Berdasarkan kaitan antara masalah yang dirumuskan dengan teori yang dikemukakan maka dapat disusun suatu hipotesis sebagai berikut :
1. Terdapat perbedaan prestasi belajar matematika antara siswa yang diajar dengan pendekatan
pembelajarankontekstual dengan prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan
pendekatan pembelajaran konvensional.
2. Untuk siswa yang memiliki gaya berpikir divergen, prestasi belajar matematika siswa yang
diajar dengan pendekatan pembelajaran kontekstual lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan pendekatan pembelajarankonvensional.
3. Untuk siswa yang memiliki gaya berpikir konvergen, prestasi belajar matematika siswa yang
diajar dengan pendekatan pembelajaran konvensional lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang diajar dengan pendekatan pembelajaran kontekstual.
4. Terdapat interaksi antara pendekatan pembelajaran dengan gaya berpikir siswa dalam
Hipotesis statistiknya adalah : 1. 2. 3. 4. L. METODE PENELITIAN 1. Populasi dan Sampel Penelitian 1.1 Populasi Penelitian
Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II SMP DHARMA LAKSANA yang dibagi menjadi tujuh kelas yaitu kelas VIIIA, IIB, VIIIC, VIIID, IIE, VIIIF, VIIIG. Informasi yang diperoleh dari Wakil Kepala Sekolah Urusan Kesiswaan bahwa ketujuh kelas terdistribusi ke dalam kelas-kelas yang setara secara akademik. Dikatakan setara, karena dalam pengelompokan siswa ke dalam kelas-kelas tesebut disebar secara merata antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Hal ini berarti tidak terdapat kelas unggulan maupun non unggulan.
1.2 Sampel Penelitian
Pemilihan sampel penelitian ini tidak dilakukannya pengacakan individu, karena tidak bisa mengubah kelas yang telah terbentuk sebelumnya. Kelas dipilih sebagaimana telah terbentuk tanpa campur tangan peneliti dan tidak dilakukannya pengacakan individu, kemungkinan pengaruh-pengaruh dari keadaan subjek mengetahui dirinya dilibatkan dalam eksperimen dapat dikurangi sehingga penelitian ini benar-benar menggambarkan pengaruh perlakuan yang diberikan (Sevilla dkk, 1993).
Berdasarkan karakteristik populasi dan tidak bisa dilakukannya pengacakan individu,
maka pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik random sampling.
Mula-mula diambil empat kelas secara acak sebagai sampel penelitian dari tujuh kelas yang ada. Setelah diperoleh empat kelas sebagai sampel, dilanjutkan dengan memilih secara acak dua kelas sebagai kelompok eksperimen dan dua kelas sebagai kelompok kontrol. Dalam
tes gaya berfikir yang telah disusun oleh peneliti. Skor yang diperoleh dari tes gaya
berfikirkemudian diranking. Sebanyak 27% kelompok atas dinyatakan sebagai kelompok
siswa yang memiliki gaya berfikir divergen dan 27% kelompok bawah dinyatakan sebagai kelompok siswa yang memiliki gaya berfikir konvergen. Pengambilan kelompok atas dan kelompok bawah sebesar 27% dengan pertimbangan bahawa prsentase ini paling baik digunakan untuk membedakan dua kelompok yang dikontraskan dibandingkan dengan 30% atau 50%. Pengambilan masing-masing 27% kelompok atas dan kelompok bawah juga didasarkan pada ajuran Guilford (1954: 425) yang memilah kelompok ekstrim sebesar 27%. Untuk lebih meyakinkan bahwa kedua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setara, peneliti akan melakukan uji-t untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan skor rata-rata prestasi belajar matematika. Adapun rumus uji-t yang digunakan adalah:
Kreteria pengujian: jika thit ttabel pada derajat kebebasan dan taraf
signifikan , maka kedua kelas dinyatakan setara. Sedangkan distribusi data yang
akan digunakan dalam uji-t ini adalah nilai raport siswa pada semester genap tingkat sebelumnya. Walaupun nilai raport terdapat unsur ojektivitasnya, tetapi unsur tersebut tidak diberikan pada individu tertentu melainkan secara keseluruhan.
2 Rancangan dan Prosedur Penelitian 2.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada kelas VIII semester 2 tahun ajaran 2006/2007 di SMP DHARMA LAKSANA. Pada dasarnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan pembelajaran kontekstual dan gaya berpikir siswa terhadap prestasi belajar matematika siswa, dengan memanipulasi variabel bebas yaitu pembelajarankontekstual dan gaya berpikir siswa, sedangkan variabel yang lain tidak bisa dikontrol secara ketat sehingga
desain penelitian yang digunakan adalah desain eksperimen semu (quasy exsperiment).
Desain eksperimen yang digunakan adalah desain grup faktorial 2x2 (Fraenkel dan Wallen, 1993; Candiasa, 2002; Seniati dkk, 2005). Pemilihan metode ini disesuaikan dengan data yang diharapkan, yaitu perbedaan prestasi belajar matematika sebagai akibat perlakuan yang diberikan. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah prestasi belajar matematika siswa. Sebagai variabel bebas perlakukan adalah pendekatan pembelajaran, yang dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu pembelajaran kontekstual dan pembelajaran konvensional. Sebagai variabel moderator adalah gaya berpikir, yang dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu gaya
berpikir konvergen dan gaya berpikir divergen. Secara skematis desain penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 3.3 berikut ini.
Tabel 3.3. Desain Penelitian
Pembelajaran (A) Gaya Berpikir (B) Kontekstual (A1) Konvensional (A2)
Gaya Berpikir Divergen (B1) A1B1 A2B1
Gaya Berpikir konvergen (B2) A1B2 A2B2
Total A1B1 + A1B2 A2B1 + A2B2
Keterangan:
A1 = Kelompok siswa yang diajar dengan pembelajaran kontekstual
A2 = Kelompok siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensioal
B1 = Kelompok siswa yang memiliki gaya berpikir divergen
B2 = Kelompok siswa yang memiliki gaya berpikir konvergen
A1B1 = Kelompok siswa yang diajar dengan pembelajaran kontekstual dan memiliki gaya berpikir
divergen
A2B1 = Kelompok siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional dan memiliki gaya berpikir
divergen
A1B2 = Kelompok siswa yang diajar dengan pembelajaran kontekstual dan memiliki gaya berpikir
konvergen
A2B2 = Kelompok siswa yang diajar dengan pembelajaran konvensional dan memiliki gaya berpikir
konvergen
Data presatasi belajar matematika dalam penelitian ini diambil dari skor post testsaja
yang dilakukan pada akhir penelitian atau dengan kata lain tanpa memperhitungkan skor pre
test. Campbell dan Stanley (1966: 25) mengatakan bahwa data penelitian yang hanya
memperhitungkan skor post test saja tanpa memperhitungkan skor pretest, faktor validitas
internal penelitian tidak memiliki kelemahan serta dapat dikontrol, seperti: history, kematangan, tes, instrumen, regresi, mortalitas (kematian), dan implementasi. Sementara itu, menurut Fraenkel dan Wallen (1993: 222-230) agar hasil suatu penelitian dapat dinyatakan sebagai hasil dari perlakukan eksperimen dan hasilnya dapat digeneralisasi pada kondisi yang sama di luar perlakuan, maka perlu dilakukan pengontrolan. Adapun cara yang digunakan untuk mengontrol validitas internal penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Karakteristik Subjek
Banyak karakteristik subjek yang harus dikendalikan dalam penelitian ini, seperti: intelegensi, sikap, umur, jenis kelamin, status ekonomi, agama, motivsi dan lain sebagainya.
Karakteristik subjek dikontrol dengan cara mengambil sampel penelitian secara acak (random), sehingga kondisi awalnya relatif sama.
2. Kehilangan Subjek Penelitian(mortalitas)
Hilangnya anggota sampel penelitian dapat terjadi sewaktu-waktu. Hilangnnya anggota
sampel ini disebut dengan mortalitas. Kehilangan tersebut bisa terjadi karena, siswa pindah
sekolah, pindah kelas, siswa sering tidak hadir atau bahkan sakit selama penelitian berlangsung. Pengaruh mortalitas dapat dikontrol dengan melakukan absen dan pengawasan secara ketat selama proses pembelajaran. Cara lain bisa dilakukan dengan melebihkan sampel penelitian sehingga apabila terjadi mortalitas kekurangan itu bisa ditutupi.
3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah tempat di mana dilakukannya eksperimen atau tempat istimewa di mana data dikumpulkan. Ada kalanya kelompok eksperimen dan kelompok kontrol letaknya bersebelahan, hal ini dikontrol dengan cara tidak mengatakan kepada kedua kelompok bahwa mereka dijadikan subjek penelitian.
4. Instrumentasi
Pengaruh instrumen penelitian bisa terjadi karena perubahan instrumen, perubahan penskoran dan perbedaan karakteristik pengumpul data. Untuk pengaruh perubahan instrumen dan perubahan penskoran dikontrol dengan cara menyediakan pedoman penskoran yang telah ditetapkan. Sedangkan Pengaruh perbedaan karakteristik pengumpul data terhadap validitas internal dikontrol dengan menggunakan alat pengumpulan data yang sama untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dalam hal ini alat pengumpulan data yang digunakan adalah tes prestasi belajar matematika yang diberikan ke pada kedua kelompok pada akhir penelitian.
5. Pengukuran
Perbedaan prilaku yang ditunjukkan oleh tes awal (pre test) dan tes akhir (post test) dapat
diakibatkan oleh kejadian di luar perlakukan. Kasus ini disebut pengaruh pengukuran yang dapat mempengaruhi validitas internal (Candiasa, 2002). Untuk menghindari pengaruh perbedaan prilaku dapat dikontrol dengan hanya membandingkan skor tes akhir pada masing- masing kelompok.
6. Pengaruh Sejarah (history)
Pengaruh sejarah dalam hal ini adalah apakah kelompok eksperimen maupun kontrol yang dijadikan sampel penelitian berasal dari kelompok yang setara, artinya kedua kelompok memiliki prestasi belajar matematika yang relatif sama. Pengaruh ini bisa dikontrol dengan memilah kelompok eksperimen dan kelompok kontrol secara acak.
7. Kematangan (masturation)
Subjek penelitian akan mengalami perubahan fisik maupun mental (kematangan) dari waktu kewaktu yang dapat mempengaruhi prestasi belajar matematikanya. Untuk itu, pengaruh kematangan ini dapat dikontrol dengan pelaksanaan perlakukan dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama tetapi masih memenuhi syarat penelitian, dalam hal ini perlakuan yang diberikan selama 12 kali pertemuan (12 x 2 jam pelajaran), ditambah dua kali pertemuan, satu kali pertemuan untuk melaksanakan tes gaya berfikir siswa, yaitu sebelum diberikannya perlakuak dan satu kali pertemuan untuk pelaksanaan pengerjaan tes prestasi belajar matematika pada akhir perlakuan.
8. Regresi
Adanya data-data out layer dalam penelitian akan berpengaruh pada regresi statistik.
Pengaruh ini dapat dikontrol dengan cara pengacakan dalam pengambilan sampel penelitian sehingga terhindar dari skor-skor ekstrem pada skor prestasi belajar matematika.
9. Sikap Siswa
Cara subjek penelitian memandang suatu penelitian dan partisipasi mereka dalam penelitian dapat menciptakan suatu kendala untuk validitas internal. Subjek penelitian dapat memiliki sikap yang berbeda-beda terhadap proses pembelajaran, seperti pura-pura giat belajara atau serius mengikuti pembelajaran. Untuk mengotrol hal ini adalah dengan cara peneliti tidak secara langsung terjun kelapangan memberikan pembelajaran di dalam kelasa, tetapi memberikan guru matematika di sekolah bersangkutan untuk melaksanakan pembelajaran, sehingga subjek penelitian tidak mengetahui bahwa dirinya dijadikan subjek penelitian.
10. Pengaruh Implementasi
Merupakan kejadian yang tidak terduga yang dapat menguntungkan salah satu kelompok. Misalnya peneliti tenjun langsung ke lapangan menerapkan perlakuan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, sehingga ada kemungkinan peneliti akan menerapan pmbelajaran pada klompok eksperimen dengan sebaik-baiknya agar terjadi perbedaan prestasi belajar antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengaruh implementas ini dapat dikontrol dengan cara peneliti menggunakan dua orang guru matematika yang setara dari segi jenis kelamin, jenjang pendidikan, golongan (pangkat), pengalaman mengajar, lama mengajar dan lain-lain. Peneliti meminta bantuan kepala sekolah dalam mentukan guru yang nantinya dilibatkan dalam penelitian. Sedangkan untuk menghindari bias yang terjadi akibat perlakukan guru dikontrol dengan melaksanakan pembelajaran sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah di susun penliti, baik untuk kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol. Setelah diperoleh dua orang guru yang setara sesuai kreteria di atas, kemudian untuk menentukan guru mana yang mengajar di kelompok eksperimen maupun guru mana yang mengajar kelompok kontrol ditentukan dengan cara diundi.
Setelah ditentukan guru yang akan mengajar di masing-masing kelompok, guru-guru tersebut akan diberikan pengarahan dan pembekalan tentang proses pembelajaran pada masing- masing kelompok. Khusus untuk guru yang mendapat mengajar di kelompok eksperimen yaitu dengan menerapakan pendekatan kontekstual akan di uji coba selama dua minggu dan dipantau langsung oleh peneliti. Sedangkan untuk guru yang dapat mengajar di kelompok kontrol tidak dilakukan uji coba karena guru sudah terbiasa menerapkan pembelajaran dengan pendekatan konvensional.
2.2 Prosedur Penelitian
Pada penelitian ini, langkah-langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut. 1. Menentukan sampel berupa kelas dari populasi yang tersedia dengan cara random.
2. Dari sampel yang telah diambil kemudian diundi untuk menentukan kelas eksperimen dan
kelas kontrol.
3. Menyusun media pembelajaran (alat peraga, LKS, Silabus, dll) yang nantinya digunakan
selama proses belajar-mengajar pada kelompok eksperimen.
4. Menyusun instrumen penelitian berupa tes prestasi belajar pada ranah kognitif untuk
mengukur prestasi belajar mtematika siswa.
5. Mengkonsultasikan instrumen penelitian dengan guru matematika, dosen matematika, dan
dosen pembimbing.
6. Mengadakan validasi instrumen penelitian yaitu tes prestasi belajar matematika.
7. Memberikan tes gaya berfikir untuk memilah gaya berfikir konvergen dan gaya berfikir
divergen siswa.
8. Melaksanakan penelitian yaitu memberikan perlakuan kepada kelas eksperimen berupa
pembelajaran kontekstual dengan sintaks pembelajaran sebagai berikut. Tabel 1.6 Sintaks pembelajaran kontekstual
Phase Aktivitas Guru Aktivitas Siswa
Pengantar
1. Orientasi Siswa Pada
Masalah
Memotivasi siswa
(memfokuskan perhatian siswa) dengan cara tanya jawab berkaitan dengan materi dalam kehidupan sehari-hari
Menyampaikan tujuan
pembelajaran dan logistik yang diperlukan
Siswa menjawab pertanyaan guru
Siswa mempersiapkan
logistik yang diperlukan