BAB II TINJAUAN PUSTAKA
H. Kerangka Konsep
I. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari penelitian yang sifatnya masih praduga. Hipotesis pada penelitian ini adalah pendapatan dari pengelolaan kerupuk sagu di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur mengalami peningkatan dan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari bagi mereka yang mempunyai usaha home industry di bidang pengeloaan kerupuk sagu. Hipotesis ini adalah hipotesis alternatif. Karena hasil penelitian mengalami peningkatan, maka dapat disimpulkan bahwa hipotesis alternatif diterima pada penelitian ini.
21
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Pendekatan kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada manusia dalam wawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya (Moleong, 2005 : 3). Metode kualitatif sebagai suatu prosedur penelitian yang bersifat luwes, tidak terlalu rinci, tidak lazim mendefinisikan suatu konsep, serta memberi kemungkinan bagi perubahan-perubahan yang lebih mendasar, menarik dan unik yang bermakna ketika proses penelitian berjalan (Bungin 2007 : 39) atau metode kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis, atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati sesuai dengan realita yang di dapat dilapangan.
Penelitian kualitatif juga lebih banyak mementingkan segi “proses”
daripada “hasil”. Hal ini disebabkan bagian-bagian yang sedang diteliti akan jauh lebih jelas apabila diamati dalam proses penelitian kualitatif supaya dapat menghasilkan temuan yang benar-benar bermanfaat memerlukan perhatian yang serius terhadap berbagai hal yang dipandang perlu.
B. Fokus Penelitian 1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan subjek yang terdapat pada suatu tempat. Menurut Sugiyono (2012:80). Populasi adalah wilyah generalisasi yang terdiri atas subjek/objek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
22
yang berbeda-beda. Populasi penelitian ini adalah seluruh industri kerupuk yang ada di Desa Purwosari, adapun jenis kerupuk yang ada di beberapa Dusun di Desa Purwosari adalah kerupuk ubi, kerupuk kulit dan kerupuk sagu.
2. Sampel
Sampel terdiri dari 5 home industry yang ada di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur, sampel pada penelitian ini adalah home industry pengelolaan kerupuk sagu.
C. Pemilihan Lokasi dan Situs Penelitian 1. Lokasi
Lokasi adalah tempat dimana penelitian dilakukan, karena dengan ditetapkan lokasi penelitian berarti objek dan tujuan sudah ditetapkan sehingga mempermudah penulis dalam melakukan penelitian. Penelitian dilaksanakan di Desa Purwosari, lorong 06, Kecamatan Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur.
2. Situs Penelitian
Situs Penelitian adalah suatu tempat dimana peneliti menangkap keadaan sebenarnya dari objek yang diteliti untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan. Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan dalam bab terdahulu, maka penetapan situs penelitian adalah Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur.
D. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah sekelompok masyarakat atau rumah tangga keluarga yang melakukan usaha industri pembuatan kerupuksagu
yang berada di desa Purwosari kecamatan Tomoni, kabupaten Luwu Timur dengan sejumlah keterangan atau fakta-fakta yang diperoleh dari tempat penelitian dilaksanakan.
E. Instrumen Penelitian
Menurut Sugiyono (2018:166) Instrumen adalah alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun social yang diamati. Instrumen merupakan alat yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data penelitian.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sebagai instrument utaman dan beberapa daftar pertanyaan wawancara, serta kuesinoer dengan menggunakan alat rekam berupa handphone.
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data digunakan untuk mendapatkan data-data yang akurat, sehingga teknik pengumpulan data dalam sebuah penelitian sangat dibutuhkan. Teknik pengumpulan data adalah salah satu prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan dalam pelaksanaan penelitian, Adapun beberapa teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:
1. Wawancara 2. Observasi 3. Dokumentasi
G. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan bagian terpenting dalam proses penelitian.
Analisa data yang digunakan adalah analisis statistik deskriptif yaitu dengan menghitung rata-rata pendapatan, dan mentabulasi data. Analisis data untuk
24
mengetahui analisis pendapatan usaha home industri kerupuk di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui penerimaan usaha kerupuk raya digunakan rumus Total Penerimaan (TR) = Q x P (Soekartawi, 2003, h. 57-58)
Dimana :
TR =Total Revenue/penerimaan (Rp/Bln) Q =Jumlah Produksi Perbulan (unit) P =Harga (Rupiah)
b. Untuk mengetahui pendapatan atau keuntungan usaha Kerupuk raya digunakan rumus:
Pd = TR - TC (Soekartawi, 2003, h. 57-58) Dimana :
Pd = Total Pendapatan yang diperoleh Pengusaha Kerupuk (Rp/Bln) TR = Total Revenue/Penerimaan yang diperoleh Pegusaha (Rp/Bln) TC = Total Cost/Biaya yang dikeluarkan Pengusaha Kerupuk (Rp/Bln.
25
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Desa purwosari adalah salah satu desa yang berada di Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan.Jumlah penduduknya mencapai 3.133 jiwa.
Setelah pengumpulan data yang berupa data usaha kerupuk sagu, Desa Purwosari terdiri atas dua dusun yaitu dusun Hargosari dan dusun Hargomulyo dari data tersebut jumlah sampel yang diambil oleh peneliti adalah sebanyak 5 orang yang diperoleh melalui data primer. Selanjutnya peneliti melakukan analisis data yang bertujuan untuk mengetahui analisis kelayakan usaha kerupuk sagu sebagai home industry di Dusun Hargosari dan Dusun Hargomulyo Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur.
1. Letak Geografis dan Luas Daerah
Desa Purwosari terbagi atas 2 dusun/kelurahan.Dilihat dari topografi wilayahnya, desa ini berada pada ketinggian 7 m dari permukaan laut.
Sebagian besar rumah penduduk berada di kawasan persawahan.
Adapun batas-batas dari Desa Purwosari adalah sebagai berikut : a. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Kertoraharjo
b. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Mulyasri c. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Bangun Jaya d. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Sumber Agung
Berdasarkan kondisi geografis Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur maka sebagian besar kondisi wilayah daerah tersebut adalah daratan.
26
Kondisi ini merupakan salah satu keunggulan yang dimiliki wilayah tersebut dalam membangun sektor industri, termasuk subsector usaha keupuk sagu.
2. Keadaan Penduduk
Keadaan penduduk suatu wilayah merupakan salah satu keuntungan yang di miliki wilayah tersebut, jika penduduk di wilayah tersebut memiliki kualitas yang baik. Penduduk satu wilayah merupakan sumber daya yang berpengaruh terhadap perkembangan suatu wilayah. Oleh karena itu peningkatan kualitas penduduk suatu wilayah sangat penting dilakukan melalui peningkatan pendidikan maupun pengetahuan serta keterampilan.
3. Iklim
keadaan iklim sangat mempengaruhi proses pengolahan usaha industri kerupuk sagu karena iklim adalah kebutuhan yang berkaitan dengan penjemuran. Desa Purwosari suhu udara sepanjang bulan 2015-2019 terus mengalami perubahan perubahan yaitu 23,6⁰ meningkat menjadi 26,7⁰ sementara curah hujan di Desa Purwosari mencapai 418,6 – 323,1 Mm.
sedangkan hari hujan di Desa Purwosari perbulan mencapai 18,1-7 hari dengan kelebatan 86,9 persen. (Desa Purwosari 2019)
4. Keadaan Umum Responden
Umur dapat mempengaruhi kemampuan fisik dan pola piker pengusaha kerupuk sagu dalam mengelola usahanya. Kisaran umur responden yang di teliti berkisar antara 25 tahun sampai dengan 50 tahun.
Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pengusaha Kerupuk Sagu merupakan angkatan kerja yang tergolong produktif. Sedangkan tingkat pendidikan merupakan salah satu factor yang dapat mempengaruhi nilai produksi. Hal tersebut berkaitan dengan bagaimana orang melihat potensi
usaha, bagaimana dapat berfikir, mengefisienkan tenaga kerja serta biaya untuk memperoleh hasil yang maksimal, pengolahan usaha Kerupuk Sagu menunjukkan bahwa perempuan lebih efisien. Untuk kisaran umur, pendidikan dan jenis kelamin responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 4.1berikut ini.
Tabel 4.1
Klasifikasi responden menurut kelompok umur, pendidikan dan jenis kelamin di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur.
No Umur
(tahun)
Pemilik
Usaha Pendidikan Jenis Kelamin
1. 25 – 30 1 SMA / Sederajat Perempuan
Sumber : Data primer setelah diolah,2019
Pada tabel. 4.1 Menunjukkan bahwa kelompok umur dalam melakukan usaha terdiri dari umur 25 – 30 dengan jumlah 1 orang dengan tingkat pendidikan SMA dan berjenis kelamin perempuan, untuk umur 36 – 39 mencapai 2 orang dengan tingkat pendidikan SMP dan berjenis kelamin perempuan dengan tingkat pendidikan SMP, untuk umur 40 – 45 berjumlah 1 orang dengan tingkat pendidikan SD dan berjenis kelamin perempuan, untuk umur 46 – 50 juga berjumlah 1 orang dengan tingkat pendidikan SMP dan berjenis kelamin perempuan. Dari penjelasan diatas berarti pengusaha Kerupuk Sagu masih berada pada usia produktif untuk menjalankan usaha atau pekerjaannya.
28
5. Karakteristik Pengelola
Karakteristik pengelola merupakan keadaan atau gambaran umum pengelola yang ada di daerah penelitian, yang meliputi umur, pendidikan, pengalaman berpengelola dan tanggungan pengelola. Karakteristik dan faktor fisik lainnya berpengaruh terhadap kemampuan kerja pengelola dalam meningkatkan produksi. Karakteristik pengelola juga mencerminkan kemampuan dalam berpikir dan kecepatan dalam mengambil kebijaksanaan sehubungan dengan kegiatan home industrinya seperti usaha penerapan teknologi baru yang akan diterapkan pengelola.
Karakteristik pengelola merupakan gambaran pengelola terhadap kemampuan pengelola dalam suatu usaha yang ditekuni, kemampuan pengelola di cerminkan dari karakteristik pengelola tersebut yang meliputi umur, pendidikan, jumlah tanggungan dan pengalaman. Umur pengelola industri akan mempengaruhi jumlah produksi yang dihasilkan biasanya umur yang relatif muda maka akan mampu menghasilkan produksi yang lebih banyak sedangkan semakin tua umur pengelola maka akan semakin banyak hambatan yang dimiliki oleh pengelola tersebut sehingga produksi akan semakin sedikit. Pendidikan juga merupakan hal terpenting pada pengelola home industri dimana semakin tinggi pendidikan pengelola home industri akan semakin mampu memanajemen usahanya tersebut, untuk jumlah tanggungan merupakan jumlah tanggungan pada usia produktif dimana diharapkan jumlah tanggungan dapat membantu dari home industri dari skala tersebut. Pengalaman merupakan hal yang terpenting dalam perjalanan home industri dimana seiring waktu berjalan diharapkan pemilik dapat memahami dan menjalankan usahanya untuk lebih bagus kedepannya
berdasarkan pengalaman yang dialami sebelumnya, sehingga semakin lama pengalaman pemilik home industri maka akan semakin baik juga proses pengolahan kerupuk sagu.
6. Pengalaman Usaha
Pengusaha Kerupuk Sagu yang memiliki pengalaman yang lebih tentunya akan memberikan performa dan kemampuan kerja yang lebih baik.
Pengalaman seseorang dapat mendorong munculnya keterampilan sebab semakin lama seseorang bekerja maka cenderung pengusaha Kerupuk Sagu semakin terampil dalam pekerjaan tersebut, sedangkan pengalaman dapat diperoleh dari lama kerja seiring dengan lamanya seseorang berada dalam pekerjaan tersebut. Dengan demikian tingkat keberhasilan dapat semakin besar karena pengalaman adalah guru yang paling baik, serta kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi dalam usaha akan semakin di hindari. untuk lebih jelasnya pengalaman usaha atau pengalaman dalam mengelolah usaha Kerupuk Sagu dapat dilihat pada Tabel. 4.2.
Tabel 4.2
Klasifikasi pengalaman usaha responden pengusaha Kerupuk sagu di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur
No. Pengalaman Usaha
Sumber : Data primer setelah diolah (2019)
30
Berdasarkan tabel 4.2 diatas responden yang memiliki pengalaman usaha Kerupuk Sagu cukup bervariasi yaitu pengalaman 1- 4 tahun sebanyak 1 orang atau 34%, pengalaman 5 -10 tahun sebanyak 1 orang atau 34 %, pengalaman 10 – 5 tahun sebanyak 1 orang atau 34 % dan pengalaman 15 – 25 tahun yaitu sebanyak 2 orang atau 66 %. Hal ini memperlihatkan bahwa rata-rata pengusaha Kerupuk Sagu di Desa Purwosari masih berusia muda dalam menjalankan usahanya.
B. Penerimaan Usaha pada Home industry pengelolaan kerupuk sagu Usaha home industry Kerupuk Sagu merupakan salah satu usaha makanan ringan yang mana tujuan alternatifnya adalah meningkatkan produksi dan sekaligus meningkatkan pendapatan usaha. Menurut Soekartawi, dalam (Siti Hajar 2011 : 33) menyatakan bahwa penerimaan merupakan nilai produk total usaha dalam jangka waktu tertentu baik yang dijual maupun yang tidak dijual. Nilai produksi kerupuk akhir bulan dapat dilihat pada Tabel 4.3 dibawah ini.
Tabel 4.3
Tingkat Penerimaan Nilai Produksi Kerupuk Sagu di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur.
Sumber : Data Primer setelah diolah ( 2019 )
1. Nilai Produksi
Pada Tabel 4.3 Dapat dilihat bahwa jumlah penerimaan dari usaha Kerupuk Sagu yang didapatkan dari nilai produksi akhir bulan terbesar yaitu pada Dusun Hargosari dengan skala 15.000 bungkus dengan nilai penerimaan sebesar Rp.15.000.000 / bulan. Sedangkan untuk Dusun Hargomulyo mencapai skala 18.500 dengan nilai penerimaan Rp.
18.000.000 / bulan. Nilai akhir bulan merupakan nilai produksi Kerupuk Sagu yang diperoleh, dalam penelitian untuk mengetahui besarnya penerimaan tergantung pada jumlah produksi kerupuk di akhir bulan.
2. Harga Produksi
Harga produksi berfungsi sebagai dasar dalam menentukan harga jual satu bungkusan produksi, sedangkan harga kerupuk sagu dalam satu bungkusan sebesar Rp. 10.000 dengan jumlah volume 4 potongan kerupuk.
3. Biaya Produksi
Biaya produksi pada usaha Kerupuk Sagu merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan usaha produksi Kerupuk Sagu selama satu bulan. Biaya produksi yang dikeluarkan oleh usaha industri Kerupuk Sagu di Desa Purwosari tepatnya di Dusun Hargosari dan Dusun Hargomulyo, dalam kegiatan usahanya dibagi dalam dua macam biaya yaitu biaya tetap dan biaya variable.
4. Biaya Tetap
Biaya tetap dalam penelitian ini terdiri dari upah/gaji dan biaya penyusutan peralatan ialah merupakan biaya yang dikeluarkan oleh industri kerupuk sagu yang sifat tetap tidak tergantung dari besar kecilnya
32
produksi. Biaya tetap umumnya di definisikan sebagai biaya yang relative tetap jumlahnya, dan terus dikeluarkan walaupun produksi yang diperoleh banyak atau sedikit.
Biaya tetap yang dikeluarkan pada usaha kerupuk sagu adalah besar masing-masing komponen biaya tetap dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4
Rata-rata Biaya Tetap Usaha Industri Kerupuk Sagu di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur.
Sumber : Data primer setelah diolah (2019)
Pada tabel 5, terlihat bahwa pada upah yang dikeluarkan di Dusun Hargosari dalam usaha kerupuk sagu yang terbesar yaitu pada skala tenaga kerja 7 orang dengan biaya gaji sebesar Rp.2.100.000/bulan.
Sedangkan untuk Dusun Hargomulyo dengan biaya gaji Rp.4.200.000/bulan.Besar kecilnya biaya yang dikeluarkan disebabkan oleh pembiayaan tenaga kerja dan penyediaan peralatan produksi.
Menurut Supriati (Pengusaha Kerupuk). “Peralatan yang digunakan dalam usaha kerupuk sagu adalah mixer, blender, kuali, sendok dan pencetak, sedang jumlah perawatan yang digunakan pada usahanya sesuai dengan besar tenaga kerja yang dimiliki, semakin besar tenaga kerja dalam usaha yang dimiliki, semakin besar tenaga kerja yang dimiliki maka semakin besar pula biaya yang dikeluarkan untuk membeli peralatan begitu pula sebaliknya”.
5. Biaya Variabel
Biaya variabel dalam penelitian adalah biaya produksi biaya yang sifatnya berubah-ubah sesuai jumlah produksinya sehingga besar kecilnya biaya variabel akan ditentukan oleh skala besar kecilnya usaha dan produksi yang dihasilkan. Biaya variabel yang dikeluarkan oleh responden pada usaha kerupuk sagu di Desa Purwosari dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.5
Rata-rata Biaya Variabel Usaha industri Kerupuk Sagu di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur. 2. Hargomulyo 2.400.000 506.000 60.000 2.966.000
Sumber : Data primer setelah diolah (2019) 6. Total Biaya Usaha Kerupuk Sagu
Total biaya merupakan jumlah dari biaya tetap dan biaya variabel yang dikeluarkan oleh industri kerupuk sagu dalam proses usahanya.
Adapun total biaya yang dikeluarkan pada usaha kerupuk sagu di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
34
Tabel 4.6
Total Biaya Pada Usaha Kerupuk Sagu di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur
Sumber : Data primer setelah diolah, 2019
Pada tabel 4.6 dapat dilihat bahwa total biaya produksi pada usaha Kerupuk Sagu terdiri atas biaya tetap dan biaya variabel. Biaya variabel merupakan komponen biaya yang terbesar yang dikeluarkan oleh industry kerupuk sagu dalam usahanya. Total biaya produksi yang dikeluarkan paling tinggi dalam usaha industri kerupuk sagu pada skala produksi 3600 bungkusan dengan biaya produksi total sebesar Rp.
7.400.000/bulan dan paling sedikit pada skala produksi 1500 bungkusan dengan biaya total yang dikeluarkan sebesar Rp.6.000.000/bulan, biaya produksi dalam usaha industry kerupuk besar kecilnya biaya total sangat dipengaruhi oleh hasil produksi yang dihasilkan.
Hal ini sesuai dengan pendapat (Noor, 2010 : 67, dalam Siti hajar 2011 :37) bahwa produksi barang dan jasa yang dilakukan diarahkan untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu pendapatan laba. Laba yang didapatkan dari perusahaan berasal dari selisih antara pendapatan
dengan biaya. Oleh karena itu pertimbangan utama atau parameter utama dalam melakukan produksi adalah pendapatan yang akan diterima perusahaan dan biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk menghasilkan produksi tersebut.
C. Pendapatan Usaha Dalam Home industry Kerupuk Sagu
Pendapatan merupakan selisih dari total penerimaan dengan total biaya yang dikeluarkan dalam melakukan suatu usaha. Besar penerimaan usaha industri kerupuk sagu yang diperoleh dari hasil produksi kerupuk dikurangi total biaya yang dikeluarkan selama satu bulan. Adapun besarnya penerimaan/pendapatan industri kerupuk sagu di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur dapat dilihat pada tabel 4.7.
Tabel 4.7
Pendapatan Produksi, Biaya Total dan Pendapatan pada Kerupuk Sagu di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur
No. Nama
Jumlah Pendapatan 79.000.000 99,7
Sumber : Data primer setelah diolah, 2019
Pada tabel 4.7. Dapat dilihat bahwa pendapatan tertinggi pada usaha yang skala nilai produksi mencapai Rp. 10.000.000 dikurangi biaya total hingga penerimaan/pendapatan usaha industri kerupuk sagu mencapai Rp. 15.000.000
36
atau 18,9. Sedangkan pendapatan terkecil pada skala produksi Rp.9.000.000 dikurangi dengan biaya total sebesar Rp.5000.000 per bulan hingga penerimaan/pendapatan usaha sebesar Rp.14.000.000 perbulan atau mencapai 17,7.
D. Pembahasan
Tujuan yang dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui pendapatan yang diperoleh pada usaha Home Industry pengelolaan kerupuk sagu di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur. Untuk memenuhi tujuan tersebut telah dilakukan penelitian terhadap 5 responden yang dijadikan sampel.
Berdasarkan hasil pendapatan produksi, biaya total dan pendapatan yang diperoleh para pengelola kerupuk sagu yang dipaparkan pada tabel 4.7, pendapatan usaha home industry ini bernilai positif dan signifikan terhadap peningkatan pendapatan para pengusaha home industry kerupuk sagu yang ada di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur. Penerimaan tenaga kerja secara tidak langsung telah meningkatkan pendapatan masyarakat yang ada di Desa Purwosari dan tentunya pendapatan yang diperoleh dapat meningkatkan nilai konsumsi dan jumlah tabungan pemilik usaha dan karyawan yang nantinya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dapat dilihat bahwa pendapatan tertinggi pada usaha yang skala nilai produksi mencapai Rp. 10.000.000 dikurangi biaya total hingga penerimaan/pendapatan usaha industri kerupuk sagu mencapai Rp. 15.000.000 atau 18,9. Sedangkan pendapatan terkecil pada skala produksi Rp.9.000.000 dikurangi dengan biaya total sebesar Rp.5000.000 per bulan hingga penerimaan/pendapatan usaha sebesar Rp.14.000.000 perbulan atau mencapai 17,7.
Berdasarkan hasil penelitian bahwa pendapatan dan produksi dari usaha Kerupuk Sagu yang didapatkan dari nilai produksi akhir bulan terbesar yaitu pada skala produksi 3700 bungkus dengan nilai harga terbesar Rp.10.500.000/ bulan dan terkecil pada skala produksi 1500 bungkus mencapai nilai harga sebesar Rp.9.000.000/bulan.
Berdasarkan perhitungan biaya tetap dan biaya variabel yang tertinggi adalah pada skala tenaga kerja 14 orang dengan biaya tetap sebesar Rp.
8.000.000/ bulan, sedangkan biaya variabel yaitu Rp. 12.000.000/bulan. Hal ini karena nilai produksi kerupuk sagu awal bulan tergantung pada banyaknya jumlah produksi dan tingkat pendapatan usaha.
Total biaya produksi yang dikeluarkan paling tinggi dalam usaha industry kerupuk sagu adalah pada skala produksi 3600 bungkusan dengan biaya produksi total sebesar Rp. 17.400.000 / bulan dan paling sedikit 1500 bungkusan dengan biaya total yang dikeluarkan Rp.9.000.000/bulan. Pendapatan total usaha industri kerupuk sagu tertinggi pada skala produksi mencapai Rp.
17.400.000 dikurangi biaya total hingga penerimaan/laba industri kerupuk sagu mencapai Rp. 16.500.000 atau 20,8 persen.
Hasil perhitungan regresi tersebut telah menunjukkan konsistensi terhadap teori yang dikemukakan oleh Keynes dalam Mankiew (2013), bahwa peningkatan pendapatan akan berdampak terhadap tingginya konsumsi dan tabungan masyarakat, peningkatan pendapatan pengusaha pada gilirannya akan berdampak terhadap tingginnya akumulasi modal sehingga modal usaha akan ikut meningkat seiring dengan peningkatan pendapatan usaha begitu pula sebaliknya. Sejalan dengan penelitian Siti hajar (2011) mengenai pendapatan pengusaha kerupuk sagu di Desa Purwosari Kabupaten Luwu Timur.
38
E. Hasil Wawancara
Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada Ibu Supriati salah satu pemilik Home Industry di Dusun Hargosari :
Peneliti : Mulai tahun berapa ibu memulai usaha home industry kerupuk ini bu?
Ibu Supriati : Saya mulai jualan kerupuk ini dari waktu anak saya masih kecil, itu pada tahun 1997 saya mulai berjualan kerupuk sagu ini, kalau home industry sendiri dia sudah ada sejak tahun 1979, tetapi saya baru memulainya pada tahun 1997. saya menjual dari pasar ke pasar setiap subuh saya berangkatnya dik. Ntar pulangnya pagi gitu jam 9 kadang udah habis.
Peneliti : Bagaimana perkembangan usaha home industry selama ini bu?
Apakah sudah mencukupi kebutuhan sehari- hari?
Ibu Mulyani : Ya dik, Alhamdulillah penghasilan yang didapatkan selama ini bisa mencukupi kebutuhan keluarga dan bisa menguliahkan anak-anak saya.
Peneliti : Bagaimanakah respon peminat terhadap kerupuk sagu ini bu?
Ibu Astuti : Untuk peminatnya Alhamdulillah banyak, apalagi para ibu kantin yang melayani anak sekolah, mereka bisa berlangganan dengan saya setiap harinya.
Peneliti : Apakah peminatnya hanya ada dikalangan remaja saja atau ada yang lain bu?
Ibu Mardiana : Untuk peminatnya banyak mbak, dari semua kalangan. Banyak juga yang memesan dan dijual kembali di daerahnya seperti di
Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Luwu Utara. Pembeli paling banyak itu berasal dari Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Peneliti : Bagaimana Proses pembuatan dari kerupuk sagu sendiri bu?
Ibu Rosmiati : Proses pembuatannya tidak begitu sulit dik, hanya saja
Ibu Rosmiati : Proses pembuatannya tidak begitu sulit dik, hanya saja