• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

HIJAUAN Moringa Oleifera

Makanan hijauan adalah semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun–daunan. Termasuk kelompok makanan hijauan ini ialah bangsa rumput (graminae), leguminosa dan hijauan dari tumbuh – tumbuhan lain seperti daun nangka, aur, daun waru, dan lain sebagainya. Kelompok makanan hijauan ini biasanya disebut makanan kasar. Hijauan sebagai bahan makanan ternak bisa diberikan dalam dua bentuk, yaitu hijauan segar dan hijauan kering.

- Hijauan segar ialah makanan yang berasal dari hijauan yang diberikan dalam bentuk segar. Termasuk hijauan segar ialah rumput segar, leguminosa segar dan silase.

- Hijauan kering ialah makanan yang berasal dari hijauan yang sengaja dikeringkan (hay) ataupun jerami kering.

- Sebagai makanan ternak, hijauan memegang peranan penting, sebab hijauan mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan.

- Khususnya di Indonesia, bahan makanan hijauan memegang peranan istimewa karena bahan tersebut diberikan dalam jumlah besar.

Legume merupakan jenis hijauan yang bijinya berkeping dua. Pada umumnya legume mengandung protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan graminae. Pemanfaatan legume sebagai hijauan pakan tidak boleh diremehkan karena ia mampu menyuplai kebutuhan protein ternak. Selain itu, tanaman legum juga banyak memeiliki manfaat lain diantaranya a) sebagai penyubur tanah, b) sebagai penyuplai nitrogen bagi rumput, dan c) sebagai tanaman vegetasi pencegah erosi ( Hasan et al., 2007 )

Deskripsi Tanaman Moringa oleifera

Gambar 3. Legume Pohon Moringa oleifera

Pohon Moringa oleifera dapat ditemukan tumbuh secara alami pada ketinggian hingga 1.000 m di atas permukaan laut. Dapat tumbuh dengan baik di lereng bukit, tetapi lebih sering ditemukan tumbuh di padang rumput atau di daerah aliran sungai. Moringa oleifera merupakan pohon yang dapat tumbuh dengan cepat. Moringa oleifera ditemukan dapat tumbuh 6-7 m dalam satu tahun

di daerah yang curah hujannya kurang dari 400 mm. Sebagai tanaman non-budidaya, Kelor dikenal dengan ketahanannya terhadap kekeringan dan

Kelor (Moringa oleifera) tumbuh dalam bentuk pohon, berumur panjang (perenial) dengan tinggi 7-12 m. Batang berkayu (lignosus), tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar. Percabangan simpodial, arah cabang tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang. Daun majemuk, bertangkai panjang, tersusun berseling (alternate), beranak daun gasal (imparipinnatus), helai daun saat muda berwarna hijau muda, setelah dewasa hijau tua bentuk helai daun bulat telur, panjang 1-2 cm, lebar 1-2 cm, tipis lemas, ujung dan pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, susunan pertulangan menyirip (pinnate), permukaan atas dan bawah halus. Bunga muncul di ketiak daun (axillaris), bertangkai panjang, kelopak berwarna putih agak krem, menebar aroma khas. Buah Moringa oleifera berbentuk panjang bersegi tiga, panjang 20-60 cm, buah muda berwarna hijau setelah tua menjadi cokelat, bentuk biji bulat berwarna coklat kehitaman, berbuah setelah berumur 12-18 bulan. Akar tunggang berwarna putih, membesar seperti lobak. Perbanyakan bisa secara generatif (biji) maupun vegetatif (stek batang). Tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai di ketinggian ± 1000 m dpl, banyak ditanam sebagai tapal batas atau pagar di halaman rumah atau lading (Anwar et al., 2007).

Klasifikasi Moringa oleifera

Kingdom: Plantae (Tumbuhan) Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh), Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji), Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga), Kelas: Magnoliopsida, (berkeping dua/dikotil), Sub Kelas: Dilleniidae, Ordo: Capparales, Famili: Moringaceae, Genus: Moringa, Spesies: Moringa oleifera (Bennett et al., 2003).

Syarat Tumbuh

Tanaman Kelor (Moringa oleifera) tidak hanya dapat tumbuh dan berkembang di India dan Indonesia saja, tetapi juga di berbagai kawasan tropis lainnya di dunia. Moringa oleifera dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 meter di atas permukaan laut. Karena tanaman Moringa oleifera merupakan leguminosa, maka bagus ditanam secara tumpang sari dengan tanaman lain karena dapat menambah unsur nitrogen dan lahan (Anonimous, 2007).

Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Celawan Kabupaten Serdang Bedagai dengan jenis tanah ultisol. Ultisol adalah tanah dengan horizon argilik bersifat masam dengan kejenuhan basa rendah. Kejenuhan basa pada kedalaman 1,8 m dari permukaan tanah kurang dari 35%. Ultisol hanya ditemukan di daerah- daerah dengan suhu tanah rata-rata lebih dari 80C. Tanah ini umumnya berkembang dari bahan induk tua. Di Indonesia banyak ditemukan di daerah dengan bahan induk batuan liat. Tanah ini merupakan bagian yang terluas dari lahan kering di Indonesia. Terdapat tersebar di Daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya. Problema tanah ini adalah reaksi masam, kadar Al tinggi sehingga menjadi racun tanaman dan menyebabkan fiksasi P, unsur hara rendah, Sehingga diperlukan tindakan pengapuran dan pemupukan.

Salah satu sifat yang menguntungkan untuk membudidayakan pohon Moringa oleifera yang sudah diketahui sejak lama, yaitu minimnya penggunaan

pupuk dan jarang diserang hama (oleh serangga) ataupun penyakit (oleh mikroba). Sehingga biaya untuk pemupukan dan pengontrolan hama dan penyakit relatif sangat murah. Bahkan, dari pengalaman para petani Moringa oleifera yang sudah

lama berkecimpung, diketahui bahwa pemupukan yang baik adalah berasal dari pupuk organik, khususnya berasal dari kacang-kacangan (misal kacang hijau, kacang kedelai ataupun kacang panjang) yang ditanamkan sekitar pohon Moringa oleifera (Winarno, 2003).

Secara umum, parameter lingkungan yang dibutuhkan tanaman Moringa oleifera untuk tumbuh dengan baik adalah :

Iklim : Tropis atau sub-Tropis Ketinggian : 0 - 2000 meter dpl Suhu : 25 – 35 °C

Curah Hujan : 250 mm – 2000 mm per tahun. Type tanah : berpasir atau lempung berpasir PH Tanah : 5 – 9

Irigasi yang baik diperlukan jika curah hujan kurang dari 800 mm (Fuglie, 2001).

Moringa oleifera sangat mudah ditanam baik dengan menggunakan stek

maupun biji. Penanaman dengan stek merupakan praktek yang paling umum dilakukan sesuai dengan fungsinya sebagai batas tanah, pagar hidup ataupun batang perambat. Perbanyakan dengan stek cenderung memberikan produksi biomas yang lebih banyak karena tanaman cenderung menghasilkan banyak cabang yang rimbun sedangkan perbanyakan dengan biji menyebabkan tanaman cenderung tumbuh keatas dengan batang utama dan percabangan yang sedikit (Hausteen, 2005).

Perbanyakan dengan batang membutuhkan batang stek dengan tinggi antara 0,5–1,5 m disesuaikan dengan kebutuhan dan diameter 4 sampai 5 cm.

Penanaman dengan batang stek yang pendek dapat dilakukan pada pekarangan rumah, namun untuk kebun diperlukan batang yang tinggi untuk melindungi tanaman dari ternak. Batang stek yang digunakan sebaiknya berasal dari tanaman yang sehat dan berumur lebih dari enam bulan. Semakin besar lingkaran batang stek semakin besar peluangnya untuk hidup (Fahey, 2005).

Kandungan Nutrisi Moringa oleifera

Leguminosa Moringa oleifera kerana tingkat kemampuan memproduksi hijauan yang cukup tinggi. Kemampuan produksi biomassa mencapai 4,2 – 8,3 ton bahan kering/ha pada interval pemotongan 40 hari. Kandungan protein daun berkisar 19,3 –26,4% (Makkar dan Becker, 1996). Sehingga Moringa oleifera dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pakan baru terutama untuk ternak ruminansia. Apalagi kandungan nutrisi kelor tidak kalah dengan jenis tanaman hijauan legume pohon yang banyak digunakan sebagai pakan ternak seperti Gamal (Glircidia sepium), Lamtoro (Leucaena leucocephala) dan Turi (Sesbania grandiflora). Selain itu beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kelor

mempunyai kandungan asam amino yang lengkap, vitamin yang lengkap dan dengan kandungan mineral yang tinggi (Agustina, 2004).

Tabel 4. Kandungan nutrisi tepung moringa oleifera berdasarkan (% BK)

Komposisi Kandungan

Protein kasar (%) 26,61

Lemak kasar (%) 7,48

Serat kasar (%) 8,98

Abu (%) 10,13

Energi metabolis (Kkal/kg) 1318,20

Sumber: Laboratorium Nutrisi dan MakananTernak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang

Moringa oleifera mempunyai kandungan asam amino yang lengkap,

mengandung 18 asam amino yang terdiri dari semua (delapan) asam amino esensial dan 10 asam amino nonesensial, yaitu : Isoleusin, Leusin, Lisin, Metionin, Fenilalanin, Treonin, Triptofan, Valin (esensial). Alanin, Arginine,

asam aspartat, sistin, Glutamin, Glycine, Histidine, Proline, Serine, Tyrosine

(nonesensial). Mengandung 36 anti-inflamasi alami yang terdiri dari : Vitamin A, Vitamin B1 (Thiamin), Vitamin C, Vitamin E, Arginine, Beta-sitosterol, Caffeoylquinic Acid, Calcium, Chlorophyll, Copper, Cystine, Omega 3, Omega 6,

Omega 9, Fiber, Glutathione, Histidine, Indole Acetic Acid, Indoleacetonitrile,

Isoleucine, Kaempferal, Leucine, Magnesium, Oleic-Acid, Phenylalanine,

Potassium, Quercetin, Rutin, Selenium, Stigmasterol, Sulfur, Tryptophan,

Tyrosine, Zeatin, Zinc. (Guevara et al., 1999).

Pemupukan

Penggunaan pupuk organik biasanya ditujukan untuk memperbaiki sifat fisik, dan biologi tanah. Walaupun kandungan unsur hara dalam pupuk organik relatif lebih kecil dibanding pupuk anorganik namun bila sifat fisik menjadi baik maka sifat kimia tanah pun akan berubah (Sutejo, 1995),.

Tujuan pemupukan ialah meningkatkan pertumbuhan dan mutu hasil. Oleh karena itu, pupuk diberikan pada saat tanaman membutuhkan pupuk agar diperoleh keuntungan yang maksimal (Moenandir, 2004).

Pemupukan dengan pupuk organik hendaknya dilakukan bersamaan pada saat pengolahan tanah itu dikerjakan, yakni satu minggu sebelum tanaman ditanam. Pupuk organik sangat bermanfaat dalam perbaikan tekstur tanah, dan memperbaiki kemampuan menahan air. Pada umumnya, leguminosa memerlukan

unsur P, sedang rumput tropis lebih peka terhadap pemupukan unsur N. Untuk bisa memperoleh pemupukan yang optimal perlu diketahui unsur hara dalam tanah, keasaman, tekstur tanah, sifat tanah (Prihmatoro, 2004).

Pupuk Organik

Pupuk organik dapat menambah kandungan bahan organik tanah dan memperbaiki sifat fisik maupun biologi tanah. Terhadap tanah, bahan organik dapat meningkatkaan kemantapan agregat, infiltrasi, daya menahan air, meningkatkan jumlah pori makro dan mikro serta merupakan sumber energi bagi kegiatan biologis tanah (Sarief, 1986). Lebih lanjut, pengaruh pupuk tersebut akan lebih berhasil bagi tanaman apabila memperhatikan dosis, macam, dan waktu pemberian (Hardjo, 1989).

Tiap jenis tanaman mempunyai kebutuhan unsur hara yang berrbeda. Tanaman keras (tahunan) lebih banyak mengambil unsur hara yang berbeda. Tanaman keras lebih banyak mengambil unsur hara dibanding tanaman semusim (legum maupun rumputan). Tanaman legum dapat memfiksasi N melalui simbiosis dengan bakteri Rhizobium, sedangkan rerumputan menyerap N dari dalam tanah. Unsur utama yang dibutuhkan tanaman adalah N, P, dan K. Tanaman yang kekurangan tiga unsur ini akan mengalami gejala defisiensi yang terlihat pada organ tanaman (Rosmarkam dan Yuwono, 2002).

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kondisi tanah di Indonesia yang merupakan negara tropis basah menyebabkan terjadinya pengikisan unsur hara yang berada pada lapisan top soil. Setiap tahunnya terjadi pengikisan unsur hara sekitar 50% sehingga setiap tahunnya diperlukan penambahan unsur hara yaitu untuk lahan kering sekitar 10 ton/ha (Rauf, 2010).

Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung banyak bahan organik dari pada kadar haranya (Wikipedia, 2012).

Pupuk organik memiliki kelebihan dibanding dengan pupuk anorganik, diantaranya adalah a) Berfungsi sebagai granulator sehingga dapat memperbaiki struktur tanah, b) Daya serap tanah terhadap air dapat meningkat dengan pemberian pupuk organik karena dapat mengikat air lebih banyak dan lebih lama, c) Pupuk organik dapat meningkatkan kondisi kehidupan di dalam tanah, d) Unsur hara di dalam pupuk organik merupakan sumber makanan bagi tanaman, e) Pupuk organik merupakan sumber unsur hara N, P dan K (Prihmantoro, 2004).

Berbagai hasil penelitian mengindikasikan bahwa sebagian besar lahan pertanian intensif menurun produktivitasnya dan telah mengalami degradasi lahan, terutama terkait dengan sangat rendahnya kandungan karbon organik dalam tanah, yaitu 2%. Padahal untuk memperoleh produktivitas optimal dibutuhkan

karbon organik sekitar 2,5%. Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan (Fariz, 2012).

Pemanfaatan manure ayam merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi kelangkaan dan naiknya harga pupuk. Sampai saat ini pemanfaatan manure ayam sebagai pupuk belum dilakukan petani secara optimal. Pupuk kandang yang berasal dari manure ayam broiler mengandung nitrogen dan

fosfor yang lebih tinggi dibandingkan pupuk kandang lainnya (Donahue et al,. 1997).

Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang sering dipelihara oleh masyarakat, seperti kotoran kambing, sapi, domba, dan ayam.Pupuk kandang mengandung unsur hara makro yaitu fosfor, nitrogen, dan kalium. Unsur hara mikro yang terkandung dalam pupuk kandang di antaranya kalsium, magnesium, belerang, natrium, besi, tembaga, dan molibdenum dan unsur tersebut syarat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman (Distan, 2011).

Kelor termasuk jenis tumbuhan perdu berumur panjang berupa semak atau pohon dengan ketinggian 7-12 meter. Batangnya berkayu (lignosus), tegak, berwarna putih kotor, berkulit tipis dan mudah patah. Cabangnya jarang dengan arah cabang tegak atau miring serta cenderung tumbuh lurus dan memanjang. Daun kelor berbentuk bundar telur, bersirip tak sempurna, beranak daun gasal, tersususun majemuk dalam satu tangkai dan hanya sebesar ujung jari. Helaian daun kelor berwarna hijau, ujung daun tumpul, pangkal daun membulat, tepi daun rata, susunan pertulangan menyirip serta memiliki panjang 1-3 cm dan lebar 1-2

cm. Bunga kelor muncul di ketiak daun, beraroma khas dan berwarna putih kekuning-kuningan. Buah kelor berbentuk segitiga, dengan panjang sekitar 20-60 cm dan berwarna hijau. Kelor berakar tunggang, berwarna putih, berbentuk seperti lobak, berbau tajam dan berasa pedas (Tilong, 2012).

Tanaman kelor pada umumnya memiliki fase pertumbuhan yang sama dengan tanaman lainnya yaitu fase vegetatif dan generatif. Tanaman kelor memiliki pertumbuhan tanaman yang lumayan cepat pada pertumbuhan vegetatif dengan menggunakan stek saat umur 60 hst memiliki kecepatan tumbuh 20-50 cm per 2 minggu apabila unsur hara yang dibutuhkan terpenuhi sehingga fotosintesis berjalan dengan lancar dan hasil fotosintesis digunakan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman seperti penambahan ukuran panjang

atau tinggi tanaman, pembentukan tangkai dan daun baru (Bukcman and Brady, 1982).

Kelor (Moringa oleifera) memiliki tingkat kemampuan memproduksi hijauan yang cukup tinggi. Kemampuan produksi biomassa mencapai 4,2–8,3 ton bahan kering/ha. Kandungan protein daun berkisar 19,3–26,4%. Sehingga Moringa oleifera dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pakan baru terutama

untuk ternak ruminansia Moringa oleifera mempunyai kandungan asam amino yang lengkap. Mengandung 18 asam amino yang terdiri dari (delapan) asam amino esensial dan 10 asam amino nonesensial (Makkar dan Becker, 1996).

Penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera) dalam pakan ayam pedaging menunjukkan bahwa tepung daun kelor bisa digunakan hingga 5%. dalam pakan untuk mengganti tepung ikan dan bungkil kedelai.

Menurut hasil penelitian Osfar Sjofjan (2008), tentang efek penggunaan tepung daun kelor (moringa oleifera) dalam pakan terhadap penampilan produksi ayam pedaging dengan level sebesar 0% (P0); 2,5% (P1); 5,0% (P2); 7,5% (P3) dan 10% (P4) hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera) dalam pakan tidak memberikan peningkatan terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot hidup, konversi pakan, berat karkas, faktor efisiensi produksi dan Income Over Feed Cost (IOFC). Tetapi pada penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera) sebanyak 10 % dalam pakan tidak memberikan efek negatif terhadap penampilan produksi ayam pedaging dan perlu dilakukan uji coba lebih lanjut penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera) dengan kandungan lebih dari 10 % dalam pakan terhadap penampilan produksi ayam pedaging.

kelor (Moringa oleifera) diantaranya daun kelor (Moringa oleifera) sebagai anti anemia (Oduro et al, 2008), daun dan batang kelor (Moringa oleifera)

dapat digunakan sebagai penurun tekanan darah tinggi dan obat diabetes (Giridhari et al, 2011), dan kulit dari pohon kelor (Moringa oleifera) sebagai obat

radang usus besar (Fuglie, 1999).

Kandungan Bahan Aktif dalam Moringa oleifera kaya kandungan gula sederhana, rhamnose, dan senyawa unik yaitu glukosinolat dan isotiotianat (Bennet dkk dan Fahey dkk dalam Fahey, 2005). Daun Moringa oleifera digunakan sebagai obat infeksi, antibakteri, infeksi saluran urin, luka eksternal, anti-hipersensitif, anti-anemik, diabetes, colitis, diare, disentri, rematik, dan lain-lain. Senyawa glukosinolat dan isotiotianat diketahui sebagai hipotensif, anti kanker dan aktivitas antibakteri yang meliputi 4-(α-Lrhamnopyranosyloxy)

benzyl isothiocyanate pterygospermin, dan 4-(α-L-rhamnopyranosyloxy) benzylglucosinolate (Fahey, 2005 dan Hsu et al, 2006).

Penelitian ini dilakukan untuk dapat mengetahui pemanfaatan pupuk cair fermentasi dari manure ayam broiler untuk meningkatkan produktivitas tanaman Moringa oleifera.

Tujuan Penelitian

Mengetahui pengaruh pemanfaatan pupuk cair fermentasi dari manure ayam terhadap pertumbuhan Moringa oleifera yang dilihat dari (tinggi tanaman, produksi daun, jumlah daun dan jumlah tangkai daun majemuk).

Hipotesis Penelitian

Pemanfaatan pupuk cair fermentasi dari manure ayam broiler menggunakan MOD (Micro-organisme Decomposer) dengan berbagai dosis akan mempercepat pertumbuhan tanaman Moringa oleifera yang diukur dari tinggi tanaman, produksi daun, jumlah daun dan jumlah tangkai daun majemuk.

Kegunaan Penelitian

Memberikan manfaat bagi masyarakat, petani, peternak dalam mengatasi masalah pakan ternak dan memberikan nilai tambah bagi petani/peternak dari hasil pengolahan limbah kotoran ayam broiler. Penelitian diharapkan sebagai rujukan dalam upaya peningkatan ketersediaan hijauan makanan ternak serta dapat digunakan sebagai bahan penulisan skripsi yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara.

ABSTRAK

FATIHA ULFA, 2016 “Pemanfaatan Pupuk Cair Fermentasi dari Manure Ayam Broiler Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)“. Dibimbing oleh NURZAINAH GINTING dan SAYED UMAR.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pemanfaatan Pupuk Cair Fermentasi dari Manure Ayam Broiler Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)“. Penelitian dilaksanakan di Desa Celawan Kabupaten Serdang Bedagai, SumateraUtara, pada bulan April sampai dengan Agustus 2016 menggunakan 24 buah bibit tanaman Moringa Oleifera. Rancangan yang dipakai dalam penelitian ini adalah rancangan split plot design (petak terbagi). Sumber pupuk yang menjadi plot utamanya jenis pupuk, antara pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD 1 liter/100 liter air (P1) dan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD 2 liter/100 liter air (P2) dan yang menjadi sub plot dosis dengan 3 perlakuan yaitu D1 (166) D2 (250) dan D3 (333) ml/plot, dengan 4 kali pengulangan. Parameter penelitian adalah tinggi tanaman, produksi daun, jumlah tangkai majemuk dan jumlah daun majemuk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pemupukan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD satu liter dan 2 liter per 100 liter air berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap tinggi tanaman, produksi daun, jumlah daun majemuk dan jumlah tangkai daun majemuk.Kesimpulan bahwa penggunaan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan Micro organisme Decomposer (MOD) meningkatkan pertumbuhan Moringa oleifera.

Kata Kunci : pupuk cair fermentasi, manure ayam broiler, moringa oleifera, dosis

ABSTRACT

FATIHA ULFA, 2016 " utilizion of Fertilizer Liquid fermentation of manure Broiler Chickens on Plant Growth Moringa (Moringa oleifera)". Under supervised by NURZAINAH GINTING and SAYED UMAR.

The research objective was to examine the utilization of Fertilizer liquid

fermentation of manure Broiler Chickens on Plant Growth Moringa (Moringa oleifera) ". The research was conducted in the village of Celawan

Bedagai Serdang, North Sumatra, in the April to August 2016 using 24 pieces of plant seeds of Moringa oleifera. The design used in this research is the design of split plot design (split plot). Source of fertilizer into a plot main types of fertilizer, the liquid manure fermentation of manure of broilers using mod 1 liter (P1) and liquid fertilizer fermentation of manure of broilers using mod 2 liters (P2) and become sub-plots dose with 3 treatments, D1 (166 ) D2 (250) and D3 (333) ml / plot, with four repetitions. Parameter study were plant height, leaf production, the number of stems compound and the amount of compound leaves.

The results showed that the dose of fertilizer liquid fertilizer manure fermentation broilers using MOD one liter and 2 liter significant effect on plant height and leaf production, the amount of a compound leaf petiole and the amount of compound (P<0,05). The conclusion that the use of liquid manure fermentation of manure of broilers using Micro organisms decomposer (MOD) growth Moringa oleifera.

Keywords: liquid manure fermentation, broiler chicken manure, moringa oleifera, dose

PEMANFAATAN PUPUK CAIR FERMENTASI DARI MANURE

Dokumen terkait