BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.11 Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap masalah yang akan diuji kebenarannya, melalui analisis data yang relevan. Kebenaran dugaan sementara akan diketahui setelah dilakukan penelitian. Dalam penelitian ini, hipotesis yang dirumuskan terkait dengan pengaruh Kompleksitas Pemerintah Daerah, Ukuran Pemerintah Daerah, Pendapatan Asli Daerah, Pertumbuhan Ekonomi, dan Belanja Modal terhadap Kelemahan Pengendalian Intern Pemerintah Provinsi.
2.11.1. Ukuran Pemerintah terhadap Kelemahan Pengendalian Intern Pemerintah Provinsi
Jumlah penduduk menjadi variabel utama dalam menentukan kebutuhan pendanaan daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum.
Logikanya semakin banyak jumlah penduduk di suatu pemerintah daerah berarti semakin banyak dan beragam kebutuhan yang harus dipenuhi. Dengan demikian akan semakin banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah dalam melaksanakan fungsi pelayanan umum.. Hal ini dapat meningkatkan kelemahan pengendalian intern (Martani dan Zaelani, 2011).
H1: Ukuran pemerintah memiliki pengaruh terhadap kelemahan pengendalian intern pemerintah provinsi.
2.11.2. Kompleksitas Pemerintah terhadap Kelemahan Pengendalian Intern Pemerintah Provinsi
Penelitian Ge dan McVay (2005), Ashbaugh-Skife, Collins, dan Kinney (2007) dan Doyle, Ge, dan McVay (2007) menemukan hubungan
positif antara jumlah segmen usaha atau cabang organisasi dengan kelemahan pengendalian intern. Dengan demikian semakin banyak segmen atau cabang organisasi kasus kelemahan pengendalian intern yang terjadi akan semakin banyak. Kecamatan dalam pemerintah daerah diasosiasikan dengan jumlah segmen dalam perusahaan atau cabang dalam organisasi. Diduga banyak masalah yang timbul dari banyaknya jumlah kecamatan seperti kesulitan implementasi sistem pengendalian intern pada lingkungan kecamatan yang berbeda, masalah pengawasan dari pemerintah daerah, sampai saat pelaporan laporan keuangan.
H2: Kompleksitas pemerintah memiliki pengaruh terhadap kelemahan pengendalian intern pemerintah provinsi.
2.11.3. Pendapatan Asli Daerah terhadap Kelemahan Pengendalian Intern Pemerintah Daerah
Pendapatan asli daerah biasanya diperoleh dalam jumlah yang tidak terlalu besar untuk setiap kali transaksi, tetapi frekuensi transaksi tersebut sangat tinggi, contohnya pajak daerah, retribusi dan hasil pengelolaan kekayaan daerah. Semakin banyak jumlah pendapatan yang diterima oleh suatu daerah, maka membuat masalah pengendalian intern meningkat. Banyaknya sumber pendapatan yang ada di suatu daerah akan menyebabkan meningkatnya kecurangan yang berimbas pada kerugian suatu daerah. Pengendalian intern sangat dibutuhkan untuk mencegah dan mengurangi tindakan kecurangan yang ada di suatu daerah.
H3: Jumlah Pendapatan Asli Daerah berpengaruh terhadap kelemahan pengendalian intern pemerintah provinsi.
2.11.4. Pengaruh Pertumbuhan Ekonomi terhadap Kelemahan Pengendalian Intern Pemerintah Provinsi
Pertumbuhan yang cepat dari sebuah organisasi menyebabkan banyak terjadi perubahan baik itu secara langsung maupun tidak langsung. Berbagai perubahan tersebut menuntut penyesuaian dari pengendalian intern yang dimiliki. Dengan naiknya aktivitas bisnis yang besar, perusahaan cenderung memiliki pengendalian intern yang kurang baik. Dalam pemerintah daerah pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari besar kecilnya angka Produk Domestik Regional Bruto. Produk Domestik Regional Bruto yang tinggi mengindikasikan bahwa kegiatan ekonomi daerah berjalan dengan baik, dengan begitu nilai pemasukan terhadap pendapatan daerah akan semakin tinggi. Besarnya angka Produk Domestik Regional Bruto suatu daerah akan menyebabkan pengawasan yang dilakukan pemerintah akan semakin luas.
Meningkatnya aktivitas ekonomi dapat mengakibatkan kecurangan yang tinggi, dan untuk itu pemerintah perlu melakukan pengawasan internal untuk mengantisipasi adanya kecurangan dan penyelewangan.
H4: Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh terhadap kelemahan pengendalian intern pemerintah provinsi.
2.11.5. Pengaruh Belanja Modal terhadap Kelemahan Pengendalian Intern Pemerintah Provinsi
Menurut Mulyadi (2007) agar keuangan negara dapat digunakan dalam mewujudkan tujuan bernegara, maka idealnya keuangan negara perlu dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efisien,
ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan. Prinsip-prinsip tersebut sejalan dengan prinsip-prinsip yang selama ini dikenal dengan penyelenggaraan goodgovernance.
Kekuasaan dalam pengelolaan keuangan negara selalu mengandung risiko penyimpangan (fraud) yang besar. Salah satu penyebab munculnya fraud, menurut Sahari dan Kurniawan(2007) adalah adanya peluang. Hal ini umumnya timbul dari kelemahan dalam pengendalian internal. Sehingga pengendalian internal secara detektif (untuk mendeteksi dan memperbaiki hal-hal yang tidak diinginkan yang telah terjadi) pada pengeluaran pemerintah sangat diperlukan karena telah banyak perkara tentang ketidakefisienan bahkan korupsi dalam hal pengadaan barang dan jasa, terutama belanja modal. Hal tersebut juga didukung oleh beberapa penelitian, diantaranya penelitian Mauro (1998) berpendapat bahwa korupsi lebih mudah dilakukan pada belanja anggaran yang memudahkan terjadinya suap, markup dan membuat tindakan tersebut tidak terdeteksi. Terkait dengan belanja modal, Tuanakotta (2009:34) merinci delapan belas modus korupsi di daerah, antara lain ditemukan bahwa ada pengusaha yang seringkali mempengaruhi kepala daerah atau pejabat daerah untuk mengintervensi proses pengadaan agar pengusaha tersebut dimenangkan dalam tender atau ditunjuk langsung kemudian harga barang/jasa dinaikkan (markup), yang pada akhirnya selisihnya dibagi-bagikan. Selain itu ditemukan bahwa antara pengusaha, pejabat eksekutif, dan pejabat legislatif bersepakat untuk melakukan markdown atas aset pemda dan markup atas aset penganti dari pengusaha. Para kepala daerah juga seringkali meminta uang jasa (di bayar
dimuka) kepada pemenang tender sebelum melakukan proyek. Kondisi ini menunjukkan bahwa belanja modal bisa menjadi obyek korupsi politik dan korupsi administratif oleh pihak legislatif dan eksekutif. Bagi anggota DPR, belanja modal bisa menjadi alat untuk ”kampanye” kepada konstituennya.
Sedangkan bagi kepala daerah, belanja modal berarti ”kampanye” kepada masyarakat tentang keberhasilan pembangunan yang dilakukannya dan sebagai sumber pemasukkan finansial bagi saku pribadinya karena adanya bayaran yang diberikan oleh pihak lain (Abdullah, 2008).
H5: Belanja Modal berpengaruh terhadap kelemahan pengendalian intern pemerintah provinsi.
2.11.6. Pengaruh Dana Alokasi Khusus terhadap Kelemahan Pengendalian Intern Pemerintah Provinsi
Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas nasional.Dana ini akan diberikan kepada daerah untuk mendanai kegiatan khusus seperti infrastruktur, pendidikan, pertanian, bidang kesehatan, kehutanan, bidang sarana prasarana dan lain-lain. Indonesia Corruption Watch menyebut dari lima terbesar objek dana yang rentan dikorupsi adalah Dana Alokasi Khusus (DAK) dengan jumlah kasus mencapai 85 kasus dengan kerugian negara sebesar Rp 377 miliar. Bidang yang paling sering menjadi sasaran adalah pendidikan dengan jumlah 214 kasus dengan kerugian mencapai Rp 417 miliar dan bidang infrastruktur. Hal terjadi akibat lemahnya
pengendalian intern dalam pemerintah daerah terutama lemahnya pengawasan pengelolaan dana. Kekuasaan dalam pengelolaan keuangan negara selalu mengandung risiko penyimpangan (fraud) yang besar. Salah satu penyebab munculnya fraud, menurut Sahari dan Kurniawan(2007) adalah adanya peluang.
Hal ini umumnya timbul dari kelemahan dalam pengendalian internal. Sehingga pengendalian internal secara detektif (untuk mendeteksi dan memperbaiki hal-hal yang tidak diinginkan yang telah terjadi) pada pengeluaran pemerintah sangat diperlukan karena telah banyak perkara tentang ketidakefisienan bahkan korupsi dalam hal pengadaan barang dan jasa. Hal tersebut juga didukung oleh beberapa penelitian, diantaranya penelitian Mauro (1998) berpendapat bahwa korupsi lebih mudah dilakukan pada belanja anggaran yang memudahkan terjadinya suap, markup dan membuat tindakan tersebut tidak terdeteksi.
H6: Dana Alokasi Khusus berpengaruh terhadap kelemahan pengendalian intern pemerintah provinsi.
2.11.7. Pengaruh Ukuran Pemerintah, Kompleksitas Pemerintah, Pendapatan Asli Daerah, Pertumbuhan Ekonomi, Belanja Modal, dan Dana Alokasi Khusus terhadap Kelemahan Pengendalian Intern Pemerintah Provinsi
Kelemahan pengendalian intern pemerintah provinsi dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti ukuran pemerintahan karena semakin banyak jumlah penduduk di suatu pemerintah daerah berarti semakin banyak dan beragam kebutuhan yang harus dipenuhi. Dengan demikian akan semakin banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah dalam
melaksanakan fungsi pelayanan umum. Laju pertumbuhan dijadikan ukuran kemajuan ekonomi sebagai hasil pembangunan, dengan demikian semakin tingginya pertumbuhan ekonomi biasanya semakin tinggi pula kesejahteraan masyarakat. Sumber daya manusia juga menentukan keberhasilan pembangunan nasional melalui jumlah dan kualitas penduduk. Jumlah penduduk yang besar merupakanpasar potensial untuk memasarkan hasil-hasil produksi, sementara kualitas penduduk menentukan seberapa besar produktivitas yang ada. Semakin berkualitas penduduknya Produk Domestik Regional Bruto yang dihasilkan semakin tinggi dan dapat mengindikasikan bahwa kegiatan ekonomi daerah berjalan dengan baik. Besarnya angka Produk Domestik Regional Bruto suatu daerah juga akan mempengaruhi pengawasan yang dijalankan oleh pemerintah.
Semakin tinggi Produk Domestik Regional Bruto suatu daerah maka nilai pemasukan terhadap pendapatan daerah akan semakin tinggi. Banyaknya sumber pendapatan yang ada di suatu daerah akanmenyebabkan meningkatnya kecurangan yang berimbas pada kerugian suatu daerah.
Selain itu, banyaknya jumlah kecamatan yang ada dalam suatu daerah diduga pemerintah daerah akan mengalami kesulitan dalam mengimplementasikan pengendalian intern. Masalah yang biasanya muncul adalah dalam hal penyatuan laporan keuangan. Kesulitan ini dialami karena kecamatan memiliki latar belakang yang berbeda antara satu kecamatan dengan kecamatan yang lainnya dilihat dari berbagai aspek. Disamping itu, semakin banyak jumlah belanja modal yang dimiliki suatu daerah maka alokasi untuk pengadaan aset tetap semakin tinggi. Proses pengadaan aset tetap dalam
lingkungan pemerintah daerah dilakukan melalui mekanisme lelang atau tender, dengan banyaknya proyek pengadaan barang yang dilakukan oleh pemerintah daerah, maka kemungkinan terjadinya kecurang dalam proyek pengadaan tersebut semakin tinggi. Luasnya wilayah Indonesia dan banyaknya jumlah penduduk Indonesia menyebabkan pemerintah memerlukan satuan kerja untuk membantu dalam urusan administrasi. Semakin besar ukuran pemerintahnya maka pengembangan daerah tersebut akan semakin gencar, untuk mendukung pembangunan maka dialokasikan DAK. Tetapi dengan alokasi DAK yang besar membuat semakin rentan kecurangan yang terjadi, hal ini karena lemahnya pengawasan pengelolaan dana.
H7: Ukuran Pemerintah, Kompleksitas Pemerintah, Pendapatan Asli Daerah, Pertumbuhan Ekonomi, Belanja Modal, Dana Alokasi Khususberpengaruh secara simultan terhadap kelemahan pengendalian intern pemerintah provinsi.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN