BAB V ANALISIS DATA
2. Koefisien regresi bernilai 0,44 (positif) menunjukkan program psikoedukasi keluarga berpengaruh positif terhadap keberfungsian sosial pasien gangguan jiwa
5.9 Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis adalah analisa data yang paling penting, karena berperan untuk
menjawab rumusan masalah penelitian dan membuktikan hipotesis penelitian. Dalam
pengujian hipotesis maka digunakan uji parsial atau uji T.
Uji T (uji parsial) digunakan untuk melihat secara individual hubungan positif atau
negatif dan signifikan dari variabel bebas (X) terhadap variabel terikat (Y).
Tabel 5.9.1 Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 47,019 23,665 1,987 ,057 Program Psikoedukasi Keluarga ,044 ,312 ,027 ,142 ,888
a. Dependent Variable: Keberfungsian Sosial Pasien Gangguan Jiwa Akibat Ketergantungan Narkoba Sumber: Data diolah melalui SPSS.20
Kriteria penerimaan dan penolakan terhadap hipotesis adalah sebagai berikut:
a. Berdasarkan nilai signifikansi
1. Tolak H0 jika nilai probabilitas hitung (sig.) < probabilitas yang ditetapkan sebesar 0.05 (sig. < α 0.1)
2. Terima Ha jika nilai probabilitas hitung (sig.) > probabilitas yang ditetapkan
sebesar 0.05 (sig. > α 0.1)
Dari tabel di atas maka dapat ditarik kesimpulan ‘Terima Ha’ yang menyatakan bahwa
terdapat hubungan antara program psikoedukasi keluarga terhadap keberfungsian sosial
pasien gangguan jiwa akibat narkoba di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara karena
1. Tolak H0 jika nilai T hitung ≥ t tabel 2. Terima Ha jika nilai T hitung ≤ t tabel
Berdasarkan hal diatas, maka rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:
t Tabel = a/2 : n – k – 1
= 0.05/2 : 30 – 1 – 1
= 0.025 : 28
Dengan demikian, berdasarkan t tabel maka diperoleh hasil 1.701 di mana hasil t tabel
tersebut lebih besar dari T hitung yakni 0,142 sehingga kesimpulan yang dapat ditarik adalah
‘Terima Ha’ yang menyatakan adanya hubungan, karena T hitung 0,142 < t tabel 1.701.
‘Terima Ha’ menyatakan terdapat hubungan antara program psikoedukasi keluarga terhadap
keberfungsian sosial pasien gangguan jiwa akibat narkoba di Rumah Sakit Jiwa Provinsi
BAB VI
PENUTUP
6.1 Kesimpulan
Program Psikoedukasi Keluarga merupakan salah satu upaya yang dilakukan Rumah
Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara untuk menambah pengetahuan dan keterampilan keluarga
dalam merawat pasien gangguan jiwa. Sehingga diharapkan mampu membantu proses
penyembuhan anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa dan meningkatkan
keberfungsian sosialnya sebagai individu yang merupakan makhluk sosial. Penulis
melakukan penelitian secara kuantitatif dengan menggunakan bantuan software SPSS Versi
20. Adapun kesimpulan dari penelian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Melalui hasil analisis Uji Reliabilitas didapatkan bahwa Alpha Cronbach adalah
0.815 ≥ 0.6. Hal ini menunjukkan bahwa data yang terdapat dalam penelitian
reliable, yaitu dapat dipercaya.
2. Melalui hasil analisis korelasi product moment Berdasarkan output diatas, dapat
dilihat bahwa korelasi antara variabel X (Program Psikoedukasi Keluarga) dengan
variabel Y (Keberfungsian Sosial Pasien Gangguan Jiwa Akibat Ketergantungan
Narkoba) di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara, masuk ke dalam kategori
kuat (matang), yaitu sebesar 0.888 atau sekitar 88% dengan arah positif. Hal ini
menandakan perubahan yang terjadi diantara kedua variabel bersifat searah.
Artinya semakin tinggi pengaruh Program Psikoedukasi Keluarga, maka semakin
tinggi pula pengaruhnya terhadap Keberfungsian Sosial Pasien Gangguan Jiwa
Akibat Ketergantungan Narkoba di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara.
Psikoedukasi Keluarga (variabel X), dengan Keberfungsian Sosial Pasien
Gangguan Jiwa Akibat Ketergantungan Narkoba (variabel Y) terdapat korelasi
yang signifikan. Hal tersebut dikarenakan nilai signifikansi (Sig) 0.027 ≤ 0,1. Jika demikian, maka terdapat hubungan yang signifikan antar kedua variabel.
Selanjutnya tanda bintang (*) juga menunjukkan terdapat hubungan yang kuat
antara kedua variabel tersebut.
3. Uji Hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis uji t / uji parsial dengan
hasil, yaitu ditarik kesimpulan terima Ha karena sig. 0,888 > 0,1 yang menyatakan
terdapat hubungan antara kedua variabel, yakni terdapat hubungan yang signifikan
antara Program Psikoedukasi Keluarga dengan Keberfungsian Sosial Pasien
Gangguan Jiwa Akibat Ketergantungan Narkoba di Rumah Sakit Jiwa Provinsi
Sumatera Utara. Selain itu juga peneliti melakukan analisis dengan
membandingkan uji T hitung dengan uji t tabel, yaitu dengan perincian jika T
hitung ≤ t tabel, maka Hipotesis Ha yang menyat akan ada hubungan diterima.
Berdasarkan perhitungan, diperoleh nilai T hitung sebesar 0,142 dan lebih kecil
dari t tabel, yakni 1.701.
Kesimpulan akhir yang dapat ditarik adalah Tolak H0 dan Terima Ha, yakni terdapat
hubungan yang signifikan antara Program Psikoedukasi keluarga dengan Keberfungsian
Sosial Pasien Gangguan Jiwa Akibat Ketergantungan Narkoba di Rumah Sakit Jiwa Provinsi
Sumatera Utara sebesar 88%, sedangkan 12% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain
diluar Program Psikoedukasi Keluarga.
Program psikoedukasi keluarga dapat dilihat efektif menambah pengetahuan dan
dari keluarga mengenai penyakit yang diderita pasien gangguan jiwa, maka pasien gangguan
jiwa juga dapat terbantu dalam memahami penyakitnya dan mampu bersikap terbuka kepada
keluarga. Mayoritas keluarga yang mengikuti program psikoedukasi tidak hanya mampu
menangani tekanan yang dialami pasien gangguan jiwa, tetapi juga mampu menangani
tekanan yang datang dari luar ataupun dari dalam diri mereka sendiri dalam upaya merawat
pasien gangguan jiwa.
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, meningkatnya kemampuan serta keterampilan
keluarga dalam merawat pasien gangguan jiwa membawa pengaruh positif terhadap
keberfungsian sosial pasien gangguan jiwa itu sendiri. Saat ini 80% dari total pasien
gangguan jiwa yang diteliti telah mampu kembali menjalankan peran, kewajiban, dan
tanggung jawabnya dengan baik. Sebagai contoh, seorang subjek penelitian yang berprofesi
sebagai karyawan swasta di suatu perusahaan sekarang dapat kembali melakukan pekerjaanya
dan hidup mandiri tanpa perawatan keluarga lagi.
6.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah disajikan sebelumnya, penulis mengajukan saran
sebagai berikut:
1. Pelaksanaan program psikoedukasi keluarga kepada keluarga pasien gangguan jiwa
diharapkan kedepannya agar dapat berjalan lebih baik lagi dalam hal keaktifan.
Manajemen Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara juga perlu meningkatkan
lagi kegiatan edukasi bagi keluarga pasien, khususnya pasien yang akan pulang
dari rumah sakit, sehingga perawatan pasien dapat dilakukan oleh keluarga serta
menghindari terjadinya kekambuhan.
2. Upaya edukasi keluarga yang telah dilakukan selama ini ternyata ada beberapa
a. Komponen didaktik tentang tanda atau gejala gangguan jiwa
b. Komponen keterampilan tentang komunikasi dan penanganan konflik dalam
merawat orang yang mengalami gangguan jiwa.
c. Komponen emosi tentang cara menerima keberadaan anggota keluarga yang
mengalami gangguan jiwa.
3. Pihak Rumah Sakit Jiwa Provinsi Sumatera Utara perlu melakukan penyuluhan
mengenai Program Psikoedukasi Keluarga kepada pasien dan anggota keluarga
mereka agar lebih banyak lagi keluarga yang bersedia mengikuti psikoedukasi,
karena pendidikan dan keterampilan mengenai perawatan pasien gangguan jiwa
cukup efektif memberikan dampak positif dalam membantu proses penyembuhan