• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

G. Hipotesis Statistik

2

1

1

2 1 2 2 1 1

n

n

v

n

v

n

2 1 1 1 2 1 n n

dsg

X

X

t

dengan dsg = Keterangan:  1

X Rata-rata data kelompok eksperimen

2

X Rata-rata data kelompok kontrol dsg = Nilai deviasi standar gabungan

n1 = Banyaknya data kelompok eksperimen n2 = Banyaknya data kelompok kontrol v1 = Varians data kelompok eksperimen v2 = Varians data kelompok kontrol.

2. Teknik Analisis Data Hasil Non Tes

Data Hasil Observasi akan dianalisis secara kualitatif deskriptif. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran umum tentang pelaksanaan pembelajaran dikelas selama diberi perlakuan berupa penerapan model pembelajaran inkuiri. Sedangkan Pedoman wawancara setelah pembelajaran terhadap guru dan siswa. Adapun jenis wawancaranya terstruktur di mana peneliti ketika melaksanakan tatap muka dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah disiapkan terlebih dahulu. Wawancara siswa meliputi tiga kategori siswa yang tinggi, sedang dan bawah, dengan perwakilan tiga orang perkategori. Wawancara untuk mendapatkan informasi, evaluasi serta saran terhadap penelitian yang telah dilakukan peneliti.

G. Hipotesis Statistik Ho : µA= µB Ha : µA> µB

µA = Rata-rata nilai hasil belajar kimia siswa menggunakan model inkuiri terbimbing pada pembelajaran kimia laju reaksi.

µB = Rata-rata nilai hasil belajar kimia siswa yang tidak menggunakan model inkuiri terbimbing pada pembelajaran kimia laju reaksi.

17

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2009), h. 181

48 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Data

1. Hasil belajar eksperimen dan kontrol

Berdasarkan tujuan yang dirumuskan, data yang telah terkumpul data posttest dari 70 siswa yang terdiri dari kelas eksperimen yaitu menggunakan inkuiri terbimbing sebanyak 35 siswa dan kelas kontrol yaitu menggunakan konvensional sebanyak 35 siswa.

Hasil perhitungan data penelitian mengenai tes posttest pada kelompok eksperimen dari 35 siswa yang dijadikan sampel, diperoleh data skor terendah 50 dengan jumlah siswa yang mendapat skor terendah pada interval 50 sampai 56 sebanyak 3 siswa (8,57%). Sedangkan skor tertinggi 94 dengan jumlah siswa yang mendapatkan skor tertinggi pada interval 92 sampai 98 sebanyak 1 siswa (2,86%). Skor terbanyak berada pada interval 78 sampai 84 sebanyak 9 siswa (25,71%), skor rata-rata sebesar 72,6 dengan siswa yang mendapatkan skor dibawah rata-rata sebanyak 17 siswa (48,57%), dan standar deviasi sebesar 11,74.

Hasil perhitungan data posttest pada kelompok kontrol dari 35 siswa yang dijadikan sampel, diperoleh data skor terendah 38 dengan jumlah siswa yang mendapat skor terendah pada interval 38 sampai 44 sebanyak 2 siswa (5,71%). Sedangkan skor tertinggi 82 dengan jumlah siswa yang mendapatkan skor tertinggi pada interval 82 sampai 88 sebanyak 1 siswa (2,86%). Skor terbanyak berada pada interval 52 sampai 58 sebanyak 10 siswa (28,57%), skor rata-rata sebesar 60,8 dengan siswa yang mendapatkan skor dibawah rata-rata sebanyak 16 siswa (48,57%), dan standar deviasi sebesar 10,53.1

1

Tabel 4.1. Desksipsi data posttest (hasil belajar)

No Deskripsi Eksperimen Kontrol

1. Nilai maksimum 94 82 2. Nilai minimum 50 38 3. Mean 72,6 60,8 4. Modus 81,7 49,75 5. Median 84,55 55,35 6. Standar devisiasi 11,74 10,53 B. Data Kualitatif

1. Lembar Observasi Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing

Pembelajaran model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat diketahui dari rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan lembar observasi aktivitas guru yang memuat daftar cek keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing yang telah diobservasi oleh observer. Adapun hasil observasi kegiatan pembelajaran inkuiri terbimbing dilaksanakan pada saat implementasi pembelajaran inkuiri terbimbing. Kegiatan pembelajaran dilakukan dalam tiga kali pertemuan dengan alokasi waktu dua jam setiap pertemuan. Pada pertemuan pertama dilakukan tahapan inkuiri yaitu tahap pertanyaan dan tahap penyelidikan. Pada pertemuan kedua kumpulkan data (praktikum) dilakukan dilaboratorium dan tahap menarik kesimpulan. Pertemuan ketiga yaitu tahap komunikasi hasil. Selama pembelajaran berlangsung dilakukan observasi guru terhadap keterlaksanaan pembelajaran inkuiri selama pembelajaran. Adapun data lengkapnya dilampiran.2

2

50

Tabel 4.2

Lembar observasi kegiatan guru dalam pembelajaran No Tahapan yang diamati Skor hasil 1. Persiapan sebelum pembelajaran 100%

2. Fase 1: Pertanyaan 83,33%

3. Fase 2: Penyelidikan 94,44%

4. Fase 3: Kumpulkan data (praktikum) 80,95% 5. Fase 4: Menarik kesimpulan 100% 6. Fase 5: Komunikasi hasil 91,66%

Berdasarkan tabel 4.2 terlihat hasil observasi didapatkan informasi bahwa tahapan-tahapan pembelajaran inkuiri terbimbing cukup terlaksana dengan baik dan secara umum siswa tampak antusias dan senang dalam mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat mengenai materi laju reaksi. selain itu tahapan-tahapan pembelajaran yang telah dilakukan menunjukan bahwa sebagian siswa mengenali proses inkuiri yaitu dapat menyusun fakta dan menghubungkan data-data yang diperoleh kedalam suatu penjelasan. Meskipun dalam proses perumusan penjelasan mengenai fenomena laju reaksi kontribusi siswa kurang terlaksana dengan baik. Kejadian tersebut terbatasnya waktu dan siswa hanya diberikan kesempatan sebentar untuk dapat merumuskan penjelasan dengan cara menjawab pertanyaan yang ada dalam LKS.

2. Hasil Wawancara

Wawancara terhadap siswa dan guru dilakukan setelah selesai melaksanakan pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing. Wawancara untuk siswa diwakilkan kelompok 3 kategori tinggi, sedang, dan rendah. Gambaran garis besar wawancara pada tabel 4.3 dan tabel 4.4 dibawah ini. Data selengkapnya dilampiran.3

3

Tabel 4.3

Hasil Wawancara Guru

Indikator pertanyaan Temuan

1. Bagaimana pembelajaran kimia yang ibu/bapak berikan kepada siswa?

Pembelajaran yang diberikan bervariasi tidak hanya metode ceramah, tetapi digunakan dengan praktikum, memakai pendekatan kontekstual dan sebagainya.

2. Apakah ibu mengetahui pembelajaran inkuiri terbimbing? Menurut bapak/ibu inkuiri itu seperti apa?

Iya tahu, inkuiri itu adalah pembelajaran dimana siswa menemukan konsep sendiri yang sebenarnya dari dulu kita sering melakukan tetapi tidak tahu namanya.

3. Apakah pembelajaran inkuiri ini menyulitkan guru dalam mengajar?

Tidak terlalu menyulitkan karena inkuiri membuat guru lebih ringan dalam menyampaikan materi akan tetapi siswa dikhawatirkan tidak mendapatkan konsep atau konsep yang ditemukan tidak benar.

4. Menurut bapak/ibu apa kekurangan dan kelebihan pembelajaran inkuiri terbimbing?

Kekurangan: Kemungkinan anak salah menemukan konsep,Waktu yang dibutuhkan banyak, Tidak menjangkau semua anak jika diterapkan dikelas heterogen.

Kelebihan: Guru lebih santai dalam menyampaikan materi, Siswa mendapatkan pengalaman menjadi seorang penyelidik, Siswa dapat lebih memahami konsep karena menemukan sendiri, Jika siswa mendapkan satu konsep dapat meningkatkan motivasi.

Tabel 4.4

Hasil wawancara siswa

Indikator pertanyaan Temuan

52

mempelajari pokok bahasan materi laju reaksi.

tidak sesuai dengan konsep yang terdapat pada teori

-Dalam perhitungan

-Banyak kelebihannya mudah memahami materi karena mencari dan menemukan sendiri.

2. Pertanyaan yang diajukan selama proses pembelajaran membangkitkan rasa keingintahuan

-Pertanyaan yang diajukan kadang ngerti kadang tidak, tetapi membangkitkan rasa ingin tahu. -Bertanya lebih luas karena dapat

saring informasi dengan teman-teman.

3. Pemahaman siswa terhadap pokok bahasan laju reaksi melalui pembelajaran inkuiri.

-Lebih paham karena adanya praktikum dilakukan dilaboratorium membuat belajar tidak bosan. Sehingga fokus memecahkan masalah soal laju reaksi.

-Dalam kelompok kesulitannya kerjasama ada yang bekerja ada juga yang tidak dan kekurangan sumber belajar.

4. Pemahaman dengan adanya praktikum serta peran LKS

-Praktikum membuat lebih paham, adanya LKS sangat membantu dalam memahami konsep laju reaksi dan membimbing untuk menemukan konsep sendiri

5. Saran setelah pembelajaran inkuiri terbimbing

-Sebaiknya bahan yang akan digunakan dijelaskan fungsinya dan alasan mengapa kita memakai bahan tersebut. Sehingga meningkatkan motivasi belajar kimia

-Kimia sering banyak praktikum -Lebih banyak latihan soal

Dari 26% siswa yang sudah diwawancara dapat disimpulkan bahwa siswa lebih paham dan merasa lebih termotivasi dalam memahami materi dalam pembelajaran, lebih aktif baik menjawab pertanyaan dengan hasil dari percobaan, dan dapat bekerjasama dengan teman yang lainnya, baik dalam persiapan percobaan dalam hal membuat alat percobaan sampai proses prakteknya dan terakhir hasil dari percobaan serta kesimpulan.

B.Analisis Data

Setelah diperoleh data dari masing-masing kelompok, maka dapat dilanjutkan pengujian hipotesisnya, akan tetapi sebelum dilakukan pengujian hipotesis perlu dilakukan uji prasyarat analisis terlebih dahulu terhadap data hasil penelitian seperti uji normlitas dan uji homogenitas. Beberapa prasyarat yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:

1. Hasil Uji Normalitas

Hasil uji normalitas dilakukan dengan uji lilifors. Dari hasil pengujian pada kelompok eksperimen diperoleh nilai Lhitung = 0,0837 dan untuk kelompok kontrol Lhitung = 0,1412. Sedangkan nilai Ltabel = 0,1498 pada taraf signifikan 95% untuk n = 35, dengan kriteria:

Lhitung < Ltabel menunjukan data berdistribusi normal

Lhitung > Ltabel menunjukan data tidak berdistribusi normal.

Hasil pengujian normalitas posttest eksperimen dan kontrol, peneliti sajikan dalam tabel 4.5 sedangkan perhitungan dapat dilihat pada lampiran.4

Tabel 4.5

Hasil uji normalitas posttest eksperimen dan kontrol

Data Eksperimen Kontrol

N 35 35

Lhitung 0,0837 0,1412

Ltabel 0,1498 0,1498

Kesimpulan Berdistribusi normal Berdistribusi normal

2. Hasil Uji Homogenitas

Hasi uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui kesamaan antara dua keadaan atau populasi. uji homogenitas yang digunakan ini adalah uji fischer.

Dari hasil pengujian homogenitas postes eksperimen dan kontrol Fhitung = 1,24 dan Ftabel = 1,764 pada taraf signifikan 95% dengan jumlah siswa 70 (n1 = 35, n2 = 35), sehingga berdasarkan hasil tersebut bahwa Fhitung < Ftabel, maka data kedua kelompok tersebut homogen.

4

54

Hasil uji homogenitas posttest peneliti sajikan dalam tabel 4.6 sedangkan perhitungan dapat dilihat pada lampiran.5

Tabel 4.6

Uji homogenitas posttest

Data Posttest

N 70

Fhitung 1,24

Ftabel 1,764

Kesimpulan Homogen

C.Hasil Uji Hipotesis

Pengujian hipotesis statistik dalam penelitian ini menggunakan statistik uji-t, data yang digunakan adalah posttest kedua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebagai nilai hasil belajar. Sebelum dilakukan uji-t, terlebih dahulu menghitung standar deviasi (S) untuk posttest kelompok eksperimen dan kontrol, lalu hitung varians masing-masing dengan mengkuadratkan standar deviasi (S2).

Hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji-t didapat thitung = 18,58 dan

ttabel = 1,9886 pada derajat signifikan 95% dengan taraf kebebasan 68 (dk = n1

+ n2– 2), dengan kriteria :

H0 = Menyatakan tidak adanya pengaruh model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar kimia siswa pada konsep laju reaksi

Ha = Menyatakan adanya pengaruh model inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar kimia siswa pada konsep laju reaksi.

Hasil uji hipotesis posttest peneliti sajikan dalam tabel 4.7 sedangkan perhitungan dapat dilihat pada lampiran.6

Tabel 4.7

Hasil uji hipotesis posttest eksperimen dan kontrol

Data Posttest N 70 thitung 18,85 ttabel 1,9886 5 Lampiran 19, h. 147 6 Lampiran 20, h. 148

Keterangan Tolak Ho

Kesimpulan Terdapat pengaruh signifikan

D.Pembahasan

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah pembelajaran yang menggunakan model inkuiri terbimbing, sedangkan variabel terikatnya adalah hasil belajar kimia siswa pada konsep laju reaksi.

Setelah pembelajaran diketahui nilai rata-rata kelompok eksperimen sebesar 72,6 dan kelompok kontrol sebesar 60,8. Kelompok eksperimen dan kontrol berada pada distribusi normal, dari hasil uji hasil belajar, hal tersebut terbukti pada hasil uji prasyarat menyatakan bahwa pada Fhitung =1,24 sedangkan Ftabel = 1,764 pada taraf signifikan 95%. menunjukan Lhitung < Ltabel pada taraf signifikan 95%. Selain itu kedua kelompok ini juga bersifat homogen Fhitung < Ftabel, terbukti berdasarkan hasil uji hasil belajar yang telah dilakukan

Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t, pada taraf signifikan 95%. Dari hasil perhitungan setelah diadakan treatment (hasil belajar), diperoleh nilai thitung =18,58 dan ttabel =1,9886. Menunjukan thitung >

ttabel atau 18,58 > 1,9886. Dengan demikian adanya perubahan yang signifikan

pada kelompok eksperimen dibandingkan kelompok kontrol.

Pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu pembelajaran di mana guru memberikan suatu tema permasalahan dan memberitahukan bahan-bahan dan alat-alat yang dibutuhkan, tetapi tidak memberikan prosedur kerja. Kegiatan inkuiri terbimbing masalah dikemukakan oleh guru atau bersumber dari buku teks kemudian siswa bekerja untuk menemukan jawaban terhadap masalah tersebut dibawah bimbingan dari guru.

Berdasarkan data hasil observasi keterlaksanaan model pembelajaran, dapat disimpulkan bahwa keterlaksanaan model pembelajaran inkuiri terbimbing yang dilakukan oleh peneliti telah dilaksanakan dengan baik dalam pembelajaran dikelas. Hal ini terlihat peningkatan tiap tahap pembelajaran setiap pertemuan. Pembelajaran dilakukan berdasarkan tahap-tahapan inkuiri terbimbing yaitu pertanyaan masalah, penyelidikan, kumpulkan data

56

(eksperimen), merumuskan kesimpulan, serta komunikasi hasil. Tahap pertama siswa memusatkan perhatian pada masalah yang diajukan oleh guru. Masalah tersebut salah satunya adalah demonstrasikan tentang pengaruh luas permukaan sentuhan terhadap laju reaksi dengan garam serbuk dan garam kristal dalam air?.

Setelah diberikan masalah guru memberikan waktu menyimpulkan hasil demonstrasi sebagai hipotesis. Guru memberikan lembaran LKS berisi tugas pada masing-masing kelompok. Setelah diberikan masalah siswa mencoba menyusun hipotesis yang dibimbing oleh guru dan menuliskan hipotesis yang dikemukakan kelas. Hipotesis juga di tuliskan di LKS yang diberikan guru. Pada tahap ini siswa sangat antusias mengenai laju reaksi. Dalam merumuskan hipotesis awalnya siswa mengajukan suatu pertanyaan kemudian guru meminta siswa mengajukan pertanyaan yang hanya dijawab “ya” atau “tidak”. Siswa cukup antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan sementara siswa lainnya menjawab dan diperkuat oleh jawaban guru.dalam hipotesis ini siswa langsung mengajukan hipotesis tanpa melalui pertanyaan dan guru hanya menjawab pertanyaan yang hanya dijawab “ya” dan “tidak”.

Setelah tahap hipotesis siswa merancang percobaan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi untuk mengumpulkan data. Dalam percobaan ini siswa menentukan sendiri alat dan langkah kerja, sementara bahan di oleh guru. Setelah alat dan bahan disediakan sebelumnya dan siswa sendiri yang mengambil alat tersebut. Pada tahap ini siswa sangat tertarik dan bersemangat karena hampir semua siswa melakukan semua percobaan. Dalam kegiatan ini, terlihat siswa dapat mempergunakan alat sesuai dengan fungsinya serta dapat melakukan percobaan secara cermat. Selama kegiatan tersebut guru membimbing siswa dalam merancang dan melakukan percobaan.

Dari percobaan yang telah dilakukan, siswa mengumpulkan data dan merumuskan penjelasan. Data-data yang diperoleh di tulis dalam LKS yang tersedia. Dalam mengisi LKS, siswa menuliskan hasil data percobaan dan membandingkannya dengan hipotesis awal. Dari data yang diperoleh siswa mencoba merumuskan penjelasan faktor-faktor yang mempengaruhi laju

reaksi. Perumusan penjelasan dilakukan dengan mengisi pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam LKS. Dalam merumuskan penjelasan siswa tidak mengalami kesulitan karena bekerjasama dalam kelompok, dibimbing oleh guru, serta mencari informasi dan teori-teori dari buku sumber. Perwakilan kelompok siswa mempersentasikan hasil diskusi di depan kelas. Guru memberikan kesempatan tiap kelompok lain untuk bertanya dan menanggapinya. Serta guru mengomentari jalannya diskusi dan memberikan penguatan serta meluruskan hal-hal yang kurang tepat.

Pada tahap menyimpulkan seluruh materi laju reaksi melalui pertanyaan (pertanyaan terlampir dalam LKS). Kemudian perwakilan kelompok untuk menyimpulkan. Dari kegiatan ini, kemampuan siswa telah cukup meskipun kesimpulan yang dibuat belum terfokus. Sehingga, siswa dibimbing oleh guru menyimpulkan materi laju reaksi yang telah dipelajari. Diakhir pembelajaran siswa dipersilahkan bertanya mengenai materi laju reaksi yang telah dipelajari.

Tanggapan siswa pada pembelajaran inkuiri terbimbing hasil wawancara dengan perwakilan siswa kategori tinggi, sedang dan rendah adalah rata-rata paham mengenai proses pembelajaran inkuiri terbimbing. Serta pengalaman saat belajar berlangsung, rata-rata siswa kesempatan bertanya lebih luas dan materinya lebih berkembang karena dapat saring informasi dengan teman-teman. Tanggapan siswa terhadap praktikum membuat lebih paham, adanya LKS membantu dalam memahami konsep dan membimbing siswa untuk menemukan konsep sendiri. Tanggapan setelah pembelajaran inkuiri juga meningkatkan motivasi siswa dalam belajar kimia. Menurut siswa, dengan pembelajaran inkuiri terbimbing membuat mereka lebih aktif dalam pembelajaran. Siswa bahkan menginginkan semua pembelajaran dalam semua bidang studi dilakukan dengan pembelajaran yang baru, sehingga mereka tidak merasa jenuh saat belajar.

Di samping alasan di atas, hal yang lain yang tidak kalah pentingnya juga dalam pembelajaran inkuiri terbimbing adalah peran dari seorang guru. Peran guru pada saat proses inkuiri berlangsung adalah sebagai motivator sekaligus pemberi arah. Tugas guru sebagai motivator adalah motivasi siswa dan

58

mendorong siswa agar selalu aktif dan bersemangat dalam berpikir, serta dapat mempertanggung jawabkan hasil penemuannya tersebut. Dengan demikian mereka tidak hanya sekedar menemukan solusi dari masalahnya, tetapi juga mereka dapat memberikan alasan yang dapat diterima oleh siswa lain dari hasil kesimpulannya tersebut. Adapun tugas guru sebagai pemberi arah adalah memberikan segala arahan-arahan yang baik dan bernilai positif, sehingga proses belajar mengajar berlangsung sesuai tujuan pembelajaran.

Dengan pembelajaran inkuiri terbimbing ini siswa mampu belajar bagaimana cara belajar, mereka memiliki kemampuan dan motivasi untuk menanyakan dan mencari pengetahuan karena mereka adalah individu yang unik. Oleh karena itu, mereka dapat belajar menurut cara mereka sendiri, sebagaimana filsafat inkuiri berimplikasi bahwa guru memandang siswa sebagai orang yang berpikir, berkreatifitas, dan bertanggung jawab. Untuk itu, memerlukan keaktifan siswa dalam belajar sains.

Sedangkan dalam peranan materi dan proses sains, pembelajaran inkuiri sangat berpengaruh bagi proses pembelajaran serta dapat meningkatkan hasil belajar siswa menjadi lebih baik, karena dalam kegiatan tersebut siswa melakukan penyelidikan berdasarkan permasalahan yang diajukan guru. Tetapi siswa sendiri yang menentukan prosedur penyelidikannnya. Selain itu kegiatan pembelajaran tersebut dapat mengembangkan sebuah komunitas kekeluargaan, saling bertukar informasi mengenai penyelidikan mereka masing-masing sehingga sehingga terjadinya kegiatan belajar mengajar secara alami dan juga efektif di dalam kelas.

Sesuai dengan Penelitian Hermelina Abarva (2004), hasilnya bahwa mengajar dengan menggunakan metode inkuiri sangat berpengaruh terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada bidang studi biologi dari pada mengajar hanya dengan menggunakan metode ceramah.7 Sejalan dengan hasil penelitian

7Hermelina Abarva, “Pengaruh Penggunaan Metode Inkuiri Terhadap Hasil Belajar Biologi Pada Siswa SMU NEGERI III Ambon”, dalam Jurnal kependidikan vol 1&2 November 2004, h.114-119

Kuhne (2004), yang melakukan pembelajaran berbasis inkuiri dapat membantu siswa menjadi lebih kreatif, positif, dan lebih bebas.8

Dari penjelasan-penjelasan diatas menunjukkan bahwa, penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing melalui eksperimen memberikan peluang besar kepada siswa untuk terlibat langsung atau aktif selama pembelajaran, Sehingga pembelajaran mencapai tujuan yang ditetapkan dan hasil belajar kimia mencapai hasil yang maksimal.

8

Alberta Learning (2004), Focus on Inquiry, diakses dari online

http://www.learning.gov.ab.ca/k_12/curriculum/bysubject/focusoninquiry/pdf, diakses 10 juni 2004

60

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis peroleh, maka dapat di ambil kesimpulan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata hasil belajar kimia siswa sebesar 72,6 yang diajarkan dengan model inkuiri terbimbing, dengan rata-rata nilai hasil belajar kimia siswa sebesar 60,8 yang menggunakan model konvensional pada materi laju reaksi. Dengan kata lain rata-rata nilai hasil belajar kimia yang menggunakan inkuiri terbimbing, hasilnya lebih tinggi atau lebih baik dibandingkan dengan yang menggunakan model konvensional. Hal ini pun diperkuat dengan hasil perhitungan uji hipotesis melalui uji-t pada taraf signifikan 95%, didapat hasil 18,58 > 1,9886 atau thitung > ttabel, data tersebut dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan menerima Ha atau adanya pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar kimia siswa melalui model Guided Inquiry (inkuiri terbimbing) pada konsep laju reaksi.

Sikap siswa terhadap model pembelajaran inkuiri terbimbing yang diberikan adalah positif. Dari hasil observasi dan wawancara, siswa menyatakan bahwa dengan pembelajaran inkuiri terbimbing dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa. Siswa juga mengalami proses pembelajaran yang lebih bermakna. Selain itu, siswa juga dapat memahami materi lebih baik dapat meningkatkan sikap kerjasama dan tanggung jawab.

B.Saran

Berdasarkan kesimpulan dan pembahasan sebelumnya, berikut ini beberapa saran yang diharapkan dapat membantu penelitian selanjutnya: 1. Guru hendaknya dapat menerapkan model pembelajaran inkuiri

terbimbing sebagai alternatif pembelajaran. Namun disesuaikan dengan pokok bahasan yang memang cocok dengan model ini.

2. Model inkuiri terbimbing dapat diterapkan pada pembelajaran kimia khususnya IPA.

3. Dalam membentuk kelompok, harus membagi kelompok yang heterogen baik dari segi kemampuan akademik maupun jenis kelamin, agar kinerja kelompok dapat meningkat

4. Dalam memberikan tugas kelompok, hendaknya soal tidak terlalu banyak. Agar anggota kelompok yang kurang, dapat lebih banyak bertanya kepada kelompoknya.

62

DAFTAR PUSTAKA

Abarva, Hermelina, “Pengaruh Penggunaan Metode Inkuiri Terhadap Hasil Belajar Biologi Pada Siswa SMU NEGERI III Ambon”, Jurnal kependidikan vol 1&2, November 2004

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Jakarta: Rineka Cipta, 2006

Aryulina, Diah, “Pengembangan Strategi Pembelajaran Inkuiri untuk Praktikum Sains di Perguruan Tinggi”, Jurnal JPMIPA, vol 6 nomor 2, Juli 2005

Cindy E., Ravit Golan, and Clark A.Chinn. “Scaffolding and achievement in problem-based and inquiry learning: A reponse to Kirschner, Sweller, and Clark”, Jurnal Educational Psychologist, vol 42 no 2, 2006

Colburn, Alan, An Inquiry Primer, 2000, diakses dari online

http://www.nsta.org/main/news/pdf/ss003.42.pdf, 9 febuari 2009 David W, Oxtoby, dkk, Prinsip-Prinsip Kimia Modern, Jakarta: Erlangga,

2001

Dimyanti dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Jakarta: Asdi Mahasatya, 2006

Douglas P, Elliot, “Use of guided inquiry as an active learning technique in engineering”, Jurnal proceedings of the research in engineering education syposium, 2009

Fauzi, Ahmad, Psikologi Umum, Bandung: Pustaka Setia, 2004

Feronika, Tonih, “Implementasi Teknik Guided Worksheet Activity Dalam Pembelajaran Hands-on Dalam Melatih Kemampuan Inkuiri” Jurnal EDUSAINS, vol 2 no 1, Juni 2009

Gulo, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: PT Grasindo, 2008

Hamalik, Oemar., Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2005

Hasler, Richard A, Graduated Inquiry, Modified Inquiry for Grades K-5,

M.A Gifted Education,

http:/www.clayton.k12.mo.us/40402063213823937/site/default.asp

Iskandar, Psikologi Pendidikan (sebuah orientasi baru), Ciputat: Gaung Persada Press, 2009

Kuhkthau, Carol C. dan Ross J Todd, “Guided Inquiry: A Framework for

Dokumen terkait