• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.6 Hipotesis penelitian

Umur, usia menarkhe, paritas, IMT ( indeks masa tubuh ) merupakan faktor predisposisi kejadian mioma uteri pada pasien rawat jalan dan rawat inap di RSUP. H. Adam Malik Medan dan RS Jejaring

3.7. Cara Penelitian

3.7.1. Pengumpulan Data

Data sekunder diperoleh dari hasil catatan medis pasien yang meliputi faktor- faktor predisposisi mioma uteri yang dimiliki oleh subyek, berupa variabel kategorik (data nominal dikotomi) yaitu :

1. Umur

2. Usia menarkhe 3. Paritas

4. IMT ( index masa tubuh) 3.7.2. Pengolahan Data

Data diolah secara komputerisasi. Analisis data meliputi statistik deskriptif dalam hal ini data ditampilkan dalam bentuk tabel frekuensi, dan Confidence Interval (CI) 95 %. Analisis bivariat dilakukan dengan menggunakan analitik komparatif menggunakan uji chi square dengan derajat kepercayaan 95%. Analisis multivariate antar variabel yang berpengaruh menggunakan analisis regresi logistik.

3.7.3. Variabel-variabel Penelitian

Variabel Independen Variabel Dependen  Usia ( < 35 tahun/ 35-50 tahun )

 Usia menarche ( <

 Paritas ( nullipara / non nullipara) - Mioma uteri

10 tahun / > 10 tahun)

 IMT (obesitas / non obesitas) - Bukan mioma

3.8. Batasan Operasional

- Mioma Uteri adalah Tumor jinak yang berasal dari otot uterus dan jaringan ikat yang menumpangnya

-Kelompok Kasus adalah pasien yang didiagnosis dengan mioma uteri berdasarkan hasil Patologi Anatomi dan tercatat pada catatan medis pasien di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUP. H. Adam Malik Medan dan RS Jejaring

-Kelompok Kontrol adalah pasien yang didiagnosis selain mioma uteri dan berdasarkan hasil Patologi Anatomi bukan mioma uteri di RSUP. H. Adam Malik

.

dan RS Jejaring

-Faktor Predisposisi adalah faktor-faktor yang dimiliki oleh pasien mioma uteri, dimana data yang diperoleh adalah data sekunder dari catatan medis, berupa : -RS.Jejaring adalah Rumah Sakit tempat pendidikan meliputi RS.dr.Pirngadi Medan

dan RS.Haji Mina Medan

1. Variabel umur dikategorikan menjadi :

• < 35 tahun

• > 35 – 50 tahun ( usia reproduksi )

2. Variabel usia menarkhe : usia pertama kali mendapatkan haid

< 10 tahun ( dikatakan usia menarche dini <

• > 10 tahun

10 tahun )

3. Variabel paritas

• Nullipara ( wanita yang belum pernah melahirkan )

• Non nullipara ( wanita yang sudah pernah melahirkan )

4. Variabel IMT (Index Massa Tubuh)

Underweight : < 18,5 Normal weight : 18,5 – 22,9 Overweight : > 23 Pre Obese : 23 – 24,9 Obese I : 25 – 29,9 Obese II : > • Obesitas : IMT 30 >

• Non obesitas : IMT 25 < 25

- Odd Ratio (OR) adalah Besarnya peran faktor predisposisi yg menunjukkan hubungan sebab akibat antara faktor predisposisi dan efek.

- ODDS RATIO (OR)

OR = {A/(A+B) : B/(A+B)} / {C/(C+D): D/(C+D)} = A/B : C/D

OR = AD/BC

TABEL STUDI KASUS KONTROL

KASUS KONTROL JUMLAH

FAKTOR RESIKO

YA A B A+B

TIDAK C D C+D

3.9 Kerangka Konsep

DITELUSURI FAKTOR PREDISPOSISI

Umur

Usia menarche

Paritas

Obesitas

Mioma Uteri

Bukan

Mioma Uteri

YA

TIDAK

YA

TIDAK

3.10. Alur Penelitian

Populasi Terjangkau

Mioma Uteri

1. Variabel umur

2. Variabel usia menarkhe 3. Variabel paritas

4. Variabel obesitas

Analisis Data

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari catatan rekam medis pasien yang datang berobat ke RS. H. Adam Malik Medan dan RS. Jejaring. Sampel penelitian dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok kasus penderita mioma uteri berdasarkan hasil Patologi Anatomi sebanyak 100 orang dan kelompok kontrol yaitu penderita selain dari mioma uteri (Tumor ovarium) berdasarkan hasil Patologi Anatomi sebanyak 100 orang.

Tabel 4.1 Data Karakteristik penderita mioma uteri di RS. H. Adam Malik Medan dan RS. Jejaring

Karakteristik Mioma uteri Bukan mioma uteri

N % N % Umur <20 tahun 0 0 8 8 21-30 tahun 7 7 22 22 31-40 tahun 28 28 30 30 41-50 tahun 65 65 40 40 Jumlah 100 100 100 100 Paritas Nullipara (0) 48 48 37 37 Primipara (1) 6 6 7 7

Multipara (2-4) 38 38 38 38 Grandemultipara (>5) 8 8 18 18 Jumlah 100 100 100 100 Menarche < 10 tahun 11 11 8 8 11- 13 tahun 44 44 42 42 >14 tahun 45 45 50 50 Jumlah 100 100 100 100 IMT <18,5 1 1 9 9 18.5-22,9 25 25 31 31 23-24,9 14 14 13 13 >25 60 60 47 47 Jumlah 100 100 100 100

Dilihat dari kelompok usia penderita pada penelitian ini, didapatkan bahwa jumlah kasus mioma uteri terbanyak pada kelompk usia 41-50 tahun sebesar 65 %. Hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Jung et al.12, (1998) di Pusan St. Benedict Hospital dan di Mokpo Korea serta diperkuat oleh pendapat Ran Ok et al.13, (2007) yang menyatakan bahwa kasus mioma uteri terbanyak terjadi pada kelompok usia 40 – 49 tahun.12,13 Begitu juga halnya menurut Wiknjosastro16 (2005) menyatakan bahwa frekuensi kejadian mioma uteri paling tinggi antara usia 35 – 50 tahun yang mendekati angka 40%.16

Pada wanita nullipara didapatkan 48 % penderita mioma uteri. Hal ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Trikurniasari

23

(2010) di RS. Poerwokerto, wanita yang sering melahirkan lebih sedikit kemungkinannya untuk terjadinya perkembangan mioma ini dibandingkan wanita yang tidak pernah hamil atau satu kali hamil. Statistik menunjukkan 24,5 % mioma uteri berkembang pada wanita yang

tidak pernah hamil. 23 Peneltian oleh Lumbiganon et al 21

Berdasarkan menarche, dari data diatas didapatkan usia menarche < 10 tahun yang menderita mioma uteri sebesar 11%, sedangkan pada usia menarche 11-13 tahun sebesar 44 % dan usia menarce >14 tahun sebesar 15 %. Namun menurut penelitian yang dilakukan oleh Sharami, dkk

, telah menunjukkan hubungan terbalik antara paritas dan risiko mioma uteri .

19

Dari data penelitian ini didapatkan jumlah penderita mioma uteri terbanyak didapatkan pada kelompok Indeks Massa Tubuh (IMT) >25 yaitu sebesar 60 %. Sama halnya dengan p

( 2009) , menarche dini dilaporkan pada 69 kasus (14,4%) dan didapatkan hubungan terbalik antara risiko mioma uteri dan usia saat menarche.

enelitian yang dilakukan oleh Eduardo F, dkk 26 (2001), 34,9 % pada IMT (25,4 – 48,8 / obesitas) mempengaruhi kejadian mioma uteri.Penelitian prospektif di Amerika Serikat oleh Marshall et al 25 menemukan risiko mioma uteri meningkat sebanding dengan peningkatan IMT, serta peningkatan risiko berhubungan dengan penambahan berat badan sejak usia 18 tahun.

Tabel 4.2. Distribusi frekuensi mioma uteri berdasarkan jenis mioma uteri di RS. H. Adam Malik Medan dan RS. Jejaring

Jenis mioma uteri Jumlah kasus Persentase (%)

Mioma Subserosa 14 14

Mioma Intramural 75 75

Mioma Submukosa 11 11

Total 100 100

Dari data diatas, didapatkan tipe mioma uteri intramural mempunyai frekuensi yang terbanyak, dengan 75 kasus (75%) dan diikuti dengan mioma uteri subserosa 14 kasus (14%),mioma uteri submukosa 11 kasus (11%).

Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Bath, dkk27(2006), dari data penelitiannya didapatkan mioma uteri intramural sebagi tipe mioma uteri terbanyak (52%).

Tabel 4.3. Tabel hubungan faktor umur terhadap kejadian mioma uteri di RS H. Adam Malik Medan dan RS.Jejaring

Kasus % Kontrol % Total %

Umur 35 - 50 tahun

84 61 55 39 139 100

<35 tahun 16 26 45 74 61 100

OR = 4,29, X2 = 19,837, p= 0,0001

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pada kelompok usia 35-50 tahun lebih banyak yang menderita mioma uteri ( 61%). Pada kelompok usia < 35 tahun lebih banyak yang menderita bukan mioma uteri ( 74% ). Dengan uji statistik Chi square

diperoleh nilai p = < 0,05. Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian mioma uteri.

Berdasarkan nilai OR = 4,29, hal ini menunjukkan bahwa risiko untuk menderita mioma uteri bagi yang berumur 35-50 tahun 4,29 kali lebih besar dibandingkan kelompok umur < 35 tahun.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Jung et al.,12(1998) di Pusan St. Benedict Hospital dan di Mokpo Korea serta diperkuat oleh pendapat Ran Ok et al13., (2007) yang menyatakan bahwa kasus mioma uteri terbanyak terjadi pada kelompok usia 40 – 49 tahun.

Wiknjosastro

12,13

16 (2005) menyatakan bahwa frekuensi kejadian mioma uteri

paling tinggi antara usia 35 – 50 tahun yang mendekati angka 40%, jarang ditemukan pada usia di bawah 20 tahun.

Peningkatan prevalensi mioma uteri pada usia reproduksi telah dibuktikan oleh beberapa penelitian epidemiologi. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan pesat dalam diagnosa mioma uteri pada wanita berusia empat puluhan

Pertumbuhan dan perkembangan mioma uteri dipengaruhi oleh stimulasi hormon estrogen yang disekresikan oleh ovarium. Pada umumnya mioma uteri jarang timbul sebelum menarche dan sesudah menopause, tumbuh dengan lambat serta sering dideteksi secara klinis pada kehidupan dekade keempat. Pada usia reproduksi sekresi hormon estrogen oleh ovarium meningkat, berkurang pada usia klimakterium, dan pada usia menopause hormon estrogen tidak disekresikan lagi oleh ovarium .

.

Tabel 4.4. Tabel hubungan faktor paritas terhadap kejadian mioma uteri di RS H. Adam Malik Medan dan RS.Jejaring

Kasus % Kontrol % Total %

Paritas Nulipara 48 56 37 44 85 100

Bukan nulipara

52 45 63 55 115 100

OR = 1,57, X2 = 2,476, p= 0,152

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pada kelompok nulipara lebih banyak yang menderita mioma uteri ( 56 %). Pada kelompok bukan nulipara lebih banyak yang menderita bukan mioma uteri ( 55 % ). Dengan uji statistik Chi square diperoleh nilai p = > 0,05. Hal ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara paritas dengan kejadian mioma uteri.

Jika merujuk dari kepustakaan, hasil penelitian ini berbeda dari penelitian yang dilakukan oleh Trikurniasari 23

Menurut Lumbiganon et al

(2010) di RS. Poerwokerto, dimana wanita yang sering melahirkan lebih sedikit kemungkinannya untuk terjadinya perkembangan mioma ini dibandingkan wanita yang tidak pernah hamil atau satu kali hamil.

21

, adanya hubungan terbalik antara paritas dan risiko mioma uteri . Menurut Parazzini et al 22, risiko relatif mioma uteri pada wanita

yang pernah melahirkan 0,5 lebih rendah dibandingkan dengan nullipara, dan pernah juga dilaporkan penurunan progresif dalam risiko relatif terhadap jumlah kelahiran.

Dari data yang ditemukan diatas tidak sesuai dengan kepustakaan dan beberapa penelitian sebelumnya, mungkin ini disebabkan oleh adanya perbedaan ras, suku bangsa, warna kulit, demografis, riwayat keluarga yang ada menderita mioma uteri, merokok, penggunaan kontrasepsi hormonal.

Tabel 4.5. Tabel hubungan faktor menarche terhadap kejadian mioma uteri di RS H. Adam Malik Medan dan RS.Jejaring

Kasus % Kontrol % Total %

Menarche < 10 tahun 11 58 8 42 19

100 >10 tahun 89 49 92 51 181 100

OR = 1,42, X2 = 0,523, p= 0,631

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pada kelompok usia menarche < 10 tahun lebih banyak yang menderita mioma uteri ( 58%). Pada kelompok usia menarche >10 tahun lebih banyak yang menderita bukan mioma uteri ( 51% ). Dengan uji statistik Chi square diperoleh nilai p = >0,05. Hal ini menunjukkan tidak

adanya hubungan yang signifikan antara usia menarche dengan kejadian mioma uteri.

Dari penelitian sebelumnya didapatkan hubungan terbalik antara risiko mioma uteri dan usia saat menarkhe. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Sharami, dkk 19

Tetapi pada kepustakaan lain dikatakan juga bahwa peningkatan risiko mioma uteri berhubungan dengan menarkhe dini, meskipun risikonya sering tidak signifikan secara statistik.

( 2009) , menarche dini dilaporkan pada 69 kasus (14,4%). Ada hubungan positif antara usia menarche 8-10 tahun dan peningkatan risiko rahim leiomyoma (OR = 66%, 95% CI: 0,13-1,82).

Usia dini menarche menjadi faktor risiko untuk mioma uteri, berhubungan dengan berbagai jalur kusal ( penyebab). Peningkatan berat badan sebelum pubertas adalah faktor risiko yang kuat untuk mendapatkan menarche dini , dan olahraga dapat menunda menarche. Menarche dini berhubungan dengan peningkatan kepekaan jaringan terhadap hormon atau penekanan umpan balik kontrol produksi steroid.

Dari data diatas usia menarche dini tidak berhubungan dengan risiko kejadian mioma uteri, tidak sesuai dengan kepustakaan dan beberapa penelitian sebelumnya, mungkin ini disebabkan oleh adanya perbedaan ras, suku bangsa, warna kulit, demografis

Tabel 4.6. Tabel hubungan Indeks Massa Tubuh terhadap kejadian mioma uteri di RS H. Adam Malik Medan dan RS.Jejaring

IMT >25 60 56 47 44 107 100

<25 40 43 53 57 93 100

OR = 1,69, X2

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pada kelompok IMT > 25 lebih banyak yang menderita mioma uteri ( 56%). Pada kelompok IMT < 25 lebih banyak yang menderita bukan mioma uteri ( 57% ). Dengan uji statistik Chi square diperoleh nilai p = > 0,05. Hal ini menunjukkan tidak adanya hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian mioma uteri.

= 3,397, p= 0,089

Jika merujuk dari kepustakaan, hasil penelitian ini berbeda dari penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh oleh Eduardo F, dkk26(2001), sebanyak 34,9 % pada IMT (25,4 – 48,8 / obesitas) mempengaruhi kejadian mioma uteri. Dan beberapa penelitian telah menemukan hubungan antara obesitas dengan peningkatan insiden mioma uteri.

Penelitian prospektif di Amerika Serikat oleh Marshall et al 25

Obesitas juga berperan dalam terjadinya mioma uteri. Hal ini mungkin berhubungan dengan konversi hormon androgen menjadi estrogen oleh enzim aromatase di jaringan lemak. Hasilnya terjadi peningkatan jumlah estrogen tubuh, dimana hal ini dapat menerangkan hubungannya dengan peningkatan prevalensi dan pertumbuhan mioma uteri.

menemukan risiko mioma uteri meningkat sebanding dengan peningkatan IMT, serta peningkatan risiko berhubungan dengan penambahan berat badan sejak usia 18 tahun.

18

Dari data diatas obesitas tidak berhubungan dengan risiko kejadian mioma uteri, tidak sesuai dengan kepustakaan dan beberapa penelitian sebelumnya, mungkin ini disebabkan oleh adanya perbedaan ras, suku bangsa, warna kulit, demografis, merokok, penggunaan kontrasepsi hormonal dan kehidupan sosial ekonomi.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait