BAB III METODOLOGI PENELITIAN
H. Hipotesis Statistik
Perumusan hipotesis statistik dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: H0 :
H1 : atau setidaknya ada 2 yang tidak sama Keterangan:
= nilai rata-rata hasil test pembel ajaran dengan metode STES = nilai rata-rata hasil test pembelajaran dengan metode STEM = nilai rata-rata hasil test pembelajaran dengn metode STS
87
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil penelitian
Subbab deskripsi pada data ini menjelaskan gambaran umum dari data yang telah diperoleh. Data – data yang dideskripsikan disini adalah data hasil
pre-test, post-test,dan nilai N-Gain dari ketiga kelas eksperimen.
1. Data Pre-test dan Post-test kelas SETS, STEM, dan STS
Berdasarkan hasil pretest dan posttest yang telah dilakukan di awal dan akhir proses pembelajaran pada ketiga kelas eksperimen, yaitu kelas STAD, STEM, STS telah diperoleh data pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 hasil pretest dan postest kelas eksperimen SETS, STEM, STS
Data
Kelompok
SETS STEM STS
pretest postest pretest postest pretest postest
N 36 36 36 36 36 36 Jumlah nilai 1688,4 2891,25 1754,09 3034,12 1694,11 2856,96 Rata-rata 46,90 80,31 48,72 84,28 47,06 79,36 Nilai maksimum 62,85 94,28 65,71 94,28 62,85 91,42 Nilai minimum 25,71 65,71 28,57 65,71 28,57 65,71 varians 84,00 56,11 96,91 48,97 89,23 49,21 Standar deviasi 9,04 7,90 10,22 7,08 9,57 6,76
Hasil tabel yang dijelaskan di atas, dapat diketahui bahwa rata-rata nilai pre-test pada ketiga kelas eksperimen memiliki nilai yang berbeda, akan tetapi perbedaan tersebut tidak terlalu besar. Dalam hal ini kelas SETS memperoleh nilai rata- rata yang sedikit lebih kecil dibandingkan dengan kelas STEM dan STS. Namun demikian, karena perbedaan rata-rata ketiga
48
kelas tersebut sangat kecil maka dapat disimpulkan bahwa ketiga kelas ini memiliki keragaman kemampuan yang homogen. Hal ini diperkuat dengan hasil uji statistik untuk mengetahui perbedaan nilai pre-test ketiga kelas eksperimen ini. uji statistik perbandingan memperlihatkan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pre-test dari ketiga kelompok eksperimen. Dengan demikian pemilihan ketiga kelas ini sebagai sampel penelitian yang layak.
Kelas STEM memperoleh nilai standar deviasi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas SETS dan STS. Hal ini berarti bahwa kelas STEM terdiri dari siswa-siswa yang memiliki keragaman kemampuan yang merata.
Berbeda dengan hasil perolehan nilai pre-test, pada hasil perolehan nilai post-test kelas STEM mencapai rata-rata yang lebih tinggi yaitu sebesar 84,28jika dibandingkan dengan kelas SETS yang memperoleh rata-rata nilai 80,31.dan kelas STS dengan rata-rata nilai 79,36 hal ini menunjukan bahwa telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa pada ketiga kelas eksperimen.
Berbanding terbalik dengan peningkatan nilai hasil belajar, penurunan nilai standar deviasi justru terjadi dalam ketiga kelas eksperimen ini. dimana standar deviasi justru terjadi dalam ketiga kelas eksperimen ini. dimana standar deviasi pada kelas SETS lebih tinggi dibandingkan dengan kelas STEM dan STS. Fakta menunjkan bahwa keragaman kemampuan siswa kelas STEM setelah diberikan perlakuan berupa pembelajaran dengan menggunakan karya ilmiah dan kelas STS dengan menggunakan pembelajaran diskusi kelompok, artinya nilai yang diperoleh siswa lebih mendekati nilai rata-rata kelas daripada kelas SETS.
Pembelajaran pada ketiga kelas tersebut belum dapat dikatakan berhasil dengan baik karena pencapaian hasil belajarnya masih relatif rendah namun pembelajaran kelas STEM sudah labih baik daripada kelas SETS dan STS. Pernyataan ini diperkuat dengan hasil pencapainan indikator pembelajaran dari ketiga kelas tersebut pada table 4.2.
Tabel 4.2 rekapitulasi data pretest dan postest per indikator
No Indikator Pretest Postest
SETS STEM STS SETS STEM STS
1 Mendeskripsikan sejarah tentang virus.
55,55 % 66,66 % 69,44 % 80,55 % 86,11 % 83,33 % 2 Mendeskripsikan replikasi virus 45,37 % 45,06 % 43,51 % 78,39 % 85,80 % 77,77 % 3 Mendeskripsikan ciri-ciri virus 47,77 % 52,77 % 49,44 % 77,77 % 83,88 % 75,55 % 4 Mengklasifikasikan virus 59,72 % 68,05 % 58,33 % 80,85 % 79,16 % 70,83 % 5 Menyebutkan peran virus dalam kehidupan 45,06 % 46,14 % 45,67 % 81,79 % 84,25 % 81,94 % 2. N-GAIN
Berdasarkan data hasil pretest dan postest kelompok ketiga kelas eksperimen dijelaskan secara terperinci pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 rekapitulasi nilai rata-rata N-Gain berdasarkan pretest dan postest.
Data Kelompok
SETS STEM STS
N 36 36 36
Rata- rata nilai pre test 46,90 48,72 47,06 Rata- rata nilai post test 80,31 84,28 79,36
Rata – rata N-Gain 0,69 0,78 0,73
Kategori N- Gain Sedang Tinggi Tinggi
Data pada Tabel 4.3 menunjukan bahwa nilai N-Gain kelas STEM lebih tinggi dari kelas eksperimen SETS dan STS yaitu sebesar 0,78 dengan kategori N-Gain tinggi, sedangkan pada kelas SETS sebersar 0,69 dengan kategori N-Gain sedang dan pada kelas STS sebesar 0,73 dengan kategori sedang. Hasil perhitungan lengkap dapat dilihat pada lampiran tabel N-Gain.
50
3. Lembar Observasi
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap proses kegiatan belajar mengajar pada ketiga kelas eksperimen, dihasilkan perolehan data sebagai berikut.
Tabel 4.4 persentase hasil perhitungan lembar observasi
Pertemuan SETS STEM STS
1 72,72 % 70,17% 75%
2 81,82% 82,87% 87,50%
3 100% 91,14% 100%
Rata - rata 84,84% 81,36% 87,50%
Ketercapaian semua tahapan proses pembelajaran telah berjalan dengan baik, walupun ada beberapa tahapan kegiatan pembelajaran yang belum terlaksana secara maksimal. Hal ini terlihat pada keterlaksanaan proses pembelajaran pada kelas STEM yang tahap pencapaiannya belum mencapai angka 100%. Hal ini disebabkan karena proses pelaksanaan pembalajaran STEM jauh lebih rumit dibandingkan dengan pelaksanaan model pembelajaran SETS dan STS serta kurangnya manajemen waktu yang tersedia dalam proses pembelajaran.
B. Pengujian Persyaratan Analisis Dan Pengujan Hipotesis 1. Uji Normalitas
Pengujian uji normalitas dilakukan terhadap dua jenis data, yaitu nilai pre test dan post test dari ketiga kelas eksperimen. Untuk menguji normalitas dari ketiga data tersebut digunakan rumus uji Chisquare.
Sebelum melakukan uji anova, maka data harus memenuhi asumsi kenormalan distribusi data. Dari hasil perhitungan, diperoleh nilai-nilai X² hitung untuk ke tiga kelas eksperimen pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 hasil uji normalitas dengan uji Chi Square
kelas N Data X²hitung X² tabel Kesimpulan SETS
36 Pre test 7,59 7,81 Data berdistribusi normal 36 Post test 1,96 7,81 Data berdistribusi normal
STEM
35 Pre test 6,99 7,81 Data berdistribusi normal 35 Post test 5,91 7,81 Data berdistribusi normal
STS
35 Pre test 5,62 7,81 Data berdistribusi normal 35 Post test 4,43 7,81 Data berdistribusi normal
Nilai Xtabel diambil berdasarkan nilai pada tabel kritis Uji Chi Square dengan taraf signifikansi 5 %. Kolom kesimpulan dibuat berdasarkan pada keputusan pengujian hipotesis normalitas uaitu jka X2 hitung ≤ X2 tabel maka data dinyatakan berdistribusi normal. Sebaliknya jika X2 hitung ≥ X2
tabel maka data tidak berdistrbusi normal. Pada tabel di atas, terlihat bahwa nilai dari X2
hitung ≤ X2
tabel pada ketiga data sehingga dapat dinyatakan bahwa data berdistribusi normal, baik pada nilai pretest maupun posttest.
2. Uji Homogenitas
Pengujian homogenitas berdasarkan nilai pretest dan posttest dilakukan pada kelas SETS, STEM, STS dengan menggunakan uji barlett. Uji barlet digunakan untuk menguji apakah K sampel berasal dari populasi dengan varians yang sama. K sampel dapat berapa saja karena biasanya uji baelett digunakan untuk menguji sampel/kelompok yang lebih dari 2, dan dapat dilihat apakah ketiga varians populasi homogen atau tidak pada Tabel 4.6 .
52
Tabel 4.6 hasil uji homogenitas dengan uji barlett
N Kelompok X hitung X2 tabel Kesimpulan
36 Pre test 0,20 5,991 Data homogen Data homogen 36 Post test 1,07 5,991 Data homogen Data homogen
Sama halnya dengan penentuan keputusan pada uji normalitas, pada uji homogenitas juga pengambilan keputusan didasarkan pada ketentuan pengujian hipotesis homogenitas yaitu jika nilai X2 hitung ≤ X2
tabel maka ho diterima, artinya bahwa ketiga kelompok data memiliki varians yang homogen, dan sebaliknya apabila X2 hitung > X2 tabel maka Ho ditolak, artinya bahwa ketiga kelompok data tidak memiliki varias yang homogen. Berdasarkan keterangan tabel diatas, tampak bahwa hasil perhitungan tersebut menyatakan bahwa X2 hitung ≤ X2
tabel maka ho diterima, artinya bahwa ketiga kelompok data memiliki varias yang homogen, baik pada nilai pretest maupun nilai postest.
3. Pengujian hipotesis dengan anava satu jalur
Perbedaan antara hasil belajar siswa antara siswa yang diajar menggunakan model pembelajaran SETS, STEM, STS, dapat dilakukan dengan suatu pengujian menggunakan anava satu jalur. Pengujian dilakukan berdasarkan nilai pretest dan posttest, pada kelompok pretest dan posttest dengan pengujian ini dapat diketahui antara data yang signifikan atau tidak pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 pengujian hipotesis dengan anava satu jalur (pretest)
SUMBER Jk db Rk F empirik F teoritik Interpretasi Antar
Kelompok 35,05 2 17,525 0,159
3,08 5% Tidak Signifikan
Dalam
Kelompok 11.581,20 105 110,300 4,81 1% Tidak Signifikan
Pada Tabel 4.8 dlapat diketahui perbedaan rata-rata nilai siswa dari data hasil postest yang telah dilakukan.
Tabel 4.8 pengujian hipotesis dengan anava satu jalur (postest)
SUMBER Jk db Rk F empirik F teoritik Interpretasi Antar Kelompok 486,2 2 243,1 4,93 3,08 5% Signifikan Dalam Kelompok 5.632 105 53,64 4,81 1% Signifikan 6118 107 - - - - -
Nilai hasil dapat digunakan dengan dba=2 dan dbd= 105 dan didapatkan harga Fteoritik dalam tabel nilai- nilai F sebesar 3,08 pada taraf signifikasnsi 0,5 dan 4,81 .pada taraf 0,01. Berdasarkan harga Fteoritik dapat dibuktikan bahwa Fempirik pada data pre test sebesar 0,159 lebih kecil daripada Fteoritik, baik pada taraf 0,05 maupun taraf 0,01 dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang tidak signifikan terhadap penggunaan model pembelajaran SETS,STS,STEM dalam pembelajaran biologi siswa.
Perolehan data pada nilai post test, nilai F empirik pada data post test sebesar 4,93 lebih besar daripada Fteoritik baik pada taraf 0,05 maupun taraf 0,01 dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap penggunaan model pembelajaran SETS,STEM, STS dalam pembelajran biologi siswa.
4. Uji lanjutan dengan uji dunnet
Pengujian rata-rata hasil belajar dari ketiga kelompok eksperimen, untuk mengetahui mana yang berbeda secara signifikan dilakukan uji lanjut statistik uji-t (Dunet). Pengujian dilakukan berdasarkan nilai posttest pada ketiga kelompok eksperimen sehingga dapat diketahui nilai thitung pada tabel 4.9.
54
Tabel 4.9 pengujian rata- rata hasil belajar biologi dengan uji-t (dunnet)
Sumber thitung ttabel
T0 (A1 –A2) -2,36
2,35 1%
T0 (A1 –A3) 0,45 T0 (A2 –A3) 2,87
Hasil belajar biologi pada kelompok eksperimen yang diberi model pembelajaran SETS secara signifikan lebih rendah daripada kelompok eksperimen yang diberi pendekatan STEM. Karena nilai T0 (A1 –A2) = -2,36 < ttabel = 2,35 hasil yang sama juga ditunjukan antara perbandingan kelas eksperimen SETS dan STS yang lebih rerndah. Dapat dilihat dari perbandingan nilai T0 (A1 – A3) =0,43 < ttabel =2,35 akan tetapi, hasil yang berbeda ditunjukan oleh perbandingan kelas STEM dengan kelas STS. Dimana hasil belajar kelompok STEM secara signifikan lebih tinggi dari pada kelompok STS, dengan perbandingan nilai T0 (A1 –A3) 2,87 = < ttabel =-2,35 dari hasil perhitungan tersebut, jelas terlihat bahwa hasil belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran STEM lebih tinggi dari model pembelajaran SETS dan pendekatan STS tidak berbeda nyata dengan model STS (STEM >SETS ; STS = SETS).
C. Pembahasan dan Temuan Penelitian
Penelitian ini menunjukan kemampuan awal siswa pada konsep virus, maka diberikan pretest sebelum pembelajaran. Dilakukan uji normalitas pada data pretest dengan uji chi – kuadrat ( chi-square ) diperoleh kelompok SETS 7,59 < 9,48 (X2tabel), kelompok STS 6,99 < 9,48 (X2tabel), kelompok STEM 5,62 < 7,81 (X2tabel) karena ketiga kelompok tersebut memperoleh nilai X -2
Data pretest juga melalui tahap uji homogenitas, hasil perhitungan uji homogenitas data pre-test diperoleh nilai Fhitung =0,6447 dan Ftabel = 5,991
pada taraf signifikansi α = 0,05 karena X2hitung < X2tabel berarti H0 diterima.
H0: δ2 1 = δ2
2 =δ2 3 = δ2
4 (Data Homogen).
Rata – rata skor nilai pada pre-test ketiga kelas masih tergolong rendah dan relatif sama. Sebagaimana juga hasil analisis uji perbedaan rata-rata menggunakan uji anava satu jalur diperoleh Fhitung = 0,519 dan Ftabel = 3,08 menunjukan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan awal antara ketiga kelas eksperimen tersebut karena Fhitung <Ftabel, maka tidak terdapat perbedaan yang berarti antara ketiga kelompok. Sebelum pada uji anava satu jalur, data pre-test pun melalui tahap normalitas dan uji homogenitas.
Kondisi ini dapat diasumsikan bahwa sebelum diberikannya perlakuan pembelajaran pada ketiga kelompok eksperimen tersebut, ketiga kelompok eksperimen bersifat homogen berdasarkan uji statistik. Karena itu, pengujian hipotesis untuk melihat ada tidaknya perbedaan hasil melalui pendekatan SETS, STEM, STS dapat didasarkan pada hasil test akhir (post-test).
Hasil yang diperoleh dari pengolahan data postest menunjukan bahwa sampel berasal dari populasi yang normal, sehingga langkah selanjutnya adalah uji homogenitas dengan menggunakan uji barlett dengan taraf signifikan 5%. Nilai signifikan yang diperoleh dari uji homogenitas sebesar1,1766 nilai tersebut lebih kecil dari Xtabel sebesar 5.99 dan berdasarkan kriteria pengambilan keputusan maka H0 diterima artinya data bersifat homogen.
Hasil uji normalitas dan uji homogenitas varian, diketahui bahwa data ketiga kelas berdistribusi normal dan mempunyai varians homogen, sehingga untuk menguji apakah terdapat perbedaan hasil belajar dari ketiga kelompok eksperimen digunakan uji anava satu jalur. Fhitung dari uji anava satu jalur yaitu 4,93 nilai tersebut lebih tinggi dari Ftabel (5%) yaitu 3,07. Hal ini berarti adanya perbedaan hasil belajar siswa menggunakan pembelajaran SETS, STEM, STS.
56
Penelitian yang dilakukan dapat membuktikan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar menggunakan pembelajaran SETS, STEM dan STS. Hasil belajar biologi pada konsep virus menggunakan pembelajaran STEM lebih tinggi dari kelas SETS dan STS.
Penelitian ini memiliki lima indikator yang diujikan yaitu, mendeskripsikan sejarah tentang virus, mendeskripsikan replikasi virus, mendeskripsikan ciri-ciri virus, mengklasifikasikan virus, menyebutkan peranan virus dalam kehidupan.
Pencapaian persentasi indikator yang lebih tinggi adalah mendeskripsikan sejarah virus. Pada kelas SETS mencapai 80,55%, kelas STEM mencapai 86,11%, kelas STS 83,33%. Hal tersebut dapat memberikan kesimpulan pada kelas SETS, STEM, dan STS sebagian besar siswanya lebih menguasai indikator mendeskripsikan sejarah tentang virus.
Pendekatan SETS, STEM, dan STS terbukti berpengaruh terhadap hasil belajar dibuktikan dengan ada perbedaan hasil belajar dan adanya peningkatan hasil belajar. Peningkatan hasil belajar dibuktikan dengan deskripsi nilai N-Gain. Pada kelas SETS nilai rata-rata N-Gain yang diperoleh 0,69 dengan skor Gain tertinggi 1,0 dan skor Gain terendah 0,09 pada kelas STEM nilai rata –rata N-Gain yang diperoleh 0,78 dengan skor Gain tertinggi 1,0 dan skor terendah 0,4, kemudian pada kelas STS nilai rata-rata N-Gain yang diperoleh 0,73 dengan skor Gain tertinggi 1,0 dan skor Gain terendah 0,43.
Rata-rata skor Gain kelas STEM lebih besar daripada kelas SETS dan STS, maka dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar siswa kelas STEM lebih baik daripada peningkatan hasil belajar SETS dan STS.
Observasi guru dilakukan juga pada penelitian ini, observasi guru bertujuan untuk mengetahui kegiatan belajar mengajar selama pembelajaran SETS, STEM, dan STS. Guru pamong berperan sebagai obsever aktivitas peneliti dan sebagai observer aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Observasi yang dilakukan mengacu pada lembar observasi yang
telah dibuat sesuai dengan skenario pembelajaran SETS, STEM, STS. Hasil observasi aktivitas guru dapat dilihat pada lampiran 24 dan 26.
Hasil perhitungan statistika untuk ketiga kelas eksperimen tersebut menunjukan adanya pengaruh terhadap hasil belajar, dibuktikan dengan deskripsi nilai N-Gain yang menyatakan bahwa dalam pendektan SETS, STEM, dan STS, siswa mengalami peningkatan hasil belajar dengan kategori sedang. Hasil analisis N-Gain juga menunjukan bahwa peningkatan hasil belajar siswa kelas STEM lebih baik daripada peningkatan hasil belajar SETS dan STS.
Uji anava pretest menyatakan bahwa ketiga pembelajaran tersebut tidak terdapat perbedaan. Sedangkan dilakukan uji anava postest, membuktikan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa pendekatan SETS, STEM, dan STS. Selanjutnya, untuk mengetahui hasil belajar biologi kelompok mana yang berbeda secara signifikan dilakukan uji lanjut statistik Dunnet.
Berdasarkan analisis data hasil uji lanjutan, dapat disimpulkan bahwa hasil belajar dengan pembelajaran STEM secara signifikan lebih tinggi dari kelompok SETS dan STS. Hasil belajar dengan pendekatan SETS secara signifikan lebih rendah dari kelompok pendekatan STS.
Pengajaran dan pembelajaran STEM pelajar bekerja secara kolaboratif, terlibat dalam penyelesaian masalah, mendesign penyelidikan dan menilainya, serta membuat aktivitas inkuiri dan refleksi.88 serta mengintegrasikan konten dan keterampilan ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, dan matematika 89
Pendekatan STEM lebih unggul dibandingkan pendekatan STS dan SETS, karena terdapat suatu langkah yang berbeda dengan STS dan SETS, yaitu langkah kreasi, langkah ini merupakan pelaksanaan semua saran dan pandangan hasil diskusi mengenai ide sesuatu produk baru yang ingin diaplikasikan.
88
Lilia Halim, jurnal Mencetus SEMULA Minat Terhadap Sains dan Matematk melalui pendidikan STEM. h. 6
89
58
Pendekatan STS menuntut agar peserta didik diikutsertakan dalam penentuan tujuan, perencanaan, pelaksanaan, cara mendapat informasi dan evaluasi pembelajaran. Sehingga peserta didik mempunyai bekal pengetahuan yang cukup dan mampu mengambil keputusan tentang masalah-masalah dalam masyarakat dan menghubungkan realitas sosial dengan topik pembelajaran di dalam kelas.
Keunggulan STEM dibandingkan dengan STS diantaranya pada tahap pembentukan konsep, pada tahap ini peserta didik terus berpikir untuk menemukan keunikan atau 'perbedaan' dari fenomena yang diamati dalam bentuk baru ide, sistem, produk. Dan mereka membuat karya ilmiah dari masalah yang diangkat.90
Keunggulan STEM dibandingkan dengan SETS adalah pada tahap pemantapan konsep, tetapi STEM pada tahap ini mengedepankan nilai yang dimiliki oleh ide produk yang dihasilkan pelajar bagi kehidupan sosial sebenarnya ( Society ) dan menyempurnakannya dengan suatu produk yang dapat bermanfaat untuk peserta didik lainnya.91
Pendekatan STEM dalam penalaran proses melibatkan dalam berpikir kritis, mengevaluasi, dan menerapkan pendekatan sistematis yang sesuai (ilmiah dan praktek rekayasa, proses desain teknik, atau praktik matematika). Serta menerapkan ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, dan konten matematika untuk membangun kreatif dan inovatif ide, menganalisa dampak isu-isu global dan masalah dunia nyata di tingkat lokal, negara bagian, nasional, dan tingkat internasional. 92
Proses pembelajaran ketiganya menggunakan lembar kerja siswa (LKS). Setiap pembelajaran berisi materi yang sama tetapi tahap pengerjaan LKSnya berbeda, disesuaikan dengan pendekatan yang didapat.
90
Jurnal lilia halim “ Mencetus Semula Minat Terhadap Sains dan Matematik melalui pendidikan STEM, Malaysia: 2012. h. 12
91
Muhammad syukri, jurnal pendidikan STEM dalam entrepreneural science thinking. Aceh : 2013, h.107
92
Pembelajaran STEM menghadapkan siswa pada situasi yang membuat mereka lebih berfikir kreatif, belajar aktif, dan mengembangkan kemapuan berfikir sistematis dengan memecahkan masalah dari pertanyaan atau masalah atas dasar rasa ingin tahu. Dibanding dengan pembelajaran SETS yang merupakan bagian dari pendekatan STS, yaitu pendekatan berbasis sains, teknologi, masyarakat dan lingkungan. Keduanya tidak berbeda nyata dalam hasil belajar. Karena SETS melingkupi tahapan – tahapan pada STS.
Proses STEM selain mengidentifikasi dan memahami teknologi yang dibutuhkan untuk mengembangkan solusi untuk masalah atau membangun jawaban atas pertanyaan kompleks, STEM juga menganalisis batas, risiko, dan dampak dari teknologi, dan melibatkan untuk bertanggung jawab atas penggunaan teknologi, serta meningkatkan atau membuat teknologi baru yang memperpanjang kemampuan manusia. 93
93
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terkait dengan penerapan pendekatan pembelajaran SETS, STEM dan STS dalam pembelajaran biologi, disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar biologi antara kelompok siswa yang diajar menggunakan pendekatan SETS, STEM dan STS. Terlihat dari perhitungan anava satu jalur terhadap data
posttest ketiga kelas eksperimen yang menunjukan nilai Fempirik > F teoritik 3,08
pada taraf signifikansi 0,05 dan 4,81 pada taraf signifikansi 0,01.
Hasil perhitungan uji Dunnet didapatkan hasil bahwa rata – rata hasil belajar siswa dengan menggunakan pendekatan STEM lebih tinggi dari kelompok STS dan pendekatan STS tidak berbeda nyata dari kelompok SETS, (STEM >SETS ; STS = SETS).
B. Saran
Beberapa saran untuk perbaikan penelitian di masa mendatang adalah sebagai berikut :
1. Hendaknya guru membuat perencanaan yang matang dalam memilih materi dan mengalokasikan waktu dalam melaksanakan pendekatan pembelajaran SETS, STEM dan STS sehingga materi lebih mudah diterima siswa dan waktu yang terbuang dapat diminimalkan.
2. Dalam melaksanakan pendekatan SETS, STEM dan STS guru perlu menguasai materi, mengarahkan tugas secara jelas, membimbing dan memotivasi siswa dalam diskusi, sehingga penerapan model tersebut berjalan sesuai dengan rencana.
3. Penelitian dengan pendekatan SETS, STEM dan STS ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai referensi untuk melakukan penelitian sejenis dalam upaya untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan pokok bahasan/mata pelajaran yang berbeda.
61
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Wahid, Mustaqim. 2003. Psikologi Pendidikan, Jakarta : Melton Putora. Arifin, Zainal. 2011. Penelitian Pendidikan. Bandung : Remaja Rosdakarya. Bybee, Rodger W. 2013. The case for STEM education. America : NSTA Press. Bungin, Burhan. 2009. Populasi Penelitian Sampel dan Teknik Sampling. Jakarta :
Pranada Media.
Basleman, Anisah. 2011. Teori Belajar Orang Dewasa. Bandung : Remaja Rosdakarya.
Dimyati dan Mudjiono. 2010. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta Djamarah, Syaiful Bahri. 2010. Strategi Belajar Mengajar, Jakarta : Rineka Cipta. Hajar. 1999. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Kuantitatif Dalam Pendidikan.
Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Halim, lilia. 2012. Mencetus Semula Minat Terhadap Sains Dan Matematik
Melalui Pendidikan STEM. Presentasi pada kolokium pendidikan sains dan
matematik, UM 12-13 September 2012, h.3.
Hamalik, Oemar. 2003. Proses Belajar Mengajar, Jakarta : Bumi Aksara. Hamzah, Uno. 2007. Model Pembelajaran. Jakarta : Bumi Aksara. John w. Creswell. 2009. Research Design. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Kadir. 2010. Statistika Untuk Penelitian Ilmu Sosial. Jakata: PT Rosemata Sampurna.
Kohler, Randy and Nancy Tsupros. 2008. STEM Education in Southwestern
Pennsylvania. Raport of a project to identify the missing components.
Washington, h.2.
The Maryland Board of Education. Draft April 2012 Jurnal, tersedia online www.marylandpublicschools.org/MarylandStateSTEMStandarsofPractice_. pdf, diakses pada tanggal 14/03/2015, 10:06 h.1.
62
Margono. 2010. Metodologi Penelitan Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta. Masitoh dan Laksmi Dewi. 2009. Strategi Pembelajaran. Jakarta : Direktorat
Jendral Pendidikan Islam.
Nanang Fatah. 2006. Landasan Manajemen Pendidikan, Bandung : Remaja