BAB II KAJIAN TEORITIS DAN HIPOTESIS
2.4 Hipotesis
Menurut Sugiyono (2014: 64) hipotesis jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data.
Untuk metode penelitian kausal yang digunakan dalam penelitian ini, apakah ada pengaruh yang signifikan antara modernisasi administrasi perpajakan kepatuhan wajib pajak menggunakan hipoteis tentang pengaruh, yaitu yang ditentukan dalam bentuk:
“Diduga terdapat pengaruh yang signifikan antara modernisasi administrasi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak pada KPP Pratama Gorontalo”
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Gorontalo yang beralamat di Jl. Arif Rahman Hakim No. 34 Provinsi Gorontalo. Sedangkan waktu penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei 2015 sampai dengan bulan Juli 2015
3.2 Desain Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif. Menurut Sugiyono (2012: 13), metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Dalam penelitian ini terdapat 1 variabel independen dan 1 variabel dependen. Sebagai variabel independen dalam penelitian ini adalah modernisasi administrasi perpajakan, sedangkan variabel dependen adalah kepatuhan wajib pajak. Desain penelitian tersebut dapat digambarkan pada gambar 2 berikut:
Gambar 2. Desain Penelitian
3.3 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Berdasarkan rumusan masalah yang ada pada bab 1. dimana untuk melihat pengaruh modernisasi administrasi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak maka variabel operasional yang digunakan dalam penelitian ini melibatkan atas satu variabel independen (bebas) dan satu variabel dependen (terkait).
1. Variabel Independen
Variabel independen dalam penelitian ini adalah modernisasi administrasi perpajakan. Dimana modernisasi administrasi perpajakan adalah penggunaan sarana dan prasarana perpajakan yang baru dengan memanfaatkan perkembangan ilmu dan teknologi, dengan program struktur organisasi, business process teknologi dan komunikasi, manajemen sumber daya manusia (SDM), pelaksanaan good governance, (Diana, 2013: 14)
2. Variabel Dependen
Variabel dependen dalam penelitian ini adalah tingkat kepatuhan wajib pajak. Kepatuhan pajak menurut Norman D dalam Rahayu (2010: 138) adalah suatu iklim kepatuhan dan kesadaran
X Modernisasi Administrasi Perpajakan
Y
pemenuhan kewajiban perpajakan, tercermin dalam situasi dimana wajib pajak paham atau berusaha untuk memahami sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas, menghitung jumlah pajak terutang dengan benar, membayar pajak yang terutang tepat pada waktunya.
Berdasarkan uraian di atas, operasionalisasi variabel penelitian ini dapat dijelaskan dalam tabel 3 sebagai berikut:
Tabel 3 : Operasionalisasi Variabel
Variabel Dimensi Indikator Skala
Modernisasi administrasi perpajakan (X)
Modernisasi perpajakan dapat diartikan sebagai penggunaan sarana dan pra sarana perpajakan yang baru dengan memanfaatkan ilmu dan teknologi (Diana, 2013: 14). 1. Struktur Organisasi 2. Business process teknologi informasi dan komunikasi 3. Penyempurnaa n manajemen sumber daya manusia 4. Pelaksanaan good governance
1. Struktur organisasi pada KPP modern yang telah berubah menjadi berdasarkan fungsi memudahkan jalur penyelesaian pelayanan dan pemeriksaan wajib pajak.
2. Adanya account
representativ/pengawasan dan konsultasi (waskon) benar-benar melakukan fungsinya sebagaimana mestinya, yaitu membimbing wajib pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya
3. Kemudahan pelayanan dengan adanya AR dan konsultasi (waskon)
4. Sistem administrasi modern (digitalisasi:
e-SPT, e-filling, e-SPT, e-payment, e registrasion) sudah benar-benar dimanfaatkan demi kemudahan pemenuhan kewajiban perpajakan 5. Pembayaran secara on-line (teller bank,
internet banking, ATM) memudahkan Wajib Pajak kerena prosesnya cepat. 6. System pelaporan pajak secara
elektronik dapat memberikan kemudahan bagi Wajib Pajak.
7. Complain Center memberikan kemudahan bagi Wajib Pajak apabila ada keberatan dan keluhan tentang pajak.
Kepatuhan wajib pajak (Y)
Sofyan (2005),
kepatuhan perpajakan didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana wajib pajak memenuhi semua kewajiban perpajakan dan melaksanakan hak perpajakannya
Ketentuan Umum dan Tata Perpajakan Tahun 2009 Pasal 3 dan 4 Perturan Menteri Keuangan RI No.74/PMK.03/2012 Pasal 3 dan 4 1. Tepat waktu dalam menyampaikan SPT 2. Tidak mempunyai tunggakan pajak 3. Laporan keuangan di audit oleh akuntan publik atau lembaga pengawasan keuangan pemerintah dengan pendapat wajar tanpa pengecualian selama 3 (tiga) tahun berturut-turut 4. Tidak pernah melakukan tindak pidana di bidang perpajakan berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dalam jangka waktu 5 (lima) tahun terakhir.
1. Penyampaian surat pemberitahuan tahunan selama 3 (tiga) tahun pajak terakhir yang wajib disampaikan sampai akhir tahun sebelum tahun penetapan wajib pajak dengan kriteria tertentu dilakukan tepat waktu
2. Penyampaian surat pemberitahuan masa yang terlambat dalam tahun terakhir sebelum tahun penetapan wajib pajak dengan Kriteria Tertentu untuk Masa Pajak Januari sampai November tidak lebih dari 3 (tiga) Masa Pajak untuk setiap jenis pajak dan tidak berturut-turut
3. Seluruh Surat Pemberitahuan Masa dalam tahun terakhir sebelum tahun penetapan Wajib Pajak Dengan Kriteria Tertentu untuk Masa Pajak Januari sampai November telah disampaikan; dan
4. Yang dimaksud dengan tidak mempunyai tunggakan pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf (b) adalah keadaan Wajib Pajak pada tanggal 31 Desember tahun sebelum penetapan sebagai Wajib Pajak Dengan Kriteria Tertentu.
5. Yang dimaksud dengan laporan keuangan yang diaudit oleh akuntan publik atau lembaga pengawasan keuangan pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 huruf (c) adalah laporan keuangan yang dilampirkan dalam surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan yang wajib disampaikan selama 3 (tiga) tahun berturut-turut sampai dengan akhir tahun sebelum tahun penetapan Wajib Pajak dengan kriteria tertentu.
Interval
Berdasarkan tabel operasional di atas, maka tipe skala pengukuran penelitian ini menggunakan skala data Interval. Pengukuran penelitian ini menggunakan skala Guttman. Menurut Sugiyono (2012: 96) skala Guttman digunakan apabila ingin mendapatkan jawaban yang jelas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut
dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pertanyaan atau pernyataan.
Untuk mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif maka digunakan skala pengukuran berupa skala likert. Menurut Sugiyono (2014:93) skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekolompok tentang fenomena sosial.
Dalam skala likert keperluan analisis kuantitatif, maka jawaban itu diberi skor, misalnya :
Tabel 4 : Daftar Skala Likert
No Uraian Skor
1 Sangat setuju/selalu/sangat positif 5
2 Setuju/sering/positif 4
3 Ragu-ragu/kadang-kadang/netral 3
4 Tidak setuju/hampir tidak pernah/negatif 2
5 Sangat tidak setuju/tidak pernah 1
Sumber: Sugiyono (2011:94)
3.4 Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012: 389). Yang menjadi populasi sasaran dalam penelitian ini adalah wajib pajak badan yang akan menyampaikan SPT masa maupun tahunan sebelum dan sesudah melaporkan. Berdasarkan data dari KPP Pratama
Gorontalo hingga akhir tahun 2014 tercatat sebanyak 8.522 wajib pajak badan yang terdaftar di KPP Pratama Gorontalo. Penarikan sampel dalam penelitian ini menggunakan rumus Slovin, yang disajikan berikut ini:
Keterangan: n = Ukuran sampel N = Ukuran populasi
e = Kelanggaran ketidaktelitian karena kesalahan pengambilan sampel yang dapat ditolerir, 10%
Rumus Slovin digunakan dalam suatu penelitian jika data populasi diketahui. Populasi dalam penelitian ini berdasarkan data yang didapatkan dari KPP Pratama Gorontalo sebesar 8.522 orang wajib pajak. Untuk itu berikut jumlah sampel minimal dalam penelitian ini:
99 Orang
Sampel adalah sebagian dari populasi (Sugiyono, 2012: 389). Tehnik pengambilan sampel penelitian yang dipakai yaitu simple random
sampling technique terhadap 99 wajib pajak badan yang akan menyampaikan SPT masa maupun tahunan sebelum dan sesudah melaporkan pada KPP Pratama Gorontalo. Maksud dari random sampling ini adalah pengambilan sampel dari suatu populasi yang memungkinkan diperolehnya sampel sejumlah tertentu sehingga setiap individu populasi mempunyai kemungkinan secara bebas mewakili sebagai sampel.
3.5 Teknik Pengumpulan Data