• Tidak ada hasil yang ditemukan

(2006-2010) Herry Suhermanto *

Dalam dokumen Majalah Perencanaan Pembangunan (Halaman 39-46)

1. Pendahuluan

Kegiatan pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah (KUMKM) di Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) diantaranya dilaksanakan melalui kegiatan pengembangan tempat praktek keterampilan usaha (TPKU). Kegiatan pengembangan TPKU merupakan prakarsa Kementerian Koperasi dan UKM yang dilaksanakan sejak tahun 2006. Sifat kegiatan memberi bantuan kepada lembaga-lembaga pendidikan di perdesaan dalam bentuk dana pembangunan sarana dan prasarana pendidikan keterampilan usaha serta modal awal usaha. Pengembangan TPKU diarahkan untuk menyediakan fasilitas pendidikan keterampilan usaha sebagai bekal agar peserta didik memiliki keterampilan untuk membuka usaha baru atau menjadi tenaga kerja terampil siap pakai.

Bantuan diharapkan dapat mendorong tumbuhnya usaha produktif dan wirausaha baru yang mampu menciptakan kesempatan kerja dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi di perdesaan. Kebijakan seperti ini memang ditujukan untuk membantu individu/ kelompok masyarakat yang

kurang mampu agar secara bersamaan dan terpadu bisa mengantisipasi permasalahan tertentu dan berinteraksi dalam mencari solusinya. Lembaga pendidikan yang dipilih sebagai kelompok sasaran dari kegiatan pengembangan TPKU yaitu lembaga pendidikan swasta di perdesaan yang menyelenggarakan pendidikan formal jenjang pendidikan menengah.

Persyaratan untuk menerima bantuan TPKU diantaranya adalah bahwa lembaga pendidikan tersebut telah memiliki koperasi, sehingga TPKU dapat dikelola sebagai unit usaha baru dari koperasi. Dengan adanya unit usaha baru ini diharapkan koperasi dapat lebih berkembang dan meningkatkan nilai manfaat berkoperasi, sekaligus mendorong semangat berwirausaha bagi anggotanya. Penerima TPKU juga perlu menunjukkan legalitas dan struktur pengelola lembaga pendidikannya, dan menyatakan ketersediaan lokasi untuk TPKU yang akan dibangun. Jenis keterampilan usaha yang diberikan di TPKU umumnya merupakan keterampilan yang memungkinkan individu/ kelompok individu untuk memperolah pekerjaan, dan membuka usaha baru, disesuaikan dengan potensi wilayah dari lembaga pendidikan tersebut.

* Fungsional Perencana Madya Kementerian PPN/Bappenas dan anggota Tim Analisa Kebijakan (TAK) Bappenas

Kegiatan-kegiatan usaha yang telah dilatihkan melalui TPKU antara lain: TPKU untuk bengkel sepeda motor, bengkel elektronik, industri konveksi, industri

kerajinan, pengolahan produk pertanian, dan lain-lain. Prosedur pengusulan dan penyaluran bantuan TPKU dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1.

Prosedur Usulan dan Mekanisme Pencairan Dana Pengembangan TPKU pada Lembaga Pendidikan di Perdesaan

Sumber: Kementerian Koperasi dan UKM (2009)

Pengembangan TPKU dari tahun 2006 hingga tahun 2010 dilaporkan telah menjangkau sebanyak 1.014 lembaga pendidikan di 33 provinsi di seluruh Indonesia (lihat Tabel 1). Sebagian besar bantuan diberikan ke daerah pedesaan, dengan total dana bantuan sebesar Rp. 174,8 milyar (2006-2010). Bantuan tersebut memberikan kemanfaatan yang besar bagi masyarakat, karena sifatnya yang merupakan stimulus bagi penerima bantuan (individu dan lembaga/ koperasi), yang memberikan jaminan adanya tempat

praktek ketrampilan yang layak dan memadai di perdesaan. Di provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) hingga tahun 2010 telah dikembangkan 22 TPKU, yang tersebar di berbagai kabupaten di provinsi tersebut. Pengembangan TPKU tersebut umumnya dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan berbasis keagamaan (seperti pesantren/ seminary). Untuk lingkungan pesantren, TPKU umumnya menjadi unit usaha di koperasi pesantren (koppontren).

Tabel 1. Jumlah Penerima Bantuan TPKU Berdasarkan Provinsi No Provinsi 2006 2007 2008 2009 2010 TOTAL 1 NAD 3 8 5 2 6 24 2 Sumatera Utara 3 8 10 6 6 33 3 Sumatera Barat 5 8 7 6 6 32 4 Sumatera Selatan 6 4 4 2 4 20 5 Riau 4 4 1 4 5 18 6 Kepualauan Riau - 1 - 2 3 6 7 Bangka Belitung 1 4 2 2 - 9 8 Jambi 3 9 5 1 10 28 9 Bengkulu 6 4 1 2 6 19 10 Lampung 7 6 7 3 9 32 11 Banten 4 16 14 4 1 39 12 DKI Jakarta 1 1 1 - - 3 13 Jawa Barat 29 39 35 8 24 135 14 Jawa Tengah 35 51 41 11 24 162 15 DI Yogyakarta 3 6 1 2 3 15 16 Jawa Timur 41 61 46 9 26 183 17 Bali 2 2 2 3 2 11 18 NTB 5 13 7 5 16 46 19 NTT 1 1 2 2 3 9 20 Kalimantan Barat 4 4 2 1 2 13 21 Kalimantan Tengah 2 2 3 2 2 11 22 Kalimantan Selatan 3 4 3 - 2 12 23 Kalimantan Timur 1 4 - 1 - 6 24 Sulawesi Utara 2 1 1 2 1 7 25 Sulawesi Tengah 1 4 5 3 4 17 26 Sulawesi Selatan 13 11 15 6 14 59 27 Sulawesi Barat - 1 4 2 4 11 28 Sulawesi Tenggara 2 5 7 2 6 22 29 Gorontalo 2 4 - 1 1 8 30 Maluku - 1 2 2 5 10 31 Maluku Utara 1 1 1 1 - 4 32 Papua - - 1 3 5 9 33 Papua Barat - 1 - - - 1   TOTAL 190 289 235 100 200 1014

Sumber: Kementerian Koperasi dan UKM (2009)

Jenis-jenis keterampilan yang dikembangkan di TKPU secara umum dapat dilihat pada Tabel 2. Ketrampilan untuk usaha konveksi tampaknya paling diminati di daerah perdesaan, yang diikuti kemudian oleh usaha perbengkelan. Di Provinsi Sulawesi Tenggara sendiri, jenis-jenis usaha yang dikembangkan di 22 TPKU terdiri dari 3 unit bengkel sepeda motor, 1 unit bengkel elektronik, 14 unit industri konveksi , 3 unit pengolahan produk pertanian, dan 1 unit bidang usaha lainnya.

Tabel 2. Jenis Keterampilan yang Dikembangkan TPKU

No Jenis Usaha 2006 2007 2008 2009 2010 TOTAL 1 Bengkel Sepeda Motor 34 91 76 26 50 277 2 Bengkel Elektronik 19 25 23 16 26 109 3 Industri Konveksi 54 121 105 42 98 420 4 Industri Kerajinan 45 11 7 5 8 76 5 Pengolahan Produk Pertanian 38 37 19 6 10 110

6 Bidang Lainnya - 4 5 5 8 22

TOTAL 190 289 235 100 200 1014

Sumber: Kementerian Koperasi dan UKM (2009) 2. Kabupaten Konawe di Provinsi Sulawesi Tenggara

TPKU dikembangkan dalam rangka penciptaan kesempatan ekonomi bagi pria dan wanita yang rentan terhadap kemiskinan, dilakukan melalui pengembangan sektor usaha kecil dan menengah (UKM) dimana pemerintah dapat memberikan dukungan berupa:

- Bantuan teknis untuk klaster UKM, yang diarahkan pada pengembangan ekspansi usaha yang berkesinambungan dan penciptaan lapangan kerja yang lebih adil dan lebih baik.

- Penguatan kelembagaan atau Penyedia Jasa Layanan Pengembangan Usaha, diarahkan pada pendirian lembaga sektor swasta dan umum yang berkesinambungan dan bertanggung jawab untuk mendukung UMKM agar usahanya dapat berjalan dengan baik dan kompetitif.

Kabupaten Konawe ibukotanya Unaaha, terletak 73 km dari Ibu Kota Provinsi Sulawesi Tenggara,

Kendari. Secara geograis kabuapten ini terletak di bagian selatan Khatulistiwa, melintang dari Utara ke Selatan antara 02o45’ dan 04o15’ lintang Selatan, membujur dari Barat ke Timur antara 121o15’ dan 123o30’ Bujur Timur. Luas wilayah kabupaten Konawe adalah 679.245 Ha atau 17,81 persen dari luas wilayah daratan Sulawesi Tenggara. Dalam rangka peningkatan pelayanan publik, pemekaran kabupaten terjadi pada tahun 2004; dan pada tahun 2009 hingga 2010, pemekaran di dalam kabupaten sendiri membuat kabupaten Konawe secara administrasi terdiri dari 30 kecamatan, 354 desa dan 56 kelurahan. Jumlah penduduk Kabupaten Konawe Hasil Sensus Penduduk tahun 2010 adalah sebanyak 241.982 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Konawe (2002-2007) sebesar 1,93%.

Badan Pusat Statistik di Kabupaten Konawe mencatat (2010) bahwa secara ekonomis sektor pertanian merupakan penyerap tenaga kerja terbesar (55,85%), diikuti kemudian oleh sektor jasa dan perdagangan (29,79%) persen, dan sektor konstruksi/ bangunan, pertambangan, listrik dan air minum, angkutan, keuangan serta sektor lainnya pada urutan ketiga (8,02%). Sementara itu, sektor industri yang diharapkan memberi nilai tambah (value added) yang besar, ternyata hanya menyerap 6,34% tenaga kerja.

Meskipun demikian, tampaknya sebagian terbesar penduduk adalah pekerja tidak dibayar (33,74%), kemudian diikuti secara berturut-turut: berusaha dibantu buruh tidak dibayar (26,41%), buruh/ karyawan (21,22%), berusaha/ bekerja sendiri (10,95%), berusaha dibantu buruh dibayar (3,21%), pekerja bebas non pertanian (2,95%), dan pekerja bebas pertanian (1,53%). Mereka yang termasuk dalam kategori pekerja tidak dibayar bisa jadi merupakan kelompok masyarakat yang rentan terhadap kemiskinan, termasuk didalamnya rumah-rumah tangga yang menjalankan usaha-usaha dalam skala mikro-kecil melibatkan seluruh anggota keluarga.

Jumlah pencari kerja yang terdaftar pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Konawe tahun 2010 tercatat 45,04% berpendidikan SLTA, sekitar 23,66% berpendidikan sarjana ke atas, 21,75% berpendidikan DIII/ sarjana muda, dan untuk tingkat pendidikan yang lainnya masing-masing dibawah 20%. Peluang bekerja yang tersedia menunjukkan peningkatan namun rendah daya tampungnya. Banyaknya pencari kerja di tingkat lulusan SLTA, bila tidak ada ketrampilan tambahan, peluang kerja kelompok ini tidak sebaik mereka yang berpendidikan tinggi.

Garis Kemiskinan di Konawe pada tahun 2010 adalah Rp 217.373,- per kapita per bulan.1 Garis kemiskinan ini meningkat 6,75% dibanding tahun 2009 yang sebesar Rp 203.631,-. Pada tahun 2010, jumlah penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan di Kabupaten Konawe sekitar 42.200 orang (17,46%). Jumlah ini menurun dibandingkan tahun sebelumnya (2009) yaitu sekitar 50.780 orang (19,97%).

Pengembangan TPKU di Kabupaten Konawe

Pengembangan TPKU dilakukan diantaranya di TPKU Bahrul Mubarok di Desa Toramipa, Kecamatan Soropia, dan TPKU Habbul Wathan di Desa Toli-toli, di Kecamatan Lalonggasumeto. Meskipun bukan yang tertinggi, tingkat kemiskinan dikedua Kecamatan tersebut sekitar 6,0% dari jumlah rumah tangga yang ada (2010). Bantuan pengembangan TPKU sebagai lembaga pendidikan perdesaan diberikan Kementerian Koperasi dan UKM pada tahun 2009. Bantuan disalurkan melalui koperasi yang dimiliki lembaga pendidikan perdesaan tersebut, masing-masing koperasi mendapatkan Rp 200 juta yang digunakan untuk membangun gedung TPKU dan pengadaan alat pelatihan keterampilan, serta penguatan modal/ operasional, dengan proporsi 2:1:1. a. TPKU Bahrul Mubarok

TPKU yang didirikan di Madrasah Aliyah (MA) Bahrul Mubarok ini memiliki 23 staf pengajar dan 146 siswa aktif. Belakangan diketahui bahwa sebagian siswa dapat dikategorikan tidak aktif karena mereka harus bekerja di saat-saat pelatihan sehingga tidak bisa secara

rutin mengikuti pembelajaran di TPKU. Dari 23 pengajar yang ada, 4 di antaranya berstatus pegawai negeri sipil dan selebihnya tenaga honorer.

1 Menurut BPS Konawe, garis Kemiskinan adalah nilai rupiah yang harus dikeluarkan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup minimumnya, baik itu kebutuhan hidup minimum makanan maupun kebutuhan non makanan. Penghitungan garis kemiskinan menggunakan patokan batas kecukupan makanan yang setara dengan nilai rupiah yang menghasilkan energi sebesar 2.100 kalori per kapita per hari. Kebutuhan minimum non-makanan diperoleh dari nilai rupiah yang dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan dasar seseorang, yang meliputi kebutuhan dasar untuk papan, sandang, sekolah, transportasi dan kesehatan.

TPKU MA Bahrul Mubarok memanfaatkan sebagian dana bantuan untuk membangun gedung tempat praktek usaha berukuran 15m x 9m. Bangunan ini lebih luas dari standar gedung TPKU yang disyaratkan yaitu 10m x 7m. Pihak pesantren mengeluarkan biaya tambahan, sehingga gedung TPKU dapat lebih luas dan dapat digunakan untuk berbagai keperluan (menjadi gedung serba guna). Sebagian bantuan TPKU lainnya digunakan untuk membeli mesin jahit, mesin kancing, satu mesin obras dan satu mesin bordir yang digunakan untuk melengkapi praktek usaha konveksi. Penggunaan mesin-mesin obras dan bordir tampaknya memerlukan pembelajaran tersendiri sehingga trampil dalam mengoperasikannya.

Sebagai bagian dari pesantren, MA Bahrul Mubarok telah berupaya menggiatkan TPKU melalui perkoperasian. Koperasi tersebut berperan sebagai lembaga penyalur bantuan dari pemerintah. Namun demikian, kondisi keuangan koperasi dapat dikatakan kurang sehat karena jenis usaha yang digarapnya tampaknya tidak berkembang baik. Tidak ada pasar yang dapat menangkap produksi konveksi secara konstan (captive market), setidaknya untuk menutup biaya operasional TPKU.

Meskipun demikian, TPKU tetap dijalankan untuk memberikan latihan jahit-menjahit bagi siswa 3 kali dalam seminggu. Instruktur semula menggunakan tenaga dari luar, namun kemudian diganti staf pengajar di MA karena biaya tenaga instruktur dirasakan mulai membebani. Hasil pembelajaran siswa di TPKU kemudian dimanfaatkan untuk membuat seragam sekolah (batik) yang dibuat dan dibeli untuk keperluan siswa itu sendiri. Ke depan, pelatihan bagi siswa akan ditingkatkan dengan keterampilan mengobras dan border. Ketrampilan tersebut akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan baju musiman, seperti kebutuhan seragam rombongan haji. Hal ini merupakan potensi pasar yang patut digarap.

b. TPKU Habbul Wathan

Gambar 5. Gedung TPKU Habbul Wathan Gambar 6. Mesin Jahit TPKU Habbul Wathan

Di Pesantren Habbul Wathan, pemerintah mendorong Pesantren untuk mendirikan koperasi, dan membuat TPKU sebagai salah satu unit usaha koperasi, selain unit usaha simpan-pinjam yang sudah dikembangkan sebelumnya. Pengembangan TPKU diawali melalui penyediaan tempat praktek kegiatan usaha sesuai persyaratan yaitu pembangunan gedung berukuran 10m x 7m. Kegiatan usaha yang dipilih adalah konveksi, mendorong pembelian mesin-mesin jahit dan obras.

TPKU Habbul Wathan dikelola oleh satu pengajar Pesantren yang telah dilatih untuk dapat mengelola TPKU. Keterampilan yang diajarkan TPKU saat ini sebatas pada pendidikan ketrampilan menjahit khususnya bagi siswa perempuan. Untuk itu, TPKU memiliki 2 instruktur yang berasal dari tenaga lokal.

Pola pembelajaran menggunakan kurikulum yang terjadwal seperti tampak pada Gambar 7, dimana pelajaran (praktek) diberikan sesuai dengan tingkatan siswa di pesantren. Proses pembelajaran diawali dengan praktek pembuatan seragam sekolah dan rok. Pada tahap berikutnya diberikan pembelajaran membuat pola (kemeja, celana panjang). Praktek pelatihan lengkap (satu paket kurikulum) berlangsung selama kurang lebih 9 bulan. Pelatihan bagi siswa ini hampir tidak berbayar atau siswa hanya mengeluarkan biaya minimal untuk dapat mengikuti pelatihan. Saat ini sudah sekitar 50 siswa yang sudah dilatih.

Koperasi pesantren Habbul Wathan telah berhasil mengakses Kredit Usaha Rakyat (KUR) mikro sebesar Rp 20 juta untuk usaha konveksi yang dikerjakan TPKU. KUR mikro ini diperoleh dari Bank Mandiri, setelah ada veriikasi Bank tersebut ke TPKU untuk menilai kelayakan usahanya. KUR diterima sekitar bulan Mei 2011, dengan bunga 6% lat per tahun. Untuk mendapatkannya dijaminkan sertiikat rumah pimpinan pondok pesantren. Dalam prosesnya diperlukan agunan tambahan karena lokasi koperasi yang sulit dicapai yang mana menyulitkan pemantauan Bank.

Ke depan, TPKU akan memperluas pelayanan dengan mengupayakan penyediaan pelatihan bagi masyarakat yang berminat. TPKU juga merencanakan mengirimkan salah satu pesertanya untuk kursus jahit di kota Kendari, sehingga seselesainya kursus tersebut diharapkan ilmu yang diperoleh dapat dipraktekkan untuk pengembangan TPKU Habbul Wathan. TPKU juga disarankan untuk dapat mengeluarkan sertiikat bagi lulusan kursus menjahit. Sertiikat tersebut sangat penting untuk membantu lulusan TPKU dalam membangun usaha ataupun untuk mencari pekerjaaan.

3. Beberapa Pembelajaran

Pengembangan TPKU dapat menjadi tempat untuk melakukan pertukaran informasi, pengetahuan, dan teknis pencapaian keberhasilan dari hasil pendekatan praktek kegiatan usaha. Melalui TPKU diharapkan ada penyebarluasan pengetahuan dan keterampilan teknis yang dapat membantu keberlanjutan usaha (koperasi) dan unit TPKUnya di pedesaan. TPKU tidak perlu harus jalan sendiri, namun dapat mengintegrasikan kegiatan pelatihannya dengan lembaga-lembaga resmi pemerintah (misal melalui Balai-balai Latihan Kerja Provinsi ataupun Kabupaten) dan swasta (memanfaatkan dana Coorporate Social Responsiblity –CSR).

Jangkauan layanan TPKU dapat diperluas sejalan dengan perkembangan koperasi yang mewadahinya. Melihat volume para pencari kerja lulusan SLTA, tampaknya TPKU dapat membantu melengkapi para lulusan tersebut dengan ketrampilan tambahan yang sesuai dengan bakat mereka dan dibutuhkan pasar. Tenaga pengelola dan pengajar di TPKU harus dapat berperan sebagai fasilitator sekaligus memberi pendampingan bagi individu/ kelompok individu yang dilatihnya, sehingga terjalin kerja sama yang baik.

TPKU kiranya dapat memfasilitasi kemitraan dengan berbagai usaha strategis yang berkembang di masyarakat sekitar yang membutuhkan tenaga-tenaga kerja trampil. Pendampingan dalam pelatihan bisa diberikan oleh mitra strategis tersebut dalam rangka mendapatkan suatu keahlian yang bermanfaat bagi penunjang usahanya. Dalam hubungan ini, TPKU dapat menyesuaikan skema kurikulumnya sesuai dengan minat usaha masyarakat. Keberlanjutan usaha dan kerja sama usaha yang dibangun dengan mitra strategis, bisa dilakukan oleh lembaga koperasi yang membawahi TPKU. Dalam hal ini, TPKU dapat dioptimalkan perannya sebagai agen transfer pengetahuan di pedesaan.

Kelancaran kerja TPKU juga tergantung pada penyediaan bahan baku untuk praktek. Hal ini merupakan faktor biaya yang kurang menguntungkan apabila dipandang dari usaha yang sering diwarnai oleh perubahan harga. Koperasi harus dapat menjamin kelancaran pelatihan di TPKU berikut pemasokan bahan baku dan penyaluran produk-produk hasil olahannya. Di samping itu, koperasi juga harus dapat mendukung penyediaan modal usaha bagi anggota (termasuk peserta pelatihan), dan memfasilitasi mereka untuk mendapatkan mitra usaha strategis. Penerapan konsep koperasi simpan pinjam akan sangat membantu dalam penyediaan modal usaha.

4. Kesimpulan dan Rekomendasi

Secara umum pengembangan TPKU di dua lokasi di kabupaten Konawe berfungsi sesuai dengan tujuannya. Gedung TPKU tidak hanya berfungsi sebagai tempat pelatihan, bahkan dapat diperluas atas biaya sendiri dan difungsikan untuk berbagai keperluan. Berbagai peralatan praktek yang dibeli sangat diperlukan dalam penyelenggaraan pelatihan ketrampilan bagi siswa.

Masing-masing TPKU memiliki program pelatihannya sendiri dengan sistem/ pola yang terencana, dan sudah dilengkapi dengan instruktur yang memiliki keterampilan memadai. Bahkan TPKU Habbul Wathan memiliki dua instruktur dan mengembangkan kurikulum tersendiri dalam melatih keterampilan jahit- menjahit (konveksi) bagi siswanya. Hasil pelatihan dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan berbagai keperluan yang dapat diperjualbelikan.

Beberapa hal yang patut diperhatikan oleh koperasi adalah pemeliharaan aset-aset TPKU, dan bagaimana dapat terus memperbaharui dan menambah peralatan secara swadaya. Peran koperasi dalam mengelola TPKU perlu ditingkatkan agar TPKU dapat menjadi unit usaha koperasi yang dapat memfasilitasi anggotanya dan masyarakat sekitarnya dalam meningkatkan keahlian yang dimiliki dan diminatinya.

TPKU dapat mengupayakan adanya sertiikat bagi siswa yang dilatih karena hal ini dapat menjadi nilai tambah bagi siswa yang sudah dilatih. Sertiikasi keterampilan siswa ini dapat diupayakan melalui kerja sama dengan Dinas Pendidikan setempat, atau kerja sama dengan tempat uji kompetensi (TUK) yang telah mendapat akreditasi Dinas Tenaga Kerja. Selain itu, pelatihan yang disediakan TPKU kiranya dapat ditingkatkan untuk mendorong berkembangnya wirausaha baru. Pelatihan yang ada tidak harus sebatas membekali siswa dengan keterampilan tambahan, tetapi sebaiknya perlu diarahkan untuk dapat melaksanakan pedoman pengelola kewirausahaan yang disediakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM secara maksimal. Oleh karena itu cakupan dan kualitas training of trainers bagi instruktur TPKU perlu ditingkatkan.

Kegiatan pemagangan dan kerja sama dengan mitra usaha setempat juga mungkin perlu dikembangkan dengan fasilitasi dari pemerintah daerah (Pemda) agar kapasitas siswa yang dilatih di TPKU dapat dioptimalkan. Upaya-upaya tersebut, yang disertai dengan perbaikan pola pengajaran dan perluasan sasaran pelatihannya, diharapkan dapat mendukung keberlanjutan dari TPKU. Keterlibatan Pemda dalam pengembangan TPKU juga perlu ditingkatkan sehingga dapat meningkatkan rasa kepemilikan dari bantuan rintisan yang disedikan oleh pemerintah pusat dalam mendukung keberlanjutan TPKU.

Perubahan pola pikir dan budaya usaha di pedesaan tampaknya masih menjadi tantangan yang cukup besar untuk menjadikan TPKU sebagai unit pelatihan ketrampilan dengan kapasitas praktek usaha yang memadai dan berkelanjutan. Adanya igur champion (Koperasi) penggerak TPKU dapat memberikan keteladanan, kepemimpinan dan komitmen dalam menjalankan pelatihan. Produktivitas dan keberlanjutan TPKU sangat bergantung pada partisipasi anggota koperasi dalam menjalankan TPKU dan usaha bersama lainnya. Upaya bersama ini akan sangat membantu dalam membangun sikap mental masyarakat menyikapi kehidupan secara lebih kreatif dalam menurunkan tingkat kemiskinan di daerahnya.

Pustaka

- BPS Kabupaten Konawe. Kabupaten Konawe Dalam Angka 2011. http://konawekab.bps. go.id/archives/820

- Direktorat Pemberdayaan Koperasi dan UKM, Bappenas. 2011. “Laporan Evaluasi Kegiatan Pengembangan TPKU dan Proyek CIPSED di Provinsi Sulawesi Tenggara.”

- Weisband, Edward (ed.). 1989. Poverty Amidst Plenty: World Political Economy and Distributive Justice. Westview Press, Inc. Boulder, Colorado, USA.

KEBIJAKAN SUBSIDI UNTUK PELAYANAN AIR

Dalam dokumen Majalah Perencanaan Pembangunan (Halaman 39-46)

Dokumen terkait