BAB IV HASIL PENELITIAN
A. Latar Belakang Daerah Penelitian
6. Hidrologi
Kondisi hidrologi daerah penelitian meliputi kondisi air permukaan dan air dalam. Air permukaan dijelaskan pada kondisi fisik sungai, sedangkan air dalam di jelaskan pada kondisi air tanah. Adapun kondisi fisik sungai dan kondisi air tanah daerah penelitian adalah sebagai berikut:
a. Kondisi Fisik Sungai
Di daerah penelitian terdapat dua buah sungai induk yaitu Sungai Sogo dan Sungai Geyer. Sungai Geyer mengalir ke arah utara lalu membelok ke arah barat dan bermuara pada Sungai Lusi, sedangkan Sungai Sogo mengalir ke arah utara dan bermuara di Sungai Geyer. Beberapa anak sungai yang lebih kecil yang bermuara di Sungai Geyer antara lain : Sungai Monggot dan Sungai Tirip.
Berdasarkan kestabilan alirannya Sungai Geyer merupakan sungai perenial yaitu sungai yang mengalir sepanjang tahun, sedangkan Sungai Sogo termasuk sungai intermitten yaitu sungai yang mengalir pada musim hujan saja. Kondisi air Sungai Sogo pada musim kemarau dapat dilihat pada gambar 13 di bawah ini.
Gambar 13. Kondisi Air Sungai pada Musim Kemarau di Desa Geyer Kecamatan Geyer. Gambar Diambil pada Bulan Oktober tahun 2006.
b. Kondisi Air Tanah
Kondisi air tanah ditentukan oleh keadaan topografi, struktur batuan, sifat kelulusan material, keterdapatan air dalam pori-pori, dan kemampuan dalam pengikatan air. Berdasarkan hasil observasi lapangan dapat diketahui kondisi air tanah di daerah penelitian yaitu: pada bentuklahan perbukitan blok sesar berbatuan napal bersisipan lanau dan bentuklahan perbukitan antiklinal berbatuan napal terkikis kuat, pada musim penghujan air tanah dijumpai pada kedalaman 8 hingga 15 meter, pada musim kemarau kedalaman air bisa mencapai lebih dari 15 meter. Pada musim kemarau air tanah dapat dijumpai pada lembah-lembah perbukitan meskipun debitnya terbatas. Pada bentuklahan perbukitan Denudasional berbatuan napal terkikis kuat, air tanah pada musim penghujan dijumpai pada kedalaman 3 hingga 8 meter, pada musim kemarau kedalaman air mencapai 8 hingga 10 meter. Sumur sebagai alternatif pertama oleh para penduduk untuk mendapatkan air tanah. Sumur pada Bentuklahan Perbukitan Denudasional Berbatuan Napal Terkikis Kuat dapat dilihat pada gambar 14 di bawah ini.
Gambar 14. Sumur Sebagai Alternatif Mendapatkan Air Tanah pada Bentuklahan Perbukitan Denudasional Berbatuan Napal Terkikis Kuat. Gamber Diambil pada Bulan Oktober tahun 2006.
7. Penggunaan Lahan
Berdasarkan Peta Rupa Bumi Indonesia Kecamatan Geyer dan uji lapangan penggunaan lahan di daerah penelitian sebagian besar berupa hutan, permukiman dan sebagian kecil tegalan. Penggunaan lahan di daerah penelitian dapat dilihat pada Peta Penggunaan Lahan. Adapun persebaran masing-masing penggunaan tersebut akan diuraikan di bawah ini.
a. Hutan
Penggunaan lahan hutan dibedakan menjadi dua, yaitu: hutan alami dan hutan buatan (reboisasi). Hutan alami menyebar di bagian selatan Kecamatan Geyer atau bagian selatan dari perbukitan, sedangkan hutan reboisasi terletak di bagian utara Kecamatan Geyer atau utara perbukitan dan sebagian kecil terletak di bagian selatan perbukitan berdampingan dengan hutan alami. Hutan alami ditumbuhi oleh tanaman tropis yang berasosiasi dengan semak belukar. Umumnya tanaman ini berupa mahoni dan jati. Tanaman ini menempati hampir seluruh bagian selatan perbukitan. Hutan reboisasi diusahakan dengan tanaman yang mempunyai nilai ekonomis yaitu berupa Kayu Putih dan di bagian tertentu ditumpangsarikan dengan tanaman jagung. Luas penggunaan lahan sebagai hutan adalah 1.635,411 ha atau 31,68% dari luas seluruh daerah penelitian. Penggunaan lahan hutan dapat dilihat pada gambar 15 di bawah ini.
Gambar 15. Hutan Kayu Putih, Merupakan Hutan Reboisasi. Gambar Diambil pada Bulan Oktober tahun 2006.
b. Sawah
Bentuk penggunaan lahan sawah menyebar pada sebagian besar dataran hingga lereng perbukitan yang berelief relatif datar dan berselang-seling dengan permukiman. Sebagaimana penggunaan lahan hutan, penggunaan lahan sawah juga dibedakan menjadi dua, yaitu: sawah irigasi dan sawah tadah hujan. Sawah irigasi memiliki sistem pengairan yang sudah memadai, sedangkan sawah tadah hujan hanya mengandalkan air ketika musim penghujan. Pergiliran tanaman umumnya dua kali padi dan sekali palawija dalam setahun. Tanaman palawija pada umumnya diusahakan pada musim kemarau karena tidak membutuhkan banyak air. Luas penggunaan lahan sebagai sawah adalah 437,848 ha atau 8,47% dari seluruh luas daerah penelitian. Penggunaan lahan sawah yang ditanami padi seperti pada gambar 17 di bawah.
Gambar 17. Penggunaan Lahan Sawah yang Ditanami Padi di Desa Juworo. Gambar Diambil pada Bulan Januari 2007.
c. Permukiman
Bentuk penggunaan lahan permukiman mencakup pekarangan dan perumahan. Penggunaan lahan ini menyebar memanjang di dataran terutama di kanan kiri sungai dan pada tempat-tempat di sekitar sumber air. Hal ini dikarenakan pada musim kemarau di tempat ini masih relatif mudah untuk mendapatkan air. Penggunaan lahan sebagai permukiman seluas 618,224 ha atau 11,97% dari luas seluruh daerah penelitian.
Antar permukiman di daerah penelitian dihubungkan dengan jalan setapak. Pada umumnya masyarakat setempat berpenghasilan sebagai petani dengan bercocok tanam di sawah dan tegalan. Pekarangan pada umumnya ditanami pohon kelapa, pisang, mangga dan mahoni. Hasil tanaman ini sebagian dikonsumsi sendiri dan sebagian dijual. Untuk menjual hasil pertanian sudah tersedia pasar yang letaknya di tepi jalan Surakarta - Purwodadi. Penggunaan lahan permukiman dan aktifitas jual beli hasil pertanian seperti pada gambar 18 di bawah.
Gambar 18. Penggunaan Lahan Permukiman di Daerah Dataran dan Aktifitas Jual Beli Hasil Pertanian. Foto Diambil pada Bulan Oktober tahun 2006.
d. Tegalan/Perkebunan
Penggunaan lahan tegalan menyebar setempat-setempat pada perbukitan dan lereng-lereng perbukitan terutama pada topografi agak miring (3%-8%). Penggunaan lahan ini berasosiasi dengan hutan dan sawah tadah hujan. Lahan ini tidak mempunyai sistem pengairan yang memadai, sehingga masih tergantung pada musim penghujan. Jenis tanaman yang umum ditanam adalah jagung, ubi kayu (singkong), pisang dan pepaya. Luas penggunaan lahan sebagai tegalan di daerah penelitian adalah 2.420,975 ha atau 46,90% dari luas seluruh daerah penelitian. Penggunaan lahan tegalan pada topografi agak miring dapat dilihat pada gambar 19 di bawah ini.
Gambar 19. Penggunaan Lahan Tegalan pada Topografi Agak Miring (3%-8%). Gambar Diambil pada Bulan Oktober tahun 2006.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan lahan yang dominan di daerah penelitian adalah penggunaan sebagai kebun/perkebunan yaitu 46,90% dari seluruh daerah penelitian.