• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3 PENGUMPULAN DATA

3.1.3 Hasil wawancara

38 SIKAP/PERILAKU 1. Merasa tidak mampu (harga diri rendah)

2. Putus asa (tidak percaya diri)

3. Merasa gagal (kehilangan motivasi dalam menggunkan keterampilan diri)

4. Kehilangan kendali diri ( demoralisasi)

5. Merasa punya kekuatan berlebihan dengan gejala tersebut

6. Merasa malang (tidak dapat memenuhi kebutuhan spiritual)

7. Bertindak tidak seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan

8. Rendahnya kemampuan sosialisasi 9. Ketidakadekuatan pengobatan 10. Perilaku agresif

11. Perilaku kekerasan

12. Ketidakadekuatan penanganan gejala

Tabel 3.3 – Gejala-gejala pencetus respon neurobiology Sumber: Buku Pendidikan Keperawatan Jiwa (Abdul Muhith)

39 beberapa faktor seperti stress, pengaruh obat, ada penyakit syaraf tertentu dsb. Tetapi ketika kita melakukan hanya begadang tanpa ada tekanan pikiran dan diikuti tekanan lainnya, kemungkinan untuk berhalusinasi pun kecil. Untuk orang-orang yang ingin memastikan bahwa dia sedangberhalusinasi atau tidak bisa dengan cara menanyakan keadaan sekitar kepada orang di sekitar kita saat yang diduga halusinasi tersebut muncul. Missal, ketika mendengar suara-suara yang janggal, bisa langsung tanyakan kepada orang sekitar kita, apakah mereka mendengar hal yang sama atau tidak. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dari efek begadang, bisa di hindari dengan cara melakukan tidur bifasik. Kalau efeknya semakin berlanjut, bisa langsung konsultasi ke psikolog dan mendapatkan penanganan yang lebih ahli.

Berikut adalah isi dari percakapan yang saya laksanakan bersama beliau :

Gambar 3.1 Kurniasih Ayu Archentari, M.Psi., Psikologi (Alodokter)

Narasumber: NS Penanya: P

40 P : Selamat Sore dok, Pertanyaan ini lebih menjurus pada pertanyaan untuk tugas akhir saya yang membahas tentang halusinasi salah satu efek buruk begadang. Apakah dokter berkenan untuk menjawab pertanyaan yang saya berikan?

NS : Boleh, bagaimana ada yang bias saya bantu?

P : Baik langsung saya mulai ya, Apa benar halusinasi adalah salah satu efek dari terlalu sering begadang, kurang tidur dan kelelahan?

Kalua benar, bagaimana itu bias terjadi?

NS : Halusinasi muncul saat seseorang sudah tidak bias membedakan realitas dan fantasinya. Halusinasi bisa banyak faktor. Missalnya konsumsi obat-obatan tertentu, mengalami schizophrenia atau gangguan jiwa berat, ada faktor genetok, atau sakit tertentu. Jika sering begadang, kurang tidur, dan kelelahan sampai saat ini belum menemukan factor pastinya, namun saat seseorang dalam kondisi begadang dsb tadi, maka konstentrasi bias terganggu. Namun untuk mencul halusinasi belum tentu

P : Ketika kita terlalu kelelahan, terkadang seorang manusia bisa sangat mengantuk sampai tidak bisa mengontrol atau menahan kantuknya lagi, disaat seperti itu kadang manusia itu bias merasa dunia nyatanya sudah seperti dunia mimpi dan terlihat tidak nyata. Apa itu bagian dari mimpi atau halusinasi?

NS : itu peralihan antara kesadaran ke ketidaksadaran saat tidur. Ada penurunan gelombang otak alfa beta nanti bisa search lebih lanjut prihal pengertiannya. Ada yang Namanya juga hipnagogik dan hipnopompik, jaitu halusinasi saat tidur dan bangun tidur. Mungkin kondisi tersebut mirip dengan yang terjadi di konsidi hipnagogik. Tapi biasanya ini terjadi pada pasien syaraf atau kondisi narkolepsi.

41 P : Saya hendak memastikan, dibuku yang say abaca, dengan judul

“Pendidikan Keperawatan Jiwa” (Abdul Muhith, 2015), disana menjelaskan bahwa gejala-gejala pencetus respon neurobiology itu : nutrisi kurang, kurang tidur, kelelahan, infeksi, obat-obat system syaraf pusat, dll. Apakan benar itu adalah salah satu factor pemicu halusinasi?

NS : Benar, seperti yang saya jelaskan tadi di awal, ada banyak faktor dari biologis seperti contohnya genetik, sakit, dan faktor-faktor lainnya yang saling mempengaruhi.

P : Jadi saat kita kelelahan, itu tidak pasti akan mengalami halusinasi, tetapi ada kemungkinan juga kita mengalami kalua kadar begadang yang dijalani terlalu berat, rutin, atau berhari-hari?

NS : iya, dan ditambah faktor lainnya, jadi tidak bisa faktor tunggal.

Missal ditambah dengan stress, memiliki trauma, ada riwayat genetik, dsb

P : ini pertanyaan saya yang terakhir dok, bagaimana seseorang membedakan halusinasi? Apa seseorang akan selamanya tidak bias membedakan mana halusinasi dan yang mana yang nyata?

NS : caranya adalah meyakinkan kembali dengan pengalaman orang lain. Untuk menjadikannya lebih objektif, misal, halusinasi suara, maka dia bias bertanya kepada orang lain yang berada di situasi yang sama.

Apakah dia mendengar sesuatu itu atau tidak. Kemudian jika lebih banyak orang lain yang tidak merasakan hal yang di anggap

“halusinasi”, maka bias jadi yang dialami orang tersebut memang berhalusinasi

42 P : terimakasih banyak dok, jawabannya sangan membantu sekali.

Maaf sebelumnya mengganggu waktunya, sekali lagi saya ucapkan terimakasih.

NS : iya, tidak masalah, sudah tugas saya membantu menjawab pertanyaan seperti itu.

Catatan: Narkolepsi adalah sebuah kelainan pada neurologis yang memengaruhi otak yang mengontrol tidur dan terjaga. Seseorang yang mengidap narkolepsi rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari dan beberapa rangkaian tidur yang tidak terkendali selama siang hari. Serangan tidur mendadak ini terjadi ketika beraktivitas setiap hari.

Seseorang yang mengidap narkolepsi akan mengalami halusinasi, seperti mimpi ketika tertidur atau bahkan terbangun. Halusinasi yang terjadi ketika tertidur disebut juga dengan hipnagogik, lalu halusinasi yang terjadi ketika bangun adalah hipnopompik. Halusinasi yang terjadi dapat sangat jelas dan mungkin hal yang sangat menakutkan.

Setelah bangun tidur, perlu beberapa menit untuk menghilangkan rasa takut dan menyadarkan diri bahwa hal tersebut adalah halusinasi.

Kemungkinan besar, halusinasi pada pengidap narkolepsi adalah tidur dengan gerakan mata cepat (REM) yang terjadi ketika seseorang sadar.

Pengidap narkolepsi dapat disebabkan oleh hilangnya zat kimia di otak yang disebut dengan hipokretin. Zat tersebut bekerja pada sistem peringatan di otak, menjaga seseorang tetap terjaga, dan mengatur siklus bangun tidur.

Seseorang yang mengidap narkolepsi, sel yang menghasilkan hipokretin, yang terletak di daerah yang disebut hipotalamus, mengalami rusak atau hancur total.

Tanpa adanya hipokretin, seseorang yang terserang hal tersebut sulit untuk tetap terjaga dan mengalami gangguan dalam siklus tidur-bangun.

Hingga saat ini, tidak ada obat untuk seseorang yang mengidap gangguan ini. Namun, obat-obatan dan perawatan terhadap kelainan tersebut dapat meminimalisir gejala, sehingga pengidap dapat menjalani hidup yang

43 produktif.

Narasumber 2:

P : Dok, apakah kelelahan (akibat terlalu sering begadang) dan diikuti dengan depresi dapat menimbulkan halusinasi?

NS : Terlalu sering begadang saja bisa. Depresi saja juga bisa. Apalagi kombinasi keduanya

P : Terlalu sering begadang yang bagaimana yang bisa sampai menimbulkan halusinasi?

NS : Baik, akan saya jelaskan ya. Kalau boleh tau, sudah berapa lama keluhannya?

P : Kalau untuk contoh kasus, seorang mahasiswa yang sibuk dengan jadwal kuliahnya dan tugas organisasi kampusnya selama kurang lebih 2 tahun. Dan frekuensinya lumayan sering. Seperti tiba-tiba melihat lukisan bergerak sendiri. Dan melihat suatu benda mati yang bergerak-gerak sendiri.

NS : Untuk halusinasi dapat terjadi pada beberapa kondisi misalnya sedang kurang tidur, kurang makan, ditimpa masalah yang sama bertubi-tubi, stressor berulang-ulang bahkan karena adanya

44 gangguan diotak secara organic juga bisa misalnya kejang, sakit kepala hebat dan benturan pada kepala misalnya akibat kecelakaan atau lainnya. Apa yang orang it

P : NS : P : NS : P : NS :

Dokumen terkait