Pasal 1 ayat 12 menjelaskan PPEP sebagai program strategis peningkatan kualitas hidup dan pemenuhan hak ekonomi perempuan melalui peningkatan produktivitas ekonomi

(22)

perempuan dalam upaya mengurangi beban biaya kesehatan dan pendidikan keluarga miskin.

Pada Ayat 13 dijelaskan bahwa Model Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri yang selanjutnya disebut Model Desa PRIMA adalah sebuah desa percontohan untuk menanggulangi kemiskinan melalui upaya ekonomi disertai pengurangan beban biaya kesehatan dan pendidikan bagi keluarga miskin, dengan memanfaatkan seluruh potensi/sumber daya baik alam maupun manusia.

Model “Desa Prima” (Perempuan Indonesia Maju Mandiri) adalah suatu model yang melibatkan seluruh masyarakat untuk ikut membangun desa sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas hidup perempuan sekaligus menanggulangi kemiskinan desa melalui subsidi silang antar kelompok masyarakat yang berekonomi lebih baik kepada masyarakat yang kurang beruntung. Kebijakan pengembangan model ini dilakukan untuk mengurangi beban biaya kesehatan dan pendidikan karena sampai saat ini kedua hal tersebut paling dirasakan dan sangat membebani kehidupan keluarga miskin. Dengan menyadari keragaman sosial budaya masyarakat, maka pengembangan “Desa Prima” sepenuhnya diserahkan pada komitmen masyarakat sendiri (Satker Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, 2006).

Beberapa permasalahan peningkatan kualitas perempuan, antara lain disebabkan :

(23)

1. Lemahnya kelembagaan karena kelompok-kelompok perempuan atau organisasi yang dibentuk oleh pemerintah melalui kegiatan sektoral maupun kelompok- kelompok perempuan yang tumbuh dari bawah belum memadai.

2. Kurangnya peran perempuan dalam pembangunan karena belum optimalnya pemberdayaan sumberdaya perempuan yang menyebabkan rendahnya tingkat pendidikan formal perempuan.

3. Kurangnya pengembangan masyarakat seperti : penyuluhan, fasilitasi dan penyuluhan

Kabupaten Serdang Bedagai telah melaksanakan model “Desa Prima” di Desa Sei Serimah Kecamatan Bandar Khalifah tahun 2009, Desa Cinta Air Kecamatan Perbaungan tahun 2010, Desa Dolok Sagala Kecamatan Dolok Masihul tahun 2011, Desa Tebing Tinggi Kecamatan Tanjung Beringin tahun 2012, Desa Sei Nagalawan Kecamatan Perbaungan tahun 2013, Desa Pekan Tanjung Beringin Kecamatan Tanjung Beringin tahun 2014, dan Desa Pegajahan Kecamatan Pegajahan tahun 2015.

Program Desa Prima untuk meningkatkan kualitas perempuan dalam menanggulangi kemiskinan melalui kelompok usaha. Pada tahap awal pembentukan Desa Prima masing-masing desa memiliki jumlah anggota 40 orang. Perkembangan partisipasi masyarakat perempuan di Kabupaten Serdang Bedagai dalam keterlibatan Program Desa Prima menunjukkan adanya peningkatan, seperti yang terlihat pada Tabel 1.1.

(24)

Tabel 1.1. Perkembangan Partisipasi Masyarakat dalam Program Desa Prima di Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2009-2015

No Desa Kecamatan Tahun

2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 1 Sei

Serimah

Bandat Khalifah

40* 46 51 58 65 73 81

2 Cinta Air Perbaungan 40* 45 53 61 67 74

3 Dolok Sagala

Dolok Masihul 40* 47 55 62 69

4 Tebing Tinggi

Tanjung Beringin

40* 51 63 70 5 Sei

Nagalawan

Perbauangan 40* 47 55

6 Pekan Tanjung

Tanjung Beringin

40* 48 Sumber : Badan Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana Kabupaten Serdang

Bedagai

Keterangan : * Jumlah anggota dalam pembentukan Program Desa Prima

Pada Tabel 1.1. terlihat bahwa masing-masing desa yang telah melaksanakan Program Desa Prima menunjukkan adanya peningkatan keterlibatan masyarakat perempuan dari pembentukan Program Desa Prima. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan “Desa Prima” akan memberikan dampak terhadap pola pikir masyarakat sehingga masyarakat dapat memahami dan mengerti tentang peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oakley (1991) menyatakan partisipasi merupakan hal yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan. Tanpa adanya partisipasi aktif dari masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan yang berorientasi pada perwujudan kesejahteraan rakyat tidak akan terwujud, karena masyarakatlah yang tahu akan kebutuhannya dan cara mengatasi permasalahan-permasalahan pembangunan yang terjadi dalam masyarakat.

(25)

Perkembangan penduduk miskin di Kabupaten Serdang Bedagai menunjukkan adanya penurunan selama periode tahun 2008-2013, seperti yang terlihat pada Tabel 1.2.

Tabel 1.2. Perkembangan Penduduk Miskin Kabupaten Serdang Bedagai Tahun 2008-2013

Tahun Persentase Penduduk Miskin (%)

2008 10,61

2009 9,51

2010 10,59

2011 10,07

2012 9,89

2013 8,13

Sumber : BPS Sumut 2008-2013 (data diolah)

Tabel 1.2. menunjukkan adanya penurunan persentase kemiskinan di Kabupaten Serdang Bedagai selama periode tahun 2008-2013. Pada tahun 2008 persentase penduduk miskin sebesar 10,61 % dan menurun pada tahun 2013 menjadi sebesar 8,13%. Sehingga dalam penelitian ini peneliti tertarik untuk meneliti

“Pengaruh Program Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (Desa Prima) terhadap Pengembangan Wilayah Kabupaten Serdang Bedagai”.

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan masalah di dalam penelitian ini adalah :

1. Bagaimana pelaksanaan Program Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (Desa Prima) di Kabupaten Serdang Bedagai ?

(26)

2. Bagaimana pengaruh Program Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (Desa Prima) terhadap pengembangan wilayah di Kabupaten Serdang Bedagai?

1.3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk :

1. Menganalisis pelaksanaan Program Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (Desa Prima) di Kabupaten Serdang Bedagai.

2. Menganalisis pengaruh Program Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (Desa Prima) di Kabupaten Serdang Bedagai.

1.4. Manfaat Penelitian

1. Bagi masyarakat dan dunia usaha serta pemerintah yang terlibat dalam Program Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri (Desa Prima) berperan sebagai masukan untuk pengembangan masyarakat.

2. Sebagai sarana pengembangan ilmu dan pengetahuan yang secara teori telah dipelajari di Program Studi Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, Medan.

3. Sebagai bahan pengembangan penelitian lebih lanjut yang sejenis dengan metode penelitian yang berbeda.

4. Bagi peneliti hasil penelitian diharapkan dapat memperdalam dan memperkaya wawasan dan pengetahuan khususnya tentang pemberdayaan perempuan.

(27)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penelitian Terdahulu

Penelitian-penelitian yang telah dilakukan mengenai program pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sebelumnya antara lain : Yunita (2010) dalam penelitian yang berjudul “Evaluasi Pelaksanaan Program Model Desa Prima di Kota Bengkulu (Studi Kasus pada Pilot Project Kelurahan Pelaksana Program Model Desa Prima di Kota Bengkulu). Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengevaluasi pelaksanaan program model desa PRIMA di Kelurahan Jalan Gedang dan Kelurahan Tanjung Agung Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling (sampel bertujuan), dengan jumlah informan pokok di dua Kelurahan sebanyak 10 orang dimana 8 orang berasal dari anggota pelaksana Program Model Desa PRIMA serta 2 orang pengurus Program Model Desa PRIMA di dua kelurahan penelitian. Sumber yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah wawacara, observasi, studi pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program model desa PRIMA di kedua kelurahan pelaksana belum maksimal.

Hal ini berdasarkan hasil penelitian monitoring terhadap proses pelaksanaan program model desa PRIMA belum memenuhi kriteria Juklak yaitu monitoring

(28)

aspek pemilihan lokasi, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan program. Adapun kriteria pemilihan lokasi sebagai berikut: terisolir, daerah tertinggal dan tidak memiliki akses terhadap pekerjaan. Dilihat dari proses perencanaan berdasarkan Juklak yakni menggali seluruh potensi, penentuan unggulan (usaha), mengetahui hambatan dan tantangan, menggalang komitmen dari seluruh pemangku kepentingan melalui rapat koordinasi dan pertemuan, mengajukan usulan secara bertingkat, dengan melihat siapa yang melakukan apa disesuaikan dengan kemampuan. Sedangkan kriteria pelaksanaan program diantaranya kelurahan yang dijadikan sebagai lokasi pelaksana model desa yakni kelurahan yang mempunyai penduduk miskin yang relatif seimbang dengan penduduk yang mampu ini menurut Badan Pemberdayaan dan Keluarga Berencana. Selain itu dalam melaksanakan monotoring program model desa PRIMA dipakai dua sumber informasi yaitu: laporan tertulis pelaksanaan program model desa PRIMA dan monitoring langsung di lapangan.

Dewi, et al (2010) dalam penelitian yang berjudul “Pengaruh Pinjaman Dana Bergulir Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan Terhadap Peningkatan Pendapatan Usaha Kelompok Swadaya Masyarakat di Kota Depok (Studi Kasus:

Proyek Penanggulangan Kemiskinan Di Perkotaan (P2KP) Kelurahan Pancoranmas, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok)”. Metode analisis yang dipergunakan yaitu Uji Wilcoxon dan Korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian dengan menggunakan Uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara modal dan pendapatan

(29)

usaha KSM sebelum mendapatkan pinjaman dana bergulir P2KP dengan modal dan pendapatan usaha KSM setelah mendapatkan pinjaman dana bergulir P2KP di BKM Bina Budi Mulya, Kelurahan Pancoranamas, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok.

Hasil penelitian dengan Korelasi Rank Spearman menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pinjaman dana bergulir P2KP dengan peningkatan pendapatan usaha kelompok swadaya masyarakat di BKM Bina Budi Mulya, Kelurahan Pancoranmas, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok.

Wahyuni (2009) dalam penelitian “ Analisis Pengaruh Infrastruktur Ekonomi dan Sosial terhadap Produktivitas Ekonomi di Indonesia. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pendekatan yang dilakukan dengan model fixed effects menunjukkan hasil bahwa masing-masing infrastruktur memberikan pengaruh yang positif terhadap produktivitas ekonomi dengan tingkat elastisitas yang berbeda-beda, yaitu infrastruktur sarana kesehatan sebesar 0,65, energi listrik 0,08, panjang jalan 0,07 dan air bersih 0,05. Sarana kesehatan yang merupakan bagian dalam modal manusia yang vital bagi pembangunan, mempunyai tingkat elastisitas yang paling besar memengaruhi produktivitas ekonomi dimana setiap kenaikan 1 persen infrastruktur kesehatan akan meningkatkan produktivitas ekonomi sebesar 0,65 persen.

Cahyaningtyas (2008) dalam penelitiannya Pengaruh Pinjaman Modal Kerja Bergulir Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) Terhadap Pengembangan Usaha Masyarakat (Studi Kasus Badan Keswadayaan Mejasem

(30)

(BKM) Desa Mejasem Barat Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal). Metode penelitian menggunakan analisis regresi sederhana. Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara P2KP terhadap pengembangan usaha masyarakat Desa Mejasem Barat Kabupaten Tegal.

Purba (2006) dalam penelitian “Pengaruh Program Pengembangan Prasarana Perdesaan (P2D) terhadap Pengembangan Wilayah Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di Kecamatan Raya - Kabupaten Simalungun. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pemberdayaan masyarakat melalui Program P2D di Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun, sudah menunjukkan hasil-hasil yang cukup baik dan secara statistik terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata pendapatan rumah tangga sebelum dan sesudah Program P2D.

Sri Rezeki (2006) dalam penelitiannya Analisis Penanggulangan Kemiskinan Melalui Implementasi Program P2KP di Kota ( Studi Kasus Di Kelurahan Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang Tahun 2000 - 2003). Analisis data dalam penelitian ini dengan menggunakan analisis korelasi dan uji beda. Hasil perhitungan koefisien korelasi (r) antara pendampingan dengan pendapatan usaha, ada korelasi positif sebesar 0,9932 yang berarti bahwa pendapatan usaha mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan pendampingan. Sedang koefisien determinasinya (r2) = 0,9864 , yang artinya bahwa pendapatan usaha sebesar 98,64% ditentukan oleh pendampingan, sisanya 1,36% ditentukan oleh faktor lain. Perhitungan koefisien korelasi (r) antara pinjaman modal dengan pendapatan usaha, ada korelasi positif

(31)

sebesar 0,9883 yang berarti bahwa pendapatan usaha mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan pinjaman modal. Perhitungan koefisien korelasi (r) antara pendapatan usaha dengan simpanan usaha sebesar 0,9927 dan koefisien determinasinya (r2) =0,9855 , yang artinya bahwa simpanan usaha sebesar 98,55%

ditentukan oleh pendapatan usaha, sisanya sebesar 1,45% ditentukan oleh faktor lain.

Perhitungan koefisien korelasi antara pendampingan dengan simpanan usaha nilai koefisien korelasinya sebesar 0,9997 sedang perhitungan koefisien korelasi antara pinjaman modal dengan simpanan usaha nilai koefisien korelasinya sebesar 0,9989.

Sedang koefisien determinasinya (r2) = 0,9534 , yang artinya bahwa simpanan usaha sebesar 95,34% ditentukan oleh pinjaman modal dan sisanya 4,66% ditentukan oleh faktor lain. Dari hasil analisis uji beda memperlihatkan bahwa pendapatan usaha peserta program rata–rata per bulan sesudah program mengalami perubahan yang meningkat sampai 76,53%, sedang simpanan usaha peserta program rata–rata per bulan sesudah program mengalami perubahan yang meningkat sampai 95,23%, hal ini menunjukkan adanya kemauan dari peserta program berusaha untuk mandiri dalam permodalannya guna mengelola kegiatan usahanya secara mandiri di masa mendatang.

Tabel 2.1 Review Penelitian Terdahulu Nama Peneliti/

Tahun

Judul Penelitian

Hasil Penelitian Yunita (2010) Evaluasi pelaksanaan

Program Model Desa Prima di Kota Bengkulu (Studi

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program model desa PRIMA di kedua kelurahan

pelaksana belum maksimal. Hal ini

(32)

Kasus pada Pilot Project Kelurahan Pelaksana

Program Model Desa Prima di

Kota Bengkulu)

berdasarkan hasil penelitian monitoring terhadap proses pelaksanaan program model desa PRIMA belum memenuhi lriteria Juklak yaitu monitoring aspek pemilihan lokasi, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan program.

Dewi, et al (2010)

Pengaruh Pinjaman Dana Bergulir Proyek Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan Terhadap Peningkatan

Pendapatan Usaha Kelompok Swadaya Masyarakat di Kota Depok (Studi Kasus:

Proyek

Penanggulangan Kemiskinan Di Perkotaan (P2KP) Kelurahan

Pancoranmas, Kecamatan

Pancoranmas, Kota Depok)

Hasil penelitian dengan menggunakan Uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara modal dan pendapatan usaha KSM sebelum mendapatkan pinjaman dana bergulir P2KP dengan modal dan pendapatan usaha KSM setelah mendapatkan pinjaman dana bergulir P2KP di BKM Bina Budi Mulya, Kelurahan

Pancoranamas, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok. Hasil penelitian dengan Korelasi Rank Spearman menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pinjaman dana bergulir P2KP dengan peningkatan pendapatan usaha kelompok swadaya masyarakat di BKM Bina Budi Mulya, Kelurahan Pancoranmas, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok.

Wahyuni (2009)

Analisis Pengaruh Infrastruktur

Ekonomi dan Sosial terhadap

Produktivitas

Ekonomi di Indonesia

Pendekatan yang dilakukan dengan model fixed effects menunjukkan hasil bahwa masing-masing infrastruktur memberikan pengaruh yang positif terhadap produktivitas ekonomi dengan tingkat elastisitas yang berbeda-beda, yaitu infrastruktur sarana kesehatan sebesar 0,65, energi listrik 0,08, panjang jalan 0,07 dan air bersih 0,05.

Cahyaningtyas (2008)

Pengaruh Pinjaman Modal Kerja Bergulir Proyek

Penanggulangan Kemiskinan di

Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh yang signifikan antara P2KP terhadap pengembangan usaha

masyarakat Desa Mejasem Barat Kabupaten Tegal.

(33)

Perkotaan (P2KP) Terhadap

Pengembangan Usaha Masyarakat (Studi Kasus Badan Keswadayaan Mejasem (BKM) Desa Mejasem Barat Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal).

Purba (2006) Pengaruh Program Pengembangan Prasarana Perdesaan (P2D) terhadap Pengembangan Wilayah Berbasis Pemberdayaan Masyarakat di Kecamatan Raya - Kabupaten

Simalungun

Pemberdayaan masyarakat melalui Program P2D di Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun, sudah menunjukkan hasil-hasil yang cukup baik dan secara statistic terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata pendapatan rumah tangga sebelum dan sesudah Program P2D.

Sri Rezeki (2006)

Analisis

Penanggulangan Kemiskinan Melalui Implementasi Program P2KP di Kota ( Studi Kasus Di Kelurahan

Purwoyoso

Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang Tahun 2000 - 2003).

Perhitungan koefisien korelasi (r) antara pinjaman modal dengan

pendapatan usaha, ada korelasi positif sebesar 0,9883 yang berarti bahwa pendapatan usaha mempunyai hubungan yang sangat kuat dengan pinjaman modal. Perhitungan koefisien korelasi (r) antara

pendapatan usaha dengan simpanan usaha sebesar 0,9927 dan koefisien determinasinya (r2) =0,9855 , yang artinya bahwa simpanan usaha sebesar 98,55% ditentukan oleh pendapatan usaha, sisanya sebesar 1,45%

ditentukan oleh faktor lain.

2.2. Pengembangan Wilayah

Pengembangan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan menambah, meningkatkan, memperbaiki atau memperluas (Sirojuzilam dan Mahalli, 2010).

(34)

Wilayah adalah kumpulan daerah berhamparan sebagai satu kesatuan geografis dalam bentuk dan ukurannya. Wilayah memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia serta posisi geografis yang dapat diolah dan dimanfaatkan secara efisien dan efektif melalui perencanaan yang komprehensif (Miraza, 2005).

Glasson (1977) mengemukakan konsep tentang wilayah sebagai metode klasifikasi muncul melalui dua fase yang berbeda, yaitu yang mencerminkan kemajuan ekonomi dari perekonomian sederhana ke sistim industri yang kompleks.

Pada fase pertama memperlihatkan “wilayah formal” yaitu berkenaan dengan keseragaman dan didefinisikan menurut homogenitas. Fase kedua memperlihatkan perkembangan “wilayah fungsional” yaitu berkenaan dengan interdependensi, saling hubungan antara bagian-bagian dan didefinisikan menurut koherensi fungsional.

Wilayah formal adalah wilayah goegrafik yang seragam atau homogen menurut kriteria tertentu. Pada awalnya kriteria yang digunakan untuk mendefinisikan daerah formal, terutama adalah bersifat fisik seperti topografi, iklim dan vegetasi dikaitkan dengan konsep determinasi geografik. Tetapi berikutnya terjadi peralihan kepada penggunaan kriteria ekonomi , seperti tipe industri atau tipe pertanian. Wilayah alamiah adalah wilayah formal fisik. Perhatian kepada bentuk klasifikasi wilayah ini sebagian timbul karena dari kenyataan bahwa faktor-faktor fisik adalah lebih stabil dari pada faktor ekonomi dinamik dan dengan demikian lebih mudah untuk dipelajari. Sedang wilayah formal ekonomi pada umumnya didasarkan pada tipe-tipe industri atau pertanian, walaupun latar belakang sifat fisik sudah

(35)

barang tentu tidak dapat diabaikan. Usaha-usaha yang dilakukan pada waktu-waktu berikutnya utnuk menentukan batas daerah-daerah formal ekonomi telah didasarkan pada kriteria seperti tingkat pendapatan, tingkat pengangguran dan laju pertumbuhan ekonomi.

Wilayah fungsional adalah wilayah geografik yang memperlihatkan suatu koherensi fungsional tertentu, suatu interdependensi dari bagian-bagian, bila didefinisikan berdasarkan kriteria tertentu. Wilayah fungsional ini kadang-kadang disebut sebagai Wilayah Nodal atau polarized region dan terdiri dari satuan-satuan yang heterogen, seperti desa-kota yang secara fungsional saling berkaitan.

Wilayah formal atau wilayah fungsional ataupun gabungan keduanya memberikan suatu kerangka bagi klasifikasi tipe wilayah yang ketiga yaitu wilayah perencanaan. Wilayah perencanaan merupakan wilayah geografik yang cocok untuk perencanaan dan pelaksanaan rencana-rencana pembangunan untuk memecahkan persoalan-persoalan wilayah.

Klasifikasi tentang wilayah diatas tidak jauh berbeda dengan klasifikasi yang dikemukakan oleh Richardson (1979) yang membagi wilayah atas tiga tipe yaitu : a. Wilayah Homogen. Wilayah dilihat dari segi kesamaan karakteristik serta dimana

perbedaan internal dan interaksi intraregional dianggap bukan sesuatu yang penting. Wilayah homogen menunjukkan bahwa beberapa daerah berkumpul membentuk sebuah wilayah berdasarkan kriteria tertentu. Misalnya kesamaan secara ekonomi, keadaan geografi, atau sosial politik. Dalam konsep wilayah

(36)

homogen, hubungan regional yang didasari oleh ekonomi lebih penting dari pada perbedaan intraregional.

b. Wilayah Nodal (Polarized). Pada wilayah ini keseragaman hanya sedikit diperhatikan. Keterpaduan merupakan hasil dari aliran-aliran internal, hubungan dan saling ketergantungan biasanya terpolarisasi menuju ke sebuah pusat (node) yang dominan. Dalam konsep ini dipahami bahwa ruang ekonomi sangatlah heterogen. Penduduk dan industri tidak tersebar di seluruh lokasi tetapi berkumpul pada lokasi-lokasi yang spesifik. Pada tingkat regional, wilayah disusun oleh titik-titik yang heterogen dengan ukuran berbeda-beda (kota besar, kota kecil, desa) yang berkaitan secara fungsional.

c. Wilayah Perencanaan. Dalam konsep ini kesatuan diperoleh dari kontrol politik atau administratif. Wilayah perencanaan lebih mudah dipahami sebagai sebuah daerah dimana kebijaksanaan ekonomi diterapkan, dan hal ini merupakan satu- satunya kekuatan yang menyatukan. Ukuran wilayah perencanaan yang optimal dibedakan dengan panjang waktu perencanaan. Daerah yang lebih besar dibutuhkan untuk perencanaan jangk apanjang, sebaliknya wilayah perencanaan yang lebih kecil menawarkan berbagai keuntungan sistem desentralisasi, antara lain : kesempatan partisipasi masyarakat, biaya informasi rendah, penghematan waktu manajerial, dan kualitas keputusan yang lebih tinggi. Selain itu keuntungan utama dari pendekatan wilayah perencanaan adalah bahwa data dikumpulkan pada unit administrasi yang menjadikan dampak kebijakan lebih mudah untuk

(37)

dievaluasi, dan struktur administrasi wilayah memudahkan implementasi kebijakan. Kerugiannya adalah kemungkinan tidak konsistennya antara batas administrasi wilayah dengan batas wilayah ekonomi.

Jika pengertian wilayah formal (homogen) dan wilayah fungsional (polarized) dihubungkan dengan perencanaan, dapat dikenal dua macam pendekatan dalam perencanaan wilayah (Jayadinata, 1992), yaitu :

1. Pendekatan Teritorial, untuk perencanaan suatu wilayah formal. Menurut Friedman dan Weaver, perencanaan suatu wilayah formal dengan pendekatan territorial tersebut memperhitungkan mobilisasi terpadu dari semua sumber daya manusia dan sumber daya alam dari suatu wilayah tertentu yang tercirikan oleh perkembangan sejarahnya (karena sejarah adalah salah satu yang dapat mengikat anggota masyarakat suatu wilayah teritorial sehingga dapat terbentuk beberapa kelompok sosial seperti suku dan bangsa). Perencanaan semacam tersebut dapat disebut perencanaan wilayah teritorial atau perencanaan wilayah formal.

Menurut Stohr strategi pengembangan dari bawah ke atas (bottom up) berlandaskan pada perencanaan wilayah formal tersebut.

2. Pendekatan Fungsional, yaitu suatu perencanaan wilayah yang menurut Friedman dan Weaver, memperhitungkan lokasi berbagai kegiatan ekonomi dan pengaturan secara ruang dari sistem perkotaan mengenai berbagai pusat dan jaringan. Perencanaan ini dapat disebut sebagai perencanaan wilayah fungsional (kelompok sosial yang membentukknya khas fungsional-terikat oleh

(38)

kepentingan, seperti misalnya kelas sosial, perserikatan dagang, dan sebagainya).

Strategi pengembangan dari atas ke bawah (top down) menurut Stohr berlandaskan pada perencanaan wilayah fungsional tersebut.

Sirojuzilam (2005) pengembangan wilayah pada dasarnya mempunyai arti peningkatan nilai manfaat wilayah bagi masyarakat suatu wilayah tertentu mampu menampung lebih banyak penghuni, dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang rata-rata banyak sarana/prasarana, barang atau jasa yang tersedia dan kegiatan usaha- usaha masyarakat yang meningkat, baik dalam arti jenis, intensitas, pelayanan maupun kualitasnya.

Pembangunan wilayah bertujuan untuk mencapai pertumbuhan pendapatan perkapita yang cepat, menyediakan dan memperluas kesempatan kerja, memeratakan pendapatan, memperkecil disparitas kemakmuran antar daerah/regional serta mendorong transformasi perekonomian yang seimbang antara sektor pertanian dan industri melalui pemanfaatan sumberdaya alam yang tersedia tapi dengan tetap memperhatikan aspek kelestariannya (sustainable) (Todaro 2000). Pada hakekatnya pembangunan wilayah bertujuan untuk menciptakan berbagai alternatif yang lebih baik bagi setiap anggota masyarakatnya guna mencapai cita-citanya. Penciptaan berbagai alternatif tersebut dicirikan oleh adanya proses transformasi ekonomi dan struktural melalui peningkatan kapasitas produksi dan produkstivitas rata-rata tenaga kerja, peningkatan pendapatan, penurunan disparitas pendapatan, perubahan struktur distribusi kekuasaan antar golongan masyarakat kearah yang lebih adil, serta

(39)

transformasi kultural dan tata nilai. Perubahan yang terjadi diharapkan lebih mengarah kepada perbaikan mutu hidup dan kehidupan masyarakat (Nasoetion 1999).

2.3. Pengertian Kemiskinan dan Penyebab Kemiskinan

Kemiskinan merupakan sebagai standar hidup yang rendah, yaitu adanya suatu tingkat kekurangan materi dibandingkan dengan standar kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Secara ekonomis, kemiskinan juga dapat diartikan sebagai kekurangan sumberdaya yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejehtaraan sekelompok orang. Kemiskinan memberi gambaran situasi serba kekurangan seperti terbatasnya modal yang dimiliki, rendahnya pengetahuan dan keterampilan, rendahnya produktivitas, rendahnya pendapatan, lemahnya nilai tukar hasil produksi orang miskin dan terbatasnya kesempatan berperan serta dalam pembangunan.

Kemiskinan adalah suatu intergrated concept yang memiliki lima dimensi, yaitu: 1) kemiskinan (proper), 2) ketidakberdayaan (powerless), 3) kerentanan menghadapi situasi darurat (state of emergency), 4) ketergantungan (dependence), dan 5) keterasingan (isolation) baik secara geografis maupun sosiologis (Prastyo, 2010). Menurut Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2005 tentang RPJMN, kemiskinan terjadi ketika seseorang atau sekelompok orang, baik laki-laki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Ridlo (2001) mengemukakan definisi ini beranjak dari pendekatan berbasis hak yang mengakui bahwa masyarakat miskin

(40)

mempunyai hak-hak dasar yang sama dengan anggota masyarakat lainnya.

Ketidaksamaan kesempatan untuk mengakumulasi basis kekuatan sosial yang meliputi: aset, sumber-sumber keuangan, organisasi dan jaringan sosial, pengetahuan dan informasi untuk memperoleh pekerjaan menjadikan seseorang menjadi miskin.

Kemiskinan adalah kekurangan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai suatu standar hidup yang layak (Yulianto, 2005).

Kemiskinan dapat ditinjau dari tinjauan ekonomi, sosial dan politik. Secara ekonomi kemiskinan adalah kekurangan sumber daya yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan. Secara sosial kemiskinan diartikan kekurangan jaringan sosial dan struktur untuk mendapatkan kesempatan-kesempatan meningkatkan produktivitas. Sedangkan secara politik kemiskinan diartikan kekurangan akses terhadap kekuasaan.

Nugroho dan Dahuri (2004) menyatakan bahwa dari aspek ekonomi, kemiskinan merupakan kesenjangan antara lemahnya daya pembelian (positif) dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan dasar (normatif). Dari aspek sosial, kemiskinan mengindikasikan potensi perkembangan masyarakat yang rendah.

Sedangkan dari aspek politik, kemiskinan berhubungan dengan rendahnya kemandirian masyarakat.

Penyebab kemiskinan dapat terjadi karena kondisi alamiah dan ekonomi, kondisi struktural dan sosial, serta kondisi kultural (budaya). Kemiskinan alamiah dan ekonomi timbul akibat keterbatasan sumber daya alam, manusia, dan sumberdaya lain

(41)

sehingga peluang produksi relatif kecil dan tidak dapat berperan dalam pembangunan. Kemiskinan struktural dan sosial disebabkan hasil pembangunan yang belum merata, tatanan kelembagaan dan kebijakan dalam pembangunan. Sedangkan kemiskinan kultural (budaya) disebabkan sikap atau kebiasaan hidup yang merasa kecukupan sehingga menjebak seseorang dalam kemiskinan (Nugroho dan Dahuri, 2004).

Penyebab kemiskinan yang lain menurut Cox (2004) berupa: (1) Kemiskinan yang diakibatkan globalisasi berupa dominasi negara-negara maju terhadap negara- negara berkembang; (2) Kemiskinan yang berkaitan dengan pembangunan berupa rendahnya partisipasi dalam pembangunan dan peminggiran proses pembangunan; (3) Kemiskinan sosial yang yang dialami oleh perempuan, anak-anak dan kelompok minoritas karena ketidakberdayaan mereka; dan (4) Kemiskinan karena faktor-faktor eksternal seperti konflik, bencana alam, kerusakan lingkungan dan tingginya jumlah penduduk.

Prastyo (2010) menyatakan beberapa sumber dan proses penyebab terjadinya kemiskinan, yaitu:

a. Policy induces processes, yaitu proses pemiskinan yang dilestarikan, direproduksi melalui pelaksanaan suatu kebijakan, diantaranya adalah kebijakan anti kemiskinan, tetapi relitanya justru melestarikan.

(42)

b. Socio-economic dualism, negara bekas koloni mengalami kemiskinan karena poal produksi kolonial, yaitu petani menjadi marjinal karena tanah yang paling subur dikuasai petani sekala besar dan berorientasi ekspor.

c. Population growth, prespektif yang didasari oleh teori Malthus, bahwa pertambahan penduduk seperti deret ukur sedangkan pertambahan pangan seperti deraet hitung.

d. Resaurces management and the environment, adalah unsur mismanagement sumber daya alam dan lingkungan, seperti manajemen pertanian yang asal tebang akan menurunkan produktivitas.

e. Natural cycle and processes, kemiskinan terjadi karena siklus alam. Misalnya tinggal dilahan kritis, dimana lahan itu jika turun hujan akan terjadi banjir, akan tetapi jika musim kemarau kekurangan air, sehingga tidak memungkinkan produktivitas yang maksimal dan terus-menerus.

f. The marginalization of woman, peminggiran kaum perempuan karena masih dianggap sebagai golongan kelas kedua, sehingga akses dan penghargaan hasil kerja yang lebih rendah dari laki-laki.

g. Cultural and ethnic factors, bekerjanya faktor budaya dan etnik yang memelihara kemiskinan. Misalnya pada pola konsumtif pda petani dan nelayan ketika panenj raya, serta adat istiadat yang konsumtif saat upacara adat atau keagamaan.

h. Exploatif inetrmediation, keberadaan penolong yang menjadi penodong, seperti rentenir.

(43)

i. Inetrnal political fragmentation and civil stratfe, suatu kebijakan yang diterapkan pada suatu daerah yang fragmentasi politiknya kuat, dapat menjadi penyebab kemiskinan.

j. Interbational processe, bekerjanya sistem internasional (kolonialisme dan kapitalisme) membuat banyak negara menjadi miskin.

2.4. Program Desa

Pembahasan mengenai program tidak dapat dilepaskan dengan aspek kebijakan. Menurut Dye (1992), kebijakan atau yang dalam hal ini adalah kebijakan publik secara prinsip dapat diartikan sebagai “Whatever government choose to do or not to do“. Hal tersebut diperkuat oleh Hogwood dan Gunn (1986) yang menyebutkan bahwa kebijakan publik adalah seperangkat tindakan pemerintah yang didesain untuk mencapai hasil-hasil tertentu. Dan sebagai suatu instrumen yang dibuat oleh pemerintah, kebijakan publik dapat berbentuk aturan-aturan umum dan atau khusus baik secara tertulis maupun tidak tertulis yang berisi pilihan-pilihan tindakan yang merupakan keharusan, larangan dan atau kebolehan yang dilakukan untuk mengatur seluruh warga masyarakat, pemerintah dan dunia usaha dengan tujuan tertentu.

Pengertian program menurut Jones (1984) adalah cara yang disahkan untuk mencapai tujuan. Dalam pengertian tersebut menggambarkan bahwa program- program adalah penjabaran dari langkah-langkah dalam mencapai tujuan itu sendiri.

Dalam hal ini, program pemerintah berarti upaya untuk mewujudkan kebijakan-

(44)

kebijakan pemerintah yang telah ditetapkan. Program-program tersebut muncul dalam Rencana Strategis Kementerian/Lembaga atau Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

Dalam Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, kawasan perdesaan didefinisikan sebagai wilayah yang mempunyai kegiatan utama pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

Kata desa berasal dari bahasa sansekerta yakni desi, dusun yang berarti tempat asal, tempat tinggal, negeri asal, atau tanah leluhur yang merujuk pada satu kesatuan hidup, dengan satu kesatuan norma, serta memiliki batas yang jelas. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (1993) disebutkan bahwa desa adalah (1) sekelompok rumah diluar kota yang merupakan kesatuan kampung, dusun; (2) udi atau dus (dalam arti daerah pedalaman sebagai lawan kota);(3) tempat, tanah, daerah.

Desa merupakan suatu kesatuan hukum, dimana bertempat tinggal suatu masyarakat yang berkuasa dan mengadakan pemerintahan sendiri. Desa terjadi bukan hanya dari satu tempat kediaman masyarakat saja, namun terjadi dari satu induk desa dan beberapa tempat kediaman. Sebagian dari mana hukum yang berpisah yang merupakan kesatuan tempat tinggal sendiri, kesatuan mana pendukuhan, ampean, kampung, cantilan beserta tanah pertanian, tanah perikanan darat, tanah hutan dan tanah belukar.

(45)

Roucek dan Warren dalam Purnomo (2004) mendefinisikan desa sebagai bentuk yang diteruskan antara penduduknya dengan lembaga mereka di wilayah setempat dimana mereka tinggal, yaitu di ladang yang berserak dan di kampung yang biasanya menjadi pusat segala aktivitas mereka bersama.

Menurut Kusuma dalam Prasetya (2014) mengemukakan bahwa: Desa adalah suatu kesatuan hukum dimana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan tersendiri. Dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 disebutkan pengertian desa sebagai kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah, yang berwenang untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat, berdasarkan asal-usul dan adat istiadat setempat yang diakui dan dihormati dalam system pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Program desa adalah cara yang disahkan untuk mencapai tujuan pembangunan perdesaan dalam rangka untuk mewujudkan kebijakan-kebijakan pemerintah yang telah ditetapkan untuk kesejahteraan masyarajat perdesaan.

Pembangunan desa adalah konsep normatif, ia menentukan pilihan-pilihan tujuan untuk mencapai apa yang disebut Gandhi sebagai “realisasi potensi manusia”.

Todaro (2000) menyimpulkan bahwa pembangunan adalah proses multidimensi yang mencakup perubahan-perubahan penting dalam struktur sosial, sikap-sikap rakyat dan lembaga-lembaga nasional. Menurut Katz dalam Prasetya (2014) menegaskan bahwa pembangunan adalah “major societal change from one state of national being to another, more valued, state,” yang berarti perubahan besar-besaran suatu bangsa dari

(46)

suatu keadaan menuju keadaan yang lebih baik. Siagian dalam Prasetya (2914) mengemukakan bahwa pembangunan sebagai suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana yang dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (Nation Building). Sehubungan dengan pendapat tersebut disimpulkan bahwa pembangunan adalah usaha yang diselenggarakan secara sadar guna menciptakan perubahan dan pertumbuhan di segala bidang, dalam rangka mencapai tujuan negara dan bangsa.

Pada umumnya pembangunan desa bersifat komprehensif dan dijadikan bagian integral pembangunan nasional. Dalam hubungan ini, pembangunan desa dipandang sebagai metode dalam rangka mencapai tujuan nasional. Walaupun dikatakan bahwa pembangunan masyarakat dijadikan bagian integral pembangunan nasional, hal itu tidak berarti pembangunan masyarakat merupakan tanggung jawab dan tugas pemerintah sepenuhnya. Jadi pembangunan masyarakat dipandang sebagai metode penyelenggaraan proyek spesifik, tidak semata-mata sebagai bagian program nasional melainkan berdasarkan hak, kesempatan, atau kewenangan masyarakat yang bersangkutan untuk mengurus dirinya sendiri, sesuai dengan kemampuan sumber- sumber setempat.

Mengenai pembangunan desa, Kuswata dalam Prasetya (2014) mengemukakan pendapatnya bahwa yang dimaksud pembangunan desa adalah :

(47)

1. Pembangunan yang dilaksanakan dari, oleh dan untuk rakyat yang dalam penyelenggaraannya harus secara menyeluruh, terpadu dan terkoordinasikan.

2. Pembangunan desa adalah multi sektoral dan merupakan perpaduan daripada program-program sektoral, regional dan inpres dengan kebutuhan esensial masyarakat.

3. Pembangunan desa merupakan usaha pemerataan dan penyebaran pembangunan keseluruh desa-desa baik pedesaan maupun perkotaan.

Dalam hal yang sama mengenai pembangunan desa, Ndraha dalam Prasetya (2914) berpendapat bahwa: "Pembangunan desa adalah pembangunan yang sepanjang prosesnya masyarakat desa yang bersangkutan diharapkan berpartisipasi aktif dan dikelola ditingkat desa".

Bila disimak lebih jauh lagi nampaknya pembangunan desa mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan pembangunan lainnya. Seperti dikemukakan Ndraha dalam Prasetya (2014) antara lain :

1. Tanpa partisipasi aktif masyarakat desa yang bersangkutan dalam proses pembangunan desanya, pembangunan itu bukanlah pembangunan desa.

2. Pembangunan desa sama sekali "noncoersive" tanpa paksaan atau tekanan fisik maupun mental.

3. Pembangunan desa didasarkan pada asas-asas demokrasi.

4. Metode pendekatan pembangunan desa adalah metode yang sesuai dengan kondisi-kondisi psikologis sosial dan ekonomis desa yang bersangkutan berada.

(48)

5. Dalam pembangunan desa, jika masyarakat belum tergerak, pemerintah berfungsi menggerakkannya.

Conyers dalam Prasetya (2014) membagi tipe-tipe program pembangunan desa, antara lain:

a. Tipe pertama, adalah jenis program pembangunan masyarakat yang dikoordinasi oleh suatu departemen dan kementerian pemerintah yang khusus bertanggung jawab atas masalah pembangunan masyarakat. Departemen yang bersangkutan memperkerjakan tenaga-tenaga profesional di bidang pembangunan masyarakat yang mempunyai tanggung jawab dalam mendorong serta membantu segala jenis kegiatan komunitaas setempat di seluruh daerah.

b. Tipe kedua, adalah kegiatan pembangunan masyarakat melibatkan proyek khusus yang hanya mencakup suatu daerah yamg amat terbatas. Proyek-proyek semacam ini cenderung memiliki cakupan yang lebih luas daripada yang normal dilaksanakan departemen pembangunan masyarakat, diarahkan agar mampu memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan masalah yang terjadi sebagai jawaban terhadap adanya tuntutan komunitas setempat. Besarnya bantuan luar sering lebih besar daripada bentuk kegiatan pembangunan masyarakat yang lain, namun ada juga proyek yang besar-besar dilaksanakan atas inisiatif komunitas itu sendiri dan hanya menerima sedikit sekali bantuan dari luar, bahkan sama sekali tidak.

Proyek-proyek tersebut dilaksanakan dengan memungkinkan adanya pendekatan terpadu bukan hanya keterlibatan satu sektor.

(49)

Adapun sasaran umum pembangunan desa di Indonesia menurut Ndraha dalam Prasetya (2014) diarahkan pada tiga sasaran atau hasil yang diharapkan yaitu : 1) Membaiknya kondisi dan meningkatkan taraf hidup masyarakat desa, 2) Tergeraknya partisipasi masyarakat dalam pembangunan, dan 3) Tumbuhnya kemampuan desa untuk berkembang secara mandiri.

2.5. Penguatan Kelembagaan

Pembangunan adalah suatu proses sosial yang bersifat integral dan menyeluruh, baik berupa pertumbuhan ekonomi maupun perubahan sosial demi terwujudnya masyarakat yang lebih makmur. Proses pembangunan dalam pelaksanaannya berlangsung melalui suatu siklus produksi untuk mencapai suatu konsumsi dan pemanfaatan segala macam sumber daya dan modal, seperti sumber daya alam, sumber daya manusia, sumber keuangan, permodalan dan peralatan yang terus menerus diperlukan dan perlu ditingkatkan (Supardi, 1994).

Bank Dunia selama ini telah memberi perhatian besar kepada tiga hal untuk meningkatkan hasil-hasil pembangunan, yaitu “empowerment, social capital, and community driven development (CDD)”. Ketiga konsep ini menekankan kepada inklusifitas, partisipasi, organisasi, dan kelembagaan. Empowerment merupakan hasil dari aktifitas pembangunan, social capital dapat diposisikan sekaligus sebagai proses dan hasil, sedangkan CDD berperan sebagai alat operasional (World bank, 2005).

Mondang (2013) mengemukakan harus disadari bahwa kehidupan bangsa ini saling ketergantungan satu sama lainnya dalam hal menciptakan kesejahteraan yang

(50)

menyeluruh. Untuk menyikapi hal tesebut diharapkan keterlibatan dari semua aspek yang bersifat positif serta mendukung terciptanya kesejahteraan yang menyeluruh yang salah satunya dalam bidang pembangunan. Perhatian pembangunan perlu diarahkan kepada pembangunan perdesaan dengan segala aspeknya, karena titik tumpu pembangunan masyarakat Indonesia berada di pedesaan. Tetapi semuanya berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada saat ini. Keadaan yang demikian ini diperkuat oleh adanya kenyataan bahwa masyarakat perdesaan masih diliputi dengan masalah kemiskinan, keterbelakangan dan berbagai kerawanan sosial lainnya. Perlu usaha yang terencana untuk membangun prasarana perhubungan desa, produksi, pemasaran dan prasarana desa untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.

Penguatan kelembagaan pembangunan masyarakat dilaksanakan dengan menggunakan model pembangunan partisipatif yang bertujuan untuk mengembangkan kapasitas masyarakat dan kemampuan aparat birokrasi dalam menjalankan fungsi lembaga pemerintahan yang berorientasi pada kepentingan rakyat. Dengan masyarakat sebagai pelaku utama dalam program ini, berarti partisipasi masyarakat mempunyai peranan penting dalam pelaksanaan dan keberlanjutan program (Andriyani, et al, 2011).

2.6. Pemberdayaan Sumber Daya Perempuan

Pemberdayaan dari asal kata “daya”. Daya artinya “kekuatan”. Jadi pemberdayaan adalah “penguatan”, yaitu penguatan yang lemah. Pemberdayaan

(51)

masyarakat menurut versi Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa adalah : a) penguatan masyarakat yang lemah, dan b) pengembangan aspek pengetahuan, sikap mental dan ketrampilan masyarakat melalui pemberdayaan, bagaimana masyarakat secara bertahap dapat bergerak dari kondisi tidak tahu, tidak mau dan tidak mampu menjadi tahu, mau dan mampu.

Menurut Pranarka (2006) pemberdayaan dapat diartikan sebagai upaya untuk mengubah keadaan seseorang atau kelompok agar yang bersangkutan menjadi lebih berdaya. Pemberdayaan mendorong terjadinya suatu proses perubahan sosial yang memungkinkan orang-orang pinggiran yang tidak berdaya untuk memberikan pengaruh yang lebih besar di arena politik secara lokal maupun nasional.

Kartasasmita (2000) mendefinisikan pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat kita yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dengan kata lain, memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat adalah sebuah konsep pembangunan ekonomi yang merangkum nilai-nilai sosial. Konsep ini mencerminkan paradigma baru pembangunan, yakni yang bersifat "people-centered, participatory, empowering, and sustainable" (Chambers dalam Kartasasmita, 2001). Konsep ini lebih luas dari hanya semata-mata memenuhi kebutuhan dasar (basic needs) atau menyediakan mekanisme untuk mencegah proses pemiskinan lebih lanjut (safety net), yang pemikirannya

Referensi

Dokumen terkait

APBDesa Firdaus tertuang dalam Peraturan Desa tentang Anggaran pendapatan dan Belanja Desa Firdaus dimana APBDesa memperoleh pendapatan dari Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah,

Evaluasi yang digunakan yaitu evaluasi unjuk kerja (2) dampak positif penyelenggaraan program pemberdayaan perempuan melalui pengelolaan sampah plastik di Desa Sidorejo

Manfaat Program Pemberdayaan Kelembagaan Kelompok Tani dalam Penguatan Aksesibilitas Petani (Studi kasus di Kelompok Tani Bina Harapan Desa Karamatwangi Kecamatan

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelaksanaan program simpan pinjam perempuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan di kecamatan

Lampiran II Metode Penilaian Ffektivitas Pelaksanaan Program Simpan Pinjam Perempuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan di Kecamatan Bangun

Pelaksanaan Kegiatan Simpan Pinjam Perempuan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Pedesaan Di Desa Longkotan Kecamatan Silima Pungga-Pungga Kabupaten Dairi”.

APBDesa Firdaus tertuang dalam Peraturan Desa tentang Anggaran pendapatan dan Belanja Desa Firdaus dimana APBDesa memperoleh pendapatan dari Bagi Hasil Pajak dan Retribusi Daerah,

Pada pelaksanaannya Pusat Pengaduan Kekerasan dan Layanan Penguatan Keluarga ini melibatkan multi stakeholder yaitu Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan 2019 •Awareness