• Tidak ada hasil yang ditemukan

Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Team project 2017 Dony Pratidana S. Hum Bima Agus Setyawan S. IIP"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

         

Hak cipta dan penggunaan kembali:

Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama anda mencantumkan nama penulis dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang serupa dengan ciptaan asli.

Copyright and reuse:

This license lets you remix, tweak, and build upon work

non-commercially, as long as you credit the origin creator

and license it on your new creations under the identical

terms.

(2)

 

BAB II

KERANGKA PEMIKIRAN

2.1 Penelitian Terdahulu

Dalam memilih topik untuk diteliti, selain menimbang mengenai aktualitas isu, peneliti juga mencoba mencari rujukan penelitian-penelitian terdahulu yang kiranya berpotongan dengan topik ataupun konsep peneliti. Tujuan dari penelitian terdahulu adalah agar dapat menjadi acuan peneliti dalam memperluas teori-teori yang cocok untuk judul penelitian ini. Maka dari itu sebelumnya, peneliti juga mencoba mencari judul penelitian yang sejenis atau setidaknya sedasar pemikiran dengan judul penelitian yang peneliti pilih. Selain itu, penelitian terdahulu juga diharapkan mampu menjadi referensi untuk memperkaya bahan-bahan penelitian.

Dengan ini, peneliti membagi penelitian terdahulu menjadi dua bagian, pertama yakni penelitian terdahulu berdasarkan konsep, teori, dan metode penelitian, kedua adalah penelitian terdahulu yang berkaitan dengan objek penelitian peneliti yakni Kota Singkawang beserta konribusinya pada hidup kebangsaan Indonesia.

2.1.1 Penelitian Terdahulu Berdasarkan Konsep, Teori, dan Isu

Dalam penelitin ini, peneliti berupaya mengulas mengenai diskriminasi etnis Tionghoa sebagai dasar menelaah lebih dalam tentang toleransi di Kota Singkawang nantinya, karenanya peneliti terlebih dahulu mencari penelitian sebelumnya yang juga menyinggung mengenai diskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia. Adapun selanjutnya, peneliti akan mengkaji pemaknaan toleransi pada masyarakat Kota Singkawang menggunakan dasar teori Coordinated Management of Meaning (CMM). Oleh karena itu, peneliti juga berupaya memperkaya pengetahuan peneliti mengenai teori ini dengan membaca secara saksama penelitian terdahulu yang juga berlandaskan teori CMM. Selanjutnya, peneliti

(3)

juga mengulik penelitian terdahulu lewat sudut pandang metode, yakni isu yang berhubungan dengan dinamika masyarakat dan perbedaan cara pandang dalam hidup.

Mencoba mengulas penelitian terdahulu yang menyinggung mengenai konsep diskriminasi pada etnis Tionghoa di Indonesia, peneliti akhirnya menemukan penelitian cukup yang relevan. Dari institusi yang sama dengan peneliti, yakni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara, terdapat penelitian berjudul Representasi Diskriminasi Etnis Tionghoa dalam Film Sapu Tangan Fang Yin: Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce karya Pascalina Audacia Maryati Pasurnay yang disusun pada 2015. Pada penelitian ini, peneliti menemukan benang merah dengan penelitian yang tengah disusun peneliti pada bagian diskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia sebagai topik. Selain karena metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Semiotika Komunikasi, perbedaan cukup signifikan dengan penelitian milik peneliti terdapat pada fokus penelitian. Jika peneliti menggunakan diskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia sebagai pondasi utama dalam meneliti bagaimana masyarakat Kota Singkawang memaknai toleransi, penelitian ini menitik beratkan pada representasi film mengenai diskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia. Karenanya, mengenai diskriminasi etnis Tionghoa tak dibahas atau diteliti lebih lanjut lagi dalam penelitian ini dan cukup menjadi sebatas pemahaman yang dihasilkan dari representasi film Sapu Tangan Fang Yin.

Selanjutnya untuk penelitian yang berhubungan dengan teori CMM, peneliti menemukan sebuah kajian etnografi berjudul Coordinated Management of Meaning Nilai Budaya pada Suku Baduy: Kajian Etnografi Teks Pikukuh Sapuluh pada Generasi Muda Suku Baduy Luar di Desa Kanekes karya Iis Yulianti dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia yang disusun pada 2006. Mengusung CMM sebagai titik berat, pembuat penelitian ini telah berhasil mengungkap proses pemaknaan yang terjadi pada unsur budaya Suku Baduy Luar yakni Teks Pikukuh Sapuluh. Penelitian ini juga telah berhasil mengulas lengkap hierarki CMM dalam unsur budaya tersebut secara lengkap

(4)

yakni episode, relationship, identitas, dan budaya. Namun perbedaan dengan penelitian peneliti adalah metodenya, penelitian ini menggunakan metode etnografi komunikasi untuk mengungkap proses pemaknaan dalam satu unsur budaya, sedangkan penelitian peneliti ingin mengungkap pemaknaan lewat sudut pandang fenomena, yakni toleransi di tengah fenomena diskriminasi, oleh karena itu peneliti memilih menggunakan metode studi kasus.

Terakhir berdasarkan relevansi isu yakni perbedaan di tengah masyarakat, peneliti memilih satu penelitian berjudul Revivalisme Agama: Sebuah Telaah Fenomenologi Kekerasan Bernuansa Agama dari Sudut Pandang Mircea Eliade dalam The Myth of Eternal Return karya Mansyuri yang berasal dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dibuat pada 2011. Sama-sama memandang isu perbedaan dalam menggambarkan sebuah fenomena yang ada dalam dinamika kehidupan masyarakat, penelitian ini memiliki sedikit perbedaan dengan penelitian peneliti mengenai titik berat fenomenanya itu sendiri. Jika penelitian ini mengutamakan kekerasan atas nama agama sebagai fenomena untuk diteliti dari sudut pandang filsafat keagamaan yang cukup klasik, penelitian peneliti menitikberatkan fenomena diskriminasi etnis, yakni etnis Tionghoa di Indonesia, sebagai dasar pemikiran untuk meneliti pemaknaan toleransi di Kota Singkawang. Lebih lengkapnya, penjabaran mengenai penelitian terdahulu dan perbedaannya dengan penelitian peneliti diperinci lewat Tabel 2.1.

Tabel 2.1 Perbandingan Penelitian Terdahulu Berdasarkan Konsep, Teori, dan Isu

Penelitian 1 Penelitian 2 Penelitian 3 Penulis Pascalina Audacia

Maryati Pasurnay

Iis Yulianti Mansyuri Lembaga dan

Tahun Pembuatan

Fakultas Ilmu Komunikasi

Universitas Multimedia Nusantara, 2015

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Indonesia, 2006

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya

Universitas Indonesia, 2011 Judul

Penelitian

Representasi Diskriminasi Etnis

Tionghoa dalam Film Sapu Tangan

Coordinated Management of

Meaning Nilai Budaya pada Suku

Revivalisme Agama:

Sebuah Telaah Fenomenologi

Kekerasan

(5)

Fang Yin:

Analisis Semiotika Charles Sanders

Peirce

Baduy: Kajian Etnografi Teks Pikukuh Sapuluh pada Generasi Muda

Suku Baduy Luar di Desa Kanekes

Bernuansa Agama dari Sudut Pandang Mircea Eliade dalam

The Myth of Eternal Return

Metode Penelitian

Semiotika Komunikasi

Etnografi Komunikasi

Fenomenologi Agama Jenis

Penelitian

Kualitatif Deskriptif Kualitatif Deskriptif Kualitatif Deskriptif Konsep dan

Teori yang Digunakan

1. Semiotika Charles Sanders Peirce

2. Representasi 3. Fungsi Film

sebagai Kontrol Sosial 4. Diskriminasi

Etnis Tionghoa di Indonesia

1. Etnografi Suku Baduy 2. Naskah Kuno

Pikukuh Adat Suku Baduy 3. Coordinated Management of Meaning 4. Kajian

Budaya 5. Teori

Perubahan Sosial

1. Revivalisme Agama 2. Revivalisme

Agama Modern 3. Fundamental

-isme 4. Tema-tema

Sentral Filsafat Mircea Eliade 5. The Eternal

Return Hasil

Penelitian

1. Panggilan

“Cina”

adalah panggilan bernada rasisme untuk etnis Tionghoa.

2. Pasca kerusuhan Mei 1998, etnis Tionghoa terus

mempertanya kan jaminan keamanannya sebagai warga negara.

3. Menjadi warga negara

1. Lokasi Suku Baduy Luar berada di hutan lindung, di mana terdapat aturan menjamah lokasi hutan lindung 2. Suku Baduy

Luar

mencakup 43 kampung dengan 10.074 penduduk 3. Suku Baduy

Luar bermula dari Kerajaan Pajajaran

1. Fenomena kekerasan atas nama agama dewasa ini bermula dari kesalahan menafsirkan ajaran agama yang

menjurus pada kekerasan hingga peperangan untuk membela agamanya masing- masing.

2. Dalam fenomenolo-

(6)

asing atau melanjutkan pendidikan ke luar negeri menjadi preferensi remaja- remaja Tionghoa di Indonesia.

4. Etnis Tionghoa kerap kali merasa diperlakukan diskriminatif atau tak adil dengan etnis lainnya.

5. Etnis Tionghoa menuntut dan memperjuang kan haknya sebagai warga negara yang setara semuanya di mata hukum.

6. Pihak berwenang penegak hukum pun dianggap melakukan diskriminasi pada etnis Tionghoa.

7. Perlakuan tak adil akan terus terbayang- bayang pada benak setiap indvidu etnis Tionghoa.

dengan pengaruh Kerajaan Majapahit.

Mata pencaharian utama sebagai penggarap padi. Agama yang dianut agama Sunda Wiwitan atau agama asli Sunda.

Pengawas adat berada pada strata tertinggi dalam masyarakat 4. Dalam daur hidup, Suku Baduy memandang kelahiran anak sebagai penentu status sosial, perkawinan tanda

kedewasaan, dan kematian tak perlu ditangisi karena takdir Yang

Mahakuasa.

5. Pemaknaan dalam pertukaran Teks Pikukuh:

-Episode:

Peristiwa adat

gi agama, terdapat proses yang disebut epoche dan eidetic.

Epoche adalah menunda penilaian, jadi dalam kekerasan atas nama agama, seseorang seolah melewatkan penilaian baik dan buruknya bersikap anarkis.

Sementara eidetic menjurus kepada satu ide besar yang merupakan tujuan akhir, seperti kembali ke ajaran dan nilai-nilai murni agama.

3. Kekerasan dan konflik adalah sesuatu yang ditolak oleh Eliade, tetapi tidak dapat dimungkiri bahwa dua hal itu juga merupakan

(7)

8. Etnis Tionghoa cenderung mempersepsi buruk

Indonesia dan

memandang Indonesia sebagai jahat serta tak adil.

Relationship:

Hormat pada yang tertua - Identitas:

Pertapa yang menjauhkan diri dari dunia - Budaya:

Transmisi budaya utama melalui keluarga

mitos-mitos yang tak terelakkan terdapat pada ajaran-ajaran semua agama di dunia.

4. Manusia bersikap mengatas- namakan agama berdasarkan kerinduan individu, tetapi budaya kolektivisme membuat itu menjadi kerinduan kolektif yang menjurus pada tindakan frontal secara fisik.

Perbedaan Penelitian

Pada penelitian ini, peneliti tersebut menekankan semiotika lewat media film sebagai pondasi utama argumentasi.

Sementara itu, diskriminasi etnis Tionghoa hanya sebatas hasil dari representasi yang muncul dari film tersebut, tanpa diulas lebih dalam lagi penyebab dan dampaknya.

Sama-sama meneliti pemaknaan dan berlandaskan teori CMM, penelitian ini memiliki perbedaan signifikan dengan penelitian yang akan dibuat oleh peneliti di bagian metode dan unsur budaya yang diteliti.

Penelitian ini menggunakan metode etnografi komunikasi karena ingin mengulik makna dari satu unsur budaya, tetapi penelitian peneliti menggunakan

Dilatarbelakangi oleh dinamika masyarakat dan perbedaan cara pandang, penelitian fenomenologi ini sedikit mirip dengan penelitian peneliti jika ditelaah dari sisi bagaimana realita dibentuk dari munculnya sebuah fenomena berbau konflik dan gesekan budaya. Namun, perbedaannya di sini ialah penelitian ini menitikberatkan kekerasan atas nama agama sebagai objek

(8)

metode studi kasus karena bertujuan mengungkap pemaknaan dari toleransi di tengah fenomena

diskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia.

penelitian, sementara penelitian peneliti mengutamakan pemaknaan untuk penyelesaian konflik yang

dilatarbelakangi diskriminasi etnis.

2.1.2 Penelitian Terdahulu Berkaitan dengan Kota Singkawang dan Kontribusinya pada Kehidupan Berbangsa Indonesia

Setelah menemukan penelitian yang memiliki relevansi dengan konsep, teori, dan metode penelitian peneliti, selanjutnya peneliti juga berupaya menggali penelitian terdahulu yang berkaitan dengan Kota Singkawang, Kalimantan Barat.

Mengkaji pemaknaan toleransi dalam mengatasi diskriminasi pada etnis Tionghoa di Indonesia dengan menggunakan tolok ukur Kota Singkawang sebagai kota paling toleransi di Indonesia, peneliti juga harus memastikan bahwa kajian mengenai Kota Singkawang bukanlah sesuatu yang baru dalam dunia akademik dan bersifat pragmatis. Alhasil, peneliti menemukan tiga penelitian relevan yang mengupas kehidupan di Kota Singkawang juga lewat sudut pandang keberagaman dan kontribusinya pada kehidupan berbangsa Indonesia.

Pertama adalah kajian mengenai budaya dan masyarakat Kota Singkawang paling klasik dan pertama kali dilakukan di Indonesia dilakukan oleh Hari Poerwanto dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia pada 1990 berjudul Orang Khek dari Singkawang: Suatu Kajian Mengenai Masalah Asimilasi Orang China dalam Rangka Integrasi Nasional di Indonesia. Penelitian ini merupakan merupakan penelitian pertama dan utama jika berbicara soal referensi mengenai penelitian mengenai Kota Singkawang, penulisnya pun, Hari Poerwanto, dianggap telah memiliki kontribusi yang sangat besar pada kekayaan studi literatur mengenai asimilasi budaya Tionghoa di Indonesia, terutama etnis Tionghoa Hakka di Kota Singkawang (Satria, 2014). Peneliti pun berupaya

(9)

meletakkan benchmark penelitian peneliti pada karya besar yang akhirnya dibukukan dengan judul Cina Khek di Singkawang pada 2014. Dari paradigmanya, penelitian bertujuan utama mengungkap kontribusi keragaman yang melibatkan etnis Tionghoa di Kota Singkawang dan kontribusinya pada keselarasan hidup berbangsa di Indonesia. Namun, perbedaannya adalah sudut pandang kajian peneliti dengan penelitian ini cukup berbeda, jika penelitian ini mengkaji hidup berdampingan dengan etnis Tionghoa lewat sudut pandang proses sosial asimilasi, akulturasi, dan akomodasi, penelitian peneliti akan mengkaji hidup berdampingan bersama etnis Tionghoa dari sisi teori CMM untuk mengetahui pemaknaan toleransi di Kota Singkawang dalam mengatasi diskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia.

Selanjutnya masih dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Indonesia, terdapat penelitian berjudul Etnis Cina Indonesia dalam Politik Era Reformasi: Studi Kasus Keterlibatan Kelompok Etnis Cina Indonesia dalam Politik di Kota Pontianak dan Kota Singkawang, Kalimantan Barat, 1998-2008 oleh M.D. La Ode yang dibuat pada 2011. Secara kasat mata dari judulnya, penelitian ini juga berupaya mengungkap kontribusi keberagaman yang ada di Kota Singkawang dan melibatkan etnis Tionghoa serta kontribusinya pada keseluruhan hidup berbangsa di Indonesia. Terutama, penelitian ini menitikberatkan keterlibatan politik sebagai fokus penelitian di mana etnis Tionghoa merupakan etnis dengan keterlibatan politik yang cukup tinggi di Kota Pontianak dan Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Lalu, penelitian yang pada 2012 dibukukan dengan judul Etnis Cina Indonesia dalam Politik ini berupaya melihat bagaimana prediksi keterlibatan etnis Tionghoa di Indonesia berdasarkan tolok ukur Kota Pontianak dan Kota Singkawang pada masa depan keterlibatan politik di Indonesia serta dampak baik dan buruknya. Sehingga dapat disimpulkan, rumpun ilmu menjadi pembeda penelitian ini dengan penelitian peneliti, jika peneliti menekankan pemaknaan toleransi mengguanakan dasar teri komunikasi sebagai cara menumpas diskriminasi, penelitian ini menekankan penggunaan teori-teori politik.

(10)

Terakhir dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, peneliti menemukan penelitian berjudul Akomodasi Kekuatan Lokal dalam Mengelola Keragaman Etnis: Studi Kasus Jama’ah Muslimin Kota Singkawang, Kalimantan Barat oleh Munawar yang disusun pada 2016 lalu. Menggunakan penelitian studi kasus, penelitian ini sangat jelas bertujuan untuk mengupas tuntas mengenai salah satu dinamika masyarakat yang ada di Kota Singkawang, tepatnya kontribusi Jama’ah Muslimin pada penciptaan akomodasi kearifan lokal. Meski sama-sama meneliti hal yang berkaitan dengan Kota Singkawang, perbedaan cukup signifikan terdapat pada penelitian peneliti dan penelitian ini dari sisi sudut pandang dan fokus penelitian. Jika penelitian ini menggunakan cara pandang Jama’ah Muslimin yang kental dengan nilai-nilai ke-Islaman dan kontribusinya dalam membentuk akomodasi untuk integrasi sosial, penelitian peneliti menggunakan menggunakan cara pandang pemaknaan toleransi secara lebih universal di Kota Singkawang dalam menumpas diskirminasi etnis Tionghoa di Indonesia. Selain itu, fokus penelitian ini adalah pembentukan akomodasi sosial dalam bentuk upaya penciptaan integrasi sosial, sementara penelitian peneliti memfokuskan pada proses pengurangan dampak prasangka dalam menumpas diskriminasi dan proses pembentukan toleransi. Lebih lengkapnya, penjabaran mengenai penelitian terdahulu yang berkaitan dengan Kota Singkawang serta kontribusinya pada kehidupan berbangsa di Indonesia dan perbedaannya dengan penelitian peneliti diperinci lewat Tabel 2.2 di bawah ini.

Tabel 2.2 Perbandingan Penelitian Terdahulu Berkaitan dengan Kota Singkawang dan Kontribusinya pada Kehidupan Berbangsa di Indonesia

Penelitian 1 Penelitian 2 Penelitian 3 Penulis Hari Poerwanto M.D. La Ode Munawar Lembaga dan

Tahun Pembuatan

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Indonesia, 1990

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Universitas Indonesia, 2011

Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah

Mada, 2016 Judul

Penelitian

Orang Khek di Singkawang: Suatu

Kajian Mengenai Masalah Asimilasi Orang China dalam

Etnis Cina Indonesia dalam Politik Era

Reformasi: Studi Kasus Keterlibatan

Kelompok Etnis

Akomodasi Kekuatan Lokal dalam

Mengelola Keragaman Etnis:

Studi Kasus Jama’ah

(11)

Rangka Integrasi Nasional di

Indonesia

Cina Indonesia dalam Politik di Kota Pontianak dan

Kota Singkawang, Kalimantan Barat,

1998-2008

Muslimin Kota Singkawang, Kalimantan Barat

Metode Penelitian

Studi Asimilasi Studi Kasus Studi Kasus Jenis

Penelitian

Kualitatif Deskriptif Kualitatif Deskriptif Kualitatif Deskriptif Konsep dan

Teori yang Digunakan

1. Golongan minoritas 2. Prasangka

dan

diskriminasi 3. Proses sosial;

asimilasi, akulturasi, akomodasi, Istilah Cina dan Tionghoa 4. Teori Konflik

Sosial Ralf Dahrendorf 5. Konflik

Sosial dan Teori Perubahan Sosial Lewis A. Coser 6. Teori

Fungsional Mengenai Perubahan dari Talcott Parsons 7. Paradigma

Sentripetal dan

Sentrifugal

1. Teori Kelompok Etnis 2. Teori

Kekuasaan 3. Teori

Integrasi 4. Teori Konflik

1. Teori Integrasi Sosial 2. Pengelolaan

Keragaman 3. Akomodasi 4. Peran Agama

dan

Masyarakat

Hasil Penelitian

1. Perantau Orang Cina masuk ke Indonesia lewat dua periode;

1. Sejarah

Kelompok Etnis Cina di

Kalimantan Barat yang banyak

1. Singkawang adalah kota pluralis dengan keragaman budaya,

(12)

pertama abad ke-3 sampai 11 dan kedua abad 12 hingga 19.

Lalu, peningkatan jumlah orang Cina di Indonesia karena imigrasi dan kebijakan pemerintah Nasionalis Cina yang mengizinkan perantauan.

2. Aktivitas sosial dan politik masyarakat Cina di Indonesia yang

menimbulkan asimilasi pada masa Kolonialisme Belanda, tetapi luntur saat

penjajahan Jepang, lalu memperoleh tantangan saat periode dwikewarga- negaraan, dan bangkit lagi saat periode perekatan nasionalisme serta

keutuhan

membuat pergerakan dan aktif pada aktivitas- aktivitas kebangsaan.

2. Dinamika Kelompok Etnis Cina di

Indonesia yang mendominasi pribumi pada sektor bidang pertanian, pendidikan, peternakan, pariwisata, dan kesehatan.

3. Keterlibatan Kelompok Etnis Cina Indonesia sangat kecil pada masa Orde Baru, salah satunya hanya aktif pada DPD Golkar

Kalimantan Barat.

4. Pasca Reformasi, keterlibatan Kelompok Etnis Cina Indonesia makin banyak dan signifikan pada bidang kepengurusan partai politik, anggota

legislatif, kepala daerah, dan jabatan-jabatan di bidang birokrasi lainnya.

agama, ekonomi, dan politik.

2. Jama’ah Muslimin adalah gerakan di Kalimantan Barat yang telah lama berkomitmen untuk

melakukan pengelolaan etnis demi teciptanya integrasi sosial di tengah semua keberagaman yang ada.

3. Strategi Jama’ah Muslimin dalam pengelolaan etnis adalah dengan cara tidak

membedakan etnis dan memakai bahasa daerah Sambas dan Aqidah dalam aktivitas.

4. Berdasarkan keuntungan Kota

Singkawang sebagai kota wisata, Jama’ah Muslimin

(13)

bangsa di masa Orde Baru.

3. Masalah orang Cina di Indonesia yang masih sangat terdidentifi- kasi dengan negeri Tiongkok, lalu menjadi semakin sulit mengidentifi- kasi setelah banyak mengalami pembauran, dan

permasalahan orang Cina di Indonesia sampai saat ini adalah menguatkan identitas bahwa mereka jugalah warga negara Indonesia yang utuh.

4. Kedatangan orang Cina ke

Singkawang adalah para pekerja bisnis tambang yang mendirikan kongsi- kongsi.

5. Setelah runtuhnya

5. Faktor penyebab keterlibatan Kelompok Etnis Cina Indonesia adlaah

panggilan jiwa, maraknya politik identitas, sikap ambisius, pengaruh Basuki Tjahaja

Purnama menjadi Bupati Belitung Timur pada 2006, dan keterlibatan politik sejak masa-masa pra kemerdekaan.

6. Sedangkan faktor eksternal yang

memengaruhi keterlibatan Kelompok Etnis Cina Indonesia adalah pengaruh politik lokal, pengaruh otonomi daerah, diberlakukannya era demokrasi dan dijunjung tingginya hak asasi manusia, perubahan paradigma sistem politik di Indonesia, pencabutan Inpres Nomor 14 Tahun 1967 tentang larangan hal-hal berbau Tionghoa, kesamaan hak

jadi

menerapkan doktrin agama Islam sebagai cara melakukan pembauran dengan segala elemen termasuk etnis.

5. Pemerintah Kota

Singkawang melakukan akomodasi kekuatan lokal dengan cara

memfasilitasi perjanjian damai, pemberdaya- an media, penampung- an korban kerusuhan, penyedia tenaga relawan, dan mediasi pertemuan lintas agama.

6. Peran

lembaga etnis dan tokoh agama dalam akomodasi kekuatan lokal adalah interaksi lintas etnis, akomodasi Upacara Cap Go Meh,

(14)

kongi-kongsi penambang emas, mata pencaharian orang Cina Singkawang beralih ke sektor

pertanian dan perekebunan.

6. Dalam bidang pendidikan, orang Cina Singkawang menganggap orang yang mengenyam pendidikan adalah orang yang patut dihormati.

7. Lingkungan keluarga di kalangan Cina

Singkawang dianggap punya peranan paling penting dalam mengajarkan transmisi budaya.

8. Secara bahasa, orang-orang Singkawang kebanyakan tetap

mengidentifi- kasi diri mereka sebagai

politik, dan Undang-undang Republik Indonesia yang semakin memberi peluang bagi etnis Tionghoa.

7. Dampak politik dari keterlibatan politik

Kelompok Etnis Cina di

Indonesia adalah memiliki

dampak negatif dan positif, negatifnya adalah muncul sikap fighters genetic, rekonstruksi Republik Lan Fang di Kalimantan Barat, malas melakukan kerja bakti dan

siskamling, rendahnya kepercayaan antaretnis, dan rawan politik balas dendam.

Sedangkan dampak positifnya adalah

perubahan status politik

kelompok etnis Cina di

Indonesia, mendorong kerjasama antaretnis, dan

akomodasi Ritual Gawai Naik Dango, dan

akomodasi Saprahan ala Budaya Melayu.

7. Adapun kearifan lokal yang dikelola dalam

keberagaman Kota

Singkawang meliputi masyrakat Dayak, Melayu, Bugis, Cina, dan Madura.

(15)

keluarga keturunan Cina yang harus

mempertahan -kan

penggunaan bahasa Cina dan induk kesukuan mereka di kehidupan sehari-hari.

9. Perkawinan sesama orang Cina adalah perkawinan paling lazim di

Singkawang, yakni antara sesama suku Khek atau berbeda suku.

10. Pada awal- awal masa dwi- kewarga- negaraan, cukup banyak orang-orang Cina

Singkawang yang

menolak kewarga- negaraan Indonesia, tetapi selanjutnya hingga 1980 persoalan ini kian dapat teratasi saat

makin rajinnya penyumbangan untuk kegiatan sosial.

8. Dampak ekonomi keterlibatan etnis Cina adlaah

menularnya etos kerja di bidang ekonomi dari etnis Cina.

9. Dampak sosial budaya

keterlibatan etnis Cina adalah positif dan negatif, positifnya adalah akulturasi, kawin campur, dan pilihan bidang

pekerjaan yang makin beragam, sedangkan negatifnya adalah pilihan sekolah

kelompok etnis Cina yang cenderung eksklusif, sikap tertutup, dan loyalitas pada ideologi yang menjadi terbelah dua.

(16)

makin

banyak orang Cina

Singkawang berusia 18 tahun ke yang mau menerima kewarga- negaraan Indonesia.

11. Selanjutnya, setelah menerima kewarga- negaraan Indonesia, proses asimilasi dilakukan oleh orang Cina

Singkawang dengan mengganti nama Cina- nya dengan nama-nama

“baru”,barat, baptis, hingga Jawa, Melayu, dan Islam.

Perbedaan Penelitian

Sama-sama memiliki fokus untuk melihat kontribusi Kota Singkawang dengan etnis Tionghoa-nya dalam mewujudkan keselarasan hidup berbangsa di

Indonesia, penelitian peneliti dengan penelitian “pelopor”

ini juga sama-sama memiliki landasan

Meskipun sama- sama menggunakan tolok ukur Kota Singkawang untuk menelaah

kontribusinya dalam hidup berbangsa, fokus penelitian ini berbeda dengan peneliti. Jika penelitian peneliti ingin memprediksi mengenai

Mirip dengan kedua penelitian

sebelumnya, penelitian ini juga merupakan

penelitian yang meneliti proses sosial di tengah keberagaman yang ada di Kota

Singkawang.

Mengutamakan penggunaan kearifan

(17)

penelitian yang kuat mengenai etnis Tionghoa karean munculnya prasangka dan diskriminasi etnis Tionghoa di Indonesia. Namun, perbedaan jelas penelitian ini dengan milik peneliti adalah teori yang mengkaji.

Jika peneliti

menggunakan teori CMM untuk

mengkaji pemaknaan toleransi dalam mengatasi diskriminasi, penelitian ini berfokus mengkaji penggunaan teori- teori proses sosial yakni asimilasi, akulturasi, dan akomodasi dalam hidup berdampingan dengan etnis

Tionghoa di Kota Singkawang.

pemaknaan toleransi di Indonesia

menggunakan cara masyarakat Kota Singkawang menjadikan diri mereka sebagai kota paling toleransi se- Indonesia, penelitian ini berusaha

mengimplikasikan keterlibatan politik etnis Tionghoa di Indonesia

menggunakan studi kasus Kota

Pontianak dan Kota Singkawang, di mana keterlibatan politik etnis Tionghoa cukup besat di sana. Jadi nampak jelas selain ranah dan disiplin ilmu pengkaji yang berbeda dengan penelitian peneliti, penelitian ini juga memfokuskan diri mengenai prediksi atas dampak baik dan buruk adanya keterlibatan etnis Tionghoa dalam politik Indonesia.

lokal dalam proses sosial akomodasi, penelitian ini berbeda dengan penelitian peneliti adalah cara dan fokus kajian. Jika peneliti

menggunakan cara sudut pandang nasional, penelitian ini menggunakan cara sudut pandang dari Jama’ah Muslimin yang memegang nilai-nilai Islam. Selain itu, fokus penelitian ini juga lebih kepada proses sosial akomodasi demi inetgrasi nasional, sedangkan penelitian peneliti

memfokuskan penelitian pada pengatasan diskriminasi dan pembentukan toleransi di tengah keberagaman yang ada di Kota

Singkawang.

2.2 Konsep yang Digunakan

Pada subbab ini, peneliti akan menjabarkan dua konsep dan teori besar yang menjadi dasar pemikiran dalam penyusunan penelitian ini, yakni konsep

“Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Pembentukan Toleransi di Indonesia” dan teori Coordinated Management of Meaning. Barulah selanjutnya, kedua konsep dan teori besar ini akan diikuti oleh konsep-konsep maupun teori-teori lainnya.

(18)

2.2.1 Diskriminasi Etnis Tionghoa dan Pembentukan Toleransi di Indonesia 2.2.1.1 Sumber Terjadinya Diskriminasi

Dalam Baron dan Byrne (2004, h. 215), diskriminasi diartikan sebagai wujud dari prasangka yang terimplementasikan dalam bentuk tingkah laku.

Prasangka dianggap telah menuju ke level berikutnya pada tahapan ini, sebab perlakuan negatif kepada objek prasangka ialah bagaimana diskriminasi ini dapat didefinisikan (Baron dan Byrne, 2004, h. 215). Dengan mudahnya membedakan perlakuan antarmanusia didasarkan pada ras, gender, usia, dan agama, diskriminasi menjadi tantangan sendiri untuk menjunjung prinsip kesetaraan yang diberlakukan oleh banyak negara di dunia dalam bentuk hukum anti-diskriminasi (Moreau, 2010). Perlakuan yang dibedakan kepada kelompok manusia tertentu ini dapat berupa isolasi atau pemisahan kelompok tersebut dengn kelompok lainnya, atau bahkan yang lebih buruknya lagi dapat berupa perlakuan keji seperti kejahatan hingga terorisme (Baron dan Byrne, 2004, h. 216).

Permasalahan ras, etnis, dan agama adalah unsur budaya yang di era ini menjadi sesuatu sangat sensitif soal diskriminasi dan merupakan pelatuk akan munculnya diskriminasi (Piazza, 2012). Bahkan dalam ukurannya saat diskriminasi menjadi sebuah kejahatan yang bersifat terang-terangan membenci sebuah kelompok, orang dianggap tak akan segan-segan mengorbankan hidupnya demi mengekspresikan prasangka tersebut (Baron dan Byrne, 2004, h. 216).

Dalam memahami bahwa kebencian sebagai ekspresi prasangka, beberapa hal yang harus diperhatikan ialah apakah kejahatan seperti terorisme ditimbulkan oleh prasangka berlebih suatu kelompok, atau justru sebaliknya kelompok yang telah merasa didiskriminasi meluapkan balas dendamnya (Piazza, 2012). Contoh nyatanya ialah tragedi serangan teroris di World Trade Center dan Pentagon pada 11 September 2001 atau yang lebih dikenal sebagai peristiwa 911, terdapat kelompok yang tanggung-tanggung melampiaskan prasangkanya pada Amerika Serikat karena merasa didiskriminasi hingga memutuskan turut mengorbankan nyawa orang-orang tak bersalah (Baron dan Byrne, 2004, h. 216).

(19)

Berbicara soal kejahatan berskala besar atas nama diskriminasi, prasangka, dan kebencian yang tinggi, manusia diharapkan mampu mengubah perspektifnya mengenai permasalahan sosial, di mana kelompok-kelompok menjadi agen penting dalam menentukan cara seseorang mengekspresikan sesuatu, termasuk wujud ekspresi prasangka (Uzonyi dan Asal, 2019). Sebab, perbedaan pandangan ialah sumber utama terjadinya diskriminasi, di mana perbedaan pandangan merupakan hasil dari konflik langsung antarkelompok (Baron dan Byrne, 2004, h.

220). Lalu bagaimana kelompok-kelompok tersebut bisa terbentuk dan akhirnya berseteru? Dalam penelitian Harvey dan Bourhis (2011), disebutkan bahwa kelompok-kelompok ini dapat terbentuk berdasarkan self-interest. Artinya, self- interest akan menjadi sumber perseteruan antarkelompok, di mana suatu self- interest dianut oleh satu kelompok dan ditolak oleh kelompok lainnya, hasil akhirnya adalah kemunculan sentimen antarkelompok dan saling diskriminasi satu dengan lainnya (Harvey dan Bourhis, 2011). Hal ini dibenarkan oleh Severin dan Tankard, Jr. dalam Bungin (2013, h. 270) keputusan dan ketertarikan manusia akan sangat dipengaruhi oleh orang lain, dalam hal ini kelompok punya punya peranan penting karena terjadi komunikasi intensif di dalamnya.

Dalam terjadinya konflik langsung antarkelompok yang merupakan sumber terjadinya prasangka dan diskriminasi, Baron dan Byrne (2004, h. 220) menyebutkan bahwa konflik antarkelompok ialah dorongan untuk saling berkompetisi. Dalam situasi tertentu, terutama pada tahapan awal, manusia tidak akan merasakan masalah apapun ketika harus hidup berdasarkan kelompok atau perbedaan orientasi ataupun minat (Sherif dalam Baron dan Byrne, 2004, h. 220).

Namun ketika manusia sadar bahwa masing-masing kelompok mengejar sesuatu yang sama, dalam artian sama-sama mencari hal yang sama, antarkelompok akan saling berkompetisi untuk mendapatkan yang sama-sama mereka kejar tersebut (Baron dan Byrne, 2004, h. 221). Ketika kelompok-kelompok saling berkompetisi mengejar apa yang mereka inginkan, prasangka adalah sesuatu yang tak terhindarkan, sebab masing-masing kelompok memegang nilai dan ideologinya (Wetherell dkk., 2013). Saat nilai dan ideologi dipegang teguh oleh masing-

(20)

masing kelompok, di sini prasangka telah naik level menjadi diskriminasi saat kelompok menilai pemikiran di luar ideologinya adalah salah dan pantas diisolasi (Wetherell dkk., 2013). Lewat percobaan pada sejumlah anak laki-laki berusia 11 tahun yang dikirim ke bumi perkemahan, dua kelompok yang awalnya damai- damai saja menjadi saling berperang dan saling bertikai ketika mereka tahu bahwa mereka tengah berkompetisi dan mengejar satu kepentingan yang sama sebagai dua kubu berbeda (Sherif dalam Baron and Byrne, 2004, h. 221).

Setiadi, Hakam, dan Effendi (2014, h. 159-160) menyebutkan bahwa dalam konteks Indonesia, problematika diskriminasi juga utamanya disebabkan oleh persaingan yang terjadi secara besar-besaran dan penuh sentimen antarkelompok. Dalam Bungin (2013, h. 48) disebutkan bahwa dalam gesekan dan interaksi yang terjadi dalam hubungan antarkelompok, potensi konflik dimunculkan saat masing-masing kelompok mulai membangun realitas sosialnya masing-masing saat mulai membangun interpretasinya satu sama lain, sehingga timbulnya prasangka adalah sesuatu yang tak terhindarkan sebagai bentuk dampak nyata dari gesekan antarkelompok tersebut. Selanjutnya, Setiadi dkk. (2014, h.

160) menyimpulkan bahwa prasangka dari kelompok yang paling dominan dalam hal ini mayoritas akan cenderung menjadi bersifat intimidatif atau tekanan pada kelompok yang kurang dominan atau minoritas, dalam kata lain kelompok dominan menerapkan eksklusivisme, di sinilah diskriminasi terjadi.

2.2.1.2 Sumber Terjadinya Diskriminasi Etnis Tionghoa di Indonesia

Dendam dan diskriminasi pada etnis Tionghoa di Indonesia adalah sebuah sejarah panjang yang dilatarbelakangi oleh konflik dan kompetisi antarkelompok serta telah ada semenjak masa penjajahan Belanda (Higgins, 2012). Jauh sebelum masa kemerdekaan yakni kolonialisme Belanda, terdapat pembantaian besar- besaran etnis Tionghoa pada 1740 karena sengketa ekonomi di mana para petani Tionghoa enggan menyetor bagi hasil keuntungan dagang hasil taninya kepada pemerintah Kolonial Belanda (Hays, 2015). Dampaknya, lebih dari 10.000 orang etnis Tionghoa dibantai di pusat kota Jakarta yang saat itu bernama Batavia

(21)

(Higgins, 2012). Efek berikutnya dari pertikaian dengan pemerintah kolonial Belanda adalah pemisahan pusat kediaman keluarga keturunan Tionghoa dari etnis lainnya yang merupakan bentuk diskriminasi (Higgins, 2012). Seiring dengan migrasi besar-besaran etnis Tionghoa ke nusantara pada periode 1870 hingga 1930 (Higgins, 2012) dan penempatan etnis Tionghoa oleh pemerintah kolonial Belanda di lapisan kedua masyarakat, di bawah para kompeni Belanda dan membawahi masyarakat pribumi yang berada di lapisan terbawah saat itu (Utama, 2016), timbul dendam dan rasa iri tersendiri dari masyrakat pribumi (Hays, 2015).

Pada akhirnya pasca kemerdekaan Indonesia pada 1950, dendam yang tersimpan di antara para penduduk pribumi terluapkan ketika muncul kebijakan deportasi bagi etnis Tionghoa yang tidak memiliki kewarganegaraan Indonesia dan tak bisa berbahasa Indonesia (Hays, 2015). Menganggap bahwa etnis Tionghoa tetap berada di kalangan atas dan dianggap pendatang yang mengancam eksistensi penduduk lokal pasca kemerdekaan, anggota parlemen peranakan Tionghoa, Siauw Giok Tjhan dalam (Zhou, 2019, h. 8), berpendapat bahwa rasa iri dan dendam penduduk lokal diakibatkan oleh pandangan bahwa etnis Tionghoa hanyalah “para pemilik toko” yang hidup sejahtera dan mementingkan urusan ekonominya masing-masing tanpa kepedulian pada lingkungan sekitarnya.

Seiringan dengan kebijakan pemerintah Indonesia untuk “mendeportasi” orang- orang Tionghoa yang tak berkewarganeraan Indonesia dan tak berbahasa Indonesia, pada 1955, Perdana Menteri Tiongkok Zhou Enlai membuat memorandum kepada pemerintah Indonesia mengenai status dwikewarganegaraan Tiongkok dan Indonesia yang merupakan hasil kesepakatan dengan Menteri Luar Negeri Indonesia Sunario Sastrowardoyo (Zhou, 2019, h. 137-138). Memorandum itu seakan-akan menagih hasil keputusan orang-orang Tionghoa Indonesia untuk memilih kewargenaraan pada 1949-1951 dan menyatakan bahwa Tiongkok siap menerima kembali warga negaranya dari perantauan serta memberi kebebasan sepenuhnya untuk memilih (Zhou, 2019, h. 139).

(22)

Kebencian pada etnis Tionghoa masih berlanjut di Indonesia pada masa- masa Pemberontakan G30S pada 1965 (Higgins, 2012). Kekalahan komunis di Indonesia saat itu beriringan dengan anggapan pada etnis Tionghoa telah terafiliasi dengan red army (pasukan merah) bentukan Mao Zedong, Pimpinan Partai Komunis Tiongkok dan Presiden Republik Rakyat Tiongkok saat itu (Zhou, 2019, h. 330). Alhasil, pembantaian besar-besaran atas nama penghabisan komunis diprediksi turut memakan 78.000 korban etnis Tionghoa yang utamanya tersebar di Jawa Timur dan Bali (Higgins, 2012). Memasuki Rezim Orde Baru, Soeharto, presiden Indonesia saat itu membuat keputusan untuk menghapus segala hal berbau Tionghoa di Indonesia, termasuk atribut, perayaan, hingga tradisi atau kepercayaan berbau Tionghoa, seiring dengan putusnya hubungan Jakarta-Beijing buntut peristiwa G30S (Zhou, 2019, h. 331). Puncak kebencian pada etnis Tionghoa di masa Orde Baru adalah meledaknya kerusuhan Mei 1998 (Higgins, 2012). Diskriminasi pada etnis Tionghoa di tengah kekacauan besar Jakarta ini salah satunya terungkap lewat 152 tindak pemerkosaan dan kekerasan terhadap perempuan, di mana 20 di antaranya menyebabkan korban meninggal dunia (Sudrajat, 2017). Dramatisnya, diketahui hampir umumnya atau bahkan semua tindakan pelanggaran kemanusiaan tersebut terjadi pada perempuan berketurunan Tionghoa (Teguh, 2018).

Diskriminasi dan persekusi etnis Tionghoa dari masa ke masa di atas dapat menjadi refleksi mengenai keadaan pluralisme di Indonesia semenjak dendam yang tertanam di Orde Baru (Chong, 2018, h. 2). Negara ini kian dianggap telah terkotak-kotakkan dan terpecah identitasnya akibat anggapan kelompok mayoritas dan minoritas secara etnis, yakni pribumi sebagai kelompok dominan yang mengeksternalisasi etnis Tionghoa sebagai non pribumi dan kelompok tak dominan semenjak era-era penuh dendam pasca kemerdekaan itu (Chong, 2018, h.

4). Utamanya, etnis Tionghoa dibuat berada dalam kondisi terdiskriminasi akibat dendam, kebencian, dan sentimen yang belum ada ujungnya sampai saat ini (Teguh, 2018). Buktinya jelas ketika agama-agama etnis Tionghoa yakni Kristen, Budha, dan Konghucu menjadi agama yang paling sering mengalami

(23)

permasalahan penyegelan maupun larangan pendirian tempat ibadah (Abdulsalam, 2017). Belum lagi hal-hal diskriminatif yang menyerang langsung secara perseorangan dengan etnis Tionghoa dari latar belakang agama beragam seperti yang terjadi pada Meiliana, seorang ibu beretnis Tionghoa beragama Budha yang justru harus “mengorbankan” rusaknya belasan vihara serta klenteng di Tanjung Balai akibat salah ucapnya mengeluhkan berisiknya suara azan (Mazrieva, 2018), dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), seorang politikus Tionghoa beragama Kristen yang dituduh menistakan Islam serta berpihak pada agamanya sendiri (Valinka, 2016, h. 101-102).

2.2.1.3 Mengatasi Diskriminasi dan Pembentukan Toleransi

Hampir pada seluruh lapisan masyarakat, prasangka dapat dibilang merupakan sesuatu yang tak terhindarkan selama terdapat dinamika sosial di dalamnya (Baron dan Byrne, 2004, h. 236). Diskriminasi adalah dampak nyata dari prasangka yang telah mencapai tahap aksi, selain itu “racun” dari prasangka ini dapat menjadi bias yang merusak kehidupan harmonis di masyarakat, misalnya kejenuhan sosial hingga stress yang diderita secara perseorangan (Spence dkk., 2016). Namun bukan berarti dampak dari prasangka ini adalah hal tak bisa terhindarkan di lingkungan masyarakat, berikut beberapa teknik mujarab dalam mencegah diskriminasi sebagai dampak dari prasangka (Baron dan Byrne, 2004, h. 236):

a. Belajar Tidak Membenci:

Terdapat anggapan bahwa prasangka adalah sesuatu yang telah tertanam secara tak sadar semenjak kecil dan berkembang seiring seseorang bertumbuh semakin dewasa (Baron dan Byrne, 2004, h.

236). Jadi terkadang kebencian yang tertanam dalam bentuk prasangka mengenai kelompok lain ialah bentuk transmisi dari orang tua kepada anak-anaknya, sehingga peran orang tua menjadi penting di sini untuk sadar dan memutus “transmisi kebencian” tak disadari tersebut (Baron dan Byrne, 2004, h. 237). Tak jarang, situasi prasangka yang

(24)

ditransmisi secara intim tersebut justru sebaliknya membuat seseorang merasa tak nyaman, semisalnya pergolakan batin seorang anak yang merasa ingin berteman dengan temannya dari kelompok ras, etnis, atau agama yang berbeda, tetapi terlanjur teringat ucapan orang tuanya untuk menghindari pergaulan dengan kelompok yang berbeda (Wofford dkk., 2017). Intinya, benci tanpa alasan adalah sebuah rantai yang harus diputus di tengah-tengah masyarakat, sebab dinamika kehidupan sosial sendiri akan membentuk sikap dan pandangan seseorang pada lingkungannya (Baron dan Byrne, 2004, h. 237).

b. Kontak Antarkelompok Secara Langsung:

Terkadang, antara kelompok satu dengan kelompok lainnya enggan melakukan kontak, komunikasi, maupun interaksi karena mereka belum menyadari bahwa terdapat kesamaan yang dapat menyatukan mereka (Baron dan Byrne, 2004, h. 237). Dalam sebuah proses komunikasi, antara komunikator dan komunikan akan menjalin sebuah komunikasi yang efektif ketika satu dengan lainnya memiliki latar belakang yang sama, selain ras, etnis, dan budaya, kesamaan tersebut juga dapat berupa penggunaan bahasa, latar belakang pendidikan, dan ekonomi (Mulyana, 2008, h. 117). Bahkan, ketertarikan dan gairah untuk melakukan komunikasi yang lebih intensif dan kontak sosial secara langsung adalah sesuatu yang dapat dimungkinkan karena pemhaman atas kesamaan ini (Mulyana, 2008, h. 118). Tahapan selanjutnya dari kontak secara langsung antarkelompok ini ialaha persahabatan dan keakraban yang nyata, pada akhirnya prasangka dan hasrat untuk mendiskriminasi pun akhirnya luntur (Baron dan Byrne, 2004, h. 238).

c. Membuat Batas Ulang antara “Kita” dan “Mereka”:

Permasalahan dalam membedakan antara kita dan mereka adalah sesuatu yang sangat melekat kepada konteks, ketika seseorang berada di pihak yang sesuai dengan motif atau keinginan kita, maka seseorang akan disebut bagian dari “kita,” tetapi jika sebaliknya seseorang di sisi

(25)

berlawanan, kita akan memanggilnya “mereka,” karena tak setujuan dengan yang kita inginkan (Baron dan Byrne, 2004, h. 239). Yang harus kita lakukan adalah proses kategorisasi ulang (recategorization) pada hal apa kita membedakan “kita” dan “mereka,” sehingga akan membuat kita mengategorisasikan orang lain sebagai in-group (Baron dan Byrne, 2004, h. 240). Selama kita masih berada di identitas bangsa yang sam, ideologi, dan tanah air yang sama, alangkah baiknya jika kita menyebut semua bagian dari bangsa ini sebagai “kita,” karena tidak ada “mereka” dalam negara tempat kita tinggal bersama ini (Sutrisno, 2006, h. 143).

d. Mengatakan Tidak pada Stereotip:

Manusia cenderung akan menilai manusia lain berdasarkan keanggotaaan mereka dalam berbagai kelompok, sehingga tanpa menegatahui persis, manusia akan sangat mudah perprasangka (Baron dan Byrne, 2004, h. 240). Menurut Samovar, Porter, dan McDaniel (2010. h. 50), stereotip adalah wujud kompleks dari klasifikasi yang secara mental mengatur pengalaman individu dan memberi arah bagi individu untuk bersikap saat menghadapi orang-orang tertentu.

Klasifikasi yang dimaksud oleh Samovar dkk. (2010, h. 51) dalam hal ini adalah kecenderungan manusia untuk mengategorikan manusia berdasarkan budayanya dan memberi penilaian bersifat “pukul rata”

atas budaya tersebut. Alhasil, manusia menjadi sering mengasosiasikan suatu budaya pada sebuah sikap, kebiasaan, ataupun penilaian tertentu entah itu positif maupun negative, meskipun seseorang bahkan belum pernah bersinggungan secara langsung dengan sebuah kelompok (Harnois, 2014).

Pada intinya, menerima perbedaan dan hidup harmonis dalam interaksi antarkelompok adalah solusi terbaik untuk mencegah diskriminasi sebagai dampak buruk prasangka (Setiadi dkk., 2014, h. 158). Selanjutnya, harmoni yang tercipta dalam hidup berdampingan antarkelompok inilah menjadikan situasi

(26)

toleransi di tengah perbedaan (Reese dan Zalewski, 2014). Pertama kali dimunculkan oleh istilahnya oleh Kaisar Joseph II dari Austria dalam Edict of Toleration (Perintah Toleransi) di tengah terpecahnya masyrakat Kristen Eropa, Yahudi, dan Islam, Ikeda dalam Wahid dan Ikeda (2010, h. 265) menyebut toleransi sebagai nilai luhur sebuah bangsa. Toleransi juga merupakan sesuatu yang diwariskan dan diajarkan oleh lembaga-lembagas sosial baik formal maupun informal, adapun terdapat dua sudut pandang dalam memaknai toleransi ini, sebuah sikap empiris yang terbentuk berkat hidup berdampingan dalam perbedaan kelompok atau sebuah nilai yang diajarkan serta diwariskan secara turun-temurun (Rapp dan Freitag, 2014).

Selain itu, juga terdapat interpretasi bahwa toleransi merupakan efek baik dari munculnya perbedaan, artinya semakin seseorang tinggal dan terbiasa hidup di tengah perbedaan, maka sikap toleransi itu akan semakin mudah tumbuh (Reese dan Zalewski, 2014). Dari semua itu, implikasinya adalah tetap sama bahwa toleransi merupakan sesuatu yang dibentuk, dikonstruksi, dan dihasilkan dari fenomenologi atau pengalaman individu (Skalski dan Aanstoos, 2019). Adapun beberapa pengalaman empiris yang mampu membentuk sikap toleransi menurut Setiadi dkk. (2014, h. 157) adalah antara lain:

a. Pengalaman Religius:

Kebebasan beragama membuat semua manusia berhak untuk memilih dan memeluk agama sesuai dengan kepercayaan yang dipegangnya masing- masing (Dja’far, 2018, h. 1). Agama menjadikan manusia memiliki arah dan pegangan dalam hidupnya, lewat perwujudan iman dalam agama, manusia akan memperoleh pengalaman-pengalaman religius yang nantinya akan mampu membentuk sikap dalam sehari-hari (Benawa dkk., 2015, h. 138). Sikap dan ajaran yang dipraktikkan manusia lewat agama akan mampu menambah cara pandang manusia dalam kehidupan ini, sebab agama merupakan salah satu lembaga penting dalam menentukan cara pandang manusia (Samovar dkk., 2010, h. 121). Oleh karena itu ketika manusia telah mengalami banyak pengalaman religius sebagai

(27)

wujud nyata imannya kepada Tuhan lewat ajaran agama, manusia akan senatiasa bersifat toleran dan terbuka pada cara pandang agama lain, sebab dalam sikap toleran itulah manusia telah disebut beriman dalam agama (Benawa dkk., 2015, h. 141).

b. Semangat Nasionalisme:

Citra bangsa yang kuat ialah sesuatu yang dpat dinilai lewat keutuhan identitas setiap aspek di dalam suatu negara (Brijs, 2011). Karenanya ketika sebuah bangsa mampu mempertahankan identitasnya secara kuat di mata internasional, di situlah sikap nasionalisme sesungguhnya muncul sebagai pondasi utama toleransi di ruang lingkup negara yang menjamin hak dan kebebasan semua warganya (Dja’far, 2018, h. 16). Seperti yang dikatakan lewat penelitian Muldoon, Borgida, dan Cuffaro (2011), bahwa nasionalisme adalah sikap untuk senantiasa setia berpegang pada ideologi yang dipegang oleh negaranya, bahkan dalam bahasa yang lebih mendramatisasi adalah mati demi kebesaran idealisme bangsanya. Hal ini dibenarkan oleh prinsip politik toleransi dan pembangunan negara yang menyebutkan bahwa siapapun yang menjunjung tinggi nilai kebangsaan, dirinya adalah seorang nasionalis dan pantas memperoleh jabatan politik di negara tersebut (Dja’far, 2018, h. 18). Bahkan dalam konteks ekstrem, nasionalisme adalah sesuatu yang dijunjung oleh Adolf Hitler saat mengagung-agungkan idealisme sosialisnya dan Josef Stalin dengan komunisnya, meskipun keduanya adalah nasionalisme yang berlebihan dan terlalu condong pada fasisme (Muldoon dkk., 2011). Dengan analogi nasionalisme ini, dapat dikatakan bahwa kesetiaan pada ideologi negara adalah kunci untuk menghargai sejarah bangsa dan menjunjung toleransi sebagai warisan luhur negara (Dja’far, 2018, h. 117).

c. Semangat Pluralisme:

Semenjak dicetuskannya Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) pada 1948, telah dinyatakan secara jelas bahwa manusia memiliki hak yang sebebas-bebasnya untuk memperoleh kesetaraan di antara perbedaan apapun yang ada di dunia ini (Wahid dan Ikeda, 2010, h.

(28)

46). Perbedaan yang dimaksud di sini adalah hal-hal dasar berpotensi munculnya konflik dan isu mengenai kesetaraan atau kesamarataan hak, yakni ras, gender, dan agama (Moreau, 2010). Paling aktual ialah pada 2008, bertepatan dengan 60 tahun ditetapkannya DUHAM, Panitia III Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengundang semua tokoh negara- negara yang memiliki latar belakang agama cukup kuat, tidak lain dan tidak bukan isu yang dibahas dan menjadi titik berat ialah isu pluralisme di tengah keberagaman agama dan etnis yang melatarbelakangi agama-agama tersebut (Wahid dan Ikeda, 2010, h. 46). Meskipun cukup rawan dan sensitif akan terjadinya konflik, keberagaman ras, agama, dan etnis adalah pondasi utama dari pluralisme sebuah bangsa serta merupakan modal kebanggaan akan keberagaman (Setiadi dkk., 2014, h. 152). Sebagai bentuk kritik dari cetusan W.E.B. Du Bois mengenai selubung rasisme, Rasmussen (2015) berargumen bahwa perbedaan adalah tantangan bagi manusia untuk memberi penghormatan dalam bentuk pluralisme di keadaan negaranya. Senada dengan semangat nasionalisme, semangat pluralisme juga memiliki peranan penting dalam menentukan arah politik sebuah negara (Ferrara, 2010). Artinya di dalam kehidupan berbangsa, pluralisme akan menjadi dasar pondasi dan rasionalisme bagi semua kalangan untuk melakukan toleransi terbaik dalam menentukan sikap di tengah derasnya perbedaan pemahaman antarkelompok (Baggini, 2014).

d. Semangat Humanisme:

“Si Tou Timou Tumou Tou,” sebuah kutipan dalam Bahasa Minahasa tertulis di Monumen Makam Sam Ratulangi di Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara yang berati “Manusia Baru dapat Disebut sebagai Manusia, Jika Sudah dapat Memanusiakan Manusia” (Birowo, 2016, h.

101). Didefinisikan sebagai memanusiakan manusia, Malinowski dalam Fernandez (2013) menyebutkan bahwa humanisme sebagai cikal bakal dari ilmu antropologi yakni memahami segala latar belakang manusia untuk memberi perlakuan terbaik dan sewajarnya sebagai seutuhnya manusia. Karena humanisme adalah seutuhnya memperlakukan manusia

(29)

sebagai seutuhnya manusia sesuai kodratnya, pendidikan mengenai humanisme adalah sesuatu yang harus dipisahkan dengan ajaran agama, sebab sudut pandang transendental akan berbeda pada praktiknya dengan hubungan horizontal antarsesama manusia (Barnes, 2016). Dalam mendefinisikan humanisme, Driyarkara dalam Sutrisno (2006, h. 76) mengatakan bahwa eksistensi manusia adalah ada-bersama, jadi bukannya terpisah antara “aku” dan “engkau,” tetapi menjadi satu kesatuan yakni

“aku-engkau.” Selanjutnya dalam konteks kehidupan bersama, Driyarkara dalam Sutrisno (2006, h. 77) mengartikan persaudaraan dan kebersamaan adalah perikemanusiaan, yakni menjunjung tinggi kesamaan dengan sesama manusia dan menghormati manusia sebagai manusia. Dapat disimpulkan bahwa semua sikap memanusiakan manusia ini akan berujung pada self-interest untuk memiliki rasa saling memiliki satu sama lain, dalam konteks perbedaan kelompok dan golongan, di situlah toleransi akan terjadi (Harvey dan Bourhis, 2011).

e. Dialog Antargolongan:

Martin Buber dalam Griffin (2012, h. 79) mengatakan bahwa dialog merupakan sebuah bentuk komunikasi etika yang memebuat setiap orang menjadi makin manusia di dalam sebuah proses komunikasi. Harapan dari terjadinya dialog adalah dapat semakin saling mengerti dan memahami yang berujung pada meningkatnya toleransi antara dua belah pihak atau lebih (Benawa dkk., 2015, h. 154). Dalam negara demokrasi, dialog adalah sebuah cita-cita luhur dan merupakan kristal atau benih-benih dari demokrasi itu sendiri (Wahid dan Ikeda, 2010, h. 156). Saling pengertian adalah tujuan akhir dari dialog, sebab umumnya dialog adalah pembicaraan antara dua pihak atau lebih yang memiliki pandangan berbeda tentang sesuatu, adapun syarat-syarat agar dialog menjadi satu pemahaman untuk bersama menurut Benawa dkk. (2015, h. 155-156) adalah:

- Tidak mempunyai tujuan untuk menemukan mana pihak yang benar dan mana pihak yang salah, melainkan berupaya untuk meluruskan

(30)

segala perbedaan pandangan yang ada demi menyelesaikan semua kesalahpahaman. Di sinilah ketika semua kesalahpahaman terselasaikan, terbukti bahwa dialog antargolongan yang terjadi telah menunjukkan sikap toleransi.

- Menghargai perbedaan dan membiarkan golongan lain mengekspresikan hak-hak yang dimilikinya sebagai golongan tertentu dan sebagai sesama manusia. Artinya, dalam dialog antargolongan tidak ada larangan untuk melakukan ini dan tidak boleh melakukan itu, tetapi yang ada hanyalah saling pengertian akan perbedaan dan menganggap hal tersebut sebagai hal alamiah. Ketika hak-hak setiap golongan sudah berhasil dijunjung secara sama rata, di sinilah telah terbilang berhasil terbentuknya sebuah situasi toleransi.

- Melepaskan semua sikap seperti primordialisme, etnosentrisme, dan prasangka dengan cara membuang kesombongan untuk bersifat eksklusif menjadi sebaliknya bersifat inklusif. Dengan cara bersifat inklusif, keterbukaan dalam dialog akan semakin mendukung situasi toleransi yang mampu menerima perbedaan pandangan secara dewasa dan menemukan solusi untuk menghindari konflik antargolongan.

f. Membangun Suatu Pola Komunikasi:

Menurut Mulyana (2008, h. 131), pola komunikasi berbentuk sebuah model adalah panduan kita untuk melakukan satu aktivitas komunikasi.

Adapun manfaat untuk membuat suatu pola atau model komunikasi adalah (Mulyana, 2008, h. 133):

- Mengetahui seberapa efektif dan umum sebuah proses komunikasi.

- Mengetahui seberapa heuristik atau kemampuan komunikasi itu menghasilkan hubungan-hubungan baru.

- Memprediksi hasilnya.

- Memperkirakan tingkat akurasi.

Karena dialog merupakan sebuah proses komunikasi, maka dari itu kaidah-kaidahnya dalam membentuk toleransi juga tidak dapat dilepaskan

(31)

pada model-model komunikasi. Sebab, cara komunikasi juga akan menentukan berhasil atau tidaknya sebuah dialog yang berusaha membangun sebuah toleransi atau saling pengertian. Adapun menurut Tubbs dan Moss dalam Bungin (2013, h. 257), model komunikasi terbagi menjadi:

1. Komunikasi Linier:

Pola komunikasi ini ialah komunikasi yang hanya bersifat satu arah (one-way view of communication). Sehingga, proses transmisi pesan adalah sesuatu yang bersifat searah tanpa mengharapkan adanya interpretasi yang disuarakan dalam bentuk umpan balik (feedback).

Pola komunikasi ini adalah praktik dari Teori Jarum Suntik (Hypodermic Needle Theory) yakni sebuah pesan yang bersifat persuasi dan membuat komunikan berpasrah lalu melakukan isi pesan.

Dalam kaitannya dalam pembentukan toleransi, pola komunikasi ini digunakan lewat media, entah itu media cetak, elektronik, maupun online. Jadi, dialog antargolongan disampaikan menggunakan media tersebut untuk menyamakan cara pandang, klarifikasi, ataupun sekadar edukasi dan transmisi informasi.

2. Komunikasi Dua Arah:

Jika linier hanya bersifat satu arah, pola komunikasi ini adalah model komunikasi yang mengharapkan ada umpan balik (feedback), sehingga terjalin two-way communication. Dalam konteks dialog sebagai pembentukan toleransi, two-way communication ini terjalin saat komunikan bukan hanya menerima pesan, tetapi juga menjadi komunikator dari feedback pesan yang ia terima sebelumnya.

Semisalnya komunikasi model ini berlaku saat menggunakan komunikasi antarpribadi ataupun menggunakan media seperti aplikasi pesan singkat. Sehingga, pesan yang tersampaikan intinya dapat diberi feedback atau respon. Dalam merespon pesan, di sini berlakulah Model Komunikasi Stimulus-Respon (Mulyana, 2008, h. 144). Implikasinya

(32)

dalam dialog antargolongan, komunikan akan merespon stimulus berupa pendapatnya mengenai pandangan golongan lain maupun koreksi ataupun klarifikasi soal pandangan kelompoknya sendiri.

3. Komunikasi Transaksional:

Komunikasi dalam pola ini adalah bentuk paling efektif dari sebuah dialog. Transaksional memiliki arti bahwa terjadi saling tukar-menukar pesan. Dalam kaitannya dalam sebuah dialog, komunikasi transaksional ini sangat efektif dalam fungsi apapun untuk membentuk toleransi antargolongan. Sebab ketika masing-masing komunikator dan komunikan memiliki konten pesan sendiri untuk saling ditukar, di sinilah saling pengertian dan penghindaran kesalahpahaman menjadi sesuatu yang mudah untuk dicapai.

2.2.1.4 Mengatasi Diskriminasi pada Etnis Tionghoa dan Membentuk Toleransi di Indonesia

Keberhasilan sebuah negara untuk mengikis dampak-dampak prasangka dan mengatasi diskriminasi dapat dilihat dari kesamarataan hak serta perlakuan yang didapatkan oleh seluruh lapisan masyrakat, kelompok, ataupun golongan di mata hukum legal maupun sekadar norma sosial (Dja’far, 2018, h. 16). Sebagai putra dari Wahid Hasyim, salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang berperan penting dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara pada mukadimah Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945), presiden keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid dalam Wahid dan Ikeda (2010, h. 169-170) menyebutkan bahwa kebebasan semua golongan agama, ras, dan etnis di Indonesia untuk berkembang adalah sesuatu yang dijamin Pancasila. Artinya, perlakuan dan hak-hak progresif termasuk posisi atau kedudukan tertentu merupakan sesuatu yang harus bersifat sama untuk semua golongan di Indonesia (Wahid dan Ikeda, h. 170). Akan tetapi faktanya, etnis Tionghoa dapat dibilang masih ada di dalam situasi diskriminasi di saat jabatan- jabatan politik menjadi sesuatu yang langka untuk golongan tersebut, ketika jumlahnya untuk saat ini masih dalam hitungan jari, meski memiliki beberapa

(33)

peranan penting dalam perkembangan ekonomi Indonesia (Dou, 2016, h. 170).

Keadaaan ini sedikit berbeda dengan Kota Singkawang, selain menguasi ekonomi dengan menguasai sektor perdagangan formal, etnis Tionghoa di sana banyak yang memperoleh kursi dewan atau legislatif.

Kembali soal Pancasila sebagai dasar negara sekaligus jaminan untuk semua hak warga negaranya secara merata, 22 Juni 1945, adalah hari yang cukup kontroversi ketika Pancasila dimuat pada Piagam Jakarta susunan Panitia Sembilan sebagai bagian dari Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) menyebut sila pertama sebagai “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Menjalankan Syariat Islam bagi Para Pemeluk-pemeluknya” (Dja’far, 2018, h. 1). Kontroversi dan perdebatan muncul di saat para Bapak Bangsa yang diketuai oleh Ir. Soekarno sadar dan tahu persis bahwa kepentingan seluruh warga negara harus terwakili di mana bukan seluruhnya beragama Islam (Wahid dan Ikeda, 2010, h. 5). Alhasil, toleransi menjadi solusi paling penting dalam menjadi penyelesaian kontroversi ini di saat para Bapak Bangsa memutuskan Pancasila yang bersifat final pada mukadimah UUD 1945 dengan sila pertama berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai simbol toleransi atas keberagaman agama (Dja’far, 2018, h. 2).

Setelah keberagaman agama berhasil dijunjung lewat permufakatan sila pertama yang lebih bersifat universal, usai diproklamasikannya kemerdekaan Republik Indonesia, agama-agama selain Islam pun akhirnya diresmikan sebagai agama resmi pemerintah Indonesia, yakni Budha, Hindu, Katolik, dan Protestan (Wahid dan Ikeda, 2010, h. 157). Mengingat bahwa agama-agama tersebut di atas (di luar Islam) merupakan agama yang mayoritas dipeluk oleh etnis Tionghoa, terutama Budha, Katolik, dan Kristen (Higgins, 2012), akhirnya muncul peluang bagi kabinet yang lebih toleran di pemerintahan Indonesia dengan kemungkinan adanya tokoh beretnis Tionghoa. Alhasil pada 1947, Kabinet Amir Syarifudin menggandeng seorang beretnis Tionghoa sebagai anggota parlemennya, yakni Siauw Giok Tjhan (Zhou, 2019, h. 139). Munculnya seorang politikus dari etnis Tionghoa akhirnya memberikan kontribusi yang cukup penting pada multikulturalisme etnis di Indonesia, Siauw akhirnya berperan besar mempelopori

(34)

integrasi etnis Tionghoa dalam hidup berdampingan dengan etnis lainnya secara utuh dan dinamis, serta mendapat banyak dukungan dari politikus lain yang beragama Islam (Zhou, 2019, h. 8).

Periode 1949 hingga 1967 bukanlah masa-masa yang mudah bagi eksistensi etnis Tionghoa di Indonesia, terdesak pada isu kebangsaan strategis dan kebijakan diplomatis dua negara, Tiongkok dan Indonesia, identitas etnis Tionghoa menjadi sesuatu yang berada di ujung tanduk sebagai warga negara Indonesia (Zhou, 2019, h. 138). Terusir dan terdiskriminasi oleh kebijakan larangan pemilikan bisnis oleh non-warga negara, etnis Tionghoa tak banyak memiliki pilihan selain pulang kembali ke negeri nenek moyang, Tiongkok Daratan (Zhou, 2019, h. 9). Untungnya, jalan untuk meredam situasi diskriminasi tersebut akhirnya masih menjadi pilihan sebagian masyarakat Indonesia yang memilih untuk melakukan kontak langsung antarkelompok sebagai wujud mengatasi dampak buruk prasangka di lingkungan masyarakat (Baron dan Byrne, 2004, h. 237) dan menjalin upaya pembentukan toleransi dengan membangun pola komunikasi transaksional. Kontak langsung antarkelompok yang dilakukan di Indonesia sebagai wujud dari cara mengatasi diskriminasi adalah dengan berdirinya forum-forum diskusi berbentuk perkumpulan-perkumpulan yang melibatkan langsung etnis Tionghoa, alhasil perkumpulan-perkumpulan ini mampu membangun toleransi lewat terbentuknya sebuah wadah pola komunikasi yang bersifat transaksional, contohnya adalah Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia (BAPERKI), Persekutuan Tiongkok-Indonesia, Federasi Asosiasi Tionghoa Perantauan Indonesia, Gerakan Tionghoa Patriotik Anti-imperialis, Asosiasi Pekerja Tionghoa, Asosiasi Siswa yang Kembali,, Asosiasi Umum Tionghoa, dan masih banyak lagi (Zhou, 2019, h. 508-519). Di Singkawang, masa-masa itu belumlah ada tanda-tanda pola komunikasi atau dialog yang terbangun mengingat literasi penduduk Tionghoa di sana pun masih rendah.

Hubungan diplomasi antara Indonesia dan Tiongkok menjadi semakin menguat beriringan dengan kebijakan dwikewarganeraan yang memberi pilihan

(35)

bagi etnis Tionghoa Indonesia untuk memilih kewarganegaraan (Zhou, 2019, h.

139). Permasalahannya di sini, hubungan diplomatis menjadi semakin rumit ketika ada dua Tiongkok yang harus berdiplomasi dengan Indonesia saat itu, yakni Tiongkok Komunis di bawah Partai Komunis Tiongkok dan Tiongkok Nasionalis di bawah Partai Kuomintang (Zhou, 2019, h. 86). Dalam menghadapi persoalan tersebut, pastinya etnis Tionghoa harus sungguh-sungguh memperoleh dukungan sepenuhnya dari pemerintah Indonesia dalam berdiplomasi dengan rumitnya situasi dua Tiongkok tersebut dan untungnya jalan non-diskriminasi berhasil dilakukan oleh pemerintah Indonesia dengan cara memberi batas ulang antara “kita” dan “mereka” yang merupakan salah satu cara mengurangi dampak prasangka (Baron dan Byrne, 2004, h. 239). Setelah menyadari bahwa kepentingan etnis Tionghoa jugalah kepentingan bangsa Indonesia, selanjutnya pembangunan toleransi dilakukan pemerintah Indonesia dengan cara membentuk pola komunikasi linier lewat media berlatar belakang etnis Tionghoa dan menggunakan Bahasa Mandarin sebagai sumber informasi bagi etnis Tionghoa dalam mengorientasikan diri pada hubungan diplomatis Indonesia dan dua Tiongkok (Zhou, 2019, h. 173). Media-media sebagai saluran informasi tersebut terbagi menjadi tiga orientasi, yakni pro-Beijing (Tiongkok Komunis), pro-Taipei (Tiongkok Nasionalis), dan Indonesia. Adapun contoh-contoh media yang pro- Beijing adalah Harian Hidup, Harian Bisnis Tay Kong, Harian Demokrasi, Harian Rakyat Sumatra, Kabar Fajar, dan Harian Kuanglu, pro-Taipei antara lain Harian Bebas, Harian Bisnis Tiongkok, Berita Tionghoa Perantauan, Berita Tionghoa Perantauan, dan masih banyak lagi, sementara itu yang berorientasi ke- Indonesiaan ialah Sin Po, Keng Po, dan Harian Sadar (Zhou, 2019, h. 150-152).

Di Singkawang, pola komunikasi linier yang dibangun adanya media berbahasa Mandarin bernama Cheng Bao yang berbasis di Pontianak, orientasi media ini lebih ke arah pro-Beijing.

Sayangnya usai permasalahan diplomasi Indonesia dan dua Tionghoa menemui titik cerah, muncullah kasus Pemberontakan G30S atau Gerakan 30 September yang identik dengan pergerakan komunis dan menjadi akar diskrimnasi

(36)

etnis Tionghoa di Indonesia, di mana etnis Tionghoa di Indonesia dianggap mempunyai peran pada gejolak komunis di nusantara (Zhou, 2019, h. 4).

Semenjak kasus G30S, hubungan Indonesia dengan Tiongkok, baik Tiongkok Komunis maupun Nasionalis, menjadi putus sepenuhnya dan segala hal berbau kebudayaan, kepercayaan, dan tradisi Tionghoa harus dihapuskan sebagai kebijakan dari Presiden Soeharto (Chong, 2018, h. 4). Usai puluhan tahun diskriminasi pada etnis Tionghoa terpupuk di masa Orde Baru, Orde Reformasi menjadi titik terang baru bagi etnis Tionghoa, tepatnya pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang sangat mendukung pluralisme di Indonesia (Wahid dan Ikeda, 2010, h. 157). Memilih untuk membangun ulang batas antara “kita” dan “mereka” (Baron dan Byrne, 2004, h. 237) sebagai cara melunturkan diskriminasi pada etnis Tionghoa, Gus Dur akhirnya membuat kebijakan bersifat nasionalisme dan humanisme pada etnis Tionghoa di Indonesia, yakni kebudayaan-kebudayaan Tionghoa kembali dilegalkan di Indonesia, termasuk dijadikannya Hari Raya Imlek sebagai hari libur nasional dan pengesahan agama Konghucu sebagai agama resmi yang dipeluk di Indonesia (Wahid dan Ikeda, 2010, h. 157). Era Gus Dur pun kembali menjadi kebangkitan budaya Tionghoa yang sangat kental di Singkawang, perayaan Cap Go Meh dapat dilakukan secara besar-besaran lagi di tengah kota dari yang sebelumnya pada 1980-an ke atas harus ke arah pinggiran kota dan hutan.

Dampak dari kebijakan nasionalis Gus Dur tersebut, sampai saat ini di Orde Reformasi sikap toleransi terhadap etnis Tionghoa semakin dijunjung dengan tegaknya semangat nasionalisme yang memberikan hak merata bagi seluruh rakyatnya (Dja’far, 2018, h. 16). Bahkan, Ketua Soka Gakkai Internasional Daisaku Ikeda dalam Wahid dan Ikeda (2010, h. 264) menyebutkan bahwa terciptanya iklim toleransi di Indonesia merupakan pusaka dalam sejarah umat manusia, sebab keberagaman dan pluralisme menjadi sesuatu yang nyata dan harmonis dalam segala dimensi kehidupan berbangsa. Kesamarataan hak bagi etnis Tionghoa terlihat dari munculnya pejabat-pejabat politik di level eksekutif beretnis Tionghoa, di antaranya Mari Elka Pangestu yang pernah menjabat

(37)

sebagai Menteri Perdagangan, Hasan Karman yang pernah menjadi Wali Kota Singkawang, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Mantan Bupati Belitung Timur dan Mantan Gubernur DKI Jakarta (Dou, 2016, h. 170), adik Ahok, Basuri Tjahaja Purnama yang juga pernah memimpin Belitung Timur, dan yang kini masih menjabat ialah Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie (Damanik, 2017). Bentuk- bentuk cara mengatasi diskriminasi pada etnis Tionghoa dan pembentukan toleransi di Indonesia, lebih informatifnya dalam bentuk kronologi sejarah, isu yang sedang berjalan, dan upaya mengangani diskriminasinya serta pembentukan toleransinya akan dijabarkan pada Tabel 2.3 di bawah ini.

Tabel 2.3 Upaya Mengatasi Diskriminasi pada Etnis Tionghoa dan Pembentukan Toleransi dalam Sejarah Republik Indonesia

Periode Isu Upaya

Mengatasi Diskriminasi

pada Etnis Tionghoa

Pembentukan Toleransi

Wujud Nyata Tindakan

1945- 1949

Kesamarataan hak sebagai warga negara Indonesia pasca

kemerdekaan

Membuat batas ulang antara

“kita” dan

“mereka”

dengan etnis Tionghoa

Semangat nasionalisme, humanisme, dan pluralisme

Diangkatnya Siauw Giok Tjhan, politikus beretnis

Tionghoa dalam Kabinet Amir Syarifudin 1949-

1967

Perlakuan sama kepada semua warga negara usai munculnya memorandum mengenai status warga negara etnis Tionghoa

Kontak

Antarkelompok Secara

Langsung pada etnis Tionghoa

Dialog

antargolongan dan

membangun suatu pola komunikasi

Didirikannya Badan

Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia

(BAPERKI), Persekutuan Tiongkok- Indonesia,

Federasi Asosiasi Tionghoa

Perantauan Indonesia, Gerakan Tionghoa Patriotik Anti- imperialis,

Gambar

Tabel 2.1 Perbandingan Penelitian Terdahulu Berdasarkan Konsep, Teori,  dan Isu
Tabel 2.2 Perbandingan Penelitian Terdahulu Berkaitan dengan Kota  Singkawang dan Kontribusinya pada Kehidupan Berbangsa di Indonesia
Tabel 2.3 Upaya Mengatasi Diskriminasi pada Etnis Tionghoa dan  Pembentukan Toleransi dalam Sejarah Republik Indonesia
Gambar 2.1 Alur Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Indonesia merupakan negara yang kaya akan suku, bahasa, dan budaya. Di mata dunia, budaya Indonesia sudah diakui keindahannya. Hal ini terbukti lewat pengakuan dari badan

Pada skripsi penciptaan ini penulis sebagai creative director membahas mengenai peran dalam perancangan desain visual video komersial untuk menunjukkan branding Peminatan

Rumusan masalah yang timbul dari penelitian ini adalah bagaimana cara menentukan metode Indoor Positioning System (IPS) yang lebih baik diantara magnet

Sebagai editor, penulis menciptakan relasi ruang dan waktu pada proses match cut, meningkatkan intensitas dramatik pada proses slow paced, dan penciptaan mood pada proses

Faktor analisis juga dapat melihat apakah data yang sudah di olah valid dan reliable atau tidak, selain itu dengan teknik faktor analisis dapat teridentifikasi apakah

antarpribadi pada individu yang menjalani hubungan romantis

dikenal masyarakat karena merupakan sebagai bagian dari budaya Tionghoa dan.. bagian dari budaya

“Peran Media Komunikasi Dalam Komunikasi Interpersonal (Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Peran Telepon Selular Sebagai Media Komunikasi Dalam Hubungan Jarak Jauh