• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Penelitian

4.1.3. Hasil Wawancara

1. Eri Supriadi dan Nur Hazizah Samosir

Pasangan pertama bernama bapak Eri Supriadi dan ibu Nurhazizah Samosir, dimana pak Eri besuku Melayu dan istrinya Batak ia berumur 55 tahun dan Istrinya 56 tahun. Mereka suah 30 tahun berumah tangga dan dikaruniai 5 orang anak dan 9 orang cucu, pak Eri bekerja sebagai staf Inalum dan ibu Hazizah seorang guru di SMA Mitra Inalum. Pak Eri menceritakan bagaimana awal perkenalan dulu hingga sampai kejenjang pernikahan. Awal pertama kali berjumpa waktu ada kegiatan Pramuka di Kota Medan, waktu itu Pak Eri masih bekerja di Kantor DPR Kota Medan sedangkan Ibu Haizah adalah seorang guru SMA yang membawa siswa siswi acara Perkemahan tahunan di Kota Medan.

Pasangan pertama ini berjumpa di Lapangan Merdeka Medan, Pak Eri dikenalkan dengan Istrinya melalui teman kerja, waktu pertama kali kenalan Pak Eri sudah mengetahui bahwasannya Ibu Hazizh bersuku Batak ia mengetahui dari tulisan dibaju Istrinya.

“Dulu kita kenalannya di Pramuka, ibu kan guru SMA dan bapak waktu itu di kantor DPR kita ketemunya di lapangan meredeka Medan, yauda kenalan dari kawan bapak, awalnya bapak juga udah tahu kalau ibuk itu bersuku batak.

Udah tau kan ada nama di bajunya “Nur Hazizah Samosir” pas udah kenalan yaudah kita gak ada pacaran lama-lama karna udah merasa cocok, orangtua sudah setuju yaudah kita langsung nikah”

Dari proses perkenalan pasangan pertama ini juga berkomitmen untuk kejenjang yang lebih serius, tidak butuh waktu yang lama untuk proses pengenalan, awalnya Pak Eri mengira kalau Istrinya bersifat yang keras karena ibu dari Pak Eri juga bersuku Batak, yang bersifat keras. Dan awalnya Informan berpandangan bahwa Suku Batak itu bersifat keras. Untuk beradaptasi Informan tidak merasa kesulitan, karena sudah terbiasa dengan ibunya yang bersuku Batak juga. Intinya menurut Informan harus saling memahami dan sabar.

“Ya awalnya bapak mengira ibuk itu orangnya keras, karenakan mamak bapak orang batak jugak, kalau mamak bapak itu orangnya keras, tegas sudah keturunan dari orang tuanya, jadi bapak mengira orang batak itu keras semua, tapi kalau ibuk enggak ya mungkin kan setiap orang beda-beda dulu jugak pas awal ibuk kenalin bapak ke keluarga, orang tua ibuk sempat bilang kalau orang Melayu itu pemalas beda sama orang Batak yang pekerja keras. Mungkin karena belum kenal itu kan jadi orang tua berpersepsi jelek ke orang Melayu”

Awalnya pasangan berpersepsi buruk terhadap budaya pasangannya masing-masing. Karena mereka belum mengenal lebih dalam dan belum beradaptasi.

“ Ya kalau untuk beradaptasi gak susah ya biasa aja, karenakan mamak bapak orang Batak jadi dirumah udah biasa mamak ngomong suaranya kuat-kuat, ya sama kayak ibuk jugak jadi udah terbiasa, kalau ngumpul sama keluarga ibuk misalnya ada jugak saudaranya yang masi pakek bahasa Batak yauda bapak ikut jugak pake bahasa Batak karenakan udah terbiasa dari mamak bapak dulu.

Ibuk juga gitu tidak merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan bapak karenakan ligkungan tempat tinggal ibuk orang Melayu semua jadi kalau untuk bahasa udah sedikit paham bahasa Melayu.Nah kalau ngomong ibuk memang kuat mungkin itu memang udah ciri khas orang Batak kan. Intinya kita harus saling menghargai karena disini bapak jugak bisa tau dan bapak bisa belajar tetang perbedaan.

Intinya saling menghargai dan sabar, karena menurut kita selagi kita memandang atau melihat hal itu positif akan baik hasilnya”

Menurut Pak Eri Budaya sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, seperti ada yang kurang kalau dalam kehidupan bersosial tidak ada Budaya, pasangan ini sangat menghargai perbedaan Budaya dianatara keduanya. Mereka saling menghargai dan hal ini juga mereka terapkan kepada anak-anak mereka,

“Ya budaya itu penting lah, hidup tanpa budaya ya kayak ada yang kurang gitu.Kita juga saling menghargai perbedaan, setiap budaya kan beda-beda hal ini juga kita ajarin ke anak-anak, kalau misalnya ada teman yang berbeda budaya dengan kita jangan dikomentarin perbedaan budaya dia dengan kita, jadikan itu suatu ilmu buat kita, karenakan setiap orang kan guru”.

Setelah 30 tahun mereka berumah tangga, dan sudah mengenal sifat satu sama lain. Mereka punya cara sendiri untuk membangun keharmonisan rumah tangga, dan bagi Informan perbedaan Budaya tidak jadi penghalangan buat mereka.

“Saling menghargai satu sama lain, kita sering sering memuji misalnya masakannya enak walupun Cuma sederhana aja, kalau misalnya ada masalah kita berdua pasti salah satu ada yang ngalah biar masalahnya gak jadi panjang tapi selama ini bapak yang selalu mengalah, kalau pergi kita selalu berdua biarpun cuman kekolam ibuk selalu setia itu nemenin kecuali ibuk lagi ngajarngajar, kadang bapak jugak antar jeput ibuk kesekolah kalau lagi of, ya kalau untuk membangun keharmonisan rumah tangga dari hal-hal kecil kayak gitu aja gak harus mewah, anak-anak cucu udah ngumpul itu udah lebih dari apa pun”

2. Furqon dan Nur Ainun

Pasangan kedua ini bernama bapak Furqon bersuku Jawa berusia 54 ahun dan Istrinya ibu Ainun bersuku Banjar berusia 52 tahun, pasangan kedua ini sudah 30 tahun menikah. Mereka hanya mempunyai satu anak laki-laki, pada tahun 2010 anak mereka meninggal dunia saat umur 18 tahun karena kecelakaan disaat malam lebaran Idul Fitri, saat ini mereka mengasuh anak dari adik Informan yang sekarang berusia 15 tahun. Informan bersuku Jawa dan Istrinya bersuku Banjar.

Awal mereka kenal dari adik perumpuan Pak Furqon, adik perempuan Pak Furqon satu sekolah dengan ibu Ainun waktu SMA. Dan dimana Pak Fuqon dan istrinya juga satu sekolah, waktu Pak Furqon kelas 3 dan istrinya masi kelas 1, saat itu mereka belum pacaran setelah lulus dari SMA Pak Furqon sempat merantau ke Banten untuk bekerja selama dua tahun, Pak Furqon dan istrinya berjumpa saat adik Pak Furqon menikah dimana adik Pak Furqon adalah teman dekat istrinya. Setelah itu Pak Fuqon tidak balik lagi ke Banten Pak Furqon menetap dikampungnya dan bekerja di Inalum.

“Kita dulu kenal dari SMA bude mu dulu ini satu sekolah sama adeknya pakde, tapi pas pakde kelas 3 bukde masih kelas 1 waktu itu, tapi dulu pakde memang belum ada rasa sama bude kan waktu itu pakde punya pacar pas kelas 3, nah pas udah lulus SMA pakde kan merantau ke Banten sama uwakmu jugak kan, dua tahun pakde disana pas adek pakde mau nikah pakde pulang kampung, disitulah ketemu sama bude mu ini lagi, tapi pakde gak balik ke Banten udah dapat kerja disini, gak sampe seminggu la dari pesta itu pakde datang kerumah bude mu ditemenin pun sama ayah mu, Cuma dua bulan kita pendekatan lah kalau kata anak sekarang pakde langsung lamar bude mu, walaupun dulu sempat gak direstui sama mamak pakde”

Dari perjumpaan itulah Informan langsung menyatakan perasaannya kepada istrinya, tidak lama mereka untuk berkenalan Cuma dua bulan Informan

langsung melamar Ibu Ainun, setelah mendapat restu dari dua belah pihak keluarga. Yang awalya pernikahan mereka sempat tidak di restui oleh keluarga Pak Furqon. Tapi dengan Pak Furqon memberi penjelasan kepada ibunya lama-kelamaan diberi restu kepada Pak Fuqon untuk melamar istrinya.

“ Dulu itu sempat gak direstui karena bude mu ini orang Banjar, banyak alasana dari mamak pakde supaya pakde gak jadi ngelamar bude, mamak pakde dulu sering membanding-bandingkan keluarga orang yang bersuku banjar, maaf katanya mereka ada yang bercerai, sifatnya gak bagus, tapikan gak semua orang Banjar kayak gitu kan, setiap orang berbeda, pakde liat pun keluarga bude mu ini dari keluarga baik-baiknya. Lama-kelamaan Alhamdulillah mamak pakde merestuinya”

“Alhamdulillah kalau keluarga bude dari awal sudah merestui bude sama pakde, tapi dulu awalnya dari keluarga pakde tidak merestui hubungan kita berdua karena buda orang Banjar. Mungkin karena kita belum mengenal budaya masing-masing ya, tapi dari dulu bude gak pernah berpandangan buruk tentang budaya pakde karena dari dulu kawan-kawan sekolah bude kebanyakan orang jawa jadi menurut bude orang jawa baik-baik, sopan, ramah”

Setelah menikah pasangan ini pindah ke Komplek Perumahan Inalum dan sampai sekarang meraka masi tinggal disana, tidak membutuhkan waktu yang lama untuk pasangannya ini beradaptasi. Karena Pak Furqon sudah terbiasa berjumpa dengan orang yang berbeda suku dengannya, selama dua tahun merantau pak Furqon memiliki banyak teman dari berbagai macam daerah dan berbeda-beda suku. Tidak hanya dilingkungan kerja bahkan pak Furqon pernah tinggal bersama selama dua tahun dengan orang Batak, Minang, dan Aceh. Jadi dari situlah Informan juga banyak belajar tentang perbedaan budaya dan saling menghargai.

“Kalau untuk beradaptasi gak lama ya kalau kita, karena dulu pas kerja kawan kerja pakde jugak dari anak luar daerah semua, kawan kos jugak ada orang Batak, Minang, Aceh jadi dari situ jugak pakde udah belajar beradaptasi dengan beda budaya kan, udah ngerti jugak bahasa orang itu dikit-dikit. Pas udah satu rumah sama bude pertamanya masi canggung ya pastinya. Karena bude itu sebenarnya orangnya pendiam, gak banyak ngomonglah orangnya, beda sama kayak pakde lebih ribut, kalau dari sifat kita sama-sama punya sifat mengalah, kalau misalnya ada perdebatan rumahtangga kita sadar diri aja yauda langsung baikan. Kalau untuk bahasa kita dirumah pake bahasa melayu pesisir ya, biarpun pakde Jawa bude Banjar tapi kita dari kecil tinggal dilingkungan orang Melayu Pesisir yang ngomongnya (apo, dimano, siapo) jadi kita dirumah pakek bahasa itu aja lebih enak aja”

Menurut Ibu Ainun Budaya sangat penting untuk kehidupan sehari-hari.

Apalagi lingkungan tempat mereka tinggal banyak yang dari luar daerah, harus saling menghargai dan toleransi

“Kalau Budaya untuk sehari-hari ya berguna lah, apa lagi kayak kita gini tinggalnya berdampingan sama yang beda budaya. Harus saling menghargai, dan toleransi. Kita juga jangan banyak komentar tentang Budaya mereka kita kan punya ciri khasnya masing-masing”

Mereka juga punya cara sendiri untuk membangun keharmonisan rumahtangga, menurut merreka tidak harus yang berlebihan dan mewah yang terpenting kebersamaan dan kasih sayang.

“kalau untuk keharonisan ya yang biasa-biasa aja, gak lah yang mewah-mewah kali kalau kami berdua, kalau lagi of jalan-jalan ngawanin bude nyarik bunga. Kalau mislanya gak kaluar jalan-jalan paling ngundang keluarga kerumah makan-makan. Lagiankan pakde sama bude itu sekarang udah berdua aja dirumahkan, jadi kalau lagi of apalagi kayak pandemic gini ya bantuin bude bersih-bersih rumah, ngurusin bunga gitu ajalah”

3. Siti Hariyanti dan Ahmad Hadius G Panjaitan

Informan ketiga ini bernama Siti Hariyanti, yang berumur 25 tahun dan suaminya Ahmad Hadius G Panjaitan berumur 34 tahun. Pasangan ketiga merupakan pasangan beda budaya antara Melayu dan Batak. Awal mula pasangan ini bertemu di tempat mereka bekerja, mereka sama-sama bekerja di Inalum.

Informan bekerja di cetring Inalum dimana Informan bekerja di bagian menejer, sedangkan suami Informan dibagian staf. Dari sinilah mereka saling kenal.

“Dulukan saya kerja di Cetring inalum kan, tapi saya dibagian manajer, sedangkan suami saya masih staf biasa jadi cetringnya beda, tapi kita kalau pas pulang kerja sering satu bus kalau pagi pas masuk kantor sering jumpa jugak.

Yaudah dari situ kita cuman berteman di media sosial aja belum tukaran nomor hp, gak berapa lama dia minta WA aku dari kawan kerja jugak yaudah kita ngechat tapi cuman sekedar aja kan belum pacaran”.

Setelah sudah melakukan proses pengenalan satu sama lain, mereka berpacaran hanya dua bulan saat itu Informan berumur 23 tahun sedangkan suaminya berumur 28 tahun, merasa diumur segitu sudah tidak bisa main-main

lagi dalam hubungan asmara, Suami Informan mengatakan bahwa ia ingin serius dan melamar Informan. Tapi awalnya niat baik suami Informan untuk menikahinya sempat tidak disetujui oleh kedua orangtua Informan, dikarenakan beda Budaya dengan Informan. Orangtua Informan takut karena dikeluarga mereka belum ada yang menikah dengan orang yang bersuku Batak, dan yang lebih ditakutkan orangtua Informan adalah karena suami Infrorman merupakan orang perantauan yang juga dari orangtua, yang tidak tahu asal usul keluarganya.

“Dua bulan kita pacaran, dia langsung mau serius sama aku, disitu awalnya orangtua sempat ragu karena keluarga aku belum pernah menikah dengan orang batak, dan suami orang perantauan yang jauh dari orangtuanya, ya belum tau lah asal usul keluarganya karenakan dia disini sendirian. Tapi Alhamdulillah dengan bukti keseriusannya dia membawa kedua orangtuanya dan keluarganya kerumah aku buat ngelamar dia memang benar-benar meyakinkan keorangtua aku kalau dia serius sama aku, setelah itu kita tunangan setelah itu empat bulan kemudian kita menikah, Alhamdulillah dikasi kepercayaan sama Allah dua bulan nikah kita dikasi anak sekrang dia udah umur satu tahun”

“awalnya memang lamaran saya di tolak sama kelurga istri, karena saya orang perantauan belum tau latar belakang keluarga. Dan saya bersuku Batak itu juga yang membuat keluarga istri sempat menolak karena dari keluarga mereka belum ada yang menikah dengan orang Batak. Karena udah serius kan saya membwa kedua orang tua dan kakak ke rumah calon istri untuk dikenalin, Alhamdulillah semua dilancarkan dan kita direstui sama kedua belah pihak”

Setelah menikah mereka mengakui susah untuk beradaptasi dengan, walaupun sudah saling mengenal, mereka mempunyai sifat yang sama-sama keras, harus ada salah satu dari mereka yang mengalah. Ibu Rianty sempat berfikir bahwa suaminya tidak sepemikiran dengannya, karena perbedaan usia mereka juga cukup jauh. Tidak pernah terjadi miskomunikasi diantara mereka berdua karena suami Ibu Rianty sudah mengerti juga bahasa melayu pesisir, Ibu Rianty juga yang awalnya beranggapan orang Batak itu bersifat keras dan arogan.

“Kalau aku adaptasi susah ya, karena juga dari latarbelakang budaya juga udah bedakan. Tapi alhmdulillah suami gak pernah miskomunikasi dengan aku dan orangtuaku, karenakan suami kerja banyak temennya orang melayu pesisir jadi dia udah paham bahasnya, jadi pas udah rumah sendiri aku tetap pakek bahasa Indonesia aja biar menghindari miskomunikas, kalau untuk sifat jugak kita lama untuk bisa memahami karena kita itu sama keras, sama-sama gak mau disalahkan, jadi kalau misalnya kita berantem kita bisa

diam-diaman seharian ya karena gak ada yang mau ngalah. Tapi sekarang pas udah punya anak kan, kita jugak uda jarang la berantem karena ngerasa udahlah namanya juga rumahtangga pasti ada pahit manisnya, gak mulus-mulus ajakan”

“Kalau saya untuk beradaptasi memang tidak susah ya karena karenakan di lingkungan saya kerja banyak juga orang Melayu jadi kalau untuk bahasa dan sifat mereka sudah ngerti lah, jadi pas waktu udah berumahtangga udah biasa sama orang Melayu”

Menurut menurut Ibu Rianty budaya sangat penting untuk kehidupan sehari-hari, budaya harus dilestarikan secara turun temurun. Dari kehidupan sehari-hari mereka sudah bisa mengajarkan sedikit tentang budaya kepada anaknya.

“Saya kan anak kedua dari tiga bersudara saya punya abang dan adik perempuan, saya mengajarkan anak saya untuk memanggil uwak ke abang saya, sebagaimana orang melayu biasanya kan orangtua juga tinggal dipesisir, dan anak saya memanggil bujing ke adik perempuan saya karena suami saya batak, kalau untuk memanggil kakek nenek juga saya bedakan, kalau untuk mertua saya dikampung saya membiasakan anak saya memanggilnya opung dan nenek karenakan mereka batak, dan kalau untuk orangtua saya atok dan oma kalau atokkan khas dari melayu sedangkan oma itu biar lebih banyak aja, nah jadi dari sini lah kita bisa mengetahui tentang budaya biarpun hanya sekedar panggilan”

mereka pun punya cara sendiri untuk membangun keharmonisan rumahtangga, menurut Informan cara untuk menjaga keharmonisan rumahtangga hanyalah dengan kejujuran dan saling terbuka. Menurutnya kalau suatu hubungan tidak ada lagi kejujuran satu sama lain maka hubungan itu akan hancur dan tidak bertahan. Informan pun merasa senang menjalin hubungan dengan pasangan yang berbeda budaya dengannya.

“Kalau kita berdua gak harus yang kayak gimana-gimana sih, cuman harus jujur dan saling terbuka satu sama lain aja sih. Karena salah satu aja ada yang gak jujur tidak saling terbuka rumah tangga bisa hancur. Itunya harus jujur dan saling terbuka”

4. Nurddin dan Aisyah

Informan kelima bapak Nurddin berumur 54 Tahun bersuku Sunda, dan istrinya ibu Aisyah berumur 47 tahun bersuku Melayu. Informan dan istrinya menikah sudah 27 tahun dan sudah mempunyai dua orang anak, anak pertamanya laki-laki yang sudah berumah tangga dan memiliki satu orang anak, sedangkan anak perempuannya baru lulus SMA dan akan melanjutkan kuliahnya di Aceh mengambil jurusan Agribisnis. Informan yang asli dari Garut dan istrinya asli Batubara, Informan merantau dari umur 20 tahun dan bekerja di PT.INALUM.

Mereka di jodohkan oleh saudara pak Nurddin yang juga ada ikatan saudara dengan istrinya, mereka berjumpa saat ada pesta dirumah saudara ibu Aisyah. Itu perjumpaan pertama mereka, saat sudah saling kenal satu sama lain pak Nurddin langsung melamar istrinya dan membawa kedua orangtuanya untuk melamar istrinya, tidak butuh waktu yang lama kelang tiga bulan mereka langsung menikah. Setelah mereka pindah ke Perumahan Inalum dan sampai sekarang.

“Dulu kita berdua dikenalin sama saudara bapak kan dan ternyata saudara ibuk jugak, saudara jauh lah terus jumpanya dipesta keluarga. Pas udah kenalan yauda biasa aja sih bapak gadak kepikiran untuk menikahinya, kita cuma kenal biasa aja kayak kawanlah terus lama-kelamaan bapak ngerasa cocok sama ibuk yaudah bapak langsung ngomong ke ibuk kalau bapak mau serius, dan dia langsung nyuruh bapak ngomong keorangtuanya yaudah bapak langsung datang kerumahnya sama abang dan kakak. Kan selama merantau disini bapak tinggal sama kakak dan abang. Setelah orangtuanya setuju yaudah kita langsung nentuin tanggal pernikahan dulu gak pake tunangan, orangtua bapak jugak udah datang kan dari Garut yaudah disitu kita langsung nikah”

Mereka berkenalan hanya waktu tiga bulan maka tidak tidak banyak melakukan adaptasi dan mengenali sifat satu sama lain, sehingga saat sudah menikah banyak perbedaan sifat antara Informan dan istrinya. Istri informan memiliki sifat yang keras dan egois sedangkan Informan memiliki sifat yang sabar dan mengalah, dengan perbedaan sifat ini membuat Informan dan istrinya harus saling beradaptasi dan menyesuaikan sifat satu sama lain ketika awal menikah.

Informan mengaku lebih banyak mengalah terhadap istrinya apabila terjadi perdebatan rumahtangga agar tidak menjadi konflik yang berkelanjutan.

“Kalau untuk adaptasi susah ya awalnya, karena ibuk itu sifatnya keras dan gak mau ngalah karena menurut bapak kebanyak orang Melayu gitu kalau bahasa Melayunya (Hongkang) artinya keras kepala, gak bisa dibilang, mau selera dia ajalah yang diikuti, dan bapak lebih penyabar mengalah, ya pokoknya kalau ada terjadi perdebatan rumahtangga ya bapak selalu ngalah. Kalau bapak gak ngalah gak sabar ya perdebatannya semakin besar gak siap-siap nanti. Tapi lama-kelamaan ibuk pun udah bisa merubah sifatnya saat pas kita udah punya anak, mungkin diliatnya suaminya penyabar kan, ya sekarang kita saling menghargai ajala kalo ada perbedaan ini, kalau untuk ngomong sehari-hari bapak pakai bahasa melayu aja sama ibuk sama anak-anak jugak, kadangkan orang banyak yang gak percaya kalau bapak itu orang Sunda, karena saking fasihnyalah bapak bahasa Melayu jadi dikira orang itu bapak orang Melayu jugak bapak kan bisa fasih bahasa Melayu kan keluarga ibuk semua orang Melayu jadi sering ngumpul pakai bahasa Melayu yauda bapakpun mahir jugak jadinya”

“kalau ibuk untuk beradaptasi susah-susah gampang, karena ibuk sifatnya keras, jadi dulu waktu awal menikah sering juga kita bedebat kan karena hal kecil karena belum mengenal sifat satu sama lain kan. Tapi karena udah beradaptasi kita berdua ibuk juga udah merubah sifat kan, jadinya kita sekarang saling

“kalau ibuk untuk beradaptasi susah-susah gampang, karena ibuk sifatnya keras, jadi dulu waktu awal menikah sering juga kita bedebat kan karena hal kecil karena belum mengenal sifat satu sama lain kan. Tapi karena udah beradaptasi kita berdua ibuk juga udah merubah sifat kan, jadinya kita sekarang saling

Dokumen terkait