• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

A. Latar Belakang Daerah Penelitian

5. Tanah…

Lebih dari 25 % tanah bawah hilang

5 4 3 2 4 I II III IV V Sumber: Jamulya, 1993: 40.

13. Gerak Massa Batuan.

Pada setiap macam lereng memungkinkan terjadinya gerakan massa batuan. Proses gerakan massa batuan yang dipertimbangkan dalam pengharkatan keterlintasan medan untuk jalan adalah luasan gerak massa batuan yang mempengaruhi satuan medan.

Gerakan massa batuan merupakan gerakan massa hancuran batuan menuruni lereng karena pengaruh langsung dari gravitasi bumi. Hadirnya air dapat mempercepat proses, karena hadirnya air menyebabkan naiknya tegangan maupun turunnya kekuatan batuan dalam menahan beban dari atasnya. Gerakan massa batuan sebagai akibat dari lereng yang tidak stabil dapat diamati atau dikenali langsung di lapangan. Gerakan massa batuan sangat penting dalam keteknikan jalan raya karena dapat mengakibatkan putusnya badan jalan atau menutup jalan karena longsor. Kriteria luasan gerak massa batuan (dalam % terhadap luas satuan medan) yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 14.

Tabel 14. Kriteria Gerak Massa Batuan.

No Gerakan Massa Batuan Harkat Kelas

Kesesuaian 1 2 3 4 5

Tidak ada gerakan massa batuan

Gerak massa batuan berpengaruh sempit Gerak massa batuan berpengaruh sedang Gerak massa batuan berpengaruh luas Gerak massa batuan berpengaruh sangat luas

5 4 3 2 1 I II III IV V Sumber : Sunarto, 1990:11.

14. Jarak Antar Alur

Kerapatan aliran dalam penelitian ini diperhitungkan karena berpengaruh terhadap banyaknya jembatan yang harus ada. Semakin tinggi kerapatan aliran maka akan semakin banyak alur sungai yang akan dilalui. Dalam penelitian ini jarak antar sungai diukur dari pera Rupa Bumi dan Survei langsung. Penilaian jarak antar sungai berdasarkan pada semakin tinggi kerapatan aliran akan mempercepat proses kerusakan jalan, hal ini disebabkan oleh proses erosi fluvial yang tinggi. Berdasarkan alasan di atas maka kriteria digunakan untuk penilaian kerapatan aliran pada skala 1: 50.000 seperti pada tabel 15 di bawah ini:

Tabel 15. Kriteria Penilaian Kerapatan Aliran. No Jarak Antar Sungai

(cm) Harkat Kelas Kesesuaian 1 2 3 4 5 >2,50 2,50 – 1,94 1,94 – 1,40 1,40 – 0,25 < 0,25 5 4 3 2 1 I II III IV V Sumber: van Zuidam dalam Hidayatulloh, 1995: 42.

15. Intensitas Hujan

Intensitas hujan dinyatakan oleh jumlah hujan dalam satuan waktu tertentu. Suatu daerah dengan intensitas hujan yang tinggi sangat tidak menguntungkan bagi jalur jalan, karena dapat mempercepat terjadinya erosi dan tanah longsor, selain itu intensitas hujan dapat digunakan untuk memperkirakan saluran pengatusan agar badan jalan tidak selalu tergenang air jika terjadi hujan lebat. Kriteria penilaian intensitas hujan yang digunakan seperti pada tabel 16.

Tabel 16. Kriteria Penilaian Intensitas Hujan.

No Intensitas Hujan (mm / hari ) Harkat Kelas Kesesuaian 1 2 3 4 5 < 5 5 - < 20 20 - < 50 50 - < 100 > 100 5 4 3 2 1 I II III IV V Sumber: Hidayatulloh, 1995:41.

16. Penggunaan Lahan

Penggunaan lahan dalam penelitian ini juga dilakukan penilaian, karena jika penerapan tataguna lahan untuk jalan salah, maka dapat menimbulkan kerusakan. Jalan yang terletak pada medan yang berbukit dengan permukiman yang padat terancam pelongsoran, jika curah hujan di daerah itu tinggi dan struktur perlapisan batuannya miring searah dengan kemiringan lerengnya.

Dalam pemberian kriteria penilaian untuk penggunaan lahan, selain didasarkan pertimbangan ekonomis juga didasarkan pada kemungkinan bertambahnya kadar air pada badan jalan, sebagai contoh jalan yang dilewatkan pada areal sawah irigasi akan mengalami kesulitan dalam pembebasan tanah juga memungkinkan bertambahnya kadar air pada tanah dasar dibandingkan jika melewati areal sawah tadah hujan atau tegalan. Berdasarkan alasan di atas dibuat kriteria penilaian seperti tertera pada tebel 17 sebagai berikut:

Tabel 17. Kriteria Penilaian Jenis Penggunaan Lahan. No Jenis Penggunaan lahan Harkat Kelas

kesesuaian 1 2 3 4 5 Permukiman Tegalan

Sawah tadah hujan Hutan Sawah irigasi 5 4 3 2 1 I II III IV V Sumber: Sudarmadi, 1987: 27. D. Kerusakan Jalan

Berdasarkan UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan, Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel (www.dephub.go.id/modules/Upload_File/images/km1tahun2000.pdf. 10, Februari 2007). Jalan diklasifikasikan berdasarkan peruntukan, fungsi, dan statusnya.

Jalan sesuai dengan peruntukannya terdiri atas jalan umum dan jalan khusus. Jalan menurut fungsinya dikelompokkan ke dalam jalan arteri, jalan kolektor, jalan lokal, dan jalan lingkungan. Jalan menurut statusnya dikelompokkan ke dalam jalan nasional, jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kota, dan jalan desa. Klasifikasi tersebut dijelaskan sebagai berikut:

1. Klasifikasi berdasarkan peruntukan jalan.

Berdasrkan UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan pasal 6, klasifikasi jalan berdasarkan peruntukannya adalah:

a. Jalan umum

Jalan umum adalah jalan yang diperuntukkan bagi lalu lintas umum b. Jalan khusus

Jalan khusus adalah jalan yang dibangun oleh instansi, badan usaha, perseorangan, atau kelompok masyarakat untuk kepentingan sendiri. 2. Klasifikasi berdasarkan fungsi jalan.

Berdasrkan UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan pasal 8, klasifikasi jalan berdasarkan fungsinya adalah:

a. Jalan arteri

Jalan arteri adalah jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.

b. Jalan kolektor

Jalan umum yang berfungsi melayani angkutan pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang, kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatasi.

c. Jalan lokal

Jalan lokal adalah jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan jumlah jalan masuk tidak dibatasi.

Jalan lingkungan jalan umum yang berfungsi melayani angkutan lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata rendah.

3. Klasifikasi berdasarkan status jalan.

Berdasrkan UU No. 38 Tahun 2004 tentang Jalan pasal 9, klasifikasi jalan berdasarkan fungsinya adalah:

a. Jalan nasional

Jalan nasional adalah jalan arteri dan jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan antar ibukota provinsi, dan jalan strategis nasional, serta jalan tol.

b. Jalan provinsi

Jalan provinsi adalah jalan kolektor dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibukota provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antar ibukota kabupaten/kota,dan jalan strategis provinsi.

c. Jalan kabupaten

Jalan kabupaten adalah jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer yang menghubungkan ibukota kabupaten dengan ibukota kecamatan, antar ibukota kecamatan, ibukota kabupaten dengan pusat kegiatan lokal, antarpusat kegiatan lokal, serta jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten, dan jalan strategis kabupaten.

d. Jalan kota

Jalan kota adalah jalan umum dalam sistem jaringan jalan sekunder yang menghubungkan antarpusat pelayanan dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil, menghubungkan antarpersil, serta menghubungkan antarpusat permukiman yang berada di dalam kota. e. Jalan desa

Jalan desa adalah jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau antarpermukiman di dalam desa, serta jalan lingkungan.

Kenyatan dilapangan tidak semua kelas jalan tersebut dalam kondisi yang baik. Menurut Undang-Undang no.18 tahun 1999 dan PP 29 tahun 2000, kerusakan jalan secara umum adalah merupakan keadaan bangunan jalan yang

tidak berfungsi, baik sacara keseluruhan maupun sebagian dari segi teknis, manfaat, keselamatan dan kesehatan kerja dan atau keselamatan umum (www. pu. go. id/bapekin/buletin%20 jurnal/ buletin %208/buletin86.html. 10 februari 2007).

Identifikasi kerusakan jalan didasarkan pada kenampakan badan jalan dilapangan yang dibedakan menjadi tiga yaitu: bergelombang, retak, dan longsor. Kerusakan badan jalan bergelombang apabila penutup jalan (aspal) terlihat tidak rata (bergelombang), kendaraan yang lewat terlihat berjalan tidak stabil. Kerusakan badan jalan retak apabila penutup badan jalan terlihat pecah–pecah, rekah dan aspal penutup badan jalan terkelupas. Kerusakan badan jalan longsor apabila badan jalan hilang sebagian atau sampai putus dan badan jalan mengalami penurunan, (Hidayatulloh, 1995: 16)

E. Hasil Penelitian yang Relevan

1. Penelitan : Joko Marwanto (2001)

Judul : Evaluasi Medan Terhadap Kerusakan Jalan Antara

Temuwangi Kaligawe Kecamatan Pedan

Penelitian tersebut bermaksud untuk mengklasifikasikan dan menilai tingkat kesesuaian medan sepanjang jalur jalan, dan mengetahui jenis kerusakan pada tingkat kesesuaian medan untuk bangunan jalan.

Data yang dikumpulkan dalam penelitian tersebut meliputi: kemiringan lereng, panjang lereng, indeks keausan batuan, indeks beban titik, struktur perlapisan batuan, tekstur tanah, indeks golongan, permeabilitas, angka Porositas, kadar air, potensi perubahan volume, erosi, gerak massa batuan, intensitas hujan, kerapatan aliran.

Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah metode observasi yaitu: suatu metode untuk memperoleh data secara langsung dengan cara pengamatan, dan pencatatan terhadap data-data yang diperlukan sesuai dengan tujuan survei.

Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah pada tingkat kesesuaian medan yang sama belum tentu mempunyai faktor pembatas yang sama. Usaha untuk

memperbaiki kondisi faktor pembatas tanah dilakukan dengan memberi lapisan tanah dasar berupa campuran pasir dan batu dengan komposisi pasir lebih banyak.

2. Peneliti : Sayid Sudarmadi (1987)

Judul : Evaluasi Medan untuk Memperkirakan Daerah yang Rentan Terhadap Bahaya Alami Kerusakan Jalan (Studi Kasus pada Wilayah Jalan Lingkar Kotamadya Semarang).

Penelitian tersebut dimaksudkan untuk mengetahui sifat dan kemampuan medan untuk bangunan jalan beserta tingkat kerentanannya terhadap bahaya alami kerusakan jalan. Sasaran yang menjadi tujuan khusus penelitian tersebut adalah peta geomorfologi terpakai sebagai hasil akhir survei geomorfologi, dengan skala 1: 30.000 dan memperkirakan daerah yang rentan terhadap bahaya alami kerusakan jalan pada daerah penelitian.

Metode yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah metode deskriptif observasional yaitu menggandakan pengamatan gejala dan fakta guna memperoleh data sebagai landasan dalam pemerian sesuai dengan tujuan.

Data yang digunakan adalah relief (kemiringan lereng), tanah (jenis tanah dan penyebarannya, angka pori, kadar air lapangan, permeabilitas tanah, dan pengatusan permukaan), proses geomorfologi (aktifitas gerakan massa, erosi permukaan, erosi lembah, dan genangan air/banjir), batuan/geologi (indeks keausan batuan, indeks beban titik, dan struktur perlapisan batuan), hidrologi (intensitas hujan dan kerapatan aliran) serta penggunaan lahan (jenis penggunaan lahan).

Kesimpulan dari hasil penelitiannya adalah tingkat kerentanan medan terhadap bahaya alami kerusakan jalan lebih ditentukan oleh banyaknya parameter pembatas dari faktor bahaya alami kerusakan jalan raya, sehingga dalam satu kelas lintasan medan yang sama belum tentu didapatkan tingkat kerentanan yang sama pula. Hal ini berkaitan dengan sifat dan karakteristik satuan medan yang berlainan, sehingga parameter pembatasnya juga berbeda. Gejala umum berupa penggelombangan pada badan jalan pada satuan medan di daerah penelitian

adalah sebagai akibat kondisi tanah pondasi jalan yang mempunyai kualifikasi yang buruk untuk bangunan jalan.

3. Peneliti : Emi Dwi Suryandi (2003)

Judul : Aplikasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografi untuk Evaluasi Kerentanan Kerusakan Jalan di Kabupaten Kulon Progo

Tujuan penelitian tersebut adalah memanfaatkan data penginderaan jauh untuk menyadap informasi fisik medan sebagai parameter yang digunakan dalam mengevaluasi medan terhadap kerentanan kerusakan jalan dan menentukan kelas kerentanan kerusakan jalan di Kabupaten Kulon Progo dengan menggunakan sistem informasi geografi berbasis vektor.

Data yang digunakan dalam penelitian tersebut diperoleh dari interpretasi foto udara pankromatik hitam putih skala 1: 20.000 dan data sekunder untuk memperoleh parameter yang digunakan. Parameter yang dapat diperoleh secara langsung dari foto udara adalah penggunaan lahan, relief, kerapatan alur, tingkat erosi dan bentuklahan. Parameter kemiringan lereng diperoleh dari peta topografi skala 1: 50.000. parameter tekstur tanah, kembang kerut tanah, gerak massa batuan, dan daya dukung tanah diperoleh dari deduksi bentuklahan yang didukung Peta Tanah skala 1: 300.000 daerah DIY, Peta Tanah skala 1: 50.000 sebagian Kabupaten Kulon Progo dan Peta Geologi skala1: 100.000

Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah penggabungan teknik penginderaan jauh dan sistem informasi geografi (SIG) dalam penentuan kelas kerentanan kerusakan jalan, sangat berperan dalam kemudahan untuk memperoleh informasi tematik, memproses data, meyimpan, mengolah serta memanajemen data.

Dari tinjauan pustaka dan penelitian sebelumnya, dapat diambil kesimpulan bahwa informasi mengenai sifat dan karakteristik medan seperti relief, batuan/geologi, tanah, proses geomorfologi dan vegetasi/penggunaan lahan merupakan hal yang sangat penting dalam perencanaan proyek-proyek keteknikan, dalam hal ini adalah jalur jalan.

Penelitian Joko Marwanto memberikan informasi bahwa studi keterlintasan medan penilaian mengenai kondisi relief, geologi, tanah, proses geomorfologi hidrologi dan penggunaan lahan merupakan parameter yang diukur untuk penentuan kelas keterlintasan medan untuk bangunan jalan. Penelitian Sayid Sudarmadi memberikan petunjuk adanya hubungan antara karakteristik medan dengan kerusakan jalan. Dari semua penelitian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dengan variabel relief, batuan/geologi, tanah, proses geomorfologi, hidrologi dan vegetasi/penggunaan lahan dapat digunakan untuk mengetahui penyebab kerusakan jalan di daerah penelitian.

F. Kerangka Pemikiran

Prasarana transportasi terutama transportasi darat yang salah satunya jalan raya, mempunyai peranan yang penting dalam mendukung perkembangan wilayah secara menyeluruh. Jalan mempunyai fungsi utama sebagai prasarana penghubung. Kondisi jalan yang rusak sangat menghambat perkembangan wilayah, karena membahayakan bagi penggunanya. Untuk dapat mengetahui faktor penyebab kerusakan jalan diperlukan informasi tentang keterlintasan medan yang meliputi sifat dan kemampuan setiap satuan medan untuk bangunan jalan. Dengan adanya informasi tersebut, maka perawatan dan pemeliharaan jalan dapat dilakukan secara efektif dan jalan dapat digunakan secara optimal.

Informasi tentang keterlintasan medan untuk jalan diperoleh dengan cara mengevaluasi faktor keterlintasan medan pada masing-masing medan yang berupa: kemiringan lereng, panjang lereng, indeks keausan batuan, indeks beban titik, kmiringan lapisan batuan, tekstur tanah, kelompok tanah/ukuran butir tanah, kadar air, angka pori, permeabilitas tanah, kembang kerut tanah, erosi, gerak massa batuan, jarak antar sungai, intensitas hujan, dan penggunaan lahan. Satuan medan diperoleh dari tumpangsusun Peta Bentuklahan, Peta Tanah, Peta Lereng, dan Peta Penggunaan Lahan.

Proses evaluasi terhadap karakteristik satuan medan menghasilkan kelas kesesuaian medan dan faktor penghambat untuk jalan. Selanjutnya kelas kesesuaian medan dan faktor penghambat tersebut dikaitkan dengan kerusakan jalan yang datanya diperoleh dari survei lapangn.

Secara sistematis kerangka pemikiran tersebut dapat diujudkan dalam bentuk diagram alir yang disajikan pada gambar 2 sebagai berikut:

Gambar 2: Bagan Alir Kerangka Berfikir Faktor Kerusakan Jalan

Kondisi Fisik Medan Tidak Mendukung

untuk Jalur Jalan

Kualitas Jalan Tidak Mampu Mendukung Beban Beban Kendaraan yang Melebihi Kemampuan Jalan

Evaluasi Medan untuk Jalur Jalan

Faktor Pembatas Faktor Pendukung

BAB III METODOLOGI

A. Tempat dan Waktu Penelitiam 1. Tempat Penelitian

Suatu penelitian memerlukan tempat sebagai obyek pengambilan data, informasi dan hal-hal yang diperlukan demi tercapainya tujuan penelitian. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan. Dipilihnya daerah ini sebagai daerah penelitian karena memiliki topografi yang kompleks dan jalur jalan Surakarta-Purwodadi yang terlintas mengalami kerusakan yang dapat membahayakan jiwa bagi pengguna jalan tersebut, sehingga dengan dilakukan penelitian mengenai keterlintasan medannya, dapat dijadikan sebagai dasar perencanaan perbaikan kerusakan jalan.

2. Waktu Penelitian

Waktu pelaksanaan penelitian ini dimulai sejak diajukannya proposal sampai penulisan hasil penelitian selesai, yaitu dimulai sejak bulan Agustus 2005 sampai dengan bulan Februari 2007.

B. Metode Penelitian

Untuk mencapai suatu tujuan dalam suatu penelitian selalu digunakan cara–cara yang sering diistilahkan dengan metode penelitian. Menurut Surachmad (1978: 131), metode adalah suatu cara utama yang dipergunakan untuk mencapai suatu tujuan, misalnya untuk menguji serangkaian hipotesis, dengan menggunakan teknik dan alat–alat tertentu.

Sesuai dengan judul dan tujuan, maka penelitian ini bersifat deskriptif, dan model penelitian yang dilakukan adalah deskriptif survei. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Arikunto (1985: 139) yang menyatakan bahwa “Pada umumnya penelitian deskriptif merupakan penelitian non hipotesa sehingga dalam langkah penelitiannya tidak perlu merumuskan hipotesa. Riset deskriptif survei bermaksud untuk mencari bukti-bukti ilmiah tentang sebab terjadinya kerusakan jalurjalan Surakarta Purwodadi.

Satuan medan dalam penelitian ini ditentukan berdasarkan tumpangsusun Peta Bentuklahan skala 1: 50.000, Peta Tanah skala 1: 50.000, Peta Lereng skala 1: 50.000 dan Peta Penggunaan Lahan skala 1: 50.000. Peta Bentuklahan diturunkan dari Peta Geologi skala 1: 100.000 tahun 1992 dan survei lapangan. Peta Tanah diturunkan dari Peta Tanah Tinjau skala 1: 250.000 tahun 2001 dan survei lapangan. Peta Lereng dan Peta Penggunaan Lahan diturunkan dari Peta Rupa Bumi skala 1: 25.000 tahun 2000.

Batas pemetaan masing-masing peta penyusun satuan medan adalah bentang alam yang diukur dari batas terluar jalur jalan sejauh 2 Km, dengan asumsi sejauh 2 Km sudah tidak terpengaruh oleh bangunan jalan. Simbol satuan medan disusun berdasarkan pada parameter penyusun yang terdiri dari:

1. Satuan bentuklahan disimbolkan dengan huruf pertama dari asal proses dan angka yang menunjukkan bentuk. Masing-masing simbol tersebut sebagai berikut:

a. Perbukitan blok sesar berbatuan napal terkikis kuat diberi simbol S1 b. Perbukitan antiklinal berbatuan napal terkikis kuat diberi simbol S5 c. Perbukitan denudasional berbatuan napal terkikis kuat diberi simbol

D1

d. Dataran aluvial diberi simbol F1

2. Jenis tanah disimbolkan dengan huruf pertama dari kata pertama nama jenis tanah sebagai berikut:

a. Tanah Regosol diberi simbol huruf R b. Tanah Grumusol diberi simbol huruf G

3. Relief dalam hal ini berupa kelas kemiringan lereng disimbolkan dengan angka Romawi sebagai berikut:

a. Kemiringan 0 – 3% diberi simbol I b. Kemiringan 3 – 8% diberi simbol II c. Kemiringan 8 – 14% diberi simbol III d. Kemiringan 14 – 20% diberi simbol IV e. Kemiringan – > 20% diberi simbol V

a. Permukiman diberi simbol huruf Pmk b. Sawah diberi simbol huruf Swh c. Hutan diberi simbol huruf Ht

d. Kebun / perkebunan diberi simbol huruf Kb Contoh penggunaan simbol:

Cara baca:

S1 : Satuan bentuklahan perbukitan blok sesar berbatuan napal terkikis kuat,

R : Jenis tanah regosol,

II : Kelas kemiringan lereng 3 – 8%, dan Ht : Penggunaan lahan sebagai hutan.

C. Sumber Data

Jenis data yang akan dianalisis dalam penelitian ini, terbagi menjadi dua golongan, yang saling melengkapi dan saling mendukung.

1. Data Primer

Data primer yang digunakan dalam penelitian ini, antara lain hasil pengukuran langsung di lapangan dan hasil analisis laboratorium dari kriteria penilaian kesesuaian medan yaitu: kemiringan lereng, panjang lereng, indeks keausan batuan, indeks beban titik, struktur perlapisan batuan, tekstur tanah, ukuran butir tanah, kadar air, angka pori, permeabilitas tanah, kembang kerut tanah, erosi, gerak massa batuan, jarak antar sungai, intensitas hujan dan penggunaan lahan.

2. Data Sekunder

Data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini, antara lain data jenis tanah, data geologi dan data penggunaan lahan.

D. Populasi dan Sampel 1. Populasi

Penetapan populasi dalam penelitian merupakan hal yang sangat penting agar diketahui dengan jelas individu–individu yang menjadi obyek penelitian tersebut. Menurut Arikunto (1996: 115) yang dimaksud populasi adalah keseluruhan obyek penelitian.

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah semua satuan medan sepanjang jalur jalan Surakarta-Purwodadi di Kecamatan Geyer Kabupaten Grobogan yang berjumlah 68 satuan medan.

2. Sampel

Menurut Arikunto (1996: 117), sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti.

Dalam penelitian ini teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah dengan mengunakan metode Purposive Sampling, yaitu satuan medan sebagai satuan evaluasi yang ditentukan berdasarkan tujuan, yaitu evaluasi medan untuk tingkat kerusakan jalur jalan. Sesuai dengan metode pengambilan sampel yang digunakan, maka satuan medan yang menjadi sampel penelitian adalah satuan medan yang terlintasi oleh jalur jalan. Dari jumlah populasi yang ada ditetapkan 12 satuan medan yang menjadi sampel penelitian, keduabelas satuan medan tersebut adalah: D1-G-V-Kb, D1-G-I-Kb, D1-G-I-Pmk, D1-G-III-Ht, S1-G-IV-Ht, S1-G-I-Pmk, S5-G-IV-Ht, S5-G-II-Ht, S5-G-I-Ht, S5-G-III-Kb, S1-G-I-Ht, dan S1-G-I-Sw.

E. Teknik Pengumpulan Data

Dalam suatu penelitian, data merupakan faktor yang penting. Pengumpulan data yang dimaksudkan untuk memperoleh data atau keterangan yang benar dan dapat dipercaya dalam penelitian. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan antara lain:

1. Dokumentasi

Dokumentasi adalah cara pengumpulan data dengan menelaah dokumen–dokumen atau catatan–catatan yang ada termasuk di dalamnya adalah peta. Dokumentasi dilakukan guna mendapatkan data–data sekunder. Data yang dihasilkan dari cara dokumentasi antara lain: litologi, geologi, kerapatan aliran, iklim dan penggunaan medan.

2. Observasi

Observasi lapangan adalah cara pengumpulan data dengan melakukan pengamatan terhadap obyek di lapangan. Observasi dilakukan untuk mendapatkan data primer. Dari observasi lapangan, data yang dihasilkan antara lain: kemiringan dan panjang lereng, perlapisan batuan, tekstur tanah, permeabilitas tanah, drainase, kenampakan erosi dan gerak massa batuan. Teknik observasi ini dilakukan baik secara langsung maupun tidak langsung, hal ini sesuai dengan pendapat Surachmad, (1978: 155) yang mengatakan bahwa “teknik observasi lapangan adalah pengumpulan data dimana penyelidik mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat) terhadap gejala obyek yang diselidiki. Teknik observasi tak langsung yakni teknik pengumpulan data dimana penyelidik mengadakan pengamatan terhadap gejala–gejala subyek yang diselidiki dengan perantara sebuah alat, baik alat yang sudah ada (semula tidak khusus dibuat untuk keperluan tersebut), maupun yang sengaja dibuat untuk keperluan yang khusus itu. Cara pengambilan data dilakukan sebagai berikut:

a. Data kemiringan lereng dan panjang lereng didapat dari Peta Lereng

Dokumen terkait