BAB V ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Uji Statistik dan Pembahasan
1. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
Uji normalitas merupakan salah satu bagian dari uji prasyaratan analisis data atau uji asumsi klasik, artinya sebelum melakukan uji analisis data (model regresi) data penelitian tersebut harus di uji kenormalan distribusinya. Dalam penelitian ini akan dilakukan uji normalitas dengan menggunakan uji Skewness dan Kurtosis. Hasil yang diperoleh setelah melakukan uji Skewness dan Kurtosis dengan SPSS 22
Tabel V.5 Uji Normalitas Skewness dan Kurtosis
N Skewness Kurtosis
Statistic Statistic Std.Error Statistic Std.Error
ROA 63 0,084 0,316 -0,691 0,623
Harga Saham 63 -0,366 0,302 -0,977 0,595 Sumber Data : Data Sekunder Diolah. 2016
Sigifikansi 5% (0.05)
Berdasarkan uji normalitas di atas, diperoleh hasil statistik Skewness untuk variabel ROA sebesar 0,084 dengan standar eror sebesar 0,316, sedangkan hasil statistik Kurtosis ROA sebesar -0,691 dengan standar eror sebesar 0,623. Dari hasil tersebut dapat diperoleh koefisien rasio Skewness variabel ROA sebesar 0,266 dan koefisien rasio Kurtosis sebesar -1,109, karena koefisien rasio Skewness dan Kurtosis variabel ROA berada diantara -2 dan 2 maka variabel ROA
dikatakan berdistribusi normal (Santoso, 2000:53). Variabel ROA berdistribusi normal dapat juga dilihat dari nilai Zskew dan Zkurt. Berdasarkan hasil diatas diperoleh nilai Zskew variabel ROA (0,272) < 1,96 (α=0,05) dan Zkurt variabel ROA (-1,119) < 1,96 (α=0,05), maka dikatakan variabel ROA berdistribusi normal (Santoso, 2000:53). Hasil statistik Skewness variabel harga saham sebesar -0,366 dengan standar eror sebesar 0,302, sedangkan hasil statistik Kurtosis variabel harga saham sebesar -0,977 dengan standar eror sebesar 0,595. Dari hasil tersebut dapat diperoleh koefisien rasio Skewness variabel harga saham sebesar -1,212 dan koefisien rasio Kurtosis sebesar - 1,642, karena koefisien rasio Skewness dan Kurtosis variabel harga saham berada diantara -2 dan 2 maka variabel harga saham dikatakan berdistribusi normal (Santoso, 2000:53). Variabel harga saham berdistribusi normal dapat juga dilihat dari nilai Zskew dan Zkurt. Berdasarkan hasil di atas diperoleh nilai Zskew variabel harga saham (-1,186) < 1,96 (α=0,05) dan Zkurt variabel harga saham (-1,583) < 1,96 (α=0,05), maka dikatakan variabel harga saham berdistribusi normal (Santoso, 2000:53).
b. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari residual satu
pengamatan ke pengamatan lain. jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain sama maka disebut homoskedastisitas, sedangkan jika residual satu pengamatan ke pengamatan lain berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi heteroskedastisitas. Untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan uji Glejser yaitu dengan meregresi nilai absolut residual terhadap variabel bebas. Model regresi tidak mengandung adanya heteroskedastisitas apabila probabilitas signifikansinya lebih besar sama dengan taraf nyata 5% (0,05) (Ghozali, 2011:139). Hasil yang diperoleh setelah melakukan uji Glejser dengan SPSS 22 adalah sebagai berikut :
Tabel V.6 Uji Heteroskedastisitas
Model Sig
ROA Harga Saham
Kurs 0,707 0,406
Sumber Data : Data Sekunder Diolah, 2016 Signifikansi 5% (0.05)
Keterangan :
Jika sig ≥ α (0.05), maka tidak terjadi heteroskedastisitas atau sebaliknya
Berdasarkan hasil perhitungan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas karena sig ROA (0,707) ≥ 0,05 dan sig harga saham (0,406) ≥ 0,05.
c. Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t
dengan kesalahan penganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Untuk mengetahui ada tidaknya autokorelasi dapat dilakukan uji Durbin- Watson. Model regresi tidak mengandung autokorelasi apabila d > dU atau d < 4-dU. Berikut ini hasil yang diperoleh setelah melakukan uji Durbin-Watson (DW) dengan SPSS 22
Tabel V.7 Uji Autokorelasi ROA
Model Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
1 8,29131 2,185
Sumber Data : Data Sekunder Diolah, 2016 Signifikansi 5% (0.05)
Berdasarkan hasil di atas, diketahui nilai Durbin-Watson (DW) 2,185 lebih besar dari batas atas (dU) yaitu 1,6243 dan lebih kecil dari (4-dU) yaitu 2.3757, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi.
Tabel V.8 Uji Autokorelasi Harga Saham
Model Std. Error of the Estimate Durbin-Watson
1 51808,563 1,738
Sumber Data : Data Sekunder Diolah, 2016 Signifikansi 5% (0.05)
Berdasarkan hasil di atas, diketahui nilai Durbin-Watson (DW) 1,738 lebih besar dari batas atas (dU) yaitu 1,6243 dan lebih kecil dari (4-dU) yaitu 2,3757, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat autokorelasi.
2. Koefisien Determinasi
Besarnya kontribusi yang diberikan oleh variabel nilai tukar mata uang (kurs) terhadap variabel ROA (Return On Assests) dan harga saham pada perusahaan Farmasi yang terdaftar di BEI (Bursa Efek Indonesia) dapat diketahui dari nilai koefisien determinasi atau R2. Penelitian ini menggunakan pengukuran ajusted R2 untuk mengetahui seberapa besar variabel independen dapat menjelaskan variabel dependen. Berikut ini tabel yang menunjukkan hasil adjusted R2 (SPSS 22).
Tabel V.9 Koefisien Determinasi ROA
Model R2 Adjusted R2
1 0,547 0,532
Sumber Data : Data Sekunder Diolah, 2016
Tabel V.9 menunjukkan nilai adjusted R2 sebesar 0,532 atau 53,2 persen. Hal tersebut mempunyai arti bahwa sebesar 53,2 persen dari variasi variabel ROA dapat dijelaskan oleh variabel nilai tukar mata uang (kurs), sedangkan sisanya sebesar 46,8 persen dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Tabel V.10 Koefisien Determinasi Harga Saham
Model R2 Adjusted R2
1 0,632 0,620
Sumber Data : Data Sekunder Diolah, 2016
Tabel V.10 menunjukkan nilai adjusted R2 sebesar 0,620 atau 62 persen. Hal tersebut mempunyai arti bahwa sebesar 62 persen dari variasi variabel harga saham dapat dijelaskan oleh variabel nilai tukar mata uang
(kurs), sedangkan sisanya 38 persen dijelaskan oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
3. Uji t
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah variabel independen (kurs) berpengaruh negatif pada variabel dependen (ROA dan harga saham). Berikut ini hasil pengujian uji t dengan menggunakan SPSS 22
Tabel V.11 Uji t ROA
Coefficients
Model T Sig
1 (Constant) 2,001 0,050
Kurs -0,654 0,516
Sumber Data : Data Sekunder Diolah, 2016 *signifikansi 5% (0.05)
1) Pengujian hipotesis 1
a) Merumuskan hipotesis nihil (H0) dan hipotesis alternative (H1) H0:β ≥ 0 : Kurs Rupiah tidak berpengaruh negatif pada ROA. H1:β < 0 : Kurs Rupiah berpengaruh negatif pada ROA b) Menentukan nilai kritis atau level of significance (α)
Dalam penelitian ini nilai kritis atau level of significance (α) yang digunakan adalah sebesar 5% atau 0,05.
c) Menentukan kriteria pengujian
Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengujian satu sisi
H0 ditolak jika thitung < -ttabel atau p/2 (Sig/2) ≤ 0,05, sedangkan H0 diterima jika thitung ≥ -ttabel atau p/2 (Sig/2) > 0,05
d) Kesimpulan
Dari hasil uji t pada tabel V.11 diketahui nilai thitung sebesar - 0,654 dengan sig/2 sebesar 0,258 dan nilai ttabel pada d.f = (n-k) = 63 –3 = 60 dengan taraf signifikansi (α) = 0,05 yaitu sebesar -2,00030 karena thitung (-0,654) > -ttabel (-2,00030) atau sig/2 (0,258) > α (0,05), maka H0 diterima artinya kurs tidak berpengaruh pada ROA
Tabel V.12 Uji t Harga Saham
Coefficients
Model t Sig
1 (Constant) -0,322 0,749
Kurs 1,036 0,304
Sumber Data : Data Sekunder Diolah, 2016 *Signifikansi 5% (0,05)
2) Pengujian hipotesis 2
a) Merumuskan hipotesis nihil (H0) dan hipotesis alternatif (H2)
H0:β ≥ 0 : Kurs Rupiah tidak berpengaruh negatif pada harga saham
H2:β < 0 : Kurs Rupiah berpengaruh negatif pada harga saham
b) Menentukan nilai kritis atau level of significance (α) Dalam penelittian ini nilai kritis atau level of significance (α) yang digunakan adalah sebesar 5% atau 0,05.
c) Menentukan kriteria pengujian
Kriteria yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengujian satu sisi
H0 ditolak jika thitung < -ttabel atau p/2 (Sig/2) ≤ 0,05, sedangkan
H0 diterima jika thitung ≥ -ttabel atau p/2 (Sig/2) > 0,05 d) Kesimpulan
Dari hasil uji t pada tabel V.12 diketahui nilai thitung sebesar 1,036 dengan sig/2 sebesar 0,152 dan nilai ttabel pada d.f = (n-k) = 63 – 3 = 60 dengan taraf signifikansi (α) = 0,05 yaitu sebesar -2,00030 karena thitung (1,036) > -ttabel (-2,00030) atau sig/2 (0,152) > α (0,05), maka H0 diterima artinya kurs tidak berpengaruh pada harga saham.
4. Pengujian Tambahan (event study) a. Return Saham
Return saham masing-masing perusahaan Farmasi dengan periode t, dimana t dimulai dari t-5 sampai t+5 (tanggal 12 Desember 2015 sampai tanggal 22 Desember 2015). Berikut ini tabel yang menunjukkan return saham masing-masing perusahaan Farmasi
Tabel V.13 Return Saham
Keterangan :
KLBF : Kalbe Farma KAEF : Kimia Farma INAF : Indofarma MERK : Merck Indonesia
DVLA : Darya Varia Laboratoria PYFA : Pyridam Farma
SQBI : Taisho Pharmaceutical TSPC : Tempo Scan Pasific
SCPI : Merck Sharp Dohme Pharma
Periode KLBF KAEF INAF MERK DVLA PYFA SQBI TSPC SCPI
t-5 0.03376 -0.0231 -0.0255 -0.25 0.16863 -0.0082 -0.6154 -0.0088 0.07586 t-4 0.01633 -0.0592 -0.0523 0.33333 -0.2148 -0.0331 0.06154 0.00296 0.21474 t-3 -0.008 0.03774 0.08966 0.03516 -0.0171 -0.0256 -0.0761 0.11622 -0.3404 t-2 0.00405 0.01818 -0.0253 -0.0264 0.46957 0.07018 0.86667 -0.1015 0.25 t-1 0.04839 0.05952 0.04545 -0.9495 0.30178 -0.082 0.27731 0.12 -0.072 t0 -0.0077 -0.0225 -0.0373 -0.0018 -0.2318 0.03571 0.03618 0.02679 -0.1724 t+1 -0.0116 0.01149 0.05161 0.03077 -0.2544 -0.0431 0.04762 -0.0317 0.33333 t+2 0.17255 -0.017 -0.0061 0.11567 -0.0873 0.01802 -0.0152 -0.0174 0.09375 t+3 -0.1639 0.11676 0.01235 -0.0936 0.09565 0.00885 0.00923 -0.1022 -0.2 t+4 0.1456 0.00518 0.04268 0.1076 0.18254 0.2193 -0.1655 0.12036 -0.2018 t+5 -0.2004 -0.0484 0.07018 0.01119 -0.1544 -0.0576 0.23493 0.02619 0.45324 Sumber Data : Data Sekunder Diolah, 2016
b. Abnormal Return Saham
Abnormal Return Saham masing-masing perusahaan Farmasi. Berikut ini tabel yang menunjukkan abnormal return saham masing-masing perusahaan Farmasi dari tanggal 12 Desember sampai tanggal 22 Desember 2015 (t-5 sampai t+5)
Tabel V.14 Abnormal Return Saham
Keterangan :
KLBF : Kalbe Farma KAEF : Kimia Farma INAF : Indofarma MERK : Merck Indonesia
DVLA : Darya Varia Laboratoria PYFA : Pyridam Farma
SQBI : Taisho Pharmaceutical TSPC : Tempo Scan Pasific
SCPI : Merck Sharp Dohme Pharma
Periode KLBF KAEF INAF MERK DVLA PYFA SQBI
TSPC SCPI
t-5
0.03112 -0.0303 -0.041 -0.1875 0.14514 -0.0175 -0.6755 -0.0225 0.03637
t-4
0.01369 -0.0663 -0.067 0.39585 -0.2383 -0.0424 0.00142 -0.0108 0.17526
t-3
-0.0107 0.0306 0.0746 0.09767 -0.0406 -0.035 -0.1362 0.1025 -0.3799
t-2
0.00141 0.011 -0.04 0.0361 0.44608 0.06085 0.80655 -0.1152 0.21051
t-1
0.04575 0.0524 0.0304 -0.887 0.27829 -0.0913 0.21719 0.10628 -0.1115
t0
-0.0103 -0.0296 -0.052 0.06068 -0.2553 0.02639 -0.0239 0.01306 -0.2119
t+1
-0.0143 0.0043 0.0366 0.09329 -0.2779 -0.0524 -0.0125 -0.0454 0.29385
t+2
0.16991 -0.0242 -0.021 0.17819 -0.1108 0.0087 -0.0753 -0.0312 0.05426
t+3
-0.1665 0.1096 -0.003 -0.0311 0.07216 -0.0005 -0.0509 -0.1159 -0.2395
t+4
0.14296 -0.002 0.0276 0.17012 0.15905 0.20998 -0.2257 0.10664 -0.2413
t+5
-0.2031 -0.0556 0.0551 0.07371 -0.1779 -0.0669 0.17481 0.01247 0.41376
Sumber Data : Data Sekunder Diolah, 2016
c. Analisis Abnormal Return (RTN)
Analisis terhadap reaksi pasar modal di Indonesia terhadap peristiwa kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate) yang menyebabkan Rupiah melemah dapat dilihat dari abnormal return (RTN) yang didapatkan. Abnormal return (RTN) merupakan selisih antara actual return dan expected return. Berikut ini tabel yang menunjukkan rata-rata abnormal return dari tanggal 12 Desember 2015 (t-5) sampai 22 Desember 2015 (t+5)
Tabel V.15 Rata-rata Abnormal Return
Periode Abnormal Return
t-5 -0.08458 t-4 0.017908 t-3 -0.03299 t-2 0.157442 t-1 -0.03994 t0 -0.0537 t+1 0.002833 t+2 0.016497 t+3 -0.04725 t+4 0.038608 t+5 0.025171
Sumber Data : Data Sekunder Diolah, 2016
Tabel V.15 menunjukkan bahwa terdapat abnormal return positif pada periode t-4, t-2, t+1, t+2, t+4 dan t+5. Selama periode peristiwa yang digunakan juga terdapat abnormal return yang bernilai negatif yang terjadi pada periode t-5, t-3, t-1, t0 dan t+3. Abnormal return terendah terjadi pada periode t-5 yaitu sebesar -
0,08458 dan abnormal return tertinggi terjadi pada periode t-2 yaitu sebesar 0,157442.
d. Uji Signifikansi Rata-rata Abnormal Return (RTN)
Pengujian signifikansi rata-rata abnormal return dilakukan untuk mengetahui apakah ada reaksi yang signifikan pada perubahan abnormal return akibat dari adanya peristiwa kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate). Dengan melakukan uji t maka akan diketahui apakah pasar mengalami reaksi atau tidak mengalami reaksi. Berikut ini tabel perhitungan signifikansi rata- rata abnormal return
Tabel V.16 Signifikansi Rata-rata Abnormal Return
Periode t-hitung Keterangan
t-5 0,88315 Tidak signifikan t-4 -3,67302 Tidak signifikan t-3 -0,76761 Tidak signifikan t-2 2,77541 Signifikan t-1 2,43586 Signifikan t0 1,05264 Tidak signifikan t+1 0,09681 Tidak signifikan t+2 -0,39617 Tidak signifikan t+3 2,10574 Tidak signifikan t+4 3,02687 Signifikan t+5 -2,54695 Tidak signifikan
Sumber Data : Data Sekunder Diolah, 2016
Tabel V.16 menunjukkan bahwa terdapat t hitung yang positif dan negatif. Tanda positif artinya peristiwa kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate) memiliki kandungan informasi yang direspon
sebagai good news oleh pasar modal (window), sedangkan tanda negatif artinya peristiwa kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate) memiliki kandungan informasi yang direspon sebagai bad news oleh pasar modal (window) (Wardhani, 2012). Dalam penelitian ini akan dilihat apakah peristiwa kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate) memiliki kandungan informasi yang direspon sebagai good news oleh pasar modal (window).
Pasar modal merespon positif kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate) dan kandungan informasi direspon oleh pasar modal sebagai good news kemungkinan karena :
1) Pasar modal sudah mengantisipasi kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate).
2) Perusahaan sudah mengantisipasi kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate) yaitu dengan cara melakukan hedging sehingga kinerja perusahaan masih baik dan stabil. Hal ini menyebabkan para investor masih tertarik untuk menanamkan modalnya di pasar modal.
3) Penjualan produk Farmasi yang terus meningkat khususnya penjualan produk obat herbal, sehingga hal ini memungkinkan perusahaan Farmasi untuk mengurangi pembelian bahan baku impor. Hal ini menyebabkan investor tetap mempertahankan
modalnya di pasar modal dan banyak investor asing yang juga tertarik menanamkan modalnya.
4) Fundamental ekonomi Indonesia yang semakin membaik dan dana dari luar negeri yang semakin banyak masuk ke Indonesia, di mana sebagian dana akan masuk ke pasar modal (obligasi dan bursa saham).
5) Dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini seperti pengumuman undang-undang pengampunan pajak (Tax Amnesty), kondisi politik, kebijakan pemerintah dan lain-lain.
Tabel V.16 menunjukkan bahwa terdapat abnormal return yang signifikan di tiga periode yaitu t-2 dengan t hitung sebesar 2,77541 lebih besar dari t tabel 5% (2,228), t-1 dengan t hitung sebesar 2,43586 lebih besar dari t tabel 5% (2,228) dan t+4 dengan t hitung sebesar 3,02687 lebih besar dari t tabel 5% (2,228). t hitung yang dilihat dalam peneltian ini adalah t hitung positif karena ini menunjukkan bahwa pasar modal (window) bereaksi terhadap peristiwa kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate) dan peristiwa kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate) memiliki kandungan informasi yang direspon sebagai good news oleh pasar modal (window).
5. Pembahasan
a. Koefisien Determinasi
Dari hasil perhitungan dengan SPSS 22, diperoleh nilai adjusted R square sebesar 0,532 dan 0,620, dari angka tersebut dapat disimpulkan bahwa 53,2 persen variasi variabel ROA dapat dijelaskan oleh variabel kurs dan 62 persen variasi variabel harga saham dapat dijelaskan oleh variabel kurs, sedangkan sisanya 46,8 persen dan 38 persen dijelaskan oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
b. Hasil uji t
1) Pengujian atas pengaruh kurs pada ROA
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kurs tidak mempunyai pengaruh pada ROA perusahaan Farmasi (KLBF, KAEF, INAF, MERK, DVLA, PYFA, SQBI, TSPC dan SCPI). Hasil pengujian ini memberikan hasil yang berbeda dengan penelitian Desi Marilin & Rohmawati (2012) yang menyatakan bahwa nilai tukar berpengaruh positif terhadap profitabilitas perbankan syariah dan memberikan hasil yang berbeda dengan pendapat analis bahana securities Michael Wilson Setjoadi yang menyatakan bahwa semakin rendah nilai tukar mata uang Rupiah maka semakin lemah kinerja perusahaan Farmasi. Selain itu, hasil pengujian ini juga memberikan hasil yang berbeda dengan Munawir (2007:89) yang
menyatakan bahwa ROA juga dipengaruhi oleh faktor-faktor makroekonomi seperti nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar. Perbedaan ini terjadi karena disebabkan oleh :
a) Dalam penelitian ini perusahaan yang dijadikan subjek penelitian adalah perusahaan Farmasi, sehingga terdapat perbedaan hasil dengan penelitian Desi Marilin dan Rohmawati (2012), di mana subjek penelitiannya adalah perbankan syariah.
b) Tidak semua faktor yang mempengaruhi ROA diteliti dalam penelitian ini seperti manajemen aktiva, likuiditas, hutang terhadap hasil operasi, perputaran total aktiva, petumbuhan perusahaan dan ukuran perusahaan (Brigham dan Houstan, 2001:89). Selain itu, faktor-faktor makroekonomi seperti suku bunga bank, nilai tukar mata uang Rupiah terhadap Dolar dan jumlah uang beredar (Munawir, 2007:89) juga dapat mempengaruhi ROA.
2) Pengujian atas pengaruh kurs pada harga saham
Hasil pengujian menunjukkan bahwa kurs tidak mempunyai pengaruh pada harga saham perusahaan Farmasi (KLBF, KAEF, INAF, MERK, DVLA, PYFA, SQBI, TSPC dan SCPI). Hasil pengujian ini memberikan hasil yang berbeda dengan Maryanti
(2010) dan penelitian Raharjo (2010) yang menyatakan bahwa nilai tukar mata uang Rupiah berpengaruh positif terhadap harga saham. Tidak berpengaruhnya nilai tukar mata uang pada harga saham perusahaan Farmasi dan perbedaan hasil pengujian dengan penelitian sebelumnya kemungkinan disebabkan oleh :
a) Perusahaan Farmasi melakukan tindakan lindung nilai (hedging). Hedging adalah suatu tindakan melindungi perusahaan untuk menghindari atau mengurangi risiko kerugian atas valuta asing akibat dari terjadinya transaksi bisnis (Faisal, 2001:8). Tindakan lindung nilai (hedging) yang dilakukan perusahaan Farmasi yaitu dengan cara melakukan forward rate. Forward rate adalah kurs yang ditetapkan sekarang atau pada saat ini, tetapi diberlakukan untuk waktu yang akan datang, biasanya antara waktu 12 x 24 jam sampai dengan satu tahun (Hady, 2008:68). Hal ini dilakukan karena perusahaan Farmasi memiliki utang luar negeri (pembelian bahan baku yang masih di impor dari luar negeri) dengan pembayaran menggunakan Dolar AS, sehingga dengan melakukan forward rate perusahaan Farmasi tidak akan mengalami kerugian karena melemahnya mata uang Rupiah.
b) Perusahaan Farmasi mencari alternatif sumber bahan baku yang lebih efisien.
c) Perusahaan Farmasi melakukan kontrak bahan baku jangka panjang.
d) Tidak semua faktor yang mempengaruhi harga saham diteliti dalam penelitian ini, seperti faktor internal (pengumuman laporan keuangan, pengumuman investasi dan pengumuman pendanaan) dan faktor eksternal (suku bunga tabungan dan deposito, inflasi, regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah) (Alwi, 2003:87).
3) Uji tambahan (event study)
Dari hasil uji tambahan (event study) pada abnormal return sembilan perusahaan Farmasi dengan periode penelitian 11 hari diperoleh hasil yaitu terdapat abnormal return yang signifikan di tiga periode yaitu t-2 dengan t hitung sebesar 2,77541 lebih besar dari t tabel 5% (2,228), t-1 dengan t hitung sebesar 2,43586 lebih besar dari t tabel 5% (2,228) dan t+4 dengan t hitung sebesar 3,02687 lebih besar dari t tabel 5% (2,228). Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal (window) bereaksi terhadap peristiwa kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate) pada periode t-2 atau dua sampai satu hari sebelum peristiwa tersebut terjadi dan periode
t+4 atau empat hari setelah peristiwa tersebut terjadi dan peristiwa kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate) memiliki kandungan informasi yang direspon sebagai good news oleh pasar modal (window).