• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efektifitas Bahan Kumur Berbasis Minyak Atsiri Buah Kapulaga (Amomum cardamomum L) Terhadap Penurunan Gas Volatile Sulfur Compound (VSC) Pada Subjek Halitosis Chapter III VI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Efektifitas Bahan Kumur Berbasis Minyak Atsiri Buah Kapulaga (Amomum cardamomum L) Terhadap Penurunan Gas Volatile Sulfur Compound (VSC) Pada Subjek Halitosis Chapter III VI"

Copied!
51
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

METODE PENELITIAN

Penelitian ini terbagi menjadi tiga tahap, tahap I merupakan penyediaan minyak atsiri buah kapulaga terstandar, tahap II uji pre-klinis, sedangkan tahap III merupakan uji klinis. Tiap tahap mempunyai desain penelitian masing-masing.

Tahap I : Penyediaan Minyak Atsiri buah Kapulaga Terstandar

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan tujuan mendapatkan minyak atsiri dari buah kapulaga terstandar dengan kadar minyak atsiri > 3%, diperoleh dari simplisia yang memenuhi standar Materi Medika Indonesia.

3.1.1Sampel Penelitian

Sampel penelitian berupa buah kapulaga yang diambil secara purposif dari lahan kebun desa Bintang Meriah kecamatan STM Hulu kabupaten Deli Serdang.

Kriteria inklusi dan eksklusi meliputi : a. Kriteria inklusi

1) Buah kapulaga yang tumbuh pada suatu lahan kebun desa Bintang Meriah kecamatan STM Hulu Kabupaten Deli Serdang.

2) Usia tanaman rata-rata 6 bulan.

3) Buah masih segar dan berwarna putih.

4) Simplisia buah kapulaga memiliki kadar air < 10% 5) Simplisia buah kapulaga mengandung minyak atsiri > 3%

b. Kriteria eksklusi

(2)

3.1.2Tempat

a. Identifikasi tanaman kapulaga dilakukan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pusat Penelitian Biologi di Bogor.

b. Pembuatan simplisia terstandar dan isolasi minyak atsiri dilakukan di Laboratorium Obat Tradisional Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara Medan.

3.1.3Pembuatan Simplisia

Identifikasi/determinasi buah kapulaga yang diperoleh dari lahan kebun desa Bintang Meriah kecamatan STM Hulu kabupaten Deli Serdang dilakukan di “Herbarium Bogoriense”, Balitbang Botani, Puslitbang Biologi-LIPI Bogor.

Cara kerja pembuatan simplisia buah kapulaga: 1. Pengeringan simplisia

Buah kapulaga dibersihkan, kemudian dilakukan pensortiran, penimbangan basah, dan dikeringkan di lemari pengering pada suhu tidak lebih dari 40oC, lalu dilakukan penimbangan (kering) dan foto simplisia.

2. Pemeriksaan standarisasi simplisia

Pemeriksaan standarisasi simplisia meliputi penetapan kadar air, penentuan kadar abu total tidak larut dalam asam dan penentuan kadar sari larut dalam air/larut dalam etanol

a. Penetapan kadar air

(3)

Gambar 3.1. Alat penetapan kadar air Cara kerja:

Penjenuhan toluene dilakukan dengan memasukkan ke dalam labu alas bulat sebanyak 200 ml toluene dan air 2 ml air suling, dipasang alat penampung dan pendingin, kemudian dilakukan destilasi selama 2 jam. Destilasi dihentikan dan dibiarkan dingin selama 30 menit, kemudian volume air dalam tabung penerima dibaca dengan ketelitian 0,05 ml (WHO, 1992). Kemudian ke dalam labu tersebut dimasukkan 5 gram serbuk simplisia yang telah ditimbang seksama, labu dipanaskan hati-hati selama 15 menit. Setelah toluene mendidih, kecepatan tetesan diatur 2 tetes untuk tiap detik sampai sebagian besar air terdestilasi, kemudian kecepatan destilasi dinaikkan sampai 4 tetes tiap detik. Setelah semua air terdestilasi, bagian dalam pendingin dibilas dengan toluene. Destilasi dilanjutkan selama 5 menit, kemudian tabung penerima dibiarkan mendingin pada suhu kamar. Setelah air dan toluene

memisah sempurna, volume air dibaca dengan ketelitian 0,05 ml. Selisih kedua volume air yang dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa. Kadar air dihitung dalam persen (Depkes, 1995; WHO, 2009).

b. Penetapan kadar sari

1. Penetapan kadar sari larut dalam air

(4)

labu bersumbat sambil dikocok selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam lalu disaring. Sejumlah 20 ml filtrat pertama diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang beralas rata yang telah dipanaskan dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam air dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 1995; WHO, 2009).

2. Penetapan kadar sari larut dalam etanol

Sebanyak 5 gram serbuk yang telah dikeringkan, dimaserasi selama 24 jam dalam 100 ml etanol 95% dalam labu bersumbat sambil dikocok sesekali selama 6 jam pertama, kemudian dibiarkan selama 18 jam. Disaring cepat untuk menghindari penguapan etanol. Sejumlah 20 ml filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan penguap yang beralas rata yang telah dipanaskan dan ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105oC sampai bobot tetap. Kadar sari yang larut dalam etanol 95% dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan (Depkes RI, 1995; WHO, 2009).

c. Penetapan kadar abu 1. Penetapan kadar abu total

Sebanyak 2 gram serbuk yang telah digerus dan ditimbang seksama dimasukkan dalam krus porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Krus dipijar perlahan-lahan sampai arang habis, pemijaran dilakukan pada suhu 6000C selama 3 jam kemudian didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah dikeringkan di udara (Depkes RI, 1995; WHO, 2009).

1. Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam

(5)

d. Penetapan kadar minyak atsiri

Penetapan kadar minyak atsiri simplisia buah kapulaga (Amomum cardamommum L) dilakukan dengan alat Stahl.

Gambar 3.2 Alat Stahl

Sebanyak 10 gram kapulaga yang sudah kering dan sudah dihancurkan dimasukkan dalam labu alas diatas pemanas listrik. Labu dihubungkan dengan pendingin dan alat penampung berskala, buret diisi dengan air sampai penuh. Isi labu dididihkan dengan pemanasan yang sesuai untuk menjaga pendidihan berlangsung lambat tetapi teratur sampai minyak atsiri terdestilasi sempurna dan tidak bertambah lagi dalam alat berskala (6 jam). Setelah penyulingan selesai, dibiarkan tidak kurang dari 15 menit, kemudian volume minyak atsiri dicatat pada buret. Kadar minyak atsiri dihitung dalam %v/b (Depkes RI, 1995; WHO, 2009).

a) Isolasi minyak atsiri dari buah kapulaga

(6)

Caranya: Sebanyak 200 gram serbuk simplisia dimasukkan dalam labu alas bulat berleher panjang 2 liter ditambahkan air suling sampai sampel terendam. Kemudian dirangkai alat destilasi air. Destilasi dilakukan selama 6 jam. Minyak atsiri yang diperoleh ditampung dalam corong pisah setelah itu dipisahkan antara minyak dan air. Kemudian minyak atsiri yang diperoleh ditambahkan natrium sulfat anhidrat, dikocok dan didiamkan selama 24 jam (Gambar 3.3).

Gambar 3.3 Proses pembuatan tanaman buah kapulaga menjadi minyak atsiri

3.1.4Analisis Data

Rencana analisis data untuk uji tahap I ini adalah deskriptif dengan nilai rata-rata dari hasil uji untuk mendapatkan persyarata-ratan mutu.

3.2Tahap II : Uji Pre-klinis

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium dengan tujuan untuk pembuatan sediaan obat kumur herbal terstandar, uji aktivitas bakteri, uji stabilitas sediaan, dan uji hedonik.

Tanaman Buah Kapulaga

Buah Kapulaga yang Dikeringkan (Simplisia)

Simplisia Buah Kapulaga Dihaluskan

Penyulingan Buah Kapulaga Dengan Alat

Stahl Minyak Atsiri Buah

(7)

3.2.1Pembuatan Sediaan Obat Kumur Herbal Terstandar

Formulasi pembuatan obat kumur herbal terstandar berdasarkan konsentrasi bahan minyak atsiri buah kapulaga 0,125%, 0,25%, 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, sebagai emulgator digunakan larutan HPMC 5%. HPMC adalah turunan dari cellulose yang berfungsi sebagai pembuat gel. Keuntungan HPMC ini dapat menghasilkan gel yang netral, jernih, tidak berwarna, dan stabil pada pH 3-11, serta mempunyai resistensi yang baik terhadap serangan mikroba (Soekarto, 1985) 5% HPMC terdiri atas propilenglycol 12,8%, methyl paraben 0,18%, dan HPMC bubuk 3%, berdasarkan uji pendahuluan yang dilakukan di Laboratorium Farmasi USU maka diperoleh komposisi formula sediaan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga seperti tertera pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1. Komposisi formula obat kumur minyak atsiri buah kapulaga (berdasarkan studi pendahuluan, September 2012)

Komposisi Konsentrasi

2,5% 5% 10% 20%

Minyak atsiri buah kapulaga 2,5 g 5 g 10 g 20 g

Aquadest (ad) 100 ml 100 ml 100 ml 100 ml

HPMC 3% 5 g 5 g 5 g 5 g

3.2.2 Uji Aktivitas Anti Bakteri Dari Obat Kumur Minyak Atsiri buah

Kapulaga

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental laboratorium untuk menentukan aktivitas bakteri yang dominan menjadi penyebab halitosis serta menetukan kadar hambat minimal (KHM) dan kadar bunuh minimal (KBM).

(8)

kumur minyak atsiri buah kapulaga ini aktif terhadap jenis bakteri yang dominan menjadi penyebab halitosis.

Sumber bakteri diperoleh dari stok kultur Porphyromonas gingivalis ATCC 33277 pada laboratorium mikrobiologi dan jika tidak ada dilakukan isolasi bakteri dan spesimen sehingga diperoleh jenis bakteri penyebab halitosis dengan metode biakan murni.

Gambar 3.4 Stok Kultur Porphyromonas gingivalis ATTC 33277

3.2.3Identifikasi Variabel

a. Variabel bebas adalah obat kumur minyak atsiri buah kapulaga dengan konsentrasi 0,125%, 0,25%, 0,5%, 1%, 1,5%, 2%.

(9)

No Variabel Definisi Cara Pengukuran Hasil Ukur Skala

1. Bakteri

Porphyromonas gingivalis

Adalah bakteri anaerob gram negatif yang dapat memetabolisme asam amino dan menghasilkan metabolit yang bersifat toxic terhadap jaringan gingival manusia, dominan menyebabkan timbulnya bau mulut (halitosis)

Dengan cara membiak bakteri dari asal biakan murni ke dalam deretan medium yang sudah ditambahkan larutan minyak atsiri buah kapulaga dengan kadar yang semakin menipis menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri dengan diameter hambat

Setelah pengeraman dilihat pada tabung mana yang tidak terlihat adanya pertumbuhan bakteri (warna pembenihan tetap jernih) disebut kadar membunuh pertumbuhan dan perkembangbiakan bakteri dari jumlah koloni bakteri

(10)

Sampel penelitian ini adalah biakan murni Porphyromonas gingivalis yang berasal dari laboratorium Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Besar sampel dihitung dengan rumus F ederer (Federer, 2005), yaitu : (t-1) (r-1) ≥ 15; (t = jumlah kelompok perlakuan; r = jumlah sampel/pengulangan). Pada penelitian ini untuk uji aktifitas antibakteri jumlah kelompok perlakuan ada 4 sehingga diperlukan 6 pengulangan untuk setiap kelompok perlakuan.

(t-1) x (r-1) ≥ 15 (4-1) x (r-1) ≥ 15 (3) x (r-1) ≥ 15 3r –3 ≥ 15 3r = 15 + 3 3r = 18 r = 6

Keterangan:

t = Jumlah perlakuan dalam penelitian r = Jumlah perlakuan ulang (sampel)

Jumlah perlakuan (r) ulang yang digunakan adalah 4. Pada penelitian ini digunakan 6 kali pengulangan.

1. Kelompok I : minyak atsiri dengan konsentrasi 0,125% = 6 pengulangan 2. Kelompok II : minyak atsiri dengan konsentrasi 0,25% = 6 pengulangan 3. Kelompok III : minyak atsiri dengan konsentrasi 0,5% = 6 pengulangan 4. Kelompok IV : minyak atsiri dengan konsentrasi 1% = 6 pengulangan 5. Kelompok V : minyak atsiri dengan konsentrasi 1,5% = 6 pengulangan 6. Kelompok VI : minyak atsiri dengan konsentrasi 2% = 6 pengulangan

(11)

3.2.5Cara Kerja

Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode Dilusi (Dillusion method) dan metode Difusi (Difusion method).

3.2.5.1Metode Dilusi (Dilution method)

a. Minyak atsiri buah kapulaga konsentrasi 0,125%, 0,25%, 0,5%, 1%, 1,5 dan 2% diencerkan dengan media cair BHI.

b. Masing-masing bahan uji sebanyak 2 ml diteteskan 0,05 cc suspensi

Porphyromonas gingivalis MF 0,5 diinokulasikan ke dalam bahan uji masing-masing 5 deret tabung sehingga didapat konsentrasi 0,125%, 0,25%, 0,5%, 1%, 1,5 dan 2%.

c. Semua tabung dimasukkan kedalam anaerogen compact dan dieram pada suhu 37oC didalam inkubator selama 3×24 jam

(12)

3.2.5.2Metode Difusi (Diffusion method)

a. Pembuatan media 1. Muller Hinton Agar

Komposisi : Beef infusion from 300 g Casein hydroxylat 17,5 g

Starch 1,50 g

Bacto-Agar 17,0 g (pH = 7,4)

Cara pembuatan:

Ditimbang sebanyak 28 g serbuk MHB, ditambah 15 g Bacto Agar, kemudian disuspensikan ke dalam tabung Erlenmeyer dengan air suling yang ditambahkan sedikit demi sedikit hingga 1000 ml, dipanaskan hingga mendidih sambil sesekali diaduk sampai bahan larut sempurna dan jernih. Tutuplah Erlenmeyer dengan kapas yang dilapisi aluminium foil, lalu disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 121°C tekanan 1½ atm selama 15 menit.

2. Pembuatan larutan NaCl 0,9% Komposisi : Natrium Klorida 0,9 g

Air suling ad 100 ml Cara pembuatan :

(13)

Gambar 3.6 Pembuatan media Muller Hinton agar

3. Pembuatan suspensi standar Mc Farland

Suspensi-suspensi standar Mc Farland (MF) menunjukkan konsentrasi kekeruhan suspensi bakteri. MF1 setara dengan 3×108 CFU/ml.

Komposisi: Larutan asam sulfat 1% 9,5 ml Larutan barium klorida 1,175% b/v 0,5 ml Cara pembuatan:

Kedua larutan disuspensikan dalam tabung reaksi steril, dikocok sampai homogen dan ditutup. Apabila kekeruhan hasil suspensi bakteri setara dengan kekeruhan suspensi MF1 standar, berarti konsentrasi bakterinya 3×108 CFU/ml.

(14)

4. Pembuatan media Brucella broth

Komposisi: Pancreatin digest casein 10,0 g

Peptamin 10,0 g

Dekstrosa 1,0 g

Yeast extract 2,0 g Natrium klorida 5,0 g Natrium bisulfit 0,1 g Aquadest ad. 1000 ml Cara pembuatan:

Semua bahan dipanaskan hingga mendidih, kemudian disaring dengan kertas saring, setelah itu disterilkan dalam autoklaf pada suhu 14oC tekanan 1½ atm selama 15 menit setelah steril bahan dibagi-bagikan kedalam tabung steril.

Gambar 3.8 Pembuatan media brucella broth

5. Pembuatan Media Padat yang Diperkaya (Brucella Agar + darah + vitamin K)

Komposisi A: Pancreatin digest casein 2,5 g

Peptamin 2,5 g

(15)

Yeast extract 0,5 g Natrium bisulfit 0,025 g Aquadest ad. 250 ml Komposisi B: Darah-domba steril 10 ml Vitamin K steril 0,5 ml Cara pembuatan:

Semua bahan A disuspensikan dengan menggunakan aquadest sehingga volumenya 250 ml. Panaskan hingga larut, lalu sterilkan dengan menggunakan autoklaf pada suhu 121°C tekanan 1½ atm selama 15 menit. Setelah larutan A steril, biarkan suhunya turun. Saat suhunya 50°C ditambahkan 0,5 ml vitamin K. Pada suhu 40°C-38°C tambahkan darah domba 10 ml. Kemudian dibagi pada media cawan (plat) @20 ml (tebal media pada plat 6 mm). Selanjutnya didinginkan dalam media selama 1×24 jam.

Gambar 3.9 Media padat Brucella agar

b. Pembuatan stok kultur bakteri

Satu osebakteri Porphyromonas gingivalis ATCC 33277 dilarutkan kedalam tabung evis yang berisi 1 ml NaCl 0,9% dan diaduk dengan mikropipet Eppendorf

(16)

Gambar 3.10 Stok kultur bakteri c. Pembuatan inokulum bakteri

Bakteri hasil inkubasi menggunakan ose steril disuspensikan ke dalam tabung yang berisi 10 ml larutan NaCl 0,9% steril, kemudian dihomogenkan dengan

Eppendorf hingga diperoleh kekeruhan suspensi bakteri yang setara dengan kekeruhan MF1. Ini berarti bahwa konsentrasi suspensi bakteri adalah 3×108 CFU/ml. Setelah itu, dilakukan pengeceran 2 kalinya dengan menggunakan NaCl 0,9% sehingga diperoleh suspensi bakteri dengan kekeruhan MF 0,5.

(17)

3.2.6Uji Stabilitas Sediaan

3.2.6.1Pengukuran pH

Setiap sampel obat kumur diukur nilai pH-nya, dengan dua kali pengukuran. Sebelum pengukuran, pH meter dikalibrasi dengan menggunakan larutan bufer standar pH 4 dan pH 7. Pengukuran dilakukan dengan cara elektroda dibilas dengan akuades dan dikeringkan dengan kertas tisu. Kemudian elektroda dicelupkan pada larutan sampel dan dibiarkan beberapa saat sampai diperoleh pembacaan yang stabil, lalu nilai pH dicatat (Pradewa, 2008).

3.2.6.2Pengukuran viskositas

Viskositas sampel obat kumur diukur dengan menggunakan Ubbelohde viscometer. Sampel sebanyak ± 10 ml dimasukkan ke dalam tabung Ubbelohde

sampai batas yang telah ditetapkan. Sambungkan tabung pada selang-selang yang tersambung dengan Viscosity Measurement Unit. Viskometer dinyalakan hingga didapat nilai jumlah waktu pada alat.Viskositas dihitung dengan mengkonversi nilai viskositas yang telah ditetapkan dengan konstanta pada tabung Ubbelohde (Pradewa, 2008).

Gambar 3.12 Alat Ubbelohde viscometer

3.2.6.3Uji Organoleptik

(18)

yang digunakan adalah 1-5, di mana angka 1 = sangat tidak suka, 2 = tidak suka, 3 = netral, 4 = suka, dan 5 = sangat suka. Dalam analisisnya, skala hedonik ditransformasikan menjadi skala numerik dengan angka menaik menurut tingkat kesukaan (Rahayu, 1994). Tujuan uji penerimaan adalah untuk mengetahui apakah suatu komoditi atau sifat sensorik tertentu dapat diterima oleh masyarakat (Sarastani, 2008). Uji organoleptik ini dilakukan untuk mengetahui tanggapan kesukaan panelis terhadap warna, kekentalan, aroma, rasa, sensasi di mulut, dan penampakan (penilaian) umum. Sampelnya adalah subjek yang memenuhi kriteria inklusi diluar subjek pada penelitian uji klinis.

Untuk melihat tingkat kesukaan panelis terhadap sediaan berdasarkan masing-masing parameter, digunakan skala numerik yang dapat dilihat pada Tabel 3.3. Tabel 3.3 Skala numerik pada uji organoleptik sediaan (Sarastani, 2008)

Skala hedonic Frekuensi

Sangat tidak suka 1

Tidak suka 2

Netral 3

Suka 4

Sangat suka 5

3.2.7Tempat

1. Pembuatan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga terstandar dilakukan di Laboratorium Obat Tradisional Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.

2. Uji aktifitas bakteri dilakukan di Laboratorium Biologi Oral Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Indonesia.

(19)

3.3Tahap III : Uji Klinis

Rancangan penelitian ini adalah Randomized, clinical trial,cross over design,

dan double blinded dengan tujuan untuk mendapatkan rata-rata penurunan gas VSC dan membandingkan efektifitas obat kumur minyak atsiri buah kapulaga dengan obat kumur Listerine® dan plasebo.

3.3.1Populasi studi: Seluruh santri pada pondok pesantren Raudhatul Hasanah Medan yang berjumlah 300 orang.

3.3.2Jumlah Sampel

Perhitungan jumlah sampel dengan menggunakan rumus uji hipotesis beda 2 proporsi:

Alokasi sama (Uniform allocation = 1 )

2

P1 = Acticipated Population Proportion 1 = 0.90% P2 = Acticipated Population Proportion 2 = 0.50% n = Besar Sampel = 20 (Minimal)

Dari perhitungan tersebut maka diperoleh jumlah sampel minimal 20 orang, yang terdiri atas 10 orang pria dan 10 orang wanita.

3.3.3Sampel : Kriteria inklusi:

1. Dewasa usia 18 – 21 tahun

2. Memiliki kesehatan umum yang baik

3. Tidak sedang mengalami radang pulpa (pulpitis.

4. Tidak sedang menderita kelainan jaringan periodonsium

(20)

6. Tidak memiliki kebiasaan merokok

7. Bukan wanita yang sedang haid atau hamil

8. Tidak sedang mengonsumsi obat tertentu seperti antiparkinson, antipsikotik, antihipertensi

9. Konsentrasi rata-rata gas VSC ≥ 2,4 ppb

10.Bersedia untuk mengikuti seluruh kegiatan penelitian dengan menandatangani informed consent

Kriteria eksklusi:

1. Memiliki penyakit kelainan sistemik: gangguan pencernaan, pernafasan 2. Memiliki kebiasaan mengonsumsi alkohol

3. Memakai peralatan ortodonti cekat 4. Memakai gigi tiruan

5. Pasien yang mengalami demam sehingga harus mengonsumsi antibiotik yang akan mengganggu pengukuran

6. Tidak bersedia menandatangani informed consent

Sebelum memulai penelitian, diberikan kuisioner kepada subjek untuk mendapatkan data karakteristik. Penelitian ini mendapat izin dari Komisi Etik Penelitian Bidang Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

3.3.4Variabel Penelitian

a. Variabel bebas adalah obat kumur minyak atsiri buah kapulaga, obat kumur kontrol positif Listerine®, dan obat kumur negatif plasebo.

(21)

No Variable Definisi Cara pengukuran Hasil Ukur Skala setelah beberapa menit hasil dapat terbaca dilayar monitor alat Oral chroma.

Hasil pengukuran > 2,4 ppb dinyatakan halitosis

Rasio

2. Skor Organoleptik Udara pernafasan yang

keluar dari mulut pasien setelah menutup mulut selama 2 menit

Dengan menilai aroma udara

pernafasan menggunakan

sedotan yang berjarak 10 cm antara mulut subjek dengan hidung pemeriksa. Hasil penilaian berskala 0 – 5

0 = bau mulut tidak terdeteksi 1 = bau mulut terdeteksi

namun dianggap bukan

halitosis

2 = halitosis ringan 3 = halitosis terdeteksi

4 = halitosis sangat terasa tapi masih dapat ditoleransi oleh operator

5 = halitosis berat hingga tidak dapat ditoleransi oleh operator

atsiri buah kapulaga konsentrasi 0,5%

Larutan yang dibuat oleh

peneliti mengandung

bahan seperti terdapat pada tabel kandungan obat kumur penelitian

Dengan Randomized

Clinical Trial, Double Blind, Cross Over Design

(22)

Cara Kerja

Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap pekerjaan, yaitu:

1. Melakukan screening untuk menentukan subjek dengan cara pemberian kuisioner dan pemeriksaan.

2. Melakukan pre-test dengan tujuan untuk mengetahui rata-rata kadar gas VSC pada subjek sebelum diberikan perlakuan.

3. Pemberian informasi yang jelas mengenai tujuan penelitian, prosedur, rasa tidak enak, risiko, menolak ikut atau mengundurkan diri dari penelitian.

4. Jika subjek menyetujuinya maka subjek menandatangani informed consent. 5. Pengukuran organoleptik dengan cara:

1) Persiapan kalibrasi antar pemeriksa. 2) Persiapan alat-alat: karton dan sedotan.

3) Lubang kecil dibuat di tengah karton untuk penempatan sedotan.

4) Karton diletakkan diantara subjek dengan peneliti sehingga peneliti tidak bisa melihat subjek

5) Subjek penelitian menghembuskan nafas melalui sedotan. 6) Peneliti menilai bau mulut dari nafas tersebut dengan skala 0-5

0 = bau mulut tidak terdeteksi

1 = bau mulut terdeteksi namun dianggap bukan halitosis 2 = halitosis ringan

3 = halitosis sedang dan cukup mengganggu 4 = halitosis sangat terasa dan sangat mengganggu

5 = halitosis berat hingga tidak dapat ditoleransi oleh operator 6. Pengukuran kadar gas VSC dengan alat Oral chroma:

1) Spuit yang sudah dibuka jarumnya dimasukkan ke dalam rongga mulut dan ditahan di antara bibir. Keadaan ini dipertahankan sekitar 30 detik dengan mulut tertutup rapat (jangan menyentuh lidah dengan spuit). 2) Kemudian perlahan-lahan plunger ditarik, didorong kembali, dan ditarik

(23)

3) Jika ujung syringe basah, dikeringkan dengan tisu. Lalu jarum dipasangkan ke syringe.

4) Sampel gas dalam syringe diinjeksikan ke dalam inlet oral chroma. 5) Pengukuran akan berlangsung secara otomatis.

6) Hasil pengukuran secara otomatis ditampilkan dalam data oral chroma. 7) Hasil ditunjukkan pada data grafis, kurva, dan angka dari ketiga

komponen gas H2S, CH3SH dan (CH3)2S dalam satuan ppb (part per billion).

7. Data dari kedua hasil pengukuran gas VSC dicatat. 8. Subjek sarapan dengan menu yang sama.

9. Setelah sarapan, subjek menyikat gigi dan diinstruksikan berkumur dengan obat kumur yang sudah ditentukan.

10.Enam jam setelah pengukuran pertama (pukul 11.00) dilakukan kembali pengukuran gas VSC dengan pengukuran organoleptik dan alat oral chroma.

11.Pada pukul 21.00 sebelum tidur subjek diinstruksikan berkumur dengan obat kumur yang telah ditentukan.

12.Perlakuan dilakukan selama 5 hari berturut-turut dan kemudian perlakuan dihentikan selama 3 hari untuk periode washout.

13.Setelah periode washout jenis pengobatan dipertukarkan, subjek yang semula mendapat obat yang diteliti diganti menjadi kontrol dan sebaliknya (cross over design).

Seluruh subjek penelitian diberikan instruksi umum sebagai berikut:

1. Selama penelitian, subjek hanya diperkenankan menyikat gigi dengan pasta gigi dan menggunakan obat kumur yang diberikan peneliti.

2. Selama penelitian, sewaktu menyikat gigi subjek juga diminta untuk menyikat lidah dengan cara satu arah dari punggung lidah bagian belakang kearah ujung lidah (anterior) dengan menggunakan sikat gigi secara berulang-ulang.

(24)

4. Sedapat mungkin tidak mengonsumsi obat-obatan apapun selama penelitian, terutama dari golongan antibiotik sebab antibiotik menghambat pertumbuhan bakteri (bersifat bakteriostatik dan bakterisidal).

5. Subjek tidak diperkenankan merokok selama penelitian.

6. Menu makanan dikontrol untuk menghindari jenis makanan yang menimbulkan bau mulut.

3.3.6Tempat dan Waktu Penelitian

a. Tempat

Uji klinis sediaan obat kumur fitofarmaka minyak atsiri buah kapulaga dilakukan di pondok pesantren Raudhatul Hasanah Medan.

b. Waktu penelitian

Penelitian dilakukan bulan Januari 2013 s/d Juni 2013.

3.3.7Analisis Data

Untuk menganalisis perbedaan rata-rata penurunan kadar gas VSC baseline dan 6 jam kemudian, digunakan Uji T-berpasangan.

Untuk membandingkan efektivitas obat kumur minyak atsiri buah kapulaga dengan Listerine® dan plasebo digunakan uji Anova repeated measure.

3.3.8Etika Penelitian

Dewasa ini, semua uji klinik yang dimaksudkan untuk mengembangkan obat baru harus dikerjakan dengan suatu standar internasioanl yang disebut Good Clinical Practise (GCP) atau Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB). Dengan menerapkan GCP ini akan diperoleh dua kepastian. Yang pertama ialah bahwa data yang diperoleh dapat dipercaya, tepat, dan akurat. Yang kedua ialah terjaminnya hak, keselamatan, integritas, dan kesejahteraan subjek yang ikut dalam penelitian.

(25)

tidak enak dan risiko. Untuk setiap uji klinis, selalu harus dipertimbangkan dulu risiko dan manfaatnya sebelum dimulai.

Metodologi yang kurang baik adalah tidak etis karena mungkin tidak menghasilkan kesimpulan, menghasilkan kesimpulan tetapi tidak akurat, atau bahkan penelitiannya juga tidak dapat diselesaikan. Dengan demikian terjadi pengorbanan subjek manusia.

(26)

Tahap II : Uji Pre-klinis

Tahap III : Uji klinis : Randomized Clinical Trial with Cross Over Design

- Tempat tumbuh, foto tanaman - Umur tanaman, foto buah basah - Identifikasi tanaman LIPI Bogor - Pencucian, pentirisan, pensortiran - Penimbangan (basah)

- Pengeringan di lemari pengering - Pengeringan (kering), foto simplisia

- Standardisasi simplisia (PK air, PK abu, dll) - PK minyak atsiri dengan alat Stahl

- Isolasi minyak atsiri dengan cara steam destilasi

- Pemeriksaan sifat kimia fisika - PK sineol dengan GCMS

(27)

BAB 4

HASIL PENELITIAN

Tahap I. Penyediaan Minyak Atsiri buah Kapulaga Terstandar

4.1Identifikasi Sampel Kapulaga

Hasil identifikasi/determinasi tumbuhan yang dilakukan di Herbarium Bogoriense, Bidang Botani Pusat, Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bogor Jl. Raya Jakarta-Bogor menunjukkan sampel termasuk golongan Amomum cardamommum L suku Zingiberaceae.

4.2Pemeriksaan Simplisia Kapulaga

Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia kapulaga yaitu menentukan kadar air, kadar sari yang larut dalam air, kadar sari yang larut dalam etanol, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut dalam asam menunjukkan bahwa kapulaga sudah memenuhi persyaratan Materia Medika Indonesia.

Hasil pemeriksaan karakterisasi serbuk simplisia kapulaga yang memenuhi kriteria terlihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia kapulaga

Pemeriksaan Kadar

(%)

Standar menurut MMI (%)

Kadar air 8,9 Tidak lebih dari 10

Kadar sari yang larut dalam air 12,5 Tidak kurang dari 10,7 Kadar sari yang larut dalam etanol 2,9 Tidak kurang dari 2,7 Kadar abu total 11,5 Tidak lebih dari 12,3 Kadar abu yang tidak larut dalam asam 1,7 Tidak lebih dari 2,3

4.3Tahap II : Uji Pre-klinis

4.3.1Uji Aktifitas Antibakteri

(28)

masih banyak tumbuh koloni, konsentrasi 0,25% sedikit tumbuh koloni, dan konsentrasi 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% tidak tumbuh koloni (Tabel 4.2).

Tabel 4.2 Hasil uji aktivitas antibakteri minyak atsiri buah kapulaga dengan metode dilusi

Bahan Uji Konsentrasi Pertumbuhan Bakteri

Minyak Atsiri Buah menunjukkan tidak terjadi pertumbuhan koloni bakteri Porphyromonas gingivalis

pada konsentrasi 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% (Gambar 4.1).

(A) (B)

Gambar 4.1. Hasil uji bakteri dengan metode difusi

(29)

Rerata diameter hambat hasil uji aktivitas antibakteri minyak atsiri buah kapulaga dengan 6 konsentrasi 0,125%, 0,25%, 0,5%, 1%, 1,5%, 2% terhadap bakteri

Porphyromonas gingivalis (Tabel 4.3).

Tabel 4.3 Hasil uji aktivitas antibakteri dari minyak atsiri buah kapulaga Konsentrasi Larutan

minyak atsiri buah kapulaga (% v/v)

Rerata Diameter Hambat (mm)

(mm)

Keterangan

2,00 25 10,5

1,50 20 7,0

1,00 18 6,0

0,50 11 2,5

0,25 9 1,5 KHM

0,125 0 0

Pelarut 0 0

4.3.2Uji Hedonik Sediaan Obat Kumur Minyak Atsiri buah Kapulaga

Dari 15 orang semi panelis terlatih yang melakukan uji hedonik meliputi uji aroma, warna, dan rasa terlihat bahwa yang paling disukai panelis baik dari aroma, warna, dan rasa adalah konsentrasi sediaan obat kumur minyak atsiri dengan konsentrasi 0,5%.

(30)

4.3.3Uji Stabilitas Sediaan

4.3.3.1Pengukuran pH

Pengukuran pH obat kumur minyak atsiri buah kapulaga 0,5% dilakukan sebanyak 3 kali pengukuran dengan menggunakan pH meter dan diperoleh hasilnya berturut-turut 6,5, kemudian 6,7, dan 6,7.

4.3.3.2Pengukuran Viskositas

Viskositas sampel obat kumur minyak atsiri buah kapulaga diukur dengan alat

viscometer Brookfield menggunakan spindel No 61, kecepatan 30 rpm dan faktor koreksi 2. Viskositas adalah angka yang terbaca dikali faktor koreksi. Setiap pengukuran (3 × pengukuran) angka yang terbaca adalah 1,5 maka kadar viskositas untuk 3 pengukuran masing-masing 3.

4.4 Tahap III : Uji Klinis

(31)

Tabel 4.4 Karakteristik subjek (n = 20)

Karakteristik Subjek n %

Jenis kelamin Laki – laki Perempuan

10 10

50,0 50,0 Umur

18 2 10,0

19 7 35,0

20 6 30,0

21 5 25,0

Karies Ada Tidak ada

9 11

45,0 55,0

(32)

Tabel 4.5 Rerata kadar gas H2S, pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga, Listerine® dan plasebo (n = 20)

Waktu Pengamatan

Kapulaga Listerine® Plasebo

SD Keterangan : I (Pukul 05.00) II (Pukul 11.00)

(33)

Gambar 4.3. Grafik rerata kadar gas H2S pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga, Listerine®, dan plasebo

Rerata kadar gas CH3SH pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah

kapulaga, Listerine®, dan plasebo menunjukkan kapulaga dari hari pertama

pengukuran 1,312 ± 1,212 sampai hari kelima menjadi 0,391 ± 0,446, Listerine® hari

pertama 1,430 ± 1,387 menurun menjadi 0,496 ± 0,578 hari kelima, sebaliknya

plasebo hari pertama 0,813 ± 0,777 dan hari kelima naik menjadi 0,880 ± 0,814

(Tabel 4.6).

Ka

da

r g

as (µ

g/

ml

(34)

Tabel 4.6 Rerata kadar gas CH3SH pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga, Listerine® dan plasebo (n = 20)

Waktu

Pengamatan

Kapulaga Listerine® Plasebo

SD Keterangan : I (Pukul 05.00) II (Pukul 11.00)

(35)

Gambar 4.4. Grafik rerata kadar gas CH3SH pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga, Listerine®, dan plasebo

Rerata kadar gas (CH3)2S pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga hari pertama 0,755 ± 0,837 dan hari kelima menjadi 0,209 ± 0,231, Listerine® hari pertama 0,745 ± 0,772 menjadi 0,289 ± 0,327 pada hari kelima, plasebo hari pertama 0,413 ± 0,297 dan 0,448 ± 0,411 pada hari kelima (Tabel 4.7).

Ka

da

r g

as (µ

g/

ml

(36)

Tabel 4.7 Rerata kadar gas (CH3)2S pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga, Listerine® dan plasebo (n = 20)

Waktu

Pengamatan

Kapulaga Listerine® Plasebo

SD Keterangan : I (Pukul 05.00) II (Pukul 11.00)

(37)

Gambar 4.5. Grafik rerata kadar gas (CH3)2S pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga, obat kumur Listerine®, dan obat kumur plasebo

4.5 Hasil uji analisis pengukuran gas VSC

Rerata kadar gas VSC dengan perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga hari pertama 3,363 ± 1,773 menjadi 1,118 ± 0,597 pada hari kelima, Listerine® hari pertama 3,488 ± 2,002 menjadi 1,177 ± 0,766 pada hari kelima, plasebo hari pertama 2,284 ± 1,366 kemudian 2,267 ± 1,336 pada hari kelima.

Hasil uji Anova Repeated Measure gas VSC pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga dan Listerine®, menunjukkan ada perbedaan yang signifikan yaitu masing-masing p = 0,001 dan p = 0,007 (p < 0,05) sedangkan perlakuan berkumur plasebo tidak mengalami perbedaan dimana p = 0,172 (p > 0,05) (Tabel 4.8).

Ka

da

r g

as (µ

g/

ml

(38)

Tabel 4.8 Hasil uji Anova Repeated Measures gas VSC pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga, Listerine® dan plasebo (n = 20)

Waktu

Gambaran rerata kadar gas VSC menunjukkan adanya garis grafik semakin menurun pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga dan Listerine®, sedangkan pada perlakuan berkumur plasebo hampir tidak menunjukkan adanya penurunan (Gambar 4.6).

Gambar 4.6. Grafik rerata penurunan kadar gas VSC pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga, Listerine®, dan plasebo

(39)

4.6 Hasil Uji Organoleptik

Hasil uji Ancova pengukuran organoleptik terhadap 3 bahan uji menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga dengan plasebo, minyak atsiri buah kapulaga dengan Listerine® pada pagi hari pertama. Perbedaan yang signifikan terlihat antara perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga dengan Listerine® dan minyak atsiri buah kapulaga dengan plasebo pada siang hari kelima. Perbedaan yang signifikan juga terlihat antara perlakuan berkumur Listerine® dengan plasebo baik pagi hari pertama maupun siang hari kelima (Tabel 4.9).

Tabel 4.9 Hasil uji Organoleptik pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga, Listerine® dan plasebo

Obat Kumur Pagi (Hari 1) Siang (Hari 5)

Kapulaga 2.60 0.5

Listerine® 2.75 1

Placebo 2.05 1.7

Kapulaga vs Listerine®

Adjusted Mean p = 0.633 p = 0.049*

95% CI -0.77±0.47 -1.00± 0.00

Listerine® vs Placebo

Adjusted Mean p = 0.029* p = 0.007*

95% CI 0.08±1.32 -1.20± -0.20

Kapulaga vs Placebo

Adjusted Mean p = 0.083 p = 0.0001*

(40)

BAB 5

PEMBAHASAN

Sumber daya alam bahan obat dan obat tradisional merupakan aset nasional yang perlu terus digali, diteliti, dikembangkan dan dioptimalkan pemanfaatannya. Penelitian dan pengembangan obat tradisional bertujuan untuk menunjang pembangunan di bidang obat tradisional yang bermutu tinggi dan aman serta memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah dan dimanfaatkan secara luas untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal (Kebijakan Obat Tradisional Nasional, 2007).

Penelitian ini dilakukan 3 tahap yaitu tahap I (tahap penelitian deskriptif) untuk memperoleh minyak atsiri buah kapulaga yang terstandar. Tahap II uji preklinis (tahap penelitian eksperimental laboratorik) untuk menentukan Kadar Hambat Minimal (KHM) dan Kadar Bunuh Minimal (KBM) minyak atsiri buah kapulaga terhadap bakteri Porphyromonas gingivalis. Uji stabilitas sediaan dilakukan untuk mengetahui nilai pH dan viskositas obat kumur minyak atsiri buah kapulaga. Uji hedonik untuk mengetahui apakah sediaan dapat diterima oleh masyarakat dalam segi warna, rasa, aroma. Tahap III uji klinis (clinical trial) dilakukan pada subjek penderita halitosis untuk mengetahui rerata penurunan kadar gas VSC setelah menggunakan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga, serta membandingkan efektifitasnya dengan obat kumur Listerine® dan plasebo.

Uji klinis merupakan penelitian klinis yang harus direncanakan dan dilaksanakan secara multidisiplin, sesuai dengan pedoman good clinical (trial)

(41)

Beberapa negara di Eropa, Jepang, dan Australia (Mun‟im & Hanani, 2011) mensyaratkan produk-produk obat herbal harus memenuhi persyaratan GMP (Good Manufacturing Practise) atau CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik). Penelitian ini telah mengikuti persyaratan ilmiah dan etik penelitian klinis dalam melaksanakan uji klinis obat nasional, oleh karena ketiga tahap telah dilalui, yaitu tahap menentukan kadar minyak atsiri yang terstandar, tahap uji preklinis dan tahap uji klinis.

5.1Tahap I : Penyediaan Minyak Atsiri buah Kapulaga yang Terstandar

Hasil identifikasi tanaman menunjukkan bahwa tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah Amomum cardamomum L suku Zingiberaceae.

Simplisia yang akan digunakan sebagai bahan baku harus memenuhi persyaratan yang tercantum dalam monografi terbitan resmi Departemen Kesehatan untuk menghasilkan simplisia yang terstandarisasi. Salah satu persyaratan agar obat tradisional dapat digunakan dalam upaya pelayanan kesehatan harus memenuhi persyaratan parameter standar mutu bahan baku, yaitu identifikasi tanaman yang terdiri atas penetapan kadar air, kadar sari yang larut dalam air, kadar sari yang larut dalam etanol, kadar abu total, kadar abu yang tidak larut dalam asam (Materia Medika Indonesia).

Hasil pemeriksaan kadar air simplisia kapulaga adalah 8,9%, kadar sari yang larut dalam air 12,5%, kadar sari yang larut dalam etanol 2,9%. Tujuan dilakukan penetapan kadar air dan kadar sari yang larut dalam air terhadap simplisia adalah untuk menjaga kualitas dari simplisia karena sangat berhubungan dengan pertumbuhan kapang dan jamur sehingga simplisia harus benar-benar dikeringkan sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan (WHO, 1992).

(42)

pertama abu fisiologis yaitu abu yang berasal dari jaringan tumbuhan itu sendiri dan abu non fisiologis yaitu sisa setelah pembakaran yang berasal dari bahan-bahan dari luar (seperti pasir dan tanah) yang terdapat pada permukaan simplisia. Hasil pemeriksaan simplisia kapulaga ini terbukti telah memenuhi persyaratan dari Materia Medika Indonesia.

Hasil isolasi minyak atsiri dari simplisia kapulaga mengandung minyak atsiri sebesar 5%. Hal ini sesuai dengan standar Materia Medika Indonesia bahwa kadar minyak atsiri tidak kurang dari 5% v/b.

5.2Tahap II : Uji Pre-klinis

5.2.1Uji Aktivitas Antibakteri

Hasil uji antibakteri dengan metode dilusi yang dilakukan terhadap bakteri

Porphyromonas gingivalis dengan 6 konsentrasi obat kumur minyak atsiri buah kapulaga (0,125%, 0,25%, 0,5%, 1%, 1,5% dan 2%) menunjukkan pada konsentrasi 0,125% terjadi kekeruhan sedangkan pada konsentrasi 0,5% terlihat bening. Hasil uji metode difusi menunjukkan pada konsentrasi 0,125% terjadi pertumbuhan banyak koloni, pada konsentrasi 0,25% hanya sedikit tumbuh koloni, sedangkan pada konsentrasi 0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% tidak terjadi pertumbuhan koloni. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi minyak atsiri buah kapulaga 0,25% menjadi kadar hambat minimal (KHM) dan konsentrasi 0,5%, 1%, 1,5%, 2% menjadi kadar bunuh minimal (KBM). Semakin tinggi konsentrasi, maka akan semakin kuat daya bunuh obat terhadap bakteri. Pada penelitian ini diambil konsentrasi 0,5% sebagai kadar bunuh minimal (KBM). Kadar 0,5% merupakan penetapan konsentrasi terendah karena sudah memberikan daya bunuh yang efektif terhadap pertumbuhan bakteri.

Bau mulut merupakan akibat dari proses pembusukan oleh bakteri, di mana bakteri oral bekerja pada protein saliva untuk menghasilkan produk-produk

(43)

mulut menghasilkan sulfur yang berbau seperti telur busuk. Mikroorganisme terutama bakteri gram negatif akan memecah substrat protein menjadi rantai peptida dan asam amino dengan rantai samping yang mengandung unsur sulfur. Asam-asam amino tersebut akan mengalami proses kimiawi (reduksi) yang selanjutnya akan menghasilkan Volatile Sulfur Compound (VSC), yaitu: methil mercaptan (CH3SH),

hidrogen sulfide (H2S) dan dimethil sulfida (CH3)2S. Terdapat tiga asam amino utama yang menghasilkan VSC yaitu cysteine menghasilkan hidrogen sulfida (H2S),

methionine menghasilkan methil mercaptan (CH3SH) dan cystine menghasilkan

dimethil sulfida (CH3SCH3) (Kleinberg, 1997; Murata, 2006; Fukui, 2008).

Zat antibakteri adalah zat yang dapat mengganggu pertumbuhan atau metabolisme bakteri. Berdasarkan aktivitasnya zat antibakteri dibedakan menjadi dua jenis, yaitu yang memiliki aktivitas bakteriostatik (menghambat pertumbuhan bakteri) dan yang memiliki aktivitas bakterisidal (membunuh bakteri). Aktivitas suatu zat antibakteri dalam menghambat pertumbuhan atau membunuh mikroorganisme tergantung pada konsentrasi dan jenis bahan antibakteri tersebut (Tim Mikrobiologi FK Brawijaya, 2003).

Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa minyak atsiri buah kapulaga sangat efektif dalam menghambat atau membunuh bakteri gram negatif yang menjadi unsur utama penyebab terjadinya halitosis. Unsur utama minyak atsiri adalah β-terpineol (13.4%), β-pinene (9,4%) and α-pinene (6,9%) (Mailina, et al., 2007).

(Sabulal, et al., 2006) menyatakan bahwa aktifitas antibakteri minyak atsiri efektif terhadap bakteri gram positif, gram negatif, dan jamur, yang dilakukan dengan metode difusi terhadap Salmonella typhi, Pseudomonas aeruginosa, Proteus vulgaris,

anti jamur terhadap Candida albicans dan Candida glabrata.

(44)

Pseudomonas. Selain mempunyai aktivitas antibakteri, minyak atsiri tersebut juga bersifat antifungi.

5.2.2Uji Stabilitas Sediaan Obat Kumur Minyak Atsiri buah Kapulaga

5.2.2.1Pengukuran pH

Nilai pengukuran pH pada obat kumur minyak atsiri buah kapulaga 0,5% adalah 6,5–6,7. Nilai pH ini masih dapat ditoleransi oleh mulut dan bersifat netral. Nilai pH suatu medium sangat mempengaruhi jenis bakteri yang dapat tumbuh. Kebanyakan bakteri mempunyai pH optimum, pH yang diharapkan bersifat antibakteri adalah pH yang netral (Pradewa, 2008). Mengingat sifat formulasi obat kumur minyak atsiri buah kapulaga yang diinginkan bersifat antibakteri maka dengan perolehan hasil pH yang netral (6,5–6,7) obat kumur ini sudah memenuhi persyaratan formulasi sediaan (Pradewa, 2008).

5.2.2.2Pengukuran Viskositas

Dari hasil uji viskositas yang dilakukan terlihat bahwa formula obat kumur minyak atsiri buah kapulaga sebagai formula terbaik. Hal ini disebabkan karena nilai viskositas formula obat minyak atsiri buah kapulaga memiliki nilai viskositas yang paling mendekati nilai viskositas air. Semakin dekat tingkat viskositas suatu produk formulasi obat kumur dengan tingkat viskositas air, maka semakin mudah dan nyaman produk tersebut digunakan untuk berkumur (Pradewa, 2008).

5.2.3Uji Hedonik Sediaan Obat Kumur Minyak Atsiri buah Kapulaga

Setelah dilakukan uji hedonik terhadap 15 panelis, maka obat kumur minyak atsiri buah kapulaga dengan konsentrasi 0,5% mendapat skor tertinggi disukai panelis baik dari rasa, warna, dan aroma.

(45)

oleh masyarakat. Uji hedonik ini juga merupakan salah satu persyaratan sebuah formulasi agar dapat menjadi sediaan obat yang bermanfaat.

5.3 Tahap III : Uji Klinis

Uji klinis dilakukan pada 20 subjek, yang terdiri atas 10 orang laki–laki dan 10 orang perempuan, dengan kisaran usia 18 – 21 tahun (usia rata–rata: 19,7 ± 0,91 tahun). Sebanyak 45% subjek mempunyai karies walaupun hanya karies fissur, namun sebelum diberikan perlakuan, sudah dilakukan penambalan pada giginya. Pengambilan data awal dilakukan pagi hari sebelum subjek beraktivitas karena tingkat produksi saliva turun ke titik terendah selama tidur. Hal ini didukung oleh penelitian Scheneyer, et al., (1956) yang menyatakan bahwa hampir tidak ada aktivitas pada kelenjar parotid selama tidur. Tidak adanya aktivitas di dalam mulut selama kita tidur membuat kelenjar saliva tidak terstimulasi. Oleh karena itu, volume saliva menjadi berkurang, menurunnya produksi saliva merupakan salah satu penyebab halitosis (Ueno, 2008). Hal ini dikuatkan dengan penelitian (Miyazaki, 1999), yang menyatakan bahwa bau mulut terjadi bila tidak ada aktivitas oral lebih dari 2 jam terutama saat bangun tidur (morning breath).

Saliva adalah cairan tubuh yang sangat penting untuk memelihara kesehatan mulut. Produksi saliva yang normal sehari-hari berkisar antara 0,5 dan 0,6 L/24 jam. Komposisi saliva terdiri atas 99% air dan 1% zat padat yang berisikan protein dan elektrolit (Flink, 2007).

Pengukuran gas VSC dilakukan pada pukul 11 siang dengan dasar pertimbangan adanya circadian rhythm yaitu dimana aliran saliva yang lebih rendah ditemukan pada pagi hari dibandingkan siang hari. Namun, pengaruh dari circadian rhythm ini juga dapat dijumpai dengan adanya peningkatan jumlah saliva pada penderita hyposalivasi (Flink, 2007).

(46)

(Tabel 4.5 dan 4.6). Adanya penurunan kadar gas H2S, CH3SH, (CH3)2S setelah subjek mendapat perlakuan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga membuktikan aktivitas zat antibakteri yang terdapat dalam obat kumur minyak atsiri buah kapulaga terhadap pertumbuhan bakteri yang dominan menyebabkan halitosis. Walaupun ketiga gas H2S, CH3SH, (CH3)2S mengalami penurunan namun gas H2S tidak banyak mengalami penurunan. Yaegaki, et al., 2007, melakukan penelitian tentang efek teh hijau terhadap gas VSC pada penderita halitosis dan hasilnya menunjukkan bahwa gas H2S juga tidak banyak mengalami penurunan dibandingkan gas CH3SH dan (CH3)2S. Hal ini mungkin disebabkan karena gas H2S memiliki sifat racun dan berbau seperti telur busuk, selain itu gas H2S ini terkait dengan penyebab terjadinya poket yang dalam, inflamasi gingiva, dan kerusakan ligamen periodontal (Kaltschmitt, 2005).

Zat aktif yang terkandung didalam minyak atsiri buah kapulaga bersifat antimikroba yang mengandung komponen-komponen seperti sineol, alpha-terpineol,

gama-terpinen, dan sebagainya. Hal ini terbukti dengan pemakaian obat kumur minyak atsiri buah kapulaga 0,5% 2 kali sehari selama 5 hari dapat menghambat aktivitas bakteri anaerob yang menghasilkan gas Volatile Sulfur Compound. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Brotosoetarno (2009) pada hewan coba yang dijumpai pada kadar 30% minyak atsiri buah kapulaga dapat menghambat pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis.

Hasil penelitian ini membuktikan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara perlakuan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga dengan obat kumur Listerine® dalam hal menurunkan kadar gas VSC yang menyebabkan bau mulut.

(47)

tidak bewarna yang berasal dari eucalyptus dan digunakan dalam farmasi maupun kedokteran. Listerine® memiliki aroma yang segar serta rasa yang dingin dan pedas. Listerine® tidak dapat larut dalam air, tapi dapat larut dalam eter, etanol (alkohol) chloroform. Manfaat Literine® dalam bidang kedokteran salah satunya adalah sebagai antibakteri. Berkumur dengan menggunakan bahan aktif Listerine® dapat mereduksi plak gingivitis secara signifikan (Shinada, 2008). Obat kumur Listerine® merupakan campuran tiga bahan essential oil phenolic yaitu thymol, menthol dan Listerine® yang dikombinasikan dengan methyl salisilac. Cara kerja obat kumur ini adalah dengan merusak dinding sel bakteri.

Listerine® merupakan salah satu produk obat kumur yang mengandung essential oil dan telah teruji manfaatnya dalam mengurangi mikroorganisme di lidah. Beberapa penelitian melaporkan dua jam setelah pemakaian obat kumur Listerine® terjadi penurunan kadar gas VSC yang bermakna dibandingkan plasebo (Roldan, 2003).

Penelitian ini menunjukkan bahwa obat kumur Listerine® dan obat kumur yang berasal dari kapulaga sama efektifnya dalam menurunkan kadar gas VSC yang menjadi penyebab terjadinya halitosis. Kelebihan obat kumur kapulaga adalah tidak mengandung alkohol, sedangkan obat kumur Listerine® mengandung alkohol dengan konsentrasi tinggi yang dapat mengurangi sensasi rasa dan menyebabkan rasa pedih di mulut.

Dibandingkan dengan obat kumur triclosan dan cetylpiridium yang juga bersifat sebagai antimikroba dan secara luas digunakan sebagai antiseptik, namun untuk mengurangi kadar gas VSC masih dipertanyakan.

Selain itu, kandungan obat kumur yang satu dengan yang lain sangat bervariasi. Secara umum kandungan obat kumur adalah etanol dan pelarut lain,

(48)

Tidak demikian halnya dengan perlakuan obat kumur plasebo, di antara ketiga gas unsur VSC, gas H2S mengalami sedikit penurunan walaupun tidak bermakna, sedangkan gas CH3SH, dan (CH3)2S tidak mengalami penurunan. Hal ini disebabkan obat kumur plasebo hanya mengandung aquades murni yang tidak mempunyai zat aktif untuk membunuh bakteri penyebab halitosis. Berarti obat kumur plasebo tidak efektif dalam menurunkan kadar gas VSC yang menyebabkan halitosis.

Hasil uji Ancova pengukuran organoleptik terhadap 3 bahan uji menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga dengan plasebo, minyak atsiri buah kapulaga dengan Listerine® pada pagi hari pertama. Perbedaan yang signifikan terlihat antara perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga dengan Listerine® dan minyak atsiri buah kapulaga dengan plasebo pada siang hari kelima. Perbedaan yang signifikan juga terlihat antara perlakuan berkumur Listerine® dengan plasebo baik pagi hari pertama maupun siang hari kelima. Ini membuktikan bahwa dengan berkumur minyak atsiri buah kapulaga dan Listerine® selama lima hari dapat menurunkan skor halitosis dibandingkan berkumur dengan plasebo.

Pemeriksaan dengan organoleptik ini pertama sekali dikenalkan oleh Rosenberg dan Mc.Culloch, dan merupakan gold standard. Namun mempunyai beberapa kelemahan yaitu bersifat subjektif, karena kemampuan hidung manusia hanya bisa mencium komponen-komponen hasil metabolisme bakteri, namun tidak bisa membedakan ketiga komponen gas VSC (Cassiano, et al., 2011)

Untuk meminimalisasi hasil pemeriksaan yang bersifat subjektif, maka sebelum dilakukan penelitian perlu dilakukan kalibrasi operator (Miyazaki, 2006), dan alat yang dapat diandalkan untuk melihat ketiga komponen gas VSC H2S, CH3SH, dan (CH3)2S adalah alat Oral chroma (Murata, et al., 2006).

(49)

Penelitian ini telah mengikuti persyaratan agar suatu tanaman obat tradisional dapat menjadi obat fitofarmaka, di mana ke semua tahap telah dilalui yaitu tahap menentukan minyak atsiri buah kapulaga yang terstandar, kemudian tahap pre klinis dilanjutkan sampai pada tahap klinis dan terbukti bahwa berkumur minyak atsiri buah kapulaga 0,5% dapat mengurangi kadar gas VSC yang menjadi penyebab timbulnya halitosis. Selain itu obat kumur minyak atsiri buah kapulaga ini juga mempunyai keunggulan dibandingkan obat kumur yang beredar di pasaran yaitu minyak atsiri buah kapulaga ini tidak mengandung alkohol.

(50)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1Kesimpulan

1. Sediaan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga sudah memenuhi persyaratan Materia Medika Indonesia.

2. Sediaan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga dengan konsentrasi 0,25% dapat menghambat pertumbuhan spesies bakteri Porphyromonas gingivalis

(KHM), sedangkan konsentrasi 0,5% mempunyai efek bunuh terhadap pertumbuhan spesies bakteri Porphyromonas gingivalis (KBM).

3. Sediaan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga dengan konsentrasi 0,5% digunakan pada uji klinis telah terbukti mempunyai pH yang netral dan mendapat skor tertinggi disukai panelis pada uji hedonik.

4. Pengukuran rerata kadar gas H2S, CH3SH, (CH3)2S, dan VSC menunjukkan adanya penurunan pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga, Listerine® sedangkan pada plasebo tidak.

5. Ada perbedaan yang bermakna rerata pengukuran kadar gas VSC pada perlakuan berkumur minyak atsiri buah kapulaga dan Listerine®, sedangkan pada plasebo tidak dijumpai.

6. Berkumur minyak atsiri buah kapulaga dan Listerine® dapat digunakan untuk mengatasi halitosis, namun kelebihan minyak atsiri buah kapulaga tidak mengandung alkohol sehingga aman digunakan.

(51)

6.2Saran

1. Masyarakat

Agar memahami dan mampu menjaga kebersihan mulut dan juga rajin memeriksakan kesehatan gigi mulutnya ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali. Kepada para petani kapulaga diharapkan dapat terus memanfaatkan peluang dengan mengembangkan budidaya tanaman lokal kapulaga yang ternyata terbukti efektif dapat mengurangi keluhan halitosis di masyarakat.

2. Perguruan tinggi

Agar dapat terus mengembangkan penelitian tentang manfaat bahan-bahan alami untuk meningkatkan kesehatan gigi mulut khususnya di bidang Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat. Selain itu memasukkan materi program pencegahan halitosis dan pemanfaatan bahan herbal ke dalam kurikulum pendidikan dalam upaya meningkatkan kesehatan gigi mulut.

3. Dirjen POM

Diharapkan perlu adanya regulasi yang mengatur pertukaran dan pemanfaatan sumber daya alam obat tradisional dan kearifan lokal melalui pembagian keuntungan yang ideal agar tanaman herbal dapat bermanfaat bagi masyarakat.

4. Dokter gigi

Mengupayakan edukasi motivasi kepada pasien untuk mencegah timbulnya bau mulut, serta memotivasi pasien agar menggunakan obat kumur yang berasal dari tanaman herbal untuk mengatasi gangguan kesehatan gigi mulut.

5. Peneliti

Gambar

Gambar 3.1. Alat penetapan kadar air
Gambar 3.2 Alat Stahl
Gambar 3.3 Proses pembuatan tanaman buah kapulaga menjadi minyak atsiri
Gambar 3.4 Stok Kultur Porphyromonas gingivalis ATTC 33277
+7

Referensi

Dokumen terkait