• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hilang Kesadaran (Kesurupan)

Dalam dokumen Mengenal Kesenian Nasional 12. Kuda Lumping (Halaman 40-44)

Bab 5 ATRAKSI DALAM

B. Hilang Kesadaran (Kesurupan)

Atraksi Kuda Lumping bersama para penunggangnya pun usai. Tetapi atraksi berikutnya tak kalah seru. Tanpa melibatkan kuda-kudaan tunggangannya, para pemain beratraksi akrobatik. Para pemain Kuda Lumping yang tampil garang dan juga eksotik itu beratraksi layaknya pemain pencak silat yang piawai: dengan posisi kuda-kuda yang kokoh, kedua tangan menggerakkan jurus-jurus silat dari memukul, menangkis, dan mematikan jurus lawan, sampai melepas posisi kuda-kuda di kedua kaki lantas menendang dalam berbagai jurus dan seolah bercanda dengan memainkan gerak-gerik kepala dan mata yang memandang tajam.

Ciri khas pada seni Kuda Lumping adalah terjadinya kesurupan (hilangnya kesadaran) pada penari. Bunyi sebuah pecutan (cambuk) besar yang sengaja dikenakan para pemain kesenian ini, menjadi awal permainan dan masuknya kekuatan mistis yang bisa menghilangkan kesadaran si pemain. Adegan ini merupakan bagian yang paling ditunggu oleh penonton. Dalam masyarakat Jawa kuno yang menganut kejawen (gabungan antara animisme-dinamisme dan Hindu), seseorang

Penari Kuda Lumping yang hilang kesadarannya. Sumber: Sumber: Sumber: Sumber: Sumber: www.farm4.static.flickr.

mempercayai kehadiran dan peran roh-roh orang yang sudah meninggal. Roh-roh ini dapat dipanggil dan melakukan sesuatu yang diinginkan pemanjat doa (biasanya dukun atau pawang). Roh ini, menurut Dr Paul D. Stange dalam The Sumarah

Movement in Javanese Mysticism, memiliki pemikiran, perasaan

dan nafsu yang sama dengan manusia, dan roh ini berasal dari kematian yang tak sempurna. Roh ini kemudian masuk ke dalam tubuh penunggang Kuda Lumping, dan memanfaatkan fisik para penunggang untuk melakukan sesuatu yang mustahil dilakukan orang biasa. Tubuh mereka sesaat menegang, kemudian menari, melompat, menjungkirkan badan, dan memakan apa saja di meja sesajian. Fisik penari dapat berdarah dan kesakitan, namun mereka tak dapat merasakannya.

Secara faktual, proses kesurupan dalam Kuda Lumping meliputi proses pemanggilan roh lewat pembakaran kemenyan (incene) dan pembacaan mantra (doa) untuk meningkatkan ketahanan tubuh penunggang kuda sehingga ia tahan memakan kaca dan lainnya. Di satu sisi, adegan mistis ini mengundang decak kagum dan perasaan terhibur. Namun di sisi lain, adegan ini juga mengundang kontroversi terutama jika dipertemukan dengan ajaran agama Islam.

Menurut seorang pawang Kuda Lumping, roh masuk ke dalam tubuh dan berada di ruas-ruas tulang manusia. Semakin banyak roh atau arwah yang datang diundang, pesta akan semakin meriah, sehingga biasanya penari dapat kesurupan lebih dari tiga kali. Sering terjadi, penari yang sudah pulih, kembali hilang kesadarannya. Kalau sudah begini,Jik suasana memang kacau dan tidak terkendali. Tugas ketua rombongan atau pawanglah yang menjadi berat. Apabila jumlah roh yang datang lebih banyak dari penari, maka penonton yang menjadi

sasaran. Roh menggunakan mereka sebagai perantara. Masyarakat kadang menyebutnya mendem. Ada juga orang yang sengaja ingin mendem. Jika dikehendaki demikian, ketua rombongan atau pawang akan memberikannya.

Penonton yang sedang mendem atau kesurupan dapat juga menularkanya kepada temannya. Caranya dengan menyemburkan air kembang atau memandang lalu menjejakkan kakinya ke tanah tiga kali. Saat pertunjukan usai, pawang harus menepati janji untuk memulangkan kembali arwah ke tempat dimana mereka bermukim. Ini pekerjaan berat, karena ada saja roh yang tidak mau diantar pulang. Ia masih masih keluar masuk merasuki tubuh penari.

Kalau sudah begini, biasanya pawang akan mengucapkan kata-kata yang ditakuti oleh roh. Roh seharusnya dipulangkan dengan membuat dupa dan kemenyan, namun cara ini sangat merepotkan. Pawang memilih cara lain, yakni memasukannya ke dalam kendang, lalu dipulangkan secara bersamaan di halaman rumah yang punya hajat.

Dengan pengawasan seorang pawang, para penari yang kesurupan bertingkah semaunya. Ada yang bertingkah konyol sehingga membuat gelak tawa penonton. Namun, ada pula penari yang menunjukkan tingkah laku di luar kewajaran seperti mengambil tampah berisi tumpukan beling lalu

Penari Kuda Lumping melakukan atraksi berbahaya. Sumber: Sumber: Sumber: Sumber: Sumber: www.kotajambi.go.id.

dimakannya, lahap bagai orang kelaparan. Para penonton dibuat miris, menyaksikan penari dengan lahapnya memakan

beling. Namun, tak sedikit pun mulut dari penari itu terluka

akibat makan beling. Penari baru kembali sadar dari kesurupan, setelah sang pawang mengeluarkan roh yang merasuki tubuhnya. Penari yang telah disadarkan biasanya lunglai sejenak, kembali pada kondisi normal, minum air di ember, dan berakhir dengan menyemburkan asap dari mulut.

Bagi seorang dukun atau pawang Kuda Lumping, mengundang roh (indang) bukanlah pekerjaan sulit. Selain mantra Jawa, seorang dukun umumnya membutuhkan sesajian seperti beras, daun singkong, air, teh, kopi, air kelapa, kemenyan, dan empat macam bunga, yakni bunga kantil, melati, mawar, dan kenanga. Khusus bunga kantil mesti dimasukkan dalam gendang agar bisa memberi pengaruh magis kepada pemain.

Gendang merupakan alat musik utama dalam seni Kuda Lumping. Setiap tarian pemain Kuda Lumping menghadap gendang, begitupun pada saat mereka melepaskan diri dari roh. Selain gendang, pawang akan mengolesi semua alat musik seperti gong, demung, kethuk, dan lainnya dengan minyak air mata duyung untuk merangsang datangnya roh.

Jika dilihat dari keseluruhan permainan Kuda Lumping, bunyi pecutan yang tiada henti mendominasi rangkaian atraksi yang ditampilkan. Agaknya, setiap pecutan yang dilakukan oleh si penunggang terhadap dirinya sendiri, yang mengenai kaki atau bagian tubuhnya yang lain, akan memberikan efek magis. Artinya, ketika lecutan anyaman rotan panjang diayunkan dan mengenai kaki dan tubuhnya, si penari Kuda Lumping akan merasa semakin kuat, semakin perkasa, semakin digdaya. Umumnya, dalam kondisi itu, ia akan

semakin liar dan kuasa melakukan hal-hal mustahil dan tidak masuk diakal sehat manusia normal.

Semarak dan kemeriahan permainan Kuda Lumping menjadi lebih lengkap dengan ditampilkannya atraksi semburan api. Semburan api yang keluar dari mulut para pemain Kuda Lumping, diawali dengan menampung bensin di dalam mulut mereka lalu disemburkan pada sebuah api yang menyala pada setangkai besi kecil yang ujungnya dibuat sedemikian rupa agar api tidak mati sebelum dan sesudah bensin itu disemburkan dari mulutnya.

Sebagai sebuah atraksi penuh mistis dan berbahaya, tarian Kuda Lumping dilakukan di bawah pengawasan seorang ”pimpinan supranatural”. Biasanya, pimpinan ini adalah seorang yang memiliki ilmu ghaib yang tinggi yang dapat mengembalikan sang penari kembali ke kesadaran seperti sedia kala. Dia juga bertanggung jawab terhadap jalannya atraksi, serta menyembuhkan sakit yang dialami oleh pemain Kuda Lumping jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan dan menimbulkan sakit atau luka pada si penari. Oleh karena itu, walaupun dianggap sebagai permainan rakyat, Kuda Lumping tidak dapat dimainkan oleh sembarang orang, tetapi harus di bawah petunjuk dan pengawasan pimpinannya.

Dalam dokumen Mengenal Kesenian Nasional 12. Kuda Lumping (Halaman 40-44)

Dokumen terkait