• Tidak ada hasil yang ditemukan

Originalitas Penelitian

Dalam dokumen OLEH ANGGI AFNISAH NIM (Halaman 29-0)

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Nufus dan Asmara (2017) dengan judul Pengaruh Pendapatan Sendiri dan Dana Perimbangan terhadap Belanja Modal dengan Dana Otonomi Khusus sebagai Pemoderasi pada Kab/Kota di Provinsi Aceh. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah:

1. Penelitian sebelumnya menggunakan PAD dan Dana Perimbangan sebagai variabel independen, belanja modal sebagai variabel dependen dan dana otonomi khusus sebagai variable pemoderasi.. Penelitian sekarang menggunakan Pendapatan Asli Daerah dan Dana Perimbangan sebagai variable independen yang terdiri dari Dana Alokasi Umum, Dana Alokasi

Khusus, dan Dana Bagi Hasil kemudian Belanja Modal sebagai variable dependen dan Pertumbuhan Ekonomi sebagai variable moderasi.

2. Waktu penelitian yang digunakan pada penelitian sebelumnya adalah 2014 sampai 2016. Waktu penelitian sekarang adalah 2010- 2018.

3. Objek penelitian sebelumnya adalah Provinsi Aceh. Objek penelitian sekarang adalah Sumatera Utara dan Jawa Timur.

Tabel 1.2Originalitas Penelitian

No Uraian

Penelitian Terdahulu Nufus dan Asmara

(2017)

Penelitian Sekarang

1 Variabel Independen Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan

Pendapatan Asli Daerah, DAU, DAK, DBH 2 Variabel Dependen Belanja Modal Belanja Modal

3 Variabel Moderasi Dana Otonomi Khusus Pertumbuhan Ekonomi 4 Waktu Penelitian 2014- 2016 2010- 2018

5 Objek Penelitian Provinsi Aceh Provinsi Sumatera Utara dan Jawa Timur

6 Software SPSS STATA

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Fiscal Federalism

Teori fiscal federalism seperti yang dikemukakan oleh Musgrave (1980) mengungkapkan bahwa desenstralisasi fiskal dapat meningkatkan kesejahteraan publik melalui pengelolaan revenue dan expenditure antar pemerintah. Lebih lanjut teori tersebut menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat dicapai melalui desentralisasi fiskal atau pendelegasian wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah untuk mengelola daerahnya sendiri sesuai dengan kebutuhan dan prioritasnya.

Tujan akhir dari desentralisasi fiskal adalah kesejahteraan rakyat melalui instrumen revenue dan expenditure antar pemerintah. Desentralisasi fiskal mengandung esensi pemberian kewenangan maupun keleluasaan mengalokasikan anggaran sesuai dengan kebutuhan daerah dan prioritasnya. Ada dua hal yang penting menyangkut desentralisasi fiskal, yaitu kewenangan daerah yang memungkinkan daerah untuk memungut PAD dan juga dana transfer dari pusat.

Boex (2013) menyatakan bahwa transfer ke daerah memberi implikasi yang luas pada beberapa isu di antaranya pertumbuhan dan pembangunan, pengurangan kemiskinan, pencapaian mileniumdevelopment goals, peningkatan layanan publik serta stabilitas makroekonomi yang lebih baik.

2.2 Belanja Modal

Menurt Mardiasmo (2009) belanja modal adalah belanja yang digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya. Darise (2008) juga menjelaskan bahwa belanja modal digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan asset tetap berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintahan, seperti tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi, dan jaringan, dan asset tetap lainnya.

Sedangkan Djaenuri (2012) menjelaskan bahwa belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.

Senada, Peraturan Menteri dalam Negeri No. 13 Tahun 2006 Pasal 53 ayat (1) juga menjelaskan bahwa belanja modal digunakan untuk pengeluaran yang dilakukan dalam rangka pembelian/pengadaan atau pembangunan aset tetap

berwujud yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan untuk digunakan dalam kegiatan pemerintah, seperti dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan, jalan, irigasi dan jaringan, dan aset tetap lainnya.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan menyatakan bahwa belanja modal adalah pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset tetap lainnya yang memberi manfaat satu periode akuntansi. Belanja modal meliputi antara lain belanja modal untuk perolehan tanah, gedung dan bangunan, peralatan dan aset tetap tak berwujud. Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) juga menjelaskan bahwa belanja modal dapat dikategorikan dalam 5 kategori utama, yaitu:

Aset tetap yang dimiliki daerah adalah sebagai akibat dari belanja modal yang merupakan suatu syarat utama dalam memberikan pelayanan publik yang lebih baik. Untuk menambah aset tetap, pemerintah daerah mengalokasikan dana anggaran belanja modal dalam APBD. Dalam setiap tahun diadakannya pengadaan aset tetap yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah (pemda) sesuai dengan prioritas anggaran dan pelayanan publik yang memberikan dampak dalam jangka panjang secara finansial. Belanja modal yang termaksud dalam aset tetap pemerintah daerah ialah seperti Peralatan, Inflastruktur, Bangunan, dan Harta tetap lainnya.

Djaenuri (2012) aset tetap memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. Aset tetap mempunyai ciri-ciri/karakteristik sebagai berikut: berwujud, akan menambah asset pemerintah, mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun, nilainya relatif material. Sedangkan ciri-ciri/karakteristik Aset Lainnya adalah

tidak berwujud, akan menambah asset pemerintah, mempunyai masa manfaat lebih dari 1 tahun, nilainya relatif material.

2. Kriteria kapitalisasi asset tetap, diharapkan entitas dapat menetapkan kebijakan akuntansi mengenai batasan minimal nilai kapitalisasi suatu aset tetap atau aset lainnya (treshold capitalization), sehingga pejabat/aparat penyusun anggaran dan/atau penyusun laporan keuangan pemerintah mempunyai pedoman dalam penetapan belanja modal baik waktu penganggaran maupun pelaporan keuangan pemerintah.

2.3 Pendapatan Asli Daerah (PAD)

Menurut Halim (2012), PAD merupakan semua penerimaan yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah yang dipisahkan menjadi empat jenis pendapatan, yaitu: pajak daerah, retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan milik daerah yang dipisahkan, lain-lain PAD yang sah. PAD bertujuan untuk memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk mendanai pelaksanaan otonomi daerah sesuai dengan potensi daerah sebagai perwujudan desentralisasi.

Darise (2008) PAD yang selanjutnya disingkat PAD adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah.

Sementara pengertian PAD menurut Olubukunola (2011) adalah seluruh pendapatan internal yang dihasilkan pemerintah daerah di dalamnya area yurisdiksinya. Halim dan Kusufi (2012) menjelaskan bahwa: “PAD merupakan semua penerimaan daerah yang berasal dari sumber ekonomi asli daerah. PAD dipisahkan menjadi 4 jenis pendapatan, yaitu pajak daerah, retribusi daerah, hasil

perusahaan milik daerah dan hasil pengelolaan milik daerah yang dipisahkan, lain-lain pendapatan yang sah”.

PAD menjadi bagian terbesar dari pendapatan keuangan daerah agar suatu daerah tersebut tidak ketergantungan pada bantuan pemerintah. Suatu daerah yang mampu mengelola PAD yang baik berarti mampu untuk meningkatkan penerimaan daerah secara berkesinambungan, seiring dengan perekonomian tanpa mengurangi alokasi faktor-faktor produksi dan keadilan.

Dalam upaya memperbesar peran pemerintah daerah dalam pembangunan, pemerintah daerah dituntut untuk lebih mandiri dalam membiayai kegiatan operasional rumah tangganya. Berdasarkan hal tersebut dapat dilihat bahwa pendapatan daerah tidak dapat dipisahkan dengan belanja daerah, karena adanya saling terkait dan merupakan satu alokasi anggaran yang disusun dan dibuat untuk melancarkan roda pemerintahan daerah.

Adanya hak, wewenang, dan kewajiban yang diberikan Kepada daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri, merupakan satu upaya untuk meningkatkan peran pemerintah daerah dalam mengembangkan potensi daerahnya dengan mengelola sumber-sumber pendapatan daerah secara efisien dan efektif khususnya PAD sendiri (UU No 23 tahun 2014).

Dalam kaitannya terhadap belanja modal daerah, Pemerintah Daerah dalam mengaloksikan belanja modal harus benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan daerah dengan mempertimbangkan PAD yang diterima daerah. Besar kecilnya belanja modal akan ditentukan dari besar kecilnya PAD. Sehingga jika Pemerintah Daerah ingin meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan

masyarakat dengan jalan meningkatkan Belanja Modal, maka Pemerintah Daerah harus berusaha keras untuk menggali PAD yang sebesar-besarnya.

2.4 Dana Perimbangan

Untuk memberi dukungan terhadap pelaksanaan otonomi daerah, pemerintah telah menerbitkan Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Sumber pembiayaan pemerintah daerah didalam rangka perimbangan keuangan pemerintah pusat dan daerah dilaksanakan atas dasar desentralisasi, dekonsentrasi, dan pembantuan.

Berkaitan dengan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, hal tersebut merupakan konsekuensi adanya penyerahan kewenangan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Dengan demikian, terjadi transfer yang cukup signifikan didalam APBN dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dan pemerintah daerah secara leluasa dapat menggunakan dana ini apakah untuk memberi pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat.

Sesuai dengan Undang-Undang No. 33 tahun 2004 disebutkan bahwa Dana Perimbangan merupakan pendanaan Daerah yang bersumber dari APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Dana Perimbangan terdiri atas DBH, DAU, dan DAK. Dana Perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu Daerah dalam mendanai kewenangannya, juga bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara Pusat dan Daerah serta untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar-Daerah. Ketiga komponen Dana Perimbangan ini merupakan sistem transfer dana dari

Pemerintah serta merupakan satu kesatuan yang utuh. Dana perimbangan disebut juga dana transfer atau grant serta disebut juga dengan intergovernmental revenue.

Berikut pembagian dana perimbangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah:

2.4.1 Dana Alokasi Umum (DAU)

Menurut UU No. 33 Tahun 2004 tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah, yang dimaksud dengan DAU yaitu dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluarannya dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Sedangkan menurut Halim (2014) menjelaskan bahwa: DAU adalah transfer dana yang bersifat ”block grant”, sehingga pemerintah daerah mempuunyai keleluasaan di dalam penggunaan DAU sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi masing-masing daerah. Tujuan DAU adalah sebagai pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk mendanai kebutuhan Daerah Otonom dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.

Pengertian DAU menurut Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 48/PMK.07 Tahun 2016 tentang Pengelolaan Transfer ke Daerah dan Dana Desa: “DAU adalah dana yang dialokasikan dalam APBN kepada daerah dengan tujun pemerataan kemampuan keuangan

antar daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi”.

Dari pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa DAU adalah dana transfer yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada pemrintah daerah untuk menandai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Kebijakan DAU merupakan instrumen penyeimbang fiskal antar daerah, sebab tidak semua daerah mempunyai struktur dan kemampuan fiskal yang sama (horizontal fiscal imbalance).

DAU sebagai bagian dari kebijakan transfer fiskal dari pusat ke daerah (intergovernmental transfer) berfungsi sebagai faktor pemerataan fiskal antara daerah-daerah serta memperkecil kesenjangan kemampuan fiskal atau keuangan antar daerah. Bagi daerah yang relatif minim Sumber Daya Alam (SDA), DAU merupakan sumber pendapatan penting guna mendukung operasional pemerintah sehari-hari serta sebagai sumber pembiayaan pembangunan. Tujuan DAU disamping untuk mendukung sumber penerimaan daerah juga sebagai pemerataan kemampuan keuangan pemerintah daerah.

DAU bersifat Block Grand yang berarti penggunaannya diserahkan kepada daerah sesuai dengan prioritas dan kebutuhan daerah untuk peningkatan pembangunan kepada masyarakat dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal sama dengan nol menerima DAU sebesar alokasi dasar. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut lebih kecil

dari alokasi dasar menerima DAU sebesar alokasi dasar setelah dikurangi nilai celah fiskal. Daerah yang memiliki nilai celah fiskal negatif dan nilai negatif tersebut sama atau lebih besar dari alokasi dasar tidak menerima DAU (Badrudin 2012).

Pengalokasian DAU kepada setiap daerah ini ditentukan oleh celah fiskal yang merupakan selisih antara kebutuhan fiskal satu daerah dengan kapasistas fiskal yang dimiliki daerah tersebut. DAU yang telah ditetapkan kepada setiap daerah berdasarkan pertimbangan celah fiskal tadi akan disalurkan dengan pemindah bukuan dari rekening umum pemerintah pusat kepada rekening kas pemerintah daerah. Konstribusi DAU ini masih menjadi sumber pendapatan utama pemerintah daerah karena proporsi DAU terhadap pendapatan daerah masih tertinggi dibandingkan dengan penerimaan daerah yang lain, termasuk penerimaan dari PAD. Pada Pasal 7 UU No. 33 Tahun 2004, besarnya DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 25% dari penerimaan dalam negeri yang ditetapkan dalam APBN. DAU untuk daerah Provinsi dan untuk daerah Kabupaten/Kota ditetapkan masingmasing 10% dan 90% dari DAU.

Proporsi DAU antara daerah provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan berdasarkan imbangan kewenangan antara provinsi dan kabupaten/kota. Hasil penghitungan DAU per provinsi, kabupaten, dan kota ditetapkan dengan Keputusan Presiden (Kepres). Dengan semakin tingginya DAU yang diterima oleh daerah dari pemerintah pusat maka akan semakin tinggi juga belanja modal yang dikeluarkan oleh

pemerintah daerah. Adanya pengaruh positif antara DAU terhadap belanja modal dapat memberikan penjelasan bahwa DAU memiliki keterikatan dengan pembangunan infrastruktur daerah. Kerterkaitan dengan pembangunan infrastuktur daerah dapat dikatakan karena bantuan berupa DAU yang dikirimkan oleh pemerintah pusat dan dipergunakan pemerintah daerah ini ditujukan untuk mendanai kegiatan atau program pemerintah daerah melalui belanja daerah terutama untuk belanja modal.

2.4.2 Dana Alokasi Khusus (DAK)

Pengertian DAK menurut UU No. 33 Tahun 2004 adalah dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan tertentu. DAK ini dialokasikan untuk daerah daerah yang memiliki kemampuan fiskal rendah dibanding kemampuan fiskal daerah secara nasional. Penentuan penerimaan DAK ini diatur sesuai dengan kriteria penerima DAK yang terdapat dalam undang-undang.

Sesuai dengan pengertiannya, DAK ini dialokasikan untuk mendanai kebutuhan program pemerintah daerah yang sejalan dengan kepentingan program nasional, terutama dalam pemenuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat Kebutuhan tertentu yang dimaksud di atas adalah:

a. Kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan dengan menggunakan rumus alokasi umum, dan/atau

b. Kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional.

Penerimaan negara yang berasal dari dana reboisasi sebesar 40% disediakan kepada daerah penghasil sebagai DAK.

DAK merupakan salah satu mekanisme transfer keuangan Pemerintah Pusat ke daerah yang bertujuan antara lain untuk meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana fisik daerah sesuai 22 prioritas nasional serta mengurangi kesenjangan laju pertumbuhan antar daerah dan pelayanan antar bidang. DAK memainkan peran penting dalam dinamika pembangunan sarana dan prasarana pelayanan dasar di daerah karena sesuai dengan prinsip desentralisasi tanggung jawab dan akuntabilitas bagi penyediaan pelayanan dasar masyarakat telah dialihkan kepada pemerintah daerah.

Kebutuhan khusus yang dapat dibiayai oleh DAK adalah kebutuhan yang tidak dapat diperkirakan secara umum dengan menggunakan rumus DAU, dan kebutuhan yang merupakan komitmen atau prioritas nasional.

DAK ini diatur lebih lanjut dalam bentuk PP, Pemerintah telah mengeluarkan PP Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan. Pelaksanaan DAK sendiri diarahkan pada kegiatan investasi pembangunan, pengadaan, peningkatan, dan/atau perbaikan sarana dan prasarana fisik pelayanan masyarakat dengan umur ekonomis yang panjang, termasuk pengadaan sarana fisik penunjang, dan tidak termasuk penyertaan modal. Semakin besarnya proporsi DAK yang diterima oleh daerah dari pemerintah pusat akan menyebabkan pendapatan yang dimiliki pemerintah daerah akan semakin besar. Sehingga pemerintah daerah dapat membiayai belanja modal yang lebih besar pula.

2.4.3 Dana Bagi Hasil (DBH)

Menurut Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 Pasal 1 ayat 20, DBH merupakan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi. Pembagian DBH ini ditinjau dari kemampuan daerah dalam menghasilkan sumber daya. Daerah yang memiliki potensi sumber daya alam yang banyak, akan mendapatkan porsi bagi hasil yang lebih besar sesuai dengan kekayaan alam yang telah digali. Selain sumber daya alam, sumber DBH ini juga didapat dari bagi hasil pajak Sumber-sumber penerimaan perpajakan yang dibagihasilkan meliputi Pajak Penghasilan (PPh) pasal 21 dan pasal 25/29 orang pribadi, Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), serta Bagian Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB). Sementara itu, sumber-sumber penerimaan SDA yang dibagihasilkan adalah minyak bumi, gas alam, pertambangan umum, kehutanan, dan perikanan.

Pengalokasian bagian penerimaan pemerintah daerah kepada masing-masing daerah Kabupaten/Kota diatur berdasarkan usulan gubernur dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti jumlah penduduk, luas wilayah, serta faktor lainnya yang relevan dalam rangka pemerataan. Sementara itu, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2000, bagian daerah dari PBB ditetapkan 9%, sedangkan sisanya sebesar 10% yang merupakan bagian pemerintah pusat, juga seluruhnya sudah dikembalikan kepada daerah.

Dari bagian daerah sebesar 90% tersebut, 10% merupakan upah pungut, yang sebagian merupakan bagian pemerintah pusat. Sementara itu, bagian daerah dari penerimaan BPHTB berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004 ditetapkan sebesar 80%, sedangkan sisanya 20% merupakan bagian pemerintah pusat.

Dalam UU tersebut juga diatur mengenai besarnya bagian daerah dari penerimaan SDA minyak bumi dan gas alam (migas), yang masing-masing ditetapkan 15% dan 30%. Sementara itu, penerimaan SDA pertambangan umum, kehutanan, dan perikanan, ditetapkan masing-masing sebesar 80%.

2.5 Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi merupakan upaya peningkatan kapasitas produksi untuk mencapai penambahan output, yang diukur menggunakan Produk Domestik Bruto (PDB) maupun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dalam suatu wilayah (Adisasmita, 2013). Pertumbuhan ekonomi diperoleh dengan penggunaan sumber daya yang tersedia secara efisien dan dengan meningkatkan kapasitas produksi suatu negara (Haller, 2012). Sedangkan Sukirno (2010) menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah sebagi suatu ukuran kuantitatif yang menggambarkan perkembangan suatu perekonomian dalam suatu tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi dapat di artikan peningkatan output agregat atau pendapatan rill. Kedua peningkatan tersebut biasanya di hitung perkapita atau selama jangka waktu yang cukup panjang sebagai akibat peningkatan penggunaan input. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses perubahan kondisi perekonomian suatu negara yang berkesinambungan menuju keadaan yang lebih

baik selama periode tertentu. Dari aspek dinamis melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu.

Pertumbuhan ekonomi merupakan perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksikan dalam masyarakat bertambah dan kemakmuran meningkat. Istilah pertumbuhan ekonomi mengukur prestasi dan perkembangan suatu perekonomian. Pertumbuhan ekonomi dapat juga diartikan sebagai kenaikan Gross Domestic Product (GDP) atau Gross National Product (GNP) tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk, atau apakah perubahan struktur ekonomi terjadi atau tidak. Perkembangan ekonomi mengandung arti yang lebih luas serta mencakup perubahan pada susunan ekonomi masyarakat secara menyeluruh. Pembangunan ekonomi pada umunya didefinisikan sebagai suatu proses yang menyebabkan kenaikan pendapatan riil perkapita penduduk suatu negara dalam jangka panjang yang disertai oleh perbaikan sistem kelembagaan.

Pertumbuhan ekonomi dapat mengukur prestasi dari perkembangan suatu perekonomian. Pengukuran akan kemajuan sebuah perekonomian memerlukan alat ukur yang tepat, berupa alat pengukur pertumbuhan ekonomi antara lain yaitu Produk Domestik Bruto (PDB) atau di tingkat regional disebut dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) yaitu jumlah barang atau jasa yang dihasilkan oleh suatu perekonomian dalam jangka waktu satu tahun dan dinyatakan dalam harga pasar (Sendouw, et al. 2013).

Indikator yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk melihat pertumbuhan ekonomi suatu wilayah adalah sebagai berikut (Raharjo, 2008):

1. Ketidakseimbangan Pendapatan

Dalam keadaan yang ideal, dimana pendapatan dengan mutlak didistribusikan secara adil, 80% populasi terbawah akan menerima 80% dari total pendapatan, sedangkan 20% populasi teratas menerima 20% total pendapatan.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), susunan pengelompokan penduduk dibagi tiga, yaitu 40% populasi terendah, 40% populasi sedang, dan 20% populasi teratas. Indikator ketidakseimbangan pendapatan dapat diterapkan untuk menilai keberhasilan pembangunan ekonomi di suatu wilayah (Raharjo, 2008).

2. Perubahan Struktur Perekonomian

Dalam masyarakat yang maju, pembangunan ekonomi yang dilaksanakan akan mengakibatkan perubahan struktur perekonomian, dimana terjadi kecendrungan bahwa kontribusi (peran) sektor petanian terhadap nilai PDRB akan menurun, sedangkan kontribusi sektor industri akan meningkat. Sektor industri memiliki peranan sangat penting dalam pembangunan nasional dan regional, sektor industri dapat menyediakan lapangan kerja yang luas, memberikan peningkatan pendapatan kepada masyarakat, menghasilkan devisa yang dihasilkan dari ekspor. Oleh karena itu, perekonomian suatu wilayah harus di orientasikan selain sektor pertanian, tetapi harus pula diorientasikan kepada sektor industri (Raharjo, 2008).

3. Pertumbuhan Kesempatan Kerja

Masalah ketenagakerjaan dan kesempatan kerja merupakan salah satu masalah yang stategis dan sangat mendesak dalam pembangunan di Indonesia. Penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 240 jiwa, tingkat pengangguran cukup tinggi dan cenderung bertambah luas akibat krisis financial Negara-negara di dunia. Untuk mengatasi krisis ekonomi yang sangat luas tersebut, diperlukan peranan pemerintah. Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah pembangunan prasarana (misalnya jalan).

Pembangunan jalan yang menjangkau ke seluruh kantong-kantong produksi, akan mendorong peningkatan produksi berbagai komoditas sektor pertanian dalam arti luas (meliputi tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan, dan kehutanan) serta barang-barang hasil industri. Pembangunan prasarana dan sarana transportasi akan menunjang berkambangnya berbagai kegiatan di sektor-sektor lainnya (pertanian, perdagangan, industri, pariwisata dan lainnya) (Raharjo, 2008).

4. Tingkat dan Penyebaran Kemudahan

Dalam hal ini “kemudahan” diartikan sebagai kemudahan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya, baik pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari (seperti sandang, pangan, papan, memperoleh pelayanan pendidikan dan

Dalam hal ini “kemudahan” diartikan sebagai kemudahan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya, baik pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari (seperti sandang, pangan, papan, memperoleh pelayanan pendidikan dan

Dalam dokumen OLEH ANGGI AFNISAH NIM (Halaman 29-0)