BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN membahas tentang metode penelitian yang meliputi: pendekatan dan jenis
PAPARAN DATA DAN ANALISIS A Paparan Data
3. Peran Orang Tua Muallaf dalam Meningkatkan Pendidikan Agama Islam Pada Anak
a. Keluarga Amara Wahyu Hidayat
Peran Bapak Wahyu dalam mendidik anaknya belum begitu banyak karena anaknya masih berumur 11 bulan. Namun demikian Bapak Wahyu tetap mengajarkan anaknya dari masih di dalam kandungan membiasakan dengan mendengarkan ayat-ayat al-Qur’an. Hal ini yang diajarkan orang tua Ibu Devi karena Ibunda Ibu Devi adalah salah satu ustadzah TPQ yang ada di Desa Barukan. Sejak anaknya lahir Bapak Wahyu juga mempunyai andil yang sangat besar.
“Anak saya harus masuk Islam dan saya mengajarkannya sejak kecil. Saat anak saya lahir saya yang mengadzani, mengadakan aqiqah pengajian bapak-bapak, memberikan nama yang bagus yang mempunyai harapan terhadap anak saya, mendidiknya dengan ajaran Islam. Walaupun yang lebih banyak berperan dalam mendidik anak saya adalah istri karena saya bekerja pulangnya sore atau malam” (Wahyu/01/03/2017).
Bapak Wahyu menginginkan anaknya kelak menjadi anak yang sholihah dan dapat mendoakan orang tuanya kelak ketika sudah
73
meninggal. Dalam Keluarga Bapak Wahyu dan Ibu Devi yang lebih berperan dalam mendidik anaknya adalah Ibu Devi karena Ibu Devi sebagai ibu rumah tangga yang mengurus anaknya di rumah dan lebih dalam ilmu agamanya. Bukan berarti Bapak Wahyu tidak mempunyai peran dalam mendidik anak tetapi karena Bapak Wahyu bekerja pulangnya sore atau malam yang mana intensitas bertemu dengan anaknya sedikit dan juga ilmu agamanya yang masih sedikit dibandingkan dengan Ibu Devi.
b. Keluarga Satiman
Sejak anak saya lahir sudah beragama Islam sesuai dengan agama suami saya. Metode yang sering kami gunakan dalam mendidik anak kami adalah metode ceramah. Biasanya suami saya mengajarkan tentang budaya-budaya Islam. Dan memberikan contoh sebelum menyuruh anak saya menghormati orang lain, kami melakukan terlebih dahulu bagaimana menghormati dan menghargai orang lain. Sebelum mengajarkan untuk selalu berbicara yang baik kami terlebih dahulu mengucapkan hal-hal yang baik”(Prihantini/02/03/2017).
Metode yang sering digunakan oleh Bapak Satiman dan Ibu Prihantini dalam mendidik anaknya adalah metode ceramah. Metode ini lebih mudah digunakan dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Dan tanpa harus banyak persiapan. Selain itu juga menggunakan metode keteladanan. Penerapan pendidikan agama Islam pada anak di dalam keluarga muallaf yaitu Bapak Satiman dan Ibu Prihantini dapat
74
dikatakan berhasil. Hal ini dapat dilihat dari sejak kelahiran anak tunggalnya yang bernama Pundi Prasetyo mengikuti agama ayahnya yaitu agama Islam. Dengan keterbatasan ilmu agama yang dimiliki Ibu Prihantini karena seorang muallaf dia mendidik anaknya dengan menyekolahkan anaknya pada sekolah umum dan disamping itu Ibu Prihatin juga memasukan anaknya ke tempat pendidikan Al-Qur’an yang ada di desanya di luar jam sekolah, yaitu pada waktu sore hari, dengan tujuan anaknya bisa mendapatkan pengetahuan agama yang lebih karena Ibu Prihantini menyadari akan minimnya pengetahuan agamanya dan ayahnya sibuk bekerja dan tidak ada waktu untuk mengajarkan agama pada anaknya. Akan tetapi Ibu Prihantini juga tidak lepas dari tanggungjawabnya sebagai seorang ibu yang tugasnya mendidik anaknya, yaitu dia mendidik akhlak dan perbuatan yang baik kepada siapapun, dan larangan berbuat keburukan kepada siapapun, baik itu mendiskriminasi orang, mencuri, berbohong, dan lain sebagainya meskipun dalam pengetahuan agamanya belum maksimal. Hal yang paling membanggakan dari anaknya adalah keunggulan prestasi akademik dan spiritual yang dimiliki.
Jadi dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa Keluarga Bapak Satiman dalam mendidik anaknya, yang lebih banyak berperan adalah Bapak Satiman karena yang menjadi muallaf adalah Ibu Prihantini. Walaupun yang mendidik tentang hal keagamaan hanyalah Bapak Satiman namun kualitas anak dalam hal keagamaan tidak kalah dengan
75
anak yang berasal dari keluarga Islam sejak lahir. Hal ini dapat dibuktikan dengan perilaku anak yang berbakti dengan orang tua, rajin sholat, rajin mengaji, rajin pergi ke TPQ tanpa harus dipaksa oleh orang tua. Meskipun ibunya belum bisa melakukan ibadah-ibadah secara sempurna seperti yang dilakukan oleh anaknya. Tujuan yang ditanamkan bapak Satiman kepada Pundi dapat disimpulkan bahwa agama merupakan suatu pedoman dan dasar hidup yang harus dimiliki dan diyakini. Dengan mempunyai pedoman hidup seperti itu maka hidupnya akan terarah dan sesuai dengan ajaran syariat Islam.
c. Keluarga Ragil Widiyanto
“Metode yang digunakan keluarga saya adalah metode ceramah. Dalam berkumpul bersama saya menjelaskan berbagai hal yang kemudian didengarkan oleh anak saya yang berhubungan dengan agama. Karena ilmu agama kami tidak begitu banyak maka dari itu kami membiarkan anak kami mendapat ilmu agama dari sekolah atau
dari orang lain”(Ari/03/03/2017).
Penerapan Pendidikan Agama Islam pada anak dalam keluarga muallaf yaitu Bapak Ragil dan Ibu Ari dapat disimpulkan bahwasannya kurang maksimal dalam mendidik anaknya menurut ajaran Islam. Hal ini dapat dilihat dari anaknya yang disekolahkan di sekolah umum akan tetapi juga tidak dimasukan ke tempat pendidikan Al-Quran atau TPA yang ada di lingkungan sekitar. Selain itu anaknya juga tidak ditanamkan nilai-nilai agama sejak kecil, contoh kecilnya
76
anaknya tidak diajarkan memakai jilbab sehingga sampai sekarang anaknyapun tidak mau memakai jilbab.
Jadi dalam keluarga Bapak Ragil dan Ibu Ari ajaran agama Islam tidak terlalu ditekankan. Karena kepercayaan adalah suatu kebebasan dan anak mereka dapat memilihnya kelak ketika dewasa. Karena minimnya faktor pendukung dari suami, keluarga, dan lingkungan. Dengan minimnya ilmu agama serta tidak ada ajaran dari suami maka tujuan agama tidak begitu penting. Yang terpenting hanyalah berakhlak yang baik sesama manusia tanpa menghiraukan ajaran agama Islam yang telah dipilihnya sebagai agama yang diyakini.
d. Keluarga Wagimin
“Saya sering mengajarkan tentang toleransi dalam beragama, saling tolong menolong, dan bekerja sama dengan orang lain. Sebagai masyarakat yang berbeda agama saya juga mengajarkan kepada anak saya dalam hal-hal yang memberi manfaat bagi orang banyak. Saya juga mendatangkan guru les ngaji agar anak-anak saya mempunyai kesempatan yang luas untuk bertanya dan memperdalam ajaran agama Islam yang belum mereka ketahui”(Wagimin/04/03/2017).
Dalam keluarga Bapak Wagimin yang lebih mendalami ilmu agama Islam adalah Ibu Fatimah namun Bapak Wagimin juga mempunyai peran yang sangat penting dalam mendidik anaknya karena ia menjadi kepala rumah tangga. Mereka juga menggunakan metode keteladanan yakni sebelum menyuruh anak-anaknya Ibu
77
Fatimah melakukan terlebih dahulu untuk menjadi contoh dari anak- anaknya. Misalnya dalam mendidik menyuruh sholat 5 waktu.
Penerapan pendidikan agama Islam dalam keluarga Bapak Wagimin dapat dikatan berhasil. Hal ini dapat dilihat dari anak- anaknya yang selalu taat dan patuh pada orang tua. Serta selalu bergaul dengan baik di sekolah maupun di masyarakat. Banyak warga yang mengatakan bahwa anak dari Bapak Wagimin adalah anak yang baik, ramah, dan sering melaksanakan sholat berjamaah di masjid.
Jadi dalam keluarga Bapak Wagimin dan Ibu Fatimah dalam pendidikan agama anaknya, mereka mempunyai tujuan yang jelas. Karena bisa mendatangkan guru private agama untuk mendidik anaknya dalam mendalami agama. Selain itu dengan uang pula dapat membeli buku-buku Islami yang berkualitas sesuai dengan yang dibutuhkan.
e. Keluarga Agus
“Saya tidak mempunnyai metode khusus dalam mendidik anak semua mengalir dan berjalan begitu saja. Tetapi lebih sering metode ceramah ketika sedng mengajarkan kepada anak saya. Materi yang saya ajarkan meliputi keimanan kepada Allah swt, ajaran akidah akhlak yang berupa perilaku baik dan buruk kepada orang tua, tetangga, keluarga, teman sebaya, cara berbicara yang sopan, menghormati orang tua, dan lain sebagainya. Selain itu saya juga mengajarkan tentang beribadah kepada Allah seperti sholat, puasa,
78
zakat, dan lain sebagainya. Suami saya juga mengajarkan tentang slogan lebih baik tangan di atas dari pada tangan di bawah. Yang mempunyai maksud bahwasannya lebih baik kita memberikan shodaqoh kepada orang yang membutuhkan, dari pada kita menerima shodaqoh dari orang lain”(Evi/05/03/2017).
Dalam mendidik anak-anaknya Bapak Agus menjadi orang yang berperan sangat penting. Karena ilmu pengetahuan Bapak Agus lebih luas dan mendalam. Hal-hal yang diajarkanpun lebih jelas dan mendetail. Sedangkan Ibu Evi juga ikut berpartisipasi dalam mendidik anaknya dalam hal agama. Ibu Evi adalah salah satu muallaf yang mempunyai ilmu pengetahuan agama yang lebih dibandingkan dengan muallaf yang lain. Karena semangat dan banyak faktor pendukungnya. Sehingga dalam mengajarkan anaknya baik itu bersosial, bergaul dengan teman, berakhlak yang mulia, Ibu Evi tidak terlalu kesulitan kecuali dalam hal bacaan sholat dan mengaji. Karena Ibu Evi belum fasih dalam hal tersebut. Tetapi sudah hafal semua bacaan sholat dan sedikit bisa membaca Al-Qur’an namun tidak sefasih suaminya. Jadi dalam hal sholat dan membaca Al-Qur’an dipasrahkan kepada suaminya. Ibu Evi juga selalu membimbing anak-anaknya supaya mereka rajin mengikuti kegiatan TPQ yang ada di Desa Barukan.
Jadi dari paparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa keluarga Bapak Agus adalah keluarga yang sangat patuh terhadap ajaran agama, walaupun istrinya Ibu Evi seorang muallaf namun tidak menjadi
79
kendala dalam mendidik anak-anaknya untuk menjadi anaka-anak yang taat, sholeh, rajin mengaji, sholat dan menjadi seseorang yang berakhlakul karimah. Dengan menggunakan metode ceramah dan peneladanan dapat dismpulkan bahwa metode yang digunakan Bapak Agus dan Ibu Evi berhasil, meskipun anak-anaknya masih kecil akan tetapi jiwa-jiwa Islami sudah mulai terlihat dan muncul.