2.2.2 Coordinated Management of Meaning (CMM) sebagai Salah Satu Cara Pemaknaan Toleransi di Indonesia
2.2.2.2 Hierarki CMM dan Relevansinya dengan Pembentukan Toleransi di Indonesia
1. Episode
a. Dendam pada etnis Tionghoa sejak masa penjajahan Belanda.
Awal: Pada mulanya, diskriminasi etnis Tionghoa di nusantara dimulai oleh sentimen para kompeni Belanda yang menganggap bahwa etnis Tionghoa adalah kaum yang tidak bisa diajak kompromi soal pembagian keuntungan bisnis bersama pemerintah kolonial Belanda (Higgins, 2012).
Selanjutnya, pemerintah kolonial yang berusaha menyingkirkan etnis Tionghoa di Batavia memilih untuk melakukan babi buta pembasmian etnis Tionghoa besar-besaran lewat pembantaian massal etnis Tionghoa tanpa pandang bulu di pusat kota Batavia, diperkirakan 7.000 hingga 10.000 orang etnis Tionghoa tewas dalam pembantaian massal itu dan jasad-jasadnya dibuang di Kali Besar (Daradjadi, 2017, h. xxx).
Pertengahan: Pasca peristiwa pembantaian besar-besaran di Batavia, etnis Tionghoa akhirnya migrasi etnis Tionghoa ke nusantara akhirnya bergeser dari yang awalnya titik akhirnya adalah Batavia, menjadi lebih ke arah timur, yakni Jawa Barat dan Jawa Tengah, di sinilah percampuran budaya Jawa-Tionghoa terjadi (Daradjadi, 2017, h. 58). Namun sayangnya, kolonial Belanda berupaya membuat politik pecah belah di antara penduduk lokal dengan etnis Tionghoa dengan cara menempatkan etnis Tionghoa di kasta kedua di atas penduduk lokal di kasta ketiga, hal ini menimbulkan keirian cukup mendalam bagi para penduduk lokal (Utama, 2016).
Akhir: Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, penduduk bumiputera atau penduduk lokal akhirnya masih menyimpan dendam akibat sentimen 3,5 abad berada di bawah etnis Tionghoa secara kasta. Akhirnya, dendam itu terbalas bagi para kaum bumiputera lewat kebijakan pemerintah setelah Indonesia sepenuhnya merdeka pada 1949, yakni ancaman deportasi bagi orang-orang Tionghoa pebisnis eceran di Indonesia yang tidak memiliki
status kewarganeraan Indonesia dan tidak bisa berbahasa Indonesia (Hays, 2015).
b. Dwikewarganegaraan bagi etnis Tionghoa di Indonesia .
Awal: Orang-orang etnis Tionghoa di Indonesia secara keseluruhan pasca kemerdekaan masih tetap menggantungkan nasibnya sebagai para pekerja bisnis eceran atau para pemilik toko (Zhou, 2019, h. 8). Namun, pemerintah Indonesia pada 1949 mengeluarkan kebijakan bahwa pekerja bisnis eceran di Indonesia haruslah memilki kewarganegaraan Indonesia.
Alhasil, para pedagang beretnis Tionghoa tidak memiliki pilihan lain selain meninggalkan Indonesia untuk bertahan hidup mencari nafkah (Zhou, 2019, h. 137-138).
Pertengahan: Bertepatan dengan kebijakan pemerintah Indonesia untuk
“mendeportasi” orang-orang etnis Tionghoa tanpa status kewarganegaraan, Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai menandatangani memorandum bersama Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario Sastrowardoyo tentang dwikewarganegaraan yang mengizinkan orang-orang Tionghoa-Indonesia memilih sebebas-bebasnya untuk berkewarganegaraan Tiongkok atau Indonesia, sebab pemerintah Tiongkok tidak mewajibkan kewarganegaraan Tiongkok bagi seluruh diaspora Tionghoa di dunia (Zhou, 2019, h. 139). Hal ini diperkeruh dengan permasalahan internal Tiongkok yang sedang terpecah menjadi dua kubu yakni Nasionalis dan Komunis (Zhou, 2019, h. 173).
Akhir: Perundingan dilakukan oleh anggota parlemen Indonesia yang juga merupakan etnis Tionghoa-Indonesia yakni Siauw Giok Tjhan bersama Zhou Enlai, Perdana Menteri Tiongkok, beserta anggota parlemen Indonesia lainnya mengenai status kewarganegaraan Indonesia. Alhasil, jalan keluar ditemukan setelah akhirnya pemerintah Indonesia dan Tiongkok membuat kesepakatan untuk memberi waktu bagi etnis Tionghoa-Indonesia hingga 1959 membuat keputusan bulat entah itu kembali ke negeri nenek moyang mereka atau menetap dan mengklaim kewarganegaraan Indonesia (Zhou, 2019, h. 139). Juga, mengatasi
permasalahan dualisme Tiongkok, Indonesia akhirnya mengakomodasi kepentingan etnis Tionghoa untuk memperoleh informasi mengenai perkembangan konflik tersebut yang berhubungan dengan kepentingan mereka lewat adanya media-media berlatar belakang Tionghoa dan berbahasa Mandarin dengan orientasi Pro-Beijing, Pro-Taipei, dan sepenuhnya mendukung Indonesia (Zhou, 2019, h. 150-152).
c. Retaknya hubungan Indonesia dan Tiongkok serta pelarangan segala hal berbau Tionghoa di Indonesia pasca G30S.
Awal: Kekalahan komunis di Indonesia saat beriringan dengan anggapan pada etnis Tionghoa telah terafiliasi dengan red army (pasukan merah) bentukan Mao Zedong, Pimpinan Partai Komunis Tiongkok dan Presiden Republik Rakyat Tiongkok saat itu (Zhou, 2019, h. 330).
Pertengahan: Pembantaian besar-besaran atas nama penghabisan komunis diprediksi turut memakan 78.000 korban etnis Tionghoa yang utamanya tersebar di Jawa Timur dan Bali (Higgins, 2012).
Akhir: Memasuki Rezim Orde Baru, Soeharto, presiden Indonesia saat itu membuat keputusan untuk menghapus segala hal berbau Tionghoa di Indonesia, termasuk atribut, perayaan, hingga tradisi atau kepercayaan berbau Tionghoa, seiring dengan putusnya hubungan Jakarta-Beijing buntut peristiwa G30S (Zhou, 2019, h. 331).
d. Pembantaian etnis Tionghoa di Kalimantan Barat saat pemberantasan PGRS/Paraku.
Awal: Peristiwa G30S yang menyebabkan rusaknya hubungan Indonesia dengan Tiongkok dan pembatasan segala hal berbau Tionghoa di Indonesia saat Orde Baru. Gerakan Ganyang Malaysia yang menargetkan pemberantasan PGRS/Paraku sebagai pemberontak dan di mana kebanyakan diisi oleh orang Tionghoa non Indonesia. Tetapi, orang Tionghoa Indonesia banyak menjadi korban “salah sasaran” (Santosa, 2012, h. 159).
Tengah: Tuntutan dari keluarga keturunan orang-orang Tionghoa yang tak bersalah dan dibantai pada peristiwa tersebut. Tuntutan tak menemui jalan keluar karena peristiwa itu terjadi tanpa landasan hukum.
Akhir: Hidup berdampingan etnis Tionghoa dengan etnis Melayu dan Dayak yang penuh toleransi dan membuat orang-orang Tionghoa di Kota Singkawang perlahan melupakan trauma itu.
e. Pengungkapan diskriminasi etnis Tionghoa pasca pecahnya kerusuhan Mei 1998.
Awal: Meledaknya kerusuhan Mei 1998.
Pertengahan: Terungkap 152 tindak pemerkosaan dan kekerasan terhadap perempuan, di mana 20 di antaranya menyebabkan korban meninggal dunia (Sudrajat, 2017).
Akhir: Diungkap bahwa hampir umumnya atau bahkan semua tindakan pelanggaran kemanusiaan tersebut terjadi pada perempuan berketurunan Tionghoa (Teguh, 2018).
f. Pembetukan pluralisme kembali bersama etnis Tionghoa setelah memasuki Orde Reformasi.
Awal: Pluralisme menjadi misi Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sebab baginya cukup pada Orde Baru etnis Tionghoa mengalami isolasi dan diskriminasi (Wahid dan Ikeda, 2010, h. 157).
Pertengahan: Pembatalan Keputusan Presiden Kab/6/1987 tanggal 28 Juni 1967 mengenai pelarangan segala sesuatu yang berbau Tionghoa, termasuk kebudayaan, keagamaan, hingga atribut.
Akhir: Sebagai cara melunturkan diskriminasi pada etnis Tionghoa, Gus Dur akhirnya membuat kebijakan bersifat nasionalisme dan humanisme pada etnis Tionghoa di Indonesia, yakni kebudayaan-kebudayaan Tionghoa kembali dilegalkan di Indonesia, termasuk dijadikannya Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional dan pengesahan agama Konghucu sebagai agama resmi yang dipeluk di Indonesia (Wahid dan Ikeda, 2010, h. 157).
2. Relationship
Pada konteks relationship yang dalam tahapan CMM disebutkan telah menjadi batasan karena kedua belah pihak atau lebih telah memahami kelebihan dan kekurangannya masing-masing, hubungan antara etnis Tionghoa dan penduduk lokal di Indonesia cukup relevan untuk digambarkan dengan keadaan ini. Semisalnya pada saat terjadi permasalahan dwikewarganegaraan etnis Tionghoa di Indonesia, orang-orang etnis Tionghoa pasti akan banyak melakukan komunikasi dan terjadi relationship dengan pemeritah, dalam hal ini anggota parlemen Indonesia. Untungnya, munculnya tokoh Siauw Giok Tjhan, seorang politikus anggota parlemen beretnis Tionghoa, mampu berkontribusi banyak membangun relationship antara etnis Tionghoa di Indonesia dengan anggota parlemen lainnya yang bukan beretnis Tionghoa. Bahkan, relationship yang terjalin ini menjadi semakin serasi ketika semangat nasionalisme Siaw didukung oleh banyak anggota parlemen yang beragama Islam (Zhou, 2019, h. 8).
Selain itu, konteks relationship juga tergambar dalam sejarah etnis Tionghoa di Indonesia saat kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada 2000 membatalkan Keputusan Presiden Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 1967 tentang pelarangan segala hal berbau Tionghoa. Usai puluhan tahun diskriminasi pada etnis Tionghoa terpupuk di masa Orde Baru, Orde Reformasi menjadi titik terang baru bagi etnis Tionghoa, tepatnya pada masa pemerintahan Presiden Gus Dur yang sangat mendukung pluralisme di Indonesia dan menunjukkan kerinduannya pada relationship yang harmonis bersama etnis Tionghoa. Gus Dur akhirnya membuat kebijakan bersifat yang menunjukkan penghargaan dirinya sebagai pemuka agama Islam di Indonesia pada relationship bersama etnis Tionghoa di Indonesia, caranya yakni kebudayaan-kebudayaan Tionghoa kembali dilegalkan di Indonesia, termasuk dijadikannya Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional dan pengesahan agama Konghucu sebagai agama resmi yang dipeluk di Indonesia (Wahid dan Ikeda, 2010, h. 157).
3. Identitas
Dalam konteks perkembangan sejarah toleransi di Indonesia, identitas budaya menjadi sesuatu yang sangat kental senada dengan sangat beragam dan pluralnya negara ini (Setiadi dkk., 2014, h. 155). Sehingga, banyaknya peran, status, hingga nilai spiritual yang dianut di dalam keberagaman itu akan membentuk banyaknya identitas di dalam masyarakat Indonesia. Contohnya adalah pada perkembangan sejarah Indonesia, tokoh Siauw Giok Tjhan yang berperan penting dalam negosiasi hak warga Tionghoa di Indonesia selanjutnya disebut menyandang identitas sebagai anggota parlemen sekaligus pahlawan nasionalisme bagi etnis Tionghoa (Zhou, 2019, h. 8). Juga Presiden keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid yang menyandang identitas sebagai bapak pluralisme atas jasanya mendukung keberagaman di Indonesia pada 2000 saat membatalkan Keputusan Presiden Kab/6/1967 tanggal 28 Juni 1967 tentang pelarangan segala hal berbau Tionghoa (Wahid dan Ikeda, 2010, h. 157).
4. Budaya
Setelah memahami lanskap budaya secara universal pada Bab II, berkaitan dengan penelitian ini, penelti berusahan mengungkap budaya Tionghoa dan Indonesia serta relevansinya ketika kedua budaya ini bersinggungan dan menciptakan suatu dinamika kehidupan berbangsa. Berikut lebih rincinya:
1. Budaya Tionghoa:
Etnis dan kebudayaan Tionghoa yang dikenal oleh jagad manusia saat ini ialah kebudayaan Han (Gondomono, 2013, h. 95). Etnis Han sendiri merupakan etnis yang menguasai 92% populasi di Republik Rakyat Tiongkok, jadi bisa dibilang negeri Tiongkok adalah negara nenek moyang dari etnis Tionghoa yang tersebar di segala penjuru dunia (Gondomono, 2013, h. 118). Pada dasarnya, kebudayaan Han atau Tionghoa ini adalah peradaban yang telah berkembang sejak berabad-abad lalu dan menjadi saksi perubahan dinasti satu ke dinasti lainnya. Adapun, dalam
perkembangan sejarah tersebut, ada beberapa hal yang tetap sama dari budaya ini, yakni budaya patrilokal dan patrilineal (melihat garis keturunan dan hubungan keluarga dari garis ayah), upaya yang tak terlalu tinggi dalam menyamaratakan perempuan dengan laki-laki, serta kompleksnya sistem kepercayaan yang dianut (Gondomono, 2013, h. 271).
Adapun, sistem kepercayaan yang inti dianut oleh etnis Tionghoa adalah Konfusianisme (di Indonesia disebut Konghucu), selanjutnya baru ada Taoisme, Budha, dan Kekristenan. Sebagai kepercayaan inti dari etnis Tionghoa, Konfusianisme adalah sebuah sistem kepercayaan yang meneladan tokoh Confucius, di mana pokok ajarannya ialah manusia pada dasarnya adalah benar, hanya perlu terus belajar terus berperilaku lebih benar lagi (Samovar dkk., 2010, h. 175).
Kebudayaan Han (Tionghoa) dengan Konfusianisme-nya pun juga telah masuk ke Indonesia semenjak abad ke-11 (Gondomono, 2013, h. 314).
Banyak mengalami pembauran dengan budaya Indonesia, kebudayaan Han selanjutnya di nusantara dikenal dengan istilah Tionghoa Peranakan dan memiliki segudang sejarah yang cukup rumit dan pelik mengenai eksistensinya di negeri ini. Hal-hal kompleks tersebut antara lain adalah konflik dengan kompeni Belanda pada masa penjajahan, masa-masa awal kemerdekaan yang cukup sulit karena sentimen politis dan historis, kesepakatan dwikewarganegaraan, hingga pelarangan segala hal yang berhubungan dengan Tionghoa pada Orde Baru (Hays, 2015). Pelarangan hal berbau Tionghoa di Indonesia memiliki peranan penting dalam pembentukan budaya Tionghoa Peranakan. Buktinya, beberapa hal menjadi sulit dipahami sampai saat ini mengenai budaya Tionghoa di Indonesia, salah satunya adalah bersatunya agama Konghucu dan Budha, di mana saat masa Orde Baru agama Konghucu yang sangat kental dengan Tionghoa harus mengubah tempat ibadahnya dari klenteng menjadi vihara dan pemeluknya harus masuk Budha sebagai agama yang diakui di Indonesia (Gondomono, 2013, h. 327).
2. Budaya Indonesia:
Seluruh rakyat Indonesia pasti setuju dan kompak menjawab, jatidiri utama kebangsaan Indonesia ialah Pancasila sebagai nilai luhur dan pondasi utama dalam kehidupan budaya bangsa (Joesoef dan Sutowo, 2017, h. 3). Semboyan Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah seruan yang mewakilkan bahwa semangat persatuan adalah nilai utama yang berusaha dijunjung di tengah segala keberagaman suku, agama, ras dan golongan.
Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan hidup seluruh lapisan masyarakat yang setia pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bhinneka Tunggal Ika juga memiliki nilai-nilai (sesanti) yang merupakan pedoman utama budaya berbangsa Indonesia. Adapun dalam Joesoef dan Sutowo (2017, h. 51), sesanti Bhinneka Tunggal Ika memuat:
- Nilai toleransi:
Kemauan untuk memahami, mengerti, menerima, dan menghormati perbedaan, baik perbedaan agama, ras, ataupun suku.
- Nilai keadilan:
Adil berbeda dengan sama rata, menjunjung nilai keadilan artinya mau memberikan kepada orang lain sesuai dengan hak dan juga porsinya sebagai manusia.
- Nilai gotong royong:
Kerjasama adalah budaya bangsa kita, bahu-membahu untuk mencapai tujuan bersama merupakan hakikat dari gotong royong itu sendiri.
Secara sukarela dan tanpa pamrih, orang diharapkan mau ikut dalam sebuah gerakan mencapai tujuan bersama maupun berbaik hati menolong yang lemah.
Adapun selain tiga sesanti Bhinneka Tunggal Ika, pengembangan nilai lainnya dari tiga sesanti itu sangat banyak tercermin dari pokok-pokok kehidupan bersama yang berusaha dirarih oleh Indonesia sebagai tujuan bersama di tengah keberagaman. Nilai-nilai selanjutnya yang diturunkan dari sesanti Bhinneka Tunggal Ika tersebut ialah:
- Menghargai kesetaraan sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan dan sesama warga negara.
- Mau berkorban demi keutuhan bangsa, mengorbankan jiwa dan raga demi kepentingan negara.
- Tidak diskriminasi, menyamakan perlakuan dan sikap kepada seluruh lapisan masyarakat tanpa pandang latar belakang.
- Kekeluargaan, menyelesaikan segala permasalahan dan konflik tanpa kekerasan serta memilih jalan musyawarah.
- Menghargai kebebasan individu untuk menjadi manusia yang kreatif dan produktif.
Syarat dari terwujudnya masyarakat toleransi menurut Wahid dan Ikeda (2010, h. 31) adalah terdapat situasi di mana setiap individu hidup dalam keadaan berdampingan dengan sesamanya dari latar belakang budaya, agama, ras, dan tradisi yang berbeda. Indonesia, negara dengan penduduk dari berbagai macam perbedaan latar belakang, jelas memenuhi syarat yang disebutkan pemikiran dua tokoh besar agama Islam dan Budha tersebut. Terpenuhinya syarat negara toleransi tersebut nampak jelas dari tersebarnya 1.340 suku bangsa dan enam agama besar di seluruh Indonesia (Wahid Foundation, 2017).
Suku bangsa yang tersebar di Indonesia antara lain adalah Jawa, Batak, Sunda, Melayu, Dayak, Bugis, Minang, dan masih banyak lagi. Ditelaah dari asal-muasalnya, suku-suku “asli” Indonesia berinduk sama pada satu peranakan besar Melayu, di mana Melayu merupakan satu rumpun bangsa besar yang tersebar di Semenanjung Malaya hingga nusantara (Koesmawardhani, 2016). Budaya Melayu sendiri juga adalah budaya yang sangat kental dan akrab dengan adat kesopanan, ketimuran, dan nilai-nilai agama Islam (Hasan, 2019). Tak heran, jika Islam juga merupakan agama yang paling banyak dianut di Indonesia (Wahid dan Ikeda, 2010, h.
5). Keislaman sendiri merupakan suatu agama yang dimulai dengan teologi takwa pada satu Tuhan yakni Allah lewat teladan Nabi Muhammad
(Samovar dkk., 2010, h. 147). Oleh karena itu ketika berbicara soal antroplogi Indonesia yang berakar dari budaya Melayu, budaya ke-Indonesiaan juga bisa dibilang merupakan budaya yang tak dapat dilepaskan dengan nilai-nilai kesopanan, ketimuran, dan tentunya nilai ke-Islaman yang kental.