• Tidak ada hasil yang ditemukan

HIDUP SENDIRI

Dalam dokumen Intervensi Trauma dan Krisis (Halaman 33-45)

Seseorang yang hidup sendiri dalam waktu yang lama tentu akan merasakan kesepian. Kesepian merupakan suatu pengalaman subyektif dan tergantung  pada interpretasi individu terhadap hubungan sosial yang dimilikinya.

Menurut Bruno (dalam Dayakisni, 2003) kesepian dapat berarti suatu keadaan mental dan emosional yang terutama dicirikan oleh adanya perasaan- perasaan terasing dan kurangnya hubungan yang bermakna dengan orang lain. Kesepian timbul ketika seseorang memiliki hubungan interpersonal yang lebih sedikit dibanding yang diinginkannya atau ketika hubungan interpersonalnya tidak memuaskan keinginannya (Weiten & Llyod, 2006).

Orang yang merasa kesepian akan merasa ditiadakan dari kelompok, tidak dicintai oleh orang-orang yang ada disekitarnya, tidak dapat berbagi tentang masalah-masalah pribadi, ataupun berbeda serta terasing dari orang-orang di sekelilingnya (Beck & Young; Davis & Fanzoi dalam Myers, 1996). Selain itu, individu yang mengalami kesepian memiliki pandangan negatif terhadap depresi yang mereka rasakan, menyalahkan diri sendiri atas hubungan sosial yang buruk, dan berbagai hal yang berada di luar kendali (Anderson & Snoggrass, dalam Myers, 1999).

Barg et al . (2006) menemukan bahwa orang-orang yang mengatakan dirinya kesepian umumnya lebih tertekan, ketakutan dan putus asa serta memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk merasakan kesedihan dan sulit untuk bersenang-senang dibandingkan dengan orang yang tidak kesepian. Kesepian yang terjadi akibat berpisah dengan orang yang kita cintai dapat membangun suatu reaksi emosional seperti kesedihan, kekecewaan, bahkan rasa geram yang membuat seseorang marah pada lingkungan dan juga pada dirinya sendiri (Sears dkk., 1999).

Menurut Rubeinstein, Shaver & Peplau (1979 dalam Brehm, 2002), ada 4 jenis perasaan yang dirasakan ketika seseorang kesepian yaitu putus asa, depresi, impatient boredom, meyalahkan diri. Keempat perasaan inilah yang

Menurut Brehm (2002), kesepian yang dialami oleh janda disebabkan oleh keinginan-keinginan seperti keinginan untuk bersama dengan suaminya, keinginan untuk dicintai oleh seseorang, keinginan untuk berbagi pengalaman sehari-hari dengan seseorang, membutuhkan seseorang untuk berbagi beban dan pekerjaan, keinginan untuk mencintai dan merawat seseorang, kerinduan terhadap masa lalu ketika bersama suami, merasa kehilangan status, ketakutan akan ketidakmampuannya untuk membangun hubungan pertemanan yang  baru. Perasaan-perasaan ini akan menyebabkan janda mengalami kesepian

(Brehm, 2002).

1. Dampak dari Kelamaan Hidup Sendiri

Manusia tak bisa hidup sendiri, itu sudah sering kita baca di buku  pelajaran ilmu sosial. Iya, manusia memang makhluk sosial yang

membutuhkan orang lain sebagai teman di kehidupannya. Jika kebutuhan itu tidak dipenuhi, atau Seseorang hidup sendirian dalam jangka waktu lama, maka kesehatan fisik dan mental Seseorang bisa terganggu. Sebuah studi yang dilakukan oleh Psychological Science dan dilansir oleh laman news.health.com, terungkap bahwa manusia yang dalam kehidupannya lama menghabiskan waktu sendiri, tak bersosialisasi, maka akan memseseorangng wajah boneka seperti layaknya manusia. Jika seseorang sering merasa kesepian sebaiknya jangan dianggap sepele. Sebab, efek  buruk dari kesepian, menurut ahli fisiologi Amerika, setara dengan kerugian akibat kebiasaan merokok atau mengonsumsi minuman  beralkohol. Ikatan emosional dari keluarga dan para sahabat yang kuat dapat meningkatkan kualitas kesehatan manusia. Bahkan, ikatan emosional semacam ini lebih efektif memberikan kesehatan ketimbang latihan fisik dan menghindari kebiasaan yang berbahaya.

Serangkaian penelitian itu dilakukan dalam kurun waktu tujuh tahun. Mereka meriset hampir 400 orang yang ikut berpartisipasi dalam proyek ini. Hasilnya, orang yang sering berinteraksi sosial (dengan tetangga, teman, keluarga) ternyata lebih kecil risiko terserang berbagai penyakit

dibandingkan dengan mereka yang jarang berhubungan dengan orang lain. Hasil penelitian itu kemudian meyakinkan para ahli bahwa pengaruh kesepian sama dengan dampak rokok dan alkohol. Jadi, dalam hal dampak negatif terhadap kesehatan, kesepian itu identik dengan merokok 15 batang sehari. Orang-orang yang merasa kesepian cenderung mengalami lebih banyak problem kesehatan fisik maupun mental daripada mereka yang jarang kesepian dan sering berinteraksi dengan orang lain. Hal ini dikemukakan oleh Bruce Rabin, seorang direktur Program Lifestyle di University of Pittsburgh Medical Center.

Mereka juga rentan mengalami masalah lain, yang tak dialami oleh orang yang terhubung dengan orang lain setiap harinya, seperti misalnya yang tercatat di bawah ini. Berikut dampak bahaya terlalu lama sendirian:

a) Sering sedih dan stress

Berdasarkan penelitian dari University of Chicago, semakin Seseorang merasa kesepian dan sendiri maka kemungkinan Seseorang mengalami sedih dan stres akan makin besar. Resiko depresi juga makin terbuka lebar. Hormon kortisol pada seseorang yang kesepian cenderung makin meningkat dan aktif. Ini adalah hormon pemicu stres dan depresi. Yang mengejutkan, ternyata interaksi dengan  banyak orang ternyata bisa lebih efektif mengurangi gejala depresi

daripada obat antidepresan.  b) Malas mengurus diri

Sebuah studi menyebutkan jika resiko kematian disebabkan oleh  penyakit jantung dapat meningkat apabila seseorang hidup sebatang

kara. Ini disebabkan karena ia enggan mengurus diri dan kesehatannya. Namun jika ia memiliki orang lain atau mempunyai kegiatan interaksi dengan orang lain, maka kemungkinan kematian akan berkurang. Ini karena dukungan sosial akibat interaksi yang ia lakukan. Ia juga lebih mengurus kesehatannya jika berada dalam

c) Daya tahan tubuh lemah

Daya tahan orang yang hidup menyendiri lebih lemah dari pada orang yang rajin bersosialisasi. Ini bahkan berlaku jika Seseorang rajin mengonsumsi berbagai vitamin dan vitamin C. Bagaimana bisa terjadi? Rahasianya ada di hormon endorfin atau dopamin yang keluar saat seseorang merasa bahagia saat berkumpul dengan keluarga dan sahabat. Lucunya, meskipun seseorang makan banyak makanan bernutrisi dan vitamin C, namun jika Seseorang tidak mengimbanginya dengan bersosialisasi dengan orang di sekitar seseorang, seseorang mungkin sekali memiliki sistem imun yang lemah. Ini karena tubuh tidak mengeluarkan hormon endorfin atau dopamin sehingga seseorang tidak bahagia. Hal inilah yang melemahkan tubuh seseorang dari serangan penyakit. Penelitian tahun 2013 oleh Ohio State University memperlihatkan bahwa seseorang yang kesepian cenderung memiliki sistem imunitas tubuh yang lebih lemah. Mereka jadi lebih rentan mengalami peradangan yang terkait dengan penyakit kronis seperti penyakit jantung, artritis, diabetes tipe 2, serta penyakit alzheimer. Kesepian bisa bikin cepat meninggal. Rasa kesepian yang berlarut-larut memang berdampak  buruk bagi kesehatan Seseorang. Bahkan hal itu dapat mempercepat kematian Seseorang! Berbagai riset menunjukkan bahwa orang-orang yang sendirian dan merasa kesepian memiliki peningkatan risiko kematian dini sebesar 30 persen.

d) Cendrung malas mengatasi diri sendiri

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa risiko kematian akibat  penyakit jantung bisa meningkat jika seseorang hidup sendirian dalam usia paruh baya, dan risiko akan meningkat jika seseorang tidak pernah menjalin interaksi dengan orang di sekitar seseorang hingga seseorang merasa kesepian sendiri. Hal ini dikarenakan seseorang tidak memiliki teman untuk berbagi dan mendapat

dukungan sosial dari sekitar. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang makan sendirian, makan lebih sedikit sayuran tiap harinya dibandingkan orang-orang yang hidup bersama orang lain. Berbeda dengan orang yang hidup bersama keluarga, menurut Rabin, apa yang dimasak akan cenderung disiapkan makanan sehat.

e) Mudah terserang penyakit

Ilustrasi : Perasaan kesepian bisa menurunkan produksi leukosit alias sel darah putih. Kalau leukosit menurun, tubuh akan mudah terserang virus maupun bakteri yang menyebabkan kita akan mudah terserang  penyakit, karena fungsi leukosit sebagai benteng yang melawan  penyakit. Kesepian menjadi kondisi emosi yang kompleks karena  berpengaruh pada kepribadian, kesehatan, dan kehidupan sosial. Sebuah riset di Harvard pada tahun 2012 memperlihatkan bahwa orang dewasa yang hidup sendirian dan merasa kesepian memiliki risiko kematian akibat penyakit jantung sebanyak 24 persen. Rabin mengatakan bahwa orang yang tidak mendapatkan dukungan sosial seringkali gampang stres dan hal tersebut meningkatkan risikonya untuk terserang penyakit jantung. Penumpukan hormon stres di dalam tubuh juga dapat turut menaikkan penumpukan endapan kolesterol  pada organ hati. Orang-orang yang kesepian juga cenderung kurang

minat untuk berolahraga dan biasanya tidak aktif bergerak. f) Menyebabkan masalah social

Ilustrasi : Bagi anak-anak, perasaan kesepian bisa menimbulkan masalah-masalah lain seperti perasaan nggak betah di sekolah karena tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Orang dewasa yang merasa kesepian bisa mengalami stres, depresi, hingga terjerumus pada hal-hal negatif. Bahkan orang dewasa maupun anak muda yang tidak bisa mengatasi dan tidak tahan dengan rasa kesepiannya bisa berujung  pada bunuh diri.

g) Mengganggu kualitas tidur

Kesepian bisa menganggu kualitas waktu tidur. Orang yang kesepian akan susah tidur, sering terbangun di malam hari, dan kekurangan waktu tidur.

h) Depresi

Rasa kesepian rentan membuat seseorang merasa pedih hati. Semakin ia larut dalam keadaan bersedih, semakin besar juga kemungkinannya mengalami depresi. Bruce Rabin mengungkapkan bahwa keadaan kesepian memicu pengaktifan hormon otak yang berkaitan dengan stres, misalnya kortisol, sehingga sanggup menimbulkan depresi. Salah satu cara mengatasi depresi ialah dengan aktif berinteraksi sosial dengan orang lain.

2. Beberapa Cara Untuk Menghadapi Kesepian

Memang ada waktunya seseorang merasa butuh waktu untuk sendirian di tempat yang sunyi, entah itu untuk menyalurkan hobi seperti membaca  buku, atau supaya bisa berpikir dengan jernih. Tetapi menghabiskan terlalu  banyak waktu sendiri dapat menimbulkan rasa kesepian. Dan rasa kesepian  bisa berdampak buruk bagi kesehatan mental maupun fisik Seseorang. Kabar  baiknya, Seseorang bisa menghindarinya dengan cara mengatasi kesepian  berikut ini :

a) Dibalik penyebab kesepian

1) Kesendirian dan kesepian bukanlah dua hal yang sama. Dari segi  pengertian menurut kamus, kesendirian memaksudkan situasi saat seseorang tidak berinteraksi dengan orang lain atas keinginannya sendiri. Sedangkan kata kesepian seringkali menyiratkan rasa keterasingan yang dibarengi dengan keinginan yang besar untuk memiliki teman. Bisa disimpulkan, kesendirian bisa jadi situasi yang menyenangkan dan bermanfaat. Misalnya ketika Seseorang memang  butuh waktu untuk menenangkan diri atau merenung. Namun

sebaliknya, kesepian merupakan bentuk perasaan yang menyakitkan. Apa yang jadi penyebab kesepian?

2) Hubungan tanpa emosi. Teknologi seakan sudah menggantikan keinginan orang-orang untuk saling bertemu dan bercakap-cakap. Banyak orang merasa sudah cukup berkomunikasi hanya dengan mengirim SMS atau chatting dan malas untuk bertemu langsung.  Namun, hubungan komunikasi yang tanpa emosi tersebut justru bisa

membuat Seseorang semakin kesepian.

3) Berpindah-pindah rumah. Krisis ekonomi telah memaksa banyak orang untuk pindah tempat tinggal akibat pindah pekerjaan. Karena  pindah pekerjaan, mereka terpaksa harus meninggalkan sekolah, tetangga, sahabat, dan bahkan keluarga mereka. Keadaan lebih parah harus dirasakan mereka yang pindah ke tempat yang berbeda bahasa,  budaya, dan iklim. Seringkali mereka sulit menyesuaikan diri dan

tidak punya teman akrab.

4) Kematian orang yang dicintai. Kematian seorang teman hidup meninggalkan luka dan perasaan hampa yang mendalam bagi  pasangan hidupnya, terlebih apabila mereka sudah hidup bersama untuk waktu yang lama. Perasaan kesepian yang kuat akan sering muncul.

5) Kelajangan yang terpaksa. Rasa kesepian kadang kala dialami oleh mereka yang belum menikah karena belum menemukan pasangan yang cocok. Perasaaan kesepian bisa semakin kuat ketika ada yang mengajukan pertanyaan yang kedengarannya menyakitkan, misalnya “kenapa kamu belum menikah juga?”

6) Usia muda. Tak sedikit anak remaja yang mengaku merasa kesepian. Banyak dari mereka yang ketagihan hiburan yang bisa dilakukan sendirian, misalnya bermain game elektronik, menghabiskan berjam- jam untuk surfing di internet, atau menonton TV. Karena keseringan

menghabiskan waktu sendirian, mereka tidak punya teman akrab dan kerap merasa kesepian.

7) Usia tua. Para lansia mungkin sering kesepian, meskipun anggota keluarganya tidak mengabaikan mereka. Kerabat dan sahabat mereka mungkin datang berkunjung di waktu-waktu tertentu, namun ada waktu-waktu lain — adakalanya berhari-hari bahkan berminggu-minggu ketika tidak ada satupun yang mengunjunginya.

Siapapun dapat mengalami kesepian, dan tampaknya problem ini semakin banyak dirasakan bahkan oleh orang-orang yang kelihatannya punya  banyak teman. Bagaimana caranya kesepian bisa diatasi?

3. Bagaimana Cara Mengatasi Kesepian? a) Apakah Seseorang Kesepian?

Sebelum berpasrah pada keadaan, ada baiknya menanyai diri sendiri  pertanyaan-pertanyaan berikut yang bisa membantu evaluasi pribadi dan

menemukan solusi mengatasi perasaan kesepian.  b) “Perlukah Saya Mengubah Sudut Seseorang?”

Semua orang bisa kesepian, dan itu wajar. Tetapi yang jadi masalah adalah ketika Seseorang terus-menerus merasa kesepian. Mungkin itu tseseorang ada yang perlu disesuaikan dari cara pseseorangng Seseorang terhadap kehidupan. Masalah bisa muncul dari cara Seseorang  bersikap saat bersama orang lain. Ada yang seolah menaruh pagar kawat  berduri di sekitarnya sehingga orang lain tidak mau berteman. Untuk mengatasinya, adakalanya hanya diperlukan mengubah sudut  pseseorangng. Ada pengalaman dari Sabine yang berimigrasi ke Inggris. “Butuh waktu agar kepercayaan tumbuh diantara teman-teman baru supaya bisa nyaman dan percaya diri ketika bergaul bersama. Cobalah tanya latar belakang mereka. Kita bisa mencari sesuatu yang baik dari orang lain dan belajar kebudayaan mereka.”

c) “Apakah Saya Menarik Diri dari Orang Lain?”

Tanyailah diri sendiri, “Apakah saya menjauhi orang lain? Mungkinkah orang lain jadi lebih ramah k alau saya juga lebih ramah?” Kalau Seseorang merasa itu penyebab dijauhi orang, cobalah untuk lebih supel. Berinisiatiflah mengajak bicara orang lain yang tampaknya kesepian juga. Bisa jadi satu pertanyaan saja menjadi awal dari persahabatan seumur hidup. Banyak orang yang kesepian berusaha mengatasinya dengan  berlama-lama bermain video game, surfing internet, atau menonton TV.  Namun justru kegiatan-kegiatan mengasingkan diri ini dapat membuat mereka merasa kesepian lagi. Televisi dan game elektronik dapat membuat seseorang jadi begitu kecanduan sampai-sampai tidak berminat lagi menjalin pertemanan.

d) “Apakah Saya Sering Berpikiran Negatif?”

Pesimistis dan perasaan rendah diri seringkali jadi penghalang terciptanya suatu persahabatan. Seorang remaja 15 tahun asal Ghana, Abigail, mengatakan, “Adakalanya pikiran negatif bikin saya merasa kesepian. Saya jadi merasa tidak berguna dan tidak disayangi.” Jadi, yakinkan diri  bahwa dengan berinisiatif mendekati dan membantu orang lain yang membutuhkan, orang tersebut tidak akan menganggap Seseorang tidak  berguna. Mungkin ia akan membalasnya dengan menjadi sahabat Seseorang. Tidak ada cara kilat untuk mengatasi kesepian. Namun Seseorang bisa berhasil mengatasinya dengan menerapkan prinsip ini, “perlakukan orang lain sebagaimana Seseorang ingin diperlakukan orang lain.” Dekatilah orang-orang yang bisa dijadikan sahabat untuk berbagi cerita dan melepas kesepian. Jika ingin orang lain ramah, Seseorang mesti terlebih dulu ramah kepadanya. Jika ingin orang lain berteman dengan Seseorang, terlebih dulu jadilah teman baginya

Cara mengatasi kesepian lain yang praktis ialah dengan keluar dari rumah dan lakukan sesuatu yang berguna. Misalnya dengan berjalan-jalan

sendirian di rumah, jangan ratapi kesendirian Seseorang. Sebaliknya lakukanlah pekerjaan yang kreatif, misalnya menjahit, menggambar, memperbaiki sesuatu, atau membaca. Dengan mengasah kreatifitas dan membuat diri sibuk, Seseorang bisa menghilangkan rasa kesepian yang sering datang di kala sendirian.

Berikut cara praktis mengatasi kesepian :

a) Pertama, meminimalisasi rasa sepi. Orang yang merasakan kesepian harus meredakan kesepiannya. Berhenti untuk membesar-besarkannya dan jangan lagi membahasnya berulang-ulang. Sebisa mungkin jangan membiarkan kesepian membuat kita pahit, dan jangan membiarkan kemarahan berkembang dalam hidup.

 b) Kedua, mengakuinya. Carilah orang yang dapat dipercaya atau  profesional seperti konselor atau psikolog. Bila belum menemukan orang yang cocok, berbicaralah kepada Yang Maha Kuasa. Selama kita mengerti hal itu, kita tidak akan pernah benar-benar merasa sendiri. Doa adalah jembatan penenang yang dapat digunakan dalam masa-masa sepi.

c) Ketiga, perhatikan orang lain. Jangan berfokus kepada diri sendiri, tetapi berfokuslah juga kepada orang lain. Mulailah membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan. Menolong orang lain dapat mengikis rasa kesepian dalam diri. Itu juga berarti berhenti membangun tembok antara kita dan orang lain dan mulai membangun  jembatan-jembatan.

Yang perlu diingat bila kita sedang mengalami rasa kesepian adalah tunjukan kasih. Kasih adalah obat penawar bagi kesepian. Jangan menunggu untuk dikasihi, kita perlu memberikan kasih, dan kemudian kasih akan diberikan kembali kepada kita dalam ukuran yang melimpah. Kemudian ingatlah pepatah lama ini, jika kehidupan memberi seseorang sebuah lemon, buatlah segelas jus lemon. Kalau dalam bahasa saya, jika kehidupan memberi seseorang terasi, buatlah

sambal terasi yang nikmat biar seseorang dan orang lain juga bisa merasakan nikmatnya.

BAB

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Krisis merupakan suatu keadaan yang berbahaya / parah sekali / genting / suram menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 2008. Webster’s New World (1996) mendefinisikan krisis sebagai “a turning point in the course of anything” artinya “suatu titik balik dalam sesuatu”.

Dalam bahasa Yunani, Krisis berati keputusan (Nova, 2009), krisis tidak dianggap sebagai petaka yang menghentikan atau mematikan momentum untuk  perbaikan dan mencari peluang dibaliknya.

Selain krisis situasional adapun kehilangan pasangan, terutama karena kematian, lebih sering dialami oleh perempuan. Hal ini dapat dilihat dari data dinas Kependudukan Medan pada tahun 2005 dimana jumlah janda karena kematian suaminya sebesar 6,17%. sedangkan jumlah duda karena kematian istrinya sebanyak 1,01%.

Oleh karena itu kehilangan pasanga akan menyebabkan mereka merasa kesepian dimana akan merasa ditiadakan dari kelompok, tidak dicintai oleh orang-orang yang ada disekitarnya, tidak dapat berbagi tentang masalah-masalah  pribadi, ataupun berbeda serta terasing dari orang-orang di sekelilingnya (Beck &

DAFTAR PUSTAKA

Dariyo, Agoes. 2004. “ Memahami Psikologi Perceraian Dalam Kehidupan  Keluarga” DalamJurnal Psikologi Vol. 2 No. 2, Desember 2004 hal 94-100.

Universitas Esa Unggul: Jakarta.

Bell, R. R. (1979). Marriage and Family Interaction. 5th edition. Illinois : The Dorsey Press.

Emery, E. R. (1999). Marriage, divorce, and children adjustment. 2nd edition . New York: Prentice Hall International.

friedman, M Marylin, Bowden dan Jones. 2014 Buku Ajar Keperawatan Keluarga : EGC

Gunarsa, S. D. (1999). Psikologi untuk Keluarga. Cetakan ke-13. Jakarta : Gunung Agung Mulia.

Hurlock, E. B. (1994). Psikologi Perkembangan, Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga.

 Newman, B. M. & Newman, P. R. (1984). Development through Life : A Psychological Approach. 3rd edition. Chicago : The Dorsey Press.

 Nova, Firsan. 2009. Crisis Public Relations (Bagaimana PR Menangani Krisis  Perusahaan). Jakarta: Grasido

Papalia, Diane E. (2001). Human Development. 8th edition. New York : Mc Graw Hill.

Turner, J. S. & Helms, D. B. (1983). Lifespan Development. 2nd edition. New York : CBS College Publishing.

Lemme, B.H. 1995. Development In Adulthood. USA : Allyn & Baccon Brehm, S.S. 2002. Intimate Relationship 2nd. New York : McGrawl-Hill

Di Matteo, M. R. 1991. The Psycology Of Health, Illness, and Medical care. Pasific Grove, California : Brooks/Cole Publishing Company

Dalam dokumen Intervensi Trauma dan Krisis (Halaman 33-45)

Dokumen terkait