• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.4. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka konseptual diatas, dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

“ Perubahan Return On Asset (ROA) dan Economic Value Added (EVA) berpengaruh terhadap perubahan return saham”.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.1 Tinjauan Teori

2.4.1.Tingkat Pengembalian Saham

Analisis investasi saham merupakan hal yang mendasar yang seharusnya diketahui oleh para investor dalam menentukan beberapa perkiraan harga saham yang wajar, sebab tanpa analisis yang baik dan rasional para investor akan mengalami kerugian. Tingkat pengembalian saham yang diharapkan dari para investor yang utama adalah kenaikan harga saham itu sendiri dan pembagian dividen. Keputusan membeli saham terjadi apabila nilai perkiraan suatu saham di atas harga pasar, sebaliknya keputusan menjual saham terjadi bila nilai perkiraan suatu saham dibawah harga pasar. Analisis saham bertujuan untuk menaksir nilai intrinsic (Intrinsic Value)

suatu saham, kemudian membandingkannya dengan harga pasar saat ini (Current

Market Price) saham tersebut. Nilai Intrinsik (NI) menunjukkan nilai sekarang

(Present Value) arus kas yang diharapkan dari harga saham tersebut. Untuk

menentukan nilai intrinsik, Husnan (1998) menyebutkan bahwa :

4. Apabila NI > harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai under valued

(harganya terlalu rendah), dan karenanya seharunya dibeli atau ditahan apabila saham tersebut telah dimiliki.

5. Apabila NI < harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai over valued

6. Apabila NI = harga pasar saat ini, maka saham tersebut dinilai wajar harganya dan berada dalam kondisi keseimbangan.

Dengan menggunakan penilaian tersebut, pemodal harus memperkirakan berapa dan kapan manfaat yang diharapkan akan diterima, dan manfaat tersebut dinilai-tunaikan dengan tingkat bunga yang layak. Tingkat bunga tersebut harus memperhatikan risk free rate ditambah premi resiko. Selanjutnya nilai intrinsik dibandingkan dengan harga pasar saham saat ini.

Selanjutnya Tandelilin (1991) mengatakan bahwa nilai suatu saham sama dengan nilai sekarang dari pendapatan yang akan diterima oleh investor pada masa yang akan datang. Selanjutnya formula yang akan digunakan sebagai model dasar penilaian saham adalah

= + = + + + + + + =

(1 ) (1 ) (1 )2 (1 ) 2 1 1 * k d k D k D k D P t t t o K K ………( Jogiyanto, 1998)

Dimana P*o = nilai sekarang dari perusahaan (value of the firm).

Dt = deviden yang dibayarkan untuk periode ke t t = periode waktu ke t dari t = 1 sampai dengan n,

k = suku bunga diskonto (discount rate) atau tingkat pengembalian yang diinginkan (required rate of return).

Dari pandangan beberapa ahli tersebut dapat dikatakan bahwa dalam melakukan penilaian sekuritas hendaknya para investor dapat menilai berbagai saham yang ada di bursa efek guna menentukan portofolio yang dapat memberikan tingkat

return yang optimal. Model penilaian menurut Husnan (1998) adalah merupakan

perusahaan yang diramalkan (atau yang diamati) menjadi perkiraan tentang harga saham. Variabel ekonomi yang dimaksud seperti laba perusahaan, deviden yang dibagikan, variabilitas laba dan sebagainya.

Model penilaian saham yang sering digunakan untuk analisa sekuritas adalah nilai sekarang (present value = PV) dan price earning ratio (PER). Pendekatan dengan PV mencoba menaksir PV, dengan menggunakan tingkat bunga tertentu, dengan manfaat yang diharapkan akan diterima oleh pemilik saham. Berdasarkan pendekatan tersebut maka nilai saat ini suatu saham adalah sama dengan nilai sekarang arus kas yang diharapkan akan diterima oleh pemilik saham tersebut. Rumusan formulanya adalah:

+ = n t t t o k kas Arus P 1 * ) 1 ( ……( Jogiyanto, 1998)

Dimana : P0* = Nilai saham sekarang dari perusahaan (value of the firm) t = Periode waktu ke t dari t = 1 sampai n.

k = Suku bunga diskonto (discount rate) atau tingkat pengembalian yang diinginkan (required rate of return).

Arus kas = arus kas perusahaan.

Dalam formula itu k merupakan tingkat bunga atau keuntungan yang dipandang layak bagi suatu investasi. Tingkat bunga bagi perusahaan merupakan cost

of equity, karena merupakan tingkat keuntungan yang diisyaratkan oleh pemilik

modal sendiri. Untuk menaksir k tersebut dapat dilakukan dengan model-model equilibrium, seperti Capital Asset Pricing Model (CPAM) maupun Arbitrage Pricing

perlu memasukkan faktor resiko. Semakin besar resiko yang ditanggung pemodal semakin tinggi keuntungan yang dipandang layak. Dengan kata lain terdapat hubungan yang positif antara resiko dan tingkat keuntungan yang diisyaratkan oleh pemodal. Oleh sebab itu nilai k akan dipengaruhi oleh tingkat keuntungan bebas resiko ditambah dengan premi untuk resiko. Apabila hasil penjualan saham lebih tinggi dari harga belinya, maka pemodal akan memperoleh capital gains, dan sebaliknya jika pemodal memperoleh hasil penjualan saham lebih rendah dari harga belinya maka pemodal akan menderita capital loss.

Menurut Awat (1999) ada empat model penelitian yaitu : (1) Model penilaian umum, (2) penilaian saham tanpa pertumbuhan, (3) Model pertumbuhan konstan, (4) Model pertumbuhan umum.

Selanjutnya untuk melakukan analisis saham dan memilih saham, Husnan (1998) mengatakan bahwa ada dua pendekatan dasar yaitu : (1) Analisis Fundamental dan (2) Analisis Teknikal.

Analisis Fundamental mencoba memperkirakan harga saham yang akan datang dengan (1) mengestimasi nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham dimasa yang akan datang, (2) menerapkan hubungan variabel-variabel tersebut sehingga diperoleh taksiran harga saham. Dalam membuat peramalan harga saham, langkah yang penting adalah mengidentifikasi faktor fundamental seperti penjualan, pertumbuhan penjualan, biaya, kebijakan deviden dan sebagainya yang diperlukan mempengaruhi harga saham.

Menurut Sunariyah (2000) sebagaimana di kutip Komang, pendekatan analisis fundamental didasarkan pada suatu anggapan bahwa saham memiliki nilai intrinsik. Nilai intrinsik merupakan suatu fungsi dari variabel perusahaan yang dikombinasikan untuk menghasilkan suatu return yang diharapkan dan suatu resiko yang melekat pada saham tersebut. Hasil estimasi nilai intrinsik kemudian dibandingkan dengan harga pasar yang sekarang (current market price).

Ada dua pendekatan yang biasa digunakan dalam penilaian saham yaitu : pertama, pendekatan laba (price earning ratio approach) dan kedua, pendekatan nilai sekarang (present value approach). Pendekatan yang pertama menilai saham atas dasar hasil yang diharapkan per lembar saham pada masa yang akan datang. Pendekatan yang kedua, menegaskan bahwa nilai suatu saham diestimasikan dengan cara mengkapitalisasi pendapatan, oleh sebab itu disebut Capitalization Income

Methode.

Analisis Teknikal dilakukan untuk saham-saham individu ataupun untuk kondisi pasar secara keseluruhan dengan menggunakan grafik. Analisis teknikal pada dasarnya merupakan upaya untuk menentukan kapan akan membeli atau menjual saham, dengan memanfaatkan indikator-indikator teknis seperti moving average, new

highs and loss,volume perdagangan, dan short interest ratio serta menggunakan

analisis grafis.

Sunariyah (2000) selanjutnya mengatakan bahwa analisis teknikal merupakan suatu teknik analisis yang menggunakan data atau catatan mengenai pasar itu sendiri untuk berusaha mangakses permintaan dan penawaran suatu saham tertentu maupun

pasar secara keseluruhan. Pendekatan analisis ini menggunakan data pasar yang dipublikasikan seperti : harga saham, volume perdagangan, indeks harga saham gabungan dan individu, serta faktor lain yang bersifat teknis.

Edward dan Magee dalam Tendelilin (1991) menyatakan bahwa asumsi dasar yang berlaku dalam analisis teknis ialah :

7. Harga pasar ditentukan oleh interaksi supply dan demand.

8. Supply dan demand dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang rasional maupun

irasional.

9. Fluktuasi harga mengikuti trend tertentu yang bertahan dalam jangka waktu yang relative lama.

10.Trend tersebut dapat berubah karena bergesernya supply dan demand.

11.Sebenarnya pergeseran supply dan demand dapat dideteksi dengan melihat diagram dari perilaku pasar.

12.Pola diagram cenderung berulang-ulang.

Berdasarkan pandangan di atas, maka dapat dikatakan bahwa harga saham perusahaan sangat terpengaruh oleh adanya kekuatan penawaran dan permintaan baik yang rasional maupun yang irasional di bursa. Jika perusahaan berjalan lancar, maka nilai saham perusahaan akan meningkat. Sedangkan nilai hutang perusahaan tidak terpengaruh sama sekali. Sebaliknya, jika perusahaan berjalan tersendat-sendat, maka hak pemberi hutang akan didahulukan, sedangkan nilai saham perusahaan akan menurun drastis. Jadi dapat disimpulkan bahwa nilai dari saham kepemilikan bias merupakan indeks yang tepat untuk mengatur tingkat efektifitas perusahaan.

Berdasarkan alasan inilah maka tujuan menajemen keuangan seringkali dinyatakan dalam bentuk maksimalisasi nilai saham kepemilikan perusahaan, atau singkatnya maksimalisasi harga saham.

Menurut Komang (2001), di luar Amerika Serikat khususnya Eropa dan Jepang, tujuan memaksimalkan harga saham bukanlah satu-satunya tujuan yang ditetapkan. Di Jepang, tujuan yang seringkali ditekankan adalah merebut pangsa paling besar. Maksudnya ialah untuk mencapai profitabilitas jangkan panjang. Sedangkan di Eropa pekerja duduk dalam dewan komisaris sehingga tujuan kesejahteraan sosial juga diperhatikan bersama dengan tujuan perusahaan.

Perusahaan dengan prestasi yang lebih baik dibandingkan perusahaan lainnya, akan menikmati harga saham yang lebih tinggi dan memperoleh kemudahan untuk menambah dana baru jika diperlukan. Jika dana mengalir ke perusahaan yang memiliki harga saham cenderung meningkat, maka sumber-sumber ekonomi akan digunakan dengan cara paling efesien.

Menurut Tandelilin (1991) metode penilaian khusus yang digunakan untuk menentukan nilai bebagai jenis surat berharga berbeda-beda menurut jenis surat berharga yang akan dinilai. Namun demikian ada metode penilaian yang dapat digunakan untuk menilai segala macam surat berharga yaitu metode penilaian nilai sekarang (nilai sekarang (present value methode). Jadi besarnya tingkat pengembalian yang diharapkan (dari surat berharga) dapat ditentukan dengan menggunakan Nilai sekarang (present value). Selisih dari nilai sekarang dari surat berharga tersebut

dibandingkan dnegan harganya saat ini merupakan tingkat pengembalian diatas risk

free rate.

2.4.1.1. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Saham

Pembentukan portofolio berangkat dari usaha diversifikasi investasi guna mengurangi resiko. Bukti menunjukkan bahwa semakin banyak jenis sekuritas yang dikumpulkan dalam keranjang portofolio, maka resiko kerugian saham akan berkurang. Selanjutnya dalam konteks portofolio pasar, harus dipahami adanya resiko investasi yang terdiri dari 2 komponen yaitu 1) resiko tidak sistematis (unsystemic

risk) dan 2) resiko sestematis (systemic risk).

Dalam pasar modal yang efesien, dana akan teralokasikan dengan tepat sehingga produkstifitasnya tinggi. Penawar tertinggilah yang akan berhasil mendapatkan sumber daya yang tersedia. Harga saham tidaklah dapat dikendalikan sendiri oleh pembeli atau penjual. Sebagian besar perdagangan saham tidak cukup kuat untuk mempengaruhi harga saham. Dalam prakteknya dapat kita amati bahwa harga saham sangat rentan dengan informasi yang berkembang, baik informasi yang berasal dari dalam maupun dari luar perusahaan. Sebagaimana dikatakan Usman (1990) bahwa pada dasarnya harga saham dipengaruhi oleh informasi yang diterima oleh para investor. Informasi tersebut berasal dari faktor fundamental perusahaan, faktor teknis dan lingkungan sosial ekonomi. Sedangkan menurut Hasan (1998) faktor yang diperkirakan akan mempengaruhi harga saham ialah faktor fundamental seperti penjualan, pertumbuhan penjualan, dan sebagainya.

Dari pendapat tersebut dapat ditarik suatu hipotesa bahwa apabila kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba meningkat, maka harga saham akan meningkat, yang berarti rate of stock return semakin tinggi.

2.1.3. ROA

ROA di gunakan untuk mengukur efektifitas perusahaan di dalam menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan aktiva yang dimilikinya. Rasio ini merupakan rasio yang terpenting diantara rasio rentabiltas/ profitabilitas yang lainnya.ROA diperoleh dengan membandingkan antara Earning After Tax (EAT)

terhadap total asset. Semakin besar ROA menunjukkan kinerja yang semakin baik, karena tingkat kembalian semakin besar (Ang, 1997). Secara matematis ROA dapat dirumuskan sebagai berikut :

Assets Total Tax after Profit Net Assets on Return = x 100% 2.1.4. EVA

EVA adalah laba operasional setelah pajak (NOPAT) dikurangi biaya modal dari investasi atau modal yang digunakan. NOPAT merupakan laba operasi perusahaan setelah pajak dan mengukur laba yang diperoleh perusahaan dari operasional berjalan. Biaya modal sama dengan modal yang diinvestasikan perusahaan rata-rata tertimbang (weighted average) dari biaya modal (WACC).

komponen modal –utang jangka pendek, utang jangka panjang dan ekuitas pemegang saham – ditimbang berdasarkan proporsi relatif dalam stuktur modal perusahaan pada nilai pasar. Untuk menjadi alat pengukur kinerja dihitung sebagai berikut :

Penjualan Bersih xxx Biaya Operasi (xxx)

Laba Operasi xxx

Pajak (xxx) Laba Operasi sesudah pajak (NOPAT) xxx Biaya Modal (modal yang diinvestasikan x Biaya Modal) (xxx)

EVA xxx

EVA = NOPAT – Cost of Capital

EVA = NOPAT – (WACC x Capital Invested), atau

EVA = (ROA – WACC) x Capital invested,

(Young dan O’Byrne, 2001)

2.1.7. Biaya Hutang (Kd)

Biaya hutang (cost of debt) atau Kd merupakan rate yang harus dibayar perusahaan didalam pasar pada saat ini untuk mendapatkan hutang jangka panjang baru. Perusahaan memiliki beberapa paket surat hutang dengan beban bunga yang beragam dan cara tepat menghitungnya adalah secara tertimbang (Weigth). Adanya pemabayaran bunga oleh perusahaan akan mengurangi besarnya pendapatan kena pajak (PKP), maka Kd harus dikoreksi dengan faktor tersebut (1-t) dengan t = tingkat pajak yang dikenakan. Sehingga dapat dirumuskan menjadi :

panjang jangka hutang Total tahunan bunga Biaya Kd=

Menurut Brigham (2001), biaya hutang berasal dari biaya hutang setelah pajak, Kd (1-t). Biaya hutang ini merupakan biaya yang relevan dari hutang baru,

mengingat kemampuan bunga mengurangi pajak digunakan untuk menghitung biaya modal rata-rata tertimbang (WACC). Perhitungan ini sama dengan Kd dikalikan dengan (1-t), dimana t merupakan tarif pajak marjinal perusahaan, t dapat dihitung dengan biaya pajak dibagi dengan laba sebelum pajak.

Biaya komponen hutang setelah pajak = Suku bunga – Penghematan pajak = Kd – Kdt

= Kd (1-t)

Alasan penggunaan biaya hutang setelah pajak dalam menghitung biaya modal rata-rata tertimbang adalah sebagai berikut, nilai saham perusahaan yang ingin kita maksimumkan, bergantung pada arus kas setelah pajak. Karena bunga

merupakan beban yang dapat dikurangkan , maka bunga menghasilkan penghematan pajak yang mengurangi biaya hutang bersih, yang membuat biaya hutang adalah suku bunga atas hutang baru, bukan atas hutang yang masih beredar, dengan kata lain biaya kita perlukan adalah biaya hutang Marginal.

2.1.8. Biaya Modal Sendiri (Ke)

Biaya modal sendiri sering disebut cost of equity atau Ke. Bila para investor menyerahkan dananya berupa equity kepada perusahaan mereka berhak untuk mendapatkan pembagian deviden dimasa mendatang sekaligus berkedudukan sebagai pemilik parsial dari perusahaan tersebut. Besarnya deviden tidak ditentukan pada saat investor menyerahkan dananya, akan tetapi bersifat tidak tergantung kinerja perusahaan tersebut dimasa datang. Hal ini sangat berbeda dengan modal hutang

karena sudah ada kepastian tingkat bunga yang disetujui. Untuk menghitung Ke perlu pendekatan berdasarkan nilai pasar yang berlaku dan bukan nilai buku.

Menurut Brigham dan Gapenski (1996) ada tiga metode pendekatan untuk menentukan nilai Ke antara lain :

2. CAPM (Capital Asset Pricing Model)

Model yang populer adalah penetapan harga aktiva modal atau CAPM. Metode tersebut dapat dirumuskan :

Ke = Risk free rate + Risk premium = Krf + I (Krm – Krf)

Model ini melihat tingkat hasil yang diharapkan investor dengan rumus Krf = tingkat hasil pengembalian bebas resiko (risk free ratei), Krm = tingkat hasil pengembalian yang diharapkan dipasar, dan I = koefesien Beta saham yang merupakan Indeks resiko saham perusahaan ke i .

Komponen biaya ekuitas :

b. Risk Free rate = Krf

Adalah tingkat bunga bebas resiko. Dimana penanaman modal pada instrumen bisnis yang mempunyai tahun bunga bebas resiko. Ini akan dapat dipastikan memperoleh keuntungan seperti yang diharapkan. Sebagai ukuran dipakai tingkat suku bunga obligasi dalam hal ini adalah Sertifikat Bank Indonesia. Data ini diperoleh dari jurnal statistik keuangan dan pasar modal.

b. Market Return = Krm

Adalah tingkat keuntungan portofolio pasar atau nilai keseluruhan pasar. Sebagai pengukuran dipakai tingkat keuntungan rata-rata seluruh kesempatan investasi yang tersedia di indeks pasar. Indeks pasar yang dipakai adalah Indek Harga Saham Gabungan (IHSG). Data diperoleh dari Capital Market Direktory (ICMD). Cara memperolehnya adalah dengan mengumpulkan nilai IHSG bulanan. Kemudian dihitung sebagai berikut :

1 -i 1 -i i bulan Indeks bulan Indeks bulan Indeks (Krm) pasar Return = − c. Beta =

Beta suatu saham adalah suatu ukuran volatilitas saham tersebut terhadap rata-rata pasar saham. Hal tersebut mencerminkan resiko pasar sebagai lawan resiko spesifik perusahaan yang dapat dikurangi dengan diversifikasi. Historical beta ini diperoleh dengan melakukan regresi linier antara tingkat pengembalian (stock return)

saham atau excess return saham yang akan dicari nilai betanya terhadap excessreturn

portfolio pasar/indeks pasar (dalam hal ini indeks yang digunakan adalah IHSG)

X . Y= Dimana:

Y = excess return saham individual (Kri – Krf)

Yang dimaksud Exess return adalah selisih antara tingkat keuntungan dengan tingkat bebas resiko.

2. Discounted Cash Flow Model (DCF)

Model ini melihat Ke sebagai nilai deviden atau harga saham ditambah dengan prosentase pertumbuhan dari deviden tersebut (asumsi pertumbuhan konstan), dimana :

g = b (r), b atau retention ratio diperoleh = (1- Payout ratio), D1= D0 (1+g), Po= harga saham periode ke 0, r = rate of return

g P D Ke 0 1 + = Ke = Deviden Yield + b (r)

Ratio antar D1 dan P0 dikenal sebagai Deviden Yield.

3. Bond Yield Plus Risk Premium Approach

Memperkirakan tingkat return yang akan diperoleh dengan menambahkan premi resiko pada obligasi, dimana company bond yield dipeoleh dari perusahaan yang memiliki obligasi (Kd) dan risk premium pada pendekatan ketiga ini adalah premi yang diharapkan melebihi nilai bond yield perusahaan (Kd) dengan maksud menarik investor untuk investasi pada obligasi yang lebih beresiko.

Premium Risk yield bond own Company Ke= +

2.1.9 Struktur Modal

Struktur modal adalah pertimbangan atau perbandingan antara modal asing jangka panjang dengan modal sendiri. Struktur modal merupakan hal yang penting bagi setiap perusahaan, karena baik buruknya struktur modal akan mempunyai efek langsung terhadap posisi finasial perusahaan.

2.1.10 Weighted Average Cost of Capital

WACC merupakan rata-rata tertimbang biaya hutang dan biaya modal sendiri, menggambarkan tingkat pengembalian investasi minimum untuk mendapatkan required rate of return (tingkat pengembalian yang diharapkan) oleh investor, yaitu kreditor dan pemegang saham. Dengan demikian di dalam perhitungan akan mencakup perhitungan masing-masing komponennya, yaitu cost of debt (biaya hutang) dan cost of equity (biaya moda sendiri) serta proporsi masing-masing di dalam struktur modal perusahaan.

Di dalam perhitungan biaya modal tertimbang ini yang dipakai adalah modal yang tertanam dalam jangka panjang dalam perusahaan.

Rumus : Pe) x (Ke Pd) x * (Kd WACC= +

Dimana : Kd* = Biaya hutang setelah pajak Ke = Biaya modal sendiri Pd = Proporsi hutang Pe = Proporsi modal sendiri

2.5. Tinjauan Penelitian Terdahulu

Penelitian yang berkaitan dengan penggunaan variabel ROA dan EVA yang Jogityanto dan Chendrawati (1999) dengan judul penelitian Pengaruh ROA dan EVA

terhadap Tingkat Pengembalian Saham menghasilkan bahwa ROA mempunyai

pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengembalian saham dan EVA secara statistik mempunyai pengaruh yang tidak signifikan terhadap tingkat pengembalian saham.

Dalam penelitian Pradono dan Cristiawan (2004) meneliti pengaruh EVA terhadap return saham. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut bahwa EVA tidak memiliki mempunyai pengaruh signifikan terhadap return yang diterima oleh pemegang saham. Adapun penelitian tersebut menggunakan uji hipotesis regresi linier sederhana.

Irwansyah (2005),meneliti pengaruh rasio profitabilitas terhadap perubahan harga saham. adapun penelitian tesebut menggunakan uji hipotesis regresi berganda dan regresi sederhana. Salah satu dari hasil penelitian bahwa ROA mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham. Adapun dalam penelitian itu dijelaskan juga bahwa ROA juga mempunyai pengaruh terhadap return yang diterima pemegang saham.

Waluya (2005), meneliti ROA tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengembalian harga saham dan EVA secara statistic tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengembalian saham.

Wibowo (2005), meneliti bahwa Profitabilitas dan EVA mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap return pemegang saham. Secara parsial ROA,ROE dan EVA tidak berpengaruh signifikan terhadap return pemegang saham artinya perubahan return saham dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dimasukkan ke dalam penelitian.

Sasongko dan Wulandari (2006), meneliti pengaruh EVA dan rasio profitabilitas terhadap harga saham. Hasil penelitian yang diperoleh bahwa ROA dan EVA tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham .

2.6. Kerangka Konseptual H1 Return On Assets (ROA) Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

Berdasarkan latar belakang masalah, tinjauan pustaka, dan hasil penelitian terdahulu, maka penulis membuat kerangka konseptual seperti yang digambarkan pada gambar 2.1. Return saham Economic Value Added (EVA) Return On Assets (ROA) Return saham Economic Value Added (EVA)

ROA yaitu rasio antara laba setelah pajak (EAT) dengan total assets. Rasio ini Digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan perusahaan menghasilkan tingkat keuntungan dengan keseluruhan aktiva yang tersedia dalam perusahaan. EVA adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan, yang mengatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi (operating cost) dan biaya modal

(cost of capital).Return yang diterima oleh pemegang saham, adalah return yang

diterima para pemegang saham atas investasi yang telah dilakukan, yang bisa berupa deviden kas dan selisih perubahan harga saham (capital gain/loss).

2.7. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka konseptual diatas, dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

“ Perubahan Return On Asset (ROA) dan Economic Value Added (EVA) berpengaruh terhadap perubahan return saham”.

BAB III

Dokumen terkait