• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Uji Sitotoksik

Dalam dokumen UJI SITOTOKSIK EKSTRAK ETANOL, FRAKSI N (Halaman 44-54)

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Identifikasi tanaman

4.4 Hasil Uji Sitotoksik

Hasil uji sitotoksik dapat diketahui dari jumlah kematian larva Artemia salina Leach disebabkan adanya pengaruh dari pemberian ekstrak, fraksi kloroform dengan variasi pH yaitu pH 3, 7, 9, 11, fraksi n- heksandan fraksi air dari kulit batang attarasa pada konsentrasi 1, 10, 100, dan 1000 μg/ml. Selain itu, dibuat kontrol negatif berupa air laut buatan dan larva tanpa penambahan ekstrak

dan fraksi. Hasil pengamatan kematianArtemia salina Leach setelah 24 jam pada ekstrak dan fraksi dari kulit batang attarasa dapat dilihat dalam Tabel 4.2

Tabel 4.2 Hasil pengamatan kematian Artemia salina Leach setelah 24 jam pemberian ekstrak dan fraksi dari kulit batang attarasa

Sampel Pengulangan ke-

Jumlah Artemia salina Leach yang mengalami kematian pada berbagai konsentrasi

Uji sitotoksik ekstrak etanol, fraksi n- heksan, fraksi air dan fraksi kloroform dengan variasi pH 3, 7, 9, dan 11 terhadap Artemia salina Leach dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan pada masing- masing konsentrasi 1 μg/ml, 10 μg/ml, 100 μg/ml, 1000 μg/ml.

Rata- rata kematian yang didapat dibandingkan dengan kelompok kontrol, dimana pada kelompok kontrol, larva tidak mengalami kematian dari jumlah awal yaitu 10 ekor. Sehingga dapat dipastikan bahwa kematian larva pada kelompok uji disebabkan oleh pengaruh ekstrak dan fraksi kulit batang attarasa.

Sehingga dapat dicari % kematian dengan rumus:

% Kematian= Rata Kematian

Kontrol X 100%

Nilai Persentase kematian yang didapat diubah kedalam nilai probit sehingga diperoleh data Tabel 4.3

Tabel 4.3 Log konsentrasi dan nilai probit dari uji sitotoksik terhadap ekstrak dan fraksi dari kulit batang attarasa

Sampel

Tabel 4.3 (Lanjutan)

Tabel 4.3 menunjukkan bahwa adanya hubungan antara konsentrasi penambahan ekstrak dan fraksi kulit batang attarasa dengan total kematian larva.

Semakin tinggi konsentrasi yang diberikan akan meningkatkan kematian larva.

Analisis probit dilakukan untuk mendapatkan kurva yang membentuk garis lurus sehingga penentuan nilai LC50 lebih tepat. Jika hanya memplotkan persentase kematian larva (nilai y) dengan logaritma konsentrasi (nilai x) maka akan didapatkan kurva berbentuk sigmoid sehingga dalam penentuan nilai LC50

dapat menjadi kurang tepat. Analisis probit akan didapatkan kurva yang berbentuk garis lurus karena konsentrasi sampel ditransformasikan menjadi logaritma konsentrasi sebagai variable tetap (nilai x) dan persentase kematian larva ditransformasikan menjadi nilai probit sebagai variable terikat (nilai y) (Kurniansyah, 2015).

Nilai LC50 diperoleh berdasarkan persamaan regresi linier yang didapatkan dengan cara memplot log konsentrasi larutan uji dan nilai mortalitas probit uji toksisitas ekstrak dan fraksi kulit batang attarasa, dimana log konsentrasi larutan

dilihat grafik hubungan antara log konsentrasi dengan nilai probit mortalitas ekstrak etanol kulit batang attarasa (Gambar 4.1), fraksi n- heksan (Gambar 4.2), fraksi kloroform pH 3 (Gambar 4.3), fraksi kloroform pH 7 (Gambar 4.4), fraksi kloroform pH 9 (Gambar 4.5), fraksi kloroform pH 11 (Gambar 4.6), dan fraksi air (Gambar 4.7).

Gambar 4.1 Grafik log konsentrasi dengan nilai probit mortalitas uji sitotoksik ekstrak etanol kulit batang attarasa

Gambar 4.2 Grafik log konsentrasi dengan nilai probit mortalitas uji sitotoksik fraksi R² = 0.907

Gambar 4.3 Grafik log konsentrasi dengan nilai probit mortalitas uji sitotoksik fraksi kloroform pH 3 dari kulit batang attarasa

Gambar 4.4 Grafik log konsentrasi dengan nilai probit mortalitas uji sitotoksik fraksi kloroform pH 7 kulit batang attarasa

R² = 0.954

Gambar 4.5 Grafik log konsentrasi dengan nilai probit mortalitas uji sitotoksik fraksi kloroform pH 9 kulit batang attarasa

Gambar 4.6 Grafik log konsentrasi dengan nilai probit mortalitas uji sitotoksik fraksi kloroform pH 11 kulit batang attarasa

R² = 0.999

Gambar 4.7 Grafik log konsentrasi dengan nilai probit mortalitas uji sitotoksik fraksi air kulit batang attarasa

Dari grafik diperoleh nilai persamaan regresi untuk ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi kloroform dengan variasi pH yaitu pH 3, pH 7, pH 9, pH 11 dan fraksi air dari kulit batang attarasa yang tertera pada Tabel 4.4

Tabel 4.4Persamaan regresi hasil uji BSLT ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi kloroform dengan variasi pH yaitu pH 3, pH 7, pH 9, pH 11, dan fraksi air dari kulit batang attarasa

Larutan uji Persamaan Regresi R2

Ekstrak etanol Y = 1,425 X + 3,33 0,9077

adalah 0,9077, pada larutan uji fraksi n-heksan adalah 0,9261, pada larutan uji fraksi kloroform pH 3 sebesar 0,9548, pada larutan uji fraksi kloroform pH 7 sebesar 0,9195, pada larutan uji fraksi kloroform pH 9 sebesar 0,9998, pada larutan uji fraksi kloroform pH 11 sebesar 0,9934 dan pada larutan uji fraksi air adalah 0,9127. Nilai R2 yang diperoleh pada masing-masing larutan uji ini adalah mendekati nilai satu. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan fungsi dua variable yaitu antara log konsentrasi (sebagai sumbu x) dengan nilai mortalitas probit (sebagai sumbu y).

Suatu persamaan regresi sederhana, nilai R2 (determinasi koefisien dari sampel) merupakan suatu indikator yang menunjukkan korelasi antara sumbu y dan sumbu x. Nilai dari R2 adalah 0 ≤ R2 ≤ 1, dimana jika R2 adalah satu, berarti menyatakan adanya hubungan fungsi yang baik antara sumbu x dan sumbu y, keadaan yang sempurna dimana setiap poin tepat berada pada garis regresi.

Sebaliknya jika R2 adalah nol, maka tidak ada yang dapat dijelaskan karena tidak ada hubungan fungsi antara sumbu x dengan sumbu y (Asuero, et al., 2006), dalam hal ini dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai R2 yang semakin mendekati nilai satu adalah baik karena menunjukkan korelasi antara sumbu x dan sumbu y yang juga semakin kuat.

Meyer (1982) menyebutkan bahwa jika hasil LC50 dari uji yang telah dilakukan terhadap Artemia salina Leach adalah < 30 μg/ml maka ekstrak tersebut dinyatakan sangat toksik. Apabila rentang nilai LC50 berada pada rentang 30 - 1000 μg/ml maka ekstrak dinyatakan toksik, dan dinyatakan tidak toksik apabila nilai LC50 yang didapat >1000 μg/ml. Nilai LC50dari ekstrak etanol dan fraksi kulit batang attarasa dapat dilihat pada Tabel 4.5

Tabel 4.5Nilai LC50 ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi kloroform pH 3, pH 7, pH 9, pH 11 dan fraksi air teripang dari kulit batang attarasa

Sampel Nilai LC50 (μg/ ml)

Ekstrak etanol 14,859

Fraksi n- heksan 545,1299

Fraksi kloroform pH 3 13,92

Fraksi kloroform pH 7 3,664

Fraksi kloroform pH 9 5, 43125

Fraksi kloroform pH 11 37,4973

Fraksi air 6041,99

Tingkat toksisitas dari ekstrak etanol, fraksi kloroformpH 3, pH 7, dan pH 9 dari kulit batang attarasa berada pada tingkat sangat toksik karena LC50yang

Uji aktivitas sitotoksik menggunakan metode BSLT sangat penting dilakukan sebagai uji pendahuluan aktivitas obat sebagai antikanker. Jika hasil uji menunjukkan aktivitas sitotoksik menurut metode ini maka pengujian aktivitas sitotoksik dapat dilanjutkan terhadap sel kanker manusia.

Artemia salina Leach yang digunakan pada percobaan yaitu larva yang berusia 48 jam atau berada pada fase instar II-III karena pada usia ini Artemia salinaLeachpaling sensitif terhadap bahan uji (Hamidi, 2014). Kematian larva diamati setelah 24 jam pemberian isolat. Berdasarkan kriteria standar larva dikatakan mati apabila larva tidak bergerak selama 10 detik observasi (Geethaa, 2010).

Mekanisme kematian larva Artemia salina Leachberhubungan dengan fungsi senyawa alkaloid dalam kulit batang attarasa yang dapat masuk melalui membran sel larva Artemia salina Leach (secara difusi) sehingga menyebabkan terjadinya perusakan atau modifikasi permeabilitas membran dan mengacaukan sistem perpindahan zat yang dapat mengganggu proses biokimia dan fisiologi.

Masuknya zat toksik ke dalam saluran pencernaan Artemia salina Leach (bersifat penyaring tidak selektif) sehingga apa saja yang dapat masuk ke dalam mulut Artemia salina Leach seakan- akan menjadi makanannya. Senyawa yang masuk dapat berinteraksi dengan target (misalnya enzim, lemak, membran sel, asam nukleat) sehingga mempengaruhi mekanisme tubuh yang akhirnya menyebabkan kematian (Sari, 2012).

4.5 Analisis Fraksi Kloroform pH 7 secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Dalam dokumen UJI SITOTOKSIK EKSTRAK ETANOL, FRAKSI N (Halaman 44-54)

Dokumen terkait