• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN 5.1. Hasil Penelitian

5.1.4. Hasil Wawancara

60 25 5 10 - Total 20 100 5.1.4. Hasil Wawancara

Dari 20 orang partisipan, dalam pelaksanaan Shalat Tahajud mahasiswa memeliki beberapa pandangan yang meliputi:

a. Pemahaman tetantang dasar-dasar dalam melakukan shalat tahajud seperti rukun dan syarat.

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi shalat tahajud dan pengaruhnya yang di timbulkan, terdiri dari, (1) Niat ikhlas dan motivasi (2) suasana dan waktu pelaksanaan (3) kebiasaan dan keteraturan

5.1.4.1. Pemahaman tentang dasar-dasar dalam melakukan shalat tahajud seperti rukun dan syarat

Pemahan mengenai dasar-dasar dalam melaksanakan shalat tahajud seperti rukun dan syaratnya dapat di ketahui dari hasil wawancara terhadap 20 orang partisipan yang rata-rata menyatakan bahwa shalat tahajud adalah shalat sunat 2

rakaat minimal dan semaksimal mungkin dan dengan jumlah genap yang dilakukan pada malam hari setelah bangun dari tidur dan apabila dilakukan sebelum tidur maka tidak bisa dikatakan shalat tahajud dan rukun dalam melakukan shalat tahjud sama dengan ibadah shalat lainnya yang di bedakan dari niat. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari partisipan.

“ya… setahu saya shalat tahajud dilakukan di malam hari minimal 2 rakaat lah…trus apa lagi ya… hhhmmm ya bangun tidur gitu deh bang…”.

( partisipan 1)

“ya… setau saya shalat tahajud itu ya shalat malam hari yang dilakukan setelah tidur sebelumnya mas…jadi menurut saya ga’ afdal gitu kalo ga’ tidur…”.

(partisipan 4)

“hhhmmm… dia kan shalat sunat mu’kad tu…dan rukunnya ya… sama seperti shalat

lainnya, sunnahnya itu 2 rakaat dan boleh sebanyak-banyaknya terserah sanggupnya yang jelas dia tidak ganjil”.

(Partisipan 5)

“…dimana dilakukan 2/3 malam boleh dikatakan jam 12 malam, dengan catatan harus dilakukan setelah tidur terlebih dahulu, jika dilakukan sebelum tidur itu bisa dikatakan shalat sunat witir atau shalat sunat mutlak…”.

(partisipan 15)

Namun dari 20 orang partisipan ada yang memiliki pandangan yang berbeda yakni dengan mengatakan boleh dengan bilangan ganjil dan membolehkan tidak tidur terlebih dahulu. Hal ini seseuai dengan pernyataan partisipan.

“… jumlah rakaatnya boleh 2, 4 ataupun bilangan ganjil”

(partisipan 3)

“… shalat malam itu ada yang mengatakan wajib tidur dulu dan ada juga yang di bolehkan tidak tidur dulu…”.

(Partisipan 8)

5.1.4.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi shalat tahajud dan pengaruhnya

(1) Niat ikhlas dan motivasi

Menurut partisipan ketika keinginan melakukan shalat tahajud benar-benar timbul dari keinginan diri sendiri tanpa adanya pengaruh dari orang lain akan menimbulkan suatu perasaan yang berbeda yang disebabkan oleh kualitas ibadah itu sendiri. Hal ini sesuai dengan yang di paparkan oleh partisipan

“… ya… kalo saya benar-benar ingin melakukannya sama dengan yang di ajak teman beda rasanya…”

“ ya beda aja… kalo saya benar-benar ingin tu rasanya lebih tenang apalagi kondisi saya lagi sendiri rasanya damai gimana gitu…”

“ya… beda lah bang apalagi kalo lagi ngantuk berat jadi ga’ ikhlas gitu jadinya ya… shalatnya pun cepet-cepetan aja… he…he…”.

( partisipan 1)

Selanjutnya, menurut partisipan ada beberapa hal yang memotivasi orang semakin sering melakukan shalat tahajud dan perasaan yang muncul setelah melakukan shalat tahajud, seperti dengan adanya beban atau masalah dalam diri partisipan merasa membutuhkan shalat tahajud untuk meringankannya sehingga partisipan merasa akan lebih tenang dan disaat seperti ini pasien dapat meneteskan air

mata yang dpat mengurangi perasaan tertekan yang ditimbulkan oleh beban-beban tersebut. Seperti yang di katakan oleh beberapa partisipan.

“kalo saya pribadi ya bang, shalat tahajud merupakan salah satu cara saya untuk melepaskan beban jadi ketika saya lagi banyak fikiran dan terbangun di tengah malam saya akan memeilih untuk melakukan shalat tahajud”.

(partisipan 3)

“…ketika ada masalah berat pada saat itu, saye bisa lebih mudah menitikkan air mata ketika saat itu sehingga beban saye tu serasa hilang walaupun masalahnya belum lagi selesai tapi terasa hati saye lebih tenang”.

(partisipan 7)

“kalo saya biasanya sering dalam kondisi ketika banyak ujian dan biasanya saya lebih intens melakukannya…”.

“…kondisi seperti ini membuat saya merasa lebih tertekan merasa deg-deg kan dan

ga’ nyaman…”.

“membuat saya lebih tenang”. “… disaat seperti itu saya dapat membangkitkan rasa percaya diri sehinnga saya merasa lebih mampu menghadapinya…”.

(partisipan 9)

“bisa…contohnya ketika saya ada masalah baik di kampus maupun di lingkungan ataupun ketika saya rindu orang tua…yang saya rasakan ketika saya shalat malam itu saya merasa bebas dan tanpa ragu untuk menangis dan bercurhat ria dengan Allah, saya curahkan semua isi hati saya”.

(2) Suasana dan Waktu Pelaksanaan

Berdasarkan dari hasil wawancara sebagian besar partisipan menyatakan bahwa ketenangan dan rasa damai yang dirasakan ketika melakukan shalat tahajud di pengaruhi oleh beberapa hal yang saling berhubungan, seperti suasana ketika melakukan shalat tahajud yang sunyi dan tenang membantu menciptakan suasana yang khusyuk dan mempermudah untuk berkonsentrasi serta memfokuskan diri ditambah dengan kondisi lingkungann alam yang medukung seperti udara yang terasa segar. Sesuai dengan cuplikan wawancara partisipan.

“ya…yang saya rasakan sendiri benar, karena kondisi yang tenang dapat merilekskan diri kita,, kayak yoga juga…’.

(partisipan 5)

“saya rasa sangat luar biasa… saya merasakan dari segi kesehatan juga dapat memberikan dampak yang cukup besar apalagi pada pagi hari udara kan fresh dan fikiran dalam kondisi konsentrasi yang baik cenderung membrikan manfaat yang besar dibandingkan dengan aktivitas yang bersinggungan dengan orang lain maka cenderung terjadi kepentingan-kepentingan yang lain, tapi disini kita melakukan aktivitas yang fokus terhadapnya”.

(partisipan 6)

“… biasanya pada saat seperti tu Cuma kita sorang je … dan kalo berdo’a kite sorang jadi tak de yang liat la, so kita jadi merasa leih tenang la… kalo hati saya dah tenang biasanya pikiran saye pon ikot nyaman”.

(partisipan 7)

“kalo waktu khusyuk ya… perasaan saya lebih tenang…dan kalo dalam keadaan mengantuk pikiran saya dah kemana-mana jadi pengin cepat tidur lagi…”.

(partisipan 9)

“… yang saya rasa setiap kali saya shalat malam saya selalu merasakan suasana yang berbeda”.

(partisipan 14)

“ya… bedanya dengan shalat-shalat yang lain munngkin lebih merasa terburu-buru misalnya ada jadwal kuliah ato yang lain jadi kita kurang menikmati shalat itu sendiri,,, dan beda dengan shalat tahajud yang benaer-bener saya nikmatinya…”.

(partisipan 15)

“ya.. ketenangan ya yang gimana ya… mungkin lebih ketentraman hati, jadi ya pengaruhnya Kediri saya ya…itu membuat saya lebih santai…”.

(partisipan 16)

“… munkin kita lihat dari segi waktunya yang ditengah malam, kondisi yang baik menurut saya untuk melatih konsentrasi, karna saya pribadi orangnya ga suka dengan suasana yang bising, menurut saya itu mengganggu… dan juga juga melatih diri untuk mengendalikan diri”.

(partisipan 19)

Secara disadari maupun tidak disadari manajemen waktu tidur dan waktu pelaksanaan shalat tahajud mempengaruhi kualitas dari shalat itu sendiri, berdasarkan dari analisa wawancara terhadap partisipan dapat di ketahui bahwa shalat tahajud yang dilakukan pada jam-jam 3-4 ataupun sebelum subuh atau bisa di golongkan pada 1/3 malam terakhir memilki kualitas yang lebih baik yang di karenakan rasa kantuk lebih kurang di karenakan waktu tidur yang telah cukup dan selain itu tingkat kesadaran yang membaik . Hal ini sesuai dengan pernyataann partisipan.

“ya… biasanya ana melakukannya jam-jam 4, kan jam 5 gitu dah shalat subuh ya… saya pikir tu sudah ideal”.

(partisipan 5)

“biasanya kecenderungan kita masih memikirkan aktifitas-aktifitas sebelumnya,

sebenarnya bisa-bisa aja tapi lebih efektifnya emang disana (di 1/3 malam terakhir)”.

(partisipan 6)

“… kalo saye sering tido lebih awal… tapi kalo tidonya jam 2 dan shalatnya jam 3 ya… biasanya ngantuk la…”.

(partisipan 7)

“… biasanya saya mengatasinya dengan tidur lebih awal, jadi biasanya mengurangi rasa ngantuk”.

(partisipan 9)

“kalo fikri jam-jam setengah 5 sih biasanya jadi emang udah jadwalnya bangun juga…tapi kalo jam-jam 1-2 tu fikri merasa jam tidur menjadi terganggu dan jadi ga konsentrasi juga…jadi kalo bangun jam setengah 5 gitu tingkat kesadarannya juga udah bagus”.

(partisipan 11)

“ooo…ya…kalausayasih jika terbangunlah misalnya di jam-jamm 1 atau 2 gitu kadang masih sangat ngantuk kalo shalat pun kadang ga’ khusyuk jadi pengen ngulang tiur lagi… kalo di jam-jamm 4 gitu mah mungkin karna sudah terbiasa kali ya…trus kann udah mau dekat subuh dan tidurnyapun saya rasa dah cukup”.

(3) Kebiasaan dan Keteraturan

Dalam mencapai manfaat yang maksimal dalam melaksanakan shalat tahajud terhadap perubahan yang terjadi pada diri terlihat berbagai kebiasaan dilakukan oleh berbagai partisipan dimana kebiasaan-kebiasaann ini berhubungan langsung maupun tidak langsung pada shalat tahajud, mulai dari kebiasaan rohaniah, kebiasaan fisik maupun kebiasaan-kebiasaan lainya.

Pertama kebiasaan manajemen waktu seperti tidur lebih awal dan mengupayakan untuk tidur siang. Menurut partisipan dengan menjaga waktu tidur dan mengupayakan tidur siang ini akan mempengaruhi rutinitas dalam melakukan shalat tahajud dan akan mempengaruhi kualitas dari ibadah ini dan semakin bagus manfaat yang didapatkan..

“…saya biasain tidur lebih cepat biar bisa bangun untuk shalat dan juga habis shalat bisa belajar dan rasanya tuh lebih segar”.

(partisipan 3)

“kalo saya emang udah kebiasaan saya ya bang bangun di jam-jam segitu karna sudah jam biologis, saya rasa bang, jadi walau ga dihidupkan alrmpun jam-jam 3an gitu saya memang terbangun sendiri gitu bang, jadi emang udah ga ngantuk lagi”.

(partisipan 10)

“seperti yang saya bilang tadi biasanya kalo udah jam 4 gitu saya udah merasa puas tidurnya,, kemudian ketika berwudhu itu menyegarkan dan membuat saya merasa semakin segar”.

(partisipan 19)

Kedua, kebiasaan belajar dan melatih diri, berdasarkan wawancara partisipan mengatakan bahwa belajar ketika selesai melakukan shalat tahajud menjadi lebih

mudah dan ketika melakukan shalat tahajud tanpa sengaja banyak hal yang harus kita latih dalam diri, baik itu kesabaran konsentrasi dan lainnya, bahakan ketika ada waktu terluang bisa di gunakan untuk aktivitas-aktivitas bermanfaat lainnya seperti olah raga.

“hhhmm…mungkin pertama ya pembiasaan untuk beribadah…trus waktu yang lainbisa di manfaatkan untuk kegiatan kayak belajar misalnya…jadi kalo saya pribadi bang kalo saya panik atao ga tenang malah saya merasa ga nyaman dan tubuh merasa ga fit gitu”.

(partisipan 3)

“ya…meneurut yang saya lakukan memang seperti itu…saya menjadikan wadah untuk mengasah hapalan-hapalan saya”.

“hhhmmm...mungkin seperti tadi. Semua ibadah itu, termasuk disini shalat tahajud ya…disini kita belajar dan melatih diri untuk mengendalikan diri…”

(partisipan 8)

“saya merasa ada bedanya bang ketika saya belajar sesudah shalat malam dengan saya langsung berada”. “saya pernah nyoba juga ni bang…ketika saya shalat tahajud terlebih dahulu terasa lebih mudah masuk bang, kalo langsung belajar kayak mau ujian tu kadang saya panic bang, jadi saya langsung belajar…eehh…bukannya belajar malah saya ketiduran bang he…he…jadi bagi saya pribadi shalat mala mini membantu saya dalam berkonsentrasi bang”.

(partisipan 10)

“ya seperti yang saya bilang tadi, awalnya ya ngantuk…namun kalo udah di biasakan dah ga ngantuk lagi…”.

“ya…memang shalat tahajud ini bukan ibadah yang gampang dan memang membutuhkan kesabaran dan juga kebiasaan dan biasanya saya menyempatkan diri untuk tidur siang…”.

(Partisipan 15)

“ya bisalah…disini kita juga harus melatih diridan belajar menagrtur waktu”.

(partisipan 17)

“awalnya ngantuk apalagi kalo belum terbiasa, tapi kalo sekarang saya merasa tenang dan nyaman dan kadang saya punya waktu untuk menyempatkan olah raga, jadi badan terasa lebih fit aja…”.

(partisipan 20)

Ketiga adalah kebiasaan untuk mencurahkan isi hati dan berbagi dengan sang pencipta. Hal ini seperti yang di ungkapkan oleh beberapa patisipan yang merasakan bahwa ketika berbagi cerita itu membuat keadaan hati mejadi nyaman apalagi berbagi dengan sang pencipta, sehingga tidak ada batasan untuk mencurahkannya dan bisa menjadi lebih jujur. Efek dari mencurahkan isi hati ini akan menenangkan kondisi jiwa.

“yang saya rasakan sendiri benar, karena kondisi yang tenang dapat merilekskan diri kita…kayak yoga juga…dan denangan curhat kita bisa tenang…apalagi curhatnya sama yang captain kita…yak an…he…he…”.

(partisipan 5)

“biasanya kalo orang ada masalah kan enaknya kan curhat tuh…bagi saya pribadi curhat dengan diri sendiri dan kepada Allah membuat saya merasa lebih tenang ga’ perlu khawatir akan rahasia saya, so…saya jadi curhatnya bebas…tampa mikirin hala-hal yang akan timbul belakangan”.

(partisipan 6)

“eee…ketika saya shalat tahajud saya merasa ada tempat untuk berkeluh kesah…saya kan anak perantauan , trus disaat seperti itu saya dapat membangkitkan rasa percaya diri saya, sehingga saya merasa lebih mampu menghadapinya…dan

biasanya setelah surhat kayak gitu semangat saya meningkat dann saya bisa lebih

berkonsentrasi”.

(partisipan 9)

“ya…dan juga kalo shalat malam saya merasa lebih santai dan rileks untuk berdo’a dan mencurahkan isi hati, ya…saya rasa dari pada curhat sama orang lain mending allah, lebih terjamin kerahasiaannya…he…he…”.

(partisipan 19)

Kemudian berdo’a dengan suara yang jelas di dengar. Menurut partisipan berdoa dengan suara yang dapat didenagr oleh indara pendengaran akan memberikan sensasi yang berbeda, bahakan sebagian menyatakan seperti terhipnotis dengan kata-demi kata yang terucap sehingga tanpa sadar kadang apa yang terucap dapat memotivasi.

“bagi saya tetap beda rasanya…do’a yang di baca dalam hati dengan do’a yang saya ucapkan dengan jelas itu sangat berbeda”. “bagi saya sendiri kata-kata yang keluar dengan jelas dan masuk ketelinga saya itu membuat saya merasa lebih tenang, saya merasa lebih termotivasi. Oh ya…ini hamper sama dengan orang yang menenangkan diri dengan berteriakkana…?? Apalagi kita berulang-ulang mengucapkan kata yang sama bagi saya serasa terhipnotis tersendiri yang saya sendiri ga’ tau menerjemahkannya gimana”.

(partisipan 6)

“hhhmmm…sedikit banyaknya saya yakin ada…kadang ketika saya benar-benar khusyuk melakukannya saya merasa terhipnotis dengan do’a-do’a yang saya

pintakan sendiri, sehinggga saya merasa nyata dengan apa yang sya pintakan…jadinya ketika beraktifitas tanpa saya sadari saya merasa lebih yakin aja…dan bener-bener beda ketika saya tidak melakukan shalat malam”.

(partisipan 13)

Terdapat satu kebiasaan dari partisipan yang mengatakan bahwa kebiasaan minum air putih ketika bangun tdur dan melakukan shlat tahajud. Partisipan menyatakan efe yang di rasakan lebih menyegarkan.

“biasanya fikri sebelum shalat tu minum air putih dulu gitu…”.

“hhhmmm…kata orang tua sih bangun tidur itu bagus minum air putih 2 gelas dulu…katanya bagus buat kesehatan sih…tapi kalo dipkir betul juga…kan bagus buat ginjal kita…”.

(partisipan 11)

Kerutinitasan dan intensitas dalam melakukan shlalat tahajud sanangt berperan dalam mewujudkan suatu pencapaian hasil yang maksimal, berbagai manfaat dapat digambarkan dalam setiap wawancara, pada umumnya ketenangan menjadi dasar dari beberapa manfaat lainnya. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan partisipan.

“disisni saya pribadi menilai lebih kekkesadaran kita, kesadaran akan adanya tuhan tempat kita mengadu dan kesadara akan manfaat yang ada. Mungkin kalau kita hanya melakukan sekali atau dua kali tidak merasakan efeknya…ya…kan ga ada yang instan di dunia ini,,, kalopun ada ga bertahan lama…he…he…”.

(partisipan 6)

“jujur saya kate, saye tak tiap hari la buat cam tu…tapi Alhamdulillah dalam seminggu tu lebih kurang 3 sampai 5 kali…”.

“cam yang saye katakana tadi la…bagi saye memang la menennangkan hati, jadi ketika hati saya dah tenang saya bisa berfikir lebih jernih dan bisa berfikir merenung…”.

(partisipan 7)

“hhhmmm…biasanya kadang seminggu tu penuh…namun kadang ada bolongnya juga…maklum lamas….iman tu kan naik turun…yazid wa yanqhuzs…”.

“contihnya ya…saya rasa apa yang sya lakukan itu lebih plong saja gitu…apalagi kalau shalatnya lebih khusyuk bawaannya saya lebih tenang…kalau ada problem jadi rasanya biasa saja…malah kalau saya pribadi kalau ga shlat tahajud malah sepertinya galau gitu mas…mungkin karna faktor kebiasaan juga kali ya…”.

(partisipan 8)

“ooo…ga’ juga sih bang kadang dalam seminggu tu rutin namun kadang ada bolongnya juga…”.

“kalo saya rasa ketika ga ada masalah jadi rasanya biasa lah… kayak kewajiban biasanya…namun ketika saya dalam keadaan bermasalah kadang saya sampai nangisdalam shalat itu…dan biasanya setelah itu perasaan lebih lega dan saya merasa lebih tenang”.

(partisipan 10)

“eennggg… biasanya sih saya kalo shalat tahajud tu jam-jam 4 gitu menjelang subuh…dan kalo seringnya tu gimana ya…3-5 kali seminggu tu bisa di bilang sering ga’ ya…?? Tapi kadang-kadang ada kurang dari itu juga sih…namanya juga iman ga’selalu di atas…he…he…”.

“…sejak saya masuk kuliah dan jauh dari rumah saya mulai rajin melakukannya…semua bermula ketika saya ikut dalam pengajian sejak saat itu saya mulai melatih diri”.

“hhhmmm… yang saya rasakan dari sebelumnya yang pasti keteraturannya…karna bangun pagi gitu, jadi shalat subuh ga telat, kalo ngampus pagi juga ga telat kadang saya juga sempat untuk berolah raga… keteraturannya inilah yag membuat saya merasa jauh lebih baik dari sebelumnya”.

(partisipan 14)

“ooo…sejak masuk kuliah saya rasa, ya…saya mulai melatih diri sejak masuk kuliah, sejak jauh dari orang tua dan sejak aktif di organisasi”.

“hhhmmm…ga la tiap hari tapi intens dan teraraturnamun dalam kondisi tertentu saya tidak bisa melakukannya…”.

“yang saya rasakan sekarang saya merasa lebih tenang aja… dan pengaruhnya dlam beraktivitas sehari-hari mungkin saya rsa saya bisa lebh sabar aja…jadi ga gampang marah trus juga lebih rileks aja”.

(partisipan 18)

5.2. Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian dari tabel 5.3, dapat di ketahui bahwa partisipan yang mengalami stres sebanyak 8 orang (40%), sedangkan yang tidak mengalami stres sebanyak 12 orang (60%). Melalui data tersebut, dapat dilihat bahwa mayoritas partisipan tidak mengalami stres dengan prevalensi 60%.

Stressor bagi mahsiswa bisa bersumber dari kehidupan akademiknya, terutama tuntutan dari ekssternal dan tuntutan dari harapannya sendiri. Tuntutan

eksternal bisa berasal dari tugas-tugas kuliah, beban pelajaran, tuntutan orang tua untuk berhasil di kulianya dan penyesuaian sosial di lingkungan kampusnya. Tuntutan akademik juga termasuk kompetisi perkuliahan dan meningkatnya kompleksitas materi perkuliahan yang semakinlama semakin sulit ( Heiman,& Kariv, 2005)

Salah satu faktor yang ikut menentukan bagaimana stress bisa dikendalikan dan diatasi secara efektif adalah strtegi coping yang digunakan individu (Ashel, & Delany, 2001). Coping adalah cara sadar individu untuk mengelola situasi yang menekan atau intensitas kejadian yang di tanggapi sebagai situasi yang menekan ( Lazarus, & Folkman, 1984). Jika individu berhasil secara efektif mengendalikan situasi yang dinilai menekan, maka dampak negatif dari stres bisa di kurangi secara maksimal.

Shalat merupakan suatu aktivitas jiwa ( soul ) yang termasuk dalam kajian ilmu psikologi transpersonal, karena shalat adalah perjalanan spiritual yang penuh makna yang dilakukan seorang manusia untuk menemui Tuhan semesta alam. Shalat dapat menjernihkan jiwa dan mengankat peshalat untuk mencapai taraf jesadaran yang lebih tinggi (altered states of consciousness) dan pengalaman puncak (peak experience). Shalat memiliki kemampuan untuk mengurangi kecemasan karena terdapat 5 unsur di dalamnya. Yaitu, meditasi atau do’a yang teratur, relaksasi melalui gerakkan-gerakkan shalat, hetero atau auto sugesti dalam bacaan shalat, group therapy dalam shalat berjama’ah, atau bahkan dalam shalat sendirian pun minimal ada aku dan Allah dan hydro terapy dalam mandi junub atau wudhu sebelum shalat (wibisono, 2002). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian terhadap 20 orang partisipan yang menjalankan rutinitas sebagai mahasiswa, kemudian rata-rata dari partisipan menjadikan aktivitas shalat tahajud menjadi pilihan dalam mengendaliikan tekanan-tekanan yang menimbulkan kecemasan dalam dirinya.

Berdasarkan hasil penelitian di dapati bahwa ada beberapa hal yang yang berperan dari pelaksanaan shalat tahajud yang terdiri dari pemahaman peshalat sendiri terhadap aktivitas yang dikerjakan kemudian faktor-fator yang secara tidak sengaja mempengaruhi shalat tahajud diantaranya niat dan motifasi, suasana, waktu pelaksanaan, kebiasaan serta keteraturan dalam menjalankannya.

a. Pemahaman dasar dri shalat tahajud

Berdasarkan hasil penelitian dari 20 orang partisipan 18 orang memiliki pemahan yang sma terhadap defenisi serta rukun dan syarat shalat tahajud, tapi ada 2 dari 2o orang partisipan memiliki pemahaman yang berbeda. Mereka memahami bahwa shalat tahajud boleh dilakukan sebelum tidur dan jumlah raka’atnya di per bolehkan ganjil.

b. Faktor yang memepengaruhi shalat tahajud serta pengaruh yang ditimbulkan.

Data yang terangkum dari penelitian yang dilakukan menunjukkan terdapat beberapa faktor yang memepngaruhi peran shalat tahajud dalam mengatasi stress.

Dilihat dari teori Faktor motivasi dan niat yang ikhlas menjadi salah stu faktor kualitas dari shalat tahajud sehinnga menimbulkan efek yang baik tehadap kondisi

Dokumen terkait