BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN membahas tentang metode penelitian yang meliputi: pendekatan dan jenis
HASIL WAWANCARA
Nama : Amara Wahyu Hidayat
Usia : 34 Tahun
Hari, tanggal : Rabu, 01 Maret 2017
Tempat : Rumah Bapak Wahyu
Pukul : 19.00 WIB
1. Masuk Islam semenjak tahun 2012 namun tahun 2013 baru mendapat bukti otentik yang berupa surat pernyataan memeluk agama Islam dari Kantor Urusan Agama Semarang dengan mengucpkan syahadat yang dihadiri oleh saksi dan pihak keluarga. Yang mewakili dari pihak keluarga adalah ibu saya. Sebelumnya ibu saya tidak mengizinkan saya masuk Islam. Tapi seiring berjalannya waktu akhirnya ibu saya menyetujui saya masuk Islam. Jadi saya sudah 5 tahun memeluk agama Islam.
2. Motivasi karena menurut saya agama Islam bisa mendo’akan orang tua yang sudah meninggal, karena bapak saya sudah meninggal selain itu juga karena ingin menikahi istri saya.
3. Hambatannya saat belajar membaca iqra’, belajar sholat, bacaan-bacaan sholat. Karena sampai sekarang masih ada yang belum bisa bacaan sholat.
4. Mendengarkan bacaan-bacaan sholat dengan headset di hp, belajar dari isteri, dari teman-teman di pekerjaan.
5. Banyak hal yang saya dapat pelajari ketika saya masuk agama Islam, saya tidak merasa menyesal ketika masuk agama Islam dan berusaha memperdalam ajaran agama Islam. Saya selalu berusaha melaksanakan sholat 5 waktu, melaksanakan puasa di bulan ramadhan, dan mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan dengan tetangga.
6. Dulu ayah saya beragama Islam dan Ibu saya beragama kristen. Saya mempunyai 3 kakak, kakak saya yang pertama menjadi muallaf, kakak yang kedua beragama kristen, dan kakak yang ketiga sudah meninggal. Kakek dan nenek saya yang berasal dari ibu saya juga berbeda agamanya. Kakek beragama Islam dan nenek beragama kristen.
7. Ya, anak saya harus masuk Islam mengajarkannya sejak kecil. Saat anak saya lahir saya yang mengadzani, mengadakan aqiqah, pengajian bapak- bapak. Mendidiknya dengan ajaran Islam. Yang lebih banyak berperan dalam mendidik anak saya adalah istri karena saya bekerja pulangnya sore atau malam.
8. Yang diajarkan dengan mendengarkan musik-musik Islami setiap akan tidur baik itu di pagi, siang, sore, ataupun malam.
9. Menurut saya tujuan pendidikan Islam yaitu ingin menuju ke jalan yang benar jalan yang diridhoi oleh Allah dengan menjalankan segala perintah Allah seperti sholat, puasa, zakat, berbuat baik, dan menjauhi segala larangan Allah.
Nama : Prihantini
Usia : 48 Tahun
Hari, tanggal : Kamis, 02 Maret 2017
Tempat : Rumah Bapak Satiman & Ibu Prihantini
Pukul : 10.00 WIB
1. Saya masuk agama Islam pada bulan Juli 2016 dengan mengucapkan syahadat yang disaksikan para tetangga dalam acara pengajian rutinan. Disahkan juga dari Kantor Urusan Agama Salatiga yang dihadiri saksi serta perwakilan keluarga. Jadi saya masuk Islam belum ada 1 tahun baru 8 bulan.
2. Saya ingin mengenal lebih jauh tentang agama Islam, suami saya yang selalu ingin membimbing tentang ajaran agama Islam kepada saya, sering melihat tetangga ketika ada kegiatan pengajian, ketika kumpul- kumpul dengan tetangga mereka membahas tentang agama Islam, dan termotivasi melihat anak saya yang rajin sholat, mengaji suaranya bagus, patuh terhadap siapapun yang membuat saya bangga dan ingin seperti yang dilakukan anak saya.
3. Saya masih merasa takut dengan keluarga saya yang mayoritas beragama kristen. Terutama pada paman saya yang sudah menjadi pendeta di sebuah gereja.
4. Adanya perasaan yang tinggi untuk mengenal lebih jauh tentang agama Islam, adanya bimbingan dari suami tentang ajaran agama Islam, adanya teman dan lingkungan sekitar yang sering melakukan kajian atau kegiatan Islam sehingga dapat memotivasi saya untuk masuk Islam, adanya kegiatan-kegiatan sosial yang disela-sela kegiatan sosial tersebut membahas tentang agama Islam, dengan melihat perkembangan anak yang setiap harinya rajin mengaji, suara bagus, rajin sholat, dan patuh terhadap siapa pun membuat saya menangis bangga dan ingin seperti apa yang dilakukan oleh anak saya.
5. Saya bukanlah seorang yang mendalami pengetahuan Islam secara mendalam saat ini. Minimnya pengetahuan tentang Islam menjadi kendala tersendiri bagi saya untuk mengajarkan anak untuk mempelajari Islam sebagaimana yang diajarkan orang tua yang Islam dengan anak yang juga beragama Islam.
6. Semua keluarga saya termasuk ayah dan Ibu saya beragama kristen. Bahkan paman saya menjadi pendeta di sebuah gereja. Sejak kecil saya sudah beragama kristen karena ajaran dari orang tua saya.
7. Sejak anak saya lahir sudah beragama Islam sesuai dengan agama suami saya. Metode yang sering kami gunakan dalam mendidik anak kami adalah metode ceramah. Biasanya suami saya mengajarkan tentang kebudayaan Islam. Juga melalui keteladanan sebelum menyuruh anak saya menghormati orang lain, kami melakukan terlebih dahulu bagaimana menghormati dan menghargai orang lain. Sebelum
mengajarkan untuk selalu berbicara yang baik mereka terlebih dahulu mengucapkan hal-hal yang baik dan lain sebagainya.
8. Materi yang diajarkan lebih kepada saling menghormati, saling tolong menolong, dan bekerja sama dengan warga setiap kegiatan yang dilakukan secara bersama-sama karena sangat penting dalam sosial dan implementasi keberimanan terhadap Allah swt misalnya menyuruh anak saya untuk belajar TPA di masjid, mengikuti pengajian-pengajian agama yang diadakan oleh warga.
9. Tujuan pendidikan agama Islam bahwa aspek akidah penting dalam pendidikan, dan aspek ibadah adalah implementasi keberimanan terhadap Allah swt. Tujuan yaitu supaya anak saya menjadi orang yang taat menjalankan agama Islam dan mengetahui agama dengan baik, sehingga menjadi pegangan hidup untuk masa-masa selanjutnya. Selain itu untuk menjalankan kehidupan dan mengamalkan ajaran agama dengan rukun dan damai di tengah komunitas masyarakat yang multi agama.
Nama : Ari Sulistyowati
Usia : 25 Tahun
Hari, tanggal : Jum’at, 03 Maret 2017
Tempat : Rumah Bapak Ragil Widiyanto & Ibu Ari Sulistyowati
Pukul : 13.00 WIB
1. Saya memutuskan menjadi muallaf pada tahun 20011 sebelum
melangsungkan pernikahan dengan suami saya ketika itu saya melakukan syahadat resmi masuk Islam yang disaksikan banyak warga. Saya menikah pada tahun 2011 dan sekarang sudah punya 2 anak dua orang anak yang bernama Safara Putri Widyawati berusia 5 tahun, dan Karina Riski Widyawati berusia 7 bulan.
2. Motivasi saya masuk Islam karena atas dasar ajakan suami saya yang beragama Islam.
3. Pada awalnya suami saya selalu mengajari tentang Islam akan tetapi lambat laun suami saya mulai jenuh untuk mengajari saya, hal itu dikarenakan kesibukan suami saya bekerja yang berangkat pagi pulang malam, namun saya tidak patah semangat dalam memahami agama Islam karena dia menyadari dia sudah memilih agama Islam sehingga mau tidak mau harus memperdalam agama Islam. Saya sangat memaklumi akan kesibukan suami saya walaupun suami saya tidak bisa
mengajarkan agama Islam secara maksimal tetapi sebenarnya saya merasa bingung minimnya pengajaran yang saya dapat.
4. Belajar agama Islam dari berbagai sumber yaitu dari buku-buku, tetangga, teman kerja, terutama suami dan mertuanya. Saya membaca buku-buku tentang sholat, ketika ada waktu luang belajar dengan tetangga, ketika dahulu masih bekerja di pabrik konveksi juga diajari teman-temannya tentang sholat.
5. Menurut saya ajaran agama Islam dengan agamanya kristen itu sama yaitu sama-sama meyakini adanya Tuhan, larangan berbuat keburukan, perintah berbuat kebaikan, dan lain sebagainya.
6. Dahulu agama yang dianut saya adalah agama kristen dan semua keluarga saya beragama kristen. Saya mempunyai 4 saudara, 2 kakak dan 1 adik yang berasal dari Banjaran, Salatiga. Dan keempat saudara saya beragama kristen. Dalam keluarga saya memberikan kebebasan dalam memilih agama. Dahulu saya belum mengetahui ajaran agama Islam sama sekali, akan tetapi setelah menikah dan resmi masuk Islam saya berusaha belajar tentang ajaran agama Islam terutama sholat. 7. Metode yang digunakan keluarga saya adalah metode ceramah. Dalam
berkumpul bersama saya menjelaskan berbagai pokok pikiran yang kemudian didengarkan oleh anak saya yang berhubungan dengan agama. Karena ilmu agama kami tidak begitu banyak maka dari itu kami membiarkan anak kami mendapat ilmu agama dari sekolah atau dari orang lain.
8. Materi yang saya ajarkan yaitu mengikuti pengajian-pengajian dengan mengajak anak saya, akan tetapi di situ tidak menjelaskan bagaimana tata cara pelaksanaan sholat, tidak juga mengajarkan bagaimana membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar sehingga sampai sekarang saya dan anak saya tetap belum bisa sholat dan membaca Al-Qur’an. Sebagaimana anak-anak di Desa Barukan lainnya yang baru bisa sholat dan membaca Al-Qur’an setelah belajar TPA di masjid. Tetapi Safara tidak mau belajar agama di TPA.
9. Saya tidak membuat tujuan yang besar untuk pendidikan agama anak saya. Yang terpenting adalah anak saya menjadi orang yang baik dan dapat bergaul dengan warga dan temannya dalam kehidupan masyarakat merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.
Nama : Wagimin
Usia : 52 Tahun
Hari, tanggal : Sabtu, 04 Maret 2017
Tempat : Rumah Bapak Wagimin
Pukul : 19.00 WIB
1. Saya adalah seorang muallaf yang sejak lahir menganut agama kristen. Yang merupakan agama dari orang tuanya. Saya sejak kecil bersekolah di sekolah umum. Ketika saya bekerja sebagai tukang kayu di Desa Barukan saya bertemu dengan istri saya dan merasa suka kemudian saya ingin menikahinya. Namun saya saat itu beragama non Islam. Saya kemudian memutuskan untuk masuk Islam dengan bersyahadat dan disaksikan oleh warga RT 02 RW 01 Desa Barukan pada tahun 1990. 2. Karena akan menikah dengan istri saya yang beragama Islam dan ingin
mempelajari lebih dalam ilmu agama terutama agama Islam.
3. Susah ketika membaca al-qur’an karena bahasanya asing dan belum pernah mempelajari sebelumnya.
4. Tekun mempelajari yang diajarkan oleh istri saya, setiap hari setiap ada waktu luang dan mendatangkan guru ngaji yang lebih memperdalam ilmu agama.
5. Sampai saat ini alhamdulillah saya sudah memahami ajaran agama Islam seperti dengan syariat Islam seperti melaksanakan sholat 5 waktu dan sholat-sholat sunnah, berpuasa di bulan ramadhan, dan sebagainya namun masih kurang dalam hal mendidik anak.
6. Orang tua saya sudah meninggal dunia dan mereka menganut agama kristen dahulu. Saya adalah anak ke 4 dari 5 bersaudara dan semuanya beragama kristen kecuali saya yang kini sudah memutuskan menjadi muallaf.
7. Pada sore hari ketika semua anggota keluarga sedang berada di rumah berkumpul dan bercerita. Namun tidak berlangsung setiap sore, malampun sambil bersantai beristirahat saya tidak juga meminta pengajaran agama kepada istri saya yang juga ikut memberikan andil dalam pendidikan agama Islam dalam keluarga. Meskipun tidak semaksimal seperti istri saya dalam mendidik anak-anaknya namun saya juga berusaha mendidik sebisa saya.
8. Saya sering mengajarkan tentang toleransi dalam beragama, saling tolong menolong, dan bekerja sama dengan orang lain. Sebagai komunitas masyarakat yang berbeda agama saya juga mengajarkan kepada anak saya dalam hal-hal yang memberi manfaat bagi orang banyak. Saya juga mendatangkan guru les ngaji agar anak-anak saya mempunyai kesempatan yang luas untuk bertanya dan memperdalam ajaran agama Islam yang belum mereka ketahui.
9. Tujuan pendidikan Agama Islam agar anak saya menjadi anak yang shaleh dan taat. Karena ilmu agama yang diyakini adalah sebagai arah dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ilmu agama yang diperoleh menurutnya tidak hanya dari sekolah namun dari membaca buku ataupun bergaul dengan orang yang paham tentang agama Islam.
Nama : Evi
Usia : 36 Tahun
Hari, tanggal : Minggu, 05 Maret 2017
Tempat : Rumah Bapak Agus dan Ibu Evi
Pukul : 14.00 WIB
1. Sejak saya memutuskan untuk menikah dengan suami karena harus sama keyakinannya pada tahun 2010.
2. Saya sebelum menjadi seorang muallaf menganut agama Kristen, akan tetapi kami hidup di tengah-tengah lingkungan yang beragama Islam, berawal dari kekaguman saya kepada suami saya yang ketika mudanya suami saya itu menjadi pemuda yang ramah, sopan, cerdas, rajin ke masjid serta parasnya yang menawan, sehingga saya merasa tertarik kepada suami saya. Dan akhirnya kami menjalin hubungan dan memutuskan untuk menikah.
3. Ketika saya memutuskan untuk menikah ada permasalahan dalam
keluarga suami saya, yaitu keluarga suami saya menentang rencana pernikahan kami dikarenakan perbedaan agama. Setelah banyak pertimbangan akhirnya keluarga suami saya menyetujuinya.
4. Upaya untuk mengatasi hambatan tersebut saya memutuskan menikah dan berubah keyakinan memilih agama Islam mengikuti calon suaminya
dan menikah secara Islam. Ibu saya tidak melarang ketika saya ingin berpindah agama. Setelah berkeluarga alhamdulillah saya melaksanakan sholat dan mengikuti kajian Islam yang ada di desa ini.
5. Setelah berkeluarga dengan suami, saya lebih rajin melaksanakan sholat dan mengikuti kajian Islam
6. Seluruh keluarga Ibu Evi termasuk ibu yang melahirkannya beragama Kristen. namun karena melihat semangat dan kegigihan suami saya dan saya dalam beribadah, membuat hati ibu saya terketuk sehingga ibu saya ikut memilih agama Islam.
7. Saya tidak mempunnyai metode khusus dalam mendidik anak semua mengalir dan berjalan begitu saja. Tetapi lebih sering metode ceramah ketika sedng mengajarkan kepada anak saya.
8. Materi yang saya ajarkan meliputi keimanan kepada Allah swt, ajaran akidah akhlak yang berupa perilaku baik dan buruk kepada orang tua, tetangga, keluarga, teman sebaya, cara berbicara yang sopan, menghormati orang tua, dan lain sebagainya. Selain itu saya juga mengajarkan tentang beribadah kepada Allah seperti sholat, puasa, zakat, dan lain sebagainya. Suami saya juga mengajarkan tentang slogan lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah. Yang mempunyai maksud bahwasannya lebih baik kita memberikan shodaqoh kepada orang yang membutuhkan, dari pada kita menerima shodaqoh dari orang lain.
9. Tujuan pendidikan agama Islam untuk keluarga saya adalah untuk menjadi muslim yang taat, sholeh, mampu mencapai masa depan yang mandiri, dan lebih baik dari sekarang. Saya berharap anak-anak saya bisa memperhatikan ilmu agama karena agama adalah kunci segala- galanya, hal yang terpenting dari yang penting.
Lampiran Foto
Foto bersama Bapak Kadus Desa Barukan
Foto bersama Kelurga Bapak Wahyu salah satu Keluarga Muallaf
Foto bersama Ibu Ari salah satu Keluarga Muallaf
Masjid Al-Muttaqin salah satu masjid di Desa Barukan
Masjid Baituddua’in salah satu masjid di Desa Barukan