Bab 7 Berdamai dengan Perubahan
A. Kekuatan, Tantangan, Peluang, dan Ancaman Perkembangan
Perkembangan agama Buddha mengalami pasang surut sejak kelahirannya di India yang dimulai dengan pembabaran Dharma pertama kali oleh Buddha Gotama kepada lima petapa yang dulu merupakan teman seperjuangan-Nya.
Buddha membabarkan Dharma dengan terlebih dahulu melakukan analisis informasi tentang siapa orang yang akan diberi khotbah sehingga apa yang Beliau ajarkan diterima secara tepat pada pendengar-Nya.
1. Kekuatan Agama Buddha di Era Digital
Analisis informasi yang dilakukan oleh Buddha menggunakan teknologi pikiran, yaitu kemampuan batin tinggi yang diperoleh dari hasil meditasi.
Dengan kemampuan tersebut, informasi yang diperoleh tidak mungkin salah. Kemampuan batin tinggi tersebut dapat dipelajari dan dilatih dengan meditasi. Namun, tidak semua orang dapat memperolehnya dengan mudah karena diperlukan bakat, yaitu simpanan karma baik masa lampau yang cukup sehingga pada kehidupan sekarang dapat melatih pikiran dengan mudah.
Ketika Buddha Gotama sudah parinibbāna, pembabaran Dharma dilanjutkan oleh para siswa Beliau, baik para bhikkhu maupun umat biasa. Tradisi pembabaran Dharma berjalan secara lisan, yaitu dengan mengucapkan kembali khotbah-khotbah Buddha. Seiring berjalannya waktu, kemudian khotbah-khotbah Buddha mulai ditulis. Khotbah yang ditulis dapat diperbanyak dan disebarkan kepada lebih banyak orang, tidak terbatas seperti pembabaran secara lisan yang hanya dapat didengarkan oleh mereka yang berada di tempat yang sama dengan pembabarnya.
Tulisan-tulisan berisi khotbah Buddha yang telah diperbanyak dalam berbagai bahasa kini tersebar di seluruh dunia. Dharma inilah yang dipelajari oleh para penganut Buddha yang berkembang dengan berbagai aliran (mazhab). Setiap aliran memiliki ciri khas tersendiri sesuai dengan budaya di mana ajaran itu berkembang. Perbedaan sesungguhnya bukanlah masalah karena manusia sendiri cenderung memiliki sifat dan kesukaan yang berbeda terhadap segala sesuatu termasuk dalam tata cara mempraktikkan Dharma. Ada penganut Buddha (umat Buddha) yang lebih suka mengulang khotbah Buddha dengan nyanyian-nyanyian yang berirama seperti Liam
175 Bab 7 Berdamai dengan Perubahan | Keng. Ada juga yang lebih suka melafalkan dengan cepat dan tak berirama, bahkan ada juga penganut Buddha yang tidak suka dengan pelafalan paritta, mantra, dan sutra melainkan lebih suka dengan praktik meditasi. Perbedaan tradisi justru dapat menjadi satu kekuatan bagi agama Buddha karena agama Buddha menjadi lebih luwes dan fleksibel untuk dipraktikkan oleh umatnya sesuai dengan karakter masing-masing.
Kekuatan lain agama Buddha adalah tidak adanya aturan baku dalam tata ritual dan hal-hal yang berkaitan dengan cara hidup umatnya, misalnya dalam hal berpakaian. Ketidakseragaman adalah kekuatan karena umat Buddha justru memiliki kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri sesuai dengan tempat di mana ia tinggal. Penyeragaman dalam hal berpakaian dan berperilaku tertentu mungkin saja tidak cocok untuk dilakukan di suatu daerah dan justru menjadi masalah baru. Oleh karena itu, tidak adanya penyeragaman dalam hal-hal yang berkaitan dengan fisik justru menjadi salah satu kekuatan agama Buddha dapat diterima di mana saja.
2. Tantangan Agama Buddha di Era Digital
Tantangan dalam penyebaran agama Buddha di masa sekarang adalah bagaimana ajaran dasar dari agama Buddha dapat diterima secara mendalam bagi para pengikutnya dan tidak terjebak dalam tradisi-tradisi yang sifatnya hanya menyentuh permukaan dari esensi beragama itu sendiri. Tanpa memiliki pemahaman yang benar dan mendalam tentang ajaran Buddha, generasi baru akan menjadi umat yang hanya menjalankan tradisi kosong.
Jika ini terjadi terus-menerus, generasi baru akan mengalami kebosanan dan akhirnya berpindah ke agama lain. Tantangan berat bagi para pembabar Dharma untuk dapat mengajarkan agama Buddha dengan benar dan menarik.
Agama Buddha cenderung dianggap kuno dan tidak menarik karena cara
penyajiannya juga tidak menggunakan inovasi-inovasi terkini, misalnya hanya dengan ceramah-ceramah Dharma di dalam vihara. Adapun agama-agama lain sudah memanfaatkan teknologi masa sekarang yang sangat canggih.
3. Peluang Agama Buddha di Era Digital
Para rohaniwan agama Buddha harus pandai memanfaatkan peluang dalam membabarkan Dharma. Salah satu peluang adalah tersedianya teknologi informasi dan komunikasi yang sudah merata di seluruh penjuru dunia.
Internet sudah dapat diakses sampai ke pelosok-pelosok desa di Indonesia.
Umat Buddha di desa-desa adalah salah satu basis kekuatan perkembangan agama Buddha. Secara matematis, jumlah bhikkhu/bhiksu di Indonesia masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah umat Buddha. Pelayanan yang mengandalkan kehadiran fisik akan mengalami kendala transportasi dan menjadi tidak efektif. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi adalah salah satu solusi dalam membabarkan Dharma supaya dapat merata.
Bahkan, dengan teknologi informasi dan komunikasi, Dharma tidak hanya dapat diakses oleh umat Buddha melainkan oleh siapa saja yang berminat mempelajari agama Buddha.
4. Ancaman Perkembangan Agama Buddha di Era Digital
Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi yang canggih juga dapat menjadi ancaman bagi ajaran Buddha jika tidak digunakan dengan tepat.
Jika tidak ada pengawasan dari lembaga berwenang, orang-orang yang tidak kompeten bisa saja menyiarkan suatu ajaran yang bukan ajaran Buddha dengan kemasan agama Buddha. Penyiaran agama oleh orang yang salah dapat menjadi ancaman bagi perkembangan agama Buddha. Seseorang yang populer di media sosial, unggahannya akan dibaca oleh banyak orang. Jika ternyata apa yang dia unggah ajaran yang tidak benar, akan banyak orang yang menerima ajaran yang salah. Oleh karena itu, perlu pengawasan dan kehati-hatian dalam penyebaran agama Buddha dengan teknologi informasi dan komunikasi.
177 Bab 7 Berdamai dengan Perubahan |
Berlatih
Aktivitas Siswa 7.1: Menemukan Akun Buddhis
Gunakan aplikasi pencarian internet. Carilah situs-situs atau akun media sosial yang isinya adalah penyiaran agama Buddha dan tuliskan nama situs tersebut pada tabel di bawah ini!
No. Nama Situs Isi Unggahan Situs
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
1o.
Setelah itu, bandingkan konten dalam situs-situs tersebut. Lakukan analisis terkait dengan tema/topik konten yang dibahas, bentuk konten, gaya penyampaian, dan bahasa. Tentukan mana situs yang paling menarik menurut kalian disertai alasan mengapa situs tersebut dianggap menarik bagi kalian!