• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hidupku Harmoni Bersama Keberagaman Agama Buddhaku

Dalam dokumen Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti (Halaman 58-64)

Bab 2 Tokoh Buddhisku adalah Inspirasiku

B. Hidupku Harmoni Bersama Keberagaman Agama Buddhaku

Harmoni merupakan keselarasan kehidupan atau tatanan, baik agama, masyarakat, bangsa, maupun dengan yang lainnya. Dengan kata lain, harmoni dan agama adalah dua hal tidak bisa dipisahkan sebab dalam agama, harus ada harmoni. Selain itu, agama dalam perspektif sosiologis dapat dilihat dari adanya fenomena-fenomena keagamaan yang muncul dalam masyarakat Buddha, baik dalam bentuk ritual, perayaan, maupun simbol-simbol keagamaan sehingga agama Buddha tumbuh dan berkembang menjadi bagian dari budaya masyarakat. Agama Buddha yang menjelma dalam bentuk budaya inilah yang menuntut adanya hubungan yang harmoni, baik intern (dalam) aliran/sekte maupun ekstern (luar) antar-aliran/sekte dalam agama Buddha. Dengan demikian, akan memunculkan agama dengan istilah misi keagamaan dalam bentuk budaya masing-masing aliran. Maka, melalui dasar hal tersebut, keberadaan agama Buddha dalam

Bab 2 Tokoh Buddhisku adalah Inspirasiku | 45 masyarakat memiliki potensi persatuan yang baik, tetapi juga menimbulkan potensi konflik.

Dalam tatanan kehidupan, harmoni merupakan sebuah harapan dalam setiap keberagaman kehidupan masyarakat yang realistis dan optimis dalam merealisasikannya. Harmoni adalah kerukunan antarumat beragama yang dewasa ini menjadi sebuah harapan di tengah-tengah kehidupan antarumat beragama yang memiliki potensi terjadinya konflik dan perpecahan. Ditinjau dari teori konstruksi perdamaian, kerukunan antarumat beragama dapat dilihat dari beberapa unsur, antara lain: sistem informasi yang efektif, sistem hukum yang efektif/adil, sistem sosial kemasyarakatan/tatanan kehidupan sosial, baik individu maupun kelompok, kekuatan seorang pemimpin yang baik, dan struktur dalam sistem yang baik terutama dalam tatanan negara dan masyarakat.

Dalam mewujudkan kehidupan yang harmoni terhadap keberagaman agama Buddha, kita memerlukan faktor penunjang, antara lain seperti berikut.

1. Faktor pertama adalah saluran komunikasi yang efektif. Hal ini merupakan faktor yang menentukan terciptanya sebuah perdamaian dan harmoninya sebuah tata hubungan antaranggota masyarakat dalam keagamaan Buddha. Saluran komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya intensitas komunikasi antaranggota masyarakat, di mana anggota masyarakat dapat menyuarakan dan menyalurkan ide-ide atau gagasan sebagai bagian dari anggota kemasyarakatan Buddha, yaitu melalui dialog lintas aliran/sekte dalam agama Buddha. Saluran komunikasi yang efektif akan memberikan peluang bagi umat Buddha terutama masyarakat Buddha yang lebih luas untuk berkontribusi secara langsung terhadap perkembangan agama Buddha, sekalipun hanya sebatas ide atau gagasan. Dengan adanya komunikasi yang efektif, permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam perkembangan agama Buddha akan dapat didiskusikan dan diselesaikan secara bijaksana (pañña).

Tanpa adanya saluran komunikasi yang efektif, masalah-masalah

yang dihadapi menjadi potensi yang dapat menimbulkan perpecahan antarumat Buddha yang berbeda terutama pada masyarakat Buddha yang heterogen, baik dari aspek sosial, budaya, ataupun keyakinan. Dengan demikian, saluran komunikasi yang efektif merupakan prasyarat utama dalam menciptakan sebuah perdamaian masyarakat Buddha menuju kehidupan yang harmoni.

2. Faktor kedua adalah yang menjadi bagian dari sebuah konstruksi perdamaian dan harmoni adalah sistem hukum dan persamaan hak dalam memeluk agama Buddha serta melakukan peribadatan sesuai aturan setiap majelis agama Buddha, baik yang bersifat formal maupun non-formal dan informal, yang sama-sama memiliki peran yang sangat besar bagi terciptanya sebuah perdamaian dan harmoni dalam agama Buddha terutama pada masyarakat Buddha. Sistem hukum dan toleransi serta menjunjung nilai-nilai persamaan hak untuk menjalankan ibadah akan membantu terciptanya stabilitas keamanan dan keharmonisan dalam masyarakat Buddha. Demikian pula, hak-hak individu sebagai umat Buddha akan terjamin, tanpa harus khawatir terhadap kekuatan-kekuatan yang ingin menindas atau menguasainya. Dengan adanya persamaan hukum dan hak yang efektif, dapat berimplikasi pada sebuah tatanan kehidupan yang harmoni dan menjunjung nilai-nilai luhur agama Buddha dan hak-hak umat Buddha untuk hidup harmoni.

3. Faktor ketiga adalah lebih mengarah pada kondisi yang merupakan hasil atau akibat dari adanya sistem komunikasi yang efektif serta sistem hukum dan persamaan hak yang efektif. Melalui saluran komunikasi yang efektif, akan menimbulkan sebuah situasi yang mendukung terhadap pencapaian suatu perdamaian dan kehidupan yang harmoni umat Buddha. Bersatunya umat Buddha merupakan sebuah situasi dan kondisi yang kondusif dalam masyarakat Buddha yang mengarah pada suasana yang harmoni.

Bab 2 Tokoh Buddhisku adalah Inspirasiku | 47

Aktivitas Siswa 2.3: Mengembangkan Sikap Harmonis

1. Menurut kalian, apakah perlu kita mengembangkan sikap harmoni dalam berbagai kehidupan?

2. Bagaimana usaha kalian sebagai pelajar dalam mengembangkan sikap harmoni di sekolah dan keluarga?

3. Bagaimana perasaan kalian jika hidup di tengah-tengah umat Buddha yang memiliki sikap harmoni?

4. Apa usaha dan sikap kalian sebagai pelajar apabila ada orang-orang tertentu yang ingin merusak kehidupan harmoni antarsesama agama Buddha yang sudah terbina dengan baik?

Menyimak

Pak Anto adalah seorang bapak yang berusia lanjut dan tidak berpendidikan. Beliau tengah mengunjungi sebuah kota metropolitan untuk pertama kali dalam hidupnya. Karena Pak Anto belum pernah pergi sebelumnya, dia seperti orang yang kebingungan. Pak Anto dibesarkan di kampung yang berdekatan dengan daerah pegunungan yang sangat terpencil, bahkan aliran listrik pun belum masuk. Dia bekerja keras dalam membesarkan anak-anaknya. Kini, Pak Anto sedang mengikuti kunjungan perdananya ke rumah anak-anaknya yang modern dan tinggal di Kota Metropolitan.

Suatu hari, sewaktu dibawa berkeliling kota oleh anaknya, Pak Anto mendengar suara yang menyakitkan kedua telinganya. Kemudian, Pak Anto berkata-kata pada anaknya, bahwa dia tidak pernah mendengar suara seperti ini, suaranya tidak enak didengar seperti suara-suara di kampungnya yang sunyi. Akhirnya, Pak Anto bersikeras mencari sumber suara yang memiliki suara sumbang. Tibalah beliau di sebuah ruangan belakang rumah, di mana seorang anak kecil berumur 8 tahun sedang belajar gitar listrik.

“Tiiuuunggg...Tengggg...Tiiiuunggg!” suara gitar listrik yang melengking dan inilah sumber suara sumbang yang tidak pernah bapak tua dengar. Saat dia mengetahui nama alat yang berbunyi sumbang dari puteranya, yaitu gitar listrik, dia memutuskan untuk tidak pernah mau mendengar lagi suara yang mengerikan tersebut.

Pada hari selanjutnya, di bagian kota itu, Pak Anto kembali mendengar sebuah suara yang seolah-olah menjadi suara pengantar tidurnya dan seolah membelai-belai telinganya di saat mau tertidur. Pak Anto sendiri, sebelumnya tidak pernah mendengar suara melodi yang begitu indah di saat tinggal di lembah pegunungan. Akhirnya, dia pun mencari sumber suara tersebut. Di saat Pak Anto sudah menemukan asal sumber suara tersebut, ternyata suara itu berasal dari sebuah rumah yang asri dan unik di pojok dekat sungai yang alirannya begitu jernih.

Ketika Pak Anto tiba di depan rumah tersebut, dia melihat seorang pria paruh baya yang merupakan seorang maestro gitar listrik sedang memainkan melodi yang begitu lembut pada gitar listriknya.

Pada waktu itu juga, Pak Anto menyadari kekeliruannya terhadap gitar listrik. Suara yang tidak enak didengarnya kemarin bukanlah kesalahan dari gitar listriknya, bukan pula salah seorang anak yang baru berumur 8 tahun. Itu hanyalah proses belajar seorang anak 8 tahun yang belum bisa memainkan gitar listriknya dengan baik.

Dengan polosnya, Pak Anto mengaitkan suara gitar listrik dan pemahaman terhadap agama. Pak Anto berpikir bahwa mungkin demikian pula halnya dengah agama. Sewaktu kita bertemu dengan seseorang yang menggebu-gebu terhadap kepercayaannya, tidaklah benar menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses belajar seseorang pemula yang belum bisa memahami dan mengerti agamanya dengan baik. Sewaktu kita bertemu dengan seorang yang bijak atau seorang maestro agamanya, artinya orang yang memahami, mengerti dan mampu menerapkan agamanya dalam kehidupan sehari-hari, itu adalah

Bab 2 Tokoh Buddhisku adalah Inspirasiku | 49 pertemuan yang indah dan menginspirasi kita bertahun-tahun, apa pun itu kepercayaan dan keyakinan mereka.

Pada keesokan harinya, masih di kota yang sama tempat anaknya, Pak Anto kembali mendengar suara yang lain, bahkan melebihi kemerduan dan keindahan suara sang maestro gitar listrik yang telah dia dengar sehari sebelumnya. Suara itu melebihi indahnya suara aliran air yang ada di pegunungan tempat tinggalnya, melebihi kesejukan suara angin di hutan yang membelai-belai saat dia tertidur, melebihi suara kicauan burung-burung ada di hutan di pegunungan tempat tinggalnya.

Suara indah apakah yang telah menggerakkan hati Pak Anto melebihi suara yang selama ini didengarnya? Ternyata, suara itu berasal dari pertunjukan dari sebuah konser yang memainkan berbagai alat musik dalam sebuah simfoni yang begitu indah, selaras, dan menggetarkan hati.

Bagi Pak Anto, alasan mengapa suara konser itu merupakan suara yang terindah yang pernah didengar? Pertama, setiap anggota konser dalam group band merupakan maestro sesuai jenis alat musik yang dimainkan masing-masing. Kedua, mereka telah belajar lebih lama dan jauh lagi untuk bersama-sama dalam sebuah harmoni.

Jika diumpamakan, “mungkin ini sama dengan agama,” pikir Pak Anto. Dengan melihat hal ini, marilah, kita semua mempelajari hakikat kelembutan agama kita melalui pelajaran-pelajaran kehidupan. Mari, kita semua menjadi maestro atau ahlinya cinta kasih di dalam agama masing-masing. Oleh sebab itu, setelah mempelajari agama kita dengan baik, lebih jauh lagi, mari, kita belajar untuk bermain, seperti halnya para anggota konser dalam group band. Bersama-sama dengan agama lain dalam sebuah keberagaman agama terutama dalam keberagaman agama Buddha menjadi sebuah harmoni yang begitu indah, terutama, adanya keselarasan, keharmonisan, kerukunan, persatuan, dan sikap menghargai suatu perbedaan dalam tatanan kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara.

Aktivitas Siswa 2.4: Diskusi Kelompok

1. Menurut kalian, sikap intoleransi apa yang dilakukan Pak Anto dalam cerita di atas?

2. Bagaimana sikap kalian jika Pak Anto adalah kalian, serta bunyi alat musik itu adalah permasalahan dan hidup kalian?

3. Karakter apa yang bisa kalian teladani jika dikaitkan dalam agama Buddha dengan cerita di atas?

4. Makna apa yang dapat kalian terapkan dalam kehidupan sehari-hari agar harmoni keragaman dan perbedaan agama Buddha yang ada menjadi alat pemersatu bangsa?

5. Diskusikanlah bagaimana cara kita mewujudkan sikap harmoni dan perdamaian agama Buddha yang berbeda dan beragam di Indonesia saat ini berdasarkan cerita di atas!

C. Indahnya Menghargai Hidup dalam Ragam Agama

Dalam dokumen Pendidikan Agama Buddha dan Budi Pekerti (Halaman 58-64)