BAB III METODE PENELITIAN
Lampiran 4. Hasil Wawancara dengan Guru Kelas
HASIL WAWANCARA I DENGAN GURU KELAS Narasumber : Ibu DM
Hari, tanggal : Selasa, 9 Desember 2014 Waktu : 9.20
Tempat : Ruang Kelas Tekstil
Peneliti : “ND kalau di sini bisa mengikuti bu?”
Narasumber : “Bisa, tapi kalau menghitung kayak matematika harus didampingi”
Peneliti : “Kalau waktu mengerjakan tugasnya dia itu seperti apa?
Narasumber : “Kalau istilahnya nggak kumat, ya itu biasa. Tapi kalau udh tantrum itu, apalagi kalau ada bunyi. Kalau pas baru tenang seperti ini lalu tiba-tiba ada bunyi langsung keluar nyari bunyinya itu.”
Peneliti : “ND itu menyelesaikan membuat batik ikat jumputan.” Narasumber : “Semester ini.”
Peneliti : “Jadi, waktu saya kesini, waktu ND baru menali kain itu.”
Narasumber : “Yang itu malah semester dulu yang belum di warna. Soalnya tak teliti dulu to sebelum di warna, kurang sedikit tak telitinya. Tak teliti talinya malah belum di warna. Satu semerter 1.”
Peneliti : “Satu semerter itu satu kain.” Narasumber : “Iya satu.”
Peneliti : “Untuk semester depan masih sama?”
Narasumber : “Tetap tali-tali karena memang kemampuannya, tapi buat apa lagi.”
Peneliti : “Motifnya beda mungkin ya bu, ya?”
Narasumber : “Ho’o, motifnya beda bentuknya beda, bendanya beda tapi tekniknya tetap sama tetap ikat.”
Peneliti : “ND itu kalau misalkan disuruh itu langsung responya langsung cepat atau bagaimana?”
Narasumber : “Cepet, tapi kadang diem dulu. Nggak mestilah, tergantung moodnya, tapi diperintah itu bisa cuman kalau pas tantrum itu, teriak-teriak, nangisnya nangis betlan samapi keluar air mata.” Peneliti : “Kalau waktu seperti itu kalau disuruh nggak mau
93 mengerjakan?”
Narasumber : “Mau sebentar terus keluar, tapi kadang dari rumah juga udah begitu.”
HASIL WAWANCARA II DENGAN GURU KELAS Narasumber : Ibu DM
Hari, tanggal : Rabu, 10 Desember 2014 Waktu : 07.15
Tempat : Ruang Kelas Tekstil
Peneliti : “Begini, bu mau tanya, saya diberi tahu oleh pengajaran kalau ndaru itu pindahan. Kalau dari bu eni pernah memberitahu saya kalau masuk ke kelas keterampilan ini ada rekomendasi dari guru sebelumnya, rekomendasi ortu dan minat anak. karena rekomendasi guru sebelumnya tidak mungkin. Untuk rekomendasi ortu sudah saya tanyakan. Begini ibu untuk mengetahui minatnya ndaru itu dulunya gimana? Apakah ada tes atau hanya observasi saja?”
Narasumber : “Kalau di sini observasi. Tapi kan dengan melihat data sebelumnya yang sudah ada.”
Peneliti : “Data sebelumnya yang sudah ada itu maksduna?” Narasumber : “Data dari psikolog, data pribadi.”
Peneliti : “Kalau baru, prosesnya bagaimana bu, untuk bisa masuk kelas keterampilan. Tentunya beda antara anak2 yang dari SD nya di sini, kalau untu ndaru bagaimana?”
Narasumber : “Karena di sini ada 9 keterampilan dan kalau SLB itu kan cenderung banyak keterampilannya. Jadi dirahkan observasinya itu ke arah ketrampilan dari 9 itu dijajaki dari satu keterampilan. Misalnya TI, sebetulnya ndaru itu bisa di TI tapi ortu memikirkan besuk kalau lulusnya, di TI kalau sudah lulus mau di apa untuk keterampilan dia. Sebetulnya untuk TI dia mampu, dudlu pernah belajar komputer dan punya sertifikat itu. Itu dari ortu sudah ndak minat ke sana, saya juga sudah menyarankan tapi ortu memikirkan besuk kalau sudah lulus. Trus di coba jahit- menjahit.”
Peneliti : “Di busana atau di tekstil?”
94
mesin. Nah kalau kayu kan nggak mungkin laki2, kalau di otomotif juga nggak mungkin. Di keramik juga dicoba. Di keramik di coba-coba menekantanah liat, untuk motoriknya pake cetakan itu.”
Peneliti : “Jadi mencoba mencetak tanah liat, jadi tanah liat di kasih cetakan trus ditekan-tekan itu.”
Narasumber : “Ndaru itu tangannya nggak mantep kalau pegang-pegang tanah. Kalau nulis saja pegangganya kayak ngambang, termasuk nali- nali itu juga kurang kecang kalau nggak di bimbing. Jadi udah dicoba ke mana-mana. Di tekstil juga sudah di coba pertama membuat garis, menggambar semmapu dia. Trus tak ajari jelujur, mewarna. Tapi cenderung untuk saat ini, cenderung jelujurnya sudah bisa dan dari Sdnya itu dari dulu dia memang punya keterampilan origami-melipat. Kalau di boga yang belum di coba, tapi kalau di bina diri kurang. Ya mungkin karna anak seperti ini harus singkron antara di sekolah dan di rumah. Kalau di rumah nggak di bimbing kan sama saja. Seperti menggoreng, cuci piring itu juga harusnya dirumah juga di latih. Paling tidak untuk anak bisa sendiri, harus kontinyu.”
Peneliti : “Oh ya bu, kemarin sempat tanya-tanya ke bu eni. Bagaimana langkah selanjutnya setelah dari rekomendasi ortu sudah tau langkah selanjutnya itu bagaimana?”
Narasumber : “Kalau sudah tau kemampuan anak, kita sudah observasi.” Peneliti : “Maksdnya dari awalnya misalkan kanndaru masuk, nah kan
mengisi formulir sebagai murid baru. Itu ngisi formulirnya apa saja bu, kalau ibu masih ingat.”
Narasumber : “Ya ada data pribadi seperti dari psikolog kalau belum punya, iq. Di sarankan ke pskolog.”
Peneliti : “Kan mau masuk SMP, kalau SMP di sini sdah keterampilan. Berarti mengisi formulirnya da yang menjurus ke arah pilihan keterampilan gitu nggak bu?”
Narasumber : “Ada, misalna keinginan ortu. Diantara itu ada pilihan. Anati ortu mengisi. Melalui observasi itu kita tahu anak cenderung di mana.”
Peneliti : “Observasiya berapa bulan?” Narasumber : “Ya 3 bulan paling lama.”
Peneliti : “Kalau dulu ibu ingat, ortunya ndaru merekomendasikan apa?” Narasumber : “Duh lupa, tapi ortunya ndaru cenderung millih di sini karena
sudah di observasi dengan belajar njelujur, bisa berbentuk benda nah itu ortunya cenderung milih disini.”
95
Peneliti : “Karena sudah ada wujud bendanya.”
Narasumber : “Iya. Dulu pertama sdah tak sarankan ke TI, kedua tak sarankan ke sekolah yang lebih fokus ke anak-anak autis agar lebih bisa di tangani kalau di sekolah khusus. kalau disini kan anak banyak gini kalau untuk enangani satu anak, nanati anak yang lain kan keteteran. Juga disin kan nggak ada pungutan, kalau sekolah di yang khusus kan biayanya banyak. Jadi sudah tak sarankan di sekolah khusus tapi mintanya di sini.”
Peneliti : “Bu, sebelum observasi, apakah ada case conference dulu antara ibu dan ortu?”
Narasumber : “Nggak ada case conference, cuman waktu pasa daftar. Itu biasanya ke seluruh sekolah ada penjelasan dari kepsek, dari bengkel. Kalau khusus ortu itu kalau sudah khusus, ibu minatnya di mana hasilnya begini-begini.”
Peneliti : “Itu pas kapan, bu?” Narasumber : “Setelah observasi.” Peneliti : “Di waktu sendiri?”
Narasumber : “Berjalannya obsevasi kan kelihatan. Ini menurut obbervasi anak cenderung ini, gimana menurut ibu.”
Peneliti : “Jadi selama berlangsungnya observasi, hasil observasi itu selalu dikomunikasikan kepada orangtua. Jadi ortu tahu pasnya anaknya di sini.”
Narasumber : “Termasuk ndaru tu kemarin ada kerjaan dari sini, ibunya minta di bawa ke rumah untuk kegiatan di rumah kayak PR, karenakan ortu seperti ini itu bingung mau ngasih kegiatan anak, bingung di kasih apa.”
Peneliti : “Jadi ketika sudah di keterampilan dan diberi PR tentang keterampilan itu malah bermanfaat ya bu?”
Narasumber : “Iya, termasuk hanya menggambar di kertas. Awalnyakan menggambar di kertas trus ditebalkan pakai spidol, nggambar seperti itu. Kalau pekerjaan, misalnya ini kain sudah diberi pola dan di kasih satu contoh nanti saya bawakan alat dan bahan trus di bawa ke rumah kalau pas libur, nggak libur aja kadang iya. Nah ya karena itu tadi ortunya bingung mau kasih kegiatan.” Peneliti : “Jadi ketika memasukkan ndaru di keterampilan tekstil ini sudah
kesepakatan dengan ortu juga ya?”
Narasumber : “Termasuk memang ortunya pengen di sini. Dah tak sarankan ke yang lain. Ya itu tadi agar dia punya kegiatan.”
96
Narasumber : “Iya, bukan bekerja mencari nafkah tetapi paling tidak dia punya kegiatan, punya kesibukan.”
Peneliti : “Daripada menganggur, begitu bu?”
Narasumber : “Iya, kan kalau di rumah nggak ada kegiatan malah cuman jondel2, apalagi kalau lagi tantrum nggak mood gitu. Tapi kalau termasuk sosialisasinya gitu juga cukup bagus, bisa berteman dengan yang lain, termasuk kalau diajak keluar sok belajar diluar itu juga anteng. Atau mungkin itu bisa jadi hiburan.”
Peneliti : “Jadi case conferncenya secara umum saja ya bu?”
Narasumber : “Kalau case conference dulu ada itu programnya BP, kalau sekarang.”
Peneliti : “Kalau waktuwaktu ndaru masuk di sini apakah ada case conference seperti yang dikemukakan ibu?”
Narasumber : “Nggak ada. Ya itu paling penjelasan umum dari kepsek.” Peneliti : “Jadi ortu diundang ke sini, di jelaskan secara umum misalkan
yang mau masuk SMP, program keterampilannya apa saja.” Narasumber : “Iya itu yang secara umum dari kepsek dan dari bengkel.”
HASIL WAWANCARA III DENGAN GURU KELAS Narasumber : Ibu DM
Hari, tanggal : Sabtu, 13 Desember 2014 Waktu : 08.07
Tempat : Ruang Kelas Tekstil
Peneliti : “Bu, dulu waktu semester satu, perilakunya ndaru seperti itu atau lebih parah lagi?”
Narasumber : “Yang teriak2 karena usia dan masa2 puber, hanya kadang2. Tapi atau mungking karena dulu saya kurang memperhatikan. Taunya kan waktu dia sudah di sini.”
Peneliti : “Iya, waktu semester awal itu gimana bu?”
Narasumber : “Nek waktu masih observasi itu dulu ndak, atau karena belum tau aslinya. Tapi masih terkendali kok, nggak membahayakan. Tapi kalau pas udah denger suara itu atau pas nggak mood sudah dari rumah atau sakit perut pas mens.”
Peneliti : “Kalau dulu sering keluar kelas?”
Narasumber : “Lebih sering dulu, kalau sekarang cuma sampai depan kelas trus masuk. Kalau dulu baru masuk kelas sudah langsung keluar.
97
Makanya ibunya dulu saya minta mendampingi tapi jangan terlalu dekat dan juga terlalu jauh.”
HASIL WAWANCARA IV DENGAN GURU KELAS Narasumber : Ibu DM
Hari, tanggal : Sabtu, 13 Desember 2014 Waktu : 10.35
Tempat : Ruang Kelas Tekstil
Peneliti : “Bu, ndaru kalau setelah melakukan pekerjaan apakah selalu membereskan perlatan atau perlu disuruh dulu?”
Narasumber : “Kadang-kadang kalau lihat teman-temannya beres-beres dia ikutan, tapi kadang-kadang perlu diingatkan. Kalau diingatkan langsung dikerjakan. Kalau mau istirahat, dia langsung keluar tanpa membereskan.”
HASIL WAWANCARA V DENGAN GURU KELAS
Narasumber : Ibu DM
Hari, tanggal : Rabu, 7 Januari 2015 Waktu :08.00
Tempat :Ruang Kelas Tekstil
Peneliti : “Ibu, dikelas tekstil itu terdiri dari kelas berapa saja dan ada berapa anak?”
Narasumber : “Saya memegang 3 anak, 1 SMP dan 2 SMA. Bu Eni 3 anak, 1 SMA, 2 SMP dan Pak Paidi 2 anak dan keduanyan SMP.”
98
Lampiran 5. Hasil Wawancara dengan Wakil Kepala Sekolah Urusan Sentra PK-