• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

3. Hipotesis Ketiga

Ho3 = Tidak ada pengaruh positif pengalaman diklat terhadap kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian.

Ha3 = Ada pengaruh positif pengalaman diklat terhadap kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian.

61

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian ex-post facto atau penelitian non-eksperimental. Ex-post facto berasal dari bahasa Latin yang artinya โ€œsetelah faktaโ€. Hal ini menunjukkan bahwa penelitian tersebut adalah penelitian yang dilakukan sesudah perbedaan-perbedaan yang ada dalam variable bebas itu terjadi karena perkembangan kejadian secara alami.

Menurut pendapat Wayan Ardhana (FX. Muhadi, 2011:71) penelitian ex-post facto adalah penelitian dimana si peneliti tidak dimungkinkan untuk memanipulasi variabel atau menunjuk subjek untuk suatu perlakuan tertentu secara rambang atau menciptakan kondisi-kondisi secara rambang. Dalam penelitian ex-post facto si peneliti tidak dapat melakukan suatu kontrol secara langsung terhadap variabel bebas karena manifestasi variabel tersebut pada hakekatnya tidak dapat dimanipulasikan.

Menurut pendapat Sumadi Suryabrata (FX. Muhadi, 2011:71), tujuan penelitian ex-post facto adalah untuk menyelidiki kemungkinan sebab akibat dengan cara: berdasar atas pengamatan terhadap akibat yang ada, mencari kembali faktor yang mungkin menjadi penyebab melalui data tertentu.

Dalam penelitian ini, keterikatan antar variabel bebas dengan variabel terikat sudah terjadi secara alami, yang mana peneliti tidak dapat melakukan manipulasi atau perekaan variabel bebas dan variabel terikat tersebut. Penelitian ini termasuk ex-post facto karena akan mengungkap tentang pengaruh tingkat pendidikan guru, kemampuan TI dan pengalaman diklat terhadap kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang standar penilaian pada kurikulum 2013 edisi revisi yang sudah terjadi.

Jadi jenis penelitian ini yaitu penelitian ex-post facto untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang standar penilaian.

B. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Penelitian dilakukan pada SMA Negeri yang ada di Kota Yogyakarta. 2. Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada Bulan Januari sampai dengan Bulan Maret Tahun 2017.

C. Subjek dan Objek Penelitian 1. Subjek Penelitian

Subjek yang diteliti adalah guru dengan status PNS di SMA Negeri se-Kota Yogyakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang ditetapkan sebagai sampel dari penelitian ini.

2. Objek Penelitian

Objek yang diteliti dalam penelitian ini yaitu kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang standar penilaian yang ditinjau dari tingkat pendidikan guru, kemampuan TI dan pengalaman diklat.

D. Populasi, Sampel, dan Teknik Penarikan Sampel 1. Populasi

Populasi ialah jumlah keseluruhan dari unit analisis yang ciri-cirinya (karakteristiknya) akan di duga (FX.Muhadi, 2011: 33). Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian payung. Penelitian payung target populasinya adalah guru-guru SMA dan SMK Negeri di Kota Yogyakarta yang jumlahnya 1479 orang. Akan tetapi, pada penelitian ini hanya berfokus pada jumlah populasi guru-guru yang ada di SMA Negeri Yogyakarta saja.

Berdasarkan data SMA Negeri yang terdaftar di Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dikpora) Kota Yogyakarta ada 11 sekolah, dengan rincian data sebagai berikut:

1. SMAN 1 Yogyakarta 2. SMAN 2 Yogyakarta 3. SMAN 3 Yogyakarta 4. SMAN 4 Yogyakarta 5. SMAN 5 Yogyakarta 6. SMAN 6 Yogyakarta 7. SMAN 7 Yogyakarta 8. SMAN 8 Yogyakarta 9. SMAN 9 Yogyakarta 10. SMAN 10 Yogyakarta 11. SMAN 11 Yogyakarta 2. Sampel

Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi (FX. Muhadi, 2011:33). Dalam penelitian ini ukuran sampel penelitian ditetapkan berdasarkan rumus Slovin (Noor, Dr. Juliansyah, 2011:158) sebagai berikut:

๐‘› = 1 + (N x ๐‘’N 2) Keterangan:

n = jumlah elemen/ anggota sampel N = jumlah elemen/ anggota populasi

e = Error level (tingkat kesalahan), dengan Margin of Error sebesar 5%.

Jadi, dari populasi sebesar 1.479 di atas dapat ditentukan ukuran sampel sebagai berikut:

๐‘› = N 1 + (N x ๐‘’2) ๐‘› = 1.479 1 + 1.479 0,05 2 ๐‘› =1+1.479 0,0025 1.479

๐‘› =

1.479 1+3,6975

๐‘› = 1.479 4,6975

๐‘› = 314,8483236

Dari rumus diatas dengan margin error 5% diperoleh ukuran sampel sebesar 314,8483236 yang kemudian dibulatkan menjadi 315. Dengan demikian, ukuran sampel setiap sekolah proporsional sebesar 21,29% (315/1479). Kemudian, peneliti mempertimbangkan adanya kuesioner yang gugur maka ukuran sampel ditambah 10% sehingga total sampel menjadi 347 atau dapat dikatakan bahwa ukuran sampel setiap sekolah proporsional sebesar 23,46% (347/1479).

3. Teknik Penarikan Sampel

Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah proportional sampling. Dalam penelitian ini, sebaran populasi dan sampel guru SMA Negeri di Kota Yogyakarta nampak seperti pada tabel berikut:

Tabel 3.1

Data Sampel Guru SMA Negeri Yogyakarta

No Sekolah Populasi Sampel Persentase

1. SMA N 1 Yogyakarta 57 guru 13 guru 23,46 % 2. SMA N 2 Yogyakarta 65 guru 15 guru 23,46 % 3. SMA N 3 Yogyakarta 66 guru 16 guru 23,46 % 4. SMA N 4 Yogyakarta 51 guru 12 guru 23,46 % 5. SMA N 5 Yogyakarta 57 guru 13 guru 23,46 % 6. SMA N 6 Yogyakarta 52 guru 12 guru 23,46 % 7. SMA N 7 Yogyakarta 51 guru 12 guru 23,46 % 8. SMA N 8 Yogyakarta 50 guru 12 guru 23,46 % 9. SMA N 9 Yogyakarta 42 guru 10 guru 23,46 % 10. SMA N 10 Yogyakarta 51 guru 12 guru 23,46 % 11. SMA N 11 Yogyakarta 61 guru 14 guru 23,46 % Jumlah 603 guru 141 guru 23,46 %

E. Variabel Penelitian dan Pengukurannya 1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah sesuatu hal yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2014:95). Adapun variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari dua jenis, yaitu:

a. Variabel Bebas

Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus atau prediktor. Variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (FX.Muhadi, 2011: 24). Dalam penelitian ini, yang menjadi variabel bebas adalah : pendidikan (X1) adalah tingkat pendidikan formal tertinggi yang dimiliki oleh guru, kemampuan TI (X2) adalah kemampuan guru dalam hal memanfaatkan teknologi informasi dan pengalaman diklat (X3) adalah lamanya guru mengikuti diklat yang dinyatakan dalam satuan waktu hari.

b. Variabel Terikat

Variabel ini sering disebut variabel dependen. Variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (FX.Muhadi, 2011: 24). Dalam penelitian ini, variabel terikatnya adalah: Kemampuan Mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian yaitu kemampuan guru dalam mengimplementasikan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik.

2. Pengukuran Variabel Penelitian

Pengukuran variabel bebas dalam penelitian ini ditentukan sebagai berikut: pendidikan (X1) berdasarkan jenjang pedidikan formal tertinggi yang dimiliki seorang guru yaitu: D3 diberi skor 1, S1 diberi skor 2, S2 diberi skor 3, S3 diberi skor 4. Kemampuan TI (X2) menggunakan pengukuran skala sikap dari Likert dan pengalaman diklat (X3) berdasarkan lamanya mengikuti diklat yang dinyatakan dalam satuan waktu hari yaitu yang memiliki pengalaman diklat 5 hari diberikan skor 5, yang memiliki pengalaman diklat 7 hari diberi skor 7 dan seterusnya.

Sedangkan untuk variabel terikat, yaitu: Kemampuan Mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian yaitu kemampuan guru dalam mengimplementasikan penilaian proses dan hasil belajar peserta didik diukur menggunakan skala sikap dari Likert.

Variabel penelitian yang diukur dengan menggunakan skala Likert yang dimodifikasi menjadi 4 opsi jawaban untuk setiap pernyataan, yaitu Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS). Pemberian skor akan tampak seperti pada tabel 2 berikut:

Tabel 3.2

Skor Pernyataan Sikap Pernyataan

Sikap Skor SS Skor S

Skor TS Skor STS Pernyataan Positif 4 3 2 1 Pernyataan Negatif 1 2 3 4

F. Teknik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini data dikumpulkan menggunakan teknik kuesioner. Kuesioner ini digunakan untuk mengumpulkan data mengenai tingkat pendidikan guru, kemampuan TI, pengalaman diklat, dan kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 tahun 2016 tentang standar penilaian. Agar kuesioner memiliki validitas isi dan validitas konstruk, maka penyusunan kuesioner ditempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Mendefinisikan variabel

2. Menentukan dimensi dan indikator 3. Menulis kuesioner

Berdasarkan definisi operasional variabel penelitian yang diuraikan di atas, untuk mengungkap data variabel-variabel yang diukur menggunakan skala sikap dari Likert disusun kisi-kisi penyusunan kuesioner sebagai berikut:

Tabel 3.3 Kisi-Kisi Kuesioner

No Variabel Dimensi Indikator Positif Negatif

1. Kemampuan Mengimple-mentasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian (Y1) 1.1 Aspek sikap 1.2 Aspek pengetahuan 1.3 Aspek Keterampila n 1.1.1 Observasi atau Pengamatan 1.1.2 Teknik penilaian yang relevan

1.2.1 Tes tertulis, Tes lisan, dan Penugasan

1.3.1 Teknik yang sesuai dengan teknik yang dinilai (Praktek, Produk, Proyek, dan Portofolio) Nomor 38, 39, 40 dan 41 Nomor 42, 43, dan 44 Nomor 45, 46, 47, 48, 49 Nomor 50, 51, 52, 53, 54, 56, dan 57 Nomor 55 2. Kemampuan Teknologi Informasi (X2). 2.1. Komputer 2.2.Komunikasi 2.3.Keterampilan 2.1.1. Menggunakan komputer.

2.2.1. Email, sosial media, e-learning 2.3.1. MS Office 2.3.2. Aplikasi pembelajaran yang terkait dengan pelajaran. Nomor 101 dan 102 Nomor 103, 104, 105, 106, 108 Nomor 109 Nomor 110 Nomor 107

G. Pengujian Instrumen Penelitian

Uji instrumen penelitian dimaksudkan untuk menguji validitas dan reliabilitas kuesioner yang digunakan untuk mengumpulkan data variabel-variabel kemampuan TI (X2) dan Implementasi Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian (Y1).

1. Pengujian Validitas Kuesioner

Pengujian validitas kuesioner dimaksudkan untuk memperoleh kuesioner (alat ukur) yang dapat mengukur variabel yang diteliti dengan tepat.

a) Uji validitas isi dan konstruk.

Validitas isi merupakan validitas yang diestimasi lewat pengujian terhadap isi tes dengan analisis rasional atau lewat professional judgment (Dr. Saifuddin Azwar, MA, 2009: 45) Sedangkan pengertian validitas konstruk menurut Allam & Yen (Dr. Saifuddin Azwar, MA, 2009: 48) adalah tipe validitas yang menunjukkan sejauh mana tes mengungkapkan suatu trait atau konstrak teoritik yang hendak diukurnya. Untuk memenuhi validitas isi, dibuat kisi-kisi terlebih dahulu yang mencakup dimensi, indikator dan item kuesioner yang tertera pada tabel di depan.

b) Uji validitas empiris.

Dikatakan validitas empiris karena didasarkan atas bukti empiris yang telah diperoleh pada suatu tes. Validitas empiris disebut juga validitas prediksi (predictive validity) karena instrumen tersebut sudah dapat digunakan untuk membuat prakiraan terhadap kemampuan sebenarnya atau kemampuan akhir para pengikut tes tersebut (FX.Muhadi, 2011: 46). Untuk

menentukan validitas butir digunakan rumus korelasi product moment dari Karl Pearson sebagai berikut (FX. Muhadi, 2011: 47) :

rxy= nฮฃxy โ€“ (ฮฃx) (ฮฃy) โˆš{nฮฃxยฒ โ€“ (ฮฃx)ยฒ} {nฮฃy2 โ€“ (ฮฃy)2}

Keterangan:

rxy = Koefisien korelasi antara x dan y n = Jumlah subyek

ฮฃx = Total Jumlah dari Variabel X ฮฃy = Total Jumlah dari Variabel Y ฮฃx2

= Kuadrat dari Total Jumlah Variabel X ฮฃy2

= Kuadrat dari Total Jumlah Variabel Y

ฮฃxy = Hasil Perkalian dari Total Jumlah Variabel X dan Variabel Y

Untuk uji validitas ini digunakan alat bantu komputer program SPSS Versi 22. Kriteria setiap butir pernyataan pada kuesioner dikatakan valid jika pada ฮฑ = 5% r hitung bersifat positf dan nilainya lebih besar dari r tabel, dengan total responden sebanyak 133 responden dengan dk = n-2. Diketahui bahwa derajat kebebasan sebesar 131 (dk = 133-2) dengan taraf signifikan 5% menunjukkan r tabel sebesar 0,1432.

1). Variabel Kemampuan Mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 tahun 2016 Tentang Standar Penilaian

Data mengenai kemampuan mengimplementasikan standar penilaian pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013 diungkapkan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri atas 20 pernyataan. Jika koefisien r tabel dibandingkan dengan koefisien r hitung maka diperoleh hasil 19 butir pernyataan dapat dikatakan valid dan 1 butir pernyataan tidak valid. Berdasarkan hasil pengujian (pada tabel 3.4 ) di bawah, maka dapat diketahui bahwa butir nomor 55 tidak valid, oleh karena itu peneliti mengambil keputusan untuk membuang butir nomor 55. Setelah itu, peneliti kembali melakukan pengujian dan hasil pada pengujian kedua yaitu semua butir valid. Berikut akan disajikan tabel 3.4 (pengujian pertama) dan tabel 3.5 (pengujian kedua) mengenai pengujian validitas variabel kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang standar penilaian :

Tabel 3.4

Hasil Pengujian Validitas Instrumen Penelitian Variabel Kemampuan Mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 Tentang

Standar Penilaian

No. Butir r hitung r tabel Keterangan 1 38 0,665 0,1432 Valid 2 39 0,532 0,1432 Valid 3 40 0,594 0,1432 Valid 4 41 0,485 0,1432 Valid 5 42 0,425 0,1432 Valid 6 43 0,479 0,1432 Valid 7 44 0,419 0,1432 Valid 8 45 0,735 0,1432 Valid 9 46 0,714 0,1432 Valid 10 47 0,749 0,1432 Valid 11 48 0,734 0,1432 Valid 12 49 0,733 0,1432 Valid 13 50 0,761 0,1432 Valid 14 51 0,771 0,1432 Valid 15 52 0,631 0,1432 Valid 16 53 0,571 0,1432 Valid 17 54 0,600 0,1432 Valid 18 55 0,012 0,1432 Tidak Valid 19 56 0,759 0,1432 Valid 20 57 0,696 0,1432 Valid

Tabel 3.5

Hasil Pengujian Validitas Instrumen Penelitian Variabel Kemampuan Mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 Tentang

Standar Penilaian (kedua)

No. Butir r hitung r tabel Keterangan 1 38 0,668 0,1432 Valid 2 39 0,527 0,1432 Valid 3 40 0,590 0,1432 Valid 4 41 0,479 0,1432 Valid 5 42 0,416 0,1432 Valid 6 43 0,485 0,1432 Valid 7 44 0,428 0,1432 Valid 8 45 0,739 0,1432 Valid 9 46 0,710 0,1432 Valid 10 47 0,759 0,1432 Valid 11 48 0,742 0,1432 Valid 12 49 0,742 0,1432 Valid 13 50 0,760 0,1432 Valid 14 51 0,758 0,1432 Valid 15 52 0,647 0,1432 Valid 16 53 0,585 0,1432 Valid 17 54 0,614 0,1432 Valid 18 56 0,777 0,1432 Valid 19 57 0,691 0,1432 Valid

2. Variabel Kemampuan Teknologi Informasi (TI)

Data mengenai variabel kemampuan TI diungkapkan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri atas 10 pernyataan. Jika koefisien r tabel dibandingkan dengan koefisien r hitung maka diperoleh hasil keseluruhan koefisien r hitung lebih besar dari r tabel. Oleh karena itu 10 butir

pernyataan dapat dikatakan valid. Adapun rangkuman dari pengujian validitas adalah sebagai berikut:

Tabel 3.6

Hasil Pengujian Validitas Instrumen Penelitian Variabel Kemampuan TI

No. Butir r hitung r tabel Keterangan 1 101 0,580 0,1432 Valid 2 102 0,580 0,1432 Valid 3 103 0,742 0,1432 Valid 4 104 0,778 0,1432 Valid 5 105 0,700 0,1432 Valid 6 106 0,611 0,1432 Valid 7 107 0,258 0,1432 Valid 8 108 0,519 0,1432 Valid 9 109 0,528 0,1432 Valid 10 110 0,527 0,1432 Valid

c) Uji Reliabilitas Kuesioner

Reliabilitas menunjukkan pada suatu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrument tersebut sudah baik (FX. Muhadi, 2011:49). Untuk menguji reliabilitas instrumen pada penelitian ini rumus yang digunakan yaitu koefisien alpha cronbach (FX. Muhadi, 2011: 54)

๐‘Ÿ11 = ๐‘˜โˆ’1 ๐‘˜ ( 1 โˆ’ โˆ‘๐œŽ๐‘๐œŽ2๐‘ก2) Keterangan :

๐‘Ÿ11 = Reliabilitas instrumen.

โˆ‘๐œŽ๐‘2 = Jumlah varians butir. ๐œŽ2๐‘ก = Varians total.

Untuk uji reliabilitas ini digunakan alat bantu komputer program SPSS Versi 22. Kriteria kuesioner dikatakan reliabel jika pada ฮฑ = 5% nilai alpha cronbach lebih dari 0,6.

a) Reliabilitas Kuesioner Variabel Kemampuan Mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian Pembelajaran

Berikut ini adalah rangkuman dari pengujian reliabilitas instrumen penelitian untuk variabel standar penilaian pembelajaran berdasarkan kurikulum 2013.

Tabel 3.7

Hasil Pengujian Reliabilitas Instrumen Penelitian Variabel Kemampuan Mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23

Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian Cronbachโ€™s

Alpha

Cronbachโ€™s Alpha Based on Standardized Items

N of Items

0,934 0,936 19

Berdasarkan tabel hasil pengujian reliabilitas pada tabel 3.7 di atas dapat diperoleh koefisien Cronbachโ€™s Alpha sebesar 0,934. maka dapat diartikan bahwa keseluruhan butir pernyataan variabel standar penilaian tersebut adalah reliabel.

b) Reliabilitas Kuesioner Variabel Kemampuan TI

Berikut ini adalah rangkuman dari pengujian reliabilitas instrumen penelitian untuk variabel kemampuan TI.

Tabel 3.8

Hasil Pengujian Realiabilitas Instrumen Penelitian Variabel Kemampuan TI

Cronbachโ€™s Alpha

Cronbachโ€™s Alpha Based on Standardized Items

N of Items

0,861 0,868 10

Berdasarkan tabel hasil pengujian reliabilitas pada tabel 3.8 di atas dapat diperoleh koefisien Cronbachโ€™s Alpha sebesar 0,861. maka dapat diartikan bahwa keseluruhan butir pernyataan variabel kemampuan TI tersebut adalah reliabel.

H. Teknik Analisis Data 1. Analisis Data Deskriptif

Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan statistika deskriptif. Menurut Sugiyono (FX. Muhadi, 2011: 77) statistik deskriptif juga dapat dikatakan sebagai statistik yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran terhadap objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya tanpa melakukan analisis dan membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum.

Peneliti melakukan penyajian data dalam bentuk tabel dan nilai-nilai statistikanya, yang akan diinterprestasikan secara kualitatif yang berdasarkan pada Penilaian Acuan Patokan tipe II (PAP II), dengan nilai presentil sebagai berikut (Masidjo, 1995:157) :

66% - 80% : Baik 56% - 65% : Cukup 46% - 55% : Tidak Baik

Di bawah 46% : Sangat Tidak Baik

PAP II umumnya merupakan cara untuk menghitung variabel penilaian hasil belajar dengan skor minimal 0 dan skor maksimal 100, karena data penelitian yang telah ditetapkan memiliki skor terendah 1 dan skor tertinggi 4, maka untuk mendeskripsikan kategori variabel langkah pertama yang harus dilakukan adalah menentukan skor interval dengan memodifikasi rumus PAP tipe II dengan rumus:

Skor minimal yang mungkin dicapai + nilai persentase x (skor maksimal yang mungkin dicapai โ€“ skor minimal yang mungkin dicapai).

Perhitungan kategori kecenderungan untuk setiap variabel pada responden siswa dan guru adalah sebagai berikut:

a. Responden Guru 1) Variabel Penilaian

Skor maksimal yang mungkin dicapai: 19 x 4 = 76 Skor minimal yang mungkin dicapai :19 x 1 = 19

Skor kategori kecenderungan untuk variabel penilaian, adalah sebagai berikut:

19 + 81% (76 - 19) = 65 19 + 66% (76 - 19) = 57

19 + 56% (76 - 19) = 51 19 + 46% (76 - 19) = 45 19 + 0% (76-19) = 19

Data perhitungan di atas dapat disimpulkan kategori kecenderungan variabel penilaian berikut:

Tabel 3.9

Rentang Kemampuan Mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 Tentang Standar Penilaian

No. Interval Skor Kategori

1. 65 - 76 Sangat Baik

2. 57 โ€“ 64 Baik

3. 51 โ€“ 56 Cukup

4. 45 โ€“ 50 Tidak Baik

5. 19 โ€“ 44 Sangat Tidak Baik 2) Variabel Kemampuan TI

Skor maksimal yang mungkin dicapai: 10 x 4 = 40 Skor minimal yang mungkin dicapai: 10 x 1 = 10

Skor kategori kecenderungan untuk variabel kemampuan TI, adalah sebagai berikut:

10 + 81% (40 - 10) = 34 10 + 66% (40 - 10) = 30 10 + 56% (40 - 10) = 27 10 + 46% (40 - 10) = 24 10 + 0% (40-10) = 10

Tabel 3.10

Rentang Variabel Kemampuan TI

No. Interval Skor Kategori

1. 34-40 Sangat Tinggi 2. 30-33 Tinggi 3. 27-29 Cukup 4. 24-26 Rendah 5. 10-23 Sangat Rendah 2. Pengujian Hipotesis

Dalam penelitian ini, peneliti merumuskan tiga hipotesis sebagai berikut:

a. Hipotesis Pertama

๐ป๐‘œ1 = Tidak ada pengaruh positif tingkat pendidikan guru terhadap kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian.

๐ป๐‘Ž1 = Ada pengaruh positif tingkat pendidikan guru terhadap kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian.

b. Hipotesis Kedua

H02 = Tidak ada pengaruh positif kemampuan TI terhadap kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian.

Ha2 = Ada pengaruh positif kemampuan TI terhadap kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian.

c. Hipotesis Ketiga

Ho3 = Tidak ada pengaruh positif pengalaman diklat terhadap kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian.

Ha3 = Ada pengaruh positif pengalaman diklat terhadap kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang Standar Penilaian.

3. Langkah-langkah Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis menggunakan analisis Chi-square (x2), langkah-langkah yang digunakan untuk uji hipotesis adalah sebagai berikut:

a. Mencari Nilai Chi-Square (x2)

Untuk melihat tingkat signifikansi (kemaknaan) hubungan antara dua variabel atau lebih yang dianalisis berdasarkan tabel silang, digunakan uji Chi-square (kai kuadrat) yang bersimbol ๐‘‹2

(Sofar & Yayak, 2013: 203) Rumus yang digunakan untuk menguji Chi-square (x2) adalah sebagai berikut (Syofian Siregar, 2010: 231) :

๐‘‹2 = ๐‘“๐‘œ โˆ’ ๐‘“๐‘’ 2 ๐‘“๐‘’ Keterangan:

๐‘“๐‘œ =Frekuensi observasi

๐‘“๐‘’ = Frekuensi yang diharapkan x2 = Chi Kuadrat

b. Kriteria Pengujian Hipotesis

Jika nilai Asymp. Sig > 0,05 maka Ho diterima. Hal tersebut menunjukkan tidak ada pengaruh positif terhadap kemampuan mengimplementasikan Permendikbud No. 23 tahun 2016 tentang standar penilaian, maka tidak perlu dilakukan penentuan derajat asosiasi. Jika H1,diterima artinya menunjukkan adanya pengaruh positif terhadap kemampuan mengimplementasikan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2016 tentang standar penilaian.

c. Menentukan Besarnya Derajat Asosiasi

Apabila diketahui bahwa H1diterima, langkah selanjutnya adalah mencari derajat hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan cara membandingkan koefisien kontingensi (C) dengan koefisien kontingensi maksimum (Cmax) yang dapat dicari dengan persamaan sebagai berikut (Sudjana, 2005: 282): C = ๐‘ฅ2+๐‘›๐‘ฅ2 Cmax = ๐‘šโˆ’1๐‘š rasio = C/Cmax Keterangan: C : koefisien kontingensi

x2

: koefisien Chi-Square

m : jumlah minimum antara baris dan kolom n : banyaknya sampel

secara umum kriteria rasio C/ Cmax adalah sebagai berikut:

Tabel 3.11 Kriteria Rasio C/ Cmax

C/ Cmax Interpretasi >0,80 Sangat Kuat 0,60 - <0,80 Kuat 0,40 -<0,60 Sedang 0,20 - <0,40 Lemah <0,20 Sangat Lemah

Untuk mencari Chi-Square hitung dan koefisien kontingensi dalam penelitian ini menggunakan bantuan program SPSS versi 22.0 for windows.

d. Penarikan Kesimpulan Hipotesis

Jika nilai Sig < ฮฑ = 0,05, maka H1 diterima. Artinya ada pengaruh positif variabel bebas terhadap kemampuan mengimplementasikan Permendikbud No. 23 tahun 2016 tentang standar penilaian. Sebaliknya jika nilai Sig > ฮฑ = 0,05 maka Ho diterima. Artinya tidak ada pengaruh positif variabel bebas terhadap kemampuan mengimplementasikan Permendikbud No. 23 tahun 2016 tentang standar penilaian.

85

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 11 Januari 2017 sampai dengan tanggal 7 Maret 2017 dengan subjek penelitian guru-guru SMA Negeri se-Kota Yogyakarta. Dalam penelitian ini, peneliti seharusnya mengambil sampel dari 11 SMA Negeri di Kota Yogyakarta, akan tetapi pada pelaksanaannya peneliti tidak dapat memasukkan SMA Negeri 4 Yogyakarta ke dalam perhitungan sampel penelitian dikarenakan SMA Negeri 4 Yogyakarta tidak berkenan untuk dijadikan responden. Oleh karena itu, pengambilan data hanya dilaksanakan pada 10 SMA Negeri yang ada di Kota Yogyakarta, yaitu SMA Negeri 1, SMA Negeri 2, SMA Negeri 3, SMA Negeri 5, SMA Negeri 6, SMA Negeri 7, SMA Negeri 8, SMA Negeri 9, SMA Negeri 10 dan SMA Negeri 11. Sehingga terdapat perubahan pada penentuan margin error yang semula sebesar 5% kemudian berubah menjadi 7,6%. Dari 10 sekolah tersebut peneliti menyebar 152 kuesioner untuk guru, dengan jumlah kuesioner yang kembali sebanyak 141 kuesioner, dan ada yang digugurkan sebanyak 7 kuesioner. Jadi, keseluruhan jumlah guru yang digunakan sebagai responden dalam penelitian ini adalah sebanyak 133 guru.

Distribusi kuesioner guru di SMA Negeri se-Kota Yogyakarta dapat diilustrasikan pada tabel 4.1 seperti berikut ini :

Tabel 4.1

Data Responden Penelitian Guru

Nama Sekolah Populasi Responden Persentase Responden SMA N 1 Yogyakarta 57 13 22,81 % SMA N 2 Yogyakarta 65 20 30,77 % SMA N 3 Yogyakarta 66 16 24,24 % SMA N 5 Yogyakarta 57 16 28,07 % SMA N 6 Yogyakarta 52 9 17,31 % SMA N 7 Yogyakarta 51 11 21,57 % SMA N 8 Yogyakarta 50 12 24 % SMA N 9 Yogyakarta 42 9 21,43 % SMA N 10 Yogyakarta 51 12 23,53 % SMA N 11 Yogyakarta 61 15 24,60 % Jumlah 552 133 24.09%

Setelah itu, dalam bab ini akan disajikan pula mengenai analisis data yang menggunakan bantuan komputer dengan program SPSS versi 22.0 for Windows serta pembahasan hasil penelitian.

1. Deskripsi Responden

a.Berdasarkan Jenis Kelamin

Data responden guru berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.2

Data Responden Guru Berdasarkan Jenis Kelamin

Dari tabel 4.2 dapat dilihat jumlah responden guru berdasarkan jenis kelamin, dimana guru yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dibandingkan dengan jumlah guru yang berjenis kelamin laki-laki. Guru yang berjenis kelamin perempuan ada sebanyak 84 guru atau sebesar 63,2 %, sedangkan guru yang berjenis kelamin laki-laki ada sebanyak 49 guru atau sebesar 36,8 %. Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar guru yang menjadi responden adalah berjenis kelamin perempuan.

b. Berdasarkan Tingkat Pendidikan

Data responden guru berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 4.3

Data Responden Guru Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kategori Frekuensi Persentase Laki โ€“ laki 49 36,8% Perempuan 84 63,2%

Total 133 100%

Kategori Frekuensi Persentase

D3 2 1,5%

S1 103 77,4%

S2 26 19,5%

S3 2 1,5%

Dari tabel 4.3 di atas, dapat diketahui jumlah responden guru berdasarkan tingkat pendidikannya. Dari 133 guru yang menjadi responden ada sebanyak 2 guru atau sebesar 1,5% yang memiliki tingkat pendidikan D3, yang memiliki tingkat pendidikan S1 ada sebanyak 103 guru atau sebesar 77,4%, untuk yang memiliki tingkat pendidikan S2 ada sebanyak 26 guru atau sebesar 19,5% dan yang memiliki tingkat pendidikan S3 ada sebanyak 2 guru atau sebesar 1,5%. Ditinjau dari data pada tabel 4.3, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden guru memiliki tingkat pendidikan S1.

c. Berdasarkan Pengalaman Diklat

Data responden guru berdasarkan pengalaman mengikuti diklat dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.4

Data Responden Guru Berdasarkan Pengalaman Diklat Kategori Interval Frekuensi Persentase

Sering >9 53 39,8%

Jarang โ‰ค9 80 60,2%

Total 133 100

Dari tabel 4.4 dapat diketahui bahwa ada sebanyak 53 guru atau sebesar 39,8 % guru yang tergolong dalam kategori sering mengikuti diklat, dan ada sebanyak 80 guru atau sebesar 60,2% guru yang tergolong jarang mengikuti diklat.

Sehingga, dari data diatas dapat disimpulkan bahwa guru-guru di SMA Negeri se-Kota Yogyakarta masih tergolong dalam kategori jarang mengikuti diklat mengenai kurikulum 2013 revisi.

2. Deskripsi Variabel

a. Deskripsi Kemampuan Mengimplementasikan Penilaian Pembelajaran Berdasarkan Kurikulum 2013 Edisi Revisi

Dokumen terkait