BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2. Penyajian Data
4.2.3. Hasil Wawancara
Peneliti melakukan wawancara kepada pemilik UD.Mitra Cahaya sebagai informan kunci, pengelola UD.Mitra Cahaya sebagai informan utama dan konsumen UD.Mitra Cahaya sebagai informan tambahan.Wawancara dilakukan untuk menganalisis peranan strategi word of mouth marketing dalam penjualan batik motif Sumatera Utara UD.Mitra Cahaya dan menganalisis keefektifan strategi word of mouth marketing dalam penjualan batik motif Sumatera Utara UD. Mitra Cahaya. Selain itu, peneliti diharapkan dapat mencari alternatif strategi komunikasi pemasaran lain yang dapat dilakukan UD. Mitra Cahaya dalam penjualan batik motif Sumatera Utara.
Berikut adalah kutipan wawancara dengan pemilik, pengelola dan konsumen UD. Mitra Cahaya.
a. Pemilik UD. Mitra Cahaya
Untuk menganalisis peranan strategi word mouth marketing dalam penjualan batik motif Sumatera Utara, peneliti melakukan wawancana kepada pemilik UD.Mitra Cahaya yaitu Ibu Dra. Nur Cahaya Nasution.
Peneliti mengajukan pertanyaan kepada pemilik UD. Mitra Cahaya mengenai kendala yang dihadapi usaha batik motif Sumatera Utara yang dirangkum di dalam satu pertanyaan yaitu: Apa kendala utama yang dihadapi usaha batik motif Sumatera Utara dalam semua bidang?
Pemilik UD. Mitra Cahaya, Ibu Nur Cahaya Nasution (69 tahun) mengatakan:
“Kendala utama yang kami hadapi saat ini adalah di bidang produksi yaitu tenaga kerja yang sedikit.Tenaga kerja kami saat ini hanya berjumlah 18 orang.Melihat permintaan konsumen yang meningkat dan
jumlah tenaga kerja yang sedikit, kami kewalahan untuk memproduksi batik dalam jumlah banyak.”
Dari jawaban Ibu Nur Cahaya tersebut, kendala utama yang dihadapi usaha beliau ini adalah sumber daya manusia yang sedikit terutama tenaga kerja di bidang produksi.Ibu Nur Cahaya melihat permintaan konsumen semakin meningkat, namun tenaga kerjanya sangat sedikit dan harus diperbanyak.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan kepada pemilik UD. Mitra Cahaya mengenai strategi untuk menghadapi kendala tersebut yang dirangkum di dalam satu pertanyaan yaitu: Apa strategi yang digunakan untuk menghadapi kendala tersebut?
Pemilik UD. Mitra Cahaya, Ibu Nur Cahaya Nasution (69 tahun) mengatakan:
“Ada, strategi yang kami gunakan adalah dengan mendirikan LKP.LKP itu Lembaga Keterampilan Pelatihan yang kami namakan Saudur Sadalanan yang berarti satu jalan.LKP ini didirikan untuk melatih siapa saja yang mau belajar batik. Awalnya yaa ibu-ibu sekitar rumah dan anak-anak putus sekolah di daerah sekitar rumah kami ini. Disini kami harapkan tiap orang harus pandai dan mahir sesuai pekerjaannya.Misalnya, ada yang pande mencanting, yaa dia harus mencanting.Dia pande menembok, dia harus menembok.Dia pande melorod, yaa dia harus melorod.Jangan satu orang, bisa melakukan semuanya.Bisa menghambat produksi kami ke depannya.”
Dari jawaban Ibu Nur Cahaya tersebut, pemilik sudah mempunyai Lembaga Keterampilan Pelatihan untuk mengatasi kendala tersebut.Lembaga Keterampilan Pelatihan tersebut diharapkan memunculkan tenaga kerja baru
yang mahir sesuai pekerjaannya dan dapat meningkatkan produksi ke depannya.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan kepada pemilik UD. Mitra Cahaya mengenai pesaing di sekitar usaha yang dirangkum di dalam satu pertanyaan yaitu: Apakah ada pesaing-pesaing sejenis di lokasi sekitar usaha ini dan apa yang membedakan pesaing tersebut dengan UD. Mitra Cahaya?
Pemilik UD. Mitra Cahaya, Ibu Nur Cahaya Nasution (69 tahun) mengatakan:
“Saat ini hanya ada 2 pesaing kami yaitu menantu saya yang sudah saya serahkan usaha itu pada tahun 2009 di Gang Musyawarah.Kami sudah tidak bersama lagi dan dia juga fokus pada tenun.Nama usahanya Ardina Batik.Selain itu, ada di daerah PIK Menteng, namanya Batik Pelopor.Yang membedakan batik kami dengan batik mereka adalah dari motif-motif batik yang kami produksi.Kami lebih banyak menampilkan semua etnis yang ada di Sumut, tidak fokus pada satu etnis misalnya Batak.Kami banyak menawarkan warna yang selama ini orang tahu batik Sumut warnanya merah hitam putih.Kami juga menerima pesanan produksi sedikit sesuai dengan selera konsumen.”
Dari jawaban Ibu Nur Cahaya Nasution tersebut, pesaing sejenis di sekitar lokasi usaha hanya ada dua yaitu Ardina Batik dan Batik Pelopor.Yang membedakan UD. Mitra Cahaya dengan pesaing lainnya adalah motif batik yang mereka tawarkan, kaya akan warna batik dan pelayanan pesanan batik sesuai dengan selera konsumen.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan kepada pemilik UD. Mitra Cahaya mengenai komunikasi pemasaran yang digunakan untuk
menjual batik motif Sumatera Utara yang dirangkum di dalam satu pertanyaan yaitu: Apakah usaha ini memiliki strategi komunikasi pemasaran dalam menjual batik motif Sumatera Utara?
Pemilik UD. Mitra Cahaya, Ibu Nur Cahaya Nasution (69 tahun) mengatakan:
“Kami tidak memiliki strategi komunikasi pemasaran, hanya kami selalu ikut pameran-pameran yang diadakan pemerintah. Dari situ banyak orang mengenal batik kami”
Dari jawaban Ibu Nur Cahaya diatas, usaha tidak mempunyai strategi khusus untuk menjual batik motif Sumatera Utara.Mereka hanya mengikuti pameran-pameran sehingga melalui dari pameran itu konsumen dapat mengenal batik motif Sumatera Utara.
b. Pengelola UD. Mitra Cahaya
Peneliti melakukan wawancara dan memberikan beberapa pertanyaan kepada pengelola UD.Mitra Cahaya yaitu Bapak Zulhair Kustanto dan Ibu Zuhrita Kustiwi.Mereka merupakan kakak beradik dan anak dari pemilik UD.Mitra Cahaya yaitu Ibu Nur Cahaya Nasution.Wawancara dilakukan secara bersamaan.Hal ini dilakukan untuk menganalisis peranan strategi word of mouth marketing dalam penjualan batik motif Sumatera Utara.
Peneliti mengajukan pertanyaan kepada pengelola UD.Mitra Cahaya mengenai kendala di bidang pemasaran pada usaha batik motif Sumatera Utara UD. Mitra Cahaya yang dirangkum di dalam satu pertanyaan
yaitu: Apa kendala utama yang dihadapi usaha batik motif Sumut ini dalam memasarkan dan menjual produknya?
Pengelola UD. Mitra Cahaya, Bapak Zulhair (44 tahun) dan Ibu Zuhrita (41 tahun) mengatakan:
“Kendala utama yang kami hadapi adalah ga adanya tenaga kerja pemasar.Selama ini hanya kami saja yang menjadi pemasar dan juga menjual batik-batik ini.Kadangkala ada juga sih konsumen yang menjadi pemasar, namun tidak menamakan usaha kami.”
Dari jawaban pengelola UD. Mitra Cahaya tersebut, sumber daya manusia merupakan kendala utama yang dihadapi. UD.Mitra Cahaya tidak mempunyai tenaga kerja pemasar untuk menjual batik motif Sumatera Utara.Selama ini, hanya pemilik dan pengelola saja yang menjadi tenaga pemasar.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan kepada pengelola UD. Mitra Cahaya mengenai strategi untuk menghadapi kendala tersebut yang dirangkum di dalam satu pertanyaan yaitu: Apakah ada strategi yang digunakan untuk menghadapi kendala tersebut?
Pengelola UD. Mitra Cahaya, Bapak Zulhair (44 tahun) dan Ibu Zuhrita (41 tahun) mengatakan:
“Strategi kami belum ada, namun kami meminta bantuan konsumen yang membeli batik kami untuk menjual batik kami. Kami kan produksi kain batik, yaa mereka biasanya membuat batik ini jadi baju, tas atau produk lainnya. Jadi berkat konsumen juga batik kami terkenal.”
Dari jawaban pengelola UD.Mitra Cahaya tersebut, UD.Mitra Cahaya tidak memiliki strategi untuk menghadapi kendala tersebut.Pengelola
hanya meminta bantuan konsumen untuk menjual batik. Konsumen tersebut membuat produk turunan dari batik motif Sumatera Utara seperti tas, pakaian, sepatu dan lain-lain.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan kepada pengelola UD. Mitra Cahaya mengenai komunikasi pemasaran dalam menjual batik motif Sumatera Utara yang dirangkum di dalam satu pertanyaan yaitu: Apakah usaha ini memiliki strategi komunikasi pemasaran dalam menjual batik motif Sumatera Utara?
Pengelola UD. Mitra Cahaya, Bapak Zulhair (44 tahun) dan Ibu Zuhrita (41 tahun) mengatakan:
“Strategi komunikasi pemasaran kami ga ada, cuman kami sering ikut pameran sana sini, dari situlah banyak orang kenal batik kami.Tapi saat ini kami sedang merencanakan strategi door to door ke sekolah-sekolah, perguruan tinggi maupun kantor-kantor untuk menjual batik kami. Kami merencanakan akan membuat kartu nama dan katalog tentang batik-batik kami ini. Dari katalog kan, mereka dapat tau apa itu batik Sumut, apa aja jenisnya dan sebagainya.”
Dari jawaban pengelola UD.Mitra Cahaya tersebut, UD.Mitra tidak mempunyai strategi komunikasi pemasaran namun UD.Mitra Cahaya sering mengikuti pameran-pameran yang dilakukan pemerintah untuk mengenalkan batik motif Sumatera Utara kepada masyarakat.UD.Mitra Cahaya sedang merencanakan strategi door to door untuk menjual batik motif Sumatera Utara.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan kepada pengelola UD.Mitra Cahaya mengenai jumlah konsumen yang datang per hari ke
UD.Mitra Cahaya yang dirangkum di dalam satu pertanyaan yaitu: Berapa banyak jumlah konsumen per hari dan banyak dari kalangan apa?
Pengelola UD. Mitra Cahaya, Bapak Zulhair (44 tahun) dan Ibu Zuhrita (41 tahun) mengatakan:
“Tidak tentu jumlah konsumennya. Per hari bisa aja datang 2 atau 3 orang, pernah sampai 10 orang, namun dalam jumlah yang banyak. Misalnya kemarin pernah datang dari Dinas Koperasi dan Kantor Pajak, mereka ingin buat seragam buat pegawainya.Mereka pesan sampai ratusan potong kain.Untuk kalangan, yaa dari semua kalangan.Seperti tadi saya bilang kantor-kantor, anak muda juga, semua kalangan lah.”
Dari jawaban pengelola UD.Mitra Cahaya tersebut, jumlah konsumen per harinya adalah 2-10 orang dengan jumlah pesanan yang banyak. Konsumen UD. Mitra Cahaya dari semua kalangan mulai dari anak muda hingga kantor-kantor instansi pemerintah maupun swasta.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan kepada pengelola UD. Mitra Cahaya mengenai informasi konsumen tentang usaha mereka yang dirangkum di dalam satu pertanyaan yaitu: Apakah pernah bertanya darimanakah para konsumen ini mendapatkan informasi tentang batik motif Sumatera Utara UD. Mitra Cahaya?
Pengelola UD. Mitra Cahaya, Bapak Zulhair (44 tahun) dan Ibu Zuhita (41 tahun) mengatakan:
“Selalu kami tanya, apalagi kalo ada orang baru yang datang ke kami. Mereka tau batik kami yaa dari orang ke orang. Kayak kemarin ada peragawan Kota Medan yang mau ikut lomba gitu, dia taunya dari teman- temannya juga yang pernah beli batik kami.”
Dari jawaban pengelola UD.Mitra Cahaya tersebut, pengelola selalu bertanya kepada konsumen mengenai asal mula konsumen mengetahui usaha batik motif Sumatera Utara UD. Mitra Cahaya. Konsumen mengatakan bahwa mereka mendapatkan informasi dari mulut ke mulut.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan kepada pengelola UD. Mitra Cahaya mengenai pemanfaatan media sosial dalam memasarkan batik motif Sumatera Utara yang dirangkum di dalam satu pertanyaan yaitu: Sudah memanfaatkan media sosial apa saja untuk memasarkan batik motif Sumatera Utara? Bila belum kenapa?
Pengelola UD. Mitra Cahaya, Bapak Zulhair (44 tahun) dan Ibu Zuhrita (41 tahun) mengatakan:
“Kami tidak pernah pake media sosial untuk menjual batik kami. Biasanya kan ada pakai iklan di koran. Tidak ada modal kami untuk seperti itu. Cuman sering orang datang seperti wartawan untuk meliput kami, melihat proses batik dan sebagainya. Mungkin dari berita koran tersebut, orang tau batik kami ini. Tidak pernah kita datang ke media apapun untuk meliput kami dan kami tidak pernah keluar biaya sama sekali.”
Dari jawaban pengelola UD.Mitra Cahaya tersebut, UD.Mitra Cahaya sering kedatangan wartawan untuk meliput usaha mereka.Wartawan tersebut membuat berita tanpa meminta biaya kepada UD. Mitra Cahaya. Jadi, UD. Mitra Cahaya memanfaatkan berita media sosial untuk memasarkan batik motif Sumatera Utara.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan kepada pengelola UD. Mitra Cahaya mengenai ketertarikan untuk menggunakan media sosial internet yang dirangkum di satu pertanyaan yaitu: Melihat perkembangan
media sosial internet, apakah tidak ada ketertarikan untuk menggunakannya secara maksimal?
Pengelola UD. Mitra Cahaya, Bapak Zulhair (44 tahun) dan Ibu Zuhrita (41 tahun) mengatakan:
“Ada ketertarikan, sebenarnya kami ada facebook gitu, kami sudah upload foto-foto batik kami, cuman kurang update aja.Interaksi dengan konsumen juga ga ada melalui facebook tersebut. Mungkin ke depannya, kalau sudah ada tenaga pemasar khusus, kami akan berdayakan. Melihat sekarang banyak bisnis online dan menjanjikan sekali.”
Dari jawaban pengelola UD.Mitra Cahaya tersebut, UD.Mitra Cahaya sudah mempunyai akun media sosial internet yaitu facebook, namun kurang diberdayakan secara maksimal.Pengelola mempunyai keinginan kembali untuk memberdayakan akun media sosial internet tersebut melihat potensi yang menjanjikan pada bisnis online.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan kepada pengelola UD.Mitra Cahaya mengenai kritik konsumen kepada UD. Mitra Cahaya yang dirangkum di dalam satu pertanyaan yaitu: Apakah sering menerima kritik dan saran dari para konsumen? Biasanya melalui apa dan apa kritik dan saran mereka?
Pengelola UD. Mitra Cahaya, Bapak Zulhair (44 tahun) dan Ibu Zuhrita (41 tahun) mengatakan:
“Kritik dan saran selalu kami terima, mereka menyampaikan secara langsung ke kami, ga ada pake media-media apa. Kritik mereka paling mengenai lokasi kami yang tidak strategis dan tidak ada penunjuk di depan gang. Kadang mereka suka kesal, juga ga ada lahan parkir mobil di
tenaga kerja diperbanyak, karena permintaan semakin banyak.Juga dari motif-motif kami perlu dikembangkan atau lebih dipadu dengan motif-motif lain dan lebih bermain diwarna.”
Dari jawaban pengelola UD.Mitra Cahaya tersebut, UD.Mitra Cahaya sering menerima kritik dan saran dari para konsumen dan biasanya konsumen menyampaikan secara langsung kepada mereka. Kritik konsumen kepada mereka adalah lokasi usaha yang tidak strategis dan tidak adanya penunjuk tempat usaha di depan gang. Sedangkan saran konsumen kepada mereka adalah meningkatkan produksi dan motif-motif batik yang perlu dieksplorasi lagi.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan kepada pengelola UD. Mitra Cahaya mengenai pemasaran mulut ke mulut (word of mouth
marketing) dalam memasarkan batik motif Sumatera Utara yang dirangkum
di dalam satu pertanyaan yaitu: Menurut Anda, apakah selama ini sangat dominan word of mouth marketing dalam memasarkan batik motif Sumut?
Pengelola UD. Mitra Cahaya, Bapak Zulhair (44 tahun) dan Ibu Zuhrita (41 tahun) mengatakan:
“Ya sangat dominan sekali pemasaran dari mulut ke mulut itu.Seperti tadi kami bilang, orang tau batik kami karena dari orang yang bercerita atau merekomendasikan batik kami.Dari pameran juga, ada orang yang puas pada batik kami, mereka juga mungkin bercerita ke orang. Mulut ke mulut ini kan karena relasi dan sifatnya personal dan berantai. Ya mungkin ini strategi yang ampuh juga, karena kan tanpa modal hanya modal omogan doang. Tapi yaa kendalanya kalo ada orang yang tidak puas pada batik kita, mereka pasti bercerita buruk. Jangan ada simpang siur lah
informasi tersebut, karena orang pengen batik kita, karena orang melihat orang lain puas pada batik kita.”
Dari jawaban pengelola UD.Mitra Cahaya tersebut, pemasaran dari mulut ke mulut (word of mouth marketing) sangat dominan dalam penjualan batik motif Sumatera Utara mereka.Pengelola berpendapat pemasaran mulut ke mulut ini sangat ampuh karena hanya modal bicara, tanpa mengeluarkan banyak uang. Mereka sudah bertanya kepada konsumen bahwa konsumen mengetahui usaha mereka dari relasi konsumen .
c. Konsumen UD. Mitra Cahaya
Konsumen suatu produk adalah orang yang berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan usaha.Peneliti mengajukan beberapa pertanyaan kepada beberapa konsumen kain batik motif Sumatera Utara UD. Mitra Cahaya. Hal ini dilakukan untuk menganalisis peranan strategi word of mouth marketing dalam penjualan kain batik motif Sumatera Utara UD.Mitra Cahaya dan menganalisis keefektifan strategi word of mouth marketing dalam penjualan kain batik motif Sumatera Utara UD. Mitra Cahaya.
Peneliti mengajukan pertanyaan kepada konsumen kain batik motif Sumatera Utara UD.Mitra Cahaya mengenai asal mula mendapatkan informasi mengenai batik motif Sumatera Utara UD. Mitra Cahaya yang dirangkum di dalam satu pertanyaan yaitu: Darimanakah Anda mendapatkan informasi mengenai batik motif Sumatera Utara UD. Mitra Cahaya?
Konsumen yang bernama Febrianti Siahaan (38 tahun) mengatakan:
“Awal mulanya dari seorang teman saya dimana dia menampilkan profil picture di blacberry sedang membatik di UD. Mitra Cahaya, lalu saya menanyakan dimana alamat usaha ini dan saya langsung datang ke tempat”
Konsumen yang bernama Opie Syafriel (40 tahun) mengatakan:
“Pada saat itu ada sebuah pelatihan yang diselenggarakan oleh pemerintah dimana ada undangan buat UKM, kebetulan UD Mitra Cahaya ikut serta didalamnya bersama usaha saya dibidang souvenir.Disitu kita kenalan, saya tanyakan apa produk yang dibuat.”
Konsumen yang bernama Sudirman Napitupulu (24 tahun) mengatakan:
“Saya mendapatkan informasi mengenai batik motif Sumut ini melalui berita online di internet dimana ada sebuah berita mengulas tentang proses pembuatan batik ini.”
Dari beberapa jawaban konsumen di atas, asal mula mereka mendapatkan informasi mengenai batik motif Sumatera Utara UD.Mitra Cahaya adalah dari teman ataupun kerabat terdekat mereka yang secara langsung atau tidak langsung merekemondasikan kain batik motif Sumatera Utara.Selain itu beberapa konsumen mendapatkan informasi melalui pelatihan dan pameran yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah. Ada juga konsumen yang mendapatkan informasi melalui berita di media massa baik cetak maupun online.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan mengenai skala pembelian batik motif Sumatera Utara UD. Mitra Cahaya yang dirangkum di dalam satu pertanyaan yaitu: Sudah berapakalikah Anda membeli batik motif Sumatera Utara UD. Mitra Cahaya?
Konsumen yang bernama Yoan Febby Siregar (23 tahun) mengatakan:
“Saya sudah sekitar lima kali membeli batik di UD. Mitra Cahaya ini.Saya membelinya untuk saya pakai sendiri yaitu membuat gaun ataupun pakaiannya lainnya.”
Konsumen yang bernama Leli Fridayanti Lubis (55 tahun) mengatakan:
“Sudah berulang kali, sekali mengambil bisa 20-30 potong kain. Kebetulan saya buka toko souvenir dimana barang-barang yang saya produksi seperti tas, sepatu dan souvernirnya dikreasikan dengan batik motif Sumut.”
Konsumen yang bernama Sudirman Napitupulu (24 tahun) mengatakan:
“Sudah tidak terhitung, karena selain saya pakai sendiri, saya juga menjual (resseler) membantu UD.Mitra Cahaya dalam memasarkan batiknya.”
Dari beberapa jawaban konsumen di atas, mereka sudah melakukan pembelian secara berulang-ulang. Mereka membeli kain batiknya untuk konsumsi sendiri dan adapula mengkreasikan kain batik dengan produk turunan lain seperti tas, sepatu dan souvenir lainnya. Selain itu, ada konsumen yang menjadi reseller yang bertujuan untuk membantu memasarkan kain batik motif Sumatera Utara UD. Mitra Cahaya.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan mengenai pernah tidaknya mereka menceritakan atau merekomendasikan kain batik motif Sumatera Utara kepada orang lain. Pertanyaanya: Apakah Anda pernah
menceritakan maupun merekomendasikan kepada orang lain mengenai batik motif Sumut UD. Mitra Cahaya?
Konsumen yang bernama Opie Syafriel (40 tahun) mengatakan:
“Pastinya saya menceritakannya. Kadang ada yang bertanya dimana menjual kain batiknya saja dan ingin melihat proses pembuatannya, saya langsung merekomendasikan dengan memberikan alamat UD. Mitra Cahaya kepada konsumen saya.”
Konsumen yang bernama M. Ryan Ramadhan (25 tahun) mengatakan:
“Karena saya sering dan bangga menggunakannya, jadi secara tidak langsung saya mempromosikan dan merekomendasikan kepada teman- teman yang tertarik dengan bahan motif yang saya kenakan baik itu secara langsung maupun melalui postingan saya di media sosial.”
Konsumen yang bernama Leli Fridayanti Lubis (55 tahun) mengatakan:
“Pastinya saya selalu menceritakannya.Saya juga sebagai konsultan pendamping UMKM.Dimana saya selalu menceritakan produk dampingan yang saya bawa dan ternyata salah satunya ada batik motif Sumut UD.Mitra Cahaya.”
Dari beberapa jawaban konsumen diatas, mereka sudah menceritakan maupun merekomendasikan kepada orang lain mengenai batik motif Sumatera Utara UD. Mitra Cahaya. Seperti kata Opie Syafriel, bahwa ada rekan beliau yang bertanya mengenai batik motif Sumatera Utara dan proses pembuatannya, sehingga beliau langsung merekomendasikan dengan memberikan alamat UD. Mitra Cahaya. Begitu pula ada konsumen yang secara tidak langsung menceritakan dan merekomendasikan batik motif
Sumatera Utara dengan menggunakan batik sebagai pakaian pada aktivitas mereka.
Selanjutnya, peneliti mengajukan pertanyaan mengenai reaksi orang tersebut terhadap batik motif Sumatera UD. Mitra Cahaya yang dirangkum dalam satu pertanyaan yaitu: Apa reaksi orang tersebut, apakah mereka tertarik untk membeli batik motif Sumatera Utara UD. Mitra Cahaya?
Konsumen yang bernama Febrianti Siahaan (38 tahun) mengatakan:
“Reaksi pertamanya mereka aneh, ternyata ada batik di Sumatera Utara. Setelah saya beritahu mengenai proses pembuatannya ada disini, saya kasih tunjuk barangnya dan beberapa keunggulan yang dari batik motif Sumut, mereka sangat tertarik. Malah ada konsumen yang bolak-balik membeli terutama untuk seragam.”
Konsumen yang bernama Opie Syafriel (40 tahun) mengatakan: “Tentunya mereka yang bertanya ini tertarik karena mereka yang
senang pada batik umumnya karena keinginan dimana harga yang mahal itu tidak menjadi persoalan.Beda dengan kebutuhan, dimana pasti mencari yang termurah.”
Konsumen yang bernama Leli Fridayanti Lubis (55 tahun) mengatakan:
“Lumayan tertarik.Awalnya orang-orang kaget ternyata ada batik