BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
D. Hasil Wawancara
Tabel 40. Rangkuman Identitas Responden No Jenis Kelamin Kode
1. Perempuan R1 2. Perempuan R2 3. Perempuan R3 4. Laki-laki R4 5. Perempuan R5 6. Laki-laki R6 7. Perempuan R7 8. Laki-laki R8 9. Perempuan R9 10. Laki-laki R10
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa ada 6 orang responden perempuan dan 4 orang responden laki-laki yang diwawancara berdasarkan
jawaban mereka terhadap kuesioner yang telah mereka isi sebelumnya dan yang didukung dengan hasil wawancara sebagai berikut.
2. Deskripsi Wawancara
Pluralitas agama adalah suatu keadaan keragaman yang ditandai dengan adanya toleransi antar umat beragama yang berbeda keyakinan tanpa mengurangi sedikitpun kadar keimanan. Hal senada juga disampaikan oleh R2 dan R3 yang mengatakan bahwa pluralitas agama merupakan kemajemukan dalam hal agama. Sedangkan R4 mengatakan bahwa pluralitas agama adalah sebuah kesetaraan agama, maksudnya yaitu sebagai warga negara yang beragama tidak menganggap agamanya yang paling benar diantara agama-agama yang lain. Pernyataan ini diteguhkan juga oleh 5 responden lainnya yang mengatakan bahwa pluralitas agama merupakan kondisi dimana orang-orang harus saling menghargai perbedaan agama yang ada di lingkungan sekitar.
Ada berbagai macam sikap yang ditunjukan oleh setiap responden dalam menyikapi pluralitas agama. Ada yang bersikap menerima, netral, dan biasa biasa saja. Sikap yang pertama ialah dengan toleransi terhadap setiap umat beragama yang lain, karena sebagai sesama manusia tidak bisa hidup sendiri dan juga pasti saling membutuhkan satu sama lain akan tetapi dia juga tetap kokoh dengan agama sendiri. R2 mengatakan bahwa sebagai warga negara ia justru sangat bangga dengan keberagaman agama yang ada di Indonesia ini karena menurutnya, dia bisa belajar dari teman-teman yang beragama lain, dan yang terpenting ialah memahami sudut pandang agama lain agar dapat memahami perbedaan dengan demikian dapat
menghargai satu sama lain demi terwujudnya kerukunan antar umat beragama. Hal senada juga diteguhkan oleh R3, R4,dan R5 yang mengatakan bahwa mereka menyikapinya dengan cara saling menghargai dan menghormati sesama misalnya, jika ada teman yang merayakan hari besar, dia tidak sungkan untuk mengucapkan selamat atas perayaan tersebut. Selama berkuliah dia selalu menghargai teman yang beribadah setiap sabtu dan minggu. Hal ini dia lakukan semata-mata hanya untuk memberikan kenyamanan untuk teman-teman minoritas. Ia lahir dari keluarga muslim yang merupakan agama mayoritas di Indonesia tetapi bukan berarti dia menjauhi teman-teman yang berbeda agama.
Dalam kehidupan bermasyarakat rata-rata dari 10 responden mengatakan bahwa mereka sama sekali tidak terganggu dengan atribut keagamaan orang lain seperti yang diungkapkan oleh R6 mengatakan bahwa ia tidak terganggu, mungkin ada sebagian orang yang merasa terganggu akan hal itu. Tetapi untuk dia pribadi hal tersebut sama sekali tidak mengganggu karena ia tahu bahwa Tuhan menciptakan manusia dalam kondisi yang memang berbeda-beda, jadi tugasnya sebagai mahkluk ciptaanNya harus menghargai perbedaan yang ada.
Dalam hal pembangunan rumah ibadah umat yang beragama lain semua responden sepakat mengatakan dan menyatakan sikap terbuka serta mengijinkan pembangunan rumah ibadah umat agama lain dan tidak ada yang mempermasalahkan itu selagi dengan prosedur-prosedur yang berlaku seperti memiliki surat ijin bangunan dan sebagainya apalagi sebagai warga negara harus saling mendukung.
Dalam hal memberikan ucapan selamat pada hari raya keagamaan orang lain ada beragam jawaban yang diberikan oleh responden ada yang tidak keberatan dan ada yang keberatan karena berbagai macam alasan. Seperti yang diungkapkan oleh responden pertama, dan 5 responden lainnya mengatakan bahwa menurutnya ia tidak keberatan untuk memberikan ucapan selamat hari raya bagi orang lain yang merayakan karena baginya itu hanya sekedar bentuk dari penghormatan saja terhadap sesama yang merayakan dan tidak berarti dengan memberikan ucapan selamat pada perayaan agama tertentu imannya menjadi goyah. Sedangkan R3 mengatakan bahwa ia sangat keberatan karena di dalam ajaran agamanya mengucapkan selamat hari raya pada perayaan agama lain masih diperdebatkan, ada yang pro ada yang kontra jadi untuk antisipasi lebih baik dirinya tidak memberikan ucapan selamat pada hari raya agama lain.
Hal senada juga diungkapkan oleh R4, R8, dan R10 yang mengatakan bahwa mereka memiliki pendapat sendiri. Karena dalam kepercayaannya tidak boleh untuk memberi ucapan perayaan agama lain, maka mereka juga tidak memberikan ucapan selamat pada perayaan agama lain, di agama mereka tidak diperbolehkan walaupun hanya sebatas ucapan karena itu sudah termasuk merayakan. Toleransi yang mereka pahami yakni bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Memberikan ucapan merupakan hal yang berdosa, memang rumit kalau dijelaskan soal agama bukan berarti mereka tidak toleran. Di dalam agama mereka cukup membiarkan umat agama lain menjalankan ibadah sesuai kepercayaan masing-masing itu sudah merupakan toleransi.
Dalam memahami pluralitas agama responden pertama mengatakan bahwa memahami dan menerima pluralitas agama sangat penting, apalagi sebagai calon seorang pendidik harus memahami dan menerima pluralitas, agar dapat mendidik generasi bangsa dengan baik tanpa membeda-bedakan dan dapat menanamkan sikap toleransi kepada anak-anak di sekolah. Hal senada juga diungkapkan oleh R2 yang mengatakan bahwa memahami dan menerima pluralitas agama sangat penting terlebih kuliah di universitas negeri agar mahasiswa yang beragam dari berbagai latar belakang saling memahami dan menerima satu sama lain yang berbeda, tidak menjadikan perbedaan sebagai ancaman melainkan menjadikan perbedaan sebagai kekayaan. Pernyataan ini juga diteguhkan oleh 8 responden lainnya yang mengatakan bahwa menurut mereka penting agar mahasiswa tidak salah kaprah dalam memahami agama orang lain dengan demikian akan tercipta suasana yang damai di dalam kehidupan di masyarakat.
Dalam kehidupan perkuliahan semua responden sepakat mengatakan bahwa mahasiswa UNY sejauh yang mereka tahu berdasarkan pengalaman kuliah sangat toleransi dan tetap menghargai satu sama lain dengan tidak mempermasalahkan soal agama dan mereka juga berteman dengan siapa saja dari agama apa saja tanpa pilih-pilih. Dalam dinamika bersama selama kuliah rata-rata dari 10 responden sama seperti yang diungkapkan oleh R1 mengatakan bahwa di kampus belum pernah ada kasus intoleransi maupun radikalisme di kampus. Disini mahasiswa sangat toleran saling menghargai satu sama lain tanpa membeda-bedakan.