• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hikayat Begerma Cendra

Dalam dokumen Editor Naskah Pecenongan Koleksi Perpus (Halaman 104-108)

Hikayat Begerma Cendra adalah sebuah cerita petualangan dalam bentuk prosa yang terdapat dalam koleksi Muhammad Bakir pada tahun 1888. Hikayat Begerma Cendra terkandung dalam sebuah naskah tunggal yang tersimpan di Perpustakaan Nasional dengan kode ML 239.

Hikayat ini mempunyai kedudukan tersendiri dalam koleksi Muhammad Bakir karena ditandatangani oleh Bakir sendiri (hlm.1) dan beberapa kali disebut dalam naskah lain sebagai salah satu karya yang dapat disewa pada Muhammad Bakir, yaitu betul-betul dianggap sebagai bagian dari taman bacaannya, namun naskah ini satu-satunya dalam koleksi tersebut yang tidak ditulis oleh Muhammad Bakir sendiri. Halaman pertama (hlm. 1), yang berisi judul hikayatnya, tanda tangan Bakir serta dua angka tahun, sebenarnya merupakan tempelan pada halaman pertama yang asli, besar kemungkinan untuk mengganti keterangan yang terkandung dalam halaman asli itu. Seluruh cerita ditulis oleh orang lain, bukan Bakir (gaya tulisannya jelas berbeda), tetapi syair yang terdapat pada akhir cerita (hlm. 264) rupanya ditulis separuh oleh penyalin naskah dan separuhnya lagi (ketiga bait terakhir) oleh Muhammad Bakir.

93

putri bernama Ming Menguri Cindra Laila. Melalui perjuangan dan tantangan yang berat, akhirnya Syah Johan berhasil menikahi Putri Raja Dewa Laksana Dewa.

Suatu ketika, Syah Johan teringat kepada ayahandanya yang setiap tahun harus membayar upeti pada raja kera, Raja Baliya Indra. Seketika itu juga, Syah Johan melanjutkan perjalanan menuju negeri Parju Taksina. Ia singgah di Negeri Biranta Khayrani dan menikah dengan Putri Mangindra Maya. Bersama kedua istrinya, Syah Johan melanjutkan perjalanan ke negeri Parju Taksina. Sesampainya di Padang Tobil, Syah Johan memerintahkan Genta Sura dan Kilat Angkasa memberi tahu bahwa Syah Johan telah menunggu Raja Baliya untuk berperang. Terjadilah peperangan antara bala tentara Syah Johan dan bala tentara Raja Baliya. Akhirnya, Raja Baliya Indra mati di tangan Syah Johan.

Ketika berperang melawan Raja Baliya Indra, Putri Cahaya Khayrani anak raja Bujangga Dewa di kerajaan Gunung Mercu Kemala diam-diam memperhatikan Syah Johan dari angkasa. Syah Johan lalu menikah dengan Putri Cahaya Khayrani.

Pada akhir cerita, Syah Johan kembali ke negeri Biranta Indra dengan ketiga permaisurinya. Ketika mendengar kedatangan Syah Johan, ayahanda Raja Begerma Cendra sangat bersuka cita. Ia memerintahkan segala hulubalang dan rakyatnya menyambut kehadiran putranya.

Naskah

Teks ditulis atas kertas Eropa, berukuran 29,7 × 18,5 cm. Kelihatan dua cap kertas: a) seekor singa berdiri memegang pedang, dalam sebuah bingkai bulat telur ganda, dengan tulisan CONCORDIARESPARVAECRESCUNT di atasnya; b) singkatan nama V d L. Naskah berjumlah 264

halaman. Setiap halaman berisi 30-33 baris.

Teks ditulis dengan menggunakan tinta hitam dan merah (teks ini antara lain berisi sejumlah pantun yang ditulis dengan tinta merah). Tulisan naskah masih jelas terbaca, namun pada hlm. 99-110 terdapat bekas tulisan yang melebar karena kertas dimakan tinta dan berlubang sehingga sulit untuk dibaca.

Penomoran halaman asli menggunakan angka Arab 1-264. Kertas berada dalam keadaan baik karena sudah dikonservasi dengan cara dilaminasi. Pada setiap baris pertama halaman 214-264 sebagian teks telah hilang, terpotong akibat proses penjilidan.

Sejumlah besar pantun disisipkan dalam alur cerita, ditulis dengan tinta merah. Berikut ini contoh tiga pantun pada hlm. 15:

“Anak Siam diam di Jawa Bunga teruntung kembang sembawa Diamlah Tuan diamlah nyawa Sudahlah untung kita berdua Bunga teruntung kembang sembawa Berbuah jatuh di jalan raya Itulah untung kita berdua Remuk mati apakan dia Peti hanyut ke seberang pekan Kala keti di dalam puan Putri yang lain kakanda haramkan Di dalam hati hanyalah Tuan.”

Pada akhir naskah terdapat sebuah syair berisi pesan-pesan kepada pembaca serta anjuran agar mengingat uang sewanya. Inilah ketiga bait pertama (hlm. 264):

“Demikian ini hamba karangkan Main juga Tuan bacakan Jikalau kurang Tuan tambahkan Jikalau lebih Tuan kurangkan Baba dan nonalah biar maklumkan Cerita inilah dihabiskan

Habis dibaca sigera pulangkan Wang sewanya yang baca ingatkan Wang sewanya jangan dilupakan Sehari semalam saya nyatakan Sepuluh sen itu sudah ditentukan Habis dibaca jangan dilalaikan….”

Kolofon

Keterangan berupa judul, tanda tangan Muhammad Bakir, dan tanggal selesai menulis naskah ini terdapat pada hlm. 1, yaitu:

“Ini hikayat namanya Begerma Cendra adanya, 10 Juli 1888, 1305 Hapit, tahun wau”.

95

Katalog

putri bernama Ming Menguri Cindra Laila. Melalui perjuangan dan tantangan yang berat, akhirnya Syah Johan berhasil menikahi Putri Raja Dewa Laksana Dewa.

Suatu ketika, Syah Johan teringat kepada ayahandanya yang setiap tahun harus membayar upeti pada raja kera, Raja Baliya Indra. Seketika itu juga, Syah Johan melanjutkan perjalanan menuju negeri Parju Taksina. Ia singgah di Negeri Biranta Khayrani dan menikah dengan Putri Mangindra Maya. Bersama kedua istrinya, Syah Johan melanjutkan perjalanan ke negeri Parju Taksina. Sesampainya di Padang Tobil, Syah Johan memerintahkan Genta Sura dan Kilat Angkasa memberi tahu bahwa Syah Johan telah menunggu Raja Baliya untuk berperang. Terjadilah peperangan antara bala tentara Syah Johan dan bala tentara Raja Baliya. Akhirnya, Raja Baliya Indra mati di tangan Syah Johan.

Ketika berperang melawan Raja Baliya Indra, Putri Cahaya Khayrani anak raja Bujangga Dewa di kerajaan Gunung Mercu Kemala diam-diam memperhatikan Syah Johan dari angkasa. Syah Johan lalu menikah dengan Putri Cahaya Khayrani.

Pada akhir cerita, Syah Johan kembali ke negeri Biranta Indra dengan ketiga permaisurinya. Ketika mendengar kedatangan Syah Johan, ayahanda Raja Begerma Cendra sangat bersuka cita. Ia memerintahkan segala hulubalang dan rakyatnya menyambut kehadiran putranya.

Naskah

Teks ditulis atas kertas Eropa, berukuran 29,7 × 18,5 cm. Kelihatan dua cap kertas: a) seekor singa berdiri memegang pedang, dalam sebuah bingkai bulat telur ganda, dengan tulisan CONCORDIARESPARVAECRESCUNT di atasnya; b) singkatan nama V d L. Naskah berjumlah 264

halaman. Setiap halaman berisi 30-33 baris.

Teks ditulis dengan menggunakan tinta hitam dan merah (teks ini antara lain berisi sejumlah pantun yang ditulis dengan tinta merah). Tulisan naskah masih jelas terbaca, namun pada hlm. 99-110 terdapat bekas tulisan yang melebar karena kertas dimakan tinta dan berlubang sehingga sulit untuk dibaca.

Penomoran halaman asli menggunakan angka Arab 1-264. Kertas berada dalam keadaan baik karena sudah dikonservasi dengan cara dilaminasi. Pada setiap baris pertama halaman 214-264 sebagian teks telah hilang, terpotong akibat proses penjilidan.

Sejumlah besar pantun disisipkan dalam alur cerita, ditulis dengan tinta merah. Berikut ini contoh tiga pantun pada hlm. 15:

“Anak Siam diam di Jawa Bunga teruntung kembang sembawa Diamlah Tuan diamlah nyawa Sudahlah untung kita berdua Bunga teruntung kembang sembawa Berbuah jatuh di jalan raya Itulah untung kita berdua Remuk mati apakan dia Peti hanyut ke seberang pekan Kala keti di dalam puan Putri yang lain kakanda haramkan Di dalam hati hanyalah Tuan.”

Pada akhir naskah terdapat sebuah syair berisi pesan-pesan kepada pembaca serta anjuran agar mengingat uang sewanya. Inilah ketiga bait pertama (hlm. 264):

“Demikian ini hamba karangkan Main juga Tuan bacakan Jikalau kurang Tuan tambahkan Jikalau lebih Tuan kurangkan Baba dan nonalah biar maklumkan Cerita inilah dihabiskan

Habis dibaca sigera pulangkan Wang sewanya yang baca ingatkan Wang sewanya jangan dilupakan Sehari semalam saya nyatakan Sepuluh sen itu sudah ditentukan Habis dibaca jangan dilalaikan….”

Kolofon

Keterangan berupa judul, tanda tangan Muhammad Bakir, dan tanggal selesai menulis naskah ini terdapat pada hlm. 1, yaitu:

“Ini hikayat namanya Begerma Cendra adanya, 10 Juli 1888, 1305 Hapit, tahun wau”.

95

Katalog

Halaman beriluminasi pada naskah Hikayat Begerma Cendra (hlm. 2 & 3).

Kepustakaan

Naskah Hikayat Begerma Cendra telah dideskripsikan dalam Catalogus van Ronkel (1909:150) dan Katalogus Sutaarga dkk. (1972:105), serta tercatat dalam Katalog Behrend (1998:285). Naskah Hikayat Begerma Cendra ini telah dialihmediakan dalam bentuk mikrofilm dengan nomor rol 659.03.

Hikayat Begerma Cendra pernah diedit oleh Muhammad Jaruki dan Mardiyanto dalam buku Hikayat Bikrama Cindra (Jakarta: Pusat Bahasa, 1993). Sebagian juga diedit oleh Djamaris dkk. dalam Antologi Sastra Indonesia Lama 1 sastra Zaman Peralihan, 1985.

96 Hikayat Begerma Cendra

Estetika Naskah

Dalam naskah ini tidak terdapat gambar ilustrasi, tetapi terdapat gambar iluminasi pada halaman 2 dan 3 berupa berbagai motif, antara lain bunga dan daun, yang diberi kombinasi warna kuning, biru muda, dan hitam.

97

Katalog

Ringkasan Cerita

Dalam dokumen Editor Naskah Pecenongan Koleksi Perpus (Halaman 104-108)