BAB III KERANGKA DAN HIPOTESIS
3.2 Hipotesis Penelitian
1. Pengaruh PAD terhadap Belanja Modal
Secara teoritis, Agency Theory menjelaskan hubungan kontraktual antara agen (masyarakat) dan prinsipal (pemerintah). Dalam konteks PAD dapat dilihat dari kemampuan dan tanggung jawab pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan publik yang baik serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui alokasi belanja modal, yaitu dengan menyediakan sarana dan prasarana yang memadai yang dibiayai dari belanja modal yang dianggarkan setiap tahunnya, sedangkan belanja modal itu sendiri sumber pembiayaannya dari PAD. Ermasova et al. (2014) menyatakan bahwa PAD akan ditentukan oleh kondisi sumber daya daerah terkait. Semakin tinggi suatu daerah memperoleh PAD, maka akan semakin tinggi pula akokasi belanja modal yang dimiliki. Pemerintah daerah (agen) bertanggung jawab kepada masyarakat (prinsipal) karena masyarakat telah memberikan sebagian uangnya kepada pemerintah daerah melalui pajak, retribusi, dan lain -lain.
Dengan demikian, ada hubungan antara PAD dengan Belanja Modal.
Setiap daerah memiliki dasar tersendiri untuk pengenaan pajak dan retribusi daerah tergantung dengan kebijakan dan peraturan daerah setempat.
Sehingga kemampuan masing-masing daerah dalam mengelola sumber dayanya juga akan berbeda-beda. Dengan semakin tingginya PAD yang dimiliki pemerintah daerah maka kemampuan daerah untuk membiayai belanja daerah akan semakin besar pula. Sehingga PAD memiliki pengaruh yang positif terhadap belanja modal yang dimiliki pemerintah daerah.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Mawarni dkk, (2013) menemukan bahwa PAD memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengalokasian anggaran belanja modal di Pemerintah Kabupaten/Kota Provinsi Aceh. Begitu pula hasil penelitian Haryuli (2015); dan Sari dkk, (2017) yang mendapatkan hal yang sejalan dengan penelitian Mawarni dkk, (2013).
Berdasarkan penjelasan di atas maka hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah:
H1: PAD secara parsial berpengaruh terhadap pengalokasian anggaran belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur.
2. Pengaruh DAU terhadap Belanja Modal
Pemerintah mengeluarkan dana bantuan kepada daerah yang berupa dana perimbangan yang mana dana tersebut meliputi DBH, DAU dan DAK, yang ditujukan untuk mendanai kebutuhan daerah dalam kerangka asas desentralisasi.
Dana Perimbangan atau dana transfer pusat ke daerah itu memiliki fungsi dan tujuan yang salah satunya pebangunan infrasruktur yang berdampak pada
pembangunan pemerintah serta pertumbuhan ekonomi masyarakat dengan memperhatikan kebutuhan pelayanan publik. Dana perimbangan tersebut diharapkan mampu membantu pembiayaan daerah dalam rangka untuk menyelenggarakan pembangunan daerah pada berbagai bidang antara lain;
pendidikan, kesehatan, sanitasi, ekonomi dan berbagai sarana pra sarana penunjang lainnya.
Perhitungan perolehan DAU suatu daerah ditentukan atas besar kecilnya celah fiskal (fiscal gap) suatu daerah yang merupakan selisih antara kebutuhan daerah dan potensi daerah. Semakin tingginya DAU yang diterima oleh daerah dari pemerintah pusat maka akan semakin tinggi juga belanja modal yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Adanya pengaruh positif antara DAU terhadap belanja modal dapat memberikan penjelasan bahwa DAU memiliki keterikatan dengan pembangunan infrastruktur daerah. Kerterkaitan dengan pembangunan infrastuktur daerah dapat dikatakan karena bantuan berupa DAU yang dikirimkan oleh pemerintah pusat dan dipergunakan pemerintahdaerah ini ditujukan untuk mendanai kegiatan atau program pemerintah daerah melalui belanja daerah terutama untuk belanja modal.
Penelitian yang dilakukan oleh Juniawan dan Suryantini (2018) membuktikan bahwa DAU yang diterima pemerintah daerah dari pusat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap belanja modal. Hal ini juga diperkuat oleh penelitian Eksandy, Hakim dan Ekawati (2018) yang menyatakan bahwa belanja modal dapat dipengaruhi oleh DAU.
Berdasarkan penjelasan di atas maka hipotesis kedua dalam penelitian ini adalah:
H2: DAU secara parsial berpengaruh terhadap pengalokasian anggaran belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur.
3. Pengaruh DAK terhadap Belanja Modal
Selain DAU, Pemerintah Daerah juga akan mendapatkan DAK. DAK merupakan dana yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan dialokasikan ke daerah kabupaten/kota untuk membiayai kebutuhan tertentu yang sifatnya khusus, tergantung persediaanya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pada dasarnya DAK dialokasikan untuk membantu daerah dalam mendanai kebutuhan fisik sarana dan prasarana dasar yang merupakan prioritas nasioanal di bidang pendidikan, kesehatan, jalan, irigasi, air minum, prasarana pemerintah, kelautan dan perikanan, lingkungan hidup, keluarga berencana, kehutanan, sarana dan prasarana pedesaan serta perdagangan. Semakin besarnya proporsi DAK yang diterima oleh daerah dari pemerintah pusat akan menyebabkan pendapatan yang dimiliki pemerintah daerah akan semakin besar. Sehingga pemerintah daerah dapat membiayai belanja modal yang lebih besar pula.
Hasil penelitian Juniawan dan Suryantini (2018) menemukan bukti empiris bahwa DAK berpengaruh signifikan terhadap alokasi belanja modal. Hasil tersebut juga didukung oleh hasil penelitian lainnya yang dilakukan oleh Ndede,
Sondakh dan Pontoh (2016); dan Machmud (2013) yang menyatakan bahwa DAK memiliki pengaruh yang signifikan terhadap belanja modal.
Berdasarkan penjelasan di atas maka hipotesis ketiga dalam penelitian ini adalah:
H3: DAK secara parsial berpengaruh terhadap pengalokasian anggaran belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur.
4. Pengaruh DBH terhadap Belanja Modal
DBH adalah dana yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka presentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. DBH ini bersumber dari pajak dan kekayaan daerah. DBH juga merupakan penunjang pemerintah daerah untuk memenuhi sarana dan prasarana publik serta infrastruktur daerah menggunakan belanja modal. Hal ini dapat disimpulkan jika belanja modal naik maka DBH juga naik.
(Wandira 2013) yang membuktikan bahwa DBH berpengaruh signifikan terhadap Alokasi Belanja Modal. Demikian pula dengan hasil studi yang dilakukan oleh (Heliyanto 2015) menyatakan bahwa DBH berpengaruh terhadap Alokasi Belanja Modal.
Berdasarkan penjelasan di atas maka hipotesis keempat dalam penelitian ini adalah:
H4: DBH secara parsial berpengaruh terhadap pengalokasian anggaran belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur.
5. Pertumbuhan Ekonomi Sebagai Variabel Moderating dalam hubungan antara PAD terhadap Belanja Modal
Pertumbuhan ekonomi yang baik bagi suatu daerah berpengaruh terhadap pembangunan daerah. Pembangunan daerah yang baik yaitu bisa dikategorikan meningkatkan sarana dan prasarana publik serta infrastruktur daerah. Jika pembangunan sarana dan prasarana publik serta infrastruktur daerah dapat meningkatkan PAD. Hal ini juga mempengaruhi alokasi belanja modal karena sarana dan prasarana publik serta infrastruktur daerah dibelanjakan menggunakan belanja modal. Pertumbuhan ekonomi dapat menjadi faktor penentu terjadinya pengaruhnya PAD terhadap Belanja Modal. Jaya dan Dwirandra (2014) membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi mampu memoderasi pengaruh PAD terhadap alokasi belanja modal. Demikian pula dengan hasil studi yang dilakukan oleh Sugiarthi dan Supadmi (2014) yang menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi berpengaruh dan mampu memoderasi pengaruh PAD pada Alokasi Belanja Modal. Jadi dapat disimpulkan pertumbuhan ekonomi dapat memoderasi atau berpengaruh hubungan antara PAD pada alokasi belanja modal.
Berdasarkan penjelasan di atas maka hipotesis kelima dalam penelitian ini adalah:
H5: Pertumbuhan Ekonomi dapat memoderasi hubungan antara PAD terhadap pengalokasian anggaran belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur.
6. Pertumbuhan Ekonomi Sebagai Variabel Moderating dalam hubungan antara DAU terhadap Belanja Modal
Pemerintah daerah masih banyak yang membutuhkan dana bantuan dari pemerintah pusat untuk meningkatkan sarana dan prasarana publik dalam meningkatkan pembangunan daerah. Pembangunan daerah yang baik yaitu bisa dikategorikan meningkatkan sarana dan prasarana publik serta infrastruktur daerah. Pertumbuhan ekonomi yang baik bagi suatu daerah berpengaruh terhadap pembangunan daerah.
Pertumbuhan ekonomi dapat menjadi faktor penentu terjadinya pengaruhnya DAU terhadap Belanja Modal. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Sugiarthi dan Supadmi (2014) menyatakan bahwa Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh dan mampu memoderasi pengaruh DAU pada Alokasi Belanja Modal. Jadi dapat disimpulkan pertumbuhan ekonomi dapat memoderasi atau berpengaruh hubungan antara DAU pada Alokasi Belanja Modal.
Berdasarkan penjelasan di atas maka hipotesis keenam, dalam penelitian ini adalah:
H6: Pertumbuhan Ekonomi dapat memoderasi hubungan antara DAU terhadap pengalokasian anggaran belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur.
7. Pertumbuhan Ekonomi Sebagai Variabel Moderating dalam hubungan antara DAK terhadap Belanja Modal
DAK merupakan bantuan finansial berasal yang diberikan pemerintah pusat yang secara khusus diberikan pada daerah tertentu yang digunakan untuk mendanai keperluan daerah secara khusus yang merupakan kebutuhan seragam dengan program nasional. Tujuan DAK adalah membiayai keperluan dasar yang pada dasarnya merupakan kegiatan program nasional baik dibidang pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup, pekerjaan umum, air bersih, perikanan, pemerintahan, sanitasi, kelautan, pertaniam, kehutanan, keluarga berencana, perdagangan dan sarana prasarana desa (Halim, 2014).
Transfer dari pemerintahan pusat ke daerah ini selain sebagai sumber penerimaan daerah, dapat digunakan sebagai jaminan tercapainya standar pelayanan minimum di suatu negara. Pencapaian program atau kegiatan yang didanai menggunakan DAK pada anggaran yang berjalan diwajibkan sudah dapat digunakan pada akhir tahun anggaran. Tentunya dengan adanya tingkat pertumbuhan ekonomi yang dimasukkan dalam model penelitian akan dapat memperkuat atau memperlemah pengaruh dari DAU terhadap alokasi belanja modal suatu daerah.
Berdasarkan penjelasan di atas maka hipotesis ketujuh dalam penelitian ini adalah:
H7: Pertumbuhan Ekonomi dapat memoderasi hubungan antara DAK terhadap pengalokasian anggaran belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur.
8. Pertumbuhan Ekonomi Sebagai Variabel Moderating dalam hubungan antara DBH terhadap Belanja Modal
DBH merupakan sumber pendapatan daerah yang cukup potensial dan merupakan salah satu modal dasar pemerintah daerah dalam mendapatkan dana pembangunan dan memenuhi belanja modal. DBH merupakan penunjang daerah untuk memenuhi sarana dan prasarana publik serta infrastruktur dalam pembangunan daerah. Pembangunan daerah yang baik yaitu bisa dikategorikan meningkatkan sarana dan prasarana publik serta infrastruktur daerah.
Pertumbuhan ekonomi dapat menjadi faktor penentu terjadinya pengaruhnya DBH terhadap Belanja Modal.
Dalam kegiatan perekonomian yang sebenarnya, pertumbuhan ekonomi menunjuk kan peningkatan secara fisik terhadap produksi barang dan jasa yang berlaku di suatu daerah. Peningkatan ini dapat dilihat dari bertambahnya produksi barang industri, berkembangnya infra struktur, bertambahnya jumlah sekolah, bertambahnya produksi barang modal dan bertambahnya sektor jasa di daerah tersebut. Jadi, jika suatu daerah mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi, maka DBH yang didapatkan daerah juga semakin meningkat, hal inilah yang memungkinkan daerah untuk memperoleh alokasi belanja modal yang lebih besar di waktu yang akan datang.
Berdasarkan penjelasan di atas maka hipotesis kedelapan dalam penelitian ini adalah:
H8: Pertumbuhan Ekonomi dapat memoderasi hubungan antara DBH terhadap pengalokasian anggaran belanja modal pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur.
BAB IV
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini dilakukan berdasarkan penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antar dua variabel atau lebih. Penelitian dengan metode asosiatif menurut Sugiyono (2014) adalah penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan dua variabel atau lebih. Dalam penelitian asosiatif ini maka akan dapat dibangun suatu teori yang dapat berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan dan mengontrol suatu gejala.
Dalam penelitian ini, peneliti ingin menganalisis pengaruh PAD dan dana perimbangan (DAU, DAK dan DBH) terhadap pengalokasian anggaran belanja modal dengan pertumbuhan ekonomi yang dijadikan sebagai variabel moderating pada Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pemerintahan Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur. Waktu penelitian dimulai dari sejak bulan Desember 2018 sampai dengan selesai.
4.3 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah pemerintah daerah kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timuryang berjumlah 71 Kabupaten/Kota.
Data sampel diambil dengan menggunakan purposive sampling, yaitu teknik
penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Beberapa kriteria yang digunakan dalam sampel tercantum dibawah ini:
1. Sampel adalah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur yang memiliki Laporan APBD pada situs Dirjen Perimbangan Keuangan Pemerintah Daerah Periode 2010-2018.
2. Kabupaten dan Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur yang mempublikasikan Laporan keuangannya secara konsisten dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2018 dan ketersediaan data PDRB hasil perhitungan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur.
Berdasarkan kriteria diatas, maka Pemerintah Kabupaten/Kota yang menjadi sampel dalam penelitian ini berjumlah 34 Kabupaten/Kota.
Tabel 4.1Populasi dan Sampel Penelitian
No. Kabupaten/Kota Kriteria
No. Kabupaten/Kota Kriteria
Sampel
1 2
58 Gresik √ x -
59 Bangkalan √ x -
60 Sampang √ x -
61 Pamekasan √ x -
62 Sumenep √ x -
Kota di Jawa Timur
63 Kediri √ √ 29
64 Blitar √ √ 30
65 Malang √ √ 31
66 Probolinggo √ x -
67 Pasuruan √ √ 32
68 Mojokerto √ x -
69 Madiun √ √ 33
70 Surabaya √ √ 34
71 Batu √ x -
Sumber: Data DJPK dan BPS diolah, 2019 4.4 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.
Sumber data dalam penelitian ini adalah laporan APBD Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur selama tahun 2010-2018 yang diakses dari situs Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan www.djpk.depkeu.go.id dan juga di situs Badan Pusat Statistik yaitu www.bps.go.id.
4.5 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah dokumentasi, dimana data yang diambil secara tidak langssung melalui media perantara yaitu internet.
4.6 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Variabel bebas (independent variabel) yang digunakan dalam penelitian ini yaitu PAD dan dana perimbangan (DAU, DAK dan DBH). Variabel terikat (dependent variabel) yang merupakan perhatian utama dalam penelitian ini adalah belanja modal, sedangkan pertumbuhan ekonomi dijadikan sebagai variabel moderating. Untuk menghidari kesimpangsiuran pemahaman (persepsi) pada penelitian ini, disusun defenisi dan batasan operasional sebagai berikut:
Tabel 4.2Operasionalisasi Variabel modal yang sifatnya menambah aset tetap/inventaris yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi, termasuk di dalamnya adalah pengeluaran untuk biaya pemeliharaan yang sifatnya mempertahankan atau menambah masa manfaat, serta meningkatkan kapasitas dan diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sumber PAD terdiri dari: pajak daerah, restribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan dan pendapatan asli daerah lainnya yang sah.
Variabel Definisi dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan dengan tujuan untuk mendanai kegiatan khusus yang
menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam DAK, dan DBH) terhadap pengalokasian anggaran belanja modal dengan pertumbuhan ekonomi yang dijadikan sebagai variabel moderating digunakan
Analisis Regresi Linear Berganda dengan variabel dependen yaitu pengalokasian anggaran belanja modal dan variabel independen yaitu PADdandana perimbangan (DAU, DAK dan DBH). Serta variabel moderating yaitu pertumbuhan ekonomiyang akan diuji dengan menggunakan Uji Interaksi. Untuk menguji data dan juga hipotesis penelitian maka dilakukan beberpa pengujian dengan bantuan softwareSTATA
4.7.1 Analisis Statistik Deskriptif
Analisis statistik deskriptif digunakan untuk mengetahui karakteristik sampel yang digunakan dan menggambarkan variabel-variabel dalam penelitian. Analisis statistik deskriptif terdiri dari jumlah sampel, range, nilai minimum, nilai maksimum (Ghozali, 2013). Statistik deskriptif mendeskripsikan data sehingga informasi lebih jelas dan mudah dipahami.
Analisis yang dilakukan untuk mengidentifikasi variabel-variabel yang akan diuji pada setiap hipotesis, bagaimana profil dan distribusi variabel-variabel tersebut.
4.7.2 Uji Normalitas
Uji ini bertujuan untuk menguji apakah data yang digunakan dalam regresi berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas dilakukan untuk menguji apakah error dalam data penelitian terdistribusi secara normal atau tidak. Dalam STATA, pengujian normalitas dapat dilakukan dengan uji grafik.
4.7.3 Uji Multikolinearitas
Uji multikolinearitas dilakukan untuk menguji apakah ada hubungan yang sempurna antarvariabel independen. Untuk dapat memperoleh hasil yang tidak bias, tidak boleh terdapat hubungan linier antar variabel independen (Gujarati, 2012).Uji multikolinearitas dilakukan untuk melihat apakah terdapat hubungan yang kuat/sempurna antara variabel-variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini. Model penelitian dianggap baik jika memiliki multikolinearitas yang rendah, sebab jika multikolinearitas tinggi maka model tidak bisa memisahkan efek parsial dari satu variabel bebas terhadap variabel bebas lainnya. Untuk melihat adanya multikolinearitas dalam penelitian yang menggunakan STATA dapat dilihat melalui pengujian Pairwise Pearson Correlation Matrix dan VIF (Variance Inlatian Factor). Di
dalam pengujian Pairwise Pearson Correlation Matrix, suatu variabel di dalam model dapat dikatakan mengandung multikolinearitas bila angka korelasi lebih dari 0,9. Di dalam pengujian VIF, suatu variabel di dalam model dapat dikatakan mengandung multikolinearitas jika hasil dari VIF menunjukkan angka yang lebih besar dari 10.
4.7.4 Uji Heterokedastisitas
Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah ada gejala heteroskedastisitas di dalam model penelitian ini. Jika terdapat gejala heteroskedastisitas maka hal tersebut menunjukkan bahwa adanya ketidakseragaman di dalam variasi model dan menyebabkan error mejadi
tidak konsisten. Model penelitian yang baik adalah model penelitian yang variasinya seragam sehingga memiliki error konsisten.
Model penelitian yang baik adalah model penelitian yang variasinya seragam sehingga memiliki error konsisten. Pengujian heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan BrueschPagan/Cook-Weisberg test. Pada pengujian BrueschPagan/CookWeisberg dapat disimpulkan ada tidaknya permasalahan
heteroskedastisitas dengan melihat Prob. Chi2. Jika Prob Chi2< α (atau Chi2 stat > Chi2 tabel) maka dapat disimpulkan terdapat masalah heteroskedastisitas.
Permasalahan heteroskedastisitas dapat diatasi dengan menggunakan metode weighted. Caranya adalah dengan melakukan spesifikasi terhadap model melalui penggunaan metode Generalised Least Square atau di Robust untuk perintah STATA.
4.7.5 Uji Hipotesis
4.7.5.1 Analisis Regresi Data Panel
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linier berganda dengan data panel untuk mengetahui gambaran mengenai pengaruh PAD, DAU, DAK dan DBH terhadap pengalokasian anggaran belanja modal di Pemerintah Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur.
4.7.5.2 Uji Statistik F (Simultan)
Uji F digunakan untuk melihat pengaruh PAD, DAU, DAK dan DBHterhadap belanja modal secara simultan. Pengaruh ini perlu diuji untuk
melihat apakah model regresi data panel ini dapat dilanjutkan dengan melakukan uji t (parsial) atau tidak. Jika hasil uji F menyimpulkan bahwa seluruh variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen maka model regresi ini dapat dilanjutkan dengan melakukan uji t.
Sebaliknya jika tidak berpengaruh signifikan, maka uji t (uji parsial) tidak perlu dilakukan, karena semua variabel independen tidak ada yang mempengaruhi variabel dependen.
4.7.5.3 Uji Statistik t (Parsial)
Berbeda dengan uji F yang ingin melihat secara keseluruhan apakah variabel independen akan mempengaruhi variabel dependen, uji p-value dilakukan untuk melihat pengaruh secara parsial masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen. Berikut adalah hipotesis yang digunakan dalam melakukan uji p-value ini:
1. H0 : αn = 0 (secara parsial variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen)
2. H1 : αn ≠ 0 (secara parsial variabel independen berpengaruh terhadap variabel dependen)
Pengujian hipotesis ini dilakukan dengan membandingkan p-value dengan α. H0 ditolak atau secara parsial variabel independen akan berpengaruh terhadap variabel dependen jika p-value lebih kecil dari α.
4.7.5.4 Uji Koefisien Determinasi ( )
Uji koefisien determinasi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar variasi dari nilai variabel terikatnya, yang dapat dijelaskan oleh variasi nilai
dari variabel-variabel independennya. Nilai R2 akan menunjukkan seberapa besar variabel independen akan mempengaruhi pergerakan variabel deoenden. Semakin besar hasil R2 akan semakin baik karena hal ini mengindikasikan semakin baik variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen.
BAB V
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Analisa Statistik Deskriptif
Pada bagian ini akan digambarkan atau dideskripsikan dari masing-masing variabel yang diolah menggunakan software STATA, adapun hasil pengolahan data dalam bentuk deskriptif statistik akan menampilkan karakteristik sampel yang digunakan didalam penelitian ini antara lain meliputi: nilai rata-rata (mean), nilai minimum dan maksimum untuk masing-masing variabel serta nilai standar deviasi. Deskripsi dalam penelitian ini meliputi 6 variabel, yakni PAD (X1), DAU(X2), DAK(X3), DBH (X4), pertumbuhan ekonomi (Z), dan belanja modal (Y). Hasil statistik deskriptif dari data penelitian dapat dilihat pada tabel 5.1 berikut.
Tabel 5.1Statistik Deskriptif Variabel
Penelitian Mean Standar.
Deviasi Minimum Maximum
Belanja Modal 12.314 0.667 10.44 14.74
Pendapatan Asli Daerah 11.649 1.185 8.38 15.46 Dana Alokasi Umum 13.411 0.488 12.03 14.39 Dana Alokasi Khusus 11.308 0.912 6.81 13.22
Dana Bagi Hasil 10.957 0.733 8.9 13.08
Pertumbuhan Ekonomi 9.150 0.856 5.85 11.13
Sumber: Data diolah dengan STATA, 2019
Statistik deskriptif, sesuai dengan namanya teknik analisis ini bermaksud untuk mendeskripsikan data yang telah terkumpul tanpa melakukan generalisasi.
Analisis deskriptif digunakan untuk menghasilkan gambaran dari data yang telah terkumpul. Analisis deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai
Berdasarkan statistik deksriptif yang dilakukan dengan menggunakan software STATA, diketahui bahwa variabel dependen yaitu belanja modal (Y)
memiliki mean sebesar 12.314, nilai maksimum sebesar 14.74 dan nilai minimum10.44 dengan standar deviasi 0.667. PADmemiliki mean sebesar11.649, nilai maksimum sebesar 15.46dan nilai minimum8.38 dengan standar deviasi 1.185. Variabel DAU memiliki mean sebesar 13.411, nilai maksimum sebesar 14.39dan nilai minimum12.03 dengan standar deviasi 0.488.
DAK memiliki mean sebesar 11.308, nilai maksimum sebesar 13.22dan nilai minimum6.81 dengan standar deviasi 0.912. DBH memiliki mean sebesar 10.957, nilai maksimum sebesar 13.08dan nilai minimum 8.9 dengan standar deviasi 0.733. Dan yang terakhir, variabel pertumbuhan ekonomi sebagai variabel pemoderasi memiliki mean sebesar 9.150, nilai maksimum sebesar 11.13 dan nilai minimum 5.85 dengan standar deviasi 0.856.
DAK memiliki mean sebesar 11.308, nilai maksimum sebesar 13.22dan nilai minimum6.81 dengan standar deviasi 0.912. DBH memiliki mean sebesar 10.957, nilai maksimum sebesar 13.08dan nilai minimum 8.9 dengan standar deviasi 0.733. Dan yang terakhir, variabel pertumbuhan ekonomi sebagai variabel pemoderasi memiliki mean sebesar 9.150, nilai maksimum sebesar 11.13 dan nilai minimum 5.85 dengan standar deviasi 0.856.