Perbedaan Sensitivitas Indera Pengecap Rasa Manis dan Rasa Pahit pada Perokok dan Non Perokok
M.Dhio Fandra NPM : 10.8.03.81.41.1.5.074
F A K U L T A S K E D O K T E R A N G I G I UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR
KATA PENGANTAR
Puji beserta Syukur penulis panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan segala Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Perbedaan Sensitivitas Indera Pengecap Rasa Manis Dan Rasa Pahit Pada Perokok Dan Non Perokok” ini tepat pada
waktunya.
Penulisan skripsi ini merupakan salah satu persyaratan penulis untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Gigi (SKG) di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar. Skripsi ini juga merupakan kesempatan berharga untuk dapat menghasilkan sebuah karya ilmiah yang diharapkan penulis sehingga bermanfaat di bidang kedokteran gigi.
Keberhasilan penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan yang begitu besar dari banyak pihak. Untuk itu penulis menyampaikan rasa terima kasih yang tulus kepada :
1. Yth. drg. P.A Mahendri Kusumawati, M. Kes., FISID selaku Dekan Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Mahasaraswati Denpasar.
2. drg.Tri Purnami Dewi R , M.kes., drg. Ni Putu Widani Astuti, M.kes, dan drg. Ni Luh Putu Sri Maryuni A, M.Biomed selaku dosen pembimbing I, pembimbing II dan dosen penguji atas segala upaya dan bantuan Beliau dalam mengarahkan, membimbing dan memberi petunjuk kepada penulis sehingga skripsi dapat terselesaikan dengan baik.
Kemudian tidak lupa pula ucapan terima kasih kepada kedua orangtuaku tercinta, Ayahanda Erifan Dachban Uyub dan Ibunda Ratna Wilis yang selalu menginspirasi penulis, mendo’akan, memberikan semangat dan dukungan baik moril maupun materil. Saudaraku tersayang Muhammad Ervin Febrian dan Muhammad Haikal Novandika yang selalu menjadi penghibur disaat penulis mengerjakan skripsi ini. Pacarku tersayang Cynthia Devi Sugianto yang selalu memberikan dukungan dan perhatian sehingga penulis dapat menyeselesaikan skripsi ini. Teman teman tercinta Ary Dharma, Dwi Suspriawan, Praminingrat, Anang Prayitna, Krisna Agus, Nanda Pradana, Andy Kumbara Thomas, Messy, Dani, dan Lany yang membantu penulis dalam melakukan penelitian dan selalu memberikan dukungan serta semangat dalam menulis skripsi ini, Dan yang terakhir penulis ucapkan terima kasih kepada seluruh sampel yang telah bersedia menjadi responden, sehingga penelitian ini dapat berjalan lancer.
Penulis menyadari terdapat kekurangan dan keterbatasan skripsi ini, untuk itu penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan skripsi ini.
Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak, khususnya bagi mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi.
Denpasar, 12 Juli 2014
Perbedaan Sensitivitas Rasa Manis dan Rasa Pahit usia, penurunan indera perasa juga dapat disebabkan oleh kebiasaan buruk seperti merokok karena rongga mulut merupakan daerah yang paling mudah terpapar efek merugikan akibat merokok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan sensitivitas indera pengecap antara perokok dan non perokok di reseptor rasa manis dan rasa pahit. Pada penelitian ini menggunakan sampel sebanyak 30 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 15 orang perokok dan 15 orang non perokok. Taste strip diletakan pada bagian reseptor rasa manis dan reseptor rasa pahit dengan konsentrasi larutan rasa manis (sukrosa) 68%, sedangkan konsentrasi larutan pada rasa pahit (quinine hidrochloride) 50%. Hasil uji Maan-Whitney test pada indikator rasa manis menunjukkan Nilai Sig. yang yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sensitivitas indera pengecap rasa manis dan rasa pahit pada kelompok sampel perokok lebih rendah dibandingkan dengan kelompok sampel non perokok.
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul……… ... i
Halaman Persetujuan Pembimbing……. ... ii
Halaman Persetujuan Penguji dan Pengesahan Dekan. ... iii
KATA PENGANTAR……… ... iv
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 4
A Lidah ... 4
1 Anatomi Lidah ... 4
2 Taste Buds ... 5
3 Vaskularisasi dan Pensarafan pada Lidah ... 7
4 Fisiologi Lidah ... 8
5 Jenis-jenis Lidah ...10
6 Faktor yang Memperngaruhi Sensitivitas Indera Pengecap ... 13
B Rokok ... 14
1 Sejarah Rokok... 14
2 Jenis Rokok... 16
3 Kandungan Rokok ... . 17
4 Mekanisme Perubahan Daya Sensitivitas Indera Pengecap Akibat Rokok... 20
BAB III METODE PENELITIAN... 21
A Rancangan Penelitian ... 21
B Indikasi Variabel ... 21
C Waktu dan Tempat Penelitian ... 21
D Populasi dan Sampel Penelitian ... 22
F Definisi Operasional ... 23
G Bahan dan Alat Penelitian ... 24
H Pengolahan dan Analisis Data ... 24
I Jalannya Penelitian ... 26
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 27
A Hasil Uji Rasa Manis Terhadap Perokok dan Non Perokok ... 27
B Hasil Uji Rasa Pahit Terhadap Perokok dan Non Perokok ... 28
BAB V PEMBAHASAN ... 29
BAB VI KESIMPULAN ... 34
A Simpulan ... 34
B Saran ... 34
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Otot ekstrinsik dan intrinsik lidah...5
Gambar 2.2 Taste buds pada lidah ... …………..7
Gambar 2.3 Letak reseptor rasa pada lidah...10
Gambar 2.4 Letak papila pada lidah manusia………...13
BAB 1 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Lidah adalah salah satu dari panca indera yang berfungsi sebagai alat pengecap (Mark H. Swartz 1995, Anis 2009, Don W 2002). Pengecap rasa pada lidah disebut dengan taste buds. Taste buds mengandung pori-pori atau dikenal sebagai taste pore yang mengandung mikrovili dan membawa sel gustatoris yang akan distimuli oleh berbagai cairan kimiawi. Mikrovili merupakan reseptor permukaan bagi rasa. Serabut nervus sensorik dari taste buds pada bagian anterior lidah menghantarkan impuls ke batang otak melalui chorda tympani (cabang dari nervus facialis). Bagian posterior lidah menghantar impuls ke batang otak melalui nervus glossopharyng sedangkan taste buds pada pharynx dan epiglottis diinervasi oleh nervus vagus untuk menginterpretasikan rasa (Marya 2002). Taste buds mengandung beberapa reseptor rasa yaitu rasa asam, asin, manis, pahit dan umami. Rasa asam sering digunakan untuk mendeteksi keasaman, rasa asin dapat memodulasi diet untuk kestabilan elektrolit tubuh, rasa manis penting untuk menambah energi tubuh, rasa pahit dapat mendeteksi berbagai toksin dan rasa umami digunakan untuk mendeteksi asam amino (Anis 2009).
2009). Selain karena usia, penurunan indera pengecap juga dapat disebabkan oleh kebiasaan buruk seperti merokok karena rongga mulut merupakan daerah yang paling mudah terpapar efek merugikan akibat merokok (Tjandra 2003).
Efek penurunan sensitivitas pada taste buds dapat dirasakan terutama pada pengecap rasa manis dan pahit. Dalam beberapa penelitian, para peneliti menggunakan stimulasi elektrik untuk menguji ambang rasa pada 62 peserta dari Greece. Memberikan arus listrik pada lidah akan menghasilkan rasa metalik yang unik, lalu mengukur jumlah arus listrik yang diperlukan bagi peserta untuk mendapatkan rasa unik ini, jumlah ini yang digunakan para peneliti untuk menginterpretasikan sensitivitas dari rasa. Pada penelitian ini sebanyak 28 perokok mendapatkan skor yang terburuk, dibandingkan dengan 34 jumlah peserta non perokok. Para peneliti lalu menggunakan endoskopi untuk mengukur jumlah dan bentuk dari satu tipe taste bud yaitu fungiform papillae. Mereka menemukan bahwa perokok memiliki fungiform papillae yang lebih datar dengan suplai darah yang cenderung menurun (Greece 2007).
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian untuk mengetahui perbedaan sensitivitas indera pengecap antara perokok dan non perokok di reseptor rasa manis dan rasa pahit.
D. Manfaat Penelitian
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Lidah
1. Anatomi Lidah
Lidah adalah salah satu dari panca indera yang befungsi sebagai alat pengecap. Lidah terletak didasar mulut dan melekat pada tulang hioid. Lidah berwarna merah dan permukaannnya tidak rata. Korpus lidah mengandung otot intrinsik dan ekstrinsik dan merupakan otot terkuat didalam tubuh (Mark H. Swartz 1995, Irianto 2012, Greenberg MS 1992). Otot intrinsik berfungsi untuk melakukan semua gerakan lidah, otot ekstrinsik berfungsi mengaitkan lidah pada bagian-bagian sekitarnya serta membantu melakukan gerakan menekan makanan pada langit-langit dan gigi, kemudian mendorongnya masuk ke faring (Sufitni 2008, Mark H. Swartz 1995).
Pada permukaan atas atau dorsal lidah terdapat alur berbentuk “V” yaitu sulkus terminalis, ujung “V”nya mengarah ke posterior. Sulkus ini
sedangkan asini campur terletak di ujung lidah, dengan salurannya bermuara pada permukaan bawah lidah (C.Roland 1996, Don W 2002).
Membran mukosa pada permukaan bawah lidah sifatnya licin dan di bawahnya terdapat tunika submukosa. Pada permukaan atas terlihat banyak tonjolan-tonjolan kecil disebut papila lidah (C.Roland 1996). Tonjolan-tonjolan kecil pada permukaan lidah (papilla) terdapat sel-sel reseptor (tunas pengecap). Terdapat lebih dari 10.000 tunas pengecap pada lidah manusia, sel-sel ini tumbuh seminggu setelah itu digantikan oleh sel-sel-sel-sel yang baru. Sel-sel-sel inilah yang bisa membedakan rasa manis asam, pahit, dan asin (Evelyn 2009).
Gambar 2.1 Otot Ekstrinsik dan Intrinsik Lidah (Sufitni 2008)
2. Taste buds
umami. Seluruh rasa ini dapat dirasakan oleh seluruh permukaan lidah, tetapi satu jenis rasa akan lebih sensitif pada daerah tertentu (Jacewicz 2008).
Gambar 2.2 Taste buds pada lidah (Hermanto 2012)
3. Vaskularisasi dan saraf pada lidah
nervus fasialis (N.VII), yang menyertai nervus lingualis. Taste buds pada papilla sirkumvalata dan bagian faringeal lidah disarafi cabang lingual dari nervus glossopharingeus (N.XI). Taste buds pada epiglottis dan bagian paling posterior lidah disarafi oleh cabang laringeal superior dari nervus vagus (N.X) (Don W 2002, Evelyn 2009).
4. Fisiologi Lidah
Terdapat 4 tipe rasa dasar pada lidah yaitu asam, asin, manis, dan pahit. Seluruh rasa ini dapat dirasakan oleh seluruh permukaan lidah. Rasa manis dan rasa asin dirasakan pada ujung lidah, asam pada samping lidah dan pahit pada daerah sekitar papilla sirkumvalata. Keempat rasa ini dikenal dengan istilah sensasi rasa primer (Don W 2002). Selain itu, ada rasa kelima yang telah teridentifikasi yakni umami yang dominan ditemukan pada glutamat (Marya 2002).
a. Rasa Manis
anorganik yang menimbulkan rasa manis merupakan garam-garam tertentu dari timah hitam dan berillium (Guyton 2009).
b. Rasa Asam
Ion hidrogen dalam larutan dapat menyebabkan sensasi rasa asam. Ion ini bereaksi terhadap sel rasa dalam tiga cara yaitu, dapat masuk ke dalam sel secara langsung, memblokir kanal ion kalium pada mikrovili, dan mengikat kanal bukaan di mikrovili, sehingga ion-ion positif dapat masuk dalam sel rasa. Muatan positif ini akan berakumulasi dan mendorong terjadinya depolarisasi yang dapat melepaskan neurotransmiter dan menyalurkan sinyal ke otak (Irianto 2012).
c. Rasa Asin
Garam dapur atau Natrium Klorida (NaCl) adalah satu contoh dari garam yang dapat menimbulkan sensasi rasa asin. Ion natrium masuk melalui kanal ion pada mikrovili bagian apikal, atau lewat kanal pada basolateral (sisi) sel rasa, hal inilah yang akan membangunkan sel rasa tersebut (Irianto 2012). Kualitas rasa asin sedikit berbeda dari satu garam dengan garam lainnya karena beberapa jenis garam juga mengeluarkan rasa lain di samping rasa asin (Guyton 2009).
d. Rasa Pahit
melalui G-protein bersama reseptor dan second messenger. Namun, hanya second messenger yang mampu mendorong pelepasan ion kalsium dari retikulum endoplasma. Depolarisasi pun terjadi akibat terakumulasinya ion kalsium, dan terjadi juga pelepasan neurotransmiter (Guyton 2009). e. Rasa Umami
Umami berasal dari bahasa Jepang yang berarti “Meaty” atau “Savory” (enak, sedap, lezat). Rasa umani ditimbulkan oleh glutamat,
yaitu asam amino yang banyak terdapat pada protein daging dan ikan. Zat ini bereaksi melalui G-protein bersama reseptor atau second messenger. Namun, belum diketahui tahapan antara second messenger dan pelepasan neurotransmiter (Irianto 2012).
5. Jenis – Jenis Papilla
Terdapat 4 jenis papilla pada manusia,yaitu:
a. Papilla filiformis terdapat di atas seluruh permukaan lidah, umumnya tersusun dalam barisan barisan sejajar dengan sulkus terminalis (Jacob 2010). Papilla filiformis bentuknya kurang lebih seperti kerucut, langsing dan tingginya 2-3 mm. Bagian tengahnya terdiri atas jaringan ikat lamina propria. Jaringan ikat ini juga membentuk papila sekunder. Epitel yang meliputi papila sebagian mengalami pertandukan yang cukup keras sifat nya (C.Roland 1996).
c. Papilla sirkumvalata (vallum = dinding) pada manusia jumlahnya hanya 10 sampai 14, dan letaknya di sepajang sulkus terminalis. Papilla ini sensitif terhadap rasa asam dan pahit di 1/3 posterior lidah yang diinervasi oleh nervus glossopharyngeal (IX) (Jacob 2010). Tiap papilla menonjol sedikit di atas permukaan dan dibatasi oleh suatu parit melingkar banyak taste buds pada epitel dinding lateralnya. Saluran keluar kelenjar serosa (kelejar ebner) bermuara pada dasar alur itu. Kelenjarnya sendiri terletak pada lapisan yang lebih dalam. Sekret serosa cair kelenjar tersebur membersihkan parit dari sisa bahan makanan, sehingga memungkinkan penerimaan rangsang kecap baru oleh taste buds (C.Roland 1996).
Gambar 2.4 Letak papila pada lidah manusia (Jacob 2010). 6. Faktor yang Mempengaruhi Sensitivitas Indera Pengecap
Faktor faktor yang mempengaruhi penurunan sensitivitas pengecap antara lain:
a. Usia
Usia mempengaruhi sensitivitas reseptor perasa (Evelyn 2001). Penurunan sensitivitas indera pengecap merupakan masalah psikologis yang biasa terjadi pada orang dengan usia tua. Seiring bertambahnya usia terjadi penurunan jumlah papilla sirkumvalata dan penurunan fungsi transmisi pada taste buds (Guyton 2001).
b. Suhu makanan
sel. Keadaan tersebut cenderung berlangsung cepat karena sel yang rusak tersebut diperbaiki (G.Rensburg 2005).
c. Penyakit
Perawatan dan terapi pada penyakit kronis memerlukan waktu yang cukup lama. Obat-obatan tersebut memiliki efek samping dapat menyebabkan penurunan senisitivitas indera pengecap (Evelyn 2001). Efek samping obat tersebut dapat mempengaruhi penurunan sensitivitas indera pengecap, seperti amphetamin dapat menurunkan sensitivitas rasa asin dan manis, anestesia seperti lidokain dapat menyebabkan berkurangnya sensitivitas rasa asin dan manis, begitu juga penggunaan insulin untuk penderita diabetes yang berkepanjangan (Guyton 2001). d. Obat-obatan
Pada penyakit kencing manis dan ginjal serta radiasi dapat pula menyebabkan xerostomia. Xerostomia adalah keadaan dimana mulut kering akibat produksi kelenjar saliva berkurang (Guyton 2001). Keadaan tersebut dapat disebabkan oleh ganggguan pada pusat saliva atau saraf pembawa rangsang . Dengan berkurangnya produksi saliva makan sel-sel pengecap mengalami kesulitan dalam menerima rangsang (Pearce 2008). B. Rokok
1. Sejarah Rokok
membakarnya sebagai rokok (Girianto 1990). Daun tembakau dipopulerkan di Eropa pada abad ke-16. Bangsa Spanyol membawa dan memperkenalkannya ke dalam dunia barat. Jean Nicot, seorang duta Perancis di Lissabon menyatakan bahwa tembakau mengandung zat yang berkhasiat untuk penyembuhan dan beliau yang pertama mengirimkan bibit tembakau untuk ditanam di tanah airnya. Dari nama beliau inilah kata Nikotin
Kata “rokok” memang sudah tidak asing lagi didengar, kita mengenal
Diseluruh dunia, kebiasaan merokok menyebabkan kematian pada 2,5 juta orang pertahun, artinya satu kematian setiap 13 detik. Rokok merupakan penyebab dari 50% kebakaran yang terjadi, dan proses pengolahan rokok mengakibatkan penebangan pohon di hutan agar kayunya dapat dipakai untuk memproses tembakau (Tendra 2010). Di India dan beberapa negara Amerika Selatan, masyarakatnya mempunyai kebiasaan yang disebut dengan merokok terbalik, yang mana ujung sigaret yang menyala berada di rongga mulut. Resiko terjadinya kanker mulut pada masyarakat ini sangat tinggi sebab intensitas panas dari asap tembakau di daerah palatum dan lingual sangat tinggi (Syafriadi 2008).
Pengaruh merokok pada mukosa mulut bervariasi, tergantung pada umur, jenis kelamin, etnis, gaya hidup, diet, genetis, jenis, dan cara merokok, serta lamanya merokok. Perubahan tersebut akibat iritan, toksin dan karsinogen. Selain itu, dapat juga berasal dari efek mukosa yang kering, tingginya temperatur dalam mulut, atau resistensi terhadap infeksi jamur dan virus yang berubah (Dewi 2005). Merokok dapat menyebabkan kelainan-kelainan rongga mulut misalnya pada gusi, mukosa mulut, gigi, langit-langit yang berupa stomatitis nikotina dan infeksi jamur serta pada lidah yang berupa terjadinya perubahan sensitivitas indera pengecap (Revianti 2007).
2. Jenis Rokok
memilih rokok kretek dibandingkan rokok putih. Rokok kretek ialah rokok dengan atau tanpa filter yang menggunakan tembakau rajangan dengan cengkeh rajangan digulung dengan kertas cigarette boleh memakai bahan tambahan asalkan diizinkan pemerintah (Soetiarto 1994).
Banyak masyarakat Indonesia yang mengkonsumsi rokok lebih dari dua bentuk rokok di atas, mereka mengkombinasikan pemakaian rokok tersebut dan jenis rokok yang dikonsumsi masyarakat 80 sampai 95% adalah rokok kretek (Soetiarto 1994). Pada rokok putih dikenal dua macam filter yaitu filter yang berventilasi dan filter yang tidak berventilasi. Filter yang berventilasi adalah filter yang berpori-pori sehingga pada saat perokok menghisap rokoknya, sebagian udara bebas ikut terisap. Filter berguna untuk mengurangi bahan-bahan kandungan rokok yang menganggu kesehatan manusia (Girianto 1990).
3. Kandungan Rokok
Rokok pada dasarnya merupakan pabrik bahan kimia. Sekali satu batang akan mengeluarkan sekitar 4000 bahan kimia seperti nikotin, gas karbon monooksida, nitrogen oksida, hydrogen cyanide, ammonia, acrolein,
acetilen, benzaldehyde, urethane, benzene, methanol, coumarin,
a. Tar
Tar adalah kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat asap rokok dan bersifat karsinogen. Pada saat rokok dihisap, tar masuk ke dalam rongga mulut sebagai uap padat. Setelah dingin akan menjadi padat dan membentuk endapan berwarna coklat pada permukaan gigi, saluran pernafasan dan paru-paru. Pengendapan ini bervariasi antara 3mg sampai 40mg per batang rokok, sementara kadar tar dalam rokok berkisar 24mg sampai 45mg (Anonymus 2010). Subtansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru paru, yang dapat menyebabkan kanker paru (Tendra 2010).
b. Nikotin
Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi saraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen dan dapat memicu kanker paru. Selain itu nikotin juga dikenal mempunyai efek adiksi, artinya dapat menyebabkan ketergantungan dan sifat adiksi inilah yang biasanya dapat mendorong seseorang untuk mengkonsumsi rokok secara berlebihan (Tjandra 2003). Nikotin berubah warna menjadi coklat dan berbau mirip tembakau setelah bersentuhan dengan udara, kadar nikotin dalam tembakau berkisar 12%. Kadar nikotin 4mg sampai 6 mg yang dihisap oleh orang dewasa setiap hari dapat membuat seseorang ketagihan (Anonymus 2010).
c. Karbon Monoksida
terdapat dalam darah, sehingga membuat darah tidak mampu mengikat oksigen (Mathub 1992). Kadar gas karbon monoksida dalam darah orang yang tidak merokok kurang dari 1% sementara dalam darah perokok mencapai 4% sampai 15% (Anonymus 2010).
d. Timah hitam
Timah hitam yang dihasilkan sebatang rokok sebanyak 0,5μg.
Sebungkus rokok (isi 20 batang) yang habis diisap dalam 1 hari menghasilkan 10μg (Anonymus 2010). Batas ambang zat ini di dalam tubuh
adalah 20mg per hari. Jadi, zat ini akan sangat berbahaya jika konsumsi rokok melebihi batas ambang yang dapat diterima oleh tubuh (PDGI 2007).
C. Mekanisme Perubahan Daya Sensitivitas Indera Pengecap Akibat Rokok Manusia pada umumnya memiliki sekitar 10.000 taste buds. Secara
fisiologis sensitivitas indera pengecap pada manusia akan mengalami penurunan. Penurunan sensitivitas ini terjadi bersamaan dengan penurunan vaskularisasi yang
disebabkan secara umum oleh faktor usia (Guyton 2001). Biasanya penurunuan sensitivitas ini terjadi pada usia 50 tahun keatas. Hal yang sama dapat kita lihat
pada penyepitan ruang pulpa yang dikarenakan oleh penurunan daya vaskularisasi dan pensarafan seiring bertambahnya usia. Secara patologis penurunan sensitivitas indera pengecap dapat terjadi lebih awal, misalkan pada perokok. Menurut studi
dari Direktorat Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan RI 2004 pada perokok, sensasi rasa manis, asam, asin, dan pahit lebih sukar didapat karena adanya
kerusakan pada ujung saraf sensorik dan pada taste buds akibat dari panas yang berasal dari asap rokok (Depkes RI 2004).
Menurut intensitasnya, perokok dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu perokok ringan, perokok sedang, dan perokok berat. Perokok ringan adalah
golongan perokok yang mengkonsumsi 1 sampai 10 batang rokok perhari, perokok sedang adalah golongan perokok yang mengkonsumsi 10 sampai 20
batang rokok perhari, sedangkan perokok berat adalah golongan perokok yang mengkonsumsi rokok sebanyak lebih dari 20 batang rokok perhari. Pada perokok
berat, merokok dapat lebih cepat menyebabkan terjadinya kerusakan pada taste buds yang mengarah pada penurunan sensitivitas indera pengecap. Hal ini
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah non experimental dengan rancangan penelitian yang digunakan dengan epidemiologi analytic yaitu penelitian non eksperimental dalam rangka mempelajari korelasi antara faktor risiko merokok dengan efek yaitu penurunan sensitivitas indera pengecap.
B. Indikasi Variabel
1. Variabel Pengaruh : kebiasaan merokok sedikitnya 1- 10 batang per hari selama 1 tahun pada umur 20-30 tahun.
2. Variabel Terpengaruh : Sensitivitas indera pengecap terhadap rasa manis dan rasa pahit pada Perokok dan Non Perokok.
C. Waktu dan Tempat Penelitian 1. Waktu
Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan pada tanggal 25 – 26 Februari 2014.
2. Tempat Penelitian
D. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi : Populasi yang akan digunakan pada penelitian ini adalah orang yang perokok dan non perokok di Kampus Universitas Mahasaraswati.
2. Sampel : Sampel yang akan digunakan pada penilitian ini adalah orang yang perokok dan non perokok di Kampus Universitas Mahasaraswati yang memenuhi kriteria sampel dan bersedia menjadi objek penelitian. Jumlah sampel adalah 40 orang Besarnya sampel dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus Nursama (2008) sebagai berikut.
p : perkiraan proporsi, jika tidak diketahui dianggap 50% q : 1-p (100%-p)
z : nilai standar normal = 0,05 (1,96)
Berdasarkan persamaan tersebut dapat dihitung besarnya jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
=
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh sampel sebanyak 15 orang sehingga dapat ditentukan sampel non perokok sebanyak 15 orang dan sampel perokok sebanyak 15 orang dengan metode selected sampling.
E. Kriteria Sampel
1. Status kesehatan secara umum baik
2. Tidak terdapat luka atau kelainan pada lidah saat dilakukan penelitian 3. Memiliki kebiasaan merokok sedikitnya 1 - 10 batang per hari selama
sekurang kurangnya 1 tahun sampai pada saat penelitian dilakukan (perokok rutin) .
4. Seseorang yang tidak pernah mengkomsumsi rokok sama sekali. 5. Berusia 20-30 tahun.
6. Bersedia mengikuti penelitian.
F. Definisi Operasional
1. Perokok adalah seseorang yang merokok sedikitnya 1 - 10 batang per hari sampai habis selama sekurang-kurangnya 1 tahun sampai waktu penelitian dilakukan.
2. Non perokok adalah seseorang yang tidak memiliki kebiasaan merokok. 3. Sensitivitas adalah kemampuan indera pengecap untuk mempersepsikan
rasa manis dan pahit dengan benar.
5. Taste strips adalah alat untuk mengukur sensitivitas indera pengecap yang dicelupkan ke dalam larutan manis dan pahit selama 10 detik dengan konsentrasi 68% pada larutan rasa manis dan 50% pada larutan rasa pahit.
G. Bahan dan Alat Penelitian 1. Bahan Penelitian
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: a. Aquadest
b. Larutan sukrosa dengan konsentrasi 68%.
c. Larutan quinine hidrochloride dengan konsentrasi 50%. 2. Alat Penelitian :
H. Pengolahan dan Analisis Data
data berbentuk ordinal karena skoring data dalam bentuk kualitatif, dimana skoring di dapatkan dengan kuisioner dan data terdistribusi tidak normal.
Interpretasi rasa pada perokok dan non perokok, dimasukkan ke dalam skoring dan tabel. Skoring ditentukan dengan tinggi atau rendahnya sensitivitas pada pengecap rasa manis dan rasa pahit. Adapun skoring pada penelitian ini:
1. Skor 1 : Tidak terasa manis ataupun pahit 2. Skor 2: Kurang terasa manis atau pahit 3. Skor 3: Terasa manis atau pahit
I. Jalannya Penelitian
Analisa data dengan SPSS
Kesimpulan
Kumur kumur menggunakan Aquadest 60 ml lalu dibersihkan keseluruh permukaan lidah menggunakan cotton roll
Kelompok I 20 sampel perokok
Kelompok II 20 sampel non perokok
Uji pengecapan menggunakan Taste strip dengan ukuran 8x2 cm
Taste strip dilekakan pada bagian reseptor rasa manis Taste strip dicelupkan pada
larutan rasa manis
( Penelitian hari ke 1 )
Taste strip dicelupkan pada larutan rasa pahit
(Penelitian hari ke 2 )
Taste strip diletakan pada bagian reseptor rasa pahit
Intepretasi rasa (+) (-)
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Hasil Uji Rasa Manis Terhadap Perokok dan Non Perokok
Indra perasa seperti lidah akan mengalami perubahan rasa kecap karena berbagai zat yang dikonsumsi oleh manusia. Salah satu aktifitas yang dapat menyebabkan berubahnya rasa pada lidah adalah merokok karena berbagai zat nikotin dan tar yang terdapat pada rokok. Pada penelitian ini akan menguji perbedaan rasa manis dan rasa pahit antara perokok dan non perokok. Hasil pengujian perbedaan rasa manis menggunakan uji Mann-Whitney dapat dilihat pada Tabel 4.1 berikut.
Tabel 4.1 Hasil uji Mann-Whitney test pada indikator rasa manis
B. Hasil Uji Rasa Pahit Terhadap Perokok dan Non Perokok
Selain pengujian pengecap rasa manis pengecap rasa pahit juga akan diuji baik pada kelompok perokok maupun non perokok. Hasil pengujian perbedaan rasa pahit menggunakan uji Mann-Whitney dapat dilihat pada Tabel 4.2 berikut.
Tabel 4.2 Hasil uji Mann-Whitney test pada indikator rasa pahit
Kelompok N Mean Sig.
Rasa Pahit
Perokok 15 8,67
0,000 Non Perokok 15 22,33
Total 30
BAB V PEMBAHASAN
Pengecap rasa pada lidah disebut dengan taste buds, taste buds mengandung pori-pori atau dikenal sebagai taste pore yang mengandung mikrovili dan membawa sel gustatory yang akan distimuli oleh berbagai cairan kimiawi. Taste buds mengandung reseptor rasa yaitu asam, asin, manis, pahit, dan umami. Sensitivitas indera pengecap dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya adalah usia, suhu makanan, penyakit, oral hygiene, dan kebiasaan merokok yang paling berpotensi menyebabkan sensitivitas indera pengecap ini menurun.
Indra pengecap mulai berkurang saat manusia mencapai umur 50 tahun. Perubahan kecil terjadi di 20 tahun pertama dalam hidup. Saat mencapai umur 30 tahun, manusia memiliki 245 taste buds pada tiap papilla di lidah. Pada umur 70 tahun, jumlah taste buds di setiap papilla berkurang hingga 88 saja dimana rasa manis dan asin lebih dulu terasa efeknya.
Beberapa literatur menyebutkan bahwa pengaruh merokok pada mukosa mulut bervariasi, tergantung pada umur, jenis kelamin, etnis, gaya hidup, diet, genetis, jenis, dan cara merokok, serta lamanya merokok. Perubahan tersebut akibat iritan, toksin dan karsinogen. Selain itu, dapat juga berasal dari efek mukosa yang kering, tingginya temperatur dalam mulut, atau resistensi terhadap infeksi jamur dan virus yang berubah.
termasuk perubahan pada struktur anatomis dan fisiologis dari lidah. Merokok akan mengurangi sensasi dari rasa dan bau. Pada perokok berat sering ditemukan papila filifornis yang memanjang di bagai dorsal dari lidah, hal ini terjadi karena asap dari rokok tersebut mencegah sel epitel untuk bergerak secara normal dan akan berakumulasi menjadi permukaan yang putih dan sangat tebal. Secara mikrokopis papila filifornis akan berbentuk ireguler dan mengalami hiperplasi, dan menujukan hiperortokeratosis atau hiperparakeratois dengan banyak bakteri dan organisme pada lapisan permukaan serta pada bagian dalam epitalium dan akan memanjang seperti rambut pada ujung papila. Hal ini dapat menjadi tempat pertumbuhan dari bakteri yang secara perlahan akan menghasilkan sensasi terbakar pada lidah dan menimbulkan berkurang nya sensitivitas indera pengecap.
Merokok juga dapat menyebabkan kelainan-kelainan rongga mulut misalnya pada gusi, mukosa mulut, gigi, langit-langit yang berupa stomatitis nikotina dan infeksi jamur serta pada lidah yang berupa terjadinya perubahan sensitivitas indera pengecap. Untuk mengetahui adanya perbedaan sensitivitas indera pengecap rasa manis dan rasa pahit pada perokok dan non perokok, pada penelitian ini dilakukan dengan cara meletakkan taste strips rasa manis dan rasa pahit di 2 reseptor rasa pada lidah yakni reseptor rasa manis, dan rasa pahit dengan konsentrasi larutan rasa manis (Sukrosa) dan rasa pahit (Quinine hidrochloride).
sukar merasakan rasa manis dan rasa pahit akibat terpapar panasnya asap rokok yang masuk ke rongga mulut yang terus menerus sehingga menyebabkan penebalan jaringan mukosa mulut. Hasil ini sesuai dengan yang diungkapkan Mulyawati (2004) dimana perokok sukar merasakan rasa manis dan pahit akibat rusaknya ujung saraf sensoris dan taste buds pada lidah akibat panas yang dihasilkan asap rokok, bahwa pada saat rokok dihisap, nikotin yang terkondensasi dalam asap rokok masuk ke dalam rongga mulut. Iritasi yang terus menerus dari hasil pembakaran tembakau menyebabkan penebalan jaringan mukosa mulut. Hal ini menyebabkan nikotin lebih mudah terdeposit menutupi taste bud dan membran reseptor rasa pengecap di sekitar taste pore. Menempelnya nikotin pada membran reseptor rasa pengecap di sekitar taste pore akan menghalangi interaksi zat-zat makanan ke dalam reseptor pengecap sehingga akan mengurangi sensitivitas pengecapan rasa.
Penurunan sensitivitas indera pengecap khususnya rasa manis ini jika berlangsung dalam waktu yang lama, maka perokok cenderung akan meningkatkan konsumsi gulanya dibanding dengan non perokok. Konsumsi gula yang meningkat ini tanpa disertai dengan aktivitas tubuh yang dominan maka kemungkinan insulin yang dihasilkan akan mengendap dalam darah perokok sehingga perokok rentan terkena diabetes (Sukarno AD 2009).
dengan penelitian yang dilakukan oleh Sukarno AD (2009) yang menyatakan kelompok perokok memiliki kepekaan indera pengecap rasa pahit terhadap larutan quinine hidrochloride yang lebih rendah dibandingkan dengan kelompok non perokok. Selain itu, taste buds yang tersebar di seluruh permukaan lidah mengakibatkan rasa pahit dapat dirasakan tidak hanya di reseptor rasa pahit, tetapi juga di reseptor rasa asin.
BAB VI PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa sensitivitas indra pengecap terhadap rasa manis dan pahit pada perokok lebih rendah dibandingkan dengan non perokok.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, peneliti dapat memberikan saran sebagai berikut :
1. Merokok dapat menyebabkan penurunan sensitivitas taste buds sehingga diharapkan untuk tidak merokok karena selain penerunan sensitivitas pada taste buds, rokok juga berbahaya bagi kesehatan dalam jangka panjang.
DAFTAR PUSTAKA
Anis Nadhia Bt Roslan, Jenny sunariani, Anis irmawati. 2009, Penurunan sensitivitas rasa manis akibat pemakaian pasta gigi yang mengandung
Sodium lauryl sulphate 5%, Jurnal Pdgi, vol. 58, no 2, hlm 10-13.
Anonymus. 2010, Persatuan Dokter Gigi Indonesia,Rokok dan Kesehatan Rongga Mulut, Agustus 12-Last Update [Homepage of website Persatuan Dokter Gigi Indonesia], [Online]. Available: http ://www.pdgi-online.com [12 Agustus 2010]
C. Roland leeson, 1996, Buku Ajar Histologi, Penerjemah: Yan Tambayong, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Depkes RI. 2004,Data dan Fakta Konsumsi Rokok di Indonesia, Agustus 12-Last Update [Homepage of website Departemen Kesehatan Republik Indonesia], [Online]. Available: http ://www.lizaherbal.com/main> [12 Agustus 2004]. Dewi D. 2005, Pengaruh kebiasaan merokok terhadap mukosa mulut. Dentika
Dental Journal, vol.10, no 2, hlm 132-5.
Djamanshiro. 2008, Dampak Merokok Bagi Kesehatan, September 25-Last Update [Homepage of Makalah Kedokteran], [Online]. Available:http://one.indoskripsi.com/makalah/kedokteran [25 September 2008]
Don W, Fawcett. 2002, Buku Ajar Histologi, Penerjemah: dr.Jan Tambayong, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Evelyn Pearce. 2001, Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis, Penerjemah: Sri Yuliani Handoyo, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Evelyn Pearce. 2009, Anatomi Dan Fisiologi Untuk Paramedis 2, Penerjemah: dr. Kartono Mohamad , Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Girianto T. Resiko Terjadinya Stroke Pada Pengaruh Kebiasaan Merokok. Ed. 1. Surabaya: UniversitasAirlangga, 1990: 24-26.
Greece Hummel T. 2007, Assessment of oral trigeminal sensitivity in humans. Eur Arch Otorhinolaryngol Journal, Vol.264, no 1, hlm545-551.
Greenberg MS, Brightman VJ, Lynch MA. Burket’s Oral Medicine Diagnosis and Treatment. J.B. Lippineott Company, London, 1992: 432 – 435.
G. Rensburg. 2005,Oral diseases and sosio-economic status (SES). British Dental Journal, vol.194, no 2, hlm 91- 96.
Guyton AC, Hall JE. Text book of medical physiology (Taste and smell). 11th Ed. Mississippi: Elsevier Book Aid International, 2009:663-7.
Hermanto Agung. 2012, Konsumsi Rokok dan Prevalensi merokok, Available From: URL; http://www.litbang.depkes.go.id
Hermawan Tendra. Bahaya Rokok Pada Kesehatan. Yogyakarta, Indonesia. 2010
Irianto Koes. 2012, Anatomi Dan Fisiologi Untuk Mahasiswa, Penerbit Alfabeta, Bandung. dex. Last Update 10 November 2010.
Leopold D. Disorders of taste aznd smell. Medscape Refference, article overview, 2012.
Nursama, Efendi dan Ferry. 2008, Pendidikan dalam Keperawatan, Selemba Medika, Jakarta.
Mark H Swartz. 1995, Buku Ajar Diagnostik Fisik, Penerjemah: dr.Petrus Lukmanto, dr.R.F. Maulany, MSc , dr.Huriawati Hartanto, Jakarta.
Marya R K. A text book of phisiology for dental students (Taste and Smell). New Delhi: CBS Publishers & Distributors, 2002: 256-9.
Mathub aditama. 1992, Rokok dan Kesehatan, Universitas Indonesia , Jakarta. Mulyawati Y. Pengaruh rokok terhadap kesehatan gigi dan mulut. 31 Maret
2004. Subdit Gizi Klinis – Direktorat Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan RI.
Pearce E. 2008,Anatomi dan fisiologi untuk paramedis (Indera pengecap dan pencium), Penerjemah: dr. Kartono Mohamad, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Revianti S. 2007, Pengaruh radikal bebas pada rokok terhadap timbulnya kelainan di rongga mulut. Dental Jurnal FKG-UHT vol.1, no 2, hlm 85-89. Sitepoe M. 1997, Kekhususan rokok Indonesia. PT Gramedia Widiasarana
Indonesia, Jakarta.
Soetiarto F. Hubungan Antara Kebiasaan Merokok dengan Kerusakan Gigi pada Sopir Bis di Jakarta Tahun 1992. Proceeding Asean Meeting On Dental Public Health. Bandung: Fakultas Kedokteran Gigi Padjajaran. 1994: 82-6. Sufitni. Anatomi (Lidah sebagai indera pengecap). Departemen Anatomi Fakultas
Kedokteran USU, 2008:87-8.
Sukarno AD, Makky AA, Yuliati. 2009,Perbedaan sensitivitas indera pengecap rasa manis pada perokok dan non perokok. Oral Biology Dental Journal vol.1, no 2, hlm 19-23.
Syafriadi M. 2008, Patologi Mulut:Tumor neoplastik & Non neoplastik Rongga Mulut. Ed 1. Penerbit andi, Yogyakarta.
Tjandra,Hans. 2003, Merokok dan Kesehatan. Available From URL;http//www.compas.co.id. Last Update 19 Desember 2011.
INFORMED CONSENT
Saya yang bertanda tangan dibawah ini: Nama :
Umur : Alamat : Jenis Kelamin : L/P
Dengan ini menyatakan bersedia untuk menjadi sampel dalam penelitian yang berjudul “PERBEDAAN SENSITIVITAS INDERA PENGECAP RASA MANIS DAN RASA PAHIT PADA PEROKOK DAN NON PEROKOK”. Penelitian ini dilakukan oleh M.DHIO FANDRA, mahasiswa FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI UNIVERSITAS MAHASARASWATI DENPASAR. Segala hal yang menyangkut penelitian ini telah saya pahami dan akan saya ikuti sesuai prosedur yang dijelaskan oleh peneliti.
Denpasar,
Yang membuat Penyataan
NPar Tests
Mann-Whitney Test
Ranks
Kelompok N Mean Rank Sum of Ranks
Rasa_Manis Perokok 15 12.00 180.00
Non Perekok 15 19.00 285.00
Total 30
Test Statisticsb
Rasa_Manis
Mann-Whitney U 60.000
Wilcoxon W 180.000
Z -2.513
Asymp. Sig. (2-tailed) .012
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .029a
a. Not corrected for ties.
NPar Tests
Mann-Whitney Test
Ranks
Kelompok N Mean Rank Sum of Ranks
Rasa_Pahit Perokok 15 8.67 130.00
Non Perekok 15 22.33 335.00
Total 30
Test Statisticsb
Rasa_Pahit
Mann-Whitney U 10.000
Wilcoxon W 130.000
Z -4.513
Asymp. Sig. (2-tailed) .000
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)] .000a
a. Not corrected for ties.
Bahan dan Alat Penelitian
1. Bahan Penelitian
- Larutan Quinine Hidrochloride 50%
- Aquadest
2. Alat Penelitian
- Sarung tangan ( hand gloves ) dan Masker
- Norbeken, Pinset dan Kaca mulut