• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efektifitas Bahan Kumur Berbasis Minyak Atsiri Buah Kapulaga (Amomum cardamomum L) Terhadap Penurunan Gas Volatile Sulfur Compound (VSC) Pada Subjek Halitosis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Efektifitas Bahan Kumur Berbasis Minyak Atsiri Buah Kapulaga (Amomum cardamomum L) Terhadap Penurunan Gas Volatile Sulfur Compound (VSC) Pada Subjek Halitosis"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Dewasa ini, masalah bau mulut atau halitosis telah mendapat perhatian di kalangan profesi kesehatan, khususnya kesehatan gigi, dan juga masyarakat awam (Burton, et al., 2006).Bau mulut bisa dialami oleh semua orang, dan bisa timbul tanpa disadari. Apabila keadaan ini tidak segera ditangani, maka dapat mengurangi kelancaran berkomunikasi, rasa rendah diri, menimbulkan rasa malu bagi penderita, kesulitan berinteraksi sosial, hilangnya rasa percaya diri, dan bagi orang yang tidak menyadari bau mulut akan mengganggu orang di sekitarnya, sehingga dapat berdampak luas pada pekerjaan maupun kehidupan pribadinya (Lenton, et al., 2001; Nachnani, 2008; Ellis, 2009; Trudie, 2011).

Halitosis menempati urutan ketiga penyebab seseorang mengunjungi dokter gigi setelah penyakit gigi dan masalah estetis gigi. Hal ini menunjukkan bahwa

gangguan bau mulut sangat mengganggu kehidupan pribadi, sehingga perlu menjadi perhatian para ahli (Loesche 2002; cit Pintauli & Hamada, 2008).

Halitosis berasal dari bahasa latin, yaitu “halitus” yang berarti nafas dan”osis” yang berarti keadaan. Jadi halitosis merupakan keadaan bau mulut, yang umumnya digunakan untuk menunjukan bau nafas yang tidak sedap. Halitosis disebut juga “mouth odor”, “bad breath”, “oral malodor”, “fetor oris”, dan “fetor ex ore”. Senyawa gas yang paling bertanggung jawab terhadap timbulnya halitosis adalah Volatile Sulfur Compound (VSC) (Elias & Ferriani, 2006; Walter, 2011; Anoop Kapoor, et al., 2011).

(2)

mengandung protein, sel-sel darah yang telah mati, bakteri-bakteri yang mati ataupun sel-sel epitel yang terkelupas dari mukosa mulut.Di samping itu, di dalam saliva sendiri terdapat substrat yang mengandung protein (Rayman & Almas, 2008; Riggio, 2008; Kapoor, et al., 2011).

Tonzetich dari University of British Columbia, Canada (1995), yang pertama sekali berhasil menemukan bahwa senyawa gas VSC yang berperan terhadap timbulnya halitosis yaitu hidrogen sulfida (H2S), methyl mercaptan (CH3SH) dan dimethyl mercaptan (CH3)2S. Ketiga senyawa gas VSC tersebut jumlahnya cukup

banyak dan sangat mudah sekali menguap sehingga menimbulkan bau (Amano, 2002; Tsai, 2007; Kapoor, et al, 2011).

Sampai saat ini, informasi tentang halitosis belum begitu banyak karena penelitian epidemiologinya masih sangat terbatas. Di Jepang pernah dilakukan penelitian pada 2.672 subjek dengan mengukur konsentrasi gas VSC, hasilnya menunjukkan 6-23% subjek menderita halitosis dengan rerata 75 ppb (“parts per billion”) gas VSC keluar dari mulut subjek tersebut selama satu hari. Dari survei pengukuran kadar gas VSC di Kelurahan Tebet Jakarta, ditemukan sampai mencapai 105 ppb (cit Pintauli & Hamada, 2008).

Beberapa penelitian deskriptif epidemiologi tentang halitosis melaporkan bahwa dari 270 orang dewasa di Amerika ditemukan prevalensi halitosis 31% (Che. et al., 1996).Frexinos, et al., (1998) juga melaporkan di Perancis, dari 4.815 subjek hasilnya menunjukkan 22% menderita halitosis. (Skin, et al., 2009) melakukan penelitian deskriptif epidemiologi tentang halitosis di Bern, Switzerland pada 419 orang dewasa, dan diperoleh prevalensi halitosis dengan pengukuran organoleptik skor >3 sebanyak 11,5%. Prevalensi gas VSC dengan kadar>75 ppb sebanyak 28% (Rosing&Loesche, 2011). Di Cina, diadakan pengukuran skor halitosis dengan alat halimeter. Dari 2000 orang usia 15 – 64 tahun sebanyak 27% menderita halitosis

berat (Ellis, 2009).

(3)

hal ini pada waktu melakukan perawatan gigi di klinik.(Trudie, 2011).Hanya sebagian kecil halitosis yang bukan disebabkan oleh faktor atau sumber di luar rongga mulut.Di dalam rongga mulut banyak terdapat mikroorganisme yang membentuk flora normal mulut.Di samping itu, di dalam mulut manusia juga terdapat gigi geligi yang juga mempunyai pengaruh terhadap timbulnya halitosis seperti kebersihan dan kesehatannya, selain itu susunan dan jaringan periodonsiumnya (Djaya, 2000).

Sejak zaman dahulu cara mengatasi bau mulut ini sudah diketahui, Hippocrates (1550 SM), menyarankan agar berkumur dengan cairan rempah dan

anggur, sedangkan pengobatan lain dengan mengunyah biji lada (bangsa Talmud), dan parsley (bangsa Italia). Namun untuk saat ini yang tersedia di pasaran adalah obat kumur yang mengandung bahan sintesis kimia seperti klorheksidin, sedangkan yang berasal dari tumbuhan tradisional terutama yang efektif terhadap bau mulut ini masih jarang dijumpai (cit Pintauli & Hamada, 2008).

Banyak obat kumur ataupun produk penyegar nafas dijual di pasar bebas, kebanyakan produk ini berusaha mengendalikan halitosis dengan cara mengurangi bau yang ada. Obat kumur dengan aroma yang enak dan wangi, namun hal ini hanya berlangsung singkat, sebaliknya keadaan mulut malah dirasakan bertambah bau setelah penyegar itu habis (Sabulal, 2006).Begitu pula halnya dengan pemakaian obat kumur yang mengandung bahan antibakteri, dapat mengurangi halitosis dengan cara mengurangi jumlah bakteri serta menghambat aktivitas bakteri. Penggunaan bahan ini juga biasanya efektif untuk sementara waktu saja (Rosing dan Loesche 2011). Obat kumur berbahan baku asli Indonesia yang berasal dari tumbuh-tumbuhan hanya berbahan baku sirih tapi yang berasal dari kapulaga sampai saat ini belum pernah ada publikasinya maupun berada di pasaran.

Obat kumur kebanyakan bersifat antiseptik, oleh karena itu bahan tersebut dapat menekan pertumbuhan semua bakteri di dalam mulut, padahal bakteri yang ada

(4)

berubah dan dapat meningkatkan sekresi protein keluar jaringan. Obat kumur yang kebanyakan beredar di pasaran tidak mempunyai pengaruh terhadap gas VSC yang timbul dalam rongga mulut.Efek antiseptiknya dalam membunuh bakteri juga hanya bertahan sebentar sehingga kurang berperan untuk mengurangi nafas tak sedap untuk jangka panjang (Djaya, 2000; Roldan, Herrera & Sanz, 2003).

Pada saat ini, beberapa peneliti telah melakukan penelitian tentang pengaruh berkumur dengan obat kumur yang mengandung antiseptik untuk mengatasi halitosis (Rosenberg, et al., 2000).Mereka meneliti pengaruh berkumur sepanjang hari dengan

obat kumur yang mengandung dua fase minyak dan air dibandingkan dengan Listerine® dan plasebo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berkumur dengan dua fase minyak dan air, khlorheksidine terjadi penurunan kadar H2S yang bermakna dibandingkan berkumur dengan plasebo. Namun demikian, khlorheksidine mempunyai efek samping seperti terjadinya perubahan warna (diskolorasi) pada gigi, mengganggu rasa pengecap dan kadang timbul iritasi pada mukosa mulut. Keuntungan berkumur dengan dua fase minyak: air relatif mengikat bakteri dan tidak mempunyai dampak negatif seperti dehidrasi, adiksi, iritasi pada mukosa mulut (Rosenberg, 2000; Roldan, Sanz, 2003; Nachnani, 2008).

Tanaman kapulaga (Amomum cardamomum) dapat berkhasiat sebagai penghilang bau mulut. Kapulaga atau nama lainnnya Amomum Cardamomum Solad ex Maton, atau Elletaria cardamomum maton, termasuk familia Zingiberaceae, mempunyai ciri-ciri berupa rumput tahunan dengan tinggi mencapai 1,5 meter. Tumbuh bergerombol, batang semu, berupa daun tunggal, bunga majemuk dan berbentuk bongkol di pangkal.Bagian yang digunakan adalah buahnya yang berbentuk bulat, berlekuk dan berwarna putih.Biasanya buah kapulaga digunakan sebagai bumbu pengharum masakan (Mailina, 2007).

(5)

paradise. Aroma sedap ini berasal dari kandungan minyak atsiri yang mengandung lima zat utama, yaitu “borneol” yang berbau kamper, “alfa-terpinilasetat” yang harum jeruk pettigrain, “limonen” harum jeruk keprok, “alfa terpinen” yang harum jeruk sitrun dan “cineol” yang menghangatkan. Manfaat kapulaga selain sebagai pengharum masakan juga dapat sebagai obat pengencer dahak (ekpektoran), analgesik (penghilang rasa sakit), dan menghilangkan bau mulut (Mailina, 2007).

Di Timur Tengah, kapulaga adalah rempah yang telah digunakan berabad-abad oleh masyarakat Timur Tengah. Rempah ini dikunyah seperti tembakau dan

digunakan dalam obat kumur, sabun dan shampoo.“Cineol” kandungan tertinggi yang terdapat pada kapulaga merupakan antibakteri yang dapat membunuh bakteri dan mengurangi bau mulut.Rasanya sedikit pedas, namun jika dijadikan obat kumur terasa sejuk.Bahkan kapulaga ini biasanya digunakan dalam pembuatan pepermint buatan (Handayani, 2008).

Brotosoetarno (2009) melakukan penelitian terhadap khasiat antimikroba minyak atsiri buah kapulaga dalam upaya mengatasi halitosis melalui uji eksperimental laboratorik yaitu uji bakteriologik dengan hasil pada konsentrasi 30% minyak atsiri buah kapulaga dapat menghambat bakteri Bacteroides melaninogenicus dan pada kadar 60% akan membunuhnya, sedangkan pada kadar 40% akan menghambat pertumbuhan species bakteri Porphyromonas gingivalis dan kadar bunuh bakteri 80%. Hasil penelitian membuktikan bahwa kapulaga bersifat antimikroba dan aman.Buah kapulaga pada penelitian tersebut diperoleh langsung dari pasar tradisional dan hal itu tidak memenuhi persyaratan penelitian bahan obat tradisional yang harus mengikuti parameter standar mutu dan mempunyai identitas farmasi yang jelas (Pedoman Pelaksanaan Uji Klinis Obat Tradisional, 2000).

Aktivitas antibakteri dari beberapa spesies kapulaga juga telah dibuktikan oleh beberapa peneliti terutama terhadap beberapa spesies bakteri oral dan bakteri patogen

lain seperti Salmonella typhi, Escherichia coli, Klebsiella, Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus. Hasilnya memperlihatkan adanya aktivitas antibakteri

(6)

fungi minyak atsiri buah kapulaga terhadap beberapa jenis jamur dan terbukti bahwa minyak atsiri buah kapulaga dapat menghambat pertumbuhan jamur yang diuji (Arora & Kaur, 2007; Nachnani, 2008).

Dalam Undang Undang No 381 tahun 2007 tentang Kebijakan Obat Tradisional, tercantum bahwa sumber daya alam bahan obat merupakan aset nasional yang perlu terus digali, diteliti, dikembangkan dan dioptimalkan pemanfaatannya. Indonesia sebagai suatu negara dengan wilayah yang mempunyai tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi, potensi sumber data tumbuhan yang ada

merupakan aset dengan nilai keunggulannya untuk menjadi komoditi yang kompetitif.

Mengacu kepada Undang Undang No 36 tahun 2009 tentang Kesehatan pasal 1 ayat 9 bahwa obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Pasal 47 ayat 3 menyatakan bahwa pengobatan tradisional yang sudah dapat dipertanggungjawabkan manfaat dan keamanannya perlu terus ditingkatkan dan dikembangkan untuk digunakan dalam mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.760/MENKES/PER/IX/1992 tentang Fitofarmaka menyebutkan bahwa Fitofarmaka adalah sediaan obat tradisional yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya, bahan bakunya terdiri atas simplisia atau sediaan galenik yang memenuhi persyaratan yang berlaku.Untuk penjabaran lebih lanjut dari peraturan ini telah diterbitkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI No HK.00.05.4.2411 tanggal 17 Mei 2004, tentang Pokok Pengelompokan dan Penandaan obat alam Indonesia. Dalam keputusan Kepala Badan POM yang

(7)

Penelitian dan pengembangan obat tradisional bertujuan untuk menunjang pembangunan dibidang obat tradisional yang bermutu tinggi dan aman serta memiliki khasiat nyata yang teruji secara ilmiah dan dimanfaatkan secara luas untuk pengobatan sendiri oleh masyarakat maupun digunakan dalam pelayanan kesehatan formal.Beberapa hasil penelitian obat tradisional ataupun tanaman obat telah dibuat dan diproduksi serta digunakan pada fasilitas pelayanan tradisional.Obat yang digunakan pada fasilitas pelayanan kesehatan harus memenuhi persyaratan aman, bermanfaat dan sudah terstandarisasi.Bukti persyaratan yang diperlukan harus

berdasarkan data yang sahih (Depkes, 2000).

Apa yang diuraikan di atas menjadi dasar tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menghasilkan sediaan obat kumur minyak atisiri buah kapulaga yang dapat dimanfatkan dengan aman dan berguna bagi masyarakat untuk mengatasi halitosis. Penelitian ini akan dilakukan di pondok pesantren Raudhatul Hasanah Medan dengan pertimbangan akan lebih mudah untuk mengontrol perlakuan dan subjek akan mendapat diet yang sama.

1.2Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang sudah diuraikan, dapat dirumuskan permasalahan yang dituangkan sebagai pertanyaan penelitian sebagai berikut:

1. Apakah minyak atsiri buah kapulaga mempunyai pengaruh terhadap aktivitas antibakteri yang dominan menjadi penyebab halitosis?

2. Apakah minyak atsiri buah kapulaga dapat dibuat menjadi sediaan obat kumur herbal terstandar?

3. Pada konsentrasi berapa minyak atsiri buah kapulaga mempunyai Kadar Hambat Minimal & Kadar Bunuh Minimal terhadap bakteri yang dominan menjadi penyebab halitosis?

(8)

5. Apakah sediaan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga yang diuji secara klinis pada subjek halitosis memberikan efek penurunan kadar gas VSC dibandingkan obat kumur Listerine® dan plasebo?

1.3Tujuan Penelitian 1.3.1Tujuan Umum

Untuk menghasilkan sediaan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga yang dapat dimanfaatkan dengan aman, dan berguna bagi masyarakat untuk mengatasi keluhan Halitosis.

1.3.2Tujuan Khusus

1. Untuk mendapatkan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga terstandar. 2. Untuk membuktikan bahwa pada konsentrasi tertentu minyak atsiri buah kapulaga dapat menghambat atau membunuh bakteri yang dominan menjadi penyebab halitosis.

3. Untuk menjelaskan rerata penurunan kadar gas H2S, CH3SH dan (CH3)2S.

4. Untuk menjelaskan rerata penurunan kadar gas VSC dengan menggunakan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga.

5. Untuk membandingkan efektifitas obat kumur minyak atsiri buah kapulaga, obat kumur Listerine®, dan plasebo.

1.4Manfaat Penelitian 1.4.1Manfaat Teoritis

(9)

1.4.2Manfaat Metodologis

Penelitian ini diharapkan merupakan suatu metode baru yang dapat membuktikan efektifitas dari zat aktif pada minyak atsiri buah kapulaga sebagai obat kumur dari bahan tradisional yang mempunyai kualitas lebih baik dibandingkan obat kumur kimiawi dalam menurunkan kadar gas VSC pada subjek halitosis.

1.4.3Manfaat Aplikatif

1. Bagi masyarakat khususnya penderita halitosis, untuk membantu mengurangi keluhan bau mulut dengan memakai obat kumur yang berasal dari bahan alami dengan hasil yang efektif dan aman digunakan.Bagi para petani dapat menambah lahan baru sebagai sumber penghasilan dengan membudidayakan tanaman kapulaga ini.

2. Bagi perguruan tinggi diharapkan dapat terus mengembangkan penelitian tentang manfaat bahan-bahan alami untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut khususnya di bidang Ilmu Kesehatan Gigi Masyarakat.

3. Bagi pengelola program dapat dijadikan masukan untuk program

penyuluhan tentang manfaat bahan alami sebagai pilihan terapi mengatasi masalah bau mulut dipandang dari segi aman dan murah.

1.5Orisinalitas

Sejauh ini belum ada penelitian yang dapat membuktikan khasiat obat kumur dari bahan alami untuk mengatasi masalah halitosis.Brotosoetarno (2009), meneliti tentang aktivitas antimikroba minyak atsiri buah kapulaga lokal (Amomum cardamomum L) dalam upaya mengatasi bau mulut (halitosis), namun penelitian ini

hanya sebatas penelitian eksperimental laboratorik yaitu uji bakteriologis dan uji toksisitas akut.Penelitian Brotosoetarno ini memiliki beberapa

(10)

tersebut.Kemudian tidak dijelaskan apakah tanaman kapulaga tersebut terpapar pestisida atau tidak sedangkan persyaratan sebuah penelitian bahan obat tradisional adalah harus mengikuti parameter standar mutu yang mempunyai identitas farmasi yang jelas (Pedoman Pelaksanaan Uji Klinis Obat Tradisional, 2000).Selain penelitian tersebut juga masih terbatas pada hewan coba.Agar suatu bahan tanaman dapat digunakan di masyarakat luas untuk pengobatan penyakit, maka penelitian perlu dilakukan sampai tahap uji klinis. Oleh karena itu, penelitian uji klinis tentang efektifitas berkumur minyak atsiri buah kapulaga (Amomum cardamomum L) dalam

menurunkan kadar gas VSC pada subjek halitosis masih diperlukan dan masih bersifat orisinal.

1.6Potensi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI)

1. Ditemukannya sediaan obat kumur dari herbal yang efektif dan aman untuk digunakan mengatasi masalah halitosis.

2. Sediaan obat kumur minyak atsiri buah kapulaga 0,5% dapat membunuh

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan orang tua yang anaknya tidak gemar mengkonsumsi sayur, memberikan solusi yang mungkin dapat berhasil menurut mereka, yakni dengan melakukan variasi

Dapat disimpulkan bahwa pengetahuan konsumen akan mempengaruhi keputusan nasabah memilih perbankan syariah ketika konsumen memiliki pengetahuan yang lebih, maka

diberi rentang antara risiko yang jarang terjadi ( rare ) sampai dengan risiko yang dapat terjadi setiap saat ( almost certain ).Sedangkan untuk keparahan atau

2.Budaya organisasi berdasarkan penyesuaian berpengaruh signifikan dan positif terhadap kinerja atau semakin kurang keterlibatan seorang perawat maka kinerja yang

Berdasarkan hasil penilaian indeks risiko menggunakan NHS Highland dapat dilihat bahwa terdapat 5 potensi risiko dalam kategori high risk , yaitu masing-masing pada

The research about utilization of nitrogen gas as a carrier gas in the determination of Hg ions by using Cold Vapor-Atomic Absorption Spectrophotometer (CV-AAS) method has

Ramli, Soehatman, (2010) Pedoman praktis Manajemen Risiko dalam prespektif K3OHS Risk Management, Dian Rakyat, Jakarta.. Universitas

Dengan demikian, membangun masjid agung yang representatif – yang mampu menampung berbagai macam aktivitas masyarakat Minangkabau baik itu sebagai tempat ibadah maupun sebagai tempat