KAJIAN PUSTAKA
F. Hipotesis Penelitian
Kepemimpinan spiritual menjadi gaya kepemimpinan yang dirancang untuk menciptakan makna yang berdampak pada kuatnya motivasi intrinsik. Gaya kepemimpinan ini meramu proses pengembangan keyakinan/ harapan, visi, dan cinta altruistik. Hal ini sangat penting karena mengambil peran signifikan dalam motivasi karyawan. Ukuran yang digunakan bukan hal-hal material, melainkan pemaknaan terhadap hidup yang dijalaninya. Hal ini didukung oleh penelitian Fry dan Matherly (2003) yang menjadikan distributor peralatan elektronik untuk wilayah Barat Daya Amerika sebagai subjek penelitian. Dalam penelitian tersebut, Fry dan Matherly (2003) membuktikan bahwa kepemimpinan spiritual memungkinkan para distributor menemukan makna dari pekerjaannya. Hal ini berdampak pada terbangunnya nilai, sikap, dan perilaku yang berguna untuk mengembangkan motivasi internal, baik diri sendiri maupun orang lain sehingga mereka mau mengembangkan potensi yang dimiliki.
51
Teori kepemimpinan spiritual ini dibangun untuk memenuhi kebutuhan mendasar sebagai manusia, baik pemimpin maupun yang dipimpin. Hal ini dibuktikan Fry dan Cohen (2008) dalam penelitiannya. Menurut Fry dan Cohen (2008), kepemimpinan spiritual membantu berkembangnya nilai kemanusiaan secara holistik. Gaya kepemimpinan spiritual yang dipraksiskan dalam organisasi memberi harapan positif kepada seluruh anggota organisasi serta memungkinkan mereka untuk mau mengembangkan diri terus-menerus dan mengalami
subjective well-being. Dalam proses ini, terjadi korelasi antara penguatan keyakinan, penumbuhan harapan, penciptaan visi, dan pembangunan suasana organisasi berlandaskan cinta altruistik yang mana pemimpin dan yang dipimpin memahami diri sebagai bagian dari organisasi, memahami bahwa diri mereka dimengerti dan dihargai.
Kepemimpinan spiritual berpengaruh pada pengembangan menuju “pengutuhan” manusia, yang dalam konteks organisasi disebut anggota (karyawan). Proses ini, lebih lanjut, akan berpengaruh pada kemauan untuk mengembangkan potensi diri menjadi semakin baik, yang pada akhirnya akan membentuk habitus dalam organisasis secara keseluruhan. Penelitian Aydin dan Ceylan (2009) yang meneliti 578 karyawan di pabrik besi mendukung bahwa kepemimpinan spiritual mempunyai hubungan positif dengan learning organization.
Kepemimpinan spiritual adalah gaya kepemimpinan untuk menciptakan suatu motivasi intrinsik melalui penemuan makna sehingga anggota organisasi
52
merasa terdorong/ bersemangat/ memiliki motivasi untuk selalu mengembangkan diri terus-menerus menjadi semakin baik. Kepemimpinan spiritual memberdayakan/ mengembangkan manusia, baik sebagai pribadi maupun sebagai anggota dalam konteks organisasi. Berdasarkan paparan dan hasil penelitian yang ada, dapat dirumuskan hipotesis pertama, yaitu:
H1: Kepemimpinan spiritual berpengaruh positif terhadap learning
organization pada P.T. Kanisius.
Learning organization pada akhirnya akan berpengaruh pada peningkatan kinerja karyawan. Hal ini dibuktikan oleh Sujan et al (1994) dalam penelitiannya yang berjudul Learning Orientation, Working Smart, and Effective Selling. Dalam hasil penelitiannya, Sujan et al (1994) memberikan bukti bahwa
learning organization memicu kreativitas tenaga penjual, subjek yang diteliti, dalam melakukan aktivitas marketing. Dalam hal ini, kreativitas yang terpupuk dari learning organization memungkinkan pekerjaan dilakukan secara lebih efektif dan efisien. Menurut Sujan et al (1994), orientasi pada learning organization berbeda dengan orientasi kinerja. Jika orientasi kinerja menuntut tenaga penjual bekerja lebih keras, orientasi pada learning organization
mendorong tenaga penjual bekerja lebih cerdas.
Terkait hal yang sama sebagai objek penelitian, hasil penelitian Kohli (1998) menunjukkan bahwa karyawan yang tumbuh dan berkembang dalam perusahaan yang berorientasi pada learning organization mampu mencapai peningkatan kinerja yang lebih baik. Menurut Kohli (1998), dalam diri karyawan
53
tumbuh dorongan untuk secara kontinu mengembangkan diri, menuju kualitas diri yang lebih baik sehingga berdampak akhir pada kinerja yang tinggi. Karyawan yang bermotivasi tinggi ini secara terus-menerus akan bertumbuh dan mengembangkan diri serta secara proaktif mencari solusi-solusi baru dalam menyelesaikan persoalan. Dalam perusahaan yang berorientasi pada learning organization, karyawan merasa terdorong untuk mengembangkan diri berorientasi ke masa depan serta belajar dari pengalaman masa lalunya. Penelitian ini membuktikan bahwa learning organization memiliki pengaruh positif dalam peningkatan kinerja karyawan.
Selanjutnya, Pool W. Steven (2000) dalam The Learning Organization: Motivating Employees by Integrating TQM Philosophy in a Supportive
Organizational Culture membuktikan adanya pengaruh positif antara orientasi
learning organization dengan motivasi para manajer untuk meningkatkan kinerjanya. Dorongan untuk terus-menerus belajar menjadi motivasi kuat untuk secara kontinu meningkatkan kualitas diri yang pada akhirnya berdampak pada kinerja tinggi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa orientasi pada
learning organization memungkinkan para manajer meningkatkan kinerjanya. Berdasarkan uraian dan hasil penelitian-penelitian tersebut, dapat dirumuskan hipotesis kedua, yaitu:
H2: Learning organization berpengaruh positif terhadap kinerja
54
Dengan menerapkan learning organization, keunggulan kompetitif organisasi, menurut Argyris dan Schon (1978) (dikutip dalam Februanto 2011), dapat dipertahankan. Praksis learning organization mensyaratkan kepemimpinan adaptif yang mendukung dan memberi ruang. Dalam perkembangan kajian tentang kepemimpinan, gaya kepemimpinan spiritual seperti yang diungkapkan Fry (2003) bisa mengoptimalkan penerapan learning dalam organisasi yang berdampak pada dukungan terhadap anggota organisasi.
Muara dari penerapan gaya kepemimpinan spiritual yang dioptimalisasi oleh learning organization adalah kinerja tinggi karyawan. Selain ada hubungan kausalitas antara kepemimpinan dan learning organization, learning organization juga menghubungkan kepemimpinan dengan kinerja. Hal ini telah sejalan dengan penelitian Vilency dan Devi (2015) yang menyatakan bahwa
transformational leadership berpengaruh secara signifikan terhadap competitive advantage melalui variabel intervening, yaitu learning organization. Vilency dan Devi (2015) meneliti karyawan-karyawan yang bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang retail, baik yang berskala internasional maupun nasional di Surabaya. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan memiliki hubungan terhadap learning organization, dan kinerja juga memiliki hubungan dengan learning organization. Berdasarkan pemaparan dan hasil penelitian tersebut tampak bahwa learning organiation memiliki pengaruh pada hubungan kepemimpinan spiritual dan kinerja karyawan. Berdasarkan uraian dan hasil penelitian tersebut, dapat dirumuskan hipotesis ketiga, yaitu:
H3: Learning organization memediasi hubungan kepemimpinan spiritual terhadap kinerja karyawan pada P.T. Kanisius.
55