BAB III METODE PENELITIAN
Lampiran 3. Hasil Wawancara dengan Kepala Sekolah
DENGAN KEPALA SEKOLAH Narasumber : Bapak RK
Hari, tanggal : Senin, 1 Desember 2014 Waktu : 07.45-08.02
Tempat : Ruang Kepala Sekolah
Peneliti : “Penetuan jenis keterampian kerjanya itu bagaimana bapak? Apakah sudah ada sejak sekolah ada atau pada tahun berapa?” Narasumber : “Untuk sembilan keterampilan kerja itu sidah ada sejak lama ya.
Bukan mulai sekolah ini di bangun tetapi sudah lama sudah pulihan tahun. Untuk yang lebih mengetahui ibu bu eni. Saya masuk sini tahun 2009 sudah ada itu dan sudah lama adanya. Kemudian setelah saya masuk sini, 9 itu saya anggap sebagai induk-induk saja. Tapi prinsip layanan bukan anak dipaksakan ke sembilan itu mudah-mudahan yang 9 itu sudah bisa merangkum. Tapi kalaupun ada anak-anak yang kebutuhan pingin trampil di bidang yang lain akan kami fasilitasi.”
Peneliti : “Bapak di sini kan tahun 2009, mungkin sudah diberi tahu proses berdirinya keterampilan kerja.”
Narasumber : “Prosesnyaitu kan doping dari jakarta dalam rangka SLB negeri Pembina sebagai sekolah sentra trus kemudian fokusnya sentra itu adalah untuk kemandirian dimana anak memiliki bekal keterampilan yang cukup sehingga nantinya bisa mandiri.” Peneliti : “Apakah ana studi kelayakan? Seperti keterampilan ini memanng
layak untuk anak tunagrahita?”
Narasumber : “Studi mungkin secara umum, secara nasional. Karena di sini ada salon kecantikan yang menurut saya kurang tepat. Jadi salah satuya programnya sama setiap propinsi mungkin ada.”
Peneliti : “Di sini kan memang basicnya melayani anak tunagrahita?” Narasumber : “Iya dari awal.”
Peneliti : “Nah di sini kan ada anak autis seperti ND. Apakah menurut bapak keterampilan kerja yang ada di sini sudah memang sesuai atau mungkin butuh adaptasi sehingga ND bisa ikut masuk di dalam kelas ini?”
Narasumber : “Jadi kembali ke siapa dan memilih keterampilan apa, itu sebenarnya sangat individual. Jadi misalkan kenapa ND bisa masuk di sini bukan berarti dia harus bisa menguasai. Dia di
87
batik ya, harus bisamenguasai keterampilan di tekstil seperti yang lain, tidak. Ukuran kompetensi yang akan dimiliki itu akan beda-beda masing-masing anak sesuai dengan kemampuannya itu. Contoh ND, autis itu tidak memaksakan dia unt bisa membatik sampai mencelup bukan itu, bagaimana dia punya aktifitas, bisa beradaptasi dengan teman-temannya. Lalu pelan- pelan mencari yang diminati, yang terkait dengan tekstil di situ apa yang dia bisa kuasai. Contoh lain, alvin yang di keramik takut tanah, kemana-mana gak cocok, tapi dia bisa di situ.” Peneliti : “Meskipun dia takut dengan tanah?”
Narasumber : “Iya, gurunya tidak kurang akal, kita kan harus melayani akhirnya menemukan satu keterampilan. Alvin itu senang bikin bonek-bonekaan dari pensil trus di atas ada bolanya. Itu pakai jahit-menjahit dengan tangan. Yaitulah spesifiknya alvin ya seperti itu. Ya disinilah dimana anak punya kegiatan, merasa dirinya berharga seperti dengna teman-temannya. Jadi hambatan- hambata anak tunagrahta khususnya dalam hal kemandirian dan beradaptasi. Nah bagaimana kita menfasilitasi supaya anak-anak itu lebih mudah beradaptasi, lebih mudah percaya diri.”
Peneliti : “Itu apakah juga termasuk untuk ND?”
Narasumber : “Ya, anak-anak autis hampir sama apabila perilaku-perilakunya bisa di atasi nanti jatuhnya iqnya hampir sama dengan anak tunagrahita. Banya juga anak autis yang. Ini fokus penelitiannya ke ND?”
Peneliti : “Iya pak.”
Narasumber : “Kemudian autis sendiri tidak sama, ada hari, autis yang bisa bordir. Mungkin bisa jadi perbandingan kenapa anak autis bisa berkembangan. Juga tidak boleh di samankam, misalnya di semarag anak autis bisa hafal sembilan lagu. Itu tidak bisa di samakan, mungkin ada anak autis yang tidak bisa bernyanyi, lagu saja tidak hafal tetapi dalam menjahit seperti hari ini bisa karena membentuk. ND beda lagi, ada keunikan sendiri si ND jadi beda- beda.”
Peneliti : “Pogram yang ada di sekolah studi kelayakan secara nasional.” Narasumber : “Pengadaannya dulu, tetapi yang ada sekarang itu sebagai induk-
induknya saja. Untuk anaknya kami studi keluar. Contoh otomotif, otomotif dulu isinya bongkar-bongkar mesin. Kami evaluasi unt anak tunagrahita ringan boleh. Untk atg sedang kami ambil spek buka cuci, itu sederhana, jika dilatih terus menerus itu bisa dan hasilnya sudah terbukti di depan. Sebenarnya untuk pembelajaran, kami tidak berkahir di sana tapi di tempat-tempat
88 usaha.”
Peneliti : “Terimaksaih bapak, saya sudah cukup jelas bahwa, keterampilan kerja yang ada berasal dari pusat kemudian dievaluasi kembali.”
Narasumber : “Iya disesuaikan dengan kebutuhan anak. dan walaupun di tekstil ada 12 anak itu beda-beda. Mungkin si ND, gambar di kertas dulu seperti itu. Jadi fungsinya tidaksemua diberikan tetapi sebagai bentuk terapi. Kami juga tidak bisa memilih ini anak yang bisa dikembangkan tapi semua kan diterima dan di dalm akan di susun kebutuhan. Jadi individual.”
Peneliti : “Evluasi program setiap kapan?”
Narasumber : “Evalusi ya dari setelah diberikan pas apa enggak.” Peneliti : “Jadi selama prosesnya?”
Narasumber : “Iya”
Peneliti : “Jadi setelah anak masuk di evaluasi terus-terus”
Narasumber : “Kalo dibatik enggak, yang saya nganjel itu untk atg yang salon, salon tu cocoknya unt atr. Kami akan mengembangkan mungkin khusus atr jadi kami juga menerima atr. Kalo yang lain sya mempertahankan tetep unt atg. Karna atg itu yang paling rendah tingkat kemandiriannya.”
Peneliti : “Apakah ada Evaluasi besar diakhir tahun tentang pelaksanaan atau kelayakan.”
Narasumber : “Ada. Kami evaluasi tidak hanya di, kami lakukan evaluasi itu lulusan.”
Peneliti : “Maksudnya bagaimana?”
Narasumber : “Lulusan kita itu bekerja atau tidak.”
Peneliti : “Jadi dari lulusan itu, kalo misalnya lulusan bekerja berarti keterampilan kerja yang diberikan dianggap sesuai?”
Narasumber : “Selama ini enggak, kalo mau menceritakan tentang sekolah ini panjang harus cerita dari awal. Ini, dulu Cuma sampai lulus sekolah saja, dulu bangga telah meluluskan. Itu hal yang mudah 6 tahun sd, 3 tahun smp, 3 tahun sma lulus selesai. Tapi kita melilhat kebermaknaan pendidikan selama ini ada nggak di masyarakat dan keluarga. Sehingga ini kita bawa dan kita buat, setelah dua tahun ada pemantapan dunia kerja melalui magang, membentuk program kerja dan didampingi, tetep.”
89
Peneliti : “Jadi selama SMP dan SMA mereka dapat keretampilan sebagai dasarnya saja ya pak?”
Narasumber : “Sudah mulai kearah mahir bagi yang mampu, tapi nanti ada pemantapan setelah lulus.”
HASIL WAWANCARA II DENGAN KEPALA SEKOLAH Narasumber : Bapak RK
Hari, tanggal : Selasa, 2 Desember 2014 Waktu : 07.33
Tempat : Ruang Kepala Sekolah
Peneliti : “Pak mengenai pengembangan model, pelaksanaan saat ini (model B) sudah diporsikan 70% dan 60 %, untuk pelaksanaan model yang awal (model A) apakah sudah ada pembagian porsi sendiri tentang keterampilan kerja?”
Narasumber : “Pola ini (model A) kan kita robah ke pola ini (model B).”
Peneliti : “Iya sebelum ke pola ini (model B), pada pola ini (model A) bagaimana?”
Narasumber : “Lebih banyak di kelas.”
Peneliti : “Untuk pilihan keterampilan kerjanya?” Narasumber : “Boleh memilih beberapa dulu.”
Peneliti : “Maksudnya?”
Narasumber : “Satu anak itu bisa memilih busana kemudian di batik.” Peneliti : “Jadi satu anak bisa memilih dua keterampilan.”
Narasumber : “Dua, bahkan lebih. Sehingga tidak fokus.”
Peneliti : “Dan itu pelaksanaannya apakah dua hari sekali atau bagaimana?”
Narasumber : “Pelaksanaannya tidak full satu minggu, hanya mengambil dua hari atau beberapa hari jadi nggak full. Anak lebih banyak belajar di kelas. Nah, Sekarang kita sudah rubah ke pol B, pembelajaran yang biasa diberikan di kelas PPKn, Bahasa, Matematika sekarang diberikan bersama-sama dengan pembelajaran keterampilan ini. Keterampilan menjadi temanya, mengikat mapel yang lain itu. Sehingga mapel hanya di ambil yang fungsional dengan keterampilan itu.”
Peneliti : “Model B sudah dilaksanakan saat ini, dimulainya sejak kapan?” Narasumber : “Saya masuk desember 2009, terus dievaluasi, mulai efektif ya
90
tahun 2011, karena 2010 masih kita evaluasi, analisis dengan teman-teman.”
Peneliti : “Jadi sebelum tahun 2009 pelaksanaan menggunakan model A?” Narasumber : “Kecenderungannya iya. Sekarang sudah berubah. Sejak kita
telah memikirkan anak setelah lulus, sehingga kita akhirnya punya kewajiban menggandeng orangtua dan dunia usaha dunia industri. Ini (pola B) dampak dari ini (pola A), karena tidak mungkin kita mengerjakan sendiri di sini (pola B) gak punya kemampuan kita. Potensi keluarga dan dudi kalo gak kita yang mendorong danmenggerakkan, mereka juga tidak terlalu paham. Kita yang menyampaikan kepada mereka dan sekarang telah terbuki bahwa akhirnya mereka memahami, mengerti dan sangat peduli degan anak-anak.”
Peneliti : “Bagaimana peran dari orangtua dan dunia industri dalam menyusun materi keterampilan?”
Narasumber : “Setiap awal tahun, kami menyusun kurikulum di dalamnya termasuk membuat materi, dudinya masuk kami undang mereka untuk diskusi bagaimana perkembangan, contoh di batik, oh kita masih tetep mengembangkan warna alam dengan pola-pola ini ini dan pengarahan-pengarahan dari dudi itu sendiri. Termasuk di busana juga, sekarang bordir modelnya ini, kami produksinya sekarang bordir untuk model kebaya muslim jadi arahnya ke situ. Dan pelaksanaanya pun ini dilaksakan di sekolah dan di rumah atau di dudi.”
Peneliti : “Kalau dudi memberikan arahan bahwa sekarang in di dunia industri keterampilannya sudah ini, ini, ini. Jadi untuk orangtua sendiri, pripun bapak?”
Narasumber : “Kalau orang tua, kan tidak semua anak anak ke dudi, tidak semua orangtua tidak punya modal, ada orang-orangtua yang punya contoh di bantul itu ada orangtua yang anaknya kerja atau membuka usaha di otomotif cuci motor cuci mobil, orangtuanya di rumahnya sudah disiapkan juga. Orangtua menyiapkan tempat artinya ‘nanti kalau kelompok ini sudah banyak anaknya, pak. Nanti sebagian buka di bantul, di tempat saya.’ Pinggir jalan rumahnya dekat lapangan ringinharjo.”
Peneliti : “Jadi kalau peran orangtua dalam menyusun program khususnya materi keterampilannya senidir? Itu kan tadi ketika anak sudah di dunia usaha dunia industri. Kalau orangtua dalam menyusunan materi?”
Narasumber : “Kebanyakan memberikan masukan-masukan. Kebutuhan apa sih. Anak ini mau dibawa ke mana. Jadi anak tidak dipaksakan untuk mengikuti materi kita. Orangtua punya harapan sendiri.”
91
Peneliti : “Jadi ketika awal tahun pelajaran?”
Narasumber : “Dimulai paling pertama kompromi dengan orangtua itu ketika awal masuk, pertama masuk penjurusan di SMP kita kan mau ke kelas keterampilan, itulah peran mereka sebenarnya. Materi dalam hal ini, mau ke mana arah anak mereka. Jadi sekolah itu tidak boleh munutup mata. Kita punyanya batik, semua anak yang di sini harus batik, enggak. Kita tanya ke oranngtua, di lingkungannya ada apa yang perlu di kembangakan, itu akan mengarahkan materi juga kan. Jadi arah pembelajaran, anak mau di bawa ke mana itu kita minta masukan dari orangtua dan dudi. Karena mereka lah (orangtua) yang punya. Anak akan kembali kepada mereka. Anak-anak miliki mereka, kalau kita mengerjakan sesuatu yang tidak mereka miliki kan kurang nyambung.”
Peneliti : “Oh, iya bapak. Di sini kan ada guru bimbingan dan konseling. Kalau dalam hal penjurusan ketika SMP itu apakah guru bimbingan konseling ikut peran serta?”
Narasumber : “Kita ada konferensi studi kasus yang digelar setahun sekali membicarakan tentang itu. Dan kita belum memiliki guru BK yang diangkat oleh pemerintah tapi kita punya orang yang punya basic. Kemudian guru BK kalau di SLB itu ya guru kelas, jadi guru kelas menjadi guru BK. Tapi ada koordinatornya yang kita tunjuk karena tidak semua guru memahami tugas-tugas sebagai guru BK.”
Peneliti : “Terimakasih,bapak. Mungkin ini sudah menjawab pertanyaan- pertanyaan saya semalam.”
Narasumber : “Iya, dan kita yang jelas di slb itu selalu berpusat pada anak, kebutuhan anak yang menjadi acuan. Berbeda dengan di sekolah umum, sekolah kan yang punya patokan-patokan dan setiap anak yang mengikuti. Kalau di SLB tidak, sekolah hanya menfasilitasi saja, bahkan secara ekstrimnya, kalau kita tidak mempunyai keterampilan itu kalau anaknya menginginkan ya kita layani. Mungkin nanti kita cari tempat usha yang cocok dengan itu kita numpang belajar di sana, bisa jadi seperti itu.” Peneliti : “Jadi sekolah yang melayani anak, bukan anak yang mengikuti
sekolah, begitu ya pak?” Narasumber : “Iya.”
92