• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Uji Rasa Pahit Terhadap Perokok dan Non Perokok

Dalam dokumen Perbedaan Sensitivitas Indera Pengecap R (Halaman 38-45)

HASIL PENELITIAN

B. Hasil Uji Rasa Pahit Terhadap Perokok dan Non Perokok

Selain pengujian pengecap rasa manis pengecap rasa pahit juga akan diuji baik pada kelompok perokok maupun non perokok. Hasil pengujian perbedaan rasa pahit menggunakan uji Mann-Whitney dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut.

Tabel 4.2 Hasil uji Mann-Whitney test pada indikator rasa pahit

Kelompok N Mean Sig.

Rasa Pahit

Perokok 15 8,67

0,000 Non Perokok 15 22,33

Total 30

Berdasarkan Tabel 4.2 menunjukkan hasil bahwa rerata peringkat pengecap rasa pahit sampel perokok adalah 8,67, lebih tinggi dari non perokok yaitu 22,33. Peringkat yang lebih tinggi mengindikasikan bahwa pengecap rasa pahit yang dimiliki rendah pada kelompok perokok dibandingkan dengan non perokok. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,00 < 0,05, artinya terdapat perbedaan yang signifikasi pengecap rasa pahit antara kelompok perokok dan non perokok pada mahasiswa di kampus Universitas Mahasaraswati Denpasar.

BAB V PEMBAHASAN

Pengecap rasa pada lidah disebut dengan taste buds, taste buds mengandung pori-pori atau dikenal sebagai taste pore yang mengandung mikrovili dan membawa sel gustatory yang akan distimuli oleh berbagai cairan kimiawi. Taste buds mengandung reseptor rasa yaitu asam, asin, manis, pahit, dan umami. Sensitivitas indera pengecap dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah usia, suhu makanan, penyakit, oral hygiene, dan kebiasaan merokok yang paling berpotensi menyebabkan sensitivitas indera pengecap ini menurun.

Indra pengecap mulai berkurang saat manusia mencapai umur 50 tahun. Perubahan kecil terjadi di 20 tahun pertama dalam hidup. Saat mencapai umur 30 tahun, manusia memiliki 245 taste buds pada tiap papilla di lidah. Pada umur 70 tahun, jumlah taste buds di setiap papilla berkurang hingga 88 saja dimana rasa manis dan asin lebih dulu terasa efeknya.

Beberapa literatur menyebutkan bahwa pengaruh merokok pada mukosa mulut bervariasi, tergantung pada umur, jenis kelamin, etnis, gaya hidup, diet, genetis, jenis, dan cara merokok, serta lamanya merokok. Perubahan tersebut akibat iritan, toksin dan karsinogen. Selain itu, dapat juga berasal dari efek mukosa yang kering, tingginya temperatur dalam mulut, atau resistensi terhadap infeksi jamur dan virus yang berubah.

Adapun berbagai komplikasi rokok dalam tubuh penggunaanya seperti perubahan secara estetik, kerusakan pada implan gigi, timbulnya penyakit jantung, dapat menimbulkan kanker mulut, dan berbagai macam penyakit mulut lainnya,

termasuk perubahan pada struktur anatomis dan fisiologis dari lidah. Merokok akan mengurangi sensasi dari rasa dan bau. Pada perokok berat sering ditemukan papila filifornis yang memanjang di bagai dorsal dari lidah, hal ini terjadi karena asap dari rokok tersebut mencegah sel epitel untuk bergerak secara normal dan akan berakumulasi menjadi permukaan yang putih dan sangat tebal. Secara mikrokopis papila filifornis akan berbentuk ireguler dan mengalami hiperplasi, dan menujukan hiperortokeratosis atau hiperparakeratois dengan banyak bakteri dan organisme pada lapisan permukaan serta pada bagian dalam epitalium dan akan memanjang seperti rambut pada ujung papila. Hal ini dapat menjadi tempat pertumbuhan dari bakteri yang secara perlahan akan menghasilkan sensasi terbakar pada lidah dan menimbulkan berkurang nya sensitivitas indera pengecap.

Merokok juga dapat menyebabkan kelainan-kelainan rongga mulut misalnya pada gusi, mukosa mulut, gigi, langit-langit yang berupa stomatitis nikotina dan infeksi jamur serta pada lidah yang berupa terjadinya perubahan sensitivitas indera pengecap. Untuk mengetahui adanya perbedaan sensitivitas indera pengecap rasa manis dan rasa pahit pada perokok dan non perokok, pada penelitian ini dilakukan dengan cara meletakkan taste strips rasa manis dan rasa pahit di 2 reseptor rasa pada lidah yakni reseptor rasa manis, dan rasa pahit dengan konsentrasi larutan rasa manis (Sukrosa) dan rasa pahit (Quinine hidrochloride).

Hasil analisis data menunjukkan bahwa rerata peringkat pengecap rasa manis sampel perokok lebih tinggi dari non perokok, peringkat yang lebih tinggi mengindikasikan bahwa pengecap rasa manis yang dimiliki rendah pada kelompok perokok dibandingkan dengan non perokok, karena perokok lebih

sukar merasakan rasa manis dan rasa pahit akibat terpapar panasnya asap rokok yang masuk ke rongga mulut yang terus menerus sehingga menyebabkan penebalan jaringan mukosa mulut. Hasil ini sesuai dengan yang diungkapkan Mulyawati (2004) dimana perokok sukar merasakan rasa manis dan pahit akibat rusaknya ujung saraf sensoris dan taste buds pada lidah akibat panas yang dihasilkan asap rokok, bahwa pada saat rokok dihisap, nikotin yang terkondensasi dalam asap rokok masuk ke dalam rongga mulut. Iritasi yang terus menerus dari hasil pembakaran tembakau menyebabkan penebalan jaringan mukosa mulut. Hal ini menyebabkan nikotin lebih mudah terdeposit menutupi taste bud dan membran reseptor rasa pengecap di sekitar taste pore. Menempelnya nikotin pada membran reseptor rasa pengecap di sekitar taste pore akan menghalangi interaksi zat-zat makanan ke dalam reseptor pengecap sehingga akan mengurangi sensitivitas pengecapan rasa.

Penurunan sensitivitas indera pengecap khususnya rasa manis ini jika berlangsung dalam waktu yang lama, maka perokok cenderung akan meningkatkan konsumsi gulanya dibanding dengan non perokok. Konsumsi gula yang meningkat ini tanpa disertai dengan aktivitas tubuh yang dominan maka kemungkinan insulin yang dihasilkan akan mengendap dalam darah perokok sehingga perokok rentan terkena diabetes (Sukarno AD 2009).

Pada penelitian ini juga dilakukan terhadap pengecap rasa pahit, dengan hasil menunjukkan bahwa rerata peringkat pengecap rasa pahit sampel perokok lebih tinggi dari non perokok, peringkat yang lebih tinggi mengindikasikan bahwa indera pengecap rasa pahit terhadap larutan quinine hidrochloride lebih rendah pada kelompok perokok dibandingkan dengan non perokok. Hasil ini sesuai

dengan penelitian yang dilakukan oleh Sukarno AD (2009) yang menyatakan kelompok perokok memiliki kepekaan indera pengecap rasa pahit terhadap larutan quinine hidrochloride yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok non perokok. Selain itu, taste buds yang tersebar di seluruh permukaan lidah mengakibatkan rasa pahit dapat dirasakan tidak hanya di reseptor rasa pahit, tetapi juga di reseptor rasa asin.

Merokok dapat menimbulkan berbagai komplikasi dalam tubuh penggunaanya. Hal ini dapat meliputi perubahan secara estetik, kerusakan pada implan gigi, timbulnya penyakit jantung, dapat menimbulkan kanker mulut, dan berbagai macam penyakit mulut lainnya, termaksud perubahan pada struktur anatomis dan fisiologis dari lidah. Pengaruh Merokok terhadap lidah secara anatomi yang dapat meningkatkan ambang sensasi dari rasa dan bau. Jadi dapat menurunkan kemampuan untuk medeteksi berbagai rasa dan bau. Pada perokok berat sering ditemukan papila filifornis yang memanjang di bagai dorsal dari lidah. Hal ini terjadi karena asap dari rokok tersebut mencegah sel epitel untuk bergerak secara normal dan akan berakumulasi menjadi permukaan yang putih dan sangat tebal. Secara mrikospis papila filifornis akan berbentuk ireguler dan mengalami hiperplasi, dan menujukan hiperortokeratosis atau hiperparakeratois dengan banyak bakteri dan organisme pada lapisan permukaan serta pada bagian dalam epitalium. Dan akan memanjang seperti rambut pada ujung papila. Hal ini dapat menjadi tempat pertumbuhan dari bakteri yang secara perlahan akan menghasilkan sensasi terbakar pada lidah dan menimbulkan berkurangnya sensitivitas indera pengecap.

Berdasarkan pembahasan di atas, menunjukkan bahwa terdapat perbedaan sensitivitas indera pengecap rasa manis dan rasa pahit pada kelompok perokok dan kelompok non perokok pada mahasiswa di kampus Universitas Mahasaraswati Denpasar.

BAB VI PENUTUP

A. Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sensitivitas indra pengecap terhadap rasa manis dan pahit pada perokok lebih rendah dibandingkan dengan non perokok.

B. Saran

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut :

1. Merokok dapat menyebabkan penurunan sensitivitas taste buds sehingga diharapkan untuk tidak merokok karena selain penerunan sensitivitas pada taste buds, rokok juga berbahaya bagi kesehatan dalam jangka panjang.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh merokok pada perubahan taste buds dengan reseptor rasa asin dan umami, serta dengan membandingkan beberapa jenis konsentrasi larutan sukrosa dan quinine.

Dalam dokumen Perbedaan Sensitivitas Indera Pengecap R (Halaman 38-45)

Dokumen terkait