• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pemanfaatan Pupuk Cair Fermentasi dari Manure Ayam Broiler Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pemanfaatan Pupuk Cair Fermentasi dari Manure Ayam Broiler Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR PUSTAKA

Anwar F, Latir S, Ashraf M, Gilan A (2007). Moringa oleifera a food plant with multiple medicinal uses. Phytother. Res. 21: 17-25.

Aksi, Agraris, dan Kanisius, 1992. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja, dan Perah. Kanisius, Yogyakarta

Adams, C.A.2000. Enzim Komponen Penting Dalam Pakan Bebas Antibiotika. Feed Mix Special.

Anonymous. 2007. Moringa oleifera Lam. www.mobot.org/plantscience/ gradstudents /olson/ oleifera.htm. (12 Februari 2016).

Anonimus. 1978. Penuntun Pembuatan Padang Penggembalaan (Hijauan Makanan Ternak). Direktorat Bina Produksi Peternakan, Dirjen Peternakan.

Afandhie Rosmarkam & Nasih Widya Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Ayub, S. P. 2004. Organik Cair. Aplikasi dan Manfaatnya. Agromedia. Jakarta. Agustina, L. 2004. Dasar Nutrisi Tanaman. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Barrow, P.A. 1992. Probiotics for chickens. In: R. Fuller. 1st ed. Probiotics the scientific basic. Chapman and hall. London. Hal:225-250.

Balai Besar Perbenihan Dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP), 2015, Micro-Organisme Decomposer (MOD), CV. Tani Hijau Lestari. Medan. Bennett R, Mellon F, Pratt J, Dupont M, Pernins L, Kroon P (2003). Profiling

glucosinolates and phenolics in vegetative and reproductive tissues of multi-purpose trees Moringa oleifera L. (horseradish tree) and Moringa stenopetal L. J. Agric. Food Chem, 51: 3546-5553.

Badan Standarisasi Nasional (BSN). 2004. Spesifikasi Kompos dari Sampah Organik Domestik. SNI 19-7030-2004.

Bukar, A., Uba, A. and Oyeyi, T.I.. 2010. Antimicrobial Profile of Moringa oleifera Lam. Extracts Against Some Food –Borne Microorganisms. Bayero Journalof Pure and Applied Sciences, 3(1): 43 –48.

Donahue,R.L., Miller, R.W. Shickluna, J.C. (1977). An Introduction to soil and plant growth, ed. New jersey : prentice – hall, inc.

(2)

Foidl N, Makkar H, Becker K (2001). In The Miracle Tree: The Multiple Uses of Moringa (Ed, J, F.) Wageningen, Netherlands. pp. 45-76.

Fahey, J.W. 2005. Moringa oleifera: A Review of the Medical Evidence for Its Nutritional, Therapeutic, and Prophylactic Properties. Part 1. (16 febuari 2016).

Fuglie L (2001). The Miracle tree: The Multiple Attributes of Moringa, Dakar. Giridhari, V.V. A., Malathi, D. Geetha, K. 2011. Anti Diabetic Property of

Drumstick (Moringa oleifera) Leaf Tablets. Int J Health Nutr 2011 2(1):

Guevaraa AP, Vargasa C, Sakuraib H, Fujiwarab Y, Hashimotob K, Maokab T, Kozukac M, Itoc Y, Tokudad H, Nishinod H (1999). An antitumor promoter from Moringa oleifera Lam. Mutat. Res. 440:181-188.

Harahap, Filino, (1978), Teknologi Biogas: Pusat Teknologi PembangunanInstitut Teknologi Bandung.

Harada, Y., Haga, K., Osada, T. dan Koshino, M., 1993. Quality of compost Produced From animal wastes. Japan Agric. Research Quaterly, 26:238-246.

Hassan SW, Ladan MJ, Dogondaji RA, Umar RA, Bilbis LS, Massan LG, Ebbo AA, Matazu IK (2007). Phytochemical and toxicological studies of aqueous leaves extracts of Erythrophleum africanum. Kak. J. Biol. Sci. 10:3815-3821.

Hausteen BH (2005). The Biochemistry and medical significance of the flavonoids. Pharmacol. therapeutics J. 96:67-202.

Haude, 1997. Moringga oleifera. Sebuah pakan menjanjikan dan semak legume tanaman Indonesia.

Hardjo, S.S., Indrasti, N.S., Tajuddin, B., 1989. Biokonveksi: Pemanfaatan Limbah Industri Pertanian. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. IPB. Kartadisastra, H. R. 2001. Penyediaan dan Pengelolaan Pakan Ternak

Ruminansia. Kanisius, Yogyakarta.

Leiwakabessy, F.M. dan Sutandi, A. 2004. Diktat kuliah Pupuk dan Pemupukan. Jurusan tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor. 208 hal. 16

(3)

Matatirano, L., 1994. Liquid manure is good fertilizer. Developing countries farm radio network. Oktober 1994 paket 34, naskah 3(Unpublished).

Makkar H, Becker K (1996). Nutrients and anti-quality factors in different morphological parts of the Moringa oleifera tree. J. Agri. Sci. Cambridge. 128: 311-322.

Mercedes, T. 2008. Growth Performance of Broilers Fed with Different Strains of Probiotics. 16thIFOAM Organic world Congress, Modena, Italy, June 16-02, 2016.

Moenandir, J. 2004. Prinsip – prinsip Utama Cara Menyukseskan Produksi Pertanian. Bayumedia Publishing. Malang, Jawa Tengah.

Musnamar. 2005. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. Yogyakarta.

Muzani Achmad dan Tanda S. Panjaitan, 2010, Nilai Nutrisi Kelor Sebagai Pakan Ternak Sapi Yogyakarta : Kanisius.

Novizan, 2001, Petunjuk Pemupukan yang Efektif, Jakarta: Agromedia Pustaka. Parnata, A. S. 2004. Pupuk Organik Cair: Aplikasi dan Manfaatnya. Agromedia

Pustaka. Jakarta.

Prihmatoro,. 2004. Memupuk Tanaman Buah. Jakarta : Penebar Swadaya.

Roesmarkam, A. dan Yuwono, N. W. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta : Kanisius.

Siregar, Hadrian. 1981. Budidaya Tanaman Padi di Indonesia. Sastra Hudaya. Jakarta. 316 hal.

Sarief, E.S. 1986. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian. Bandung : Pustaka Buana.

Setiawan, A. 2003, Pemanfaatan Isi Rumen (Kambing dan Domba) sebagai Inokulan dalam Proses Pengomposan Sampah (Organic) dengan Kotoran Sapi Perah. Institut Pertanian Bogor, Bandnug.

Suprat, A.S., Pascu, C., Costinar, L., Vaduva., I., Faur, B., Tatar, D., Herman, V., 2011. Escherichia coli Strains Characterization Isolated from Post-Weaning Diarrhea in Pigs. Faculty of Veterinary Medicine Timisoara, Calea Aradului No.119,300645, Timisoara, Romania.

(12 Februari 2016).

(4)

Stevenson, F.J. 1994. Humus Chemistry: Genesis, Composition, Reactions. John Wiley and Sons Inc. New York.

Sánchez, N.R. 2006. Moringa oleifera and Cratylia argentea: Potential Fodder Species for Ruminants in Nicaragua. PhD Thesis. Swedish University of Agricultural Science.

Suyamto. 2010. Peranan Unsur Hara N, P, K dalam Proses Metabolisme Tanaman Padi. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor. 26 hal.

Tjionger, M. 2006. Kombinasi Limbah Pertanian Dan Peternakan Sebagai Alternatif Pembuatan Pupuk Organik Cair Melalui Proses Fermentasi Anaerob.Agromedia.Jakarta.

Yuhaeni. 1989. Adaptasi Legum Sebagai Hijauan Pakan di Daerah Ciawi Bogor. Pusat Penelitian Dan Perkembangan Peternakan Deptan.

Widodo, Takesi W dan Volum. 2007. Konsentrasi Posfat, Amonium dan Mineral Hasil Fermentasi Biogas. Vietnam University.

(5)

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian telah dilaksanakan di Desa Celawan Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Penelitian ini berlangsung pada bulan April sampai dengan bulan Agustus 2016 dengan persiapan lahan 2 minggu.

Bahan dan Alat Penelitian Bahan

Bahan yang digunakan yaitu 24 stek tanaman Moringa oleifera yang berumur 2 bulan dengan tinggi 30 cm dan memiliki 3 payung daun majemuk.

manure ayam broiler sebagai bahan dasar pembuatan pupuk cair dan Micro Organisme Decomposer (MOD) sebagai perlakuan pupuk organik cair

pada tanaman. Air untuk mengencerkan manure ayam broiler serta untuk menyiram tanaman.

Alat

(6)

tulis untuk mencatat data penelitian dan amplop sebagai tempat hijauan pada saat pemanenan selama penelitian.

Metode Penelitian

Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot design) dengan menggunakan dua faktor yaitu :

1. Faktor pertama yang dijadikan sebagai petak utama (main plot) adalah sumber pupuk :

P1 = Pupuk cair fermentasi menggunakan manure ayam broiler dengan MOD (Micro-organisme Decomposer) 1 liter per 100 liter air P2 = Pupuk cair fermentasi menggunakan manure ayam broiler dengan

MOD (Micro-organisme Decomposer) 2 liter per 100 liter air 2. Faktor kedua sebagai anak petak (sub plot) yaitu dosis pemupukan

yang berbeda setiap perlakuan antara lain :

D1 = pupuk cair manure ayam broiler yang difermentasi menggunakan

MOD dengan dosis 166 ml/plot/tanaman atau 20 ton/ha/tahun

D2 = pupuk cair manure ayam broiler yang difermentasi menggunakan

MOD dengan dosis 250 ml/plot/tanaman atau 30 ton/ha/tahun

D3 = pupuk cair manure ayam broiler yang difermentasi menggunakan

MOD dengan dosis 333 ml/plot/tanaman atau 40 ton/ha/tahun Banyak ulangan menurut rumus :

t (n – 1) ≥ 15 2.3 (n – 1) ≥ 15 6n – 6 ≥ 15 6n ≥ 21 n = 4

(7)

P1 P2

D1U1 D2U2 D3U1 D1U1 D2U2 D3U1

D3U4 D1U2 D2U4 D3U4 D1U2 D2U4

D2U3 D2U1 D1U3 D2U3 D2U1 D1U3

D1U4 D3U2 D3U3 D1U4 D3U2 D3U3

Model linear yang digunakan adalah rancangan petak terbagi (split plot design) dengan model rancangan sebagai berikut:

Yi j k = μ + αi +βj + (αβ) i j + δi k + εi j k

Keterangan :

Y i j k = nilai pengamatan pada taraf ke-i faktor A, taraf ke-j faktor B, dan pada

kelompok ke-k µ = nilai tengah umum

αi = pengaruh taraf ke-i dari faktor A

β j = pengaruh taraf ke-j dari faktor B

(αβ)i j = pengaruh interaksi taraf ke-i faktor A dengan taraf ke-j faktor B

δi k = pengaruh acak untuk petak utama

ε i j k = pengaruh acak untuk anak petak

Pelaksanaan Penelitian

1. Pembuatan Pupuk Cair Fermentasi Manure Ayam

Broiler Dengan Micro Organisme Decomposer (MOD)

(8)

ke dua. Sedangkan alat yang digunakan adalah drum plastik ukuran 160 liter sebanyak 2 buah sebagai tempat pembuatan pupuk cair fermentasi, botol bekas yang berisikan air serta selang sebagai media perangkap yang mana fungsi air didalam botol untuk mencegah bakteri/partikel asing merugikan masuk kedalam drum, plastik digunakan untuk menutup drum agar kondisi didalam drum menjadi

anaerob. potongan karet dari ban bekas untuk mengikat tutup drum.

P1 = proses pencampuran pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD sebanyak 1 liter

- 1 liter MOD tambah 100 liter air lalu dihomogenkan kemudian difermentasi selama 14 hari

Gambar 4. Proses Pembuatan Pupuk Cair Fermentasi Manure Ayam Menggunakan Micro Organisme Decomposer (MOD) Sebanyak 1 Liter

(9)

P2 = pada perlakuan P2 proses pencampuran pupuk cair fermentasi manure ayam broiler dengan MOD sebanyak 2 liter dilakukan 2 tahap.

- Tahap I, 1 liter MOD tambah 100 liter air dan difermentasi selama 7 hari - Tahap ke II, setelah 7 hari proses fermentasi ditambahan lagi 1liter MOD

(10)

Gambar 5. Proses Pembuatan Pupuk Cair Fermentasi Manure Ayam Menggunakan Micro Organisme Decomposer (MOD) Sebanyak 2 Liter

B C

E

Kemudian kembali tambahkan 1 liter MOD setelah difermentasi selama 7

hari A

Dimasukan manure

ayam broiler 30 kg

D

Ditutup dengan plastik dan diamkan selama 7 hari

Ditambakan MOD 1 liter

kemudian di homogenkan

Dimasukkan air 100 liter

Total lamanya fermentasi adalah 14 hari dan pupuk cair siap digunakan

(11)

Persiapan Lahan

Persiapan lahan diawali dengan pembersihan lahan penelitian dari sisa tanaman sebelumnya dan gulma yang terdapat disekitar lahan pada penelitian. Kemudian dilakukan pencangkulan atau pembajakan lahan untuk tanah menjadi gembur dan homogen. Lalu lahan bagi-bagi menjai petak-petak kecil sebanyak 24 plot yang setiap plotnya berukuran 1m x 1m dengan jarak antar tiap plot sepanjang 0,5 m yang dijadikan sebagai saluran air.

Pemupukan

Setelah lahan gembur dan bersih dari gulma, maka dilakukan pemupukan dasar yang digunakan adalah pupuk kandang sebanyak 1 kg/m dan kapur 0,1 kg/m, sedangkan pupuk kimia adalah Urea 0,01 kg/m, SP-36 0,015 kg/m dan KCl 0,02 kg/m pada setiap plot, kemudian didiamkan selama dua minggu. Selanjutnya dilakukan penanaman dan pengulangan pemupukan selama 4 minggu sekali sampai ke-16 MST (Minggu Setelah Tanam). Adapun alasan pemberian level dosis yang berbeda di setiap perlakuan adalah untuk mengetahui apakah dengan peningkatan penggunaan dosis 166 ml, 250 ml, dan 333 ml dapat memberikan pengaruh yang lebih baik terhadap pertumbuhan tanaman Moringa oleifera.

Penanaman

(12)

lubang sekitar 20 cm dari permukaan tanah. Penanaman dilakukan pada pagi hari. Kemudian bibit diberikan pupuk sesuai dengan dosis penelitian.

Pemeliharaan

Pemeliharaan meliputi 1) penyiraman, penyiraman dilakukan setiap hari dua kali yaitu pada pagi dan sore atau sesuai kebutuhan jika musim hujan tidak perlu untuk penyiraman 2) Penyiangan, penyiangan dilakukan terhadap gulma-gulma liar yang ada dilahan penelitian dan dilakukan secara manual.

Panen (Pemotongan atau Defoliasi)

Trimming (penyeragaman tinggi tanaman) untuk keseluruhan tanaman

pada saat berumur 4 minggu setelah penanaman atau pemindahan ke lahan penelitian dengan maksud menyeragamkan pertumbuhan. Interval pemotongan 60 hari. Tinggi pemotongan 100 cm dari mata tunas.

Parameter Penelitian

Tinggi Tanaman Moringa oleifera

Tinggi tanaman dihitung dari saat bibit Moringa oleifera di pindahkan ke tanah yang berumur 2 bulan memiliki 3 payung daun majemuk dan diukur tinggi awal tanaman, Pengambilan data kedua dilakukan 2 minggu setelah proses trimming selanjutnya data diambil 2 minggu sekali dengan mengkur tinggi

(13)

Produksi Daun Moringa oleifera

Jumlah berat daun yang ditimbang pada defiolasi atau pemanenan pertama dan kedua. Pada umur tanaman 2 dan 4 bulan setelah dipindah ke lahan penelitian. Dihitung dengan menimbang sampel berat tanaman yang dipanen kemudian dipisahkan antara bagian daun dan tangkai.

Jumlah Daun Moringa oleifera

Jumlah daun majemuk dihitung dari berapa jumlah anak daun disetiap tangkai daun yang ada pada daun majemuk Moringa oleifera. Pengambilan data awal dilakukan pada tanaman berumur 2 bulan dengan tinggi tanaman 30 cm dan memiliki 3 payung daun majemuk saat stek akan dipindahkan ke tanah. Kemudian pengambilan data selanjutnya dilakukan pada saat defoliasi pertama dan kedua pada umur tanaman 2 dan 4 bulan setelah tanam ditanah.

Jumlah Tangkai Daun majemuk

Jumlah tangkai daun majemuk dilihat berapa jumlah tangkai yang ada dalam satu tangkai daun majemuk. Pengambilan data awal dilakukan pada saat tanaman berumur 2 bulan dengan tinggi 30 cm dan memiliki 3 payung daun majemuk kemudian pengambilan data selanjutnya dilakukan 2 minggu sekali sampai tanaman berumur 4 bulan setelah tanam di lahan.

Analisis Data

(14)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tinggi Tanaman Moringa Oleifera

Dari hasil penelitian diperoleh pemberian pupuk cair fermentasi dari manure ayam broiler dengan menggunakan fermentor MOD dosis 1 liter dan 2 liter pada setiap perlakuannya memberikan hasil yang nyata terhadap kecepatan tumbuh tanaman, hasil dapat dilihat pada tabel 1 berikut.

Tabel 6. Tinggi tanaman Moringa oleifera (cm)

Faktor

Keterangan: P1= Moringa oleifera dengan menggunakan pupuk cair manure ayam broiler fermentasi menggunakan Mod 1 liter P2= Moringa oleifera dengan menggunakan pupuk cair manure ayam broiler fermentasi menggunakan Mod 2 liter, superskrip berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukan adanya perbedaan nyata pada Uji Duncan (P<0.05)

Tabel sidik ragam menunjukkan bahwa perbedaan jenis pupuk dan perbedaan dosis pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan Micro Organisme Decomposer (MOD) memberikan pengaruh yang nyata

(P<0,05)terhadap kecepatan tumbuh tanaman Moringa oleifera.

(15)

dengan pernyataan Siregar (1981), bahwa unsur yang terdapat dalam tubuh mikro organisme adalah asam amino. selanjutnya aplikasi MOD 2 liter menyebabkan lebih banyak populasi mikroorganisme dalam pupuk cair karena didalam 1 liter MOD terdapat Trichoderma spp. 1 x 106 spora/ml, Aspergillus Niger 1 x 105 spora/ml, Metharhizium Anisopliae 1 x 105 spora/ml, Pseudomonas Flourescens 1 x 107 cfu/ml, Lactobacillus sp. 1 x 107 cfu/ml. Selain itu proses fermentasi pupuk cair menggunakan 2 liter MOD bertujuan untuk mempercepat penguraian dan menghasilkan kandungan NPK yang lebih tinggi dibandingkan pupuk cair fermentasi menggunakan MOD 1 liter karena gas amonia yang terdapat pada feses segar lebih cepat terurai. Penghilangan gas amonia pada manure ayam broiler segar menjadikan pupuk tidak berbau. Hal ini sesuai juga dengan pernyataan dari Setiawan (2003), yang menyatakan bahwa pemberian pupuk kandang (pupuk cair manure ayam broiler) dalam jangka panjang memberikan pengaruh positif terhadap tanah dan tanaman sehingga dapat memperbaiki sifat fisik kimia dan biologi tanah.

(16)

Nilai rataan tertinggi tinggi tanaman Moringa oleifera adalah pada dosis 40 ton/ha/thn atau (D3) yaitu sebesar 202.10 cm berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan dosis 30 ton/ha/thn (D2) sebesar 181.55 cm dan nilai terendah pada perlakuan dosis 20 ton/ha/thn (D1) sebesar 160.02 cm. Hasil penelitian ini menunjukkan pemberian pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD terhadapan pertumbuhan tinggi tanaman Moringa oleifera memberikan pengaruh yang baik. Hal ini disebabkan karena kandungan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan Micro Organisme Decomposer (MOD) berimplikasi terhadap perbaikan berbagai zat pengatur

tumbuh dan mikroorganisme tanah. Hal ini sejalan dengan pernyataan Siregar (1981), unsur hara yang mempunyai peranan penting terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman yaitu N, P, dan K. Tetapi umumnya di dalam tanah akan diubah menjadi ammonium dan nitrat melalui proses amonifikasi dan nitrifikasi oleh bakteri tanah. Hal ini juga ditambahkan oleh Suyamto (2010), tanaman menyerap amonium 5-20 kali lebih cepat dibandingkan dengan nitrat. Peranan unsur N dalam tanaman yang terpenting adalah sebagai penyusun atau sebagai bahan dasar protein dan pembentukan klorofil karena itu N mempunyai fungsi membuat bagian-bagian tanaman menjadi lebih hijau, banyak mengandung butir-butir hijau dan yang terpenting dalam proses fotosintesis, mempercepat pertumbuhan tanaman yang dalam hal ini menambah tinggi tanaman dan jumlah anakan, menambah ukuran daun dan menyediakan bahan makanan bagi mikrobia (jasad-jasad renik yang bekerja menghancurkan bahan-bahan organik di dalam tanah).

(17)

Produksi Daun Moringa oleifera

Perhitungan jumlah daun ditimbang dengan satuan gram. Hasil uji Duncan daun dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 7. Produksi Daun Moringa oleifera (gram)

Faktor

Rataan 493.75c 694.07b 882.19a

Keterangan: P1= Moringa oleifera menggunakan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan micro organisme decomposer (MOD) 1 liter dan P2= pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan micro organisme decomposer (MOD) 2 liter, superskrip berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukan adanya perbedaan nyata pada Uji Duncan (P<0.05)

Tabel sidik ragam menunjukan bahwa perbedaan jenis pupuk serta perbedaan dosis pupuk menggunakan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan micro organisme decomposer (MOD) memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap produksi daun tanaman Moringa oleifera,

Berdasarkan Tabel 6 dapat disimpulkan bahwa produksi daun Moringa oleifera yang menggunakan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler

(18)

organik. Fungsi N bagi tanaman antara lain : meningkatkan pertumbuhan tanaman, menyehatkan pertumbuhan daun, meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman, meningkatkan kualitas tanaman penghasil daun-daunan, meningkatkan mikroorganisme di dalam tanah. Fungsi P bagi tanaman adalah mempercepat pertumbuhan akar semai, mempercepat serta memperkuat pertumbuhan tanaman muda menjadi tanaman dewasa pada umumnya, mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, dapat meningkatkan produksi biji - bijian, sedangkan kalium berperan membantu : pembentukan protein dan karbohidrat, mengeraskan batang dan bagian kayu dari tanaman, meningkatkan resistensi tanaman terhadap penyakit, meningkatkan kualitas biji/buah. Kebutuhan unsur hara untuk daerah tropis adalah unsur hara makro adalah unsur hara yang diperlukan dalam jumlah banyak (Sutedjo, 1991).

Jumlah produksi daun lebih tinggi dibandingkan dengan batang mempunyai keuntungan bahan segar yang lebih banyak selain itu pada pemberian moringa oleifera kepada ternak yang di kandangkan sisa batang tertinggal dan tidak di makan oleh ternak.

(19)
(20)

tersebut. Berdasarkan hasil analisis kimia pupuk kandang ayam, kandungan C/N rasio tergolong rendah yaitu 1,92 artinya bahwa pupuk kandang ayam cepat terdekomposisi menjadi unsur hara yang dibutuhkan tanaman sehingga akan memacu pertumbuhan tanaman.

Jumlah Daun Moringa oleifera

Perhitungan jumlah daun yaitu dihitung berapa jumlah daun dalam satu tangkai dengan satuan helai. Hasil uji Duncan daun dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 8. Jumlah Daun Majemuk Moringa oleifera (Helai)

Faktor

Keterangan: P1= Moringa oleifera pupuk dengan menggunakan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD 1 liter P2= pupuk menggunakan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD 2 liter, superskrip berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukan adanya perbedaan nyata pada Uji Duncan(P<0.05)

Tabel sidik ragam menunjukkan bahwa perbedaan jenis pupuk dan perbedaan dosis menggunakan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler memberikan pengaruh yang nyata (P <0,05) terhadap jumlah daun majemuk tanaman Moringa oleifera.

(21)

dengan pernyataan Dobermann and Fairhust, (2000) peranan unsur N dalam tanaman yang terpenting adalah sebagai penyusun atau sebagai bahan dasar protein dan pembentukan klorofil karena itu N mempunyai fungsi membuat bagian-bagian tanaman menjadi lebih hijau, banyak mengandung butir-butir hijau dan yang terpenting dalam proses fotosintesis, mempercepat pertumbuhan tanaman yang dalam hal ini menambah tinggi tanaman dan jumlah anakan, menambah ukuran daun dan menyediakan bahan makanan bagi mikrobia (jasad-jasad renik yang bekerja menghancurkan bahan-bahan organik di dalam tanah).

Gambar 8. Kurva kalibrasi Jumlah Daun Majemuk Moringa oleifera

(22)

berjalan unsur yang dibutuhkan tersedia. Sehingga tanaman tumbuh tinggi dan memiliki daun dengan jumlah yang banyak dibandingkan dengan perlakuan D1 sebesar 20 ton/ha/thn dan perlakuan D2 sebesar 30 ton/ha/thn. menurut Wijaya (2008)nitrogen mendorong pertumbuhan organ-organ yang berkaitan dengan fotosintesis yaitu daun. Syerif (1985) menambahkan bahwa nitrogen merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan tanaman sebab merupakan penyusun utama dari protein dan asam nukleit, dengan demikian merupakan penyusun protoplasma secara keseluruhan.

Jumlah Tangkai Daun Majemuk Moringa oleifera

Perhitungan jumlah anak tangkai daun majemuk yaitu dihitung berapa jumlah anak tangkai daun majemuk dalam satu tangkai. Hasil uji Duncan daun dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 9. Jumlah Tangkai Daun Majemuk Moringa oleifera

Faktor

Keterangan: P1= Moringa oleifera pupuk dengan menggunakan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD 1 liter P2= pupuk menggunakan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD 2 liter, superskrip berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukan adanya perbedaan nyata pada Uji Duncan(P<0,05)

Tabel sidik ragam menunjukkan bahwa perbedaan jenis pupuk serta perbedaan dosis menggunakan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan Micro Organisme Decomposer (MOD) 1 liter dan 2 liter memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap jumlah tangkai daun majemuk tanaman Moringa oleifera.

(23)

tangkai, terdapat kecenderungan memiliki kecepatan tumbuh yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan tanaman (P1) sebesar 12.15tangkai. Hal ini disebabkan karena pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman yang baik untuk pembentukan daun dan tangkai tanaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rizqiani, (2007) bahwa pupuk organik cair mempunyai beberapa manfaat lain diantaranya dapat mendorong dan meningkatkan pembentukan klorofil daun sehingga meningkatkan kemampuan fotosintesis tanaman, dapat meningkatkan vigor tanaman sehingga tanaman menjadi kokoh dan kuat, meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan, cekaman cuaca dan serangan pathogen penyebab penyakit, merangsang pertumbuhan cabang produksi, serta meningkatkan pembentukan bunga dan bakal buah

Gambar 9. Kurva kalibrasi Jumlah Tangkai Daun Majemuk Moringa oleifera

(24)
(25)

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pemberian pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan Micro Organisme Decomposer (MOD) dengan berbagai tingkat dosis dapat mempercepat pertumbuhan tanaman Moringa oleifera seperti tinggi tanaman, produksi daun, jumlah tangkai daun majemuk dan jumlah daun majemuk.

Pada perlakuan pemberian pupuk cair fermentasi manure ayam broiler (P2) menghasilkan nilai yang nyata (P<0,05) dibandingkan pada perlakuan pemberian pupuk cair fermentasi manure ayam broiler (P1), begitu juga dengan dosis perlakuan yang berbeda memberikan hasil yang nyata (P<0,05) terhadap pertumbuhan tanaman Moringa oleifera. Semakin tinggi dosis pupuk yang diberikan menunjukkan hasil yang nyata (P<0,05) untuk pertumbuhan Moringa oleifera dibandingkan dosis pupuk yang lebih rendah.

Saran

(26)

TINJAUAN PUSTAKA

Pupuk Cair

Pupuk organik cair dapat diklasifikasikan atas pupuk kandang cair, biogas, pupuk cair dari limbah organik, pupuk cair dari limbah kotoran ayam. Pupuk organik cair dapat memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah, membantu meningkatkan produksi tanaman, meningkatkan kualitas tanaman seperti protein kasar ( Novizan, 2001).

Pupuk organik cair memberikan beberapa keuntungan, misalnya dapat disiramkan atau disemprotkan ke daerah akar dan keseluruh bagian tanaman. Sehingga proses penyiraman atau penyemprotan dapat menjaga kelembaban tanah. Penggunaan pupuk organik cair dalam pemupukan jelas lebih merata, dimana tidak akan terjadi penumpukan konsentrasi pupuk pada satu tempat. Hal ini disebabkan karena pupuk organik cair 100 persen akan larut, sehingga secara cepat dapat mengatasi defisiensi hara dan tidak bermasalah dalam pencucian hara dan juga mampu menyediakan hara bagi tanaman secara cepat (Musnamar, 2005).

(27)

bioaktivator untuk pengayaan unsur hara dalam tanah. Pupuk organik bisa berasal dari kotoran-kotoran ternak seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, itik dan limbah- limbah pertanian seperti dedaunan, jerami, batang jagung, sekam padi. Jadi, biaya pembuatan relatif murah, bahkan tersedia di pedesaan dalam jumlah cukup. Pada dasarnya, pembuatan pupuk organik cair juga dimaksudkan untuk pengayaan unsur hara dalam pupuk tersebut (Sarief, 1986).

Pupuk organik memiliki kelebihan dibanding dengan pupuk anorganik, diantaranya adalah a) Berfungsi sebagai granulator sehingga dapat memperbaiki struktur tanah, b) Daya serap tanah terhadap air dapat meningkat dengan pemberian pupuk organik karena dapat mengikat air lebih banyak dan lebih lama, c) Pupuk organik dapt menigkatkan kondisi kehidupan di dalam tanah, d) Unsur hara di dalam pupuk organik merupakan sumber makanan bagi tanaman, e) Pupuk organik merupakan sumber unsur hara N, P, dan K (Sutejo, 2002).

Manure Ayam

(28)

Produk samping usaha peternakan ayam adalah manure ayam. Manure ayam terdiri dari sisa-sisa pakan dan serat selulosa yang sulit tercerna, namun mengandung protein, karbohidrat, lemak dan senyawa organik lainnya. Protein pada kotoran ayam merupakan sumber nitrogen bentuk organik dan anorganik. Penumpukan unsur nitrogen dan sulfide yang terkandung dalam manure ayam terjadi dalam proses anaerob. Dekomposisi oleh mikroorganisme terbentuk gas ammonia, nitrat dan nitrit serta gas sulfide, dan gas-gas inilah yang menyebabkan timbulnya bau (Stevenson, 1994).

Dalam dunia pupuk kandang dikenal dengan istilah pupuk panas dan pupuk dingin, pupuk panas adalah pupuk yang proses penguraiannya oleh jasad renik tanah berlangsung cepat sehingga terbentuk panas, pupuk panas ini mudah menguap karena bahan organik tidak terurai secara sempurna dan banyak berubah menjadi gas, yang tergolong pupuk panas adalah manure ayam, sehingga pupuk kandang memerlukan proses penguraian. Kualitas pupuk kandang ditentukan oleh C/N rasio yang ideal sehingga mikroorganisme dapat menyelesaikan proses penguraian dengan baik. Pupuk panas baik digunakan pada tanah seperti tanah liat. Pupuk dingin adalah pupuk kandang yang penguraiannya berjalan secara perlahan sehingga tidak terbentuk panas sapi dan kerbau (Kartadisastra, 2001).

(29)

Pupuk kandang merupakan kotoran padat dan cair dari hewan ternak baik ternak ruminansia ataupun ternak unggas. Sebenarnya, keunggulan pupuk kandang tidak terletak pada kandungan unsur hara karena sesungguhnya pupuk kandang memiliki kandungan hara yang rendah. Kelebihannya adalah pupuk kandang dapat meningkatkan humus, memperbaiki struktur tanah, dan meningkatkan kehidupan mikroorganisme pengurai yang berguna sebagai dekomposer (Widodo et al., 2007.).

Penggunaan pupuk alam sebagai sumber hara tanaman adalah bahwa tingkat aplikasi biasanya didasarkan pada kebutunan N tanaman tersebut. Karena beberapa pupuk alam mempunyai cukup banyak P sebagaimana N yang terkandung dalam pupuk alam tersebut, sehingga dapat menambah kandungan P tanah. Sebagai contoh manure ternak ayam broiler dapat mengandung kira-kira 25 kg N dan P dan kira-kira 20 kg K per ton (Setiawan, 2012).

Tabel 1 . Kandungan zat hara beberapa kotoran ternak padat dan cair Nama

(30)

Menurut Harada et al., (1993), kualitas yang harus dipenuhi dalam penggunaan pupuk organik limbah peternakan terdiri dari tiga aspek, yaitu (a) kenyamanan dalam penanganan, yang meliputi; kelembaban isinya memadai, baunya tidak menjijikan dan aman bagi kesehatan, (b) keamanan bagi tumbuhan dan tanah, yang meliputi: bahan organik mudah terdekomposisi, imbangan C/N lebih rendah dari pada C/N tanah, tidak mengandung elemen berbahaya dan tidak mengandung tumbuhan patogen, (c) keefektifan dalam menumbuhkan tanaman, meliputi : kandungan nutrien yang tinggi, efektif dalam memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah serta meningkatkan aktivitas biologi dalam tanah. Kualitas pupuk organik harus memenuhi standar mutu atau persyaratan teknis minimal pupuk organik. Persyaratan teknis minimal pupuk organik dapat dilihat pada tabel 2 dibawah.

Tabel 3. Persyaratan teknis minimal pupuk organik

No. Parameter Satuan Kandungan

Padat Cair

(31)

efektif dalam memfermentasikan dan menguraikan bahan organik. Secara global terdapat beberapa golongan mikroorganisme dalam bioaktivator, yaitu bakteri fotosintetik, Lactobacillus sp, Ptomycetes sp, Ragi (yeast), dan Actinomycetes (Wididana dan Higa, 1993).

Bakteri fotosintetik merupakan bakteri bebas yang dapat sintesis senyawa nitrogen, gula, dan substansi bioaktif lainnya. Metabolir yang diproduksi dapat diserap secara langsung oleh tanaman dan tersedia sebagai substrat untuk perkembangbiakan mikroorganisme yang menguntungkan. Lactobacillus sp. bakteri ini memproduksi asam laktat sebagai hasil penguraian dan karbohidrat lain yang bekerja sama dengan bakteri sintesis dan ragi. Asam laktat ini merupakan bahan sterilisasi kuat yang dapat menekan mikroorganisme berbahaya dan menguraikan bahan organik dengan cepat. Strepcomycetes sp., Strepcomycetes sp. mampu memproduksi enzim streptomisin bersifat racun terhadap hama dan penyakit yang merugikan. Ragi (yeast) Ragi memproduksi substansi yang berguna bagi tanaman dengan cara fermentasi. Substansi bioaktif yang dihasilkan oleh ragi berguna untuk pembelahan sel dan pembelahan akar. Ragi ini juga ukuran dalam perkembangan atau pembelahan mikroorganisme menguntungkan lain, seperti acninomycetes dan bakteri asam. Acninomycetes merupakan organisme peralihan

(32)

Ada beberapa cara untuk mempercepat proses dekomposisi yaitu secara fisik, biologi dan kimia. perlakuan fisik dengan pembalikan dan penyiraman air pada tumpukan kompos dapat mempercepat pengomposan. perlakuan kimia dengan pemberian nitrogen pada bahan kompos dapat mempercepat pengomposan (Barrow, 1992).

MOD (Micro-Organisme Decomposer)

MOD (Micro-organisme Decomposer) mikroba pengurai atau di kenal juga dengan nama mikroba dekomposer, yaitu sejenis mikroba yang bertindak terlebih dalam sistem pengomposan, terlebih dalam mengurai atau memecah material organik. Dalam sistem pembuatan kompos peran mikroba dekomposer sangatlah utama, terlebih untuk memecah dinding selulose tanaman atau bahan organik yang bakal dikompos. Selolose adalah penyusun paling utama dinding sel tanaman, yang ada berbentuk terikat dengan polisakarida lain, seperti hemiselulose, pektin, serta lignin (BBPPTP, 2015).

MOD (Micro-organisme Decomposer), di dalamnya terkandung 7 bakteri pembusuk dan 1 bakteri hidup di dalam air. Kandungan MOD terdiri dari bakteri Azotobacter, Bacillus, Nitrosomonas, Nitrobacter, Pseudomonas, Cytophaga,

Sporocytophaga, Microcococcus, Actinomycetes, dan Streptomyces. Kandungan

MOD 71 juga terdiri dari jamur Trichoderma sp, Aspergillus, Gliocladium, dan Penicilium (BBPPTP, 2015).

(33)

Trichoderma spp., Aspergillus niger dan Metarhizium anisopliae. Bahan organik

yang dicampurkan kedalam tanah dapat difermentasikan oleh Lactobacillus sp, dan mikro organisme yang menghasilkan asam laktat. Hasilnya seperti alkohol, asam amino, asam laktat, dan material organik lainnya dapat langsung diserap akar tanaman untuk proses metabolismenya (Mercedes, 2008).

Selain berfungsi dalam proses fermentasi dan dekomposisi bahan organik, MOD juga bermanfaat dalam memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah, menyediakan unsur hara yang diperlukan tanaman, menyehatkan tanaman,

meningkatkan produksi tanaman dan menjaga kestabilan produksi (Suprat et, al., 2011).

Fermentasi

Fermentasi didefinisikan sebagai pemecahan karbohidrat dan asam amino secara anaerob yaitu tanpa memerlukan oksigen. Senyawa yang dapat dipecah dalam proses fermentasi terutama adalah karbohidrat, sedangkan asam amino dapat difermentasikan oleh beberapa janis bakteri tertentu (Adams, 2000).

Fermentasi merupakan proses biokimia yang menyebabkan perubahan sifat bahan pangan sebagai akibat dari pemecahan kandungan bahan tersebut. Fermentasi adalah proses metabolisme dengan bantuan dari enzim mikrobia (jasad renik) untuk melakukan oksidasi, reduksi, hidrolisa, dan reaksi kimia lainnya, sehingga terjadi perubahan kimia pada suatu substrat organik dengan menghasilkan produk tertantu. (Hardjo et al., 1989).

(34)

mengalami perubahan akibat aktivitas dan perkembangbiakan mikroorganisme selama fermentasi. Melalui fermentasi terjadi pemecahan substrat oleh enzim– enzim tertentu terhadap bahan yang tidak dapat dicerna, misalnya selulosa dan hemiselulosa menjadi gula sederhana (Adams, 2000).

Prinsip Dasar Fermentasi Pupuk Cair Secara Anaerob

Gambar 1. Tempat Pembuatan Pupuk Cair Fermentasi Manure Ayam

Cara pembuatan pupuk cair fermentasi secara anaerob ini tidak jauh berbeda dengan pembuatan biogas atau pembuatan septic tank. Hasil pengomposan anaerob berupa CH4, H2S, H2, CO2, asam asetat, asam butirat, asam

laktat, etanol, methanol dan hasil sampingan berupa lumpur cair inilah yang kita namakan sebagai pupuk cair. Fermentasi secara anaerob yaitu proses fermentasi yang berlangsung tanpa adanya udara atau oksigen. Oleh karena itu pada pelaksanaannya dibutuhkan tempat khusus yang tertutup rapat. (Sarief, 1986).

(35)

berkisar 36-370C mungkin dapat ditiadakan karena suhu ideal dapat tercipta dengan mengatur desain bak fermentasi (Hardjo, 1989).

Jalannya pengomposan secara anerob memakan waktu yaitu 2 minggu, sehingga semua bahan organik dapat terurai. Pada pengomposan anaerob, patogen dapat terbunuh dengan sendirinya karena gas metan yang dihasil dari proses fermentasi dapat meracuni mikroorganisme yang merugikan karena lingkungan yang tidak menguntungkan (tanpa udara) (Sutejo, 2002).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pukan ayam yang dilarutkan dalam air mengandung kadar hara yang cukup tinggi. Kotoran ayam yang masih baru dimasukkan ke karung goni, dibenamkan dalam air dalam sebuah tong bervolume 130 l. Untuk kotoran ayam 10 kg, kadar nitrogen yang terlarut mencapai maksimum dalam waktu 1 minggu, sedangkan bila berat kotoran ayam ditingkatkan menjadi 17,5 dan 25 kg proses pelarutan nitrogen memakan waktu 3 minggu dengan kadar nitrogen yang terlarut lebih rendah. Semakin tinggi konsentrasi kotoran ayam yang dilarutkan maka kadar N semakin rendah (Matarirano, 1994).

Mekanisme Pupuk Akar

(36)

permukaan akar dan koloid tanah. Difusi merupakan mekanisme transpor aktif dan merupakan transpor masuknya ion ke dalam outer space/free space (ruang luar dari akar) yaitu pada dinding epidermis dan sel korteks dari akar dan dalam film air yang melapisi rongga interseluler terjadinya proses difusi dikarenakan akibat perbedaan konsentrasi antara permukaan air dan larutan tanah. Mekanisme yang ketiga yaitu kegiatan carrier merupakan transport aktif yang terjadi dalam inner space. Transport ini sifatnya selektif dalam absorbs ion dengan demikian melalui mekanisme ini, tanaman sebenarnya memiliki kemampuan untuk memilih unsur yang dibutuhkan dan yang berbahaya dapat disaring untuk tidak masuk ke dalam tanaman.

Proses Mekanisme Penyerapan Unsur Hara

(37)

Gambar 2. Siklus Nitrogen

Proses perombakan protein menghasil Asam amino yang akan mengalami amonifikasi menjadi gas amoniak, gas amoniak ini akan bereaksi dengan air dan berubah menjadi amonium (NH4+) yang mudah tersedia untuk bakteri dan

tanaman. Apabila kondisi menguntungkan dalam hal ini pada lingkungan terdapat bakteri nitrosomonas dan nitrobakter dengan kondisi suhu yang memungkinkan

bakteri tersebut tumbuh, maka dapat terjadi proses nitrifikasi (Hardjowigeno, 1993).

Nitrifikasi ini melewati dua tahap, yaitu nitrifikasi yang mengubah ammonium (NH4+) menjadi nitrit (NO2-) oleh bakteri nitrosomonas. Kemudian

nitrifikasi yang mengubah nitrit menjadi nitrat (NO3-) oleh bakteri nitrobakter

(38)

Unsur Hara Yang Dibutuhkan Dalam Tanaman

Menurut Siregar (1981), unsur hara yang mempunyai peranan penting terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman yaitu N, P, dan K. Kandungan N pada pupuk urea (CO(NH2)2) sebanyak 46 %. Urea dapat langsung dimanfaatkan

tanaman, tetapi umumnya di dalam tanah akan diubah menjadi ammonium dan nitrat melalui proses amonifikasi dan nitrifikasi oleh bakteri tanah (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004). Suyamto (2010) menambahkan, tanaman menyerap amonium 5-20 kali lebih cepat dibandingkan dengan nitrat. Peranan unsur N dalam tanaman yang terpenting adalah sebagai penyusun atau sebagai bahan dasar protein dan pembentukan klorofil karena itu N mempunyai fungsi membuat bagian-bagian tanaman menjadi lebih hijau, banyak mengandung butir-butir hijau dan yang terpenting dalam proses fotosintesis, mempercepat pertumbuhan tanaman yang dalam hal ini menambah tinggi tanaman dan jumlah anakan, menambah ukuran daun dan menyediakan bahan makanan bagi mikrobia (jasad-jasad renik yang

bekerja menghancurkan bahan-bahan organik di dalam tanah) (Dobermann and Fairhust, 2000).

Unsur hara kalium (K) kegunaan utamanya untuk membantu pembentukan protein dan karbohidrat. Pemberian unsur ini akan memperkuat tanaman sehingga daun, bunga dan buah tidak mudah gugur. Selain itu kalium juga membuat tanaman tahan terhadap kekeringan dan penyakit (Donahue et al., 1997).

(39)

kerontokan. Sulfur (S) berfungsi untuk pembentukan asam amino dan pertumbuhan tunas serta membantu pembentukan bintil akar tanaman, berperan

dalam pembentukan klorofil serta meningkatkan ketahanan terhadap jamur. (Donahue et al., 1997).

Kekurangan nitrogen akan menimbulkan gejala pertumbuhan lambat/kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daun-daun tua cepat menguning dan mati. Klorosis di daun tua dan semakin parah akan terjadi juga pada daun muda. Unsur N pada tanaman padi diperlukan dalam jumlah banyak pada awal dan pertengahan fase anakan untuk memaksimalkan jumlah malai (bunga) (Suyamto, 2010).

Selain N, tanaman juga membutuhkan unsur P dan K dalam jumlah banyak.[ Menurut Dobermann and Fairhust (2000) peranan utama unsur fosfor dalam tanaman untuk pembentukan karbohidrat dan efisiensi mekanisme aktivitas kloroplas serta dalam aktivitas metabolisme. Fosfor berguna untuk merangsang pertumbuhan akar, pertumbuhan tanaman, mempercepat pemasakan sehingga mempercepat masa panen, memperbesar pembentukan anakan dan mendukung pembentukan bunga dan biji.

Tanaman mengambil besi dalam bentuk Fe2+, Fe3+. Peranan Fe dalam

tanaman yaitu mempertahankan klorofil dalam daun, merupakan bagian penting dari hemaglobin, sebagai protein ferredoxin dalam metabolisme seperti fiksasi N2,

(40)

untuk mencegah perubahan dalam klorofil dan berperan penting dalam mengoksidasi enzim (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).

Nitrogen sangat berguna untuk merangsang pertumbuhan daun sedangkan fosfor dan kalium berfungsi untuk merangsang pembuahan. Dengan kata lain, nitrogen diperlukan untuk pertumbuhan vegetative sedangkan kalium dan fosfor Sangat diperlukan untuk pertumbuhan generatif (Parnata, 2004).

HIJAUAN Moringa Oleifera

Makanan hijauan adalah semua bahan makanan yang berasal dari tanaman dalam bentuk daun–daunan. Termasuk kelompok makanan hijauan ini ialah bangsa rumput (graminae), leguminosa dan hijauan dari tumbuh – tumbuhan lain seperti daun nangka, aur, daun waru, dan lain sebagainya. Kelompok makanan hijauan ini biasanya disebut makanan kasar. Hijauan sebagai bahan makanan ternak bisa diberikan dalam dua bentuk, yaitu hijauan segar dan hijauan kering.

- Hijauan segar ialah makanan yang berasal dari hijauan yang diberikan dalam bentuk segar. Termasuk hijauan segar ialah rumput segar, leguminosa segar dan silase.

- Hijauan kering ialah makanan yang berasal dari hijauan yang sengaja dikeringkan (hay) ataupun jerami kering.

- Sebagai makanan ternak, hijauan memegang peranan penting, sebab hijauan mengandung hampir semua zat yang diperlukan hewan.

- Khususnya di Indonesia, bahan makanan hijauan memegang peranan istimewa karena bahan tersebut diberikan dalam jumlah besar.

(41)

Legume merupakan jenis hijauan yang bijinya berkeping dua. Pada umumnya legume mengandung protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan graminae. Pemanfaatan legume sebagai hijauan pakan tidak boleh diremehkan karena ia mampu menyuplai kebutuhan protein ternak. Selain itu, tanaman legum juga banyak memeiliki manfaat lain diantaranya a) sebagai penyubur tanah, b) sebagai penyuplai nitrogen bagi rumput, dan c) sebagai tanaman vegetasi pencegah erosi ( Hasan et al., 2007 )

Deskripsi Tanaman Moringa oleifera

Gambar 3. Legume Pohon Moringa oleifera

Pohon Moringa oleifera dapat ditemukan tumbuh secara alami pada ketinggian hingga 1.000 m di atas permukaan laut. Dapat tumbuh dengan baik di lereng bukit, tetapi lebih sering ditemukan tumbuh di padang rumput atau di daerah aliran sungai. Moringa oleifera merupakan pohon yang dapat tumbuh dengan cepat. Moringa oleifera ditemukan dapat tumbuh 6-7 m dalam satu tahun

di daerah yang curah hujannya kurang dari 400 mm. Sebagai tanaman non-budidaya, Kelor dikenal dengan ketahanannya terhadap kekeringan dan

(42)

Kelor (Moringa oleifera) tumbuh dalam bentuk pohon, berumur panjang (perenial) dengan tinggi 7-12 m. Batang berkayu (lignosus), tegak, berwarna putih kotor, kulit tipis, permukaan kasar. Percabangan simpodial, arah cabang tegak atau miring, cenderung tumbuh lurus dan memanjang. Daun majemuk, bertangkai panjang, tersusun berseling (alternate), beranak daun gasal (imparipinnatus), helai daun saat muda berwarna hijau muda, setelah dewasa hijau tua bentuk helai daun bulat telur, panjang 1-2 cm, lebar 1-2 cm, tipis lemas, ujung dan pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, susunan pertulangan menyirip (pinnate), permukaan atas dan bawah halus. Bunga muncul di ketiak daun (axillaris), bertangkai panjang, kelopak berwarna putih agak krem, menebar aroma khas. Buah Moringa oleifera berbentuk panjang bersegi tiga, panjang 20-60 cm, buah muda berwarna hijau setelah tua menjadi cokelat, bentuk biji bulat berwarna coklat kehitaman, berbuah setelah berumur 12-18 bulan. Akar tunggang berwarna putih, membesar seperti lobak. Perbanyakan bisa secara generatif (biji) maupun vegetatif (stek batang). Tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai di ketinggian ± 1000 m dpl, banyak ditanam sebagai tapal batas atau pagar di halaman rumah atau lading (Anwar et al., 2007).

Klasifikasi Moringa oleifera

(43)

Syarat Tumbuh

Tanaman Kelor (Moringa oleifera) tidak hanya dapat tumbuh dan berkembang di India dan Indonesia saja, tetapi juga di berbagai kawasan tropis lainnya di dunia. Moringa oleifera dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 meter di atas permukaan laut. Karena tanaman Moringa oleifera merupakan leguminosa, maka bagus ditanam secara tumpang sari dengan tanaman lain karena dapat menambah unsur nitrogen dan lahan (Anonimous, 2007).

Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Celawan Kabupaten Serdang Bedagai dengan jenis tanah ultisol. Ultisol adalah tanah dengan horizon argilik bersifat masam dengan kejenuhan basa rendah. Kejenuhan basa pada kedalaman 1,8 m dari permukaan tanah kurang dari 35%. Ultisol hanya ditemukan di daerah- daerah dengan suhu tanah rata-rata lebih dari 80C. Tanah ini umumnya berkembang dari bahan induk tua. Di Indonesia banyak ditemukan di daerah dengan bahan induk batuan liat. Tanah ini merupakan bagian yang terluas dari lahan kering di Indonesia. Terdapat tersebar di Daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya. Problema tanah ini adalah reaksi masam, kadar Al tinggi sehingga menjadi racun tanaman dan menyebabkan fiksasi P, unsur hara rendah, Sehingga diperlukan tindakan pengapuran dan pemupukan.

Salah satu sifat yang menguntungkan untuk membudidayakan pohon Moringa oleifera yang sudah diketahui sejak lama, yaitu minimnya penggunaan

(44)

lama berkecimpung, diketahui bahwa pemupukan yang baik adalah berasal dari pupuk organik, khususnya berasal dari kacang-kacangan (misal kacang hijau, kacang kedelai ataupun kacang panjang) yang ditanamkan sekitar pohon Moringa oleifera (Winarno, 2003).

Secara umum, parameter lingkungan yang dibutuhkan tanaman Moringa oleifera untuk tumbuh dengan baik adalah :

Iklim : Tropis atau sub-Tropis Ketinggian : 0 - 2000 meter dpl Suhu : 25 – 35 °C

Curah Hujan : 250 mm – 2000 mm per tahun. Type tanah : berpasir atau lempung berpasir PH Tanah : 5 – 9

Irigasi yang baik diperlukan jika curah hujan kurang dari 800 mm (Fuglie, 2001).

Moringa oleifera sangat mudah ditanam baik dengan menggunakan stek

maupun biji. Penanaman dengan stek merupakan praktek yang paling umum dilakukan sesuai dengan fungsinya sebagai batas tanah, pagar hidup ataupun batang perambat. Perbanyakan dengan stek cenderung memberikan produksi biomas yang lebih banyak karena tanaman cenderung menghasilkan banyak cabang yang rimbun sedangkan perbanyakan dengan biji menyebabkan tanaman cenderung tumbuh keatas dengan batang utama dan percabangan yang sedikit (Hausteen, 2005).

(45)

Penanaman dengan batang stek yang pendek dapat dilakukan pada pekarangan rumah, namun untuk kebun diperlukan batang yang tinggi untuk melindungi tanaman dari ternak. Batang stek yang digunakan sebaiknya berasal dari tanaman yang sehat dan berumur lebih dari enam bulan. Semakin besar lingkaran batang stek semakin besar peluangnya untuk hidup (Fahey, 2005).

Kandungan Nutrisi Moringa oleifera

Leguminosa Moringa oleifera kerana tingkat kemampuan memproduksi hijauan yang cukup tinggi. Kemampuan produksi biomassa mencapai 4,2 – 8,3 ton bahan kering/ha pada interval pemotongan 40 hari. Kandungan protein daun berkisar 19,3 –26,4% (Makkar dan Becker, 1996). Sehingga Moringa oleifera dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pakan baru terutama untuk ternak ruminansia. Apalagi kandungan nutrisi kelor tidak kalah dengan jenis tanaman hijauan legume pohon yang banyak digunakan sebagai pakan ternak seperti Gamal (Glircidia sepium), Lamtoro (Leucaena leucocephala) dan Turi (Sesbania grandiflora). Selain itu beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kelor

mempunyai kandungan asam amino yang lengkap, vitamin yang lengkap dan dengan kandungan mineral yang tinggi (Agustina, 2004).

Tabel 4. Kandungan nutrisi tepung moringa oleifera berdasarkan (% BK)

Komposisi Kandungan

Protein kasar (%) 26,61

Lemak kasar (%) 7,48

Serat kasar (%) 8,98

Abu (%) 10,13

Energi metabolis (Kkal/kg) 1318,20

(46)

Moringa oleifera mempunyai kandungan asam amino yang lengkap,

mengandung 18 asam amino yang terdiri dari semua (delapan) asam amino esensial dan 10 asam amino nonesensial, yaitu : Isoleusin, Leusin, Lisin, Metionin, Fenilalanin, Treonin, Triptofan, Valin (esensial). Alanin, Arginine,

asam aspartat, sistin, Glutamin, Glycine, Histidine, Proline, Serine, Tyrosine

(nonesensial). Mengandung 36 anti-inflamasi alami yang terdiri dari : Vitamin A, Vitamin B1 (Thiamin), Vitamin C, Vitamin E, Arginine, Beta-sitosterol, Caffeoylquinic Acid, Calcium, Chlorophyll, Copper, Cystine, Omega 3, Omega 6,

Omega 9, Fiber, Glutathione, Histidine, Indole Acetic Acid, Indoleacetonitrile,

Isoleucine, Kaempferal, Leucine, Magnesium, Oleic-Acid, Phenylalanine,

Potassium, Quercetin, Rutin, Selenium, Stigmasterol, Sulfur, Tryptophan,

Tyrosine, Zeatin, Zinc. (Guevara et al., 1999).

Pemupukan

Penggunaan pupuk organik biasanya ditujukan untuk memperbaiki sifat fisik, dan biologi tanah. Walaupun kandungan unsur hara dalam pupuk organik relatif lebih kecil dibanding pupuk anorganik namun bila sifat fisik menjadi baik maka sifat kimia tanah pun akan berubah (Sutejo, 1995),.

Tujuan pemupukan ialah meningkatkan pertumbuhan dan mutu hasil. Oleh karena itu, pupuk diberikan pada saat tanaman membutuhkan pupuk agar diperoleh keuntungan yang maksimal (Moenandir, 2004).

(47)

unsur P, sedang rumput tropis lebih peka terhadap pemupukan unsur N. Untuk bisa memperoleh pemupukan yang optimal perlu diketahui unsur hara dalam tanah, keasaman, tekstur tanah, sifat tanah (Prihmatoro, 2004).

Pupuk Organik

Pupuk organik dapat menambah kandungan bahan organik tanah dan memperbaiki sifat fisik maupun biologi tanah. Terhadap tanah, bahan organik dapat meningkatkaan kemantapan agregat, infiltrasi, daya menahan air, meningkatkan jumlah pori makro dan mikro serta merupakan sumber energi bagi kegiatan biologis tanah (Sarief, 1986). Lebih lanjut, pengaruh pupuk tersebut akan lebih berhasil bagi tanaman apabila memperhatikan dosis, macam, dan waktu pemberian (Hardjo, 1989).

(48)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Kondisi tanah di Indonesia yang merupakan negara tropis basah menyebabkan terjadinya pengikisan unsur hara yang berada pada lapisan top soil. Setiap tahunnya terjadi pengikisan unsur hara sekitar 50% sehingga setiap tahunnya diperlukan penambahan unsur hara yaitu untuk lahan kering sekitar 10 ton/ha (Rauf, 2010).

Pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan, dan manusia. Pupuk organik dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Pupuk organik mengandung banyak bahan organik dari pada kadar haranya (Wikipedia, 2012).

Pupuk organik memiliki kelebihan dibanding dengan pupuk anorganik, diantaranya adalah a) Berfungsi sebagai granulator sehingga dapat memperbaiki struktur tanah, b) Daya serap tanah terhadap air dapat meningkat dengan pemberian pupuk organik karena dapat mengikat air lebih banyak dan lebih lama, c) Pupuk organik dapat meningkatkan kondisi kehidupan di dalam tanah, d) Unsur hara di dalam pupuk organik merupakan sumber makanan bagi tanaman, e) Pupuk organik merupakan sumber unsur hara N, P dan K (Prihmantoro, 2004).

(49)

karbon organik sekitar 2,5%. Pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian baik kualitas maupun kuantitas, mengurangi pencemaran lingkungan dan meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan (Fariz, 2012).

Pemanfaatan manure ayam merupakan salah satu alternatif yang sangat tepat untuk mengatasi kelangkaan dan naiknya harga pupuk. Sampai saat ini pemanfaatan manure ayam sebagai pupuk belum dilakukan petani secara optimal. Pupuk kandang yang berasal dari manure ayam broiler mengandung nitrogen dan

fosfor yang lebih tinggi dibandingkan pupuk kandang lainnya (Donahue et al,. 1997).

Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran hewan yang sering dipelihara oleh masyarakat, seperti kotoran kambing, sapi, domba, dan ayam.Pupuk kandang mengandung unsur hara makro yaitu fosfor, nitrogen, dan kalium. Unsur hara mikro yang terkandung dalam pupuk kandang di antaranya kalsium, magnesium, belerang, natrium, besi, tembaga, dan molibdenum dan unsur tersebut syarat yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman (Distan, 2011).

(50)

cm. Bunga kelor muncul di ketiak daun, beraroma khas dan berwarna putih kekuning-kuningan. Buah kelor berbentuk segitiga, dengan panjang sekitar 20-60 cm dan berwarna hijau. Kelor berakar tunggang, berwarna putih, berbentuk seperti lobak, berbau tajam dan berasa pedas (Tilong, 2012).

Tanaman kelor pada umumnya memiliki fase pertumbuhan yang sama dengan tanaman lainnya yaitu fase vegetatif dan generatif. Tanaman kelor memiliki pertumbuhan tanaman yang lumayan cepat pada pertumbuhan vegetatif dengan menggunakan stek saat umur 60 hst memiliki kecepatan tumbuh 20-50 cm per 2 minggu apabila unsur hara yang dibutuhkan terpenuhi sehingga fotosintesis berjalan dengan lancar dan hasil fotosintesis digunakan untuk perkembangan dan pertumbuhan tanaman seperti penambahan ukuran panjang

atau tinggi tanaman, pembentukan tangkai dan daun baru (Bukcman and Brady, 1982).

Kelor (Moringa oleifera) memiliki tingkat kemampuan memproduksi hijauan yang cukup tinggi. Kemampuan produksi biomassa mencapai 4,2–8,3 ton bahan kering/ha. Kandungan protein daun berkisar 19,3–26,4%. Sehingga Moringa oleifera dapat dijadikan sebagai salah satu sumber pakan baru terutama

untuk ternak ruminansia Moringa oleifera mempunyai kandungan asam amino yang lengkap. Mengandung 18 asam amino yang terdiri dari (delapan) asam amino esensial dan 10 asam amino nonesensial (Makkar dan Becker, 1996).

(51)

Menurut hasil penelitian Osfar Sjofjan (2008), tentang efek penggunaan tepung daun kelor (moringa oleifera) dalam pakan terhadap penampilan produksi ayam pedaging dengan level sebesar 0% (P0); 2,5% (P1); 5,0% (P2); 7,5% (P3) dan 10% (P4) hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera) dalam pakan tidak memberikan peningkatan terhadap konsumsi pakan, pertambahan bobot hidup, konversi pakan, berat karkas, faktor efisiensi produksi dan Income Over Feed Cost (IOFC). Tetapi pada penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera) sebanyak 10 % dalam pakan tidak memberikan efek negatif terhadap penampilan produksi ayam pedaging dan perlu dilakukan uji coba lebih lanjut penggunaan tepung daun kelor (Moringa oleifera) dengan kandungan lebih dari 10 % dalam pakan terhadap penampilan produksi ayam pedaging.

kelor (Moringa oleifera) diantaranya daun kelor (Moringa oleifera) sebagai anti anemia (Oduro et al, 2008), daun dan batang kelor (Moringa oleifera)

dapat digunakan sebagai penurun tekanan darah tinggi dan obat diabetes (Giridhari et al, 2011), dan kulit dari pohon kelor (Moringa oleifera) sebagai obat

radang usus besar (Fuglie, 1999).

(52)

benzyl isothiocyanate pterygospermin, dan 4-(α-L-rhamnopyranosyloxy) benzylglucosinolate (Fahey, 2005 dan Hsu et al, 2006).

Penelitian ini dilakukan untuk dapat mengetahui pemanfaatan pupuk cair fermentasi dari manure ayam broiler untuk meningkatkan produktivitas tanaman Moringa oleifera.

Tujuan Penelitian

Mengetahui pengaruh pemanfaatan pupuk cair fermentasi dari manure ayam terhadap pertumbuhan Moringa oleifera yang dilihat dari (tinggi tanaman, produksi daun, jumlah daun dan jumlah tangkai daun majemuk).

Hipotesis Penelitian

Pemanfaatan pupuk cair fermentasi dari manure ayam broiler menggunakan MOD (Micro-organisme Decomposer) dengan berbagai dosis akan mempercepat pertumbuhan tanaman Moringa oleifera yang diukur dari tinggi tanaman, produksi daun, jumlah daun dan jumlah tangkai daun majemuk.

Kegunaan Penelitian

(53)

ABSTRAK

FATIHA ULFA, 2016 “Pemanfaatan Pupuk Cair Fermentasi dari Manure Ayam Broiler Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)“. Dibimbing oleh NURZAINAH GINTING dan SAYED UMAR.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pemanfaatan Pupuk Cair Fermentasi dari Manure Ayam Broiler Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)“. Penelitian dilaksanakan di Desa Celawan Kabupaten Serdang Bedagai, SumateraUtara, pada bulan April sampai dengan Agustus 2016 menggunakan 24 buah bibit tanaman Moringa Oleifera. Rancangan yang dipakai dalam penelitian ini adalah rancangan split plot design (petak terbagi). Sumber pupuk yang menjadi plot utamanya jenis pupuk, antara pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD 1 liter/100 liter air (P1) dan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD 2 liter/100 liter air (P2) dan yang menjadi sub plot dosis dengan 3 perlakuan yaitu D1 (166) D2 (250) dan D3 (333) ml/plot, dengan 4 kali pengulangan. Parameter penelitian adalah tinggi tanaman, produksi daun, jumlah tangkai majemuk dan jumlah daun majemuk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pemupukan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD satu liter dan 2 liter per 100 liter air berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap tinggi tanaman, produksi daun, jumlah daun majemuk dan jumlah tangkai daun majemuk.Kesimpulan bahwa penggunaan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan Micro organisme Decomposer (MOD) meningkatkan pertumbuhan Moringa oleifera.

(54)

ABSTRACT

FATIHA ULFA, 2016 " utilizion of Fertilizer Liquid fermentation of manure Broiler Chickens on Plant Growth Moringa (Moringa oleifera)". Under supervised by NURZAINAH GINTING and SAYED UMAR.

The research objective was to examine the utilization of Fertilizer liquid

fermentation of manure Broiler Chickens on Plant Growth Moringa (Moringa oleifera) ". The research was conducted in the village of Celawan

Bedagai Serdang, North Sumatra, in the April to August 2016 using 24 pieces of plant seeds of Moringa oleifera. The design used in this research is the design of split plot design (split plot). Source of fertilizer into a plot main types of fertilizer, the liquid manure fermentation of manure of broilers using mod 1 liter (P1) and liquid fertilizer fermentation of manure of broilers using mod 2 liters (P2) and become sub-plots dose with 3 treatments, D1 (166 ) D2 (250) and D3 (333) ml / plot, with four repetitions. Parameter study were plant height, leaf production, the number of stems compound and the amount of compound leaves.

The results showed that the dose of fertilizer liquid fertilizer manure fermentation broilers using MOD one liter and 2 liter significant effect on plant height and leaf production, the amount of a compound leaf petiole and the amount of compound (P<0,05). The conclusion that the use of liquid manure fermentation of manure of broilers using Micro organisms decomposer (MOD) growth Moringa oleifera.

(55)

PEMANFAATAN PUPUK CAIR FERMENTASI DARI MANURE

AYAM BROILER TERHADAP PERTUMBUHAN

TANAMAN KELOR (Moringa oleifera)

SKRIPSI

FATIHA ULFA 120306069

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(56)

PEMANFAATAN PUPUK CAIR FERMENTASI DARI MANURE

AYAM BROILER TERHADAP PERTUMBUHAN

TANAMAN KELOR (Moringa oleifera)

SKRIPSI

FATIHA ULFA 120306069

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk dapat melaksanakan penelitian di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(57)

Judul Penelitian : Pemanfaatan Pupuk Cair Fermentasi dari Manure Ayam Broiler Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)

Nama : Fatiha Ulfa

Nim : 120306069

Program Studi : Peternakan

Disetujui oleh: Komisi Pembimbing

Dr. Ir. Nurzainah Ginting M.Sc Prof. Dr. Ir. Sayed Umar, Ms. Ketua Anggota

Mengetahui,

Dr.Ir. Ma’ruf Tafsin, M.Si Ketua Program Studi Peternakan

(58)

ABSTRAK

FATIHA ULFA, 2016 “Pemanfaatan Pupuk Cair Fermentasi dari Manure Ayam Broiler Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)“. Dibimbing oleh NURZAINAH GINTING dan SAYED UMAR.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pemanfaatan Pupuk Cair Fermentasi dari Manure Ayam Broiler Terhadap Pertumbuhan Tanaman Kelor (Moringa oleifera)“. Penelitian dilaksanakan di Desa Celawan Kabupaten Serdang Bedagai, SumateraUtara, pada bulan April sampai dengan Agustus 2016 menggunakan 24 buah bibit tanaman Moringa Oleifera. Rancangan yang dipakai dalam penelitian ini adalah rancangan split plot design (petak terbagi). Sumber pupuk yang menjadi plot utamanya jenis pupuk, antara pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD 1 liter/100 liter air (P1) dan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD 2 liter/100 liter air (P2) dan yang menjadi sub plot dosis dengan 3 perlakuan yaitu D1 (166) D2 (250) dan D3 (333) ml/plot, dengan 4 kali pengulangan. Parameter penelitian adalah tinggi tanaman, produksi daun, jumlah tangkai majemuk dan jumlah daun majemuk.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis pemupukan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan MOD satu liter dan 2 liter per 100 liter air berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap tinggi tanaman, produksi daun, jumlah daun majemuk dan jumlah tangkai daun majemuk.Kesimpulan bahwa penggunaan pupuk cair fermentasi manure ayam broiler menggunakan Micro organisme Decomposer (MOD) meningkatkan pertumbuhan Moringa oleifera.

(59)

ABSTRACT

FATIHA ULFA, 2016 " utilizion of Fertilizer Liquid fermentation of manure Broiler Chickens on Plant Growth Moringa (Moringa oleifera)". Under supervised by NURZAINAH GINTING and SAYED UMAR.

The research objective was to examine the utilization of Fertilizer liquid

fermentation of manure Broiler Chickens on Plant Growth Moringa (Moringa oleifera) ". The research was conducted in the village of Celawan

Bedagai Serdang, North Sumatra, in the April to August 2016 using 24 pieces of plant seeds of Moringa oleifera. The design used in this research is the design of split plot design (split plot). Source of fertilizer into a plot main types of fertilizer, the liquid manure fermentation of manure of broilers using mod 1 liter (P1) and liquid fertilizer fermentation of manure of broilers using mod 2 liters (P2) and become sub-plots dose with 3 treatments, D1 (166 ) D2 (250) and D3 (333) ml / plot, with four repetitions. Parameter study were plant height, leaf production, the number of stems compound and the amount of compound leaves.

The results showed that the dose of fertilizer liquid fertilizer manure fermentation broilers using MOD one liter and 2 liter significant effect on plant height and leaf production, the amount of a compound leaf petiole and the amount of compound (P<0,05). The conclusion that the use of liquid manure fermentation of manure of broilers using Micro organisms decomposer (MOD) growth Moringa oleifera.

(60)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat

Provinsi Sumatera Utara pada tanggal 12 April 1993 dari ayah Nurmin dan ibu Suriatmi dan penulis merupakan anak ketujuh dari tujuh bersaudara.

Tahun 2011 penulis lulus dari SMA Negeri 1 Pankalan Susu dan pada tahun 2012 masuk ke Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara melalui jalur ujian tertulis Ujian Masuk Bersama Perguruan Tinggi Negeri (UMBPTN) dan memilih Program Studi Peternakan.

Selama mengikuti perkuliahan penulis aktif sebagai anggota Himpunan Mahasiswa Peternakan (IMAPET) dan Himpunan Mahasiswa Muslim Peternakan (HIMMIP) .

Penulis melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) pada bulan Juli-Agustus 2016 di Pusat Penelitian Kelapa Sawit, Bukit Sentang, Kecamatan

(61)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia_Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pemanfaatan Pupuk Cair Fermentasi manure ayam Broiler menggunakan MOD terhadap pertumbuhan Tanaman kelor (Moringa oleifera)“.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Ir. Nurzainah Ginting, M. Sc dan Prof.Dr.Ir. Seyed Umar, Ms selaku ketua

dan anggota komisi pembimbing yang telah membimbing dan juga penulis mengucapkan terima kasih kepada kedua orang tua penulis yang telah mendidik penulis selama ini.

Disamping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua civitas akademika di Program Studi Peternakan serta semua rekan mahasiswa yang tidak dapat disebutkan satu per satu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

(62)

DAFTAR ISI

Prinsip Dasar Pembuatan Pupuk Cair Secara Anaerob ... 14

(63)

Pelaksanaan penelitian ... 30

Pembuatan pupuk cair fermentasi ... 30

Persiapan Lahan ... 34

Pemupukan ... 34

Penanaman ... 34

Pemeliharaan ... 35

Panen (Pemotongan atau Defoliasi) ... 35

Parameter Penelitian ... 35

Tinggi Tanaman Moringa oleifera ... 35

Rasio Daun dan batang Moringa oleifera ... 36

Jumlah Daun Majemuk Moringa oleifera ... 36

Jumlah Tangkai Daun majemuk Moringa oleifera ... 36

Analisis Data ... 36

HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman Moringa oleifera ... 38

Produksi Daun Moringa oleifera ... 41

Jumlah Daun Majemuk Moringa oleifera ... 44

Jumlah Tangkai Daun Majemuk Moringa oleifera ... 47

KESIMPULAN SARAN Kesimpulan ... 50

Saram ... 50

(64)

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Gambar 4. Proses Pembuatan Pupuk Cair Fermentasi  Manure Ayam
Gambar 5. Proses Pembuatan Pupuk Cair Fermentasi  Manure Ayam
Tabel 6.  Tinggi tanaman Moringa oleifera (cm) Faktor Kedua
Gambar 6. Kurva kalibrasi tinggi tanaman Moringa oleifera
+7

Referensi

Dokumen terkait

Hipotesis dari penelitian ini adalah diduga terjadi interaksi antara jenis pupuk organik cair dengan jenis tanaman, diduga pemberian jenis pupuk organik cair yang mengandung unsur

Pupuk organik cair mengandung unsur hara makro seperti, fosfor, nitrogen, kalium dan unsur hara mikro lainnya yang dibutuhkan oleh tanaman serta dapat memperbaiki unsur

Hal ini disebabkan karena pemberian pupuk organik cair limbah darah sapi ke tanah terdapat kandungan hara yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tinggi tanaman sawi

Cepatnya pemanenan pada kombinasi perlakuan pemberian pupuk pelengkap cair 6 cc/l air dengan pupuk kandang ayam 1,5 kg/plot disebabkan oleh kemampuan pupuk dalam

Setelah proses fermentasi maka pupuk organik cair yang terbuat dari telasut ayam ini mengalami perubahan warna yaitu pada perlakuan (P 1 ) pada hari ke 8

SIMPULAN Penggunaan probiotik cair asal fermentasi BSFL dalam air minum pada penelitian ini tidak mempengaruhi performa ayam broiler dalam meningkatkan pertambahan bobot badan dan

Unsur hara mikro pada unsur hara organik cair limbah kulit nanas yaitu Besi Fe, Mangan Mn, Tembaga Cu, dan Seng Zn Menurut Dhani 2013, menyatakan bahwa kandungan unsur hara yang

Peningkatan konsentrasi pupuk organik cair fermentasi urine sapi akan meningkatkan ketersediaan unsur hara bagi tanaman, sehingga akar lebih banyak menyerap unsur hara terutama kalium