• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG TALAK DALAM KITAB

K. Hikmah Talak

Agama Islam adalah rahmatallil alamin bagi seluruh mahluk di alam semesta ini. Dalam aturan hukumnya Islam tidak pernah memaksakan bahkan bersifat elastis. Maksudnya adalah tidak membebani bagi orang yang nelaksanakannya. Contoh yang paling sederhana adalah tentang hukumnya memakan babi. Tentu saja itu dihukumi haram, namun jika sebab keadaan memaksa dan jika hanya ada daging babi saja di wilyah itu sehingga apabila ia tidak memakan daging babi itu ia akan mati, maka hukum yang semestinya haram menjadi boleh karena utamanya lebih banyak faedah. Begitupila mengenai hukum talak. Meskipun banyak orang yang pada mulanya melakukan pernikahan di dasari atas nama cinta namun terkadang banyak sekali pasangan yang akhirnya memilih perceraian sebagai jalan terakhir dalam persoalan rumah tangga mereka. Islam membolehkan talak karena dinamika kehidupan rumah tangga kadang-kadang menjurus kepada sesuatu yang bertentangan dengan tujuan dibangunnya mahligai rumah tangga itu, dalam keadaan begini kalau dilanjutkan juga akan menimbulkan madharat

kepada kedua belah pihak dan orang disekitarnya. Dalam rangka menolak

madharat yang lebih jauh, lebih baik ditempuh perceraian dalam bentuk talak tersebut. Dengan demikian talak dalam Islam hanyalah untuk suatu tujuan mashlahat (Syarifuddin, 2003:127).

BAB IV

KOMPARASI ANTARA DASAR PEMIKIRAN HAKIM NO

0880/P.dtG/2012/PA.SAL DAN KITAB FATKHUL MU’IN TENTANG PEMBATALAN TALAK BA’DHA DUKHUL

A. Dasar pemikiran Hakim dalam Putusan Pengadilan Agama Salatiga No.0880/P.dtG/2012/PA.SAL

Pada dasarnya dalam Putusannya Hakim melihat dari beberapa segi faktor-faktor untuk menjadikan suatu persoalan tersebut menjadi jelas adanya dalam perkara penetapannya. Dalam perkara No.0880/P.dtG/2012/PA.SAL Hakim menerangkan Putusan ini dilandasi dengan pemikiran yang mengakar, maksudnya dilihat dari persoalannya, bahwa masalah dari si suami dan isteri adalah bermula dari si suami yang tidak lagi serumah dengan istri. Kemudian hubungan keduanya sudah tidak lagi harmonis karena akibat dari pertengkaran yang terjadi diantara keduanya. Klimaknya si suami mengajukan ikrar talak di Pengadilan Agama Salatiga.

Dalam persidangan Hakim menghadapi suatu permasalahan yakni pertama terletak pada saksi yang diajukan oleh pihak Pemohon (Suami), saksi yang diajukan oleh suami di pandang Hakim kurang memenuhi kriteria syarat sebagai saksi karena Hakim menganggap bahwa terjadi perbedaan keterangan atau jawaban antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan jawaban tersebut adalah mengenai waktu berapa lama si suami pergi meninggalkan rumah. Dasar yang di gunakan Hakim dalam hal ini adalah Pasal 169, dan Pasal 170 HIR yang menyatakan tentang kriteria syarat yang harus di penuhi oleh saksi.

testis nullus testis) dan terdapat perbedaan jawaban mengenai saksi tersebut maka hakim memandang bahwa sakai-saksi yang diajukan oleh Pemohon kurang memenuhi kriteria sebagaimana mestinya sesuai dengan Pasal 169, 170 HIR tentang syarat formal saksi.

Alasan yang kedua yaitu bahwa Pemohon (Suami) dianggap hakim tidak dapat membuktikan dalil Permohonannya.

Dan alasan yang ketiga adalah pengakuan dari si isteri bahwa selama dalam proses persidangan berlangsung si suami dan isteri telah melakukan dukhul, dan tidak ada paksaan dari kedua belah pihak. Untuk itu Hakim menyimpulkan bahwa Dukhul yang dilakukan mereka menunjukan telah terjadi kerukunan kembali antara keduanya (suami dan isteri) sehingga tidak dapat dibuktikan oleh Pemohon (suami) tentang alasan perceraian yang terjadi diantara mereka. Seperti penjelasan dalam Pasal 19 PP No 9 tahun 1975 tentang alasan-alasan perceraian. Yaitu:

Pasal 19

Perceraian dapat terjadi karena alasan sebagagai berikut:

a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi, dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;

b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya.

c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiyaan berat yang membahayakan pihak yang lain;

e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami isteri;

f. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan rukun lagi dalam rumah tangga.

Karena tidak terbukti dalam persidangan tentang alasan-alasan perceraian yang terjadi diantara keduanya. Dan sesuai dengan fakta hukum di atas, maka Majelis berpendapat bahwa Permohonan Pemohon tidak terbukti dan oleh karena belum terpenuhinya kekuatan Pasal 22 ayat (2) PP No 9 Tahun 1975 Maka Hakim memutuskan untuk menolak Permohonan Pemohon untuk menjatuhkan ikrar talak. Pasal 22 ayat (2) PP No 9 Tahun 1975 :

Pasal 22

(1) Gugatan perceraian karena alasan tersebut dalam Pasal 19 huruf, diajukan kepada Pengadilan di tempat kediaman tergugat.

(2) Gugatan tersebut dalam ayat (1) dapat diterima apabila telah cukup jelas bagi Pengadilan mengenai sebab-sebab perselisihan dan pertengkaran itu dan setelah mendengar pihak keluarga serta orang-orang yang dekat dengan suami-isteri tersebut.

Pasal 19 f adalah berisi tentang alasan-alasan Perceraian, dalam hal ini juga bertentangan dengan Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang menurut ketentuan Pasal 122 Kompilasi Hukum Islam hal tersebut termasuk kategori

talak Bid‟iy dan talak yang tidak diperbolehkan.

Pasal 122

Talak Bid‟iy adalah talak yang tidak dibolehkan yaitu talak yang dijatuhkan pada waktu isteri dalam keadaan haid atau isteri dalam keadaan suci tapi dicampuri dalam waktu suci tersebut.

Jadi dalam Putusannya hakim mengambil dasar hukum yang jelas, dan bersifat tetap. Bahwa talak bid‟iy adalah termasuk kategori talak yang tidak

diperbolehkan dalam ranah ruang lingkup Hukum Perkawinan di Indonesia. Jika suami masih tetap kukuh untuk tetap bercerai maka alasan-alasan yang di

tidak boleh sama dengan alasan yang diajukan pertama kali di Pengadilan Agama.

Namun berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh Penulis dengan Hakim lain maksudnya Hakim yang tidak menangani Putusan No 0880/P.dtG/2012/PA.SAL tersebut menjelaskan bahwa perkara dukhul dalam proses sidang ikrar talak adalah tidak dapat membatalkan ikrar talak tersebut. Namun hanya menunda ikrar talak tersebut dengan menunggu selama 6 (enam) bulan apakah hasil dari proses dukhul tersebut menjadi janin atau tidak. Jika menjadi janin maka langsung bisa dapat dilanjutkan sidangnya, alasannya adalah karena jelasnya masa iddah bagi si isteri yang ditalak ketika hamil, yakni iddahnya sampai ia melahirkan. Namun, jika kurun waktu 6 (enam) bulan suami tidak mengajukan kembali atau tidak meneruskan kasusnya dalam perkara ikrar talak maka Hakim juga akan memutuskan untuk membatalakan izin untuk mengucapkan ikrar talak dan ikatan Perkawinannya dianggap tetap utuh. Hal ini berdasarkan Kompilasi Hukum Islam (KHI) Pasal 131 yang menyebutkan:

Pasal 131

Bila suami tidak mengucapkan ikrar talak dalam waktu 6 (enam) bulan terhitung sejak Putusan Pengadilan Agama tentang izin ikrar talak baginya mempunyai kekuatan hukum yang tetap maka hak suami untuk mengikrarkan talak gugur dan ikatan perkawinannya tetap utuh.

B. Dukhul sebagai alasan pembatalan ikrar talak menurut kitab Fatkhul Mu’in yaitu:

ِِّٝعْذِجٌْبَو ، ٌَاَشَز َْٚا

-

ٍض َِٛعَلاِث ٍطٌ١َز ِْٛسَٔ ِٝف بَِٙث ٍي ُْٛخْذَِ ُقَلاَغ َُٛ٘ َٚ

َِِٓ بَ٘ َس َْٚد ِف َْٛزْغَ٠ ٌَُْ َِْٓ ِق ِلاَطَو َٚ . _ِْٗ١ِف بََٙعَِبَخ ٍشُْٙغ ِٝف َْٚا بََْٕٙع

.ِس ْسِ ْلَا َِِٓ ِْبَِ ْش ِسٌْا ِذْصَمِث ِطْ٠ ِشٌَّْا ِقَلاَطَو َٚ ، ُِْغَمٌْا

Maksudnya adalah haram sebagaimana talak bid‟iy, yaitu talak isteri

yang pernah disetubuhi yang di jatuhkan pada waktu semacam haid dengan tanpa ada tebusan dari isteri tersebut, atau pada waktu suci yang disetubuhi dalam keadaan suci, hal ini sebagaimana mentalak isteri yang belum pernah menikmati gilirannya, dan sebagaimana talak yang dijatuhkan oleh suami dalam keadaan sakit dengan maksud

mengahalangi pewarisan”. (Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Mulyabari, t.t: 112)

Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa talak bid‟iy adalah dihukumi haram. Jika seorang suami yang menjatuhkan ikrar talak kepada isteri (atas keinginan isteri/cerai gugat) yaitu seperti mentalak isteri dalam keadaan haid namun tidak ada tebusan dari pihak isteri (iwadh). Maksudnya adalah seorang suami yang mentalak isteri dalam keadaan haid sedang ia (isteri) tidak memberikan iwadh.

Iwadh adalah berupa pemberian uang atau harta dari isteri atas talak yang ia (isteri) inginkan dalam keadaan si isteri sedang haid, pemberian iwadh

adalah menunjukkan kebolehan atau sahnya talak yang dijatuhkan (diajukan) oleh isteri (cerai gugat) dan dengan pemberian iwadh tersebut menunjukkan keadaan suami dan isteri yang langsung pisah seketika. Masalah mengenai

iwadh akan diterangkan dalam penjelasan selanjutnya.

Sedangkan “keadaan pada waktu ia (isteri) suci yang disetubuhi dalam

keadaan suci sedangkan ia di setubuhi dalam keadaan suci tersebut adalah di perumpamakan hukumnya seperti mentalak seorang isteri yang belum pernah menikmati gilirannya. Tentu saja hal ini perlu suatu pemikiran yang mendalam untuk menggambarkan maksud dan tujuan dari mushonnef (pengarang kitab) dalam memahami maknanya.

Dilihat dari maksudnya perumpamaan tersebut menunjukkan kerugian yang akan terjadi pada wanita yang di talak dalam keadaan suci tersebut. Dan dalam firman Allah yang berkenaan dengan persolan di atas terdapat dalam surat Al-Thalak ayat 1 :



















“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan Isteri-isterimu Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar). (maksudnya adalah isteri-isteri itu hendaklah ditalak diwaktu Suci sebelum dicampuri)”

Dan di riwayatkan pula dari Nafi Ibnu Abdullah Ibnu Umar bahwa Abdullah bin Umar telah menceraikan isterinya ketika dalam keadaan haid di zaman Rasullullah masih hidup, lalu Umar bertanya kepada Rasullullah tentang

hal itu, maka Rasullullah menjawab “Perintahkan ia (Abdullah bin Umar)

untuk merujuknya kemudian ia pegang isterinya sampai waktu suci, kemudian berhaid lalu suci lagi, kemudian jika ia mau, ia boleh pegang isterinya setelah itu. Tetapi, jika ia mau mentalak sebelum ia mencampurinya, maka yang demikian itulah iddah yang diperintahkan oleh Allah untuk isteri-isteri (Tihami, 2009: 240).

Namun, para ulama berbeda pendapat tentang jatuh tidaknya talak

bid‟iy itu, yaitu: pendapat madzhab Abu hanifah, Imam Syafi‟i, Imam Maliki, dan Imam Hanbali menyatakan talak bid‟iy walaupun talaknya haram, tetapi hukumnya adalah sah dan talaknya jatuh. Namun, sunnah untuk merujuknya

kembali. Pendapat ini adalah pendapat imam Abu Hanifah dan Syafi‟i. Adapun

Imam Maliki berpendapat bahwa wajib hukumnya untuk merujuknya kembali (Tihami, Sohari.2009: 240 ).

Segolongan ulama lain berpendapat bahwa tidak sah, mereka menolak

memasukkan talak bid‟ah/bid‟iy dalam pengertian talak pada umumnya,

karena talak bid‟iy bukanlah talak yang di izinkan oleh Allah Swt., bahkan

diperintahkan oleh Allah untuk meninggalkanya.

Berhubung mushonnef (pengarang kitab) Fatkhul Mu‟in adalah Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz Mulyabari murid dari ulama Ibnu Hajar

Al-Haitami yang berpedoman pada Madzhab Syafi‟iy tentu pendapat yang

banyak dinukil adalah dari pendapat ulama Syafi‟iy. Maka dari itu dalam

pemahamannya mengenai talak bid‟iy adalah dihukumi sah atau jatuh

talaknya (jika ada iwadh dari isteri untuk suami).

Dan dasar penjelasan yang lebih rinci mengenai pendapat dalam kitab Fatkhul Mu‟in adalah di dalam kitab I‟anatut Thalibinsebagai berikut:

(

مَرَح وا ُهُل ْىَق

ِٝعْذِجٌْا ِقَلاَّطَو َْٜأ ِٝعْذِجٌْ بَو ٌُُٗ َْٛل َٚ ٍت ِخ َٚ ٍََٝع ُفَطَع )

. َِ َشَسٌٍِْ ًُِّثَّر َُٛ٘ َٚ

“perkataan mushonnef, (atau haram) tersebut athof/ bersambung dengan kata

wajib. Dan perkataan mushonnef seperti bid‟iy, maksudnya seperti talak bid‟iy yaitu perumpamaan untuk haram”. (Muhammad Syatha Ar-rumyathi, t.t.: 3)

Dan penjelasan dari kata

بَِٙث ٍي ُْٛخْذَِ ُقَلاَغ َُٛ٘ َٚ

dalam kitab Fatkhul

Mu‟in yang dijelaskan lebih rinci oleh kitab I‟anatut Thalibin adalah sebagai berikut:

َْٚا ِشُثُّذٌا ِٝف ٌَْٛ َٚ ِحَء ُْٛغ َِْٛ َْٜأ بَِٙث ٍي ُْٛخْذَِ ُقَلاغ ٌُُٗ َْٛل َٚ ِٝعْذِجٌْا َْٜأ

بَُٙلَلاَغ َٜأ ِقَلاَطِث ٌكٍَِّعَزُِ ٍطْ١َز ِْٛسَٔ ِٝف ٌُُٗ َْٛل َٚ ََُشَزْسٌُّْا ُُٖءبَِ ٍخٍَ ِخْذَزْغُِ

ٍطْ١َز ِْٛسَٔ ِٝف

ٍظْفََٕو

“Maksudnya talak bid‟iy, dan perkataannya (mushonnef) berupa

mentalak perempuan yang telah didukhulnya (suami), yaitu perempuan yang telah dijimaknya meski pada dubur atau perempuan yang telah dimasuki air mulianya (sperma) suami. Dan perkataannya (mushonnef

„pada waktu haid‟ itu berhubungan dengan kata „talak‟ yaitu

mentalaknya pada waktu halnya haid, seperti nifas”.

Penjelasan disini adalah penjelasan yang lebih spesifik tentang keadaan dan pengertian dari dukhul atau hubungan badan antara suami isteri tersebut. Namun adakalanya harus terdapat penjelasan-penjelasan yang lebih mendalam mengenai batasan-batasan, keadaan, dan posisi ketika dukhul tersebut. Bahwa yang dimaksud dukhul dalam hal ini adalah termasuk keadaan dimana seorang suami menyetubuhi isterinya pada duburnya, hal itu juga merupakan (dukhul). Karena masih ada sebagian orang yang belum mengetahui mengenai kategori batasan dukhul yang dilakukan oleh suami kepada isterinya. Walaupun dalam hal ini isteri dalam keadaan haid tetap itu dinamakan dukhul.

Dan penjelasan mengenai keadaan isteri yang di talak ketika dalam keadaan haid adalah sebagaimana berikut:

ُتَغْسُر َلَ بََِِٙد ُخَ١ِمَث َرِإ ِحَّذِع ِي َْٛطِث بَ٘ ِسُّشَعَزٌِ ِْٗ١ِف ُقَلاَّطٌا ََُشَز َبَِّّٔا َٚ

بَِِْٕٙ

“Haramnya mentalak isteri dalam keadaan haid adalah karena panjangnya waktu iddah bagi si isteri. Sedangkan dalam keadaan haid isteri di talak, maka kondisi haid itu tidak dihitung sebagai masa

Haram disini adalah menjatuhkan talak untuk isteri dalam keadaan haid. namun telah diterangkan sebelumnya bahwa walaupun haram menjatuhkan talaknya, namun talak tersebut tetap di hukumi sah. Dan keadaan isteri yang sedang haid tersebut menjadikan tidak terhitung masa haid itu sebagai masa

iddah. hal itulah yang menyebabkan panjangnya masa iddah bagi isteri jika suami menjatuhkan talaknya dalam keadaan ia (isteri) haid.

Dan penjelasan dari kata

بََْٕٙع ٍض َِٛعَلاِث

dalam kitab I‟anatut Thalibin adalah sebagai berikut:

ْٗ١ِف َُُشْسَ٠ َلاَف بَِِْٕٙ ٍسِدبَص ِض َِٛعث بَُٙلَلاَغ َْبَو َرِا بَِ ِِٗث َجَشَخ َٚ

ذ١َل َٚ ًلَبَز ِق َشِفٌٍِْ بَ٘اشَطظ بِث ُشِعْشُ٠ ِيبٌَّْا بٌَِٙ َزِث َْ ِلِ َهٌَِر َٚ

بًعْ٠َا َُُشْسَ١َف ِٟجَْٕخَأ َِْٓ ا ًسِدبَص ِض َِٛعٌْا َْبَو اَرِإ بَِ ُجُشْخَ١ٌَ بَِِْٕٙ ٌِِٗ َْٛمِث

ِْٗ١ٌَِإ بَ٘ ِسا َشَطْظِا ِطَزْمَ٠ َلَ ُخَعٍَخ َِّْلَ َهٌَِر َٚ ِْٗ١ِف

“Dan dikecualikan ketika mentalaknya perempuan (cerai gugat) tersebut dengan iwadh yang muncul dari perempuan. Maka talak tidak di haramkan pada saat tersebut (haid) hal itu dikarenakan pemberian perempuan (berupa harta) dirasa perempuan dengan keinginan kukuh untuk berpisah/cerai seketika dan mushonnef membatasi dengan

perkataanya berupa „dari perempuan‟ supaya dikecualikan hal ketika

iwadh tersebut muncul dari orang lain. Maka talak pada waktu haid tetap haram. Hal tersebut karena khuluknya orang lain. Tidak menunutut kemungkinan kehendaknya isteri untuk bercerai”.

Maksud dari penjelasan di atas adalah diperbolehkan menjatuhkan talak kepada perempuan yang sedang haid. maksudnya adalah menjatuhkan talak tersebut atas dasar keinginan dari perempuan (isteri) karena memang benar-benar keinginannya kukuh (berkeinginan kuat) untuk bercerai, dengan syarat jika peremuan (isteri) memberikan iwadh (tebusan/berupa harta) yang ia berikan kepada suaminya akibat penjatuhan ikrar talak yang diinginkan oleh perempuan (isteri). dan harta yang diberikan oleh si suami merupakan harta

yang ia (isteri) peroleh sendiri atau benar-benar miliknya, jika iwadh tersebut tidak bersumber darinya (isteri) maka dihukumi tidak sah atau haram. Karena pemberian iwadh tersebut adalah sebagai bukti atas pisah atau rusaknya hubungan suami isteri tersebut.

Karena penulisan ini berkenaan dengan tema talak dan dukhul maka penulis perlu kiranya menjelaskan hal-hal yang ada keterkaitan mengenai persolan tersebut. Penjelasan lebih mendalam mengenai keadaan wanita yang ditalak dalam keadaan hamil namun ia mengeluarkan darah (haid).

ِرَّذِع ًِِِبَز ِطْ١َز ِْٟف َُُشْسَ٠ َلَ ََُّث ِِْٓ َٚ

بَِِْٕٙ ٍضَِٛع َلاِث ٌِِٗ َْٛل َٚ ِعْظٌَْٛبِث بَٙ

ِسِدبَص ِضِٛع َلاِث َْبَو ِْْإ ٍطْ١َز ِْٛسَٔ ِٝف ُقَلاَّطٌا َُُشْسَ٠ َٜأ ِخَِ َشَسٌْا ِٝف ُذِّ١َل

بَِِْٕٙ

“dan di sini talak tidak di haramkan pada saat haidnya orang hamil yang iddahnya sampai melahirkan. Dan perkataanya (mushonnef) tanpa iwadh darinya (perempuan) menjadi batasan dalam keharaman. Maksudnya talak itu haram pada saat halnya haid ketika tanpa iwadh yamg muncul darinya (perempuan)”.

Dalam hal ini, kedudukan wanita yang ingin dijatuhkan talak (cerai gugat) oleh suami namun dalam kondisi ia hamil dan dalam keadaan hamil tersebut ia mengeluarkan darah, maka ia tetap di hukumi sebagaimana wanita yang haid (darahnya di hukumi sebagai darah haid). jadi ia (isteri) tetap harus memberikan iwadh kepada suami. Karena pemberian iwadh adalah penentu atas dasar sah atau tidaknya talak yang dijatuhkan pada wanita yang dalam kondisi haid, walaupun ia sedang hamil dan mengeluarkan darah maka ia tetap diibaratkan seperti wanita yang sedang haid.

Dan penjelasan yang lebih mendalam mengenai haramnya talak yang dijatuhkan pada wanita yang di dukhul :

(

ىِف ْوَأ ُهُل ْىَق

ِرْهَط

ِهْيِف اَهِعِماَج

ُشْ٠ِذْمَزٌِا َٚ ٍطْ١َز ِْٛسَٔ ِٝف ٍََٝع ٌف ُْٛطْعَِ )

َلاَغ َْٚأ ٜأ

َغ ْشَّشٌا َْأ ِٝفْخُ٠ َلَ َٚ ِْٗ١ِف بَُٙعِِبَخ ِشَْٙغ ِٝف بَِٙث ًٍُخْذَِ ُق

ِِٓ َُُِٗلاَو َُُّْٗٙفَ٠ بَِّف بَْٙ١ٍََع ًُُخْذَ٠ ٌَُْ ََْا ًُْجَل بَْٙ١ٍََع ًََخَد ِشُْٙغ ِٝف بَُ٘ؤَغ َٚ

ِخَِ َشَز ًََسُِ ِْإ َُُّث َدا َشَِ َظْ١ٌٍَ ًَْجَل بٙث ًُِخُّذٌا ِغا َشَزْشا

ًَُجْسُر َّْْٓ١ِف َهٌَِر

َذ َشَص ََبَو ِخَِ َشَز َلاَف َّلَِا َٚ بَِٙث ًَََّز ِس َُْٛٙظ ََِذَع َٚ بَِٙعَؤ٠ٚ بَ٘ ِشغَص ََِذَعٌٍِ

.جبٌََّْٕٙا َٓزِ ِٝف ِِٗث

“perkataan mushonnef „atau suci yang mana ia ia telah disetubuhi‟ itu atau „saat halnya haid‟ maksudnya, mentalak perempuan yang telah dukhul tersebut pada saat suci yang mana pada waktu suci tersebut ia telah dijimak. Dan tidak samar lagi bahwa syaratnya yaitu ia telah di dukhul pada saat suci, baik sebelumnya pernah di dukhul atau belum. Yang difahami dari perkataan mushonnef, yaitu syarat sudah di dukhul sebelumnya, itu bukan yang dikehendaki. Kemudian bahwa keharaman hal tersebut termasuk bagi orang yang yang dapat mengandung karena tidak anak kecil, manapouse dan tidak hamil. Dan jika tidak seperti itu maka tidak ada keharaman seperti yang dijelaskan dalam kitab minhajil”. (Muhammad Syatha Ar-rumyathi, t.t: 4)

Dari penjelasan tersebut, difahami bahwa menjatuhkan talak kepada wanita yang di dukhul (pada saat suci yang mana pada saat suci tersebut ia di

jimak) dalam hal ini sesuai dengan pemahaman mushonnef bahwa dukhul yang dilakukan adalah yang tidak di kehendaki, maksudnya adalah mengenai dukhul

yang dilakukan dalam keadaan suci dan talak tersebut di jatuhkan pada saat setelah dukhul itu. Dan keharaman menjatukan talak (saat suci di kumpuli/di

dukhul kemudian di talak) bagi wanita yang masih mungkin untuk hamil. Dan di perbolehkan menjatuhkan ikrar talak kepada wanita yang di dukhul pada saat ia suci, dengan ketentuan syarat yaitu bahwa wanita tersebut masih kecil atau tidak mungkin untuk hamil (manapouse).

Sedangkan diperbolehkan mentalak wanita hamil, anak kecil dan manapouse adalah karena hal ini dilandasi jelasnya masa iddah yang akan dilakukan oleh wanita hamil dengan tanda-tanda kelahiran yaitu sampai ia

melahirkan, wanita yang masih kecil apabila belum dicampuri maka tidak ada

iddah baginya, jika kemudian ia haid maka iddahnya adalah tiga kali suci, sedangkan pentalakan waktu ia suci itu iddahnya tidak dihitung. Wanita yang manapouse iddahnya adalah tiga bulan jika menjatuhkan talaknya di awal bulan, namun jika dijatuhkan talaknya di tengah-tengah bulan maka harus di genapi tiga puluh hari terlebih dahulu.

C. Persamaan Putusan Pengadilan Agama No 0880/P.dtG/2012/PA.SAL dengan kitab Fatkhul Mu’in

Pada dasarnya antara Putusan Pengadilan Agama dengan kitab Fatkhul

Mu‟in adalah sama yaitu tidak membolehkan talak bid‟iy. Hal tersebut termasuk dalam batasan tertentu, seperti dukhul sebagai alasan pembatalan talak adalah sama, yaitu sepakat bahwa tidak membolehkan menjatuhkan talak kepada isteri yang dalam proses cerai/ ikrar talak ia melakukan dukhul

bersamanya.

D. Perbedaan Putusan Pengadilan Agama No 0880/P.dtG/2012/PA.SAL dengan kitab Fatkhul Mu’in

1. Perbedaan yang mendasar adalah dilihat dari pemikiran Hakim yang harus memuat beberapa alasan yang benar-benar kongkrit atau mendasar mengenai unsur-unsur dan penilaiannya terhadap persoalan ini. Dalam hal ini hakim lebih menitik beratkan pada saksi-saksi, sedangkan dukhul

dijadikan hakim sebagai bentuk kerukunan kembali antara suami dan isteri atau hanya sebagai penjelas. Karena dalam faktanya hakim menolak menjelaskan tentang persoalan dukhul.

2. Putusan Pengadilan Agama lebih mengutamakan bukti yang nyata dalam

persidangan sedangkan dalam kitab Fatkhul Mu‟in lebih mengedepankan

teori yang sebenarnya atau Ijtihadul Ulama‟.

3. Pengadilan Agama melarang adanya talak bid‟iy sedangkan dalam kitab

Fatkhul Mu‟in talak bid‟iy dapat dilakukan dengan beberapa ketentuan syarat. Yaitu pertama, bagi perempuan yang haid, maka dapat jatuh talaknya dengan syarat perempuan itu (isteri) yang meminta untuk bercerai (keinginan kuat/kukuh dari isteri) dan isteri harus memberikan iwadh

kepada suami yang bersumber dari dirinya sendiri, jika tidak bersumber dari dirinya sendiri maka dihukumi haram. kedua, bagi perempuan yang ba‟dha

dukhul (pada saat suci ia dikumpuli/jimak), adalah diperbolehkan adanya ikrar talak dengan ketentuan syarat bahwa perempuan tersebut tidak memungkinkan untuk hamil lagi atau masih anak-anak. Maka talak bid‟iy

diperbolehkan.

4. Dalam Pengadilan Agama dan dalam peraturan Perundang-undangan tidak

membahas talak bid‟iy dengan lebih rinci atau mendetail. Sedangkan dalam kitab Fatkhul Mu‟in terdapat terobosan-terobosan baru yang dapat menambah khasanah pengetahuan khususnya di bidang hukum keluarga 5. Dalam kitab Fatkhul Mu‟in diutarakan bahwa Dukhul di jadikan alasan

mendasar tidak dibolehkannya talak untuk dijatuhkan pada saat itu. Dasar yang digunakan hakim adalah melihat dari kesaksian para saksi yang di nilai tidak memenuhi kekuatan hukum. Sedangkan dukhul di nilai sebagai bentuk kerukunan kembali.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN

1. Perbedaan dan persamaan antara pemikiran ulama‟ dalam kitab Fatkhul Mu‟in dan argumentasi Hakim adalah sebagai berikut:

a. Perbedaannya adalah: dalam kitab Fakhul Mu‟in, dukhul dalam proses ikrar talak adalah tidak di bolehkan. Namun dalam keadaan tertentu talak bid‟iy diperbolehkan. Yang pertama, dalam keadaan isteri haid.

dapat jatuh talaknya jika yang meminta untuk menjatuhkan talak tersebut dari isteri itu sendiri, kemudian isteri harus memberikan

iwadh kepada suami yang bersumber darinya (isteri). Dengan pemberian iwadh maka hubungan suami dan isteri akan langsung pisah seketika. Yang kedua, dalam keadaan isteri yang suci lalu ia di

dukhul kemudian ia di talak, maka talaknya dapat jatuh dengan ketentuan-ketentuan bahwa isteri yang ditalak tersebut tidak memungkinkan untuk dapat hamil atau isteri tersebut masih anak-anak. Sedangkan argumentasi hakim tidak membolehkan adanya ikrar talak yang dijatuhkan pada saat suami isteri dalam proses perceraian. Tidak diperbolehkan, sebab mereka (suami/isteri) masih melakukan

dukhul dalam proses ikrar talak tersebut. Hal tersebut sebagaimana di atur dalam KHI (Kompilasi Hukum Islam) pasal 122 yang

menghukuminya sebagaimana talak bid‟iy, yaitu talak yang di hukumi

Dokumen terkait