• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS TINDAKAN

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka berpikir di atas maka hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini adalah : Dengan menggunakan alat peraga kelereng dan diskusi kelompok pada pengerjaan hitung perkalian dan pembagian maka hasil belajar siswa kelas II SD Negeri Koripan 01 kecamatan Susukan kabupaten Semarang tahun pelajaran 2005/2006 akan meningkat.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Subjek Penelitian

Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas II SD Negeri Koripan 01 Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang tahun ajaran 2005 / 2006. Adapun siswa yang menjadi subjek penelitian sebanyak 27 siswa, terdiri dari laki-laki 14 siswa dan perempuan 13 siswa.

B. Rencana Penelitian

Penelitian tndakan kelas ini direncanakan terdiri dari dua siklus. Tiap siklus direncanakan 3 pertemuan. Tiap-tiap siklus direncanakan berkesinambungan artinya proses dan hasil siklus I akan ditindaklanjuti dalam siklus yang ke 2. Prosedur penelitian tindakan kelas ini setiap siklus meliputi : (1) Perencanaan (planning). (2) Tindakan (acting ). (3) Observasi (observing).(4) Refleksi (reflecting).

1. Siklus I

a. Perencanan ( planning )

1. Menyusun rencana pembelajaran dan skenario dan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga kelereng dan metode diskusi kelompok.

2 Menyiapkan alat bantu mengajar dan mengumpulkan data.

3. Menyiapkan alat peraga kelereng beserta perencanaan kerja kelompok. 4. Menyusun latihan evaluasi.

2. Tindakan (acting )

Siklus I dilaksanakan dengan 3 pertemuan:

a. Pertemuan I dilaksanakan pada hari Senin, 28 Nopember 2005 dengan materi perkalian sebagai penjumlahan berulang.

b. Pertemuan II dilaksanakan pada hari Rabu, 30 Nopember 2005 dengan materi :

1) Mengalikan dua bilangan satu angka.

2) Menemukan sifat perkalian dengan bilangan 1 dan 0.

c. Pertemuan III dilaksanakan pada hari Kamis, 1 Desembar 2005 dengan materi mengerjakan soal tes siklus I

Tindakan yang dilakukan pada setiap kegiatan pembelajaran selama 2 jam pelajaran ( 2 x 30 menit ) adalah sebagai berikut :

a. Guru melakukan apersepsi dengan metode tanya jawab tentang penjumlahan dengan dengan tujuan :

1 Mengingat kembali konsep penjumlahan. 2 Agar siswa memahami materi dengan cepat. 3 Pencapaian materi tepat waktu yang direncanakan. 4 Memusatkan perhatian pada situasi belajar.

b. Guru memberikan motivasi kepada siswa tentang materi yang akan diajarkan.

c. Proses tranformasi materi :

Guru memperagakan perkalian dengan hasil sampai 50 dengan alat peraga kelereng. Guru membimbing dan mengamati siswa dalam

menyelesaikan soal perkalian dengan metode diskusi kelompok. Setelah selesai diskusi guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan dari hasil diskusi masing-masing kelompok.

d. Setelah selesai menyelesaikan soal siswa diminta guru menuliskan hasil kerjaanya pada papan tulis. Dengan bimbingan guru siswa diharapkan dapat menarik kesimpulan dari materi yang sedang dipelajari.

e. Guru memberikan tes formatif. 3. Observasi

a. Teknik pengumpulan data

1). Peneliti mengamati jalanya proses pembelajaran dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan lembar kerja siswa.

2). Observer mengamati dan memberikan penilaian proses pembelajaran dari awal hingga akhir.

b. Alat pengumpul data

1). Tes formatif : pelaksanaan tes ini digunakan untuk memperoleh data kuantitatif berupa tes siswa setiap akhir pembelajaran.

2). Tes siklus I dilaksanakan setelah selesai siklus I untuk memperoleh data kuantitatif di akhir siklus I.

3). Instrumen monitoring observasi guru di kelas. 4. Refleksi

Hasil refleksi merupakan landasan untuk menentukan tindakan pada siklus II meliputi :

a. Mengetahui kemampuan hasil belajar siswa.

b. Mengetahui kreativitas siswa dalam menyelesaikan permasalahan dengan metode diskusi kelompok.

2. Siklus II

a. Perencanan ( planning )

1. Menyusun rencana pembelajaran dan skenario dan pembelajaran dengan menggunakan alat peraga kelereng dan metode diskusi kelompok.

2. Menyiapkan alat bantu mengajar dan mengumpulkan data.

3. Menyiapkan alat peraga kelereng beserta perencanaan kerja kelompok. 4. Menyusun latihan evaluasi.

b. Tindakan (acting )

Siklus II dilaksanakan dengan 3 pertemuan :

1. Pertemuan I dilaksanakan pada hari Senin, 5 Desember 2005 dengan materi pembagian sebagai pengurangan berulang.

2. Pertemuan II dilaksanakan pada hari Selasa, 6 Desember 2005 dengan materi membagi bilangan dengan bilangan lain tanpa sisa.

3. Pertemuan III dilaksanakan pada hari Rabu, 7 Desembar 2005 dengan materi mengerjakan soal tes siklus II

Tindakan yang dilakukan pada setiap kegiatan pembelajaran selama 2 jam pelajaran ( 2 x 30 menit ) adalah sebagai berikut :

a. Guru melakukan apersepsi dengan metode tanya jawab tentang penjumlahan dengan dengan tujuan :

1 Mengingat kembali konsep pengurangan. 2 Agar siswa memahami materi dengan cepat. 3 Pencapaian materi tepat waktu yang direncanakan. 4 Memusatkan perhatian pada situasi belajar.

b. Guru memberikan motivasi kepada siswa tentang materi yang akan diajarkan.

c. Proses tranformasi materi :

Guru memperagakan pembagian sampai dengan 50 dengan alat peraga kelereng. Guru membimbing dan mengamati siswa dalam menyelesaikan soal pembagian dengan metode diskusi kelompok. Setelah selesai diskusi guru membimbing siswa untuk menarik kesimpulan dari hasil diskusi masing-masing kelompok.

d. Setelah selesai menyelesaikan soal siswa diminta guru menuliskan hasil kerjaanya pada papan tulis. Dengan bimbingan guru siswa diharapkan dapat menarik kesimpulan dari materi yang sedang dipelajari.

e. Guru memberikan tes formatif. 3. Observasi

a. Teknik pengumpulan data

1 Peneliti mengamati jalanya proses pembelajaran dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan lembar kerja siswa.

2 Observer mengamati dan memberikan penilaian proses pembelajaran dari awal hingga akhir.

b. Alat pengumpul data

1 Tes formatif : pelaksanaan tes ini digunakan untuk memperoleh data kuantitatif berupa tes siswa setiap akhir pembelajaran.

2 Tes siklus II dilaksanakan setelah selesai siklus II untuk memperoleh data kuantitatif di akhir siklus II.

3 Instrumen monitoring observasi guru di kelas. 4. Refleksi

Pada tahap ini dilakukan analisis data pembahasanya. Kegiatan ini untuk melihat sejauh mana efektifitas kegiatan belajar dengan menggunakan alat peraga kelareng dan diskusi kelompok pada pengerjaan hitung perkalian dan pembagian serta untuk mengetahui perubahan-perubahan yang terjadi baik pada siswa, suasana kelas, maupun guru.

C. Data dan Cara Pengumpulan

Untuk memperoleh informasi yang valid dan reliabel dari pelaksanaan penelitian tndakan ini, maka perlu kelengkapan data, kualitas alat pengumpul data dan ketepatan alat analisanya.

1. Jenis data

a. Data hasil belajar siswa.

b. Data siswa dan guru selaku peneliti. 2. Cara pengumpulan data

Cara pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut :

b. Hasil pengamatan dari observer. c. Hasil pengamatan dari peneliti.

D. Indikator Keberhasilan

Mengingat dari hasil tes pada umumnya pada kelas ini hasilnya di bawah rata-rata 60 maka tolak ukur keberhasilan pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dapat dilihat dari :

1. Nilai rata-rata kelas minimal 7,5

2. Persentasi siswa yang memperoleh skor ≥ 7,5 minimal 80 % dari 27 siswa yang ada.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian

1. Siklus I

Siklus I merupakan proses pembelajaran operasi hitung perkalian bilangan cacah dengan hasil sampai dengan 50, dengan materi: perkalian sebagai penjumlahan berulang, mengalikan dua bilangan satu angka dan menemukan sifat perkalian dengan bilangan 1 dan 0. Siklus I ini dilaksanakan pada tanggal 28 Nopember 2005, 30 Nopember 2005 pada tiap pertemuan selama 60 menit dan pembagian waktu untuk pendahuluan, kegiatan inti pembelajaran dan kegiatan penutup berupa tes individu dan tugas rumah.

a. Pertemuan I

Dari hasil penelitian pada siklus I pertemuan I diperoleh data sebagai berikut :

1). Hasil observasi terhadap siswa

Siswa sudah cukup siap untuk mengikuti pelajaran dengan alat peraga kelereng dan diskusi kelompok. Siswa kelihatan tertarik dan senang menggunakan alat peraga kelereng meskipun pada awalnya kebingungan dalam penggunanya. Hal ini membuat susana kelas gaduh. Keberanian bertanya siswa kepada guru masih kurang. 2). Hasil obsevasi pelaksanaan KBM oleh guru

Kemampuan guru dalam apersepsi cukup baik. Guru sudah cukup baik dalam menguasai materi pelajaran. Hal yang perlu diperhatikan adalah kemampuan guru untuk memotivasi siswa. b. Pertemuan II

Dari hasil penelitian pada siklus I pertemuan II diperoleh data sebagai berikut :

1). Hasil observasi terhadap siswa

Siswa sudah cukup baik dalam menggunakan alat peraga kelereng untuk menyelesaikan soal. Suasana diskusinya sudah lebih baik, mereka saling bekerja sama bantu membantu dalam pengerjaan soal dengan alat peraga kelereng. Siswa yang kurang, dibantu teman dalam lingkup kelompok masing-masing dan mendapat bimbingan dari guru.

2). Hasil obsevasi pelaksanaan KBM oleh guru

Kemampuan guru dalam menekankan materi dan memotivasi siswa dalam setiap kelompok sudah cukup baik, sehingga susana diskusi kelompok menjadi aktif. Secara umum kemampuan dalam menyajikan materi, pengelolaan kelas dan pelaksanaan evaluasi sudah baik.

c. Hasil tes akhir siklus I

Tabel 1 Hasil Tes Siswa

Nilai rata-rata 72,7

Ketuntasan 77,7%

d. Proses refleksi

Pada kegiatan siklus I diperoleh hasil penggabungan pengamatan dari pertemuan I dan II yang telah dilakukan peneliti (guru) dan pengamat untuk perbaikan siklus berikutnya. Secara garis besar pelaksanaan siklus I berlangsung cukup baik tetapi nilai rata-rata < 7,5 dan persentase siswa yang memperoleh nilai ≥ 75 adalah kurang dari 80% serta perlu peningkatan keberanian siswa untuk bertanya dan berdiskusi dengan menggunakan alat peraga kelereng.

2. Siklus II

Siklus II merupakan proses pembelajaran operasi hitung pembagian bilangan cacah, dengan materi pembagian sebagai pengurangan berulang dan membagi bilangan dengan bilangan lain tanpa sisa. Siklus II ini dilakukan pada tanggal 5 Desember 2005, 6 Desember 2005 pada tiap pertemuan selama 60 menit dan pembagian waktu untuk pendahuluan, kegiatan inti pembelajaran dan kegiatan penutup berupa tes individu dan tugas rumah.

a. Pertemuan I

Dari hasil penelitian pada siklus II pertemuan I diperoleh data sebagai berikut :

1). Hasil observasi terhadap siswa

Siswa sudah cukup baik dalam menggunakan alat peraga kelereng untuk menyelesaikan soal. Suasana diskusinya sudah baik, mereka saling bekerja sama bantu membantu dalam pengerjaan soal dengan alat peraga kelereng. Siswa yang kurang paham dengan bantuan teman, diajari oleh guru dalam lingkup kelompok masing-masing.

2). Hasil obsevasi pelaksanaan KBM oleh guru

Kemampuan guru dalam menekankan materi dan memotivasi siswa dalam setiap kelompok sudah cukup baik, sehingga susana kelompok menjadi aktif. Secara umum kemampuan dalam menyajikan materi, pengelolaan kelas dan pelaksanaan evaluasi sudah baik.

b. Pertemuan II

1). Hasil observasi terhadap siswa

Jika siswa kurang jelas, siswa sudah berani bertanya dan meminta bimbingan guru atau teman sekelompoknya. Siswa bersemangat menjawab pertanyaan guru dan mengerjakan soal-soal dipapan tulis.

Kemampuan guru dalam merencanakan dan menyajikan bahan pelajaran sudah baik. Guru menunjukan rasa puas dan dapat memahami kemudahan dan kesulitan siswa dalam menerima materi pelajaran. Guru perlu memberi pelajaran tambahan kepada siswa yang yang mendapat nilai < 75 dan memberi pengayaan kepada siswa yang mendapat nilai ≥75.

c. Hasil tes akhir siklus II

Hasil tes akhir siklus II disajikan dalam tabel berikut: Tabel 2

Hasil Tes Siswa

Nilai rata-rata 80

Ketuntasan 88,8%

d. Proses refleksi

Kegiatan siklus II ini cukup menunjukan bahwa pemahaman siswa telah meningkat dan nilai rata-rata ulangan diatas tolak ukur keberhasilan yaitu mencapai rata-rata 80 dan persentase yang memperoleh nilai ≥75 adalah 88,8%. Dengan demikian hipoteses tindakan dapat tercapai.

B. Pembahasan

Pembahasan yang akan diuraikan disini berdaskan hasil pengamatan penelitian terhadap siswa kelas II SDN Koripan 01 Kesamatan Susukan, Kabupaten Semarang dan hasil refleksinya pada setiap siklusnya. Pada siklus I sup pokok bahasan opersi hitung perkalian bilangan cacah dengan materi perkalian 1) perkalian sebagai penjumlahan berulang, 2) mengalikan dua bilangan satu angka, 3) menemukan sifat perkalian dengan bilangan 1 dan 0. Proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Beberapa siswa masih kesulitan dalam menyelesaikan soal dengan alat peraga kelereng dan diskusi kelompok. Hal ini diasumsikan oleh peneliti karena siswa kurang memperhatikan ketika guru menjelaskan materi pelajaran. Beberapa siswa sudah cukup baik dalam menggunakan alat peraga dan diskusi kelompok untuk menyelesaikan soal, dimana 3 x 4 bukan 3 + 3 + 3 + 3 melainkan 4 + 4 + 4 dengan mengelompokan 4 kelereng sebanyak 3 kelompok diperoleh 12 kelereng.

Pada siklus I pertemuan pertama siswa cukup siap untuk mengikuti pelajaran dengan alat peraga kelereng dan diskusi kelompok. Siswa kelihatan tertarik dan senang menggunakan alat peraga kelereng meskipun pada awalnya bingung dalam penggunanya. Hal itu membuat susana kelas gaduh. Keberanian bertanya siswa kepada guru masih kurang.

Pada pertemuan kedua siklus I siswa sudah cukup baik dalam menggunakan alat peraga kelereng untuk menyelesaikan soal. Suasana diskusinya sudah lebih baik, mereka saling bekerja sama bantu membantu dalam pengerjaan soal dengan alat peraga kelereng. Siswa yang kurang paham

dengan bantuan teman diajari oleh guru dalam lingkup kelompok masing-masing.

Pada siklus II siswa sudah baik dalam menggunakan alat peraga kelereng untuk menyelesaikan soal. Suasana diskusinya sudah baik, mereka saling bekerja sama bantu membantu dalam pengerjaan soal dengan alat peraga kelereng. Jika siswa kurang jelas, siswa sudah berani bertanya dan meminta bimbingan guru atau teman sekelompoknya. Siswa bersemangat menjawab pertanyaan guru dan mengerjakan soal-soal dipapan tulis.

Dalam penelitian tindakan kelas ini guru menempatkan diri sebagai sosok yang dapat membantu siswa belajar sesuai dengan kebutuhan dan minatnya. Hal ini ditunjukan dengan sikap guru sebagai pemimpin belajar, fasilitator belajar,moderator belajar sekaligus sebagai evaluator belajar. Guru bertugas menentukan tujuan belajar, sumber belajar serta mengarahkan bagaimana cara siswa melaksanakan kegiatan belajar, memotivasi siswa, mengawasi memberikan bantuan, bimbingan, petunjuk, menilai proses belajar dan hasil belajar yang dicapai siswa.

Sedangkan untuk siswa sendiri dalam pelaksanaan tindakan kelas ini siswa tidak hanya terlibat dalam fisik semata, namun terlibat secara mental emosional intelektual dalam pencapaian dan perolehan pengetahuan serta pembentukan sikap dan nilai dalam pembentukan ketrampilan. Hal ini ditunjukan dengan keaktifan siswa dalam diskusi kelompok dengan alat peraga kelereng. Dalam proses pembelajaran siswa menjadi lebih bersemangat, lebih bergairah dan tidak bosan.

Berdasarkan temuan hasil refleksi ternyata dengan menggunakan metode diskusi dan alat peraga kelereng, pembelajaran operasi hitung perkalian dan pembagian bilangan cacah sampai dengan 50 di kelas II SDN Koripan 01 Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

BAB V PENUTUP A. Simpulan

Dari hasil keseluruhan kegiatan PTK di kelas II SDN Koripan 01Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang dapat disimpulkan bahwa dengan alat peraga kelereng dan diskusi kelompok, dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam menyelesaikan operasi hitung perkalian dan pembagian bilangan cacah sampai dengan 50. Hal ini terbukti pada siklus I rata-rata nilai tes 72,7. Siswa yang mendapat nilai ≥ 75 sebanyak 21 atau77,7% dan pada siklus II rata-rata nilai tes 80. Siswa yang mendapat nilai ≥ 75 sebanyak 24 atau 88,8%.

B. Saran

Setelah dilaksanakan PTK di kelas II SDN Koripan 01Kecamatan Susukan Kabupaten Semarang Pada Tahun Pelajaran 2005/2006 bahwa salah satu cara untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep operasi hitung perkalian dan pembagian bilangan cacah sampai dengan 50 dapat digunakan pembelajaran menggunakan alat peraga kelereng dan metode diskusi kelompok.

DAFTAR PUSTAKA

Amin Suyitno, 2004, Dasar-dasar dan proses pembelajaran matematika I, Semarang: Jurusan Matematika FMIPA UNNES.

Ghufron, 2005, Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Dalam Menyelesaikan Pengerjaan Hitung Pecahan Dengan Menggunakan Kartu Pecahan dan Diskusi Kelompok Bagi Siswa kelas III MI Ma’arif Blotongan Salatiga Tahun Pelajaran 2004/2005. Skripsi. Semarang: Jurusan Matematika FMIPA UNNES.

M.Ngalim Purwanto, 1997, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Nana Sudjana, 1989, Dasar-dasar Proses Pembelajaran, Bandung: Sinar Baru. Oemar Hamalik, 1986, Media Pendidikan, Bandung: Alumni.

Paul Suparno, 1997, Filsafat Konstruktivisme dalam Pendidikan, Jogjakarta: Kanisus.

Sugiarto dan Isti Hidayah, 2004, Workshop Pendidikan Matematika, Semarang: Jurusan Matematika FMIPA UNNES

W. J. S. Poerwardarminto, 1999, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.

Lampiran 3 Data Hasil Tes Siklus II………. 38

Lampiran 4 Rencana Pembelajaran siklus I ………. 39

Lampiran 5 Rencana Pembelajaran siklus I……….. 43

Lampiran 6 Rencana Pembelajaran siklus II………. 46

Lampiran 7 Rencana Pembelajaran siklus II ……… 49

Lampiran 8 Kisi-kisi Tes Siklus I ….……… 52 Lampiran 9 Soal-soal Tes Siklus I…….……… 53

Lampiran 10 Kisi-kisi Tes Siklus II …………..………. 55

Lampiran 11 Soal-soal Tes Siklus II…….……….. 56

Lampiran 12 Lembar Jawaban Tes Siklus I………..……….. 58

Lampiran 13 Lembar Jawaban Tes Siklus II………..………. 59

Lampiran 14 Kunci Jawaban Tes Siklus I………..………. 60

Lampiran 15 Kunci Jawaban Tes Siklus II………..……… 61 Lampiran 16 Pedoman Observasi Guru siklus I pertemua 1……… 62

Lampiran 17 Pedoman Observasi Guru siklus I pertemuan 2……… 67

Lampiran 18 Pedoman Observasi Guru siklus II pertemuan 1………….. 72

Lampiran 19 Pedoman Observasi Guru siklus II pertemuan 2 …………. 77

Lampiran 20 Lembar pengamatan siswa siklus I pertemuan 1………….. 82

Lampiran 21 Lembar pengamatan siswa siklus I pertemuan 2………….. 83

Lampiran 22 Lembar pengamatan siswa siklus II pertemuan 1………… 84

Lampiran 23 Lembar pengamatan siswa siklus II pertemuan 2………… 85

Lampiran 24 Gambar 1………. 86

Lampiran 25 Gambar 2……….. 87

Lampiran 26 Gambar 3………. 88

Nama Sekolah : SD Koripan 01

Mata Pelajaran : Matematika

Kelas : II

Semester : I

Tema : Hidup Hemat

Perkalian Bilangan

A. Standar Kompetensi

Menggunakan operasi hitung bilangan dalam pemecahan masalah.

B. Kompetensi Dasar

Melakukan operasi hitung bilangan dan menggunakannya dalam pemecahan masalah.

C. Hasil Belajar

Melakukan Perkalian bilangan.

D. Indikator

. Mengenal arti perkalian sebagai penjumlahan berulang.

. Mengingat fakta perkalian sampai 5 x 50 dengan berbagai cara. . Menghitung secara cepat perkalian sampai dengan 50.

. Memecahkan permasalahan sehari-hari yang melibatkan perkalian.

E. Materi Pokok

Operasi hitung bilangan.

F. Alokasi Waktu

2 jam pelajaran.

G. Pengalaman Belajar

1. Apersepsi

2. Kegiatan Inti

Perkalian sebagai Penjumlahan Berulang

a. Membahas kembali apersepsi di atas sebagai fakta

perkalian dalam kehidupan sehari-hari. Contoh:

Adik membeli permen 2 bungkus. Satu bungkus berisi 5 butir permen.

Menanyakan berapa butir permen yang dibeli adik seluruhnya.

Mengamati cara yang dilakukan siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Cara dan hasilnya jangan begitu dipermasalahkan karena tahap ini hanya untuk mengetahui gambaran kemampuan yang dimiliki siswa secara umum.

b. Dari pengalaman itu, guru mengajak siswa menjawab

pertanyaan di atas

1) Pertama adalah mempermudah fakta permasalahan

keseharian tersebut dengan mengubahnya ke dalam bahasa matematika atau kalimat matematika yaitu bahasa simbul (lambang).

Bahasa matematikanya : 5 + 5 = …

2) Bersamaan dengan itu guru mendemonstrasikan

(memperagakan) cara menentukan banyaknya permen yang di beli adik dengan pendekatan penjumlahan.

Jadi 5 + 5 = 2 x 5 = 10.

5 + 5 adalah bentuk penjumlahan berulang dan 2 x 5 adalah bentuk perkalian. Dengan demikian untuk menghitung hasil perkalian suatu bilangan dilakukan dengan penjumlahan berulang.

Dari pengertian diatas mudah dimengerti : 3 x 2 = 2 + 2 + 2 = 6

2 x 3 = 3 + 3 = 6

5 x 4 = 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 20 4 x 5 = 5 + 5 + 5 + 5 = 20

Awas meskipun 5 x 4 hasilnya sama dengan 4 x 5, tetapi artinya beda.

e. Mendiskusikan perkalian dengan fakta yang lebih kongrit

dan dekat dengan siswa, misalnya aturan minum obat ketika sakit.

Contoh :

Minum obat 3 x 2 sehari. Artinya dalam sehari harus minum obat sebanyak tiga kali, yaitu: pagi, siang dan malam .stiap minum 2 tablet.

Pagi Siang Malam

2 2 2

Jadi dalam sehari minum obat sebanyak 3 x 2 = 2 + 2 + 2 = 6

Dari contoh fakta ini konsep perkalian menjadi lebih jelas.

f. Dengan bantuan alat peraga kelereng, guru melatih

a. Menguatkan pemahaman siswa terhadap materi perkalian bilangan cacah sampai dengan 50.

b. Post tes.

H. Sumber / Bahan /Alat

1. Buku Matematika II Cempaka Putih, halaman 34 – 48 2. Benda - benda di sekitar kelas.

3. Kelereng

Kepala Sekolah Peneliti

TUKIMIN M.MUKTASIM ZUWONO

Nama Sekolah : SD Koripan 01

Mata Pelajaran : Matematika

Kelas : II

Semester : I

Tema : Hidup Hemat

Perkalian Bilangan

A. Standar Kompetensi

Menggunakan operasi hitung bilangan dalam pemecahan masalah.

B. Kompetensi Dasar

Melakukan operasi hitung bilangan dan menggunakannya dalam pemecahan masalah.

C. Hasil Belajar

Melakukan Perkalian bilangan.

D. Indikator

. Mengenal arti perkalian sebagai penjumlahan berulang.

. Mengingat fakta perkalian sampai 5 x 50 dengan berbagai cara. . Menghitung secara cepat perkalian sampai dengan 50.

. Memecahkan permasalahan sehari-hari yang melibatkan perkalian.

E. Materi Pokok

Operasi hitung bilangan.

F. Alokasi Waktu

2 jam pelajaran.

G. Pengalaman Belajar

1. Apersepsi

2. Kegiatan Inti

Mengalikan Dua bilangan Satu Angka

a. Memantapkan penanaman konsep perkalian sebagai

penjumlahan berulang

b. Melakukan uji ketrampilan siswa mengalikan dua bilangan satu angka. Siswa mengerjakan uji ketrampilan yaitu berupa soal-soal rutin dan mengajak bermain menjodohkan perkalian dengan hasilnya. Kegiatan ini boleh dilakukan berkelompok.

c. Secara berkelompok, siswa melengkapi daftar perkalian

dari 1 x 1 sampai dengan 5 x 10.

d. Memberi tugas perorangan membuat daftar perkalian 1 x 1 sampai 5 x 10 pada kertas karton untuk dimanfaatkan sebagai sarana menghafal perkalian.

e. Mengajak siswa menemukan sifat perkalian dengan

bilangan 1dan 0

1) Suatu bilangan bila dikalikan dengan bilangan 1, hasilnya bilangan itu sendiri.

Contoh: 7 x 1 = 7

1 x 5 = 5

2) Suatu bilangan bila dikalikan dengan 0 hasilnya

adalah 0.

Contoh; 7 x 0 = 0

0 x 5 = 0

f. Mengembangkan uji ketrampilan dengan membuat atau

melengkapi tabel perkalian dan menentukan pasangan bilangan yang diketahui hasil kalinya.

a. Menguatkan pemahaman siswa terhadap materi perkalian dua bilangan hasil sampai dengan 50.

b. Post tes.

H. Sumber / Bahan /Alat

1. Buku Matematika II Cempaka Putih , halaman 34 – 48 2. Benda-benda di sekitar kelas.

3. Kelereng

Kepala Sekolah Peneliti

TUKIMIN M.MUKTASIM ZUWONO

Nama Sekolah : SD Koripan 01

Mata Pelajaran : Matematika

Kelas : II

Semester : I

Tema : Hidup Hemat

Pembagian

A. Standar Kompetensi

Menggunakan operasi hitung dalam pemecahan masalah.

B. Kompetensi Dasar

Melakukan operasi hitung bilangan dan menggunakannya dalam pemecahan masalah.

C. Hasil Belajar

Melakukan perkalian dan pembagian bilangan. D. Indikator

. Mengenal arti pembagian sebagai pengurangan berulang.

. Mengingat fakta pembagian sampai dengan 50.

. Menghitung pembagian sampai dengan 50.

. Memecahkan masalah sehari hari yang melibatkan pembagian.

E. Materi Pokok

Operasi hitung bilangan.

F. Alokasi Waktu

2 jam pelajaran.

G. Pengalaman Belajar

9 – 3 – 3 = …

10 – 2 – 2 – 2 – 2 – 2 = …

b. Memotifasi siswa agar tertarik mempelajari pembagian bilangan

2. Kegiatan Inti

Pembagian sebagai Pengurangan Berulang.

a. Membahas fakta pembagian dalam kehidupan sehari-hari. Contoh:

8 permen akan dibagikan kepada 2 anak sama banyak. Menanyakan bagian setiap anak.

Mengamati cara (teknik) yang dilakukan siswa untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Cara dan hasilnya jangan dipermasalahkan karena tahapan ini hanya untuk mengetahui gambaran siswa secara umum.

b. Dari pengalaman itu guru mengajak siswa bersama-sama menjawab pertanyaan diatas.

1) Membimbing siswa mengubahnya bahasa sehari–hari

Dokumen terkait