• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Hedonik Sediaan Obat Kumur Minyak Atsiri buah Kapulaga Setelah dilakukan uji hedonik terhadap 15 panelis, maka obat kumur minyak

Tahap I. Penyediaan Minyak Atsiri buah Kapulaga Terstandar 4.1Identifikasi Sampel Kapulaga

5.2 Tahap II : Uji Pre-klinis .1 Uji Aktivitas Antibakteri

5.2.3 Uji Hedonik Sediaan Obat Kumur Minyak Atsiri buah Kapulaga Setelah dilakukan uji hedonik terhadap 15 panelis, maka obat kumur minyak

atsiri buah kapulaga dengan konsentrasi 0,5% mendapat skor tertinggi disukai panelis baik dari rasa, warna, dan aroma.

Uji hedonik merupakan bentuk uji organoleptik dimana panelis diminta untuk memberikan tanggapan pribadinya tentang kesukaan atau ketidaksukaannya terhadap komoditi yang dinilai dalam bentuk skala hedonik. Tujuan uji penerimaan adalah untuk mengetahui apakah suatu komoditi atau sifat sensorik tertentu dapat diterima

oleh masyarakat. Uji hedonik ini juga merupakan salah satu persyaratan sebuah formulasi agar dapat menjadi sediaan obat yang bermanfaat.

5.3 Tahap III : Uji Klinis

Uji klinis dilakukan pada 20 subjek, yang terdiri atas 10 orang laki–laki dan 10 orang perempuan, dengan kisaran usia 18 – 21 tahun (usia rata–rata: 19,7 ± 0,91 tahun). Sebanyak 45% subjek mempunyai karies walaupun hanya karies fissur, namun sebelum diberikan perlakuan, sudah dilakukan penambalan pada giginya. Pengambilan data awal dilakukan pagi hari sebelum subjek beraktivitas karena tingkat produksi saliva turun ke titik terendah selama tidur. Hal ini didukung oleh penelitian Scheneyer, et al., (1956) yang menyatakan bahwa hampir tidak ada aktivitas pada kelenjar parotid selama tidur. Tidak adanya aktivitas di dalam mulut selama kita tidur membuat kelenjar saliva tidak terstimulasi. Oleh karena itu, volume saliva menjadi berkurang, menurunnya produksi saliva merupakan salah satu penyebab halitosis (Ueno, 2008). Hal ini dikuatkan dengan penelitian (Miyazaki, 1999), yang menyatakan bahwa bau mulut terjadi bila tidak ada aktivitas oral lebih dari 2 jam terutama saat bangun tidur (morning breath).

Saliva adalah cairan tubuh yang sangat penting untuk memelihara kesehatan mulut. Produksi saliva yang normal sehari-hari berkisar antara 0,5 dan 0,6 L/24 jam. Komposisi saliva terdiri atas 99% air dan 1% zat padat yang berisikan protein dan elektrolit (Flink, 2007).

Pengukuran gas VSC dilakukan pada pukul 11 siang dengan dasar pertimbangan adanya circadian rhythm yaitu dimana aliran saliva yang lebih rendah ditemukan pada pagi hari dibandingkan siang hari. Namun, pengaruh dari circadian rhythm ini juga dapat dijumpai dengan adanya peningkatan jumlah saliva pada penderita hyposalivasi (Flink, 2007).

Hasil pengukuran dengan menggunakan oral chroma menunjukkan rerata kadar gas H2S, CH3SH, CH3(2S) dan VSC mengalami penurunan pada hari kelima setelah mendapat perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga dan Listerine®

(Tabel 4.5 dan 4.6). Adanya penurunan kadar gas H2S, CH3SH, (CH3)2S setelah subjek mendapat perlakuan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga membuktikan aktivitas zat antibakteri yang terdapat dalam obat kumur minyak atsiri buah kapulaga terhadap pertumbuhan bakteri yang dominan menyebabkan halitosis. Walaupun ketiga gas H2S, CH3SH, (CH3)2S mengalami penurunan namun gas H2S tidak banyak mengalami penurunan. Yaegaki, et al., 2007, melakukan penelitian tentang efek teh hijau terhadap gas VSC pada penderita halitosis dan hasilnya menunjukkan bahwa gas H2S juga tidak banyak mengalami penurunan dibandingkan gas CH3SH dan (CH3)2S. Hal ini mungkin disebabkan karena gas H2S memiliki sifat racun dan berbau seperti telur busuk, selain itu gas H2S ini terkait dengan penyebab terjadinya poket yang dalam, inflamasi gingiva, dan kerusakan ligamen periodontal (Kaltschmitt, 2005).

Zat aktif yang terkandung didalam minyak atsiri buah kapulaga bersifat antimikroba yang mengandung komponen-komponen seperti sineol, alpha-terpineol,

gama-terpinen, dan sebagainya. Hal ini terbukti dengan pemakaian obat kumur minyak atsiri buah kapulaga 0,5% 2 kali sehari selama 5 hari dapat menghambat aktivitas bakteri anaerob yang menghasilkan gas Volatile Sulfur Compound. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Brotosoetarno (2009) pada hewan coba yang dijumpai pada kadar 30% minyak atsiri buah kapulaga dapat menghambat pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara perlakuan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga dengan obat kumur Listerine® dalam hal menurunkan kadar gas VSC yang menyebabkan bau mulut.

Pada penelitian ini digunakan Listerine® sebagai kontrol positif, sama halnya dengan kelompok perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga terjadi penurunan kadar gas H2S, CH3SH, (CH3)2S dan VSC pada perlakuan berkumur Listerine® hal ini disebabkan adanya kandungan zat aktif fenol yang bersifat antibakteri. Hasil ini membuktikan bahwa pemakaian obat kumur Listerine® juga efektif dalam menurunkan kadar gas VSC yang menyebabkan halitosis. Listerine® adalah liquid

tidak bewarna yang berasal dari eucalyptus dan digunakan dalam farmasi maupun kedokteran. Listerine® memiliki aroma yang segar serta rasa yang dingin dan pedas. Listerine® tidak dapat larut dalam air, tapi dapat larut dalam eter, etanol (alkohol) chloroform. Manfaat Literine® dalam bidang kedokteran salah satunya adalah sebagai antibakteri. Berkumur dengan menggunakan bahan aktif Listerine® dapat mereduksi plak gingivitis secara signifikan (Shinada, 2008). Obat kumur Listerine® merupakan campuran tiga bahan essential oil phenolic yaitu thymol, menthol dan Listerine® yang dikombinasikan dengan methyl salisilac. Cara kerja obat kumur ini adalah dengan merusak dinding sel bakteri.

Listerine® merupakan salah satu produk obat kumur yang mengandung essential oil dan telah teruji manfaatnya dalam mengurangi mikroorganisme di lidah. Beberapa penelitian melaporkan dua jam setelah pemakaian obat kumur Listerine® terjadi penurunan kadar gas VSC yang bermakna dibandingkan plasebo (Roldan, 2003).

Penelitian ini menunjukkan bahwa obat kumur Listerine® dan obat kumur yang berasal dari kapulaga sama efektifnya dalam menurunkan kadar gas VSC yang menjadi penyebab terjadinya halitosis. Kelebihan obat kumur kapulaga adalah tidak mengandung alkohol, sedangkan obat kumur Listerine® mengandung alkohol dengan konsentrasi tinggi yang dapat mengurangi sensasi rasa dan menyebabkan rasa pedih di mulut.

Dibandingkan dengan obat kumur triclosan dan cetylpiridium yang juga bersifat sebagai antimikroba dan secara luas digunakan sebagai antiseptik, namun untuk mengurangi kadar gas VSC masih dipertanyakan.

Selain itu, kandungan obat kumur yang satu dengan yang lain sangat bervariasi. Secara umum kandungan obat kumur adalah etanol dan pelarut lain,

humecants, solubilizer, flavoring agent, pengawet, dan buffer (Nachnani, 2008). Obat kumur minyak atsiri buah kapulaga selain mengandung cineol sebagai zat antibakteri, juga terdapat pelarut lain seperti propylenglicol, HPMC,serta methylparaben.

Tidak demikian halnya dengan perlakuan obat kumur plasebo, di antara ketiga gas unsur VSC, gas H2S mengalami sedikit penurunan walaupun tidak bermakna, sedangkan gas CH3SH, dan (CH3)2S tidak mengalami penurunan. Hal ini disebabkan obat kumur plasebo hanya mengandung aquades murni yang tidak mempunyai zat aktif untuk membunuh bakteri penyebab halitosis. Berarti obat kumur plasebo tidak efektif dalam menurunkan kadar gas VSC yang menyebabkan halitosis.

Hasil uji Ancova pengukuran organoleptik terhadap 3 bahan uji menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga dengan plasebo, minyak atsiri buah kapulaga dengan Listerine® pada pagi hari pertama. Perbedaan yang signifikan terlihat antara perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga dengan Listerine® dan minyak atsiri buah kapulaga dengan plasebo pada siang hari kelima. Perbedaan yang signifikan juga terlihat antara perlakuan berkumur Listerine® dengan plasebo baik pagi hari pertama maupun siang hari kelima. Ini membuktikan bahwa dengan berkumur minyak atsiri buah kapulaga dan Listerine® selama lima hari dapat menurunkan skor halitosis dibandingkan berkumur dengan plasebo.

Pemeriksaan dengan organoleptik ini pertama sekali dikenalkan oleh Rosenberg dan Mc.Culloch, dan merupakan gold standard. Namun mempunyai beberapa kelemahan yaitu bersifat subjektif, karena kemampuan hidung manusia hanya bisa mencium komponen-komponen hasil metabolisme bakteri, namun tidak bisa membedakan ketiga komponen gas VSC (Cassiano, et al., 2011)

Untuk meminimalisasi hasil pemeriksaan yang bersifat subjektif, maka sebelum dilakukan penelitian perlu dilakukan kalibrasi operator (Miyazaki, 2006), dan alat yang dapat diandalkan untuk melihat ketiga komponen gas VSC H2S, CH3SH, dan (CH3)2S adalah alat Oral chroma (Murata, et al., 2006).

Dari hasil uji klinis, membuktikan bahwa berkumur dengan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga sama efektif dengan obat kumur Listerine® dalam hal menurunkan kadar gas VSC setelah dilakukan pemeriksaan kadar gas dengan alat Oral Chroma dan pengukuran skor halitosis dengan organoleptik measurement.

Penelitian ini telah mengikuti persyaratan agar suatu tanaman obat tradisional dapat menjadi obat fitofarmaka, di mana ke semua tahap telah dilalui yaitu tahap menentukan minyak atsiri buah kapulaga yang terstandar, kemudian tahap pre klinis dilanjutkan sampai pada tahap klinis dan terbukti bahwa berkumur minyak atsiri buah kapulaga 0,5% dapat mengurangi kadar gas VSC yang menjadi penyebab timbulnya halitosis. Selain itu obat kumur minyak atsiri buah kapulaga ini juga mempunyai keunggulan dibandingkan obat kumur yang beredar di pasaran yaitu minyak atsiri buah kapulaga ini tidak mengandung alkohol.

Salah satu syarat agar suatu calon obat dapat dipakai dalam praktek kedokteran dan pelayanan kesehatan formal (fitofarmaka) adalah apabila bahan baku tersebut sudah terbukti aman dan memberikan manfaat klinis dan hal ini telah diatur pemerintah dalam keputusan Menteri Kesehatan RI No.761/Menkes/SK/IX/1992 (Departemen Kesehatan RI, 2000).

BAB 6

Dokumen terkait