• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rahasia Kebal Api

Dalam dokumen Mengenal Kesenian Nasional 12. Kuda Lumping (Halaman 45-49)

Bab 5 ATRAKSI DALAM

C. Di Balik “Kesaktian” Pemain Kuda Lumping

1. Rahasia Kebal Api

Atraksi dengan api ternyata tidak hanya ada di Indone-sia. Atraksi dengan api diketahui juga dilakukan oleh banyak bangsa di dunia. Pada tahun 1885, suku Indian Navayo menjadi masyhur karena tari-tarian apinya. Mereka menari-nari telanjang bulat mengelilingi api unggun besar sambil membawa obor. Mereka menyapu-nyapukan nyala api itu pada badan mereka dan badan teman-temannya yang turut menari dengan cara yang mengagumkan sekali. Akan tetapi ternyata, sebelum menari mereka sudah menggosok dulu badannya dengan lumpur. Dengan cara yang demikian mereka tak mudah terbakar kulitnya.

Di Jepang, terkenal apa yang dinamakan Hi-Wattari, yakni suatu upacara keagamaan Shinto. Paderi-paderi Shinto berjalan di atas arang yang membara. Memang menakjubkan bagi mereka yang menyaksikan untuk pertama kalinya. Pertunjukan itu dilakukan di halaman kuil. Sebelum berjalan di atas arang api itu, paderi-paderi menanggalkan pakaiannya yang indah-indah dan lebih dulu menginjakkan kaki mereka pada semacam tikar basah yang ditaburi dengan sebangsa tepung atau garam. Lalu mereka berjalan di atas arang-arang yang menyala itu dengan tenang tidak ada bahaya apa-apa. Sesungguhnya

garam yang ditabur-taburkan di atas tanah pada ujung bidang yang membara itu adalah campuran garam dan sulfat rangkap aluminium dan potasium. Sejak itu, diketemukan bahan-bahan lain untuk membuat kebal terhadap api. Misalnya campuran amonium fosfat, amonium sulfat, dan amonium chorat. Pakaian-pakaian yang digunakan oleh pemain-pemain dalam opera-opera menjadi tak dapat terbakar dengan menggunakan campuran dari klorida seng.

Ada juga resep lainnya yang digunakan orang supaya dapat berjalan di atas besi yang terbakar atau mencuci tangannya dalam timah yang mendidih. Resep ini terdiri dari setengah ons rumput sumphiro yang dilebur ke dalam dua ons spiritus, satu ons storax yang cair, satu ons air raksa dan dua ons homatius. Semuanya itu digiling menjadi tepung. Apabila adonan ini digosokkan ke dalam jumlah yang cukup pada kaki, maka tak akan ada luka-luka. Apabila diinjakkan pada sebatang besi yang membara tidak akan luka bakar. Dengan menggosokkannya pada tangan, maka tangan itupun dapat dicuci dengan timah yang mendidih.

a. Atraksi Makan Arang yang Membara

Untuk makan arang yang membara, teknik yang biasa dipakai pemain Kuda Lumping dengan membuat api yang panas dari arang kayu yang didapat dari berbagai macam batang pohon yang kayunya dapat dibuat arang. Di sini, disisipkan di antara arang kayu itu beberapa potong kayu cemara yang empuk yang sama besarnya dengan arang itu. Apabila kayu cemara terbakar sampai hangus, maka tak ada bedanya dengan arang kayu biasa, kecuali apabila pemain menusuknya dengan garpu. Garpu itu akan menghujam sangat mudah pada kayu cemara yang tekstur kayunya empuk namun garpu tidak akan bisa menembus arang selain dari batang pohon cemara.

Selain itu, arang yang dibuat dari kayu yang bukan dari kayu pohon cemara akan benar-benar membara dengan sangat panas, sedangkan arang dari pohon cemara tidak akan membara dan tidak terlalu panas sehingga dapat diletakkan di atas lidah tanpa berakibat apa-apa seperti luka bakar. Apalagi jika lidah sudah dibasahi dengan air ludah sebanyak-banyaknya. Untuk atraksi biasanya pemain Kuda Lumping menusuk arang cemara itu dengan garpu, lalu masukkan ke dalam mulut dan dikunyah-kunyah seperti hendak memakannya.

b. Atraksi Menjilati Besi Membara

Dalam atraksi ini, sebatang besi tongkat dari besi dipanasi sampai merah membara lalu pemain api menjilatinya namun lidah mereka tidak terbakar hangus. Rahasianya adalah lidah harus diurapi dengan strerax encer, suatu bahan kimia yang dapat dibeli di apotek. Lidah dengan demikian kebal terhadap panas namun pada saat atraksi mereka tidak menempelkan lidah terlalu lama pada besi yang membara melainkan dilakukan secepat mungkin. Bibir juga diurapi dengan strerax, sehingga jika terkena besi panas tidak akan berakibat apa-apa.

c. Tangan Dijilati Api Berkobar-kobar

Sang pemain Kuda Lumping menyingsingkan lengan bajunya dan dengan sebuah obor besar dari minyak tanah,

Atraksi menyemburkan api. Sumber: Sumber: Sumber: Sumber: Sumber: Indonesian Heritage, Performing Arts, 1998.

membakar sekujur tangannya namun tangannya tidak terbakar sama sekali. Rahasianya adalah dalam permainan ini, yang penting cara menyinggungkan api obor pada kulit, yaitu jangan ditekankan dan tidak boleh berhenti, melainkan sambil digerakkan agak cepat dari sisi satu ke sisi lainnya atau maju mundur sehingga tidak sempat membakar.

Bisa juga dalam atraksi kebal api ini menggunakan bantuan zat kimia khusus seperti dengan menggunakan zat Arab Bishom atau lem Arab yang diusapkan secara merata ke tangan. Selain itu bisa menggunakan storack cair atau ramuan yang terdiri dari amonium fosfat, amonium sulfat dan amonium chorat yang dapat diperoleh pada toko-toko yang menjual bahan kimia.

d. Atraksi Berjalan di Atas Api yang Membara

Demonstrasi berjalan di atas api cukup menarik tetapi memiliki resiko cukup tinggi jika kurang penguasaan dalam teknis dapat menimbulkan luka bakar pada bagian kaki.

Yang perlu diketahui sesungguhnya sifat api dapat membakar apabila ada waktu yang cukup untuk bersinggungan dengan benda lain. Sedangkan jika persentuhan itu hanya sesaat maka paling hanya meninggalkan kesan hangat saja. Dengan demikian, maka api tidak menimbulkan luka bakar jika pemain dapat mengatur irama atau kecepatan. Oleh karena itu, demonstrasi Kuda Lumping dengan berjalan di atas api sangat sedikit resikonya karena seseorang akan berupaya untuk melangkah agak cepat ketika kakinya bersentuhan dengan api. Pemain yang sudah berpengalaman tidak akan pernah ragu bahkan langsung menginjak api tersebut dengan telapak kaki mereka. Rahasianya adalah dengan mengetahui sifat api, bahwa api hanya membakar jika ada waktu yang cukup untuk bersinggungan dengan benda yang diam.

Dalam dokumen Mengenal Kesenian Nasional 12. Kuda Lumping (Halaman 45-49)

Dokumen terkait