• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

16 Hasil uji statistik terhadap uji akseptabilitas

a. penampilan tablet

Lampiran 16. (Lanjutan) c. aroma

DAFTAR PUSTAKA

Andriani, Y. (2008). Toksisitas Aktif Steroid Ekstrak Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) Terhadap Aktivitas Serum Glutamat Oksalat Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamat Piruvat Transaminase (SGPT) Pada Tikus Putih. Jurnal Gradien. 4(2): 365-371

Ansel, H.C. (1989). Pengantar bentuk Sediaan Farmasi, edisi keempat. Terj. Dari

Introduction to Pharmaceutical Dosage Form, oleh Farida Ibrahim. Jakarta: UI Press. Halaman 214 – 217.

Apriyantono, A., D. Fardiaz, N. L. Puspitasari dan S. Budiyantono. (1989).

Analisis Pangan. Bogor: IPB Press. Halaman 120.

Aulton, E.M. (1998). Pharmaceutics: Science of Dosage Form Design. London: Churcill Living Stones. Halaman 621.

Badan Penelitian & Pengembangan Kesehatan. (2000). Inventaris Tanaman Obat Indonesia. Jilid I. Jakarta: Perpustakaan Balitbangkes. Halaman 125.

Banker, G.S, dan Anderson, N.R. (1994). Tablet. Dalam: Teori dan Praktek Farmasi Industri. Edisi III. Jilid II. Editor: Lachman, L. Penerjemah: Siti Suyatmi. Jakarta: UI-Press. Halaman 644 – 646.

Barus, C.R. (2013). Formulasi Tablet Effervescent dari Ekstrak Kunyit Putih [Curcuma zediaria (Berg.) Roscoe] dengan Konsentrasi Effervescent Mix yang Berbeda. Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Halaman 7.

Cartensen, J.T. (1977). Pharmaceutical of Solid Dosage Form. New York: A Wiley Interscience Publication John Wiley and Son. Halaman 133 – 135. Depkes RI. (1978). Material Medica Indonesia. Jilid IV. Jakarta: Departemen

Kesehatan RI. Halaman 42 – 47.

Depkes RI. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi III. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 7

Depkes RI.(1995). Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Halaman 6 – 7.

Depkes RI. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Halaman 10 – 11.

Fardiaz, S. (1989). Praktek Mikrobiologi Pangan. Lembaga Sumberdaya Informasi. Bogor: IPB Press. Halaman 52.

Gaman, P. M., dan Sherington, K. B. (1992). Pengantar Ilmu Pangan Nutrisi dan Mikrobiologi. Yogyakarta: Gajah Mada Universitas Press. Halaman 43.

Gumay, A. R., dan Noor, W. (2008). Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk) Dosis Bertingkat Terhadap Gambaran Hispatologi Duodenum Tikus Wistar. Artikel Karya Tulis Ilmiah. Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang. Halaman 14.

Harahap, Y.., Dadang, K., dan Indah, W. (2005). Uji Keamanan Sediaan Jadi Ekstrak Kering Daun Jati Belanda (Guazuma umifolia Lamk) Terhadap Fungsi dan Histologi Ginjal Tikus Jantan. Jurnal Bahan Alam.

Hartanto, B. (1986). Fitokimia Daun Jati Belanda (Gauzuma ulmifolia Lamk.)

Tesis. Bandung: ITB. Halaman 31.

Hidayati I.L. (2007). Formulasi tablet effervescent dari ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.).Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Halaman 25-26

Jasaputra, D. K.(2011). Herbal Medichine for Obesity. Jurnal Medical Plants. 1(3): 84-83.

Kemenkes RI.(2011). Formularium Obat Herbal Asli Indonesia. Volume 1. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI. Halaman 64-67.

Lachman, L, Lieberman, H.A., Kaning, J.L.(1994). Teori dan Praktik Farmasi Fisik Edisi III. Jakarta: UI Press. Halaman 715 – 716.

Lieberman, H.A., Lachman, L., dan Schwartz, J.B. (1989). Pharmaceutical Dosage Forms: Tablet. Volume I. New York: Marcel Dekker Inc. Halaman 731.

Mohrle, R.(1989). Effervescent Tablet, in H. A. Lieberman, L. Lachman, and J. B. Schwartz. Pharmaceutical Dosage Form: Tablet. Volume I. Second Edition. New York: Marcel Dekker Inc. Halaman221.

Monica, W.S. & Farida.(2000).Pengaruh Ekstrak Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) terhadap Penurunan Kadar Kolesterol Darah Kelinci.Warta Tumbuhan Obat Indonesia. 6(2): 12-13.

Mun’im, A., dan Hanani, E. (2011). Fitoterapi Dasar. Jakarta: Dian Rakyat. Halaman 240-241.

Parrot, L. (1971). Pharmaceutical Technology. Amerika: Burges Publishing Company. United Stated of America. Halaman 82.

Peter J. V. ST., dan Billintong C. J.(2009). Obesity. Dalam: Pharmacotherapy A Pathopisiologic Approach. Edisi VII. Editor: Joseph T. Dipiro, Robert L. Talbert, Gary C. Yee. San Fransisco Chicago: Mc. Graw Hill. Halaman: 2437-2439.

Pramono, S., Nurwati, S., Sugiyanto.(2000).Pengaruh Lendir Daun Jati Belanda

(Guazuma ulmifolia Lamk.).Warta Tumbuhan Obat Indonesia. 6(2): 14-15. Rangkuti, F. (1977). Riset Pemasaran. Jakarta : PT Gramedia. Halaman: 54.

Rohdiana, D. (2002). Mengenali Teknologi Tablet Effervescent. (online), (http://www.pikiranrakyat.com,. diakses pada Desember 2015)

Rowe, R.C., Sheskey, P.J., dan Quin M. E. (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipients. Sixth Edition. London: Pharmaceutical Press. Halaman: 326- 328.

Saing, M. (2015). Uji Klinis Pendahuluan Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk) pada Penderita Obesitas. Skripsi. Medan: Universitas Sumatera Utara. Halaman: 40.

Siregar, C.J.P., dan Wikarsa, S. (2010). Teknologi Farmasi Sediaan Tablet Dasar- Dasar Praktis. Cetakan II. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Halaman: 416 – 418.

Soekarto, ST. (1981). Penilaian Organoleptik. Bogor: Institut Pertanian Bogor. Halaman: 46.

Suhiarmati dan Herti.(2003). Khasiat dan Manfaat Jati belanda si Pelangsing Tubuh & Peluruh Kolesterol. Jakarta: Agromedia Pustaka. Halaman: 1-45. Sulaksana, J., dan Dadang, I.J. (2005). Kemuning dan Jati Belanda, Budidaya dan

Pemanfaatan untuk Obat. Jakarta: Penebar Swadaya. Halaman: 12, 18, 21. Swarbrik, J. (2007). Encyclopedia of Pharmaceutical Technology. Edisi

III.Volume I. USA: Pharmaceu Tech. Halaman: 1454 – 1464.

Utomo,A.W.(2008).Uji Toksisitas Akut Ekstrak Alkohol Daun Jati Belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.) Pada Tikus Wistar. Karya Tulis Ilmiah.

Fakultas Kedokteran. Semarang: Universitas Diponegoro. Halaman: 5 Voight, R.A. (1995).Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Edisi IV. Yogyakarta:

Universitas Gadjah Mada. Halaman: 159.

Wells, J.I. (1987). Pharmaceutical Preformulation: The Phsicochemical Properties of Drug Substance. New York: John Wiley and Sons. Halaman: 502

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakognosi dan Laboratorium Teknologi Sediaan Farmasi II (Tablet) Universitas Sumatera Utara.

3.2 Alat dan Bahan 3.2.1 Alat

Alat yang digunakan selama penelitian adalah neraca analitik, peralatan maserasi, alat-alat gelas laboratorium, mortir dan stamfer, sudip, spatula, kertas perkamen, aluminium foil, pipet tetes, rotary evaporator, penangas air, oven, cawan,lemari pengering, ayakan mesh 14, 16 dan 40,alat pencetak tablet, stop watch, dan RH meter.

3.2.2 Bahan

Bahan yang digunakan adalah ekstrak daunjati belanda, etanol 70%, etanol 96%, laktosa, asam sitrat, asam tartarat, natrium karbonat, Mg stearat, aspartam, dan HPMC.

3.3 Penyiapan Bahan Tanaman

Penyiapan bahan tanaman meliputi pengambilan bahan tanaman, identifikasi tanaman dan pengolahan bahan tanaman.

3.3.1 Pengambilan bahan tanaman

Metode pengambilan bahan dilakukan secara purposif tanpa membandingkan dengan bahan yang sama dari daerah lain. Daun jati belandadiperoleh dari lingkungan Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

3.3.2 Identifikasi tanaman

Identifikasi tanaman dilakukan di Herbarium Bogoriense Bidang Botani Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Pusat Penelitian Biologi Bogor. 3.3.3 Pengolahan bahan tanaman

Bahan tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalahdaun jati belandayang masih segar. Daun jati belandadipisahkan dari pengotor lain lalu dicuci hingga bersih kemudian ditiriskan dan ditimbang, diperoleh berat basah daun jati belanda. Daun jati belanda lalu dikeringkan dalam lemari pengering sampai daun jati belandakering. Setelah itu simplisia kering dihaluskan menggunakan blender.

3.4Prosedur Karakterisasi Simplisia

Pemeriksaan karakteristik simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik, penetapan kadar air, penetapan kadar sari larut air, penetapan kadar sari larut etanol, penetapan kadar abu total, dan penetapan kadar abu tidak larut asam (Depkes RI, 1995).

3.4.1 Pemeriksaan makroskopik

Pemeriksaan makroskopik dilakukan terhadap daun jati belanda segar dan simplisia dengan cara mengamati bentuk, warna, bau, rasa.

3.4.2 Pemeriksaan mikroskopik

Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia daun jati belanda, diletakkan di atas kaca objek yang telah ditetesi dengan larutan kloralhidrat, dipanaskan di atas lampu spiritus, kemudian ditutup dengan deck glass (kaca penutup), kemudian dilihat di bawah mikroskop.

3.4.3 Penetapan kadar air

Penetapan kadar air dilakukan menurut metode Azeotropi (destilasi toluena). Alat terdiri dari labu alas bulat 500 mL, pendingin, tabung penyambung, tabung penerima 5 mL berskala 0,05 mL, alat penampung dan pemanas listrik. Cara kerja :

Dimasukkan 200 mL toluena dan 2 mL air suling ke dalam labu alas bulat, lalu didestilasi selama 2 jam. Setelah itu, toluena dibiarkan mendingin selama 30 menit, dan dibaca volume air pada tabung penerima dengan ketelitian 0,05 mL. Kemudian ke dalam labu tersebut dimasukkan 5 g serbuk simplisia yang telah ditimbang seksama, labu dipanaskan hati-hati selama 15 menit. Setelah toluena mendidih, kecepatan tetesan diatur lebih kurang 2 tetes tiap detik sampai sebagian besar air terdestilasi, kemudian kecepatan tetesan dinaikkan hingga 4 tetes tiap detik. Setelah semua air terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluena. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit, kemudian tabung penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar. Setelah air dan toluena memisah sempurna, volume air dibaca dengan ketelitian 0,05 mL. Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa. Kadar air dihitung dalam persen (Depkes, RI., 1989).

3.4.4 Penetapan kadar sari larut air

Sebanyak 5 g serbuk simplisia, dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL air- kloroform (2,5 mL kloroform dalam air suling sampai 1 liter) dalam labu bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam, lalu disaring. Sejumlah 20 mL filtrat pertama diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar rata yang telah ditara dan sisa dipanaskan pada suhu 105o C sampai bobot tetap. Kadar dalam persen sari yang

larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan (Depkes, RI., 1989).

3.4.5 Penetapan kadar sari larut etanol

Sebanyak 5 g serbuk simplisia, dimaserasi selama 24 jam dalam 100 mL etanol 96% dalam labu bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam. Kemudian disaring cepat untuk menghindari penguapan etanol. Sejumlah 20 mL filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang berdasar rata yang telah dipanaskan dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. Kadar dalam persen sari yang larut dalam etanol 96% dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan (Depkes, RI., 1979). 3.4.6 Penetapan kadar abu total

Timbang seksama 2 g sampai 3 g simplisia uji yang telah digerus, masukkan kedalam krus platina atau krus silikat, ratakan. Pijarkan hati-hati hingga arang habis, dinginkan, timbang. Jika dengan cara ini arang tidak dapat hilang, tambahkan air panas, saring melalui kertas saring P. Pijarkan sisa dan kertas saring dalam krus yang sama. Masukkan filtrat kedalam krus, uapkan, pijarkan hingga bobot tetap, timbang. Hitung kadar abu terhadap simplisia yang telah dikeringkan diudara (Depkes, RI., 1989).

3.4.7 Penetapan kadar abu tidak larut asam

Abu yang diperoleh pada penetapan kadar abu didihkan dengan 25 ml asam klorida P selama 5 menit, saring melalui penyaring kaca masir atau kertas saring P, cuci dengan air panas, pijar hingga bobot tetap. Hitung kadar abu yang tidak larut asam (Depkes, RI., 1989).

3.5 Pembuatan Ekstrak

Sebanyak 500 g serbuk simplisia Guazuma ulmifolia foliumke dalam botol gelap, tambahkan 3,75 L pelarut etanol 70%. Rendam selama 5 hari sambil sekali- sekali diaduk setelah itu disaring. Ampas yang didapat kemudian diremaserasi dengan 1,25 L pelarut etanol 70% selama dua hari. Filtrat yang diperoleh kemudian dipekatkan dengan rotary evaporatordan kemudian diuapkan di atas penangas air hingga diperoleh ekstrak kental.

3.6Rancangan Formula Tablet

Tablet efervesen dibuat dengan metode granulasi basah sebanyak 5 formula yang masing-masing terdiri dari 100 tablet. Perhitungan komposisi Na bikarbonat dengan asam sitrat dan asam tartrat berdasarkan kesetimbangan reaksi asam basa (Lampiran 9), dimana untuk menetralkan 1 molekul asam sitrat dibutuhkan 3 molekul Na bikarbonat, dan untuk menetralkan 1 molekul asam tartrat dibutuhkan 2 molekul Na bikarbonat (Ansel, 1989).

Ekstrak yang digunakan berdasarkan perhitungan:

200 mg/kg BB tikus (Utomo, 2008) dikonversi ke BB manusia = 56,1 (Lampiran 6)

200 x 0,2 = 40 x 56,1 = 2244 : 70 = 32,0571 mg/kg BB manusia Rata-rata BB manusia = 50 kg

32,0571 mg/kg BB x 50 kg = 1602,85 mg ≈ 1,6 g ekstrak 3.6.1. Formula tablet effervesen ekstrak jati belanda

Formula tablet efervesen yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan formula dasar dari Barus (2013), yang kemudian dimodifikasi.

R/ Ekstrak 3,5 % Asam sitrat X Asam tartrat Y Natrium bikarbonat Z Pemanis 2% PVP 3% Mg stearate 1,5 % Laktosa q.s ad 100%

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa variasi konsentrasi sumber asam dan basa memberikan pengaruh yang nyata terhadap respon nilai kekerasan, keregasan, penampilan dan waktu larut. Pada penelitian ini dilakukan modifikasi terhadap ekstrak dan pengikat yang digunakan. Menurut Pharmaceutical Technology Report, dengan tekanan kompresi yang sama bahan pengikat HPMC menghasilkan tablet yang memiliki kerapuhan yang lebih baik jika dibandingkan dengan tablet yang menggunakan PVP.

R/ Ekstrak kering jati belanda 500 mg

Asam sitrat X Asam tartrat Y Natrium bikarbonat Z Aspartam 2% HPMC 3% Mg stearate 1,5 % Laktosa q.s ad 2000 mg

Keterangan : X, Y, Z = Perbandingan konsentrasi sumber asam dan basa • X= (X1= 75, X2= 100, X3= 150, X4= 200, X5= 250) • Y= (Y1= 125, Y2= 200, Y3= 250, Y4= 300, Y5= 350) • Z= (Z1= 230, Z2= 350, Z3= 460, Z4= 580, Z5= 690)

Formula tablet efervesen ekstrak jati belanda untuk masing-masing formulasi disajikan pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Formula tablet efervesenekstrak daun jati belanda

Bahan (mg) F1 (mg) F2 (mg) F3 (mg) F4 (mg) F5 (mg) Ekstrak kering daun jati

belanda Asam sitrat Asam tartrat Natrium bikarbonat Aspartam HPMC Mg stearat Laktosa 500 75 125 230 40 60 30 940 500 100 200 345 40 60 30 725 500 150 250 460 40 60 30 510 500 200 300 580 40 60 30 290 500 250 350 690 40 60 30 80 Total 2000 2000 2000 2000 2000

Keterangan : F1 = formulasi dengan konsentrasi sumber asam 10% F2 = formulasi dengan konsentrasi sumber asam 15% F3 = formulasi dengan konsentrasi sumber asam 20% F4 = formulasi dengan konsentrasi sumber asam 25% F5 = formulasi dengan konsentrasi sumber asam 30% 3.6.2 Pembuatan ekstrak kering jati belanda

Ekstrak kental daun jati belanda dikeringkan dengan laktosa dengan perbandingan 1:8 sampai ekstrak berbentuk serbuk, lalu diayak dengan ayakan 40 mesh dan kemudian dikeringkan di lemari pengering ± 18 jam.

3.6.3 Fase dalam formulasi tablet effervesen jati belanda 1. Bagian basa

Setengah bagian ekstrak kering, setengah bagian laktosa, digerus dalam lumpang sampai homogen. Ditambahkan natrium bikarbonat, setengah bagian aspartam dan setengah bagian HPMC, dicampur dalam lumpang hingga homogen, ditambahkan etanol 96% tetes demi tetes sehingga membentuk massa yang kompak lalu diayak dengan pengayak 14 mesh dan dikeringkan pada lemari pengering. Kemudian diayak lagi dengan pengayak 16 mesh.

2. Bagian asam

lumpang sampai homogen. Ditambahkan asam sitrat sedikit demi sedikit sambil digerus homogen dan ditambahkan asam tartrat, aspartam dan setengah bagian HPMC, digerus sampai homogen. Ditambahkan etanol 96% tetes demi tetes sehingga membentuk massa yang kompak lalu diayak dengan pengayak 14 mesh dan dikeringkan pada lemari pengering. Kemudian diayak lagi dengan pengayak 16 mesh.

3.6.4 Fase luar formulasi tablet efervesen

Fase luar terdiri dariMg stearat sebagai pelicin yang dicampurkan dalam bagian asam dan basa yang telah kering dan siap dicetak.

3.7 Uji Preformulasi

Uji preformulasi yang dilakukan adalah penentuan sudut diam granul, penentuan waktu alir granul dan penentuan indeks kompresibilitas.

3.7.1 Penentuan sudut diam granul

Penentuan sudut diam dilakukan dengan menggunakan corong flowmeter. Sebanyak 100 g granul dimasukkan ke dalam corong, permukaannya diratakan, lalu penutup bawah corong dibuka dan dibiarkan granul mengalir melalui corong dan ditentukan besar sudut diamnya dengan rumus sebagai berikut :

tg � =

2ℎ � Keterangan :

� = sudut diam

h = tinggi tumpukan granul (cm)

d = diameter tumpukan granulgranul (cm) Syarat: 200<�< 400 (Cartensen, 1977).

3.7.2 Penentuan waktu alir granul

Ditimbang 100 g granul, kemudian dimasukkan ke dalam corong yang telah dirangkai kemudian permukaannya diratakan. Penutup bawah dibuka bersamaan dengan dihidupkan stopwatch. Stopwatch dihentikan tepat pada saat granul habis melewati corong dan dicatat waktu alirnya. Persyaratan dari waktu alir granul yaitu sama dengan atau lebih kecil dari 10 detik (Voight, 1995).

3.7.3 Penentuan indeks kompresibilitas

Dimasukkan granul ke dalam gelas ukur sampai garis tanda dan dinyatakan sebagai volume awalnya (V1), kemudian gelas ukur dihentakkan

sebanyak 20 kali sehingga diperoleh volume akhir (V2) yang konstan.

Indeks tap dinyatakan dengan rumus : Indeks kompresibilitas = V1-V2

V1 x 100%

Keterangan : Vo = Volume awal

Vk = Volume setelah ketukan

Syarat indeks tap yaitu sama atau lebih kecil dari 20% (Voight, 1995). 3.8 Proses Pencetakan Tablet

Granul kering dari komponen asam dan komponen basa dicampur lalu ditambahkan fase luar dan dihomogenkan. Massa granul dicetak menjadi tablet dengan berat 2000 mg dan diameter 20 mm.

3.9 Evaluasi Tablet Efervesen

Evaluasi tablet yang dilakukan adalah pemeriksaan penampilan tablet, keseragaman bobot, kekerasan tablet, friabilitas, waktu larut, nilai pH, dan kadar air.

3.9.1 Pemeriksaan organoleptis

Tablet yang dihasilkan dinilai bentuknya secara keseluruhan meliputi warna, baudan rasa.

3.9.2 Keseragaman bobot

Penetapan keseragaman bobot dilakukan dengan cara:

Diambil 20 tablet kemudian ditimbang. Kemudian ditentukan bobot rata- rata tiap tablet. Persyaratan keseragaman bobot dapat dilihat pada Tabel 2.2.

%Deviasi= Bobot tablet-Bobot rata-rata

Bobot rata-rata ×100% Tabel3.2.Tabel persyaratan keseragaman bobot

Bobot Rata-Rata Penyimpangan

A B

25 mg atau kurang 15% 30%

26 mg s/d 150 mg 10% 20%

151 mg s/d 300 mg 7,5% 15%

Lebih dari 300 mg 5% 10%

Persyaratan: Jika ditimbang satu-persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet menyimpang dari bobot rata-rata dari harga yang ditetapkan pada kolom A dan tidak boleh satu tablet pun yang menyimpang dari bobot rata-rata dari harga yang ditetapkan pada kolom B.Jika tidak mencukupi 20 tablet, dapat digunakan 10 tablet dengan persyaratan: tidak satu tablet pun yang bobotnya menyimpang lebih besar dari bobot rata-rata yang ditetapkan pada kolom A dan kolom B (Depkes RI, 1979).

3.9.3 Kekerasan tablet

Kekerasan tablet dikur dengan menggunakan alat tablethardness testerdengan cara: diambil tablet, masing-masing diletakkan pada tempat yang tersedia pada alat dengan posisi tidur, alat diatur, kemudian ditekan tombol start. Pada saat tablet pecah angka yang tertera pada layar digital dicatat. Percobaan ini

dilakukan untuk 5 tablet.Umumnya kekuatan tablet berkisar 4 – 8 kg (Lachman, dkk, 1994).

3.9.4 Keregasan tablet

Ditimbang 20 tablet yang telah dibersihkan dari debu (W1) kemudian dimasukkan 20 tablet tersebut ke dalam alat penguji friability,dan diatur kecepatan 25 rpm selama 4 menit (100 kali putaran). Dikeluarkan tablet, bersihkan dari debu dan timbang kembali (W2). Hitung selisih berat sebelum dan sesudah perlakuan.

F = �1−�2

�1 � 100%

Kehilangan berat kurang dari 1% masih bias dibenarkan (Lachman, dkk, 1994).

3.9.5 Uji waktu larut

Satu tablet dimasukkan ke dalam beker gelas yang berisi akuades 200 ml. Amati waktu yang diperlukan tablet hingga larut sempurna.

3.9.6 Kadar air

Bahan sebanyak 2 g yang telah digerus dan ditimbang, dimasukkan ke dalam cawan porselin yang telah ditara kemudian diratakan. Cawan kemudian dimasukkan ke dalam oven selama 3 jam, ulangi pengerjaan sampai didapatkan bobot tetap. Kadar air dihitung terhadap sampel.

Kadar air = berat awal − berat akhir

berat awal x100%

3.10Uji akseptabilitas

Uji akseptabilitas merupakan uji penerimaan yang merupakan uji pendahuluan terhadap suatu produk yang akan dipasarkan. Apakah produk tersebut dapat diterima konsumen atau tidak. Uji ini dilakukan dengan meminta tanggapan dari responden terhadap produk dengan beberapa kriteria. Jumlah

responden dalam penelitian ini adalah 30 responden yang dipilih secara acak dengan rentang usia 20-24 tahun (Rangkuti, 1977). Responden akan diminta memberikan tanggapan terhadap kelima formula tablet efervesen yang telah dilarutkan, lalu responden diminta memberikan pendapat terhadap penampilan, rasa, dan aroma dari formula berdasarkan selera panelis pada kuesioner yang tersedia. Nilai tanggapan terhadap penampilan, rasa dan aroma berdasarkan rating

yang telah ditentukan. Hasilnya kemudian diuji secara statistik menggunakan program SPSS.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Identifikasi Tumbuhan

Tumbuhan yang digunakan diidentifikasi di Herbarium Bogoriense Pusat Penelitian Biologi-LIPI Bogor. Hasil identifikasi tumbuhan yang diteliti adalah daun jati belanda (Guazuma ulmifolia Lamk.), suku Sterculiaceae (Lampiran 1). 4.2 Hasil Uji Karakterisasi Simplisia

Hasil dari pengujian karakterisasi simplisia daun jati belanda dapat dilihat pada Tabel 4.1

Tabel 4.1 Hasil uji karakterisasi simplisia daun jati belanda

Karakteristik Serbuk daun jati belanda (%)

Depkes RI, 1978 (%) Kadar air

Kadar sari larut air Kadar sari larut etanol Kadar abu total

Kadar abu tidak larut asam

5,50 25,68 16,55 6,61 0,97 Maks. 10 Min. 7,2 Min. 3,7 Maks. 10,4 Maks. 2,3 Kadar air yang terkandung dalam bahan cukup rendah yaitu 5,50%. Kadar air yang tinggi akan menyebabkan bahan menjadi mudah rusak ketika disimpan karena adanya pertumbuhan mikroba dan aktivitas enzim penyebab kerusakan. Batas kadar air minimal dimana mikroba masih dapat tumbuh adalah 14-15% (Fardiaz, 1989).

Hasil analisis kadar abu yang diperoleh juga cukup rendah yaitu sebesar 6,61%. Kadar abu merupakan parameter yang menunjukkan banyaknya bahan anorganik yang terdapat dalam bahan (Apriyantono, dkk, 1989). Pengujian kadar abu tidak larut asam dilakukan untuk melihat adanya kandungan mineral yang

tidak larut asam (HCl). Hasil pengujian menunjukkan bahwa kadar abu tidak larut asam dalam bahan sesuai dengan kriteria mutu (tidak lebih dari 2,3%) yaitu sebesar 0,97%.

Hasil pengujian kadar sari yang larut dalam air sebesar 25,68%, dan nilai tersebut sesuai dengan kriteria mutu yang ditentukan yaitu tidak kurang dari 7,2%. Pada pengujian kadar sari yang larut etanol didapatkan nilai sebesar 16,55%. Nilai tersebut juga sesuai dengan kriteria mutu yang ditetapkan yaitu tidak kurang dari 3,7%. Kadar sari yang larut dalam air atau alkohol menunjukkan adanya zat berkhasiat yang dapat terlarut dalam pelarut yang digunakan. Semakin tinggi kadar yang dihasilkan berarti semakin tinggi kandungan zat berkhasiatnya (Gaman dan Sherington, 1992).

4.3 Hasil Ekstraksi Daun Jati Belanda

Hasil penyarian 500 g serbuk simplisia daun jati belanda dengan pelarut etanol 70% secara maserasi diperoleh ekstrak cair yang kemudian diuapkan dengan rotary evaporator. Ekstrak kental yang diperoleh adalah sebesar 58,74 g dengan randemen 11,74%.

4.4 Hasil Uji Preformulasi

Dosis yang dibutuhkan untuk manusia seharusnya adalah 1,6 g, namun karena keterbatasan fasilitas laboratorium dimana hanya terdapat diameter cetakan dengan bobot 2000mg sehingga peneliti merencanakan tablet efervesen untuk tiga kali minum dimana setiap tablet mengandung ekstrak 500 mg.

Hasil untuk uji preformulasi dari kelima formula dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Uji preformulasi dari lima formula

Formula Waktu alir (detik) Sudut diam (o) Kompresibilitas (%)

F1 3,30±0,10 27,33±1,34 7,023±1,00 F2 3,11±0,14 27,9±1,79 8,1±1,1 F3 3,17±0,05 27,30±0,64 8,42±1,6 F4 3,18±0,06 27,55±0,51 7,10±0,89 F5 3,15±0,08 29,12±1,03 8,46±1,61 Syarat < 10 20 – 40 < 20

Berdasarkan hasil yang tercantum pada tabel di atas, hasil uji preformulasi dari ketiga formula sediaan yaitu uji waktu alir, indeks tap dan sudut diam memenuhi persyaratan.

4.4.1 Waktu alir

Granul yang baik adalah granul yang seragam ukurannya dan berbentuk bulat. Kesempurnaan aliran akan menghasilkan bentuk dan bobot yang seragam dari tablet (Lachman, dkk., 1994). Hasil penelitian untuk kecepatan alir masing- masing formula yaitu FI (3,30±0,10), FII (3,11±0,14), FIII (3,17±0,05), FIV (3,18±0,06), dan FV (3,15±0,08)yang dapat dilihat pada Gambar 4.1 Hasil ini termasuk ke dalam sifat alir yang baik dimana syarat untuk waktu alir granul adalah kurang dari 10 detik.

Hasil analisis ANOVA (Lampiran 12a) menunjukkan bahwa pada respon pengukuran kecepatan alir dengan variasi konsentrasi sumber asam yang berbeda pada formula tidak memberikan pengaruh nyata terhadap waktu alir dengan p= 0,242 (p > 0,05). Semakin pendek waktu alirnya maka akan mempermudah proses transportasi bahan terhadap alat cetak (Wells, 1987).

Gambar 4.1Histogram uji waktu alir granul Keterangan : F1 = formulasi dengan konsentrasi sumber asam 10%

F2 = formulasi dengan konsentrasi sumber asam 15% F3 = formulasi dengan konsentrasi sumber asam 20% F4 = formulasi dengan konsentrasi sumber asam 25% F5 = formulasi dengan konsentrasi sumber asam 30% 4.4.2 Sudut diam

Sudut diam merupakan sudut tetap yang terjadi antara timbunan partikel bentuk kerucut dengan bidang horizontal bila sejumlah serbuk atau granul dituang dalam alat pengukur (Lachman, dkk 1994). Besar kecilnya sudut diam dari timbunan tersebut dipengaruhi oleh bentuk, ukuran, dan kelembaban granul.

Dokumen terkait