BAB II. PENELAHAAN PUSTAKA
A. Herba Bidens pilosa L
Tabel VIII. Perbandingan hasil antara seluruh kelompok kontrol terhadap
perlakuan infusa herba Bidens pilosa L. berdasarkan serum ALT pada variasi dosis tertentu ... 42
xvi
Tabel IX. Perbandingan hasil antara seluruh kelompok kontrol terhadap perlakuan infusa herba Bidens pilosa L. berdasarkan serum AST pada variasi dosis tertentu ... 43 Tabel X. Aktivitas serum ALT-AST tanpa perlakuan (jam-0) dengan
perlakuan kontrol negatif (jam 24) ... 44 Tabel XI. Perbandingan aktivitas serum ALT tanpa perlakuan (jam-0)
dengan perlakuan kontrol negatif (jam-24) ... 45 Tabel XII. Perbandingan aktivitas serum AST tanpa perlakuan (jam-0)
xvii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Herba Bidens pilosa L. ... 7
Gambar 2. Struktur Metabolit Herba Bidens pilosa L. ... 9
Gambar 3. Struktur Mikroskopik Hati ... 11
Gambar 4. Struktur Karbon tetraklorida ... 15
Gambar 5. Mekanisme toksisitas karbon tetraklorida ... 17
Gambar 6. Diagram batang rata-rata aktivitas serum ALT setelah pemberian karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB pada waktu 0, 24, 48 jam ... 37
Gambar 7. Diagram batang rata-rata aktivitas serum AST setelah pemberian karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB pada waktu 0, 24 ,48 jam ... 39
Gambar 8. Diagram batang rata-rata aktivitas serum ALT tikus perlakuan infusa herba Bidens pilosa L. terinduksi karbon tetraklorida ... 42
Gambar 9. Diagram batang rata-rata aktivitas serum AST tikus perlakuan infusa herba Bidens pilosa L. terinduksi karbon tetraklorida ... 43
xviii
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Foto Serbuk Herba Bidens pilosa L. ... 65
Lampiran 2. Foto Pembuatan Infusa Herba Bidens pilosa L. ... 65
Lampiran 3. Foto Infusa Herba Bidens pilosa L. ... 65
Lampiran 4. Surat Determinasi Herba Bidens pilosa L. ... 66
Lampiran 5. Surat Medical and Health Research Ethics Committee
(MHREC) ... 67
Lampiran 6. Hasil analisis statistik aktivitas serum ALT dan AST pada uji pendahuluan waktu pencuplikan darah hewan uji setelah induki karbon tetraklorida 2 mL/kgBB ... 68
Lampiran 7. Hasil analisis statistik data ALT dan AST pada kelompok kontrol olive oil dosis 2 mL/kgBB ... 73
Lampiran 8. Hasil analisis statistik data kontrol CCl4, kontrol olive oil, kontrol infusa, dan perlakuan infusa herba Bidens pilosa L. dosis 0,5 g/kgBB; 1 g/kgBB; dan 2 g/kgBB ... 77
Lampiran 9. Perhitungan %hepatoprotektif ... 87
Lampiran 10. Penetapan kadar air serbuk herba Bidens pilosa L. ... 88
xix
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hepatoprotektif dan dosis efektif pemberian jangka pendek infusa herba Bidens pilosa L. terhadap tikus putih betina galur Wistar terinduksi karbon tetrklorida.
Penelitian ini bersifat eksperimental murni dengan rancangan penelitian acak lengkap pola searah. Penelitian ini menggunakan 30 ekor tikus betina galur Wistar, umur 2-3 bulan, dengan berat ±120-200 gram dibagi secara acak menjadi 6 kelompok. Kelompok I (kontrol hepatotoksin) diberi karbon tetraklorida dengan dosis 2 mL/kgBB secara intraperitoneal dan setelah jam ke-24 diambil darahnya. Kelompok II (kontrol negatif) diberi olive oil 2 mL/kgBB secara intraperitoneal
dan setelah jam ke-24 diambil darahnya. Kelompok III (kontrol perlakuan) diberi infusa herba Bidens pilosa L. dosis 2 g/kgBB secara per oral, kemudian setelah 6 jam diambil darahnya. Kelompok IV, V, dan VI (kelompok perlakuan) masing- masing diberi infusa herba Bidens pilosa L. dengan dosis 0,5; 1 ;dan 2 g/kgBB, kemudian 6 jam setelah pemberian infusa secara per oral dilakukan pemberian karbon tetraklorida dosis 2 mL/kgBB secara intraperitoneal. Pada jam ke-24 setelah pemberian karbon tetraklorida, kelompok perlakuan diambil darahnya melalui sinus orbitalis mata tikus. Data serum ALT dan AST yang didapat, dianalisis dengan uji Shapiro-Wilk untuk melihat distribusi datanya kemudian dilanjutkan analisis dengan uji One Way Anova untuk mengetahui perbedaan aktivitas ALT dan AST serum antar kelompok.
Hasil penelitian menunjukkan adanya efek hepatoprotektif dari infusa herba Bidens pilosa L. dengan %hepatoprotektif dari peringkat dosis 1 hingga 3 berdasarkan serum ALT secara berurutan sebesar 73,38; 89,93; dan 62,63% dan berdasarkan serum AST sebesar 40,9; 57,3; dan 34,17%. Dari data pengukuran diperoleh dosis efektif pemberian jangka pendek infusa herba Bidens pilosa L. sebesar 1 g/KgBB.
Kata kunci : Hepatoprotektif, Bidens pilosa L., infusa, karbon tetraklorida, jangka pendek, ALT, AST.
xx
ABSTRACT
The aim of study research were to prove the hepatoprotective of Bidens pilosa L. herb infusion and the effective dose in short term period in female Wistar rats induced carbon tetrachloride.
This research was purely experimental research with randomized complete direct sampling design. This research used 30 female Wistar rats, aged 2-3 month and 120-200 gram weight. Group I was carbon tetrachloride hepatotoxin control dose 2 mL/kgBW intraperitoneally and group II was olive oil control given 2 mL/kgBW intraperitoneally then after 24 hour their blood was drawn. Group III was control treatment given 2 g/kgBW infusion of Bidens pilosa
L. herb orally, then after 6 hour, their blood was drawn. Group IV-VI were the treatment group for infusion of Bidens pilosa L. herb with dose 0.5, 1, and 2 g/kgBW orally and then 6 hours after treatment given hepatotoxic dose of carbon tetrachloride at a dose of 2 mL/kgBW intraperitioneally. At the 24 hour after administration CCl4, all groups had blood drawn at the orbital sinus region for measured of ALT and AST serum activity. Data of ALT and AST serum which obtained were analyzed using Shapiro-Wilk test to look at data distribution and
One Way ANOVA test was used to determine the differences in ALT and AST serum of each group.
The result of this study shown, that the infusion Bidens pilosa L. herbs had hepatoprotective effect with %hepatoprotective ALT serum were 73.38, 89.93, and 62.63%. The %hepatoprotective AST serum were 40.9, 57.3, and 34.17%. Based on those data, the most effective dose from infusion of Bidens pilosa L. in short term period was 1 g/kgBW.
Keywords : Hepatoprotective, Bidens pilosa L., infuse, carbon tetrachloride, short term, ALT, AST.
1
BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang
Hati merupakan organ metabolisme terbesar dan kompleks yang terletak di bawah kerangka iga. Salah satu fungsi hati adalah menjaga homeostatis metabolik dengan mendetoksifikasi senyawa-senyawa yang masuk ke dalam tubuh. Jika hati mengalami kerusakan atau kelainan maka fungsinya dalam tubuh akan terganggu. Salah satu kelainan atau kerusakan organ hati yang sering dijumpai adalah perlemakan hati (steatosis).
Penyakit perlemakan hati berdasarkan etiologinya dibedakan menjadi dua, yaitu perlemakan hati diperantarai alkohol dan perlemakan hati yang tidak diperantarai alkohol. Penyakit perlemakan hati yang tidak diperantarai alkohol disebut nonalcoholic fatty liver disease (NAFLD). Pada sebagian pasien yang menderita NAFLD dikaitkan dengan faktor resiko sindrom metabolit seperti obesitas, diabetes mellitus, dan dislipidemia. Secara histologi NAFLD dibagi menjadi nonalcoholic fatty liver (NAFL) dan nonalcoholic steatohepatitis
(NASH). NAFL didefinisikan steatosis hati tanpa adanya kerusakan hepatosit (ballooning). NASH didefinisikan sebagai steatosis hati dan peradangan dengan kerusakan hepatosit (ballooning) dengan atau tanpa fibrosis (Chalasani, et al., 2012).
NAFLD menjadi penyakit hati yang paling umum di seluruh dunia. Prevalensi dari NAFLD pada populasi di negara-negara bagian Barat diperkirakan 20-30% dan di negara-negara Asia prevalensi NAFLD sekitar 15%. Di Indonesia
sendiri prevalensi NAFLD mencapai 30% (Hasan, Gani, and Machmud., 2002). Sekitar 2-3% dari populasi umum diperkirakan memiliki nonalcoholic steatohepatitis (NASH) yang dapat berkembang menjadi sirosis hati dan
hepatocarcinoma (Bellentani, Scaglioni, Marino, and Bedogni, 2010).
Indonesia adalah negara dengan biodiversitas tinggi yang memiliki 30.000 jenis tumbuhan dan 7.000 di antaranya merupakan tanaman obat (Sampurno, 2003). Herba Bidens pilosa L. adalah salah satu tanaman di antaranya yang berasal dari Amerika Selatan dan sekarang ditemukan di hampir semua negara wilayah tropis dan subtropis di seluruh dunia termasuk Indonesia. Seluruh bagian herba Bidens pilosa L., termasuk akar, batang, daun dan bunga baik dalam bentuk segar ataupun kering sering digunakan sebagai bahan obat tradisional dan hampir semua bagian pada herba Bidens pilosa L. memiliki kandungan flavonoid (Bartolome, Villaseñor, Yang, 2013).
Beberapa penelitian telah mengungkapkan bahwa produk alami, mengandung antioksidan akan mengurangi peroksidasi lipid yang disebabkan oleh karbon tetraklorida (Khan and Ahmed, 2009). Di Taiwan herba Bidens pilosa L. yang memiliki kandungan antioksidan telah terbukti efektif untuk menyembuhkan hepatitis (Lee, Peng, Chang, Huang, and Chyau, 2013). Berdasarkan penelitian Yuan, et al. (2008) ekstrak Bidens pilosa L. memiliki kadar flavonoid tinggi dan berpotensi sebagai hepatoprotektor. Penelitian di Brazil menunjukan bahwa aktivitas antioksidan dari herba Bidens pilosa L. sebagian besar diwakili oleh senyawa golongan flavonoid (Cortés-Rojas, Chagas-Paula, Da Costa, Souza, Oliveira, 2013).
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa sebanyak 5,6 miliar orang didunia ini, 80% populasi telah memanfaatkan jamu untuk menjaga kesehatan primer (Bartolome, et al., 2013). Di Indonesia, sebagian besar pemanfaatan tanaman obat sebagai jamu dilakukan dengan cara merebus tanaman obat yang kemudian air rebusan tersebut dikonsumsi. Proses pembuatan sediaan farmasi yang mendekati dengan rebusan adalah infundasi karena dalam prosesnya sama-sama mendapat pemanasan dengan penyari air.
Penelitian yang dilakukan oleh Ariyanti (2007) menguji aktivitas antioksidan dari fraksi air ekstrak metanolik herba Bidens pilosa L. dan diketahui pada fraksi air terdapat kandungan flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Ekstrak air dari herba Bidens pilosa L. memiliki efek hepatoprotektif terhadap penyakit kolestasis pada tikus muda yang berumur 21 hari (Suzigan, Battochio, Coelho, and Coelho, 2009). Berdasarkan kedua penelitian tersebut herba Bidens pilosa L. dalam pelarut air memiliki aktivitas antioksidan dan hepatoprotektif. Oleh karena itu, penggunaan infusa herba Bidens pilosa L. yang juga menggunakan air sebagai pelarut diharapkan memiliki efek serupa.
Penelitian terbaru menunjukkan fraksi etil asestat herba Bidens pilosa L. mengandung derivat flavonoid yang teridentifikasi quercetin memiliki aktivitas hepatoprotektif terhadap kerusakan hati pada mencit terinduksi karbon tetraklorida (Kviecinski, et al., 2011). Proses pemanasan pada infundasi akan meningkatan kelarutan senyawa-senyawa fenolik serta flavonoid yang kurang larut air. Salah satunya adalah metabolit sekunder quercetin dalam herba Bidens pilosa L. akan lebih mudah terlarut dalam air panas (Xu, Chen, Xhang, Jiang, Ye,
2008). Kandungan flavonoid yang tersari dalam infusa diharapkan memiliki efek hepatoprotektif terhadap kerusakan hati yang disebabkan oleh senyawa model karbon tetraklorida.
Senyawa karbon tetraklorida (CCl4) merupakan pelarut industri yang sering digunakan sebagai senyawa model untuk menginduksi perlemakan hati. CCl4 dimetabolisme oleh mikrosomal hati sitokrom P450 2E1 (CYP2E1) dan akan membentuk radikal bebas triklorometil (•CCl3) (Jeon, et al., 2003). Ketika radikal bebas triklorometil bereaksi dengan oksigen akan membentuk radikal triklorometilperoksi yang lebih reaktif. Radikal bebas triklorometil dan radikal triklorometilperoksi akan merusak membran lipid endoplasma diawali dengan peroksidasi lipid. Peningkatan radikal bebas karbon tetraklorida akan berpengaruh pada berbagai perubahan patologis hati (Cemek, et al., 2010).
Kerusakan sel-sel hati (hepatosit) atau kenaikan permeabilitas membran akan melepaskan enzim-enzim transaminase seperti ALT menuju ke aliran darah. Serum ALT merupakan indikator yang sensitif untuk kerusakan hati akut, walaupun ALT lebih spesifik untuk penyakit hati dibandingkan AST, tetapi kedua enzim ini sering diukur secara bersamaan untuk mengevaluasi kelainan hati. (Bairwa, Kumar, Sharma, and Roy, 2010).
Berdasarkan uraian diatas, peneliti tertarik untuk mengetahui pengaruh pemberian jangka pendek infusa herba Bidens pilosa L. sebagai efek hepatoprotektif pada tikus terinduksi karbon tetraklorida dengan melihat aktivitas serum ALT dan AST dan untuk mengetahui dosis efektif pemberian jangka pendek infusa herba Bidens pilosa L. dalam memberikan efek hepatoprotektif.
1. Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :
a. Apakah pemberian perlakuan jangka pendek infusa herba Bidens pilosa L. memiliki pengaruh hepatoprotektif terhadap penurunan aktivitas serum ALT dan AST pada tikus putih betina galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida? b. Berapakah dosis paling efektif pemberian jangka pendek infusa herba
Bidens pilosa L. pada tikus putih betina galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida?
2. Keaslian penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh Kviecinski, et al. (2011) melihat aktivitas antioksidan dan efek hepatoprotektif dari fraksi etil asestat herba Bidenspilosa L. yang mengandung quercetin–derivat flavonoid. Pada penelitian tersebut diketahui bahwa herba Bidens pilosa L. memiliki efek hepatoprotektif pada mencit. Penelitian Cortés-Rojas et al. (2013) yang meneliti senyawa bioaktif herba Bidens pilosa L. didapatkan hasil yang menunjukan kandungan flavonoid pada herba
Bidens pilosa L. bertanggung jawab terhadap aktivitas antioksidan. Penelitian Suzigan, et al. (2009) melakukan uji hepatoprotektif terhadap penyakit kolestasis dengan pemberian ekstrak air pada tikus berumur 21 hari.
Sejauh studi pustaka yang dilakukan oleh peneliti, penelitian tentang efek hepatoprotektif pemberian jangka pendek infusa herba Bidens pilosa L. terhadap aktivitas serum ALT dan AST tikus putih betina galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida belum pernah dilakukan.
3. Manfaat penelitian
a. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu kefarmasian mengenai infusa herba Bidens pilosa L. yang memiliki efek hepatoprotektif jangka pendek.
b. Manfaat praktis
Penelitian ini dapat memberikan informasi kepada masyarakat terkait dosis efektif pemberian jangka pendek infusa herba Bidens pilosa L. dalam menghasilkan efek hepatoprotektif.
B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Untuk membuktikan pemberian jangka pendek infusa herba Bidens pilosa L. memiliki efek hepatoprotektif dengan menurunkan aktivitas serum ALT dan AST pada tikus putih betina galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida.
2. Tujuan khusus
a. Mengetahui efek hepatoprotektif pemberian jangka pendek infusa herba
Bidens pilosa L. terhadap penurunan aktivitas serum ALT dan AST pada tikus betina galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida.
b. Mengetahui dosis efektif pemberian jangka pendek infusa herba Bidens pilosa L. dalam memberikan efek hepatoprotektif pada tikus betina galur Wistar terinduksi karbon tetraklorida.
7
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA A. Herba Bidens pilosa L. 1. Deskripsi tanaman
Gambar 1. Herba Bidens pilosa L. (Bairwa, et al., 2010)
Herba Bidens pilosa L. (gambar 1) merupakan tanaman terna (berbatang lunak) yang berasal dari Amerika namun dinaturalisasi di Indonesia. Tanaman ini tumbuh pada ketinggian 250-2.500 meter dpl. Tinggi tanaman ini dapat mencapai 150 cm dengan batang berbentuk segi empat berwarna hijau. Daun terbagi tiga, berbentuk bulat telur dengan tepi bergerigi. Bunga bertangkai panjang, mahkota bunga berwarna putih dengan putik berwarna kuning (Redaksi AgroMedia, 2008).
2. Klasifikasi tanaman
Kingdom : Plantae
Superdivision : Spermatophyta Division : Magnoliophyta Class : Magnoliopsida Subclass : Asteridae Order : Asterales Family : Asteraceae Genus : Bidens
Species : Bidens pilosa L.
(Agriculture USDA, 2014).
3. Nama daerah
Nama lokal herba Bidens pilosa L. di daerah Sunda adalah ajeran, dan hareuga, sedangkan di Jawa, herba Bidens pilosa L. dikenal dengan nama jarongan, ketul, dan petul (Redaksi AgroMedia, 2008).
4. Penyebaran
Herba Bidens pilosa L. tersebar di hampir semua daerah tropis dan subtropis, antara lain Amerika, Afrika, Asia, dan Oceania (Arthur, Naidoo, and Coopoosamy, 2012).
5. Kandungan fitokimia
Kandungan herba Bidens pilosa L. adalah poliasetilen, flavonoid, sterol, terpenoid, dan hidrokarbon. Flavonoid merupakan metabolit yang paling dominan pada herba Bidens pilosa L. yang dibagi kembali menjadi auron, kalkon, flavanon, falvon, dan flavonol (Silva, et al., 2011). Beberapa golongan flavonoid yang telah
ditemukan dalam herba Bidens pilosa L. adalah auron, okaninglycoside, centaurein, luteolin, quercetin, dan isoquercetin (gambar 2) (Bairwa, et al., 2010).
Gambar 2. Struktur Flavonoid Herba Bidens pilosa L. (Bairwa, et al., 2010)
Berdasarkan penelitian Bartolome, et al. (2013), dari 116 publikasi mengenai eksplorasi dan penggunaan herba Bidens pilosa L. ditemukan 201 senyawa metabolit yang teridentifikasi. Dari 201 senyawa metabolit terbagi
menjadi 12 golongan, yaitu 70 aliphatic, 60 flavonoid, 25 terpenoid, 19
phenylpropanoid, 13 aromatic, 8 porphiryns dan 6 golongan lainnya.
Herba Bidens pilosa L. memiliki kandungan flavonoid yang dominan, tetapi dari 60 flavonoid yang telah teridentifikasi hanya tujuh yang telah dipelajari memiliki aktivitas biologis. Beberapa nama flavonoid yang telah dipelajari memiliki aktivitas biologis, yaitu centaureidin, centaurien, luteolin, butein,
quercetin 3-O-ß-D-galactopyranoside, quercetin 3,3’-dimethyl eter, dan jacein
(Bartolome, et al., 2013).
6. Khasiat dan kegunaan
Di Martinique, dekokta herba Bidens pilosa L. digunakan untuk mengobat inflamasi dan hipoglikemik. Orang-orang Zulu memanfatkan rebusan herba Bidens pilosa L. untuk pengobatan disentri, diare dan kolik. Di negara Cina,
Bidens pilosa L. telah populer digunakan sebagai bahan teh herbal atau obat tradisional untuk mengobati berbagai gangguan, seperti diabetes, peradangan, enteritis, disentri basiler dan faringitis (Chiang, Chang, Chang, Yang, Shyur, 2007). Di Brasil, herba Bidens pilosa L. secara luas telah digunakan sebagai oleh masyarakat setempat untuk mengobati berbagai penyakit seperti demam, angina, diabetes, edema, infeksi dan peradangan (Silva, et al., 2011). Suku Amazon Indian telah menggunakan herba Bidens pilosa L. sebagai obat tradisional antimalaria dan antitumor (Kviecinski, et al., 2008). Selain itu, di Amazon dan Brasil selatan, rebusan hydroalcoholic akar Bidens pilosa L. berguna dalam pengobatan malaria dan tumor (Silva, et al., 2011).
B. Hati