• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Hasil Penelitian

3. Hasil Wawancara

a. Data Demografi Subjek

Tabel 4 : Data Demografi Subjek

Keterangan S1 S2 S3 S4

1. Jenis Kelamin

• Perempuan • Laki-laki • Perempuan • Laki-laki

2. Usia • 50 tahun • 62 tahun • 45 tahun • 58 tahun 3. Status • Menikah • Menikah • Menikah • Menikah 4. Latar belakang pendidikan • Sekolah Teologi Apolos. • Sarjana Sipil UI • SD • SMA 5. Tingkat ekonomi • Menengah keatas. • Menengah keatas. • Menengah kebawah. • Menengah kebawah. 6. Sakit yang dialami • Asma. • Kelainan pada bilik jantung. • Radang paru-paru. • TBC ginjal. • Herpes. • Perut bengkak. • Penyakit lain yang tidak diketahui. • Jatuh dari atap sehingga mengalami kompresi. • Penyakit biasa.

Hasil penelitian dapat digambarkan sebagai berikut, subjek yang digunakan dalam penelitian memiliki tingkat pendidikan yang beragam. Subjek 1 lulusan Sekolah Teologi, Subjek 2 seorang Sarjana Sipil, Subjek 3 lulusan Sekolah Dasar dan Subjek 4 lulusan Sekolah Menengah Atas. Tingkat sosial ekonomi subjek juga berbeda, Subjek 1 dan 2 dari golongan ekonomi menengah keatas, sedangkan Subjek 3 dan 4 berasal dari golongan ekonomi menengah kebawah.

Usia semua subjek 45 tahun ke atas, dengan pembatasan usia subjek yang di atas 25 tahun, diharapkan subjek akan lebih stabil dan tidak mudah merubah sikap. Subjek 1 berusia 50 tahun, Subjek 2 berusia 62 tahun, Subjek 3 berusia 45 tahun dan Subjek 4 berusia 58 tahun. Usia subjek yang tidak terlalu jauh satu dengan yang lainnya diharapkan akan memberikan variasi minimal dari pengaruh usia.

b. Ringkasan Hasil Wawancara

Tabel 5 : Ringkasan Hasil Wawancara

Tema Subjek 1 Subjek 2 Subjek 3 Subjek 4

1. Jenis kelamin Perempuan Laki-laki Perempuan Laki-laki

2. Latar belakang pendidikan. Sekolah Teologi Apolos. Teknik Sipil Universitas Indonesia

SD (Sekolah Dasar) • SMA

(Sekolah Menengah Atas) 3. Tingkat ekonomi. Menengah keatas. Menengah keatas. Menengah kebawah. • Menengah kebawah.

4. Sakit yang dialami. Asma. Kelainan pada bilik jantung.

Radang paru-paru.

TBC ginjal.

Herpes.

Perut membengkak.

Penyakit lain yang tidak diketahui.

• Jatuh dari atap sehingga mengalami kompresi.

• Penyakit-penyakit biasa yang tidak parah.

5. Lama sakit 25 tahun Kelainan jantung sejak

lahir.

Radang paru-paru beberapa bulan.

TBC ginjal tidak tahu.

Herpes beberapa minggu.

Penyakit lain tidak diketahui.

• Kompresi beberapa hari.

• Penyakit lain sekitar 1 minggu.

6. Pandangan mengenai sakit yang dialami.

Sakit kambuh karena kondisi stres

menghadapi masalah rumah tangga yang tidak harmonis.

Harapan untuk sembuh sudah sangat tipis jadi selalu pasrah dan siap menghadapi kematian setiap saat.

Penyakitnya adalah hukuman atau

peringatan dari Tuhan agar ia tidak sombong.

• Biasa-biasa saja, tidak terlalu serius

menghadapinya.

7. Perasaan yang muncul saat menghadapi penyakit.

Khawatir karena sakitnya semakin memburuk.

Putus asa karena dokternya putus asa.

Pasrah karena sudah bisa menerima keadaan.

Takut dan khawatir karena sakitnya menular.

Malu karena penyakitya tidak wajar.

Pasrah karena tidak mampu berobat. • Tidak ada. 8. Pengobatan yang dilakukan sebelum masuk Tiberias. Dokter umum.

Klinik khusus asma alergi.

Obat umum yang dijual bebas.

Dokter spesialis jantung dari Jakarta sampai Bandung. Hampir operasi jantung. Pijat refleksi. Ke dukun/orang pintar. Dokter umum • Dokter umum.

9. Perasaan yang muncul saat menjalani

pengobatan medis

Kecewa karena kondisi tidak membaik.

Risih harus selalu membawa obat.

Putus asa karena dokter tidak memberikan harapan.

Bosan tiap hari disuntik.

Takut karena diagnosis dokter yang mengatakan penyakitnya menular. • Tidak ada. 10. Masalah yang dirasakan selama menjalani pengobatan medis. Biaya yang dikeluarkan sangat besar.

Tidak ada perubahan yang signifikan walau sudah banyak

mengeluarkan uang.

Tidak punya cukup uang untuk operasi jantung.

Merasa jadi bahan percobaan team dokter spesialis di RSCM.

Kondisi fisik dan mental tidak

memungkinkan untuk operasi.

Tidak punya cukup uang untuk selalu memeriksakan diri ke dokter saat sakit.

Merasa salah diberi obat oleh dokter.

• Merasa tidak ada masalah dengan pengobatan medis.

11. Situasi yang dirasakan akibat penyakit yang diderita.

Tidak bebas untuk melakukan aktivitas.

Sering sekali sesak nafas dalam berbagai kondisi.

Jantung sering sekali berhenti berdetak, dan kemungkinan

meninggal setiap saat ada.

Tidak bebas untuk melakukan aktivitas.

12. Pengalaman penyembuhan yang terjadi di Tiberias. Saat ia kambuh, suaminya memberi dukungan dengan menggosokkan Minyak Urapan di badan dan mendoakannya, kesungguhan suami untuk mendukungnya ini dianggapnya sebagai awal kesembuhan.

Ajaran Tiberias untuk hidup kudus merubah sifat suaminya dan membuat rumah tangga kembali harmonis. Dengan hilangnya stres, maka Asmanya tidak kambuh lagi.

Pada acara KKR ia menuliskan nama dan sakit yang dideritanya di kertas, gembala sidang mengatakan bahwa dalam 10 hari ia akan sembuh, dan benar jantungnya sembuh.

Saat Perjamuan Kudus ia berdoa agar semua sakit di tubuhnya sembuh, suatu hari saat buang air kecil keluar gumpalan darah, setelah konsultasi dengan dokter ternyata itu adalah TBC ginjal yang sudah sembuh.

Setelah lama sakit, dan tidak sembuh ia memutuskan untuk ke gereja agar dapat di sentuh oleh Pdt.Pariadji, ia yakin Pdt Pariadji dapat menyembuhkannya, dan kemudian ia sembuh.

Saat merasa hampir mati, ia memasrahkan diri dan berdoa dengan Minyak Urapan, ia tidak jadi mati dan ada orang lain disekitar rumahnya yang meninggal, ia merasa nyawanya digantikan orang itu.

• Setelah jatuh dari atap dan di rontgen, ia mengurut memarnya dengan Minyak Urapan dan ia sembuh.

13. Pandangan mengenai pengobatan medis setelah ikut Tiberias.

Tidak menggunakan obat dokter maupun obat bebas sejak pakai Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus.

Menggunakan Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus tapi tidak merinci apakah masih konsumsi obat umum.

Tidak mau minum obat lagi, hanya

mengandalkan Minyak Urapan.

• Pengobatan medis baik asalkan cocok dengan penyakit.

14. Awal mula masuk Tiberias.

Mendapat peringatan dari Tuhan berupa mimpi, pengelihatan dan tanda untuk bertemu Pdt.Pariadji.

Diundang saudara untuk datang persekutuan.

Diajak teman yang tahu bahwa ia sakit parah, ia berniat menyenangkan temannya saja.

Dikenalkan lewat GL Ministry (tempat belajar Alkitab) yang mayoritas anggotanya jemaat Tiberias. • Mencari Pdt.Gilbert Lumoindong (pangajar di GL Ministry dan pendeta di Tiberias) karena ingin mendengarkan kotbahnya. 15. Kondisi yang mendorong untuk pindah ke Tiberias.

Gereja lama tidak melakukan babtis selam padahal ingin dibabtis selam.

Gereja lama tidak membantu

pertumbuhan iman.

Tiberias

menyadarkannya untuk bertobat.

Ada kuasa yang ditunjukkan di Tiberias.

Tiberias memberikan sukacita yang tidak ditemukan di gereja lain.

Tiberias memberikan kepuasan dalam mencari kebenaran.

• Ada rasa nyaman di Tiberias.

• Tiberias berjanji mengantarkan jemaat siap ke surga.

16. Pandangan mengenai penyembuhan yang dilakukan di Tiberias.

Penyembuhan adalah suatu proses perubahan cara pandang dan cara merasakan sesuatu yang akan

menghasilkan kesembuhan.

Penyembuhan itu terjadi hanya dari Tuhan, dalam ibadah penyembuhan, minyak akan didoakan untuk digunakan sebagai sarana pengurapan.

Penyembuhan yang dilakukan oleh Pdt.Pariadji lebih manjur daripada yang dilakukan oleh pengerja di Tiberias lainnya.

• Yang melakukan penyembuhan adalah Tuhan sendiri, Minyak Urapan dan Perjamuan Kudus digunakan sebagai sarana.

17. Makna Perjamuan Kudus di Tiberias.

Perjamuan Kudus memiliki kuasa untuk menolak segala kutuk yang mengikat.

Perjamuan Kudus mengembalikan manusia seperti awal diciptakan.

Perjamuan Kudus untuk memperingati karya salib, dimana melalui pengorbanan Yesus segala sakit, kutuk dan penderitaan diselesaikan oleh Tuhan sehingga semuanya hilang.

Perjamuan Kudus untuk kemuliaan Tuhan dan kita sendiri, supaya dibangkitkan pada hari kiamat.

• Dalam Perjamuan Kudus jemaat bersatu dengan tubuh dan darah Kristus, yang akan menguatkan dan menjamin surga.

18. Kepercayaan terhadap Perjamuan Kudus.

Sungguh meyakini bahwa Perjamuan adalah tubuh dan darah Yesus yang benar-benar dasyat kuasanya.

Efeknya

menyembuhkannya lebih cepat daripada obat biasa.

Bagi yang percaya, dengan Perjamuan seharusnya sembuh, tapi semua kembali pada kedaulatan Tuhan untuk memutuskan apakan akan sembuh atau tidak.

Sangat percaya sebab Perjamuan Kudus adalah satu-satunya harapan.

• Perjamuan Kudus memiliki makna yang kuat sebagai mujizat untuk menyembuhkan.

19. Penggunaan Perjamuan Kudus.

Sebagai sarana untuk menolak segala macam kutukan. Mengatasi berbagai macam masalah. Membantu pertumbuhan iman. Menggantikan segala macam obat yang ada di rumah.

Perjamuan Kudus adalah peringatan akan karya salib Tuhan.

Perjamuan Kudus digunakan untuk penyembuhan.

Perjamuan Kudus digunakan untuk memuliakan Tuhan dan diri sendiri supaya dibangkitkan pada hari kiamat. Perjamuan Kudus digunakan sebagai sarana penyembuhan. • Perjamuan Kudus digunakan sebagai sarana untuk penyembuhan

20. Makna Minyak Urapan.

Minyak Urapan sediakan Tuhan untuk menyembuhkan tubuh.

Minyak urapan memiliki kuasa karena Tuhan yang memberi kuasa, bukan yang mendoakan minyak itu.

Minyak Urapan sebagai sarana

pengurapan dan sarana penyembuhan.

Dari Minyak Urapan ada kuasa dari surga yang akan

menyembuhkan dan memulihkan.

• Minyak Urapan adalah minyak zaitun kesukaan Tuhan, dan kita akan dimuliakan melalui minyak itu. 21. Penggunaan Minyak Urapan. Untuk penyembuhan. Memberikan rasa damai dan menenangkan pikiran. Menghilangkan kekhawatiran dan perasaan tidak nyaman.

Melindungi dari kuasa-kuasa kegelapan.

Untuk penyembuhan. Untuk penyembuhan.

Untuk melindungi diri dari kuasa-kuasa kegelapan.

Untuk mendekatkan diri pada Tuhan.

• Untuk meyakinkan diri bahwa kita disukai Tuhan karena memakai minyak kesukaanNya.

22. Kepercayaan pada Minyak Urapan

Sesuai dengan yang dikatakan dalam Alkitab maka percaya benar bahwa Minyak Urapan yang sudah diurapi kuasanya memang benar-benar kuat.

Minyak Urapan tidak harus yang didoakan di gereja, jika terpaksa didoakan sendiri pun sama, asal sungguh diimani.

Kuasa Minyak Urapan bergantung pada seberapa dekat hubungan orang yang mendoakannya dengan Tuhan.

Lebih yakin dengan Minyak Urapan yang ia doakan sendiri

daripada yang didoakan orang lain.

Sungguh percaya bahwa Minyak Urapan selalu memberikan pengaruh positif jika dioleskan.

Minyak Urapan sudah melebihi pengobatan apapun.

• Sungguh yakin Minyak Urapan memiliki kuasa jika digunakan secara benar.

• Merasa dilindungi dan dijauhkan dari hal buruk jika

menggunakan Minyak Urapan.

• Percaya bahwa dengan memakai Minyak Urapan ia menjadi disukai Allah.

23. Pandangan mengenai Pdt.Pariadji.

Melihat Pdt.Pariadji sebagai orang yang sudah dipakai Tuhan secara luar biasa.

Teladan untuk memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan.

Terkesan oleh iman Pdt.Pariadji.

• Menganggap Pdt.Pariadji sebagai orang yang nekad.

• Orang yang mengerjakan semua sesuai maunya sendiri.

• Kesaksiannya

supranatural dan tidak masuk akal.

Menganggap Pdt.Pariadji sebagai sosok yang sangat berkuasa atas kebenaran.

Sosok yang penuh wibawa, rendah hati dan sangat ia banggakan.

• Menganggap Pdt.Pariadji adalah orang kudus yang sangat dihormati.

• Pdt.Pariadji berkotbah apa adanya sesuai apa yang diperintahkan padanya. 24. Kepercayaan terhadap Pdt.Pariadji Percaya bahwa walaupun dalam keterbatasan, kata-kata Pdt.Pariadji memiliki kuasa, karena ia dikuasai oleh Roh Kudus.

Setiap perkataan pendeta harus diperiksa

Kesaksian Pdt.Pariadji yang supranatural belum bisa ia percayai.

Percaya pada Alkitab, bukan pada orang.

Semua pendeta sama.

Sangat meyakini bahwa apa yang dikatakan Pdt.Pariadji itu benar.

Kalau belum didoakan oleh Pdt.Pariadji belum puas, hanya yakin jika didoakan oleh

Pdt.Pariadji

Pdt.Pariadji lebih

• Meyakini bahwa semua perkataan Pdt.Pariadji itu benar.

• Pendeta satu dan lainnya memiliki kemampuan yang berbeda.

lagi apakah ada dasarnya di Alkitab, jika tidak ada maka tidak akan dipercaya.

Semua pendeta sama.

berkuasa dibanding pendeta lain. 25. Pembentukan kepercayaan. Awalnya memiliki pandangan yang berseberangan dengan ajaran Tiberias, tetapi setelah mengerti dan membuktikan sendiri jadi percaya.

Kaget terjadi mujizat, dan menjadi percaya.

Awalnya ragu-ragu, tapi setelah membuktikan jadi percaya.

• Awalnya belum tahu jadi belum percaya, tapi setelah melihat menjadi percaya.

b. Analisis Wawancara

1) Latar belakang gereja asal subjek

Setiap subjek dalam penelitian ini merupakan anggota jemaat gereja lain sebelum pindah ke Gereja Tiberias. Sebagian besar sudah pindah gereja lebih dari tiga kali sebelum pindah ke gereja Tiberias. Subjek-subjek penelitian ini pindah ke Tiberias dengan bermacam alasan, akan tetapi secara umum mereka datang karena pengaruh dari orang lain. Sebagian diajak orang lain secara langsung dan sebagian tertarik karena banyak orang yang menjadi jemaat Tiberias disekitar mereka.

Subjek 1 tiga kali pindah gereja sebelum menjadi anggota Tiberias. Subjek 1 pindah ke Tiberias karena ingin mengalami babtis selam. Ia merasa Tuhan mengarahkannya ke Tiberias dengan mimpi dan pengelihatan, terutama pengelihatan mengenai Pdt.Pariadji. Akan tetapi yang yang membuatnya datang pertama kali ke Tiberias adalah undangan saudaranya untuk menghadiri persekutuan doa di Tiberias.

Subjek 2 diperkenalkan pada Tiberias melalui temannya yang memaksanya datang karena tahu Subjek 1 sakit parah. Awalnya selama 25 tahun Subjek 2 tidak pindah-pindah gereja, tetapi setelah merasakan perbedaan gereja karismatik, ia kemudian mencoba datang ke beberapa gereja dalam waktu yang bersamaan.

Subjek 3 pindah gereja lima kali sebelum pindah ke Tiberias, alasannya ia ingin menjajaki. Ia merasa Tiberias berbeda dari gereja lain karena mengajarkan kebenaran dan membuatnya senang. Subjek 3 pindah ke Tiberias karena tertarik banyak orang yang menjadi jemaat Tiberias di tempatnya belajar Alkitab di Gilbert Lumoindong Ministry.

Subjek 4 pernah merasakan tiga gereja sebelum masuk ke Tiberias. Ia mencoba datang ke Tiberias karena banyak orang di tempat belajar Alkitabnya di GL Ministry yang menjadi jemaat Tiberias. Subjek 4 juga merasa mendapat mujizat saat pertama kali datang karena ia mendapat uang dari orang yang tidak ia kenal.

2) Pengalaman dan pandangan subjek terhadap sakitnya

Setiap subjek dalam penelitian ini memiliki pandangan yang berbeda mengenai sakit yang dialaminya, karena setiap subjek mengalami situasi yang berbeda dan memiliki latar belakang penyakit yang berbeda pula. Jenis penyakit, lama sakit, sikap dalam menghadapi masalah, yang dalam hal ini adalah sakit, dan berbagai latar belakang lain mempengaruhi cara pandang subjek terhadap sakitnya.

Subjek 1 mengalami sakit Asma selama puluhan tahun, selama itu ia berusaha mencari tahu penyebab sakitnya. Subjek 1 menyadari bahwa sakitnya kambuh jika ia stres menghadapi

masalah rumah tangga, sehingga ia menghubungkan kambuhnya Asma dengan masalah rumah tangga. Subjek 1 juga meyakini bahwa penyakitnya adalah akibat dari kutukan nenek moyang. Ia merasa bahwa leluhurnya yang anggota keraton Jawa di Blitar bermusuhan dengan kerajaan Jawa Barat, dan ini mengakibatkan ia menjadi sakit setiap ia pergi ke daerah Jawa Barat.

Subjek 2 mengalami kebocoran pada bilik yang ada di jantung sejak ia lahir. Setiap saat jantungnya bisa berhenti berdetak. Subjek 2 merasa harapan untuk sembuh sudah sangat tipis sehingga ia menghadapi penyakitnya dengan pasrah dan siap menghadapi kematian kapan saja. Selain kelainan jantung, Subjek 2 juga mengalami peradangan pada paru-paru dan TBC ginjal.

Subjek 3 mengalami sakit Herpes selama beberapa minggu dan penyakit lain yang tidak ia ketahui namanya, karena tidak ia periksakan ke dokter. Sakit yang Subjek 3 alami menyebabkan perutnya membesar seperti orang yang sedang hamil, dan ia berkali-kali merasa hampir mati. Subjek 3 merasa penyakitnya adalah hukuman atau peringatan dari Tuhan supaya ia menjadi orang yang tidak sombong

Subjek 4 tidak terlalu menganggap serius penyakitnya, karena penyakit yang ia alami tidak terlalu parah. Subjek 4 selama beberapa hari mengalami kompresi atau cedera tubuh karena mengalami tekanan berlebihan akibat jatuh dari atap.

3) Pengalaman subjek melakukan pengobatan medis

Semua Subjek sebelum masuk ke Tiberias melakukan pengobatan medis. Subjek 1 berulang-kali memeriksakan diri ke dokter umum, karena kondisinya semakin parah ia juga melakukan pengobatan di klinik khusus Asma alergi. Hasil yang tidak signifikan membuatnya berhenti mengikuti pengobatan di klinik dan meminum obat yang dijual bebas, sampai akhirnya kembali ke obat resep dokter, karena obat bebas tidak lagi manjur.

Subjek 2 mendatangi banyak dokter spesialis jantung, tidak hanya di Jakarta, melainkan sampai ke Bandung. Subjek 2 diharuskan untuk melakukan operasi penutupan lubang di jantung oleh dokter-dokter yang memeriksanya, tapi kondisi fisik dan keuangan Subjek 2 tidak memungkinkan untuk melakukan operasi. Subjek 2 juga pernah mencoba pijat refleksi, yang menurutnya tidak bermanfaat.

Subjek 3 sebelum sungguh-sungguh bertobat, memiliki langganan orang pintar untuk melakukan pengobatan, setelah ia bertobat ia tidak boleh lagi datang ke dukun atau orang pintar sehingga hanya berobat ke dokter umum. Sedangkan subjek 4 hanya memeriksakan diri ke dokter umum.

Hampir semua subjek merasakan emosi negatif saat menjalani pengobatan medis, hanya Subjek 4 yang merasa tidak ada masalah dengan pengobatan medis. Subjek 1 merasa kecewa

karena kondisinya tidak juga membaik padahal biaya yang dikeluarkan sangat besar. Subjek 2 merasa bosan dengan kondisi sakit terus menerus, ia putus asa karena dokter yang memeriksanya tidak memberikan pengharapan, dan merasa menjadi bahan percobaan karena team dokter yang memeriksanya kebingungan saat ia akan dioperasi. Subjek 3 merasa khawatir dengan diagnosis dokter. Subjek 3 juga pernah merasa salah diberi obat karena kondisinya memburuk setelah berobat ke dokter. Subjek 3 akhirnya tidak mau lagi berobat ke dokter karena takut.

Subjek 1, 2 dan 3 mengeluhkan biaya pengobatan medis yang dianggap memberatkan, sedangkan Subjek 4 tidak mengeluhkan biaya pengobatan medis karena sakit yang dialaminya tidak parah. Subjek 1 merasa biaya pengobatan sangat memberatkan karena ia harus menjalani pengobatan di klinik khusus asma. Setiap kambuh juga ia harus minum obat. Subjek 2 tidak mampu melakukan operasi penutupan lubang di jantungnya karena biaya operasi yang terlalu besar. Subjek 3 tidak selalu memeriksakan diri ke dokter jika mengalami sakit karena ketidak-mampuan membayar biaya pemeriksaan dokter.

4) Pengalaman subjek dengan penyembuhan di Gereja Tiberias

Dokumen terkait