Lakon Jaka Sukara adalah cerita wayang dalam bentuk prosa. Lakon ini terkandung dalam sebuah naskah tunggal yang tersimpan di Perpustakaan Nasional dengan kode ML 246. Naskah ini disalin oleh Muhammad Bakir, tetapi tidak diketahui siapa pengarangnya.
Ringkasan Cerita
Lakon Jaka Sukara berisi cerita peperangan dahsyat antara keluarga Pandawa dan Kurawa. Kisahnya berawal dengan Pendeta Dipa Kusuma yang tinggal di Gunung Indrakila. Ia mempunyai seorang putri bernama Ratna Sari yang sangat merindukan Arjuna. Untuk memenuhi keinginan putrinya, Pendeta Dipa Kusuma mengubah dirinya menjadi seekor burung perkutut, lalu terbang mencari Arjuna. Ia berhasil mendapatkan Arjuna, lalu mengawinkannya dengan Ratna Sari. Ratna Sari kemudian melahirkan seorang putra bernama Raden Putra Jaka Tilangin.
Selanjutnya, Arjuna bertapa di Gunung Pakembangan. Di gunung itu ia bertemu dengan Pendeta Buyut Kusuma, yang mempunyai anak bernama Ratna Sari. Ia lalu kawin dengan Ratna Sari dan dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Raden Bambang Sukara.
Dikisahkan bahwa Raja Parwa Kusuma dari negeri Karang Kencana akan menyelenggarakan sayembara untuk memilih calon suami bagi putrinya, Birantawati. Raja- raja yang melamar amat banyak. Pendeta Durna datang meminang untuk anak Raja Suyudana bernama Arya Dursasena. Demikian juga, Raja Darmaksusuma dari Amerta mengutus Gatotkaca membawa surat kepada Raja Parwa Kusuma untuk meminangkan putrinya untuk anaknya, Pancawala.
Raden Jaka Tilangin dan Raden Bambang Sukara secara tidak sengaja datang ke negeri Karang Kencana, padahal sebenarnya mereka mencari Pandawa di negeri Amerta untuk menemui ayahnya, Arjuna. Mereka berdua akhirnya terlibat sayembara dengan prajurit Karang Kencana dan raja-raja undangan yang lain.
Sayembara memperebutkan Birantawati berlangsung berbulan-bulan lamanya. Prajurit negeri Karang Kencana menyerah kalah diamuk oleh Gatotkaca, Jaka Tilangin, dan Bambang Sukara. Mereka bertiga menguasai medan peperangan, tetapi akhirnya mati bersama-sama, karena masing-masing tertikam oleh keris saudaranya sendiri. Karena tidak saling mengenal, mereka saling membunuh.
Kayangan menjadi goncang. Batara Narada diutus membawa banyu penguripan atau air kehidupan untuk menghidupkan mereka kembali. Batara Narada memberitahukan bahwa mereka bersaudara. Jaka Tilangin dikawinkan dengan Birantawati.
Dalam perjalanan menemui Pandawa di Amerta, Raden Jaka Tilangin bertemu dengan Arya Dursasena yang mengamuk dan merebut Birantawati, lalu dibawa lari ke Astina. Ketika mendengar kabar bahwa Arya Dursasena menculik isteri Raden Jaka Tilangin, keluarga Pandawa murka. Mereka menyusul ke negeri Astina untuk mengambil kembali Birantawati.
123 Katalog
Perang tidak terhindarkan lagi. Keluarga Astina banyak yang binasa, sebagian dipenjara, kecuali Raja Suyudana dan Pendeta Dorna yang melarikan diri.
Mendengar anak cucunya di Astina dibinasakan, Destarata yang berdiam di kayangan merasa sakit hati. Ia lalu menjelma menjadi Pangeran Jatiwitana. Dengan bantuan Suyudana dan Dorna, ia berhasil menjumpai Semar dan meminta kunci penjara. Keluarga Astina terlepas dari penjara dan peperangan berkobar lagi dengan semakin dahsyat.
Keluarga Pandawa, termasuk Arjuna dan Bima, berhasil ditangkap oleh keluarga Astina. Pandu Dewanata yang berada di kayangan kemudian menjelma menjadi Pangeran Jatiwilaga untuk membantu anak cucunya dari keluarga Pandawa.
Perang yang kian hebat lagi-lagi mengakibatkan kayangan menjadi goncang. Batara Guru mengutus Batara Narada untuk memisahkan mereka yang berperang. Jatiwitana berubah kembali menjadi Destarata dan Jatiwilaga berubah kembali menjadi Pandu Dewanata. Keduanya kemudian saling bermaafan dan berjabat tangan, lalu kembali ke kayangan bersama Batara Narada. Setelah keadaan menjadi tenang, masing-masing kembali ke negaranya.
Naskah
Teks ditulis pada kertas Eropa bergaris, berukuran 31,8 × 19 cm. Naskah berjumlah 96 halaman, masing-masing berisi 34 baris. Teks ditulis dengan menggunakan tinta hitam, yang sudah menjadi cokelat tua. Penomoran halaman asli menggunakan angka Arab 2-95. Kertas mulai berwarna kecokelat-cokelatan, kering, dan getas akibat senyawa lignin dan pengaruh asam pada kertas. Halaman 1-2 sebagian sobek dan terlepas dari kurasnya. Halaman 95-96 juga robek dan patah.
Teks cerita dibagi atas sejumlah paragraf. Terdapat suatu ciri ejaan yang tidak biasa, yakni
banyak kata (Hai, Wa, Adu), yang mengawali suatu ujaran, ditulis dengan dua baris di
atasnya.
Naskah diakhiri dengan sebuah syair (hlm. 96) berisi pesan penulis kepada pembaca. Dalam naskah ini tulisan Muhammad Bakir jelas terbaca, meskipun kecil dan tidak rapi, seolah-olah naskahnya disalin dengan tergesa-gesa. Meskipun demikian, terdapat sejumlah kata yang dicoret dan diperbaiki, sebagai tanda bahwa Muhammad Bakir memperhatikan ketepatan makna perkataannya. Ciri ini kiranya tidak dapat dijadikan petunjuk apakah naskah ini dikarang oleh Muhammad Bakir sendiri atau hanya disalinnya dari karangan
orang lain. Oleh karena itu, patut diperhatikan pernyataan Muhammad Bakir dalam syair
yang terdapat di akhir naskah, bahwa Lakon Jaka Sukara ini betul-betul karangannya sendiri,
sbb.: “Habislah lakon putus ceritera, mengarang ini sangat bersegera, lima belas hari itu antara, mengarang lakon Jaka Sukara. Mengarang ini sangat bercepat, bukunya tipis tulisnya rapat, dikarang cerita apa yang dapat, difardhukan menulis sesempat-sempat. Lima belas hari kami mengarang, tulisannya rapat bukannya jarang, perkataannya janggal lebih dan kurang, mintalah maklum sekalian orang. Sebab menulis tiada bertentu, kapan sempat sembarang waktu, ditentukan dari pukulnya satu, sesempatnya kami waktu di situ. Menulis ini lakonnya wayang, akan ditulis malam dan siang, menulis sampai badan meriang, keluarin wang sewa jangan disayang-sayang. Menulis ini terburu-buru, sebab ceritanya lakon baru, mengarang seperti orang diharu, padahal tiada ada yang suruh. Sebab takut hilang cerita, jadi janggal bahasanya patah, menulis bagai orang terlunta, maka jangan dibuat kata. Anak
Naskah, hlm. 22. Terlihat tulisan M. Bakir yang rapi dan padat. Pada baris ketiga terdapat tiga buah tanda tangan M. Bakir.
Betawi empunya bahasa, adalah gampang adalah susah, maka hamba belon biasa, maka
menulis berkalah-kasah.”
Kolofon
Naskah ini tidak berkolofon, namun mengandung suatu petunjuk tentang kapan disalin, yaitu perkawinan Arjuna dengan putri Dewi Ratna Sari, di bagian awal cerita, dijelaskan terjadi “pada malam Senin 22 Oktober '94” (hlm. 7); ini merupakan cara jenaka yang khas Muhammad Bakir untuk menyiratkan bahwa adegan ini ditulisnya pada tanggal tersebut.
125 Katalog
Perang tidak terhindarkan lagi. Keluarga Astina banyak yang binasa, sebagian dipenjara, kecuali Raja Suyudana dan Pendeta Dorna yang melarikan diri.
Mendengar anak cucunya di Astina dibinasakan, Destarata yang berdiam di kayangan merasa sakit hati. Ia lalu menjelma menjadi Pangeran Jatiwitana. Dengan bantuan Suyudana dan Dorna, ia berhasil menjumpai Semar dan meminta kunci penjara. Keluarga Astina terlepas dari penjara dan peperangan berkobar lagi dengan semakin dahsyat.
Keluarga Pandawa, termasuk Arjuna dan Bima, berhasil ditangkap oleh keluarga Astina. Pandu Dewanata yang berada di kayangan kemudian menjelma menjadi Pangeran Jatiwilaga untuk membantu anak cucunya dari keluarga Pandawa.
Perang yang kian hebat lagi-lagi mengakibatkan kayangan menjadi goncang. Batara Guru mengutus Batara Narada untuk memisahkan mereka yang berperang. Jatiwitana berubah kembali menjadi Destarata dan Jatiwilaga berubah kembali menjadi Pandu Dewanata. Keduanya kemudian saling bermaafan dan berjabat tangan, lalu kembali ke kayangan bersama Batara Narada. Setelah keadaan menjadi tenang, masing-masing kembali ke negaranya.
Naskah
Teks ditulis pada kertas Eropa bergaris, berukuran 31,8 × 19 cm. Naskah berjumlah 96 halaman, masing-masing berisi 34 baris. Teks ditulis dengan menggunakan tinta hitam, yang sudah menjadi cokelat tua. Penomoran halaman asli menggunakan angka Arab 2-95. Kertas mulai berwarna kecokelat-cokelatan, kering, dan getas akibat senyawa lignin dan pengaruh asam pada kertas. Halaman 1-2 sebagian sobek dan terlepas dari kurasnya. Halaman 95-96 juga robek dan patah.
Teks cerita dibagi atas sejumlah paragraf. Terdapat suatu ciri ejaan yang tidak biasa, yakni
banyak kata (Hai, Wa, Adu), yang mengawali suatu ujaran, ditulis dengan dua baris di
atasnya.
Naskah diakhiri dengan sebuah syair (hlm. 96) berisi pesan penulis kepada pembaca. Dalam naskah ini tulisan Muhammad Bakir jelas terbaca, meskipun kecil dan tidak rapi, seolah-olah naskahnya disalin dengan tergesa-gesa. Meskipun demikian, terdapat sejumlah kata yang dicoret dan diperbaiki, sebagai tanda bahwa Muhammad Bakir memperhatikan ketepatan makna perkataannya. Ciri ini kiranya tidak dapat dijadikan petunjuk apakah naskah ini dikarang oleh Muhammad Bakir sendiri atau hanya disalinnya dari karangan
orang lain. Oleh karena itu, patut diperhatikan pernyataan Muhammad Bakir dalam syair
yang terdapat di akhir naskah, bahwa Lakon Jaka Sukara ini betul-betul karangannya sendiri,
sbb.: “Habislah lakon putus ceritera, mengarang ini sangat bersegera, lima belas hari itu antara, mengarang lakon Jaka Sukara. Mengarang ini sangat bercepat, bukunya tipis tulisnya rapat, dikarang cerita apa yang dapat, difardhukan menulis sesempat-sempat. Lima belas hari kami mengarang, tulisannya rapat bukannya jarang, perkataannya janggal lebih dan kurang, mintalah maklum sekalian orang. Sebab menulis tiada bertentu, kapan sempat sembarang waktu, ditentukan dari pukulnya satu, sesempatnya kami waktu di situ. Menulis ini lakonnya wayang, akan ditulis malam dan siang, menulis sampai badan meriang, keluarin wang sewa jangan disayang-sayang. Menulis ini terburu-buru, sebab ceritanya lakon baru, mengarang seperti orang diharu, padahal tiada ada yang suruh. Sebab takut hilang cerita, jadi janggal bahasanya patah, menulis bagai orang terlunta, maka jangan dibuat kata. Anak
Naskah, hlm. 22. Terlihat tulisan M. Bakir yang rapi dan padat. Pada baris ketiga terdapat tiga buah tanda tangan M. Bakir.
Betawi empunya bahasa, adalah gampang adalah susah, maka hamba belon biasa, maka
menulis berkalah-kasah.”
Kolofon
Naskah ini tidak berkolofon, namun mengandung suatu petunjuk tentang kapan disalin, yaitu perkawinan Arjuna dengan putri Dewi Ratna Sari, di bagian awal cerita, dijelaskan terjadi “pada malam Senin 22 Oktober '94” (hlm. 7); ini merupakan cara jenaka yang khas Muhammad Bakir untuk menyiratkan bahwa adegan ini ditulisnya pada tanggal tersebut.
125 Katalog
Estetika Naskah
Tanda tangan Muhammad Bakir beberapa kali dibubuhkan untuk mengawali paragraf baru,
misalnya di hlm. 22 dan 51. Selain itu, kata syahdan dihias menyerupai dedaunan untuk
menunjukkan paragraf baru (hlm. 69).
Kepustakaan
Naskah Lakon Jaka Sukara dideskripsikan dalam Catalogus Van Ronkel (1909: 31) dan
Katalogus Sutaarga dkk. (1972:15), serta tercatat dalam Katalog Behrend (1998: 286).
Naskah Lakon Jaka Sukara ini telah diedit dalam buku Lakon Jaka Sukara oleh Dewaki
Kramadibrata, Depok: Yayasan Naskah Nusantara (Yanassa), 2010. hlm. 51
hlm. 69 hlm. 22