• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hiperrealitas Dan Dominasi Kode-Jean Baudrillard

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Hiperrealitas Dan Dominasi Kode-Jean Baudrillard

Baudrillard menaruh perhatian pada persoalan realitas yang baginya uang saat ini telah mampu berbicara lebih dan apapun itu adalah gambaran (image) serta hiper-realitas. Kritik Baudrillard ini terutama bisa dilihat dari pengaruh media, khususnya media penyiaran di mana berlangsung secara kontinyu proses diseminasi budaya secara global mulai dari gaya hidup (lifestyle), perkembangan dunia fashion, sampai pada perkembangan masyarakat jejaring lewat medium internet yang didahului oleh

perkembangan komputerisasi. 6

6, 7Akhyar Yusuf Lubis, 2014. Postmodernisme Teori dan Metode(Jakarta: Rajawali Press, Baudrillard sejatinya menyorot fenomena budaya postmodernisme dari konsep hiperrealitas, yaitu di mana segala sesuatunya menjadi rujukan, sementara yang dirujuk belum tentu gambaran akan kenyataan yang sesungguhnya (reality), karena yang dirujuk tersebut merupakan hasil konstruksi, terutama oleh peran media.

Untuk contoh hiperrealitas, ia memberikan beberapa contoh dan salah satunya mengenai pornografi, dimana menurutnya pornografi sekarang lebih seksual daripada seks yang sebenarnya. Seksualitas pornografi adalah hiperseksualitas (Baudrillard, 1993). Contoh yang dikemukakan diatas, menggambarkan sukarnya membedakan antara yang asli dan yang tiruan, dan inilah yang dimaksudkan Baudrillard ketika ia mengatakan “yang real telah mati dan digantikan oleh simulasi yang bersifat hiperrealitas”. Pada era sekarang ini yang imajiner, yang tiruan, dan yang asli saling bercampur baur.

Baudrillard memandang objek konsumsi sebagai sesuatu “yang diorganisir oleh tatanan produksi” atau dalam arti lain kebutuhan dan konsumsi adalah perluasan kekuatan produktif yang diorganisir. Dia memandang sistem objek konsumen dan sistem komunikasi pada dasar periklanan sebagai pembentuk “sebuah kode signifikansi” yang mengontrol objek dan individu di tengah masyarakat. Seperti yang dipahami Genosko (1994: xiii dalam Ritzer, 2010: 137), “klaim sentral Baudrillard adalah bahwa objek menjadi tanda (sign) dan nilainya ditentukan oleh sebuah aturan kode.

Ketika kita mengonsumsi objek, maka kita mengonsumsi tanda, dan dalam prosesnya kita mendefinisikan diri kita. Sama halnya dengan gaya hidup yang menjadi sebuah simbol dari masyarakat. Kaum kapitalis menciptakan sebuah ruang belanja serba guna (mall) dimana bangunan ini memberi tanda pada orang di dalamnya. Shopaholic, hedonis, instant, elit adalah nilai-nilai yang dikonstruk oleh tanda. Etalase merk (seperti Matahari dan Gosh) membedakan kelas konsumennya, dilihat dari varian produk, nama, model, harga, dan interior ruang.

Baudrillard menyelidiki dunia fashion sebagai sebuah paradigma dominasi kode. Modernitas adalah sebuah kode, dan fashion adalah lambangnya. Menurutnya, yang kita lihat di dunia fashion adalah “permainan penanda-penanda” yang pada akhirnya menghilangkan rujukan pada dunia nyata, bahkan tidak menggiring kemanapun.

Fashion hanya menciptakan kode-kode, artinya, fashion diciptakan bukan berdasarkan determinasinya sendiri, tapi dari model itu sendiri. Karena itu ia tidak

“diciptakan”, akan tetapi selalu mereproduksi dirinya sendiri. 7Model menjadi satu-satunya sistem rujukan. Model adalah satu bentuk budaya yang cepat menyebar seperti virus kanker ganas yang dengan cepat menyelinap keseluruh tubuh. Fashion mengikuti cara yang disebut oleh postmodern dengan pastiche, yaitu menciptakan fashion baru dengan memperluas dan mengkombinasikan dari fashion-fashion yang sudah ada sebelumnya.

7 Akhyar Yusuf Lubis, 2014. Postmodernisme Teori dan Metode(Jakarta: Rajawali Press, 2014), hlm. 193.

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Metode merupakan cara yang digunakan agar mencapai suatu tujuan untuk memecahkan suatu masalah. Metode Penelitian adalah cara-cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid, dengan tujuan untuk dapat ditemukan, dikembangkan dan dibuktikan, suatu pengetahuan tertentu sehingga dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah (Sugiyono:2009).

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan melakukan pendekatan deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan jenis penelitian yang memberikan gambaran atau uraian atas suatu keadaan sejernih mungkin tanpa ada perlakuan terhadap obyek yang diteliti (Ronny Kountur, 2003:105). Peneliti pengembangan konsep dan menghimpun fakta tetapi tidak melakukan pengujian hipotesa. Metode penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor dalam Maleong (1993:3) merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dari perilaku yang dapat diamati.

Penelitian kualitatif memiliki karakteristik fleksibilitas dalam perolehan data.

Pendekatan kualitatif memungkinkan spontanitas dan adaptasi dalam interaksi antara peneliti dengan partisipan. Hubungan antara peneliti dan informan menjadi lebih informal jika dibandingkan dengan penelitian kuantitatif. Peneliti dapat

mengembangkan pertanyaan sesuai dengan jalannya penelitian. Dengan demikian tujuan untuk mendapatkan hasil penelitian secara mendalam menjadi lebih memungkinkan untuk terpenuhi.

Penelitian kualitatif sendiri merupakan penelitian yang tidak menggunakan model-model matematik, statistik atau komputer. Proses penelitian dimulai dengan menyusun asumsi dasar dan aturan berfikir yang akan digunakan dalam penelitian.

Karena pendapat diatas sesuai dengan yang diinginkan peneliti untuk mengetahui dan memaparkan potret gaya hidup hedonisme dikalangan mahasiswa maka tipe penelitian kualitatif tepat digunakan sebagai tipe di penelitian ini. Oleh karena itu penelitian ini akan difokuskan pada: gaya hidup dari musisi lokal saja.

Sebelum melakukan penelitian secara langsung, peneliti terlebih dahulu mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan untuk berlangsungnya proses penelitian, seperti halnya mengumpulkan data yang terkait seperti jurnal, penelitian mengenai hedonis terdahulu, hasil skripsi, dan tulisan-tulisan di media lainnya.

3.2 Lokasi Penelitian

Dalam penelitian ini, peneliti memilih lokasi penelitian di kota Medan, tepatnya di basecamp band lokal yang diteliti, café (Kong Box,Don Burgero, Champion), pub( Travern, Barcelona, Delta) atau tempat hiburan lainnya serta di tempat tinggal personil band lokal yang menjadi informan. Adapun yang menjadi alasan peneliti memilih lokasi tersebut adalah agar lebih mudah dilakukan proses wawancara dikarenakan jadwal yang padat dan tempat manggung dari band lokal selalu berpindah-pindah, tanpa mengganggu kegiatan informan itu sendiri.

3.3 Unit analisis dan informan 3.3.1 Unit Analisis

Unit analisis adalah satuan tertentu yang digunakan sebagai subjek penelitian (Arikunto, 2006). Salah satu ciri atau karakteristik dari sebuah penelitian sosial adalah menggunakan “Unit Of Analysis”. Ada dua jumlah unit analisis yang lazim digunakan dalam penelitian sosial yaitu individu, kelompok dan sosial.Tujuan analisis data yaitu untuk menyederhanakan sehingga mudah ditafsirkan. Adapun yang menjadi unit analisis dan objek kajian dari penelitian ini adalah personil band lokal di kota Medan.

3.3.2 Informan

Informan merupakan subyek memahami permasalahan penelitian sebagai pelaku maupun yang memahami permasalahan penelitian (Bungin, 2007;76). Peneliti memilih informan dengan teknik snowball smpling (samplin bola salju). Teknik ini di definisikan sebagai teknik untuk memperoleh beberapa informan dalam organisasi atau kelompok yang terbatas dan yang dikenal sebagai teman terdekat atau kerabat, yang nantinya informan tersebut bersedia menunjukkan informan lainnya. (Bungin, 2007: 138).

a. Informan Kunci

Informan kunci adalah orang-orang yang sangat memahami permasalahan yang diteliti. Informan kunci adalah orang-orang yang dianggap mengetahui dan memiliki informasi pokok yang diperlukan dalam penelitian. Informan kunci dalam penelitian ini adalah musisi atau personil band dari band lokal di Kota Medan.

Kriteria Informan Kunci adalah sebagai berikut:

1. Berkarir minimal tiga tahun (Band Event/Band Reguler) 2. Memiliki lebih dari satu band

3. Bermusisi menjadi second job/main job b. Informan biasa

Informan biasa adalah mereka yang terlibat dalam penelitian yang diteliti.

Informan ini ditujukan untuk mengetahui dan menggali informasi mengenai gaya hidup hedonis oleh musisi dari band lokal tersebut. Adapun informan biasa dalam penelitian ini adalah manager, saudara seperti kakak ataupun adik, teman terdekat atau sahabat, masyarakat yang sering menyaksikan pertunjukan live music dari musisi yang menjadi informan kunci.

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Dalam proses pengumpulan data, peneliti akan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data agar dapat mendapatkan kesesuaian peneliti dengan fokus dan kebutuhan peneliti dalam mengolah data dan informasi yang diperoleh nantinya.

Adapun teknik pengumpulan data penelitian ini adalah:

3.4.1 Teknik Pengumpulan Data Primer

Teknik pengumpulan data primer adalah peneliti melakukan kegiatan langsung ke lokasi penelitian untuk mencari data-data yang lengkap dan berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.

3.4.1.1 Observasi Partisipatif

Observasi atau pengamatan adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan panca indra nata sebagai alat bantu utamanya selain pancaindra lainnya

seperti telinga, penciuman, mulut serta kulit. Observasi merupakan suatu bentuk pengamatan yang dilakukan secara langsung terhadap objek yang diteliti untuk mendapatkan gambaran yang tepat mengenai objek penelitian serta terhadap benda , keadaan, kondisi, situasi, kegiatan, proses, dan penampilan tingkah laku seseorang (Faisal ; 2001). Dalam observasi ini, peneliti terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian.

Peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data dan ikut merasakan suka dukanya.

Dengan observasi partisipan ini, data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak.

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan partisipasi moderat

3.4.1.2 Wawancara Mendalam

yang mana dalam mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan tetapi tidak semuanya (ada keseimbangan antara peneliti menjadi orang dalam dan menjadi orang luar). Dalam penelitian ini, peneliti turun langsung ke cafe, basecamp atau tempat perkumpulan personil band yang terpilih sebagai narasumber di kota Medan.

Teknik selanjutnya adalah teknik wawancara mendalam. Wawancara mendalam adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap secara langsung antara pewawancara dengan informan terlibat dalam kehidupan informan (Bungin, 2007). Meski wawancara ini tanpa menggunakan pedoman, namun dibutuhkan urutan-urutan daftar pertanyaan sebagai acuan bagi peneliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Adapun tujuannya yaitu

3.4.2 Teknik Pengumpulan Data Sekunder

Teknik pengumpulan data sekunder adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui penelitian studi kepustakaan yang diperlukan untuk mendukung data diperoleh dari buku-buku ilmiah, tulisan ilmiah, laporan penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian yang dianggap relevan dan keabsahan dengan masalah yang diteliti.

Data sekunder dalam penelitian diperoleh dari:

a. Skripsi yang berkaitan dengan tema, yaitu gaya hidup dan komunitas anak band

b. Artikel-artikel surat kabar, jurnal, majalah, dan media elektronik (Televisi, radio, dan internet)

3.5 Interpretasi Data

Interpretasi data merupakan suatu tahap pengolahan data, baik itu data primer dan sekunder yang telah didapatakan dari catatan lapangan. Analisis data merupakan proses mengaalisis suatu fenomena sosial dan memperoleh gambaran yang tuntas terhadap fenomena yang diteliti dan kemudian menganalisis makna yang ada dibalik informasi dan proses suatu fenomena sosial. Analisis data ditandai dengan pengolahan dan penafsiran data yang diprolah dari setiap informasi baik secara pengamatan, wawancara ataupun catatan-catatan lapangan dipelajari dan ditelaah kemudian selanjutnya adalah mereduksi data yaitu melalui pembuatan abstraksi yang merupakan usaha membuat rangkuman inti.

3.6 Jadwal Kegiatan 4 Seminar Proposal Penelitian √ 5 Revisi Proposal Penelitian √

6 Penelitian Kelapangan √ √ √

7 Pengumpulan Data dan

Analisis Data

Dalam proses penyelesaian penelitian, peneliti mendapatkan beberapa kendala dan hambatan yang menjadi keterbatasan dalam penelitian ini. yang mana kendala tersebut dapat datang dari faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor internalnya adalah peneliti sendiri yang melakukan wawancara kepada informan laki-laki pada waktu mereka perform di pub hingga pukul 01.00 WIB.

Suasana di lokasi penelitian yang riuh sehingga wawancara tidak terlalu kondusif.

Beberapa subyek penelitian tidak begitu terbuka dalam menyampaikan bagaimana proses ia mulai bermusik, bersikap acuh dan bahkan informan wanita sedikit takut.

Faktor eksternal lainnya adalah berhubungan dengan persetujuan waktu untuk melakukan wawancara yang selalu berubah-ubah disetiap informannya.

Sehingga diperlukan usaha lebih seperti membuat suasana lebih santai dengan meminta agar informan pada saat wawancara ditemani oleh salah seorang temannya dan penggunaan bahasa yang tidak terlalu baku oleh peneliti (menggunakan bahasa sehari-hari) agar poin-poin yang ingin peneliti ketahui bisa didapatkan.

Ada sebanyak tiga orang dari informan yang merasa canggung untuk memberikan informasi. Hal ini dikarenakan mereka takut apabila penelitian ini dipublikasikan dan dapat mencoreng nama baik band mereka. Misalnya, informan berjenis kelamin perempuan yang mengkonsumsi alkohol, merokok, dan memakai pakaian sexy setiap kali tampil di pub. Sementara informan berjenis kelamin laki-laki yang bekerja di salah satu instansi pemerintahan juga takut kalau fakta bahwa dia adalah seorang musisi dan perform antar pub tersebar dan diketahui oleh atasan di tempat ia bekerja.

Kendala lain yang dialami peneliti adalah ketika para informan dan peneliti melakukan janji untuk melakukan sesi wawancara, selalu pada malam hari. Ada lima orang informan yang bekerja pada pagi hingga sore hari. Ketika melakukan wawancara, informan kurang konsentrasi mendengar serta menjawab pertanyaan dari peneliti dikarenakan mereka kelelahan bekerja. Sehingga wawancara terlalu banyak memakan waktu atau kurang efisien.

BAB IV

HASIL TEMUAN DAN INTERPRETASI DATA PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Lokasi Penelitian

4.1.1 Sejarah Kota Medan

Kehadiran Kota Medan sebagai satu bentuk kota memiliki suatu proses perjalanan sejarah yang panjang dan kompleks, hal ini dibuktikan dengan berkembangnya daerah yang dinamakan sebagai “Medan” ini menuju pada bentuk kota metropolitan. Sebagai hari lahir Kota Medan adalah 1 Juli 1590, sampai saat ini usia Kota Medan telah mencapai 418 tahun. Keberadaan Kota Medan saat ini tidak terlepas dari dimensi histori yang panjang, dimulai dari dibangunnya Kampung Medan Puteri pada tahun 1590 oleh Guru Patimpus. Guru patimpus adalah seorang putra Karo bermarga Sembiring Pelawi dan beristrikan seorang puteri Datuk Pulo Brayan. Dalam bahasa Karo, kata “Guru” berarti “Tabib” ataupun “Orang Pintar”, kemudian kata “Pa” merupakan sebutan untuk seorang Bapak berdasarkan sifat atau keadaan seseorang, sedangkan kata “Timpus” berarti “Bundelan, Bungkus atau Balut”. Dengan demikian maka nama Guru Patimpus bermakna sebagai seorang tabib yang memiliki kebiasaan membungkus sesuatu dalam kain yang diselempangkan di badan untuk membawa barang bawaannya. Hal ini dapat diperhatikan pada monumen guru Patimpus yang didirikan di sekitar Balai Kota Medan

Berkembangnya menjadi Kesultanan Deli pada tahun 1669 yang diproklamirkan oleh Tuanku Perungit yang memisahkan diri dari Kesultanan Aceh.

Perkembangan Kota Medan selanjutnya ditandai dengan perpindahan Ibu Kota Residen Sumatera Timur dari Bengkalis menuju Medan, pada tahun 1887, sebelum akhirnya statusnya diubah menjadi Gubernemen yang dipimpin oleh Gubernur pada tahun 1915.

Secara historis, perkembangan Kota Medan sejak awal memposisikannya menjadi jalur lalu lintas perdagangan. Posisinya yang terletak di dekat Sungai Deli dan Babura, serta adanya kebijakan Sultan Deli yang mengembangkan perkebunan tembakau dalam awal perkembangannya, telah mendorong berkembangnya Kota Medan sebagai pusat perdagangan (ekspor-impor) sejak masa lalu. Keterangan yang menguatkan bahwa adanya Kampung Medan ini sala

h satunya adalahketerangan H.Muhammad Said yang mengutip melalui buku Deli In Woord en Beeld ditulis oleh N. Ten Cate. Keterangan tersebut mengatakan bahwa dahulu kala Kampung Medan ini merupakan Benteng dan sisanya masih ada terdiri dari dinding dua lapis berbentuk bundaran yang terdapat di pertemuan antara dua sungai, yakni Sungai Deli dan Sungai Babura.

Keberadaan Kota Medan juga tidak terlepas dari peranan para pendatang asing yang datang ke Medan sebagai pedagang maupun dengan tujuan yang lainnya. Salah satu contoh yang sangat jelas adalah tahun 1866, Jannsen, P. W. Clemen, Cremer dan Nienhuys mendirikan de Deli Maatscapij, Sunggal (1869), Sungai Beras dan Klumpang (1875), sehingga jumlahnya mencapai 22 perusahaan pe rkebunan pada tahun 1874.

Pada proses perkembangan awal Medan menjadi suatu bentuk kota tidak terle pas dari usaha usaha komite dagang Belanda (VOC) yang melakukan ekpansi usaha

rempah-rempah di Sumatera Timur (Sumatera Utara). Usaha rempah-rempah pada awalnya berkembang dan terpusat didaerah Maryland dan Labuhan dimana kedua lokasi tersebut merupakan daerah yang pesisir.

Mengingat kegiatan perdagangan tembakau yang sudah sangat luas dan berke mbang, Nienhuys memindahkan kantor perusahaannya dari Labuhan ke Kampung Medan Puteri. Dengan demikian Kampung Medan Puteri yang pada saat sekarang ini terkenal dengan kawasan Gaharu menjadi semakin ramai dan selanjutnya berkembang dengan nama yang dikenal sebagai Kota Medan. Proses pemindahan ini telah dapat menciptakan perkembangan cikal-bakal Kota Medan seperti sekarang ini.

Perkembangan Medan Puteri menjadi pusat perdagangan telah mendorongnya menjadi pusat pemerintahan. Tahun 1879, Ibu Kota Asisten Residen Deli dipindahkan dari Labuhan ke Medan, 1 Maret 1887, Ibu Kota Residen Sumatera Timur dipindahkan pula dari Bengkalis ke Medan. Istana Kesultanan Deli yang semula berada di Kampung Bahari (Labuhan) juga pindah bersamaan dengan selesainya pembangunan Istana Maimoon pada tanggal 18 Mei 1891, dan dengan demikian Ibu Kota Deli telah resmi pindah ke Medan.

Medan yang sedang dijadikan sebagai Ibu Kota Deli juga telah mendorong Medan berkembang menjadi pusat pemerintahan. Sampai pada saat sekarang ini, di samping merupakan salah satu daerah kota, juga sekaligus merupakan Ibu Kota dari Sumatera Utara. Selanjutnya, penulis menampilkan salah satu dari peninggalan sejarah di Kota Medan, yaitu: Istana Maimun yang merupakan peninggalan dari Kesultanan Deli dan Mesjid Raya al-Maksun. Dengan tidak memandang ini sebagai

Islam. Tetapi lebih melihat ini sebagai suatu keberagaman yang ada ditengah-tengah kehidupan bermasyarakat di Kota medan khususnya.

Gambaran umum Kota Medan merupakan sekilas penjelasan mengenai keberadaan Kota Medan sebagai kawasan yang menjadi fokus lokasi penelitian ini. Sebagai pusat pemerintahan Kota Medan memiliki 21 daerah Ke camatan dan 151 daerah Kelurahan (http://id.wikipedia.org/wiki/Medan, diakses pada 23 Oktober 2016). Kepadatan penduduk Kota Medan mencapai 2.036.018, dengan tingkat kepadatan 7. 681 jiwa/km2.

4.1.2 Geografis

Koordinat geografis Kota Medan adalah 3º30' - 3º 43' LU dan 98º 35' - 98º 44' BT. Permukaan tanahnya cenderung miring ke utara dan berada pada ketinggian 2,5 – 37,5 m di atas permukaan laut. Kota Medan berbatasan dengan selat Malaka di sebelah utara, sedangkan di sebelah barat, selatan dan timur berbatasandengan Kabupaten Deli Serdang. Kota medan sendiri menjadi kota induk dari beberapa kota satelit di sekitarnya seperti Kota Binjai, Lubuk Pakam, Deli tua, dan Tebing Tinggi.

Luas Kota Medan saat ini adalah 265, 10 km. sebelumnya hingga 1973 medan hanya mempunyai luas sebesar 51, 32 km. Dan jhon Anderson seorang Inggris melakukan kunjungan ke Kampung Medan tahun 1823 dan mencatat dalam bukunya Mission to the East Coast of Sumatera bahwa penduduk kampung Medan pada waktu itu masih berjumlah 200 orang, tapi hanya dia yang melihat penduduk yang berdiam di pertemuan antara dua sungai tersebut. Namun kemudian diedarkan Peraturan Pemerintah No. 22 Tahun 1973 yang memperluas wilayah Kota Medan dengan mengintegrasikan sebagian wilayah Kabupaten Deli Serdang.

Gambar 1.1 Bundaran SIP, salah satu landmark Kota Medan 4.1.3 Keadaan Penduduk

Penduduk Kota medan dapat di golongkan dalam kategori masyarakat heterogen, yaitu masyarakat yang terdiri dari berbagai jenis suku, agama, ras, dan golongan. Komposisi masyarakat Kota Medan terdiri atas Melayu, Batak (Mandailing, Toba, Karo, Pak-pak, Simalungun, dan Angkola) Jawa, Aceh, Tionghoa, India (Tamil, Sikh). Komposisi masyarakat Kota Medan yang heterogen terbagi-bagi atas beberapa lokasi. Hal ini di sebabkan karena pada awal tumbuh dan berkembangnya suku tersebut di Kota Medan. Perbedaan lokasi tersebut bukan merupakan gambaran penduduk yang terpecah-pecah, melainkan sebagai wujud persatuan etnisitas yang di miliki setiap masyarakat di Kota Medan.

(Sumber : Letak Geografis. http://medankota.pemkomedan.go.id/geografi/ diakses tanggal 23 Oktober 2016 pukul 14.33 WIB).

4.2 Perkembangan Musik di Indonesia

Perkembangan musik di indonesia bisa dibilang sangat membanggakan.

apalagi ditambah akan kreatifitas anak – anak band yang tidak melupakan budaya musik tradisional contohnya seperti bondan prakoso yang memasukkan keroncong dari budaya jawa ada juga balawan yang memasukkan unsur musik bali dalam musiknya. Di dalam sejarah musik indonesia yang pertama kali memasukkan unsur musik ke dalam Indonesia berasal dari agama Hindu dengan menggunakan unsur alam sebagai ritual keagamaan dalam masyarakat. Semakin majunya jaman maka ada beberapa era musik di Indonesia yang paling diingat, ada beberapa era antara lain :

1. Era sebelum 70-an

Sekutu dan NICA mulai menguasai kota secara de facto. Saat Tentara Republik Indonesia dipaksa menyerah dan meninggalkan kota sejauh radius 11km;

Majelis Persatuan Perjuangan Priangan memutuskan untuk membakar kota untuk mencegah Sekutu dan Belanda mempergunakan fasilitas dan instalasi penting yang ada di kota itu.

2. Era 70-an

Koes Bersaudara adalah rajanya pada masa ini. Lagu-lagunya banyak mencapai Hits dan Koes bersaudara mendapat julukan sebagai The Beatlles-nya Indonesia. Setelah Toni Koeswoyo memilih bersolo karir posisinya di ganti Murry, dan kemudian kata ‘bersaudara’ diganti menjadi ‘Plus’. Ini di karenakan Murry bukan berasal dari keluarga Koeswoyo. Beberapa kali dicekal dan masuk penjara. Ini di karenakan Koes Plus membuat beberapa lagu dengan menggunakan lirik berbahasa

asing. menurut pemerintahan Soekarno ini tidak mencerminkan watak Nasionalisme dan bisa membahayakan.

3. Era-80-an

Pada era ini jenis lagu yang mendominasi adalah lagu pop yang mendayu-dayu, bertempo lambat dan cenderung berkesan cengeng. Rinto Harahap, Pance

Pada era ini jenis lagu yang mendominasi adalah lagu pop yang mendayu-dayu, bertempo lambat dan cenderung berkesan cengeng. Rinto Harahap, Pance

Dokumen terkait